
"Mama sama papa lama sekali. Fian.. Fian. Bangun dong. Tidur terus."
Fian diam saja. Sebenarnya dia tidak tidur. Hari ini dia malas mau bangun. Walaupun sebenarnya keadaannya sudah membaik.
Suhu tubuhnya sudah turun. Namun dia masih malas makan. Tadi pagi hanya makan bubur beberapa suap. Itupun karena dipaksa.Dia harus minum obat, dan harus ada nasi yang masuk perut terlebih dahulu.
Suasana hatinya yang belum membaik. Rasa kecewa masih bercokol di hatinya. Dia masih belum sepenuhnya bisa menerima kenyataan ini. Fakta yang terasa begitu menyakitkan.
Bagaimana dia nanti bertemu Arin. Bagaimana dia akan bersikap. Dia merasa orang tuanya begitu serakah. Tidak mengapa dia ditolak Arin. Paling tidak dia bisa tetap berteman. Namun saat mengetahui fakta yang sebenarnya. Orang tuanya yang begitu jahat, Fian merasa kepercayaan dirinya runtuh. Dia sudah tidak punya keberanian lagi menatap Arin.
Jangankan menatap, Bertemu pun dia sudah tidak punya keberanian. Dia benar-benar ingin tenggelam saja. Fian merasa sangat malu dan tidak berharga lagi.
"Fian... Fian. Budeg Lo ya. Bangun dong."
"Apa .. males gue . Gue mau tidur. Keluar Sono. Ganggu aja."
Fian terkejut mendengar suara Andra. Dia lagi melamun dan tiba-tiba dikejutkan oleh teriakan Andra.
"Fiiaaaaan... Gue khawatir sama mama sama papa. Bagaimana nasib mereka. Lama sekali belum pulang. Sudah sore ini."
"Hem.."
"Fiiiaan.."
"Apa sih bang. Kan bisa ditelpon. Sana coba dulu."
"Eh iya. Bodoh gue."
"Baru sadar Lo bang"
"Pea Lo.."
"Hahahaha..."
Mereka akhirnya tertawa bersama. Fian selalu bisa luluh kalau berhadapan dengan Andra. Kakak satu-satunya yang selalu bisa mengerti keadaan dirinya.
Andra mencoba menghubungi nomer telepon sang mama. Tersambung namun tidak dijawab.
"Tidak dijawab."
"Tapi nyambung kan."
"Iya sih."
"Tunggu sebentar lagi mungkin mereka sedang di jalan."
"Eh.. Iya juga. Fian menurut Lo orang tua Arin memaafkan kesalahan Papa sama mama ga ya."
Andra terlihat berpikir. Dia sebenarnya khawatir juga. Bagaimana nasib kedua orang tuanya.
"Semoga tidak."
"Fiaaaan.. Lo sama orang tua sendiri jahat banget."
"Bukan jahat bang. Sekarang Abang pikir deh. Itu kesalahan papa dan mama besar sekali. Gue cuma berharap mama dan papa benar-benar berubah."
"Iya juga ding. Harapan gue juga sama Fian. Sudah saatnya mama dan papa memperbaiki diri."
"Kita tahu bang, bagaimana sifat kedua orang tua Arin. Tidak mungkin kalau mereka tidak memaafkan papa sama mama. Mereka orang-orang yang terbaik yang gue kenal selama ini. Gue merasa malu sama mereka."
Kali ini Andra yang diam. Dia membenarkan semua ucapan Fian. Selama in, selama dia kenal keluarga Arin, tidak sedikitpun dia mendapatkan perlakuan buruk. Walaupun kedua orang tua mereka telah mencaci, telah menghina yang sangat menyakitkan. Tak sedikitpun keluarga Arin membalas perlakuan mereka dengan buruk pula.
"Bang.."
"Hm.."
"Bang..."
"Hm.."
"Bang Andra kenapa. Sono jauh-jauh. Malah ikut tidur disini."
",Hm.."
"Gue lapar. Gue pengen makan jambu di halaman rumah Arin lagi. Kapan ya..?"
Mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing. Pikiran mereka jauh berkelana entah kemana. Bahkan mereka tak menyadari suara bel rumah yang dipencet orang. Bahkan mereka tidak mendengar suara salam dari tamu yang ingin berkunjung.
Untung ada ART yang membukakan pintu dan mempersilahkan masuk. Atas ijin sang tuan rumah tamu tersebut langsung masuk ke kamar Fian.
Bahkan salah satu tamu ikut rebahan di samping mereka, sama sekali Fian dan Andra tak menyadarinya. Bahkan sang tamu bisa mendengar gumaman mereka berdua.
"Ooooh pengen rujak ya. Ada jambunya, bahkan berbuah sangat lebat. Bagaimana kalau sekarang aja. Mumpung hari sangat cerah. Mangga depan rumah juga berbuah."
"Bang, kok seperti ada suara Arin ya. Apa mimpi kita terlalu jauh ya."
"Eh iya juga.."
"Apa Arin kemari. Tapi tidak mungkin."
"Hilih kalian ini memang minta di guyur"
Byuurrrrr
Andra dan Fian langsung bangun dari tidurnya. Mereka terkejut. Karena tiba-tiba ada air yang mengenai wajah mereka. Mereka melihat Arin memegang gayung sambil tertawa.
"Ariiinnnn....."
Andra dan Fian berteriak sekerasnya.
"Hahahaha... Siang-siang mimpi rujakan. Ngidam kalian ya. Hahahaha."
"Lhoo.. kok bisa Lo ada disini. Bukannya mama dan papa ke rumah Lo. Kok bisa Lo masuk."
Fian terlihat bingung. Andra juga. Akhirnya mereka berdua hanya diam menatap Arin.
"Katanya sakit. Mana yang sakit. Uluh.. uluh..."
Fian masih diam. Andra juga. Mereka merasa seperti mimpi. Ada Arin di rumah mereka. Tidak hanya Arin Bara juga ada di sana.
"Kenapa bengong. Heran ya gue bisa masuk rumah Lo. Kalian sadar ga . Kalau sebenarnya rumah ini milik gue. Jadi bebas dong gue masuk kemari."
Fian hanya diam memandang Arin dengan perasaan tak menentu. Apa semua harta orang tuanya akan kembali kepada pemiliknya. Tapi tidak apa itu adalah hukuman buat kedua orang tuanya yang serakah.
__ADS_1
"Hahahaha.. Kalian seperti sapi ompong."
Fian hanya nyengir. Begitu juga dengan Andra. Sedangkan Bara hanya tersenyum melihat sikap Arin.
"Iya gue tahu kok. Papa sudah mengambil harta milik Ayah."
Fian berkata dengan suara yang sedih. Bukan sedih karena hartanya akan hilang. Namun karena kesalahan orang tuanya.
"Maafkan papa sama mama ya Rin."
Arin mendekati Fian . Dia duduk disebelah Fian. Tangannya bergelayut manja di lengan Fian.
"Fian ,bang Andra kita ini saudara. Arin sudah memaafkan Om Tejo sama Tante Maria sebelum kalian memintanya. Sebenarnya gue udah tau lama tentang hal ini. Makanya kemarin gue nolak Lo."
Fian memandang Arin. Dia sangat senang diperlakukan Arin demikian. Arin yang selalu manja padanya sejak dulu.
"Jahat Lo. kenapa ga kasih tau."
Fian memukul pelan kepala Arin. Kemudian dia acak-acak juga rambut panjang sebahu milik Arin.
"Ikh.. pea. Berantakan ini. Ga cantik lagi kan."
Arin mencubit Fian dengan keras. Kemudian dia bangun dan mendekati Bara.
"Arin... sakit. Jahat banget sih Lo sama gue."
"Aa.. Hiks.. hiks. Lihat itu. Fian jahat sama Arin."
"Lebay Lo .."
Fian memandang Arin yang juga manja pada Bara. Ada perasaan yang tidak nyaman dihatinya.
"Kamu juga sih yang usil."
"Ikh Aa.. Malah bela kampret itu."
"Keluarin semua julukan gue. Heh.." Fian terlihat mendengus.
"Hahahaha.. kampret.. buluk .. apalagi ya lupa gue.."
Andra dan Bara cuma tersenyum melihat Fian dan Arin. Setiap bertemu mereka pasti akan beradu argumen. Ada saja yang mereka ributkan. Tapi membuat suasana menjadi meriah.
"Arin sudahlah. Kamu sudah berkeringat karena banyak tertawa. Duduk sini. Dokter Bara silahkan duduk."
Andra menengahi pertikaian itu. Bajunya basah. Dan hatinya juga basah. Dia bahagia semua kembali seperti semula. Sudah hampir enam bulan ini dunianya sepi. Sejak Fian pergi ke Surabaya tidak ada tawa di rumah ini. Tidak ada lagi anak-anak berkumpul seperti dahulu.
"Apa tidak sebaiknya kita berbincang di ruang bawah saja. Tidak enak berbincang-bincang di kamar seperti ini."
"Kayaknya usul yang bagus. Ayo kita ke taman belakang saja. Mungkin disana lebih nyaman. Ayo Fian, Arin, pak dokter."
"Nanti gue nyusul bang, Baju gue basah. Mau ganti baju dulu."
"Beneran ya..Kita tunggu di bawah."
"Iya... iya.."
Mereka bertiga meninggalkan kamar Fian. Mereka menuju taman di halaman belakang. Di pinggir kolam renang ada sebuah taman yang ditanami bermacam bunga yang indah.
Dua tahun yang lalu Arin pernah datang ke taman tersebut. Saat itu Fian mengajaknya ke rumah untuk mengambil bukunya yang dipinjam Fian.
Taman itu masih sama. Cuma tanamannya bertambah. Masih cantik dan indah seperti dulu.
Arin mendekati bunga mawar hitam yang sedang mekar. Dia cium sedikit bunga itu. Dia tidak berani untuk memegangnya. Walaupun Maria sudah baik namun dia tetap tidak ingin merusak bunga tersebut.
"Eh, Rin itu siapa?"
Andra heran melihat ada gadis yang tengah duduk di tepi kolam renang. Arin melihat ke arah yang ditunjukkan Andra.
"Oh itu Ran. Gue juga baru bertemu tadi."
Arin berjalan mendekati Ran. Kemudian menepuk pundak Ran dengan lembut.
"Ran kenalin ini sepupu gue. Bang Andra namanya."
Ran menoleh dan kemudian mengangguk ke arah Andra sambil menangkupkan kedua tangan. Andra balas mengangguk.
"Ran, duduk di sana yuk. Di gazebo. Eh Lo udah disini dari tadi ya. Gue ga lihat Lo ikut masuk ke kamar Fian."
"Ga kok Rin. Gue turun ga lama sebelum Lo turun."
"Tadi Lo dimana. Gue ga lihat Lo dari tadi."
"Gue duduk di ruang tamu. Tidak enak gue baru berkunjung udah ikut ke kamar aja."
"Oh ..."
Arin dan Ran berjalan beriringan menuju gazebo. Di sana telah duduk Andra dan Bara. Di meja sudah tersaji minuman dingin dan cemilan.
"Fian belum turun bang."
"Belum. Tau tuh ngapain dulu. Mandi dulu mungkin dari pagi kan dia belum mandi."
"Wah bentar lagi pasti hujan. Kan biasanya begitu kalau Fian mandi pasti hujan. Hahaha.."
"Bisa aja Lo Rin. Hahahaha.."
Andra ikut tertawa. Sedangkan Bara dan Ran hanya tersenyum. Gurauan mereka selalu bikin tawa.
"Enak aja kalau ngomong."
"Aduh... Sakit tauuu.."
Tiba-tiba Fian sudah ada di belakang Arin. Dia geplak kepala Arin pelan. Namun dasar Arin selalu bikin heboh. Teriakannya seperti dipukul palu.
"Lebay Lo.."
Fian melihat sosok baru disana. Dia seperti mengenalinya. Namun dia lupa. Fian mencoba untuk mengingat-ingat.
"Lo si gadis bisul kan."
Ram terkejut. Dia sedang melihat sekuntum bunga lili yang sedang mekar.
"Eh.. Lo."
__ADS_1
"Lo kenal dia Fian."
"Kenal sih tidak. Cuma pernah bertemu dulu di rumah sakit. Dia..."
Ran buru-buru mendekati Fian. Dia tutup mulut Fian dengan tangannya.
"Hmpppppp...le...paaass.."
Ran masih menutup mulut Fian. Dia malu kalau Fian sampai bercerita keadaannya saat bertemu dahulu.
"Lee..paaas.."
"Janji jangan cerita."
Ran berbisik. Namun tangannya belum lepas dari mulut Fian.
"Ada apa sebenarnya. Ran... Fian. Kalian berdua kenapa?"
"Tidak apa-apa kok."
Ran menjawab dengan pelan. Dia merasa takut dan malu jika nanti Fian bercerita tentang dia.
Fian berontak. Tangannya dia gunakan untuk menarik tangan Ran yang menutupi mulutnya. Akhirnya tangan Ran terlepas juga.
"Heeh.. Lo ya. Salah gue apa coba."
"Memangnya ada apa Fian."
Fian duduk di bangku sebelah Arin. Sedangkan Ran masih berdiri memandangi Fian. Fian tertawa keras.
"Gue bertemu dia di rumah sakit saat dia sakit bisul. Hahahaha..."
"Fiaann..."
Ran terlihat malu dia menundukkan kepala.
"Oh cuma itu. Kenapa Ran. Lo malu karena sakit bisul. Tidak perlu malu. Bahkan Fian sering juga bisulan. Hahahaha..."
"Hahahaha...ya benar Ran. Tidak usah malu. Fian lebih parah." Ucap Andra menambahkan.
"Hilih kalian berdua.."
"Tidak usah malu Ran. Itu kan penyakit biasa. Tidak ada seorangpun yang mau sakit Ran."
Bara ikut menghibur Ran yang masih terlihat malu-malu.
"Apa kabar Ran. Lo hilang begitu saja kemarin. Gue mencari Lo di rumah sakit. Tapi tidak ketemu juga."
"Gue pulang setelah dari apotik. Terima kasih ya telah membantu gue."
"Cie.. cie... cie."
"Apa Lo cie.. cie."
Fian melotot ke arah Arin. Tak lupa tangannya memukul pelan kepala Arin
"Suka banget sih pukul kepala. Sakit tau.."
"Sudah.. sudah.. kalian berdua kalau bertemu berantem terus. Jangan-jangan .... Jangan-jangan Jodoh. Hahahaha."
"Dihh apaan dah bang."
Semua orang terdiam mendengar perkataan Andra. Karena itu tidak mungkin. Mereka bersaudara.
"Kok diam." Andra menatap satu persatu wajah orang yang ada di sana.
"Aa pulang yuk. Fian udah sehat kok. Jadi percuma di jenguk." Arin berdiri hendak melangkah pergi.
"Tunggu sebentar Rin. Gue mau ngomong sesuatu." Fian meraih tangan Arin. Mencoba menghentikan langkahnya.
"Eh mau kemana. Sekali-kali main dulu di sini." Andra juga mencoba menghentikan langkah Arin. Karena memang jarang sekali Arin menginjakkan kaki di rumahnya. Tapi memang tidak mungkin Arin berani berkunjung, jika perlakuan orang tuanya sangat tidak bersahabat.
Arin menoleh menatap Fian dan Andra bergantian.
"Besok lagi gue kesini. Kita kan saudara. Pasti gue akan sering berkunjung." Arin meneruskan langkahnya.
"Tunggu sebentar Rin..."
Fian memegang tangan Arin dengan erat. Kemudian dia menariknya sehingga tubuh Arin terjatuh dipelukan Fian.
Arin terkejut. Namun dia diam saja. Semua mata memandang keduanya.
"Sebentar saja. Gue pengen peluk Lo untuk terakhir kali antara laki-laki dan perempuan."
Fian mendekap tubuh Arin dengan erat. Dia merasa ini terakhir kali dia bisa memeluk Arin sebagai orang yang dia sayangi. Karena setelahnya mereka akan menjadi saudara.
"Kenapa lo, kan kita masih bisa berjumpa. Kita masih bisa bersama." Arin menepuk-nepuk punggung Fian pelan. Ada haru terasa dihatinya. Dadanya terasa sesak. Ya Fian benar. Arin harus kembali menata hatinya. Setelah tahu kenyataan yang sebenarnya bahwa mereka tidak bisa menjadi sepasang kekasih.
Andra dan Bara menunduk. Mereka berdua ikut hanyut dalam suasana. Mata mereka sedikit berair. Namun segera mereka usap.
"Sudah Fian.. sudah. Ini takdir kita. Seandainya kita bukan saudara pun kita juga tak mungkin bersatu."
Lirih suara Arin. Dia sedikit terisak. Karena memang apapun kenyataannya, mereka tidak mungkin bisa bersatu, pun jika mereka bukan saudara. Karena Arin tidak mungkin hidup serumah dengan orang yang begitu teramat sangat membencinya.
"Sudah Fian.. gue pulang dulu."
Arin melepaskan pelukan Fian. Kemudian dia berlari ke luar rumah. Di ruang depan,Arin berhenti sebentar. Dia tidak mau ada orang yang melihat keadaannya saat ini. Dia hapus airmatanya. Kemudian Arin kembali melangkah cepat untuk kembali pulang ke rumahnya.
Bara dan Ran bergegas menyusul Arin. Namun baru sampai pintu depan tiba-tiba terdengar suara teriakan yang sangat kencang dan suara rem yang berdenyit.
"Aaakhhhh.."
Bruuukkk...
Bara tertegun sebentar kemudian dia lanjutkan berlari ke depan. Setelah sampai pintu gerbang rumah Fian. Dia terkejut. Dia berteriak kencang.
"Ariiiiinnnnn......"
Andra dan Fian sangat terkejut dan segera berlari ke depan rumah.
Apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa Bara berteriak memanggil Arin. Apa yang terjadi dengan Arin.
Bersambung...
__ADS_1