Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 47


__ADS_3

Tersenyumlah Arin


Sore itu Fian tidak kemana-mana. Setelah tadi Fian dimarahi sama mama , dia tidak keluar kamar sama sekali. Bukan dia marah sama mama, Tapi karena memang dia malas kemana-mana. Fian masih tidak mengerti sikap mama. Fian hanya ingin tau apa alasan mama membenci keluarga Arin. Semua hal yang dilakukan dan terjadi pada keluarga Arin selalu menjadi sorotan mama dan dipakai sebagai bahan untuk menjatuhkan reputasi keluarga Arin. Ada saja sesuatu yang dipakai mama untuk menghina dan mengumpat keluarga Arin. Kalau ditanya alasan yang membuat mama benci, selalu saja menghindar. Apa yang terjadi di jaman dahulu yang membuat mama sangat anti pati. Begitu juga papa. Mereka berdua tidak pernah mau jujur dengan yang terjadi sebenarnya.


Tok..tok..tok..Fian terkejut ada yang mengetuk pintu. Pintu kamar memang dia kunci. Fian sedang tidak ingin di ganggu. Perasaannya sedang tidak nyaman. Fian sedang dalam keadaan tidak baik, di samping karena diomelin mama, juga karena sedang memikirkan keadaan Arin. Kalau begini dia tidak bisa kemana-mana lagi. Dia tidak bisa keluar untuk menunggui Arin lagi. Mungkin baru bisa besok sepulang dia kuliah.


"Fian, buka pintunya. Magrib jangan tidur." Andra mengetuk pintu kamar Fian yang sedari tadi siang tertutup.


Ternyata Andra yang mengetuk pintu. Fian diam saja. Dia sedang tidak ingin diganggu. Hari ini banyak hal yang terjadi yang telah menyita perhatiannya. Perasaannya sedang tidak baik-baik saja.


"Fian, gue yakin lo ada di kamar dan ga tidur. Buka sebentar." Andra masih mengetuk pintu. Andra penasaran kenapa dari tadi siang Fian tidak keluar kamar.


"Ada apa Ndra, kok ribut banget." Papa bertanya dari lantai bawah. Papa yang sedang melewati tangga mendengar suara Andra.


"Tidak ada apa-apa kok pa." Jawab Andra. Andra tahu kalau sudah begini, papa pasti akan ikut memarahi Fian.


Dengan malas Fian membuka pintu. Dia yakin kalau tidak dibuka Andra pasti akan terus saja mengetuk pintu. Dan pasti mama atau papanya akan ikut-ikutan mengetuk pintu.


"Ada apa bang. Ada yang penting." Jawab Fian malas. Wajah Fian tampak sangat kusut. Tidak ada semangat sama sekali.


"Gue masuk dulu, baru gue ngomong." Andra masuk kemudian menutup pintu dan menguncinya.


"Tadi lo diomelin mama ya. Lo jawab apa."


"Gue jujur aja. Bilang aja kalau memang nungguin Arin. Mama juga sudah curiga. Pasti selalu menyalahkan Keluarga Arin. Mending jujur aja sekalian,Toh sama saja." Jawab Fian .


"Terus mama gimana. Semakin marah mama tentunya."


"Iya bang biasalah. Sebenarnya mama kenapa si bang. Benci banget pada Arin seperti sudah mendarah daging. Bang Andra tau ga kenapa bisa begitu."


"Mana gue tahu. Setiap ditanya mama pasti menghindar. Pasti ada kejadian yang membuat mama sakit hati sama keluarga Arin. Tidak mungkin kan kalau membenci orang tanpa alasan."


"Iya bang, gue pengen tau dan kalau bisa mendekatkan kembali dua keluarga kita. Ga enak kalau musuhan begini. seperti makan buah simalakama."


"Bahasa lo sudah berat banget. Tapi iya juga sih. " Andra keliatan berpikir. Permusuhan dua keluarga yang tidak ada ujung pangkalnya. Kasian anak- anak yang menjadi korbannya. Padahal mereka tidak tahu apa-apa.


"Bukan karena gue suka sama Arin . Tapi karena gue juga sayang mama. Gue ga mau mama selalu memikirkan kebencian itu. Sengaja tidak sengaja pasti akan dipikirkan terus menerus."


"Iya betul Fian. Ya sudah kapan-kapan tunggu waktu yang pas buat Nanya langsung ke mama."


"Semoga mama mau jujur ke kita , supaya kita bisa mencari solusi dari masalah mereka. Bang mama masak apa. Gue lapar. "


"Masak ayam goreng sambal sama tumis kangkung. Masih ada ya . Tadi udah gue habiskan." Sebenarnya Andra belum makan. Dia hanya sedang menggoda Fian. Andra tau itu makanan kesukaan Fian. Jika tahu sudah di dahului, biasanya Fian akan mempunyai nafsu makan.


"Kok gue ga di sisain. Gue lapar bang."


"Salah sendiri lo di kamar terus. Sono makan. Kasian mama kalau masakannya ga dimakan."


"Ayo bang, temenin gue makan. Gue takut sama mama."


"Cemen lo. Itu resiko kalau berbohong. Tanggung jawablah dengan apa yang sudah lo lakuin."


"Iya deh."


Andra keluar dari kamar Fian. Fian menyusul di belakangnya. Fian lapar tapi takut mama masih marah. Dia tidak berani menatap mamanya karena telah berbohong. Fian harus minta maaf. Ini adalah kesalahan terbesar karena telah membohongi orang tua.

__ADS_1


Sampai di ruang makan, suasana terlihat sepi. Tidak ada orang sama sekali. Makanan di meja makan masih utuh. Ternyata belum ada yang makan sama sekali. Andra melihat tingkah Fian dari kejauhan. Andra sangat menyayangi adik semata wayangnya.


Andra melihat Fian menuju kamar mama.


Tok..Tok.. tok


"Mama,Papa. Makan yuk. Fian lapar. Fian tidak mau makan sendirian. Mau ditemenin sama mama." Ucap Fian pelan. Hatinya telah basah. Dia telah menyadari kesalahannya pada mamanya. Bagaimana juga sifat dan sikap mama dia adalah orang tua yang harus dihormati.


Mama membuka pintu. Mama berjalan mendahului Fian. Diikuti papa dibelakangnya. Fian diam saja. Mama tidak menyapa Fian. Tapi Fian sudah pasrah ini sering terjadi ketika Fian melakukan kesalahan mama pasti menghukum Fian dengan tidak menyapanya. Hati Fian sangat sedih. Apakah dia harus memilih antara cinta dan orang tua? Tapi Arin juga belum tentu menerimanya. Yang dia tahu dulu Arin menyukainya. Tapi tidak tahu sekarang. Yang pasti mereka adalah sahabat selamanya.


Mama duduk di kursi disusul papa, Andra juga sudah duduk. Tinggal Fian yang datang belakangan. Semua sudah duduk di tempatnya masing-masing. Mama menyendokkan nasi dan lauk buat papa dan buat mama sendiri. Gantian Andra yang mengambil makanan. Andra memandang Fian yang diam saja. Dia malah melamun.


"Mau makan apa melamun." Tanya mama singkat.


Andra dan papa memandang Fian. Akhirnya Fian mengambil nasi dan lauknya. Dia mengambil nasi cuma sedikit. Walaupun sebenarnya sangat lapar. Melihat sikap mama yang dingin padanya nafsu makan Fian jadi hilang.Dia makan dengan malas- malasan. Nafsu makannya hilang , dia sedih di diamkan sama mama. Semua makan tanpa ada suara.


"Fian tumben kamu makannya cuma sedikit. Biasanya suka dengan tumis kangkung sama ayam goreng." papa bertanya karena melihat Fian yang makan cuma sedikit.


Fian diam saja. Fian hanya memandang papa namun tidak menjawab pertanyaannya. Dia hanya mengaduk- aduk nasi di piringnya. Mama juga diam saja. Andra hanya memandang Mama dan Fian bergantian. Masih ada perang dingin di antara keduanya.


Semua sudah selesai makan dengan suasana yang dingin ini. Mama merapikan meja makan. Papa menuju ruang keluarga diikuti Andra. Fian masih duduk di tempatnya yang tadi. Mama berjalan ke dapur mau mencuci piring. Fian bangun dan memeluk mamanya dari belakang.


"Mama maafkan Fian. Fian memang salah telah berbohong sama mama. Maafkan Fian, besok lagi Fian tidak berbohong lagi." Ucap Fian pelan.


Mama diam saja. Sebenarnya dia tidak benar-benar marah, mama hanya kecewa Fian tidak mau jujur. Mama hanya kecewa, fian lebih membela orang lain daripada mamanya.


"Mama mau mencuci piring. Kamu lepaskan pelukan kamu. Mama tidak bisa bergerak."


" Mama bilang dulu kalau mama memaafkan Fian. Ya udah biar Fian saja yang mencuci piring. Mama duduk saja,nonton televisi sama papa."


Andra memandang mereka berdua dengan senyuman. Andra senang akhirnya mama memaafkan Fian. Andra tahu adiknya punya tujuan yang baik. Tapi sayangnya ada cerita masa lalu yang belum terungkap, sehingga semua kesalahpahaman ini masih terus berlanjut. Semoga mamanya segera mau membuka cerita itu. Biar Andra dan Fian tidak salah dalam bersikap. Semoga semua kesalahpahaman segera terungkap. Agar damai hidup dua keluarga tersebut.


🌸🌸🌸


Arin makan dengan lahap. Dia memang merasa sangat lapar. Dia dengan cepat menghabiskan makanan nya. Di rumah juga Arin memang selalu makan dengan cepat, bukan terburu- buru, tapi memang terlihat menyukai semua makanan yang bunda masak. Arin tidak pernah pilih makanan. Semua makanan yang disediakan pasti di makannya. Baginya yang penting halal.


Seperti saat ini, makanan rumah sakit sebenarnya tidak enak. Rasanya tawar ,tapi karena lapar,habis dimakannya tanpa sisa. Bunda tersenyum melihat cara Arin makan. Pantas saja Arin malu kalau ada dokter yang melihat cara makan nya.


"Pelan-pelan makannya.Lapar sekali ya. Mau nambah atau bagaimana,? Masih ada makanan yang Fian belikan tadi pagi." Tanya bunda yang gemas melihat cara Arin makna. Seperti seminggu tidak kena nasi. Tapi benar si memang seminggu dia tertidur. Mana bisa makan nasi dalam keadaan tidur.


"Nanti lagi aja bund, nanti sakit perut. Kata dokter harus sedikit dulu makannya dan juga harus yang halus dulu. Takut lambungnya kaget."


"Baiklah, sini bunda rapikan bekas makan kamu. Minum dulu dan juga jangan lupa obatnya kamu minum. Ini bunda siapkan disini ya." Bunda mengambil nampan bekas piring makanan. Dia memberi Arin obat dan juga air minum.


Setelah minum obat Arin kembali berbaring dengan bantalan yang aga tinggi.


"Badan kamu bagaimana rasanya. Apa ada yang sakit Nak?"


"Tidak ada bunda Arin sudah baik-baik saja. Cuma sedikit pegal saja. Mungkin karena tidak pernah digerakkan." Jawab Arin. Sekarang dia terlihat lebih bersemangat.


Bunda berharap Arin begini seterusnya. Tidak ada lagi drama Arin yang pingsan. Bunda takut dan juga khawatir. Bunda mau Arin segera pulang. Walaupun biaya rumah sakit ada yang menanggung sampai Arin sembuh seutuhnya. Namun bunda berharap Arin bisa segera pulang. Mungkin rawat jalan saja lebih baik. Arin mungkin bisa lebih rileks dan juga bunda tidak terlalu capek seperti kalau si rumah sakit.


Sementara yang diluar sudah tidak sabar ingin masuk melihat keadaan Arin. Bara mengintip lewat jendela kaca kecil yang ada di pintu. Dia melihat Arin sudah rebahan. Berarti makannya sudah selesai.


"Arin sudah selesai makan. Mau masuk sekarang atau nanti." Tanya Bara kepada Bram dan Bima yang masih asyik berbincang.

__ADS_1


"Sekarang saja, Udah sono lo duluan. Nanti kita menyusul. Ini es cream keburu mencair. Ini lo bawa masuk." Bima menyerahkan tas yang ada di samping nya.


"Mending kita masuk semua aja deh. Lo beli es creamnya banyak kan? Kita bisa makan baren- bareng, pasti lebih seru." Usul Bram.


" Benar juga, ayolah kalau begitu ."


Akhirnya ketiga orang tersebut masuk ke kamar Arin.


"Udah selesai makannya kan?" Bram membuka pintu dan langsung mendekati ranjang.


"Astaghfirullah, Dokter Bram. Bunda kaget." Bunda yang memang posisinya membelakangi pintu terkejut, karena tiba-tiba ada suara orang berbicara.


"Maaf bunda, Kami masuk tanpa mengetuk pintu. Tau itu Bram sama Bara lho bun." Jawab Bima yang tidak merasa bersalah.


"Kita bertiga Bima, enak aja lho merasa benar sendiri." Bram tak mau kalah.


"Sudah..sudah. Kalian berdua seperti anak kecil. Oh ya, ini es creamnya. Satu orang dapat satu. Yuk kita makan bareng- bareng." Bara menengahi perdebatan mereka berdua.


Dia membagi satu-satu es cream yang dibeli oleh Bima.


"Ini buat bunda. Bunda juga kebagian. Ini buat Arin. Ayo dimakan. Sambil duduk juga bisa." Bara memberikan es cream kepada bunda dan juga Arin.


Arin menerima es itu. Dia suka sekali es cream yang disodorkan Bara. Es cream rasa jaman dulu. Es cream dung- dung. Seperti yang abang-abang yang suka lewat.


"Bagaimana rasanya, Enak bukan?" tanya Bram kepada Arin.


Arin mengangguk. Dia sangat menikmati es cream itu, Sampai- Sampai makannya belepotan. Bara mengambil tisu dan ingin membersihkan pipi Arin yang terkena es cream. Tapi dia ragu-ragu. Dia melihat ke kanan dan ke kiri. Akhirnya setelah melihat situasi, Bara memberanikan diri membersihkan pipi Arin. Bram dan Bima pura-pura tidak melihat.


"Eh, Pak Dokter." Arin terkejut. Tidak menyangka Bara akan berani melakukan itu.


"Maaf, kamu makan es nya seperti anak kecil, belepotan."


Bima dan Bram tersenyum senang. Ada kemajuan pada diri temannya itu.


"Ekhem..ekhem..." Bram malah sengaja bersuara. Bara pura-pura tidak melihat. Mukanya pasti merah.


"Pak Dokter kenapa, kok mukanya merah." Arin malah semakin memperkeruh keadaan.


"Hahahaha.. " Bram dan Bima tertawa lepas. Bunda hanya tersenyum simpul. Bunda merasa heran melihat tingkah para dokter dan temannya itu.


Bara sudah sangat malu.Dia hanya diam sambil menghabiskan es creamnya yang tersisa sedikit. Seolah tak peduli dengan gurauan mereka. Sebenarnya hatinya sudah sangat tidak nyaman. Malu dan malu yang ada.


"Sudah habis es cream gue. Enak ya Rin, manis." Ucap Bima memecah kesunyian. Kalau boleh memilih keinginannya sebenarnya ingin tertawa terbahak-bahak. Tapi melihat muka Bara yang sudah merah padam, Bima merasa kasian juga.


"Iya Bang, enak. Mau lagi dong. Masih ada ga." Dengan santainya Arin minta nambah.


"Yeah Abang belinya pas tadi. Disini kan ga ada kulkas. Takut meleleh seperti hati Abang. Hahaha..." Bima masih saja meledek Bara. Yang di ledek diam saja, pura-pura tidak tahu.


"Besok saya belikan lagi ya, makanya cepet sembuh biar kamu bisa memilih sendiri rasa apa yang kamu sukai." Ucap Bram.


Bunda merasa terhibur dengan interaksi mereka. Arin terlihat terus tersenyum. Semoga ini awal yang baik. Dikelilingi orang-orang yang begitu tulus menyayangi Arin semoga menjadikan Arin semakin membaik. Para Dokter yang memberikan perhatian berlebih semoga menjadikan para pasien mempunyai semangat untuk sembuh. Terima kasih pak dokter. Jasamu tak kan terlupakan. Semoga anda mendapatkan pahala yang setimpal. Aamiin.


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan like dan komen.

__ADS_1


Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2