
Sebulan telah berlalu, sejak kepergian Fian ke Surabaya. Bahkan Arin tidak menyadari kepergian Fian. Arin hanya merasa Fian tidak ingin mengganggu kesibukannya. Arin memang pernah bercerita kepada Fian. Makanya Arin tidak pernah berpikir kalau Fian pergi jauh. Arin hanya berpikir Fian juga punya kesibukan yang sama. Karena memang dia ada ditingkat yang sama.
Arin disibukan dengan pekerjaan dan juga penyusunan skripsinya. Dia tidak punya waktu lagi untuk sekedar bersantai. Semua targetnya harus bisa di capai tahun ini. Bahkan Arin tidak sempat memikirkan perasaannya.
Arin hanya ingin fokus pada tahap awal penyusunan skripsinya. Setelah itu selesai baru dia bisa sedikit bernafas lega. Kenapa cuma sedikit? Karena memang semua belum selesai. Masih ada tahap selanjutnya.
Bahkan masalah dengan Bara pun terlupakan begitu saja. Bara berkali-kali ingin bertemu dengannya, namun Arin selalu menolak karena takut tidak bisa menepati. Memang dia tidak punya waktu senggang sedikitpun. Daripada terlanjur berjanji, mendingan Langsung bilang kalau tidak bisa. Arin tidak ingin memberi harapan palsu.
Hari ini hari sabtu. Arin kerja hanya sampai tengah hari. Setelah pulang kerja dia sudah berjanji makan bakso di tempat biasa mereka berkumpul. Ini karena sudah sebulan juga Arin tidak bisa bertemu dengan teman-temannya. Waktunya benar-benar habis untuk bekerja dan ke kampus. Bahkan dia selalu tidur larut dan bangun pagi-pagi sekali. Semua kegiatannya bulan ini benar-benar menyita waktunya.
Ocha dan Wawan protes karena selalu di abaikan. Bahkan Arin tidak sempat menghubungi Fian juga. Fian juga menghilang bagai ditelan bumi. Biasanya Arin masih bisa bertemu atau sekedar melihat di pagi hari saat pulang kerja. Tentu saja Arin merasa heran juga. Dan hari ini hari Sabtu ini Arin ingin menyelesaikan semua urusan nya dengan teman-temannya. Termasuk ingin mencari Fian juga.
Arin berangkat kerja seperti biasa. Keluar rumah tepat pukul tujuh. Dia selalu menjalankan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Baru keluar dari halaman rumahnya, Arin melihat motor Andra ada di depan. Arin mengejar motor tersebut. Dia ingin mengetahui kabar Fian karena sudah sebulan ini tidak terlihat batang hidungnya sama sekali.
Sepertinya Andra menyadari hal itu. Andra segera melajukan motornya dengan kencang. Andra tidak punya keberanian untuk bertemu Arin. Andra tidak berani bilang apa yang sebenarnya terjadi.
Sebenarnya Arin pernah mencoba menghubungi nomer telepon Fian
Namun nomer tersebut tidak aktif. Dan pesan WhatsApp nya pun masih saja centang satu. Itu tandanya nomer tersebut memang tidak aktif. Arin sudah bertanya pada Nando dan jawaban Nando pun sama dengan yang dia alami. Nomer telepon Fian tidak aktif.
Makanya tadi pas melihat Andra, Arin berniat ingin menanyakan semua itu. Ingin mencari kejelasan tentang kabar Fian. Kemana gerangan Fian saat ini? Bagaimana keadaannya? Apa Fian baik-baik saja?
Arin tentu saja sangat merindukan Fian.Tentu saja Arin ingin tau apa yang terjadi dengan Fian.
Namun Andra menjalankan motornya begitu cepat. Arin kehilangan jejak. Akhirnya Arin menyerah karena dia harus bekerja. Seandainya tidak tentu akan dia kejar sampai dapat. Arin benar-benar ingin tau. Arin benar-benar merindukan Fian.
πΈπΈπΈ
Bara sudah tidak sabar. Sudah satu bulan Arin menghindari nya. Tapi Bara tidak putus asa. Sebelum ada janur kuning melengkung dia akan terus berusaha. Bara masih menunggu waktu yang tepat untuk bergerak maju.
Bara sudah bertanya pada Bima. Dan memang Arin benar-benar sibuk. Bekerja dan penyusunan skripsi tentu saja memang menghabiskan waktu Arin. Tapi sampai kapan Arin sibuk? Kalau memang bisa Bara harus mencari celah dan waktu yang pas untuk menemui Arin.
Dia sudah tidak sabar. Perasaannya semakin dalam pada Arin. Dia sangat merindukan Arin. Dalam sebulan ini Bara hanya bisa memandang Arin dari jauh. Pulang malam dalam keadaan yang terlihat sangat lelah. Tentu saja Bara tidak tega untuk mengganggu waktu Arin.
Namun hari ini Bara sudah bertekad untuk menemui Arin. Ini malam Minggu. Arin tidak kuliah. Bara akan ke rumah Arin. Dia harus mengungkapkan perasaannya. Dia sudah tidak ingin menundanya lagi. Dia tidak memikirkan hasilnya. Paling tidak dia sudah berusaha. Dia harus mengatakan apa isi hatinya pada Arin.
Senja sudah tiba. Bara sudah mandi. Dia sudah rapi sudah siap. Rencananya setelah sholat maghrib dia akan berangkat menuju rumah Arin. sampai rumah Arin pas adzan isya. Dia bisa mampir dulu ke masjid terdekat. Dan perkiraan waktunya ada pas. Sampai rumah Arin sehabis isya.
Pasti Arin sudah senggang. Dia pasti tidak kemana-mana. Karena setau Bara, memang Arin tidak pernah keluar rumah selain kalau ada keperluan.
Bara sudah siap berangkat. Tekadnya sudah bulat. Hari ini harus dia buka semuanya.
Bara menjalankan motornya dengan kecepatan sedang. Waktunya sudah dia perhitungkan dengan seksama.Dia sengaja memakai motornya. Biar perjalanan lancar. Bisa dengan mudah mencari jalan kalau ternyata lalu lintas macet. Ibukota tidak pernah tidak macet. Untuk antisipasi juga.
Tidak lupa Bara membeli setangkai bunga mawar merah. Bunga lambang cinta kata orang. Entah benar atau tidak. Tapi memang terlihat sangat indah.
Bara tiba di rumah Arin sesuai perkiraannya. Rumah Arin terlihat sepi. Tapi Bara tetap maju. Dia yakin Arin ada di rumah. Bara mengetuk pintu rumah.
Tok...Tok...tok.
"Assalamu'alaikum.."
Tak lama pintu rumah terbuka. Muncul Rama dengan pakaian rapi.
"Wa'alaikumsalam warohmah matullahi wabarakatuh.."
Rama membuka pintu. Dia tersenyum melihat Bara yang berpakaian santai namun sangat rapi. Sebelah tangan Bara ada di belakang tubuhnya.
"Eh Bang Bara. Masuk bang.."
Rama mempersilahkan Bara masuk. Bara masuk dengan perasaan yang tak karuan. Dia sedikit nervous.
"Malam Ram.. Kamu rapi sekali Ram. Mau bepergian kah?"
"Iya bang.. Biasa malam minggu. Ada janji sama teman-teman."
"Oh.. Abang kira mau ngapel."
"Mau apel siapa. Pacar aja belum punya."
"Hm .. masa sih. Kamu ganteng lho Ram."
"Hahaha.. Abang bisa saja. Rama masih kecil. Rama harus sekolah dulu. Rama belum memikirkan soal itu bang."
"Baguslah.. Fokus sekolah dulu."
"Iya bang betul. Nanti kalau sudah bekerja baru mencari pacar."
"Tidak harus bekerja dulu. Jika sudah ada yang menarik hati kenapa tidak. Asal tidak mengganggu sekolah kamu."
"Entahlah bang, Rama memang belum memikirkan hal itu."
"Baguslah.. Eh ngomong-ngomong kakak kamu ada."
"Eh .. maaf bang. Pasti mencari kak Arin ya. Ada di kamar. Rama panggilkan. Tunggu sebentar."
"Iya Ram."
__ADS_1
Rama masuk ke dalam untuk memanggil Arin. Dada Bara semakin berdebar. Bara merasa sedikit tegang. Dia sendiri merasa heran. Kenapa bisa senervous ini. Padahal ujian skripsi saja dia begitu tenang.
Urusan hati itu pasti terasa beda. Kepala berdenyut. Dada berdebar. Makan tidak enak. Tidur tidak nyenyak.
Tak lama terdengar langkah kaki mendekat. Bara semakin merasa berdebar.
"Eh. ada tamu. Sudah lama Nak Bara."
Bara terkejut mendengar sapaan bunda. Tentu saja. Bara sedang sibuk menenangkan hatinya.
"Eh. Bunda. Iya bun, baru saja kok. Apa kabar Bunda?"
Bara bangun dan menjabat tangan bunda. Dia kira Arin yang muncul ternyata bunda.
"Alhamdulillah.. kabar bunda baik. Kamu sendiri bagaimana kabarnya. lama tidak pernah bertemu."
"Alhamdulillah.. kabar saya juga baik. Maaf bunda, agak sedikit sibuk di rumah sakit. Banyak pasien baru yang butuh penanganan."
"Alhamdulillah.. harus baik-baik saja ya. Kalau sampai dokter sakit. Bagaimana dengan pasiennya."
"Hehehe.. bunda bisa saja. Kan dokter banyak di Indonesia. Tinggal pilih rumah sakit mana."
"Betul juga, tapi Seorang dokter juga harus menjaga kesehatan dirinya sendiri. Jangan hanya bisa menasehati."
"Iya bund."
" Ini Arin mana sih, Kok lama, Katanya cuma mau sholat isya. Sebentar ya nak Bara. Bunda panggil dulu. Di minum dulu minumannya. Maaf hanya bisa menyuguhkan ini "
"Terimakasih bunda. Ini sudah lebih dari cukup."
Bunda bangkit dari duduknya. Namun di pintu Arin sudah terlihat berjalan menuju ruang tamu dengan pakaian rapi.
"Itu dia orangnya sudah rapi. Mau kemana memangnya kalian."
"Eh.."
Bara melihat ke arah Arin datang. Arin terlihat begitu sedap dipandang hanya dengan memakai celana jeans biru dan kaos putih serta jaket jeans.
"Kita keluar sebentar ya bund. Tidak apa-apa kan. Tidak lama kan Aa?"
Tentu saja Bara terkejut. Padahal dia tidak mengajak Arin kemanapun. Namun kenapa Arin bilang kalau mau keluar. Tapi Bara mengikuti saja skenario Arin.
"Iya bund, Maaf saya mau mengajak Arin keluar sebentar bund. Apa diijinkan."
Bunda memandang dua orang muda-mudi tersebut dengan senyum merekah. Bunda harus mendukung mereka tentunya.
"Baik bunda, kita pamit dulu."
Arin mendahului keluar rumah. Dia mendekati motor Bara. Menunggu Bara yang sedang berpamitan pada sang bunda.
"Kita mau kemana sekarang."
Tanya Bara Setelan dekat dengan Arin.
"Eh.. maaf Aa. Arin mengajak Aa pergi tanpa kompromi dulu. Tidak apa-apa kan."
"Tentu tidak. Kita mau kemana sekarang. Saya ikut saja mau kamu."
"Ke pasar malam aja yuk Aa.. Arin pengen cerita sesuatu."
"Ayo siapa takut. Ayo naik. Kita segera berangkat. Biar ga kemalaman pulang nya. Eh tunggu dulu.Ini buat kamu."
Bara menyerahkan setangkai bunga mawar yang tadi dibawanya.
"Eh.. ini apa Aa. Pakai bunga segala."
"Biar lain saja Mau menerima atau tidak."
"Baiklah Arin terima. Terimakasih Aa."
Arin mencium bunga mawar tersebut. Dia jadi teringat Fian. Kalau Fian biasanya membawa setangkai bunga ilalang. Tiba-tiba Arin menjadi sedih.
"Kok malah melamun. Ayo buruan naik."
Arin terkejut. Dia menatap Bara.
"Terimakasih Aa."
"Sudah berapa kali kamu bilang terima kasih. Satu kali lagi dapat gelas."
"Aa bisa saja. Ayo A jalan."
"Siap tuan putri."
Arin menabok punggung Bara pelan. Bara hanya terkekeh. Dia merasa semuanya akan berjalan lancar.
Bara melajukan motornya dengan perlahan. Dia ingin menikmati momen seperti ini. Menjadi kenangan yang tidak terlupa. Bisa dibuat cerita anak cucu nantinya.
__ADS_1
Letak pasar malam tidak terlalu jauh. Hanya ditempuh dalam waktu lima belas menit. Dan itu terasa sangat cepat buat Bara. Dia masih ingin berkendara berdua dengan Arin. Pasti masih ada lain waktu. Toh ini baru awal.
Akhirnya mereka tiba di pasar malam. Bara mencari tempat parkir. Arin melihat sekeliling. Sangat ramai pengunjung.
"Arin kita naik bianglala yuk. Sangat bagus pasti melihat kota dari atas."
Arin melihat ke arah wahana bianglala. Dia takut ketinggian. Apakah dia bisa dan berani. Belum apa-apa keringat sudah keluar di keningnya.
"Aa.. Arin takut ketinggian. Tapi Arin juga kepengen."
"Tidak perlu takut. Kan ada saya di sini. Bagaimana berani tidak?"
"Bagaimana ya.." Arin berpikir sejenak. Keinginannya begitu besar. Tapi dia takut. Tangannya sudah basah oleh keringat.
"Bagaimana.. kalau tidak berani ya tidak usah. Tapi rugi lho. Dari atas sana pemandangan terlihat sangat indah."
Bara membujuk Arin. Dia sudah mempunyai rencana. Semoga Arin mau diajak naik bianglala.
Setelah sedikit berpikir dan menimbang-nimbang akhirnya Arin mengangguk. Arin mau naik bianglala.
"Jangan takut ada saya yang akan menjaga kamu."
"Baiklah Aa. Arin pasti berani."
Bara membeli dua tiket. Satu untuk Arin dan satu untuknya. Wahana bianglala sangat. ramai peminatnya. Mereka harus mengantri menunggu giliran.
Setelah beberapa saat menunggu. Giliran mereka telah tiba.
"Bagaimana kamu sudah siapkah. Sini tangan kamu, aku pegang ya. Jangan melihat ke bawah."
Arin mengangguk. Dia pandangi tangannya yang digenggam Bara. Terasa nyaman. Rasa takutnya sedikit berkurang.
"A.."
"Iya Rin..Ada apa. Apa masih takut."
"Kenapa tangan saya masih digenggam."
"Eh.." Bara terkejut. Buru-buru dia melepaskan tangan Arin.
"Apa sudah. Tidak apa-apa. Apa sudah tidak takut."
Bara menatap Arin. Arin mengangguk.
"Sudah tidak begitu takut. Eh.. benar ya A.Dari sini kota terlihat sangat indah. Lampu-lampu terlihat berkerlip seperti bintang."
Bara meraih tangan Arin kembali. Arin terkejut. Dia memandang Bara.
"A.."
"Kenapa? Apa Tidak boleh?"
Arin bingung harus menjawab apa. Dia hanya diam saja dan kembali memandang ke sekeliling. Melihat keindahan kota yang menakjubkan dilihat dari ketinggian.
"Arin.."
"Iya.."
"Apa bisa saya masuk dalam kehidupan kamu?"
Arin menoleh. Dia semakin terkejut dengan pertanyaan Bara.
"Maksud Aa bagaimana?"
Bara menarik nafas panjang. Begitu susahnya mengutarakan isi hatinya. Butuh kekuatan ternyata. Dadanya berdebar semakin cepat.
"Arin.. Saya menyukai kamu sejak pertama bertemu."
Deg. Arin terkejut mendengar pengakuan Bara. Pertama kali bertemu berarti sudah lima taun yang lalu.
"Arin.. bagaimana apa tidak apa-apa. Apa boleh saya menjadi orang yang ada disisi kamu?"
Arin semakin tertegun. Di harinya hanya ada Fian. Namun hubungannya dengan Fian tidak pernah berkembang. Sedangkan Fian saat ini sedang menghilang. Tidak dapat dia temui.
"Tidak perlu di jawab sekarang. Saya tau sekali tentang kamu. Maaf kalau saya berterus terang. Sudah lama saya memendam ini semua."
Bara merasa sangat lega. Isi hatinya akhirnya bisa dia ungkapkan. Dia tidak perduli apa jawaban Arin nanti. Yang penting Arin sudah tau isi hatinya.
Arin bingung harus menjawab apa. Bara memang baik Dia selalu datang saat dia dalam kesulitan. Tapi perasaan Arin hanya untuk Fian.
"Kalau boleh tau, bagaimana hubungan kamu dengan Fian."
Arin semakin bingung. Apa yang harus dia lakukan. Apakah dia harus berterus-terang juga tentang semuanya. Tentang hubungannya dengan Fian yang tidak akan mendapatkan restu dari orang tua Fian. Tentang semua drama keluarga yang terjadi selama ini?
Atau Arin lebih baik menerima Bara. Yang ternyata benar-benar sangat menyayanginya?
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih untuk semua yang telah membaca novelku yang masih jauh dari kata bagus. Maafkan karena jarang update πππβ€οΈβ€οΈβ€οΈ