
Apa yang terjadi
Sudah dua jam Fian tertidur. Tidur Fian terlihat gelisah. Berkali-kali ganti posisi. Seperti ada sesuatu yang menggangu pikirannya.Suhu tubuhnya belum turun juga. Saat Andra masuk kamar satu jam lalu, Andra meraba kening Fian. Ternyata masih sangat panas. Dan sekarang masih panas juga. Andra terus memantau keadaan Fian. Tapi kali ini Andra mulai panik.Dia berlari ke arah kamar orang tuanya.
"Ma.. Mama.. mama.."
"Iya, kenapa Ndra?"
"Tubuh Fian Ma. Masih sangat panas. Ini sudah dua jam."
"Benarkah?"
Mama berlari ke kamar Fian, Andra dan papa menyusul dibelakang nya. Mereka sangat khawatir. Mama meraba kening Fian.
"Benar, ini terasa sangat panas. Udah kamu cek suhu tubuhnya belum?"
"Sudah ma, tiga sembilan suhunya."
"Pa, siapkan mobil. Ayo kita bawa Fian ke rumah sakit. Mama tidak mau terjadi apa-apa sama Fian."
Mama mulai panik. Dia memeluk tubuh Fian.
"Maafkan Mama sayang, Mama tidak bermaksud untuk menyiksamu. Mama hanya ingin memberi sedikit pelajaran buat kamu."
"Maksudnya mama apa? Pelajaran apa? Mama bilang ke Andra, Ma. Memang apa yang mama lakukan ke Fian "
Mama terdiam. Mama keceplosan. Dia salah bicara. Hampir saja semua terbongkar.
"Ayo Andra. Kita angkat Fian."
"Fian belum pakai baju,Ma. Biar Andra pakaikan baju dulu."
"Iya Ndra."
Mama mengambil baju di lemari Fian. Dan Andra yang memakaikannya.
"Sakit kepala gue bang." ucap Fian. Dia memegangi kepalanya.
"Tahan sebentar, pakai baju dulu. Kita ke rumah sakit."
Dengan sigap Andra memakaikan baju pada Fian. Dan kemudian memapah tubuh Fian keluar kamar menuju mobil yang sudah disiapkan papa.
"Ayo Pa, cepat. Ini suhu badannya tinggi banget. Tubuhnya panas sekali."
Ucap mama dengan sangat khawatir. Seharusnya tadi saat Andra bilang,dia langsung membawa Fian ke rumah sakit. Kali ini perkiraan mama salah. Memang benar dulu Fian mempunyai daya tahan tubuh yang kuat. Mungkin saat ini kondisinya sedang down.
Papa mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Walaupun keadaan darurat, kita tetap harus bersikap bijaksana. Jangan karena terburu-buru malah membahayakan nyawa orang lain.
Sesampainya di rumah sakit, dengan sigap Andra memapah Fian dibantu papa. Sedangkan Mama menuju lobi pendaftaran. Semua bergerak cepat agar Fian bisa langsung di tangani.
Fian di bawa ke IGD. Syukurlah Fian bisa cepat mendapatkan pertolongan.
"Andra, Mama takut. Mama teledor kali ini."
"Sudah ma, Fian sudah dalam penanganan dokter. Mama tidak usah khawatir."
"Iya Ndra. Semua gara-gara mama. Mama yang salah."
"Tidak ada yang salah. Mungkin ini sudah kehendak Allah kalau Fian harus sakit. Mama yang sabar. Jangan menyalahkan diri sendiri."
Mama terisak. Mama merasa sangat bersalah. Seharusnya tadi Fian langsung di bawa ke rumah sakit. Jadi langsung dapat ditangani oleh dokter.
"Maafkan Mama, Fian."
"Fian sudah dalam penangangan dokter Ma, jangan khawatir lagi."
Setelah Tiga puluh menit dokter keluarga dari ruang pemeriksaan.
"Keluarga pasien bernama Fian."
"Iya dokter, saya mamanya."
Mama langsung bangkit dari duduknya. Papa dan Andra juga.
"Bagaimana keadaan anak saya Dokter." Mama sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan Fian.
"Pasien sudah keluar dari masa kritisnya. Dia tidak apa-apa. Cuma demam. Sudah kami kasih obat penurun panas. Tinggal menunggu hasil laboratorium. Semoga tidak ada penyakit yang berbahaya."
"Syukurlah Alhamdulillah."
"Kami boleh masuk dok,"
"Silahkan. Tapi jangan berisik.Biar pasien bisa istirahat. Pasien akan dipindahkan ke ruangan perawatan."
"Baik dokter"
"Kami permisi dulu. Mari bapak, Ibu."
Mama, papa dan Andra mengangguk
Sang dokter dan asistennya meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Fian dipindahkan ke ruang perawatan. Pak Sutejo memilih kamar yang terbaik buat Fian. Papa sebenarnya sangat menyayangi Fian. Namun tidak pernah dia perlihatkan secara nyata. Mereka bertiga mengikuti kemana para suster mendorong brankar Fian. Setelah para petugas pergi, barulah mereka masuk ke ruangan.
Mama langsung masuk lebih dahulu. Diikuti Andra dan Papa. Terlihat Fian tergeletak tak berdaya dengan selang infus di tangan nya.
"Sayang, maafkan mama. Mama pikir kamu hanya demam biasa dan akan segera turun panasnya. Jangan sakit sayang."
"Biarkan Fian istirahat ma." Ucap papa. Papa melihat Fian sebentar. "Istirahat Fian, biar cepet sehat." Ucap papa singkat. Papa mengelus lengan Fian sebentar, kemudian berjalan menuju sofa yang telah disediakan. Dan duduk disana.
Andra sudah merasa tenang karena Fian sudah berada di rumah sakit. Sudah pasti akan mendapatkan perawatan yang semestinya.
Mama duduk di samping ranjang Fian. Dia memandang Fian dengan pandangan sedih. Tentu saja karena sebenarnya mama juga sangat menyayangi Fian.
"Nak, jangan lama-lama ya sakitnya. Setelah sembuh kita liburan. Mama sayang sama kamu. Maafkan sikap mama kemarin ya."
Maria memegang tangan Fian erat. Dia tidak ingin seperti ini. Seandainya dia lebih peka tadi pasti Fian tidak perlu di rawat. Fian hanya diam saja. Dia tidak tidur hanya memejamkan mata.
"Sudahlah ma, Fian hanya perlu istirahat."
Ucap Andra lembut sambil mengusap bahu sang Mama. Dia tahu kalau mama pasti menyayangi Fian. Andra juga merasa perlakuan mama ke dia sama ke Fian memang beda. Mungkin karena Fian lebih kuat fisiknya di banding Andra. Dari kecil Andra memang sudah sakit-sakitan. Tidak seperti Fian yang memang jarang sakit.
Andra memandang sekeliling ruangan. Dia seperti mengingat sesuatu. Kamar ini seperti kamar tempat Arin di rawat. Mungkin hanya kebetulan kamar ini yang kosong. Andra berjalan keluar untuk memastikan nomer ruangan ini. Dan ternyata benar. Dia tersenyum. Fian pasti senang bisa menempati kamar bekas Arin.
"Ada apa bang?"
"Tidak ma, cuma melihat sebentar di luar ada apa."
"Hm, syukurlah kalau tidak ada apa-apa." Mama bangun dari duduknya dan mendekati papa dan duduk di sampingnya.
Andra mendekati Fian dan berbisik. Dia tahu Fian tidak tidur.
"Ini kamar bekas Arin. Seneng dong bisa tidur di kasur bekas Arin." Ucap Andra pelan berbisik di telinga Fian.
Fian membuka mata. Dia tersenyum.
"Abang ada-ada saja. Biasa aja bang."
"Jangan bohong. Senyum lo ga bisa membohongi gue."
"Iya deh iya. Gue bahagia. Tapi gue sakit bang. Gue ga mau begini."
"Ini salah lo sendiri. Kenapa harus mandi berlama-lama segala."
"Di bilang tadi gue tidak sadar. Mungkin gue sudah masuk angin dan mandi jadinya begini."
"Sudah tau ga enak badan, malah mandi."
"Kan mau pergi, Masa iya tidak mandi."
"Ya sudah lo istirahat. Tidur sono."
"Mama bilang apa sama abang soal rencana nanti perjalanan kita."
"Mama ga bilang apa-apa. Cuma bilang siapkan baju buat satu minggu. Sama lo bilang apa?"
"Sama bang. Disuruh siapkan baju dan bersiap untuk meninggalkan kota ini."
"Eh, kok begitu. Ada apa ya?"
"Entahlah. Itu papa sama mama lagi ngomongin apa mereka bisik-bisik."
"Ga tau. Ga Terdengar jelas. Lo istirahat sono. Gue lapar dari tadi siang belum makan gara-gara ngurus lo."
"Gue nitip cimol sama tahu bulet ya bang."
"Lo lagi sakit. Jangan makan sembarangan."
"Boleh kali. Kan ga pedes."
"Iya deh. Gue keluar dulu."
Andra bangun dari duduknya. Dia merasa lapar. Tadi makan pagi saja. Belum sempat makan siang. Karena sibuk mengurus Fian. Sekarang sudah jam lima sore. Dia ingin mengisi perutnya yang mulai berbunyi minta diisi.
"Pa, Ma. Andra mau keluar dulu. Andra lapar. Mau mencari makanan. Mama Mau nitip ga?"
"Ga usah bang, nanti biar papa dan mama beli sendiri. Kita gantian aja keluarnya.
"Ya udah abang pergi dulu."
Andra pergi meninggalkan kamar Fian. Dia berjalan menuju keluar lingkungan rumah sakit.
Sementara Mama dan Papa duduk di sofa yang ada di ruangan ini. Mereka hanya diam, entah sedang memikirkan apa. Kemudian di lain waktu mereka terlihat berbincang. Namun dengan suara yang sangat pelan. Seperti berbisik. Mungkin takut di dengar oleh Fian. Fian cuma memperhatikan mereka berdua. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Mama dan papa hanya bicara sangat pelan. Fian tidak bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
Fian mencoba memejamkan mata. Dia merasa kepalanya masih sakit. Dia ingin istirahat. Fian tidak ingin memikirkan apapun. Dia benar-benar ingin mengistirahatkan otaknya. Dia sedang ingin sendirian. Ingin menenangkan pikirannya.
🌸🌸🌸
Arin terbangun pukul empat sore. Dia tidur sangat nyenyak setelah sholat dzuhur tadi. Tidur di rumah sama di rumah sakit terasa berbeda. Pasti lebih nyaman di rumah. Walaupun kasur di rumah lebih keras. Tentu saja karena di rumah sakit Arin menjadi pasien. Tak ada orang yang suka tidur di rumah sakit. Tidak boleh ini dan itu. Dan juga tidur di rumah sakit dikenakan biaya.
Arin keluar dari kamar setelah mendengar suara Rama berteriak. Entah Rama sedang berbincang dengan siapa. Namun suaranya terdengar sampai kamar Arin.
"Ada apa Ram? Teriakannya kenceng banget."
__ADS_1
"Maaf kak, tadi di depan becanda sama bang Nando. Pas lewat depan rumah kita, dia nanyain keadaan kak Arin."
"Mana orangnya sekarang."
"Tadi masih di depan. Ngobrol sama bang Toni. Kakak mau ke depan."
" Tidak, muka kakak masih kusut. Belum mandi."
" Tumben mikirin penampilan. Biasanya iler masih di mana-mana keluar juga. Kalau yang datang bang Fian apa bang Nando langsung ditemui. Tak pernah peduli ada iler apa atau tidak."
"Sekarang beda dong, Harus jaim sedikit. Hahaha..."
"Mana ada kakak begitu. Yang ada kakak itu apa adanya."
"Harus begitu Ram. Kita memang harus apa adanya bukan ada apanya. Aduh..."
"Kak .. kenapa kak?"
" Tidak tau. Tiba-tiba dada kakak berasa sakit. Sesak rasanya."
"Ayo Rama bantu ke kamar."
Rama membantu Arin berjalan menuju kamarnya. Entah mengapa dada Arin terasa sesak.
"Udah kakak istirahat saja. Ga usah kemana-mana."
"Iya Ram. Kenapa dada gue ya. Kemarin di rumah sakit tidak berasa apa-apa."
"Baru sekarang terasa ya kak. Apa mau diperiksa ke dokter lagi."
"Tidak usah Ram. Sebentar lagi juga hilang."
"Ya udah kalau mau kakak begitu. Tapi nanti kalau belum hilang sakitnya kita ke rumah sakit lagi ya. Kita periksa. Atau mau aku telpon pak dokter Bara."
"Eh .. jangan. Ini ga apa-apa kok. Nanti pasti juga hilang sendiri."
"Baiklah kalau begitu. Sekarang kakak istirahat. Biar Rama bikin minuman hangat buat kakak."
"Iya Ram. makasih ya."
"Sama-sama kakak sayang."
"Lebay akh."
Rama tertawa. Rama meninggalkan kamar Arin. Dia bermaksud mau membuat minuman hangat buat Arin. Siapa tahu bisa mengurangi rasa sakit yang dirasakan Arin.
Rama memang sangat perhatian pada saudaranya dan pasti juga pada kedua orang tuanya juga. Rama anak yang penurut dan sangat rajin membantu pekerjaan rumah. Walaupun dia seorang cowok, Namun Rama juga pandai memasak.
"Kak, ini jahe hangatnya. Di minum biar lega dadanya."
"Iya Ram. Taruh saja di meja. Makasih ya."
"Jangan lupa di minum mumpung masih hangat. Rama mandi dulu ya kak. Kalau butuh sesuatu panggil Rama saja ya kak."
"Iya Ram, Eh... keadaan Ayah bagaimana?"
"Ayah dan bunda masih di dalam kamar belum keluar sejak habis ashar tadi."
"Oh begitu. Ya udah sono mandi dulu. Bau asem."
"Bukan bau asem lagi. Sudah campur- campur baunya. Gerah banget. Udah ya Rama mandi dulu."
"Ya udah sono."
Sepeninggal Rama, Arin mengambil minuman yang telah disediakan Rama. Dia meminumnya sedikit.
"Enak."
Arin meminumnya lagi. Kali ini dia habiskan. Karena kalau sudah dingin pasti tidak nikmat lagi. Setelah minum, dada Arin terasa sedikit nyaman. Rasa sesaknya sedikit menghilang. Namun pikirannya masih saja merasa tidak tenang. Ada rasa gelisah. Namun tak tau apa sebabnya.
Arin bangun dari duduknya dan menuju jendela. Hari mulai senja. Tapi jendela kamarnya belum dia tutup. Arin ingin menikmati senja sore ini.
Semburat warna jingga sudah terlihat. Arin menyukai itu. Sangat indah untuk di pandang. Terlihat sangat memanjakan mata. Arin tak ingin melewatkannya. Arin menikmati senja sore ini. Mumpung masih ada waktu.
Setetes air mata jatuh dari matanya. Namun bibirnya tersenyum. Kisah hidup yang dijalaninya penuh dengan tragedi. Dan sekarang firasat apalagi. Apa ada yang akan terjadi lagi. Dia sudah siap dengan segala drama kehidupan. Arin harus selalu siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Kalau memang harus terjadi ya terjadilah. Kita sebagai manusia hanya bisa menikmati dan mensyukuri.
Arin memandang langit senja. Jingga sore ini terasa berbeda. Seperti ada harapan dan juga kesedihan. Semua berbaur menjadi satu. Seperti kesatuan yang harus dia rasakan bersamaan.
Arin tak ingin bersedih lagi. Semua hal yang sudah terjadi harus membuatnya menjadi manusia yang lebih kuat. Karena di depan sana pasti rintangan dan halangan akan lebih besar lagi. Tidaklah akan mudah untuk menggapai sesuatu hal yang besar. Arin mengerti itu. Dia sudah persiapkan hati dan fisiknya.
Dia tidak boleh lagi seperti kemarin terpuruk dalam keputusasaan. Dia yakin semua akan bisa dia lalui dengan mudah asal dia terus berusaha dan mengerti kemampuan dirinya. Arin tersenyum.
"Gue sudah siap sekarang. Gue adalah Arin. Gadis yang kuat. Gue pasti bisa melalui semuanya."
Arin masih memandang senja. Tiba- tiba sekelebat bayangan terlihat di otaknya. Dia teringat Fian. Dari pagi Fian tak ada kabar. Wa nya sepi tak ada satupun pesan dari Fian. Biasanya Fian selalu rajin mengucapkan salam di pagi hari. Dan dia selalu memberi kabar padanya. Hari ini sejak tadi pagi dia menghilang begitu saja.
"Mungkin Fian di marahin mamanya. Ya sudahlah semoga dia baik-baik saja."
Tapi tetap saja perasaannya merasa tidak enak. Arin ingin berpikir positif. Namun selalu saja goyah lagi. Dia menjadi gundah lagi. Di otaknya teringat akan Fian. Seperti ada sesuatu terjadi dengan Fian. Selalu saja begini. Ada suatu ikatan di antara mereka. Jika satu orang mengalami suatu hal, Yang lain pasti merasakannya.
Ikatan persahabatan yang sangat kental melebihi ikatan darah. Semangat Fian. Semangat Arin. Apapun jalan terjal di depanmu kalian berdua pasti bisa melewatinya.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan like dan komen. Terima kasih❤️❤️❤️❤️❤️