Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 74


__ADS_3

Hari mulai gelap. Cahaya jingga masih terlihat indah di langit sebelah barat. Satu persatu manusia pulang ke rumah masing-masing. Begitu juga dengan matahari. Dia sudah mulai terlihat hanya semburatnya saja.Sudah saatnya dia kembali ke peraduan nya. Dia akan digantikan oleh sang rembulan dan juga bintang gemintang. Yang akan memperindah langit malam.


Sehabis makan bakso tadi Arin langsung pergi ke pasar. Dia sudah menghubungi bunda. Dan bunda sudah menyebutkan apa saja yang harus di belinya buat bikin kue pesanan Joko. Arin merasa beruntung mendapatkan orderan ini. Dia senang bunda punya kesibukan lagi.


Dari kemarin bunda sudah bilang tidak betah di rumah. Bunda sudah terbiasa bekerja, pastilah tidak betah. Biasanya setiap hari sibuk, bergerak kesana kemari. Sedangkan saat ini hanya diam di rumah. Pagi sehabis memasak, bunda sudah tidak ada yang dikerjakan lagi. Bunda sering mengeluh bosan dirumah karena tidak ada yang di kerjakan lagi.


Anaknya sudah besar semua sudah bisa mengurus diri sendiri semua. Makanya bunda begitu antusias saat Arin memberitahu ada pesenan kue. Walaupun itu dadakan, namun buat bunda tidak jadi masalah. Dia akan selalu menyanggupi segala pekerjaan asal dia sehat. Rejeki tidak mungkin di tolak.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Sudah sampai nak. Mana belanjaannya. Sini biar langsung bunda kerjakan."


"Ini bund."


Arin menyerahkan kantong belanja yang di bawanya. Semua pesanan bunda telah dia belikan. Rencananya bunda mau bikin sosis solo, lemper dan juga jongkong. Sepertinya bunda harus begadang malam ini. Untung ini hari Jumat. Besok Rama libur sekolah. Dia bisa membantu bunda sampai malam.


"Bunda, Arin mandi dulu ya. Nanti Arin bantuin. Gerah ini dan juga belum sholat magrib."


"Iya Rin. Biar Rama yang mencuci ayamnya."


"Sini kak daging ayamnya. Ini sehabis dicuci langsung di rebus kan bun. "


"Iya. Bunda mau merebus santan dulu buat Jongkong nya."


Semua sudah terbiasa melakukan pekerjaan tersebut. Jadi sudah bisa berinisiatif sendiri pekerjaan mana yang akan mereka kerjakan terlebih dahulu.


Walaupun cowok, Rama sangat cekatan membantu pekerjaan bunda. Dengan cepat dia memotong daging ayam, mencucinya lalu merebusnya.


Tiga macam kue yang harus dikerjakan dalam waktu semalam. Untung Semua anggota keluarga telah terbiasa. Dan untungnya pemesan tidak menentukan kue apa yang harus di buat.Jadi bunda tidak kewalahan untuk mencari bahan dasarnya.


Arin masih di kamar saat adzan isya. Setelah mandi tadi, dia langsung masuk kamar. Badannya terasa pegal semua. Ini hari pertama dia masuk kerja setelah satu bulan terbaring sakit. Tentu saja Semua ototnya terkejut setelah tidak digerakkan untuk beberapa saat.


Untung saja dia tidak diskorsing oleh perusahaan karena terlalu lama tidak masuk kerja. Karena Arin bisa menunjukkan bukti surat keterangan dari dokter bahwa dia benar-benar sakit. Walaupun dalam sebulan itu Arin cuma dibayar setengahnya. Namun Alhamdulillah perusahaan masih memberikan haknya.


Arin rebahan di tempat tidur. Dia ingin mengistirahatkan badannya sejenak sebelum membantu bunda. Tapi kata bunda tadi, dia tidak usah membantu karena ada Rama, adiknya yang sangat cekatan dalam hal membantu bunda.


Bunda tau Arin terlihat sangat lelah. Bunda juga tidak ingin Arin terlalu capek. Lukanya harus segera sembuh agar dia bisa beraktivitas seperti biasa lagi.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ada pesan WhatsApp masuk. Arin mengambil ponselnya. Dia buka aplikasi WhatsApp. Ada nama Fian di sana. Sudah hampir dua Minggu dia tidak bertemu Fian. Yang terakhir di rumah sakit saat Arin mau pulang dulu.


Fian : Assalamu'alaikum.. Selamat malam ☺️.


Arin tersenyum membaca pesan dari Fian. Tumben Fian memakai emot. Biasanya tidak pernah. Arin menulis balasan. Dilihatnya Fian masih terlihat dalam status online.


Arin: Wa'alaikumsalam. Selamat malam juga☺️.


Fian : Apa kabar Rin.


Arin : Alhamdulillah baik.Lo sendiri bagaimana.? Lama tidak ada kabar.


Fian : Alhamdulillah gue juga baik. Lo sudah masuk kerja. Tadi pagi gue lihat lo lewat depan rumah.


Arin : Iya. gue udah masuk kerja. Lo kemana aja sih. Lama ga ada kabar.


Fian : Maaf ya gue sibuk. Baru hari ini sempet memberi kabar.


Arin : Sibuk apa sok sibuk. Jangan- jangan sibuk pacaran ya.


Fian ; Pacaran sama siapa dah. Lo kan tahu gue jomblo.


Arin : Kasian amat si nasib lo. Wkwkwk.. ... Jomblo aja bangga.

__ADS_1


Fian : Lo sih ga mau sama gue.


Arin tak langsung menjawab. Dia terdiam sejenak. Seandainya dia tidak memikirkan permusuhan keluarga Fian dan keluarganya, dia pasti mau jadi pacar Fian.


Arin : Kapan lo nembak gue.


Fian : Sekarang.. Wkwkwkwk..


Arin : Dih.. lo gaje..


Arin tersenyum. Selalu saja Fian bersikap begitu. Dia selalu bisa membuatnya tertawa. Ada rasa bahagia saat bisa bercanda seperti ini bersama Fian.


Fian ; Arin.. seandainya. Seandainya nih ya. Gue beneran nembak lo. Bagaimana apa lo terima.


Arin : Fian.. lo tega banget sih. Mati dong gue. Apa lo sudah ikhlas mengantar gue ke surga. Hiks.. hiks..


Fian : Ariiiiiin... Kan... Kan.. kan.. begitu. Lo Susah banget di ajakin ngomong serius.


Arin : Gue maunya dua rius. Rugi kalau cuma serius. hahaha..


Tidak ada balasan. Fian masih terlihat dalam status online.Arin memang tidak pernah menganggap serius semua isi perkataan Fian. Walaupun dia tahu isi hati Fian. Namun dia memang harus memikirkan kondisi saat ini. terdengar notifikasi lagi. Mungkin balasan dari Fian. Setelah dilihat ternyata benar.


Fian : Arin ..


Arin : Ya ada apa.


lama ga ada balasan lagi. Tapi Fian terlihat masih online.


Fian : Ga jadi deh.. Tidur sono. Pasti capek.


Arin : Fiaaann... Ga jelas banget deh.


Fian :Besok gue jelasin.. Hahaha.. tidur sono. jangan begadang. Banyak istirahat. Biar lukanya cepat sembuh.


Fian : Iya bawel. Udah dulu ya. Assalamu'alaikum


Arin : Wa 'alaikumsalam.


Dan tidak ada jawaban lagi. Arin mematikan ponselnya dan menaruhnya di atas meja. Dia melihat jam yang tergantung di dinding. Ternyata sudah jam sembilan malam. Dia keluar kamar menuju dapur. Karena terdengar suara bunda dan Rama di sana.


"Wah, Rama pinter sekarang ya bun. Udah mahir bikin kuenya."


Rama mencibir.


"Dih ... Apaan deh kak. Kan Rama harus siaga membantu bunda."


"Iya deh iya.Bunda Cuma ini aja kan. Yang lain besok pagi kan."


"Iya Rin. Kamu istirahat saja. Pasti kamu lelah. Biar bunda dibantu Rama saja."


"Iya sono kak. Pergi... pergi.. hus.. hus."


Rama mengusir Arin. Dia mengibaskan tangan ke arah Arin. Arin mengacak rambut Rama sambil tergelak.


"Awas aja ya Ram."


Arin mengepalkan tangan ke arah Rama. Rama mengeluarkan lidahnya. Mereka selalu begitu. Saling mengejek dan meledek. Bunda hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua anaknya. Tapi dia tersenyum bahagia. Melihat anak-anaknya selalu akur, tak pernah berantem.


Arin memasuki kamarnya. Dia memang lelah. Ingin segera memejamkan mata. Begitu berbaring matanya terpejam. Sesaat dia mengingat chat Fian tadi. Dia ingin tau apa yang sebenarnya akan diungkapkan Fian. Tapi Arin tak ingin memikirkan terlalu dalam. Bila saatnya tiba, Fian pasti akan berbicara jujur padanya. Karena sangat mengantuk akhirnya Arin tertidur juga.


🌸🌸🌸

__ADS_1


Sementara Fian masih terjaga. Setelah tadi dia berbalas pesan dengan Arin. Dia sedang berpikir. Apakah dia akan mengungkapkan apa yang dia rasa. Fian yakin tanpa diungkapkan pun, Arin pasti tau perasaannya. Namun Fian ingin Arin tau dari mulut dia sendiri.


Fian tak peduli tanggapan Arin nanti. Mau ditolak ataupun diterima dia tidak pikirkan. Yang penting Arin tau seperti apa perasaannya.


Fian bangun dari duduknya dan keluar kamar menuju balkon. Dia ingat perkataan Mama kemarin. Tak sengaja dia mendengar saat papa dan mamanya berbincang di halaman belakang. Fian hanya samar-samar mendengar. Tapi dia tidak ingin mengambil kesimpulan. Dia hanya menunggu saatnya mama bicara sendiri padanya.


"Kenapa.. kok belum tidur"


Fian terkejut. Andra sudah berada di sampingnya. Dia tidak mendengar Andra masuk ke kamarnya.


"Kapan lo masuk. Ga ketok pintu dulu. Kebiasaan.." Sebenarnya Fian sedikit kesal dengan sikap Andra.


"Sory, gue udah ketok pintu. Tapi lo nya aja yang tidak mendengarnya. Lo terlalu asyik melamun. Ada apa lagi, hm.."


Fian tidak menjawab pertanyaan Andra. Dia menerawang memandang langit yang terlihat sedikit mendung. Ada awan hitam berarak melintasi langit di atasnya. Angin bertiup sedikit kencang. Dia menarik nafas panjang.


"Bang, ..." Fian diam lagi.


"Ada apa? Kok ga diteruskan omongannya."


Fian memandang Andra. Dia ragu mau bertanya pada Andra. Dia tidak tega menyakiti hati kakak satu-satunya itu.


"Bang.. lo udah makan belum. Gue lapar. keluar yuk .kita cari angin . Gue ingin makan di luar."


Andra menoleh. Dia melihat Fian yang sedikit gelisah.


"Ayoklah.. gue ambil jaket dulu."


"Iya bang, Gue tunggu di depan ya."


Fian mengambil kunci motor dan menyambar jaket yang tergantung di sandaran kursi. Dia berjalan keluar. Saat menuruni tangga dia melihat mama yang sedang mematikan lampu depan dan ruang tengah. Fian berhenti. Dia ragu mau melangkah. Namun mama sudah terlanjur melihatnya. Bukan dia ingin menghindari mama. Tapi ada rasa nyeri saat dia ingat perkataan mama semalam. Tapi Fian berpikir untuk tidak memikirkan hal itu.


"Mau kemana malam-malam."


"Mau keluar sebentar ma."


"Ini sudah malam. Dan sepertinya sedikit mendung. Jangan cari penyakit."


"Sebentar saja ma..hanya pengen yang hangat-hangat."


"Jangan keluyuran malam-malam."


Andra yang berjalan di belakang Fian. Hanya menghela nafas. Dia heran kenapa kalau sama Fian mama selalu bersikap keras.


"Mama.. Fian perginya sama Andra kok. Fian mau mengantar Andra sebentar. Andra ingin minum wedang ronde.Ga apa-apa kan ma."


Mama memandang Andra dan Fian bergantian. Lalu menganggukkan kepala.


"Jangan pulang terlalu malam. Dan jangan lama-lama. Takut nanti hujan."


Ucap mama akhirnya. Andra dan Fian mencium tangan mama untuk berpamitan.


"Pergi dulu ya.. Tenang aja kita cuma sebentar kok."


Mama mengangguk. Dia menghela nafas. Entah apa yang mama pikirkan.


Fian dan Andra berjalan beriringan menuju garasi. Mereka menggunakan motor masing-masing. Lama mereka tidak pergi berdua seperti ini. Fian ingin menghabiskan waktunya sebentar bersama Andra. Ada rencana besar dalam otaknya. Dia hanya ingin menikmati waktunya yang tersisa sebentar. Harus dia manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Semoga tidak ada yang menyadari apa yang akan dia lakukan.


Apa sebenarnya yang ada di otak Fian. Sebenarnya Fian merencanakan apa. Semoga bukan hal tidak baik dan semoga itu tidak membahayakan siapa pun juga.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like dan komen


terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2