Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 40


__ADS_3

Kedatangan Arin


Hari sudah malam tapi Arin belum bisa tertidur lagi. Bunda juga belum tidur.


"Bunda.. Bunda sedang apa?"


"Iya Nak. Ada apa. Jangan banyak bicara dulu. Istirahatlah, biar cepat pulih."


"Arin belum bisa tidur. Kenapa Bunda belum tidur juga?"


"Bunda juga belum bisa tidur. Bunda kangen sama kamu. Bunda ingin ngobrol sama kamu tapi kamu harus istirahat. Bunda bahagia sekali kamu sudah bangun Arin. Kita semua sedih, kenapa kamu belum sadar juga. Bunda belum memberitahukan berita gembira ini pada Ayah dan juga Rama."


" Besok saja memberitahu mereka. Maafin Arin ya Bun. Arin membuat bunda dan yang lain khawatir. Arin telah merepotkan Bunda dan Ayah."


"Tidak Nak, Mana mungkin bunda merasa direpotkan. Bunda sayang sama kamu. Ayah juga sayang kamu. Semua sayang sama kamu. Jangan pernah seperti itu lagi ya. Bunda takut sekali kemarin." Mata bunda sudah berkaca- kaca. Begitu juga dengan mata Arin.


"Maafin Arin ya bund, Arin tidur terlalu lama. Tapi Arin merasa cuma tidur semalam. Kok bisa tujuh hari ya."


"Namanya juga pingsan Rin, jadi tidak tau apa yang sebenarnya terjadi."


"Iya juga ya Bund, hehehe. Fian mana ya. Apa dia sudah pulang." Arin melihat ke arah pintu.


"Entahlah. Tapi kalau pulang masa tidak pamit sama kita. Mungkin dia ke kantin atau istirahat di luar."


"Iya mungkin. Bunda istirahat saja. Tidak usah menunggu Arin. Bunda tidur di sofa saja. Sebentar lagi Arin juga tidur."


" Baiklah, kamu segera tidur ya. Bunda juga mau rebahan di sofa. Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak lagi."


"Iya bund"


Arin memejamkan mata. Berusaha untuk tidur. Bunda juga merebahkan diri di sofa. Dia merasa mengantuk. Walaupun cuma duduk saja dari tadi tapi ternyata capek juga. Karena mengantuk, Akhirnya bunda tidur juga.


Arin masih belum bisa tidur. Ada banyak hal yang dia pikirkan. Tadi dia mendengar Dokter Bara berkata mau berbincang secara pribadi sama Fian. Apa ada yang penting harus dibahas di luar. Apa itu tentang dirinya. Arin pengen mendengarkan .Tapi dari dalam ruangan hanya terdengar samar-samar. Tidak jelas apa yang mereka bicarakan. Memang Terdengar orang yang berbicara tapi hanya seperti suara berdengung saja.


Susah sekali untuk memejamkan mata. Dia masih penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya. Dia bermimpi yang menurut dia sangat aneh. Mimpi seperti nyata, sehingga dia terbangun tadi. Apakah itu mimpi atau nyata. Tapi rasanya seperti nyata. Dia ingin bertanya pada Fian. Tapi Fian kemana.


Hari semakin malam. Mata Arin masih terbuka. Dia melihat ke arah Bunda, dilihatnya bunda sudah tertidur. Kasian bunda harus tidur di sofa. sebenarnya Arin kepengen bunda tidur disampingnya, tapi tempat tidurnya kecil.


Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka secara perlahan. Dilihatnya Fian memasuki ruangan. Fian melihat Arin masih terjaga.


" Kok belum tidur, Kenapa?"


"Tidak bisa tidur. Gue kira lo sudah pulang."


" Barusan diajak Dokter Bara dan temennya makan di luar rumah sakit."


" Kenapa ga bisa tidur. Mau gue ceritain dongeng, supaya bisa cepat tidur."


"Dih kaya bocah. Lo kok belum pulang. Tidak dicari nyokap lo."


"Tapi kalau lo mau, gue iklas jadi pendongeng. Eh jangan khawatir tadi gue udah bilang sama bang Andra. Biar bang Andra yang bohong sedikit ke mama."


"Dosa lho bohongin orang tua."


"Cuma sedikit. Seujung kuku. Demi sahabat tercinta. Hehehe..." Fian menjentikkan jarinya.


" Diihhh ... lebay lo. Memangnya kita sahabat ya. Sejak kapan?"


"Iya sahabat. Sejak dalam kandungan. Apa lo amnesia? Memang mau jadi yang lain. Yang lebih dari sahabat. Atau jangan-jangan lo ingat nya kita pacaran ya." Ucap Fian sambil menggerakkan kedua alisnya.


"Ikh apaan deh. Lo ga jelas banget." Arin tersenyum riang.Wajah Arin terlihat memerah . Dia selalu salah tingkah kalau becanda dengan Fian. Fian terlihat sangat bahagia. Dia senang Arin sudah bisa tersenyum lagi. Fian selalu bisa membuat suasana menjadi hangat.


"Fian, gue mau tanya sesuatu, bolehkah?"

__ADS_1


"Buat lo, apa si yang ga boleh." Ucap Fian sambil tersenyum tipis.


" Dih semakin lebay deh. Hm, sekarang sudah pintar gombal ya."


"Siapa yang gombal? Bukannya dari dulu memang sudah begitu. Kayaknya lo bener-bener amnesia deh."


"Apaan si, gue ingat semua tentang lo. Tak ada yang terlupa. Kecuali satu hal."


"Apa itu?" Fian penasaran dengan ucapan Arin .


"Kecuali, status lo. Lo jomblo sejati kan . Hehehe.."


"Ga jelas lo Rin. Tapi benar juga. Kapan gue punya pacar ya?" Fian pura-pura berpikir kemudian dia tertawa.


"Terserah lo maunya kapan melepas status jomblo lo. Lo sok pilih-pilih si. Lo memangnya sudah punya calon. Kan yang suka sama lo banyak. Tinggal pilih salah satu. Bukannya dulu Ai suka sama lo. Via juga kayaknya. Temen- temen kuliah lo memang nya ga ada yang cantik."


" Banyaklah yang cantik. Tapi yang cocok di hati belum ada. Kalau sama Ai atau pun Via kayaknya ga deh. Ogah kalau sama mereka berdua."


" Lo milih yang seperti apa si . Ga boleh gitu. Memangnya kenapa dengan Ai dan Via? Bukan nya dari SMA kalian sudah berteman. Dan sekarang kuliah di kampus yang sama bukan? "


"Pokoknya kalau sama Ai dan Via tidak mau gue."


"Kenapa memangnya? Mereka cantik dan baik bukan? Jangan terlalu membenci orang terlalu dalam. Nanti lo malah jatuh cinta. Karena cinta dan benci itu beda tipis. Dan jangan jatuh cinta terlalu dalam, nanti lo bisa terkubur di dalamnya."


"Wuuiih mantap kata-kata lo. Udah pinter sekarang ya."


"Baru tau, gue kan sudah pintar sejak orok. Hehehe.."


"Wuidih sombong nya."


Mereka berdua tertawa bersama.


Fian mengacak rambut Arin. Arin sudah bisa becanda lagi. Tentu Fian sangat bahagia. Karena Arin sudah kembali ke Arin yang dulu.


"Apaan si , kok diacak-acak. Nanti tambah berantakan. Fian ikh. jangan dong." Fian malah semakin senang menggoda Arin. Dia acak-acak rambut Arin terus-menerus. Tiba-tiba mereka terdiam. Mata mereka saling pandang. Terasa canggung.


"Memang kenapa dengan gue? " Fian juga menjadi Salah tingkah.


Mereka memanggil nama bersamaan. Ada suara gemuruh tapi bukan gunung mau meletus. Ada suara berdetak tapi bukan suara jam dinding. Muka mereka sudah berwarna merah.Fian mendekatkan wajahnya ke wajah Arin. Bibir sudah siap mau mencium bibir Arin. Tiba-tiba Arin menghentikannya.


"Fian, sebentar. Baru ingat. Ada yang mau gue tanyakan." Arin merasa Fian mau menciumnya. Dia jadi salah tingkah. Dia harus menghentikannya dan tiba-tiba dia teringat sesuatu.


"Lo mau tanya apa? Lo merusak suasana aja." Fian jadi merasa sedikit canggung. Fian tahu Arin menolak berciuman dengannya.


"Hahaha, ga lucu ikh. Memangnya Lo mau ngapain." Arin pura-pura tidak tau apa yang mau dilakukan Fian. Dia menjadi teringat sesuatu hal. Pas tadi Fian mau menciumnya, Arin jadi teringat mimpinya.


"Begini Fian, gue bermimpi lo mencium bibir gue tadi pagi." Arin berkata tapi tidak berani menatap wajah Fian. Dia merasa malu mengatakan hal itu. Dia merasa itu kejadian memang terjadi bukan hanya mimpi.


"Hm.. memang iya. Gue mencium bibir lo dan lo membalasnya."


" Beneran Fian, beneran lo berani lakuin hal itu. Wah parah.." Sebenarnya Arin merasa malu. Tapi Arin pinter menutupinya.


"Iya, Gue cium lo. Gue berpikir lo seperti putri salju yang tertidur. Yang bisa bangun lagi karena di cium sang pangeran. Ingat dongeng putri salju dan tujuh kurcaci kan."


"Ikh Fian, lo cium gue tanpa ijin. Jahat ikh. Eh..Jadi gue disamakan putri salju. Kok bisa ada pemikiran begitu si."


"Hahaha.. bagaimana mau minta ijin. Lo aja tidak sadar. Tapi Alhamdulillah lo sekarang sudah sadar. Artinya ciuman gue berhasil dong. Dan cerita putri salju ada di dunia nyata. Hehehe." Fian tertawa senang. Wajah Arin memerah. Dia tidak berani menatap Fian. Arin hanya diam saja. Dia tidak dapat berkata-kata.


"Apaan si... Fian ga jelas." Hanya kalimat itu yang bisa keluar dari bibir Arin. Arin merasa canggung dan malu.


"Maafkan gue ya Rin. Gue mencuri ciuman lo. Tapi beneran itu semua murni ingin membuat lo terbangun." Fian mengacungkan dua jarinya. Tapi memang benar yang Fian katakan tidak ada niat yang tidak baik dalam hatinya.


"Iya Fian. Tidak apa-apa. Semua sudah terjadi." Akhirnya hanya itu yang keluar dari bibir Arin. Tapi dia juga masih penasaran. Dalam mimpinya, dua kali dia berciuman dan dengan orang yang berbeda. Lalu satunya siapa. Arin terus saja berpikir.

__ADS_1


"Arin, malah melamun. Apakah masih marah? Maafkan gue ya Arin. Niat gue cuma satu. Gue pengen lo cepat sadar. Tidak ada niat untuk melecehkan lo. Jadi jangan marah lagi ya."


Arin masih diam. Perasaan nya tidak karuan antara sedih dan senang. Dia bahagia bisa merasakan dicium Fian. Tapi kalau mengingat kedua orang tua Fian, dia merasa sedih. Akankah mereka bersatu. Arin sudah berusaha membunuh rasa yang pernah ada buat Fian. Tapi susah sekali rasanya. Sejak kecil selalu bersama, bagaimana tidak muncul rasa sayang itu. Tapi keadaan tidak memungkinkan dia bisa bersatu dengan Fian. Sudah sejak lama Arin berusaha menghindari Fian. Tapi tidak pernah berhasil. Bagaimana mau berhasil kalau hampir setiap hari bertemu. Akhirnya Arin hanya bisa pasrah. Dia hanya ingin menjalani yang ada saja .


"Iya Fian. Gue memaafkan lo kok. Lagian sudah terjadi juga." Ucap Arin akhirnya. Dia tidak mungkin menyalahkan niat baik Fian. Semoga ini bukan modus belaka.


Mereka terus berbincang dan bercanda. Mereka terus tertawa , bercerita sampai lupa waktu. Tidak perduli hari telah malam. Tak perduli mengganggu bunda yang sedang tidur. Ada saja bahan candaan mereka berdua. Sudah dari sononya mereka solid. Masing-masing selalu bisa membuat suasana menjadi meriah.


Mereka tidak menyadari jika dari luar ruangan ada yang memperhatikan tingkah laku keduanya. Di luar ruangan terlihat seseorang menyimak percakapan mereka. Dia ingin masuk. Tapi takut mengganggu. Ingin ikut bercanda dengan mereka berdua. Karena terlihat seru dan penuh tawa. Pasti menyenangkan jika bisa ikut di dalamnya.


Ya Bara memperhatikan apa yang terjadi di dalam tadi. Antara Fian dan Arin. Hatinya terasa perih melihat interaksi keduanya yang terlihat begitu akrab. "Akankah gue bisa masuk ke dalam kehidupanmu Arin. Terlihat ada batasan antara kita. Atau mungkin karena kita belum kenal dekat? Semoga Allah menunjukkan jalan yang terbaik." Bara berucap dalam hati. Dia sangat berharap bisa mendekati Arin dan menjadikannya kekasih. Apalagi dia ingat ucapan Fian tadi. Bara menjadi lebih bersemangat.


"Maaf mengganggu pembicaraan kalian berdua. Kalian terlihat seru sekali. Jadi pengen ikut bergabung. Apakah saya mengganggu. Arin, kenapa kamu belum tidur? "


Arin dan Fian menoleh mendengar ada suara langkah kaki. Ternyata Bara yang datang ke ruangan.


"Belum Dok, belum mengantuk."


"Eh Dokter Bara. Maaf saya menemani Arin berbincang. Katanya tidak bisa tidur." Ucap Fian.,


"Apa sudah makan? Apa sudah minum obat? Apa yang kamu rasakan saat ini?" Bara memberondong Arin dengan berbagai pertanyaan.


"Satu-satu tanyanya Dokter, saya bingung menjawabnya." jawab Arin pelan sambil tersenyum. Dia merasa geli melihat tingkah sang dokter.


" Iya maaf, habisnya kamu sudah malam masih terjaga. Harusnya kamu istirahat biar segera pulih?"


"Maaf ya Dok, mungkin apa gara-gara saya disini ya Arin jadi ga tidur?"


" Apa Fian ikh. Kan memang gue ga bisa tidur Fian. Bukan salah Fian Dok, memang saya yang tidak bisa tidur. Dia hanya menemani." Arin takut kalau sang Dokter menyalahkan Fian.


"Iya, saya tidak menyalahkan Fian kok. Mungkin karena anda terlalu lama tertidur jadi sekarang sudah tidak mengantuk lagi. Boleh saya ikut bergabung dengan kalian."


"Silahkan Dokter. Mari kita berbincang. Tapi mau ngomong tentang apa ini." Fian bingung mau bahas apa sama Bara.


"Kalian berdua jangan terlalu formal. Ini bukan jam kerja saya. Saya tadi hanya berjalan-jalan saja dan mendengar orang lagi berbincang."


" Iya Dok, Biasa tadi kita lagi mengenang masa kecil kita." Jawab Arin.


"Masa kecil ya. Pasti sangat indah ya. Senang ya bisa punya teman dari kecil sampai dewasa seperti sekarang. Dan bisa bersama terus."


"Ya begitulah dok. Masa kecil dokter bagaimana. Pastinya sangat menyenangkan ya."


"Banyak hal yang menyenangkan dan juga pasti ada yang sedih juga." Bara menerawang mengingat masa kecilnya dahulu. Dia yang hanya dua bersaudara. Yang hanya hidup pas-pasan . Harus belajar rajin agar bisa mendapatkan beasiswa demi cita-citanya. Dia yang mengesampingkan semua keinginan dan kesenangan. Bara menghela nafas berat.


" Dokter kenapa. Ada sesuatu yang dipikirkan kah?"


"Tidak Fian, Arin. Bolehkah saya menjadi teman kalian. Saya merasa persahabatan kalian begitu kental. Saya jadi iri. Saya pengen menjadi bagian dari kalian."


Fian dan Arin saling pandang. Permintaan yang aneh menurut mereka. Tapi keduanya mengangguk bersamaan. Bara tersenyum. Artinya terbuka lebar peluang dia masuk di kehidupan Arin.


"Terima kasih. Bagaimana kalau kalian memanggil saya Abang.Tidak- tidak. bagaimana kalau memanggil nama saja. Bara begitu." Saking semangatnya Bara sampai terlihat begitu antusias.


"Ya tidak boleh kalau memanggil nama saja Dok. Tidak sopan kepada orang yang lebih tua." Fian tersenyum geli melihat ekspresi gembira Bara. Seperti anak kecil yang mendapat kan balon.


Arin juga tersenyum. Sebenarnya dia ingin tertawa. Tapi takut Bara tersinggung. Melihat Bara yang begitu bersemangat ingin berteman dengannya dan Fian. Seperti ada sesuatu yang tidak biasa terlihat di mata Bara yang memandang Arin. Bukan Arin tidak tau Dia hanya pura-pura tidak memperhatikan. Arin jadi ingat sesuatu. Sesuatu hal yang dia alami. Arin jadi terdiam. Semua memandang ke arah Arin. Bara mulai merasa khawatir begitu pun dengan fian.


Mereka berdua terus memperhatikan tingkah Arin.


Apa yang terjadi dengan Arin?


Tunggu episode selanjutnya.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like dan komen.


Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2