
Sedikit Drama
Arin mendengar suara yang sedikit ramai. Dia tidak berani membuka mata. Ternyata Arin sudah bangun . Namun dia sengaja pura-pura masih tidur. Dia sengaja ingin membuat kejutan. Arin mendengar ucapan yang tak asing.
"Arin sudah baik-baik saja.Luka di perut sudan mulai mengering. Kalau keadaannya seperti ini terus. Mungkin besok dia sudah boleh pulang."
Itu suara pasti dokter. Arin bersyukur bisa pulang besok. Namun perasaannya menjadi takut. Arin merasa takut kembali ke dalam dunia nyata. Dia belum mempunyai keberanian untuk menatap dunia. Sanggupkah Arin menerima cemoohan serta gunjingan para tetangga yang selalu ingin tau urusan orang. Sanggupkah dia berjalan tegak seperti kemarin. Bisakah dia menatap masa depan yang diimpikan. Arin masih merasa rendah diri. Dalam tidurnya semua kejadian yang dia alami seperti terulang kembali. Semuanya seperti rekaman yang diputar ulang. Arin menjadi tegang. Tubuhnya sedikit gemetar. Namun tidak dak ada yang menyadari itu. Semua orang terfokus pada ucapan dokter.
Setelah dokter Rizal pergi, Arin merasa semua kembali fokus padanya. Arin merasa semua orang memandangnya. Jantungnya berdebar semakin cepat. Sebenarnya dia tidak ingin bangun.Tapi dia merasa lapar dan haus. Dan itu tidak bisa di tahan. Masa orang tidur perutnya berbunyi karena lapar. Akan terasa sangat memalukan bukan?
Akhirnya dengan menumpuk keberanian Arin membuka mata.
"Haus...haus .. minum.. minum"
Tentu semua orang kembali terfokus padanya. Arin kembali merasa tegang. Dia harus kuat. Arin harus berani. Tapi begitu pandangannya menatap Bara. Ada suatu rasa yang tidak bisa diungkapkan. Rasa sedih dan bahagia muncul begitu saja. Saat mata mereka tak sengaja bertabrakan. Entah mengapa perasaannya menjadi kacau. Tapi Arin tidak tau apa sebabnya. Seperti ada rasa takut dan seperti marasa ada sesuatu yang dia alami bersamanya.
Dan ketika Rama memanggilnya dan ingin memeluknya rasa takut itu kembali menyerang. Suara dan wajah Rama tidak asing. Tapi otaknya seperti terkunci. Dia pandangi satu persatu orang yang ada. Arin sebenarnya merasa dekat dan mengenal mereka. Tapi otaknya tidak bisa berpikir cepat. Semua terasa beku. Otaknya tidak bisa bekerja dengan baik. Atau mungkin karena rasa lapar yang teramat sangat. Dan dia mengabaikan Rama. Dia mengabaikan semua orang yang ada di situ. Dalam otaknya yang penting makan terlebih dulu. Perutnya terasa lapar . Dia harus makan dulu agar bisa berpikir. Dan justru itulah yang keluar dari mulutnya.
"Lapar. Apa boleh saya minta makan?" Semua orang tersenyum. Arin sendiri merasa geli dengan perkataannya. Tapi memang itu adanya. Untuk apa membohongi diri.
"Baiklah makanlah dulu, yang banyak ya, Biar cepat pulih." Kata Bara.
Ketika Arin makan hanya bunda, Rama dan Nia yang di dalam. Arin benar- benar merasa lapar sehingga dia makan dengan lahap. Yang lain memilih keluar ruangan memberi kesempatan pada Arin untuk menikmati makanannya.
Setelah makan pikiran Arin menjadi tenang. Obat juga sudah dia minum. Dia diam sejenak Dia pejamkan mata. Dia berusaha menghubungkan satu persatu memori yang ada di otaknya. Dia ingat ada bunda Rama dan Nia di dalam ruangan. Tapi Arin belum ingin menyapa. Dia hanya pura-pura tertidur untuk mengumpulkan semua ingatannya yang baru saja menghilang dari otaknya. Dia tidak benar-benar lupa. Hanya mungkin otaknya yang butuh asupan terlebih dahulu agar bisa mengingat semua rangkaian kejadian.
"Maafkan Arin bunda, Rama, kak Nia. Arin belum siap bertemu kalian. Tunggu sebentar lagi. Arin harus mempersiapkan diri dan hati dulu. Arin harus bisa bangkit dari semua ini. Arin harus semangat." Arin hanya mampu berbicara dalam hati.
Arin memang masih mempunyai rasa takut. Dia takut jika tidak mampu menghadapi kehidupannya. Kejadian yang menimpanya kemarin membuatnya sedikit merasa trauma. Rasa percaya dirinya mulai hilang.
Saat dia mengingat bahwa selama ini yang menyakitinya justru orang-orang yang menyayanginya. Apakah rasa sayang itu sanggup menyakiti orang yang disayanginya? Apakah rasa sayang itu memaksakan kehendaknya? Apakah rasa sayang itu malah memberikan luka? Arin mulai berpikir bahwa rasa sayang yang mereka katakan itu palsu. Rasa sayang yang mereka ungkapkan hanya kebohongan belaka.
Hati Arin mulai goyah lagi. Rasa takut mulai menyerang pertahanannya lagi. Arin mulai gemeteran. Dia terisak. Arin menangis.
"Hey Nak. Ada apa? Kenapa menangis? Ada yang sakit kah?" Bunda melihatnya. Bunda melihat Arin terisak. Bunda menjadi sangat khawatir.
"Hiks.. hiks.. hiks" Hanya suara tangisan Arin yang terdengar.
"Kakak kenapa? Ada yang menggangu kakakku kah? Sini bilang sama adikmu ini. Rama siap membela kakak." Rama ikut menghibur Arin.
"Hiks.. Hiks.. hiks." Arin masih saja menangis. Dia tidak mau mengatakan yang sebenarnya.
"Bunda panggil Fian ya. Atau mau bicara sama dokter. Biar di periksa mana yang sakit?" Bunda masih membujuk Arin. Bunda merasa bingung Arin hanya menangis dan tak mau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Dan apa yang sebenarnya Arin rasakan.
Rama keluar berencana memanggil Bara dan Bram. Saat membuka pintu bertepatan pintu dibuka dari luar. Masuklah Bara,Bram dan juga Fian.
"Kenapa bunda, ada yang terjadi dengan Arin." Tanya Bram yang masuk lebih dahulu dan melihat Arin menangi.
"Arin kenapa, kok menangis. Mana yang sakit. Sini bilang sama Gue." Fian langsung mendekati ranjang. Dia melihat Arin yang sedang terisak.
"Hiks..Hiks.. hiks. Gue tidak apa-apa." Jawab Arin terbata-bata.
"Tidak apa-apa kok menangis. Ada yang kamu rasakan Arin." Bara juga mendekati Arin.
Arin mulai diam. Dia melihat ke arah Fian, lalu ke arah Bara. Dua orang yang tidak asing dalam hatinya. Namun semuanya belum terlihat apa yang sebenarnya. Hatinya mulai berdebar lebih cepat. Perasaannya menjadi sangat kacau.
"Fian, boleh gue bicara sebentar sama lo?" Arin memandang Fian.
"Tentu boleh. Arin jadi lo tidak lupa sama gue. Alhamdulillah. Ya Allah. Jadi tadi lo pura-pura." Fian merasa sangat senang ternyata Arin tidak benar-benar lupa.
Arin hanya tersenyum. Dia tidak tau harus berkata apa. Dia hanya ingin memastikan suatu hal. Karena di dalam ingatannya Fian adalah teman terbaiknya.
__ADS_1
"Kita bicara berdua atau biar yang lain menyimak."
"Kita bicara berdua saja. Bunda maaf. Semuanya Arin minta maaf. Tadi Arin lapar jadi tidak fokus pada kalian. Hehehe.. " Arin tersenyum kepada bunda dan yang lainnya. Hanya itu alasan yang menurut Arin masuk akal. Dia tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya.
Semua orang hanya tersenyum. Mereka senang Arin tidak benar-benar lupa.
" Ya sudah kami semua keluar dulu ya. Silahkan kalau mau berbincang dengan Fian dahulu." Ucap Bara.Dan semua orang keluar dari ruangan itu.
Kini tinggal Arin dan Fian yang di dalam ruangan. Fian mengambil kursi dan mendekatkan ke sisi ranjang. Dia duduk di kursi itu. Dia memandang Arin, dan Arin terlihat gugup. Tidak biasanya dia gugup seperti saat ini. Arin biasanya sangat percaya diri. Fian tahu terjadi sesuatu pada diri Arin. Semalam semua masih baik-baik saja. Mereka berdua bahkan sudah sangat menikmati perbincangan mereka. Kenapa saat ini keadaan Arin menjadi begini.
Fian mau memegang tangan Arin. Arin langsung menarik tangannya. Tapi Fian sudah sempat menyentuh sedikit dan tangan itu sangat dingin. Ada apa sebenarnya dengan Arin
"Hey, ada apa? Kok diam saja. Katanya mau ngobrol sama gue. Kenapa lo gugup?" Fian masih memandang Arin.
"Tidak Fian, tidak ada apa-apa." Jawab Arin pendek.
"Tadi katanya mau ngobrol. Mau bercerita tentang apa. Atau ada yang lo rasakan. Kenapa tadi menangis? Apa ada yang sakit?"
Arin masih saja terdiam. Dengan sabar Fian menunggu Arin mau mengeluarkan suaranya.
Arin memandang Fian. Dia menghela nafas panjang. Dadanya terasa sesak. Arin bingung harus mulai darimana.
"Fian..."
"Ya.."
"Nanti dulu jangan dipotong. Fian ikh."
"Hahaha...." Fian malah tertawa. "Ini baru Arin nya Fian. Hahaha..." Fian merasa senang karena memang begitulah sikap Arin yang sebenarnya.
"Malah tertawa. Ikh Fian jahat. Gue ga jadi ngomong aja deh." Arin merajuk. Bibir nya mengerucut. Fian semakin gemas
Arin memandang Fian. Inilah Fian, selalu bisa membuat Arin tertawa. Yang selalu bisa menghibur. Selalu bisa mencairkan suasana. Arin tersenyum. Dia menemukan penyemangat nya. Arin menemukan kembali jiwanya yang sempat hilang tadi.
"Fian, teruslah tertawa buat gue. Tadi gue merasa takut melihat lo dan Dokter Bara."
"Eh... kenapa? Apa kami seperti hantu?"
"Hehehe.. entahlah. Gue takut karena diantara lo berdua ada sesuatu seperti kejadian yang tak ingin gue ingat."
"Apa itu?" Fian menjadi penasaran dengan ucapan Arin. Fian merasa ada sesuatu yang pernah terjadi diantara Arin dan Dokter Bara
"Entahlah. Justru itu yang gue tidak tau. Tapi gue takut mencari tahu."
"Ya sudah kalau begitu. Tidak usah lo ingat. Sekarang tenangkan pikiran lo. Ingat jangan mikir yang aneh-aneh. Kalau ada apa-apa langsung lo kasih kabar ke gue. Jangan di pendam sendiri. Ingat itu."
Arin tersenyum. Fian selalu begitu. Dia selalu memberi perhatian berlebih buat Arin. Tentu saja Arin merasa beruntung mempunyai sahabat sebaik Fian. Ya hanya sekedar sahabat tidak boleh. Sudah sejak satu tahun yang lalu dia simpan rapat rasa buat Fian. Bukan dia tidak sayang sama Fian tapi karena ada sesuatu hal yang akan menjadi penghalang hubungan mereka. Dan Arin tidak pernah bercerita kepada siapapun.
"Iya Fian. Lo masih sahabat buat gue. Lo teman terbaik gue. Kemarin, besok, lusa dan seterusnya."
Gantian Fian yang terdiam. Jadi dia tetap hanya sebatas sahabat. Sampai kapanpun. Di mata Arin, dia hanya sahabat. Fian tersenyum. Dia tetap bersyukur. Apapun statusnya dia akan bisa terus bersama Arin.
" Cuma sekedar sahabat ya. Tak apalah. Gue sudah bahagia. Hehehe.." Fian tertawa sumbang. Ada nyeri di dadanya. Sakit tapi tidak berdarah.
Arin terdiam. Dia tidak berani memandang Fian. Dia merasakan sakit mendengar jawaban Fian. Sampai kapanpun statusnya akan tetap menjadi sahabat. Tidak lebih. Dan akan seterusnya. Arin teringat kejadian dua tahun lalu.
flashback on
Dua tahun lalu
Sore itu Arin sedang berjalan sendirian. Dia mau ke super market membeli pembalut. Sengaja Arin berjalan kaki. Menikmati sore yang cerah sambil cuci mata. Jarak rumah ke supermarket memang tidak jauh. Sekitar satu kilometer. Arin sudah terbiasa berjalan kaki. Jadi tidak merasa capek sedikit pun.
__ADS_1
Arin sedang asyik berjalan sambil bersenandung, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil. Arin bingung. Dia merasa sudah berjalan di jalur yang benar. Tapi mengapa mobil itu masih saja membunyikan klakson. Arin terus saja berjalan. Dia tidak pedulikan lagi suara klakson mobil tersebut.
"Hey... berhenti! Berhenti anak pembantu!"
Arin merasa tidak asing dengan suara itu. Tapi dia tidak menoleh. Dia abaikan saja.Arin merasa punya nama. Enak saja manggil orang sesuka hati. Tiba-tiba mobil tersebut berhenti di depan Arin. Pintu terbuka. Arin sudah menduga siapa yang ada di mobil tersebut.
"Arin."
"Iya tante. Gitu dong kalau manggil orang itu namanya. Kan saya punya nama tante." Dengan santai Arin menjawab panggilan itu.
"Dasar anak pembantu.."
"Tante kenapa si, benci banget sama pembantu. Padahal kalau tidak ada pembantu tante kerepotan lho." jawab Arin lagi. Sebenarnya hatinya sangat marah. Tapi dia tahan. Ayah sama bunda sudah berpesan untuk tidak melawan ucapan orang yang lebih tua.
"Kalau orang tua ngomong itu di dengerin. Dasar anak tak tau sopan santun." Mama fian masih saja mengumpat Arin. Untung Arin sudah terbiasa. Dia sudah kebal dengan makian dari mama Fian.
"Iya tante. Arin permisi dulu . Tante tidak ada keperluan penting kan?" Dengan sabar Arin menjawab pertanyaan Mama Fian. Setelah itu Arin berjalan menjauh.
"Tunggu dulu. Belum selesai ngomong ini. Main kabur aja."
Arin berhenti. Sebenarnya dia tidak ingin meladeni mama Fian. Tapi kalau tidak diladeni ngomongnya semakin menyakitkan hati dan telinga.
"Sekarang mau Tante apa?"
"Kamu harus menjauhi Fian dan Andra. Saya tidak mau kedua anak saya tertular pergaulan kamu yang tidak benar. Kalau tidak nanti mereka berdua akan saya coret dari KK dan tidak akan saya akui sebagai anak."
Arin terdiam. Sudah berulang kali Tante Maria mengancam seperti ini, tapi Arin abaikan. Karena Arin pikir pertemanan dia dengan Fian dan Andra murni pertemanan biasa. Tidak ada apa-apanya. Lagian mana tega orang tua bisa melepaskan anak-anak mereka begitu mudahnya. Tapi apapun itu dia tidak akan tega jika itu sampai terjadi pada Fian dan Andra.
Tiba-tiba Tante Maria melempar uang ke muka Arin. Arin terkejut. Tapi dia diam saja.
"Jauhi Fian dan Andra, ingat. Uang ituu buat bayar rumah sakit ayah kamu waktu itu. Saya tau kamu berhutang kan waktu itu. Dua puluh juta. Pas kan dengan jumlah hutang kamu."
Arin terdiam. Bagaimana mungkin ada yang tau tentang utang dia dengan Bara. Isi surat itu tidak ada yang tahu. Tentang hutang dia ke Bara tidak ada yang tahu. Bagaimana Tante Maria bisa tahu. Arin mengambil amplop yang berisi uang tadi. Dia berjalan ke arah tante Maria.
"Maaf tante, saya tidak butuh uang ini. Saya bisa mencari dengan tangan sendiri semua uang itu. Jadi silahkan ambil kembali."
Arin menyerahkan amplop tadi ke tangan Tante Maria. Lalu dia melangkah pergi.
"Oh iya Tan.Tenang saja saya akan menjauhi Fian dan Andra tanpa tante minta. Tapi saya tidak menjamin Fian dan Andra yang mendekati saya. Itu bukan salah saya. Saya pasti akan menjauh. Tapi kalau mereka yang mendekati bukan tanggung jawab saya lagi."
"Dasar bocah tidak tau diri. Tidak tau sopan santun. Lihat saja nanti. Sampai kamu mendekati Fian dan Andra , Kamu akan tau sendiri akibatnya." Tante Maria masih saja mengomel. Tidak henti-hentinya dia mengumpat Arin dan keluarganya.
Arin melangkah menjauh. Selama ini dia tidak pernah mendekati Fian dan Andra. Merekalah yang datang dan mendekati Arin. Tapi sejak itu Arin berjanji akan menjauhi mereka berdua.
Flashback off
"Arin..Arin. Malah melamun. Ada apa?" Fian memukul pelan tangan Arin. Dari tadi Arin hanya diam saja. Dipanggil tidak menyahut sama sekali.
"Eh Fian . Ada apa?"
"Kok ada apa. Lo itu ditanya dari tadi tidak menjawab. Lagi mikirin apa?"
Arin hanya tersenyum. Sudah sejak dua tahun lalu dia mulai menghindari Fian. Tapi Fian yang selalu mendekat. Mungkin ini saatnya dia jujur sama Fian. Dia harus berterus terang tentang isi hatinya. Dia harus menjelaskan semuanya.
Apa kira-kira yang akan dikatakan Arin pada Fian . Dan apa yang akan di katakan Arin pada Bara.
Bersambung..
Jangan lupa tinggalkan like dan komen.
Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1