
Pelajaran dari Dokter tampan
" Bro.."
"Astaghfirullah.. Dasar lo ya Bram. Ketuk pintu dulu, atau mengucapkan salam dulu. Masuk ruang orang main slonong aja. Kaget gua."
"Ups sory. Hahaha.. hm lagi melamun ya. Kagetnya sampai loncat begitu." Ledek Bram pada Bara.
"Siapa yang melamun. Ini lagi membaca laporan medis Tia. Tau Tia ga?" Jawab Bara.
"Tia gadis cilik yang divonis leukemia stadium dua kan. Ada apa dengan dia?" Bram mendekati Bara. Dia mulai penasaran dengan pernyataan Bara tadi.
"Seperti ada yang janggal. Memang benar, semua diagnosa mengarah ke sana. Tapi saat tes lab ulang tadi pagi kadar leukosit dalam darah masih di bilang normal. Tidak melebihi batas normal maksimal manusia seusia dia." Bara menjelaskan dasar kecurigaan nya tentang dugaan dan vonis yang mereka ambil kemarin.
"Semoga benar, semoga diagnosa kita salah. Kasian anak sekecil itu harus menderita penyakit itu." jawab Bram.
"Amin Gue kasian melihat Tia dan juga Arga. Tidak menyangka umur Sheila sependek itu."
"Lo masih belum bisa melupakan Sheila ya Bar."
"Mana bisa seorang teman melupakan temannya. Bagaimanapun juga dulu gue pernah dekat sama dia walaupun cuma seminggu."
Sheila dan Arga adalah teman sekolah Bram dan Bara. Sheila dulu selalu mengejar cinta Bara. Karena kasian Bara memberi kesempatan pada Sheila. Namun hubungan mereka cuma berjalan selama satu minggu. Karena akhirnya sheila menyerah menghadapi sikap Bara yang selalu kaku dan dingin. Sheila baru sadar ternyata Bara bukan tipe dia. Bara bukan tipe orang yang mudah bergaul dengan lawan jenis. Makanya sampai sekarang dia belum pernah punya pacar. Hanya Arin gadis yang bisa menggoyahkan pertahanan Bara. Hanya Arin yang bisa membuat Bara selalu tersenyum.
"Hayo pasti lagi mengingat kejadian yang lalu." Bram menepuk tangan Bara. Bara yang melamun tersentak kaget.
"Lo seneng banget membuat gue jantungan."
"Hahaha.. lagian sekarang kerjaan lo melamun terus, memangnya memikirkan apa. Hayo pasti mikirin Arin kan." Ucap Bram meledek Bara.
"Kenapa dengan Arin? Gue mikir pasien gue. Ga ada waktu untuk memikirkan yang lain."
"Masa sih, muka lo udah merah gitu."
"Terserah lo.. Gue mau membahas tentang Arin."
"Itu apa, betul kan pikirannya ke Arin terus."
"Bram.. Denger gue dulu. Gue bahas tentang kesehatan Arin. Bukan yang lain."
"Sama saja..Hahaha.. cie..cie.."
"Bram .. gue serius. Arin minta pulang sore ini. Bagaimana menurut lo? Apa kira-kira dia sudah siap dengan dunia yang harus dia jalani." Bara sudah sangat jengkel pada Bram, karena Bram selalu saja meledeknya.
"Kalau menurut lo bagaimana. Gue yakin dia bisa. Biarlah dia merasakan secara langsung interaksi dengan masyarakat. Kita tinggal memantau nya. Bagaimana? Setuju ga."
Bara berpikir sebentar. Kemudian mengangguk.
"Baiklah, nanti sehabis makan siang gue ke kamar Arin. Pulang besok pagi aja ya biar Arin bisa siap-siap dulu."
"Terserah lo.. Atau hayo..Bilang aja belum siap pisah.. cie..cie.. Hahaha.."
Bara sebelum sudah pengen marah pada Bram yang selalu mengejeknya. Tapi semua yang diucapkan Bram benar adanya. Dia tidak rela jauh dari Arin. Tapi Arin juga harus pulang. Sudah saatnya Arin kembali ke dunianya. Sudah saatnya a Arin pulang.
"Ayo kita makan dulu.Lapar gue ketawa terus."
"Siapa yang suruh lo ketawa. Ayolah, gue juga lapar. Makan bakso aja ya. Di tempat biasa."
"Ok sip. Ternyata apa yang kita pikirkan sama. Mungkin kita jodoh." Ucap Bram sambil mengedipkan mata. Bara bergidik dan berlari menjauh sambil tertawa.
"Masih normal gue. Hahaha.."
Mereka berjalan beriringan menuju tenda bakso sambil terus bergurau . Dua Dokter tampan lewat dengan senyuman khas mereka, siapa yang tak akan terpesona.
🌸🌸🌸
Arin sedang makan siang di temani bunda. Arin selalu merasa lapar. Jatah makan dari rumah sakit selalu habis. Entah enak atau memang merasa sayang kalau di buang. Arin tak pernah menyisakan sedikit pun makanan di piringnya. Bunda menikmati makanan yang dibelikan Bara tadi pagi. Bara sengaja supaya bunda tidak usah keluar dari ruangan jika merasa lapar.
" Minum obat dulu baru tidur Nak."
"Iya bun, Arin merasa gampang lapar akhir-akhir ini bun. Tidak apa kan kalau Arin banyak makan."
"Tidak apa-apa Rin. Bunda malah senang. Itu pertanda kamu akan segera sehat. Kalau sehat kamu akan cepat pulang."
"Tadi Arin sudah bilang sama Pak Dokter, kalau Arin minta pulang sore ini."
"Apa pak Dokter mengijinkan Rin?"
__ADS_1
"Katanya menunggu keputusan dari dokter Bram. Semoga mereka mengijinkan Arin pulang."
Arin sudah meminum obatnya. Pikirannya sudah tenang. Tidak teringat lagi masa lalu yang selalu menghantuinya. Pikirannya malah sering teringat pada hal-hal yang baru saja terjadi. Kejadian-kejadian yang tak terduga sering dia alami belakangan ini. Tiba-tiba Arin teringat sesuatu yang mengganjal hatinya selama ini.
"Oh ya bun, Bagaimana dengan biaya rumah sakit? Pasti sangat besar. Ruangan yang kita tempati ini adalah ruangan VIP ."
"Itulah yang juga bunda pikirkan."
"Kenapa bunda memilih ruangan ini?"
"Dokter Bara yang mengusulkan kamu di rawat di sini. Bunda sudah mengajukan keberatan tapi mereka bertiga bersikukuh kamu di rawat di kamar ini."
" Biayanya pasti sangat mahal bunda, kita harus membayar pakai apa?"
"Keluarga Omed yang akan menanggung semua biaya rumah sakit sampai kamu sembuh."
"Omed, Omed siapa bunda?"
",Omed, anaknya pak Santoso. Bukannya kamu kenal."
"Kenapa keluarga mereka yang bertanggung jawab dengan semua ini."
Bunda lupa belum memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi. Siapa dalang penusukan Arin bunda juga belum cerita. Bunda lupa karena selalu terfokus pada kesembuhan Arin.
"Bunda belum cerita ya."
"Cerita tentang apa? Bunda membuat Arin penasaran."
Bunda menghela nafas panjang. Dia sedang berpikir . Apakah apa yang akan di ceritakan bisa berpengaruh pada kesehatan Arin atau tidak.
"Bunda kenapa malah diam. Ayo cerita saja."
"Sebenarnya... sebenarnya Omed lah dalang penusukan yang kamu alami."
Arin terdiam. Bunda juga terdiam. Arin mulai berpikir. Jadi selama ini mimpinya benar tentang Omed. Dia pikir itu semua hanya mimpi.
"Jadi mimpi Arin benar ya."
"Kamu mimpi apa Nak."
Arin terdiam lagi. Jadi dua orang yang merampoknya orang suruhan Omed. Pantas dalam mimpinya dia merasa Omed selalu menyakitinya. Ternyata ini kenyataannya.
Arin masih diam. Arin ingat dalam mimpinya Omed menusuknya. Jadi benar dia dalangnya. Jadi benar dia yang secara tidak langsung telah melukainya.
Bunda jadi merasa khawatir melihat Arin diam saja. Berkali-kali bunda memanggil nama Arin Tapi Arin sama sekali tidak menyahut. Arin masih saja diam. Tak ada gerakan sedikitpun. Hanya matanya saja yang terlihat berkaca-kaca.
"Arin.. Arin.. kamu dengar bunda Nak. Jangan diam saja. Jawab bunda." Bunda mulai panik. Bunda sudah menangis melihat keadaan Arin.
"Assalamu'alaikum.."
Bunda terkejut. Bara dan Bram masuk begitu saja.
"Bunda kenapa?"
Bara dan Bram langsung melihat ke arah Arin. Mereka yakin ada sesuatu yang baru saja terjadi. Mereka berdua saling pandang.
"Arin.. Arin.. Lihat saya."
Bara memegang tangan Arin. Arin tersentak. Dia seperti tersadar. Buru- buru Arin menghapus airmata nya.
"Iya dokter tampan."
Semua orang terkejut. Terutama Bara. Bram tersenyum. Mereka berdua saling pandang. Arin terkejut kenapa yang keluar dari mulutnya malah kalimat tersebut.
"Arin bilang apa tadi?" Tanya Bram ingin memastikan apa yang baru saja dia dengar.
Arin diam saja. Dia bingung mau menjawab apa. Tadi dia sedang mengingat mimpi tentang Omed, Namun tiba-tiba yang muncul di hadapannya malah Bara. Arin pikir itu masih dalam dunia mimpinya.
"Memang saya bilang apa dokter Bram."
"Apa Arin lupa yang baru saja Arin ucapkan? " Tanya Bram lagi. Sengaja Bram melakukan itu untuk menggoda mereka berdua. Menggoda Bara dan Arin yang wajahnya sudah memerah.
"Sudahlah Bram, jangan membuat dia bingung ." Bara tidak mau melihat Arin merasa malu.
"Arin tadi kamu tadi saya lihat mata kamu berkaca-kaca. Ada apa? Boleh saya tahu?" Bara mengalihkan perhatian Arin agar melihat padanya.
"Boleh saya bertanya pak dokter?"
__ADS_1
"Silahkan saja, mau bertanya apa? Semoga saya bisa menjawab."
"Kata bunda, dalang perampokan saya adalah Omed. Apa benar semua itu?"
Mereka bertiga terdiam dan saling pandang. Dan mereka mengangguk bersamaan.
"Memang benar. Ada apa memangnya?"
Bram sama bunda hanya menyimak pembicaraan Arin dan Bara. Mereka tahu Arin akan merasa nyaman bila berbincang dengan Bara.
"Omed bilang dia suka sama saya. Tetapi kenapa tega melakukan hal ini?"
Arin berkata dengan suara yang bergetar. Matanya berkaca-kaca lagi.
"Begini Arin, saya tidak tau apa jawaban nya. Sebaiknya besok ditanyakan langsung pada yang bersangkutan. Tapi Omed dan kedua temannya sudah di tangkap dan dimasukkan ke dalam tahanan. Jadi kamu jangan merasa takut lagi."
Bara melihat reaksi Arin . Tapi Arin terlihat hanya diam memandang Bara.
"Arin, masih ingat apa yang pernah saya ucapkan. Apapun yang terjadi padamu sudah kehendak Yang Maha Kuasa, Jadi Arin harus bisa menerima dan Arin harus bisa berpikir positif. Ini hal yang sangat menyakitkan buat kamu. Tapi kita ambil hikmahnya. Apa yang terjadi padamu akan menjadikan kamu lebih kuat dan lebih sabar."
Bara terdiam lagi. Dia menunggu reaksi Arin. Begitu juga dengan Bram dan bunda. Arin sudah tidak menangis lagi.Dia terlihat termenung.
"Dan satu hal yang ingin saya tekankan padamu. Bahwa siapapun bisa berpotensi menyakiti kamu. Tapi jika kamu mengijinkan. Tau apa maksud saya?"
Bara sengaja menggantung ucapannya agar Arin fokus padanya.
"Tidak pak Dokter." Jawab Arin dengan polos nya.
"Maksudnya, jadilah manusia yang kuat, yang punya idealis dan jangan mudah terprovokasi. Sehingga orang lain berpikir kalau mau menyakiti kamu."
Bara diam lagi. Dia melihat Arin yang termenung dan terlihat berpikir.
"Bahkan orang terdekat pun bisa saja menyakitimu. Contoh seperti yang kamu alami saat ini. Omed yang bilang sayang padamu tapi dia malah mencelakaimu." Tambah Bram.
Bunda terisak. Bunda jadi ingat ayah yang telah tega memukul Arin. Bunda mendekati Arin dan memeluknya.
"Maafkan Ayah dan bunda ya. Ayah telah menyakitimu."
" Bunda apaan sih. Itu karena Arin yang salah, ayah dan bunda hanya melakukan kewajiban mengingatkan Arin. Arin tidak apa-apa bunda."
"Bagaimana Arin, kamu mengerti. Jadi orang baik itu harus. Tapi ingat jadilah orang yang cepat berpikir dan waspada. Tapi bukan berarti kamu jadi mudah curiga." ucap Bara mencoba untuk mengalihkan agar bunda tidak membahas masalah itu lagi.
"Pak dokter susah banget pelajarannya. Itu hanya teori prakteknya bagaimana. Saya masih belum sampai ilmunya. Pak dokter kalau bicara gampang banget."
Semua tertawa mendengar jawaban Arin. Tapi memang benar. Kadang orang dengan mudah memberi nasehat tapi susah menjalankan. Tapi itulah kata-kata buat memotivasi diri kita sendiri. Bisa kita pakai sebagai pedoman buat kita menjalani kehidupan Agar setiap apa yang kita lakukan kita bisa berpikir dahulu.
"Pak dokter, boleh saya mengunjungi Tia. Saya merasa kasian melihat dia. Saya sudah merasa sayang saat melihat dia untuk pertama kali."
"Tentu saja boleh. Apa mau sekarang. Mari saya antar. Mumpung saya sedang senggang."
"Senang sekali saya. Ayo bunda ikut juga. Pasti bunda juga langsung jatuh cinta melihat Tia." Ucap Arin dengan penuh semangat. " Sebentar dokter satu lagi, saya pulang kapan?" Tanya Arin dengan pandangan memohon.
"Besok"
Jawab Bram dan Bara bersamaan. Mereka tertawa lagi. Sore itu mereka lalui dengan banyak tertawa dan tersenyum.
"Terima kasih pak dokter tampan." Ucap Arin dalam hati sambil tersenyum.
🌸🌸🌸
Sore itu sepulang kuliah Fian langsung ke rumah sakit. Sudah sehari semalam dia tidak mendengar kabar tentang Arin. Sejak pulang kemarin siang dia belum sama sekali menghubungi Arin. Takut mengganggu istirahat Arin. Begitu pikir Fian. Jadi selama itu dia menahan keinginan untuk mengirimkan pesan singkat pada Arin apalagi menelponnya. Dan baru kali ini dia menyempatkan diri. Sepulang kuliah langsung menuju rumah sakit.
Fian sampai rumah sakit pukul dua siang. Tidak lupa membawa cemilan buat Arin dan juga bunda. Fian tahu kemarin Arin mulai doyan makan. Makanya dia banyak membawa makanan. Tapi memang sejak dulu Arin doyan ngemil. Untungnya badannya tidak gemuk walaupun banyak makan.
Beberapa kali Fian mengetuk pintu. Tapi tidak ada jawaban. Akhirnya Fian langsung membuka pintu dan masuk begitu saja. Kamarnya kosong. Fian melihat ke sekeliling ruangan. Tak ditemukan siapapun di dalam ruangan. Tak terlihat seorang pun disana. Bunda juga tidak ada. Fian mendekati kamar mandi dan mengetuknya. Siapa tahu Arin sedang di dalam kamar mandi . Tapi tidak ada jawaban juga.
"Di mana Arin dan bunda? Tapi meja masih berantakan. Pasti mereka hanya jalan - jalan saja. Tidak mungkin mereka sudah pulang. Barang- barangnya masih ada." Ucap Fian pelan. Dia mencoba menelpon Arin. Tapi tidak ada jawaban. Malah sepertinya ponselnya tidak aktif.
Fian berjalan keluar. Dia mondar- mandir di koridor. Sambil berpikir Arin di mana. Dia tidak tahu harus mencari di mana.
Akhirnya Fian memutuskan untuk menunggu di dalam saja. Dia duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Dia yakin pasti Arin kembali ke kamar. Dari pada mencari juga tidak tau mau mencari di mana. Fian fokus bermain ponselnya. Mungkin karena capek dan mengantuk lama kelamaan Fian tertidur di sofa. Bahkan tertidur sangat pulas.
Sementara Arin sedang berkunjung ke kamar Tia. Tidak tau kalau ada yang menunggunya di kamar.
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan like dan komen
__ADS_1
Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️