Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 62


__ADS_3

Tersenyumlah


Tia sedang tiduran di ranjang bersama papanya. Arga benar- benar memenuhi janjinya. Dia yang akan menunggui Tia selama di rumah sakit, sampai dia sembuh. Seharian bersama Tia, Arga menjadi terbiasa dengan sikap dan kebiasaan Tia. Tia putrinya yang sangat manis. Sebenarnya gadis yang ceria. Karena Arga tidak pernah memperhatikannya.Arga sungguh sangat menyesal telah menyia-nyiakan waktunya selama ini.


Tia menggelayut manja di lengan Arga. Bercerita tentang segala hal yang menarik hati Tia.


"Papa, Tia pengen pulang. Tia kepengen ketemu kakak cantik."


"Tentu sayang, Nanti papa tanya pak dokter. Kapan Tia boleh pulang."


"Iya pa, tidak enak tidur di sini. Tia tidak bisa bermain. Tia sudah tidak sakit lagi ."


"Iya sayang, Papa tau kok. Sini peluk papa. Papa mau di cium di sini.. di sini di sini dan di sini."


Arga menunjukkan kedua pipinya, hidung dan juga keningnya.Tia benar- benar melakukan sambil tertawa.


"Papa, Tia lapar. Tia mau makan. "


"Benarkah, Tia mau makan apa.Nanti papa belikan."


"Tia mau burger pa,"


"Ok, papa siap berangkat. Tapi Tia di sini sama siapa? Masa sendirian."


"Tia,berani papa. Tidak apa-apa Papa. Beneran Tia berani kok."


"Bener berani sendirian. Tapi boleh ga sama pak dokter kalau Tia makan burger. Papa Tanya dulu ya."


"Iya pa."


Arga mengambil ponselnya. Dia mencari nomer kontak Bara. Namun tiba-tiba pintu terbuka.


"Assalamu'alaikum, selamat sore cantik."


"Wa'alaikumsalam, sore juga pak dokter."


Ternyata Bram yang datang. Dia sengaja mampir sebelum pulang. Dia selalu melakukannya karena kasian melihat Tia yang kadang terlihat sedih karena hanya ditunggui suster.


" Asyik ... ada pak Dokter ganteng,"


"Hahaha... Tia senang pak dokter kesini?"


"Senang. Tia senang sekali."


Tia tersenyum. Wajahnya juga terlihat gembira. Bram mendekati Tia. Dia mengelus kepala Tia dengan penuh kasih sayang. Bram terlihat begitu menyayangi Tia. Arga merasa terharu. Ternyata banyak yang menyayangi putrinya. Sedangkan dia sendiri malah mengabaikannya.


"Bram, apa Tia boleh makan burger."


"Boleh. Oh ya aku mau mengabarkan kalau kemungkinan diagnosa penyakit yang diderita Tia tertukar. Kemarin pas di data ulang ada tiga dengan nama yang sama."


"Alhamdulillah, semoga itu benar Bram. Gue ga mau kehilangan putri gue satu-satunya."


"Iya kita tau. Tidak ada orang yang mau kehilangan orang yang disayanginya."


"Iya Bram. Gue terharu. Tia banyak yang menyayangi. Sedangkan gue malah menyia-nyiakan nya."


"Syukurlah kalau lo sekarang sudah sadar. Anak itu juga butuh perhatian dan kasih sayang. Bukan cuma materi."


"Iya Bram. Makasih ya."


"Sama-sama.Sudah tugas seorang dokter untuk mengusahakan yang terbaik buat pasiennya."


"Bram apa sudah mau pulang?"


"Iya benar, tugas gue sudah selesai."


"Apa masih ada acara atau langsung pulang."


"Langsung pulang, ada apa? Pertanyaan lo bertele-tele. Langsung ngomong aja tidak apa-apa."


"Mau minta tolong jagain Tia sebentar. gue mau beli burger."


"Oh .. ok. Dengan senang hati."


"Papa sama pak dokter lagi ngomongin apa si kok bisik-bisik."


"Hahaha.. tidak sayang. Papa Tia mau beli burger. Katanya Tia sama pak dokter dulu. Apa Tia mau?"


"Mau.."


Tia mengangguk dengan mantab. Tentu saja Tia merasa senang.Dia sudah terbiasa dengan Bram dan juga Bara. Tia sering di temani Bram ataupun Bara. Sebelum pulang dari dinas kerja, mereka berdua selalu menyempatkan diri untuk mampir dulu ke kamar Tia.


"Sayang... Papa beli burger dulu ya. Tidak boleh merepotkan pak dokter. Ok.. sayang."


"Iya papa,.. "

__ADS_1


Arga tersenyum. Dia tahu Tia pasti bisa ditinggalkan dengan Bram. Tia pasti tidak akan merepotkan Bram. Selama seharian bersamanya, Arga tahu kalau ternyata putrinya sangat mandiri. Juga sangat ceria dan cerdas.


"Pergi dulu ya.. Nitip.. maaf merepotkan."


"Iya.. iya.. sudah sono berangkat. Jangan lupa harus ada jatah buat gue. Hahaha.."


Jawab Bram dengan tawa lebar. Pembawaan Bram memang selalu ceria. Selalu banyak canda dan tawa bila bersamanya. Apapun yang terjadi padanya tidak pernah dia tunjukkan. Yang terlihat hanya senyum ceria dan tawa lebar. Walaupun hatinya masih dalam duka. Tidak ada seorangpun Yang tau apa yang selalu terjadi padanya. Dia selalu bisa menyembunyikan apa terjadi pada kehidupannya dengan keceriaan yang selalu dia tunjukkan. Orang melihatnya, bahwa seorang Bram tidak pernah mempunyai masalah. Padahal itu tidak mungkin. Semua orang pasti pernah punya masalah namun tergantung bagaimana orang tersebut menyikapi masalah mereka.


"Tia senang ya sekarang ditungguin sama papa." Tanya Bram pada Tia sepeninggal Arga.


"Senang sekali pak dokter ganteng. Papa sekarang baik sama Tia."


"Tia bisa cepat sembuh dong kalau terus begini."


"Benarkah pak dokter ganteng?"


" Tentu. Jika Tia terus merasa bahagia, Tia akan cepet sembuh, dan Tia juga bisa cepet pulang."


"Horeee.... Tia mau pulang. Tia bisa bermain sama temen-temen lagi. Tia bisa sekolah lagi dong."


"Tentu dong sayang. Jadi Tia tidak boleh bersedih lagi. Tidak boleh menangis lagi. Sudah ada papa yang sayang sama Tia. Dan juga selalu ada di samping Tia."


"Iya pak dokter ganteng. Tia akan selalu tersenyum dan tertawa."


Tia terlihat sangat gembira. Wajah nya sudah tidak pucat lagi. Tia sekarang banyak tersenyum dan tertawa. Ini bisa jadi obat buat Tia. Karena dengan selalu tersenyum dan bahagia imun tubuh akan bertambah.


"Pak dokter ganteng. Rumah kakak cantik di mana sih?"


"Pak Dokter tidak tau. Nanti tanya sama pak dokter Baik ya."


"Jadi yang tau rumah kakak cantik pak dokter baik." Ucap Tia sambil mengangguk- anggukkan kepala seperti orang dewasa saja. Bram tertawa melihat tingkah Tia yang terlihat sangat lucu.


"Hahaha. Iya sayang. Pak dokter baik sudah Tiga kali ke rumahnya. Besok kita tanyakan pada pak dokter ya "


"Kenapa tidak sekarang saja sih."


"Kan pak dokter nya libur. Besok kalau pas pak dokter periksa Tia, Tia bisa langsung tanyakan pada pak dokter."


"Oh pak dokter baik libur. Iya deh. Papa kok lama sih. Tia sudah lapar."


"Tia sudah lapar ya. Bagaimana kalau kita makan makanan yang diberi dari rumah sakit saja dulu. Sebentar lagi pasti petugasnya datang. Nah itu dia. Benar kan."


Terdengar suara roda kereta didorong di luar. Dan benar petugas pengantar makanan datang mengantarkan jatah makanan pasien.


"Terima kasih mas" Ucap Bram ramah.


"Tia sudah gede pak dokter ganteng. Tia bisa makan sendiri."


"Wah... pinter sekali Tia ya. Baguslah kalau begitu. Sekarang sudah siap. Silahkan tuan putri makan."


Tia tertawa senang diperlukan sangat manis oleh Bram. Dia seperti dimanjakan oleh sang Dokter. Tia makan dengan perasaan senang. Dia makan sangat disiplin. Rapi dan teratur. Tidak ada makanan yang berceceran di meja. Juga tidak ada bunyi dari dan suara dari mulut ataupun alat makan. Tia benar-benar sudah terlatih.


"Pinter banget Tia makannya. Pasti papa Tia sangat senang melihat ini semua."


Tia tidak menjawab. Dia melihat Bram sebentar dan kemudian mengangguk. Dia melanjutkan makannya. Tia ingat pesan bundanya kalau makan tidak boleh sambil berbicara. Bram tentu memahami itu. Dia menemani Tia makan sampai semua makanan habis.


"Wah sudah habis. Pinter ya makannya. Mau langsung minum obat atau nanti."


"Sebentar lagi pak dokter. Biar nasinya turun dulu. Itu kaya eyang Uti. Biar ga muntah."


"Wah.. hebat Tia. Eyang Utinya juga hebat. Ya udah pak dokter rapikan dulu ya."


Bram membenahi peralatan makan yang di pakai Tia. Setelah rapi Bram kembali duduk di samping Tia.


"Sudah kenyang sekarang. Enaknya ngapain ya."


Bram pura-pura berpikir. Dia meletakkan telunjuknya di keningnya. Sambil menggelengkan kepalanya.


"Pak dokter lucu. Hahaha.."


Tia malah menertawakan tingkah Bram. Tapi memang itu tujuan Bram. Agar Tia bisa tertawa. Agar dia selalu gembira.


"Saya benar-benar lagi berpikir. Habis bingung. Mau main keluar sudah senja. Saatnya semua masuk peraduan."


"Papa kok Belum pulang ya pak dokter. Bukannya sudah dari tadi ya."


"Mungkin jalanan macet Tia. Kan sekarang jam orang pulang kerja.Tia yang sabar ya sayang."


Bram melihat jam di pergelangan tangannya. Memang sudah hampir dua jam Arga pergi. Mungkin benar macet. Tiba-tiba pintu terbuka dan terlihat Arga membawa beberapa kantong plastik berisi banyak makanan.


"Papa kok lama."


"Macet sayang. Maafkan papa ya. Tia mau apa. Ini papa belikan banyak makanan."


"Tia sudah kenyang. Tia baru saja makan."

__ADS_1


"Lho.. Tia sudah makan.Tia makan apa?"


"Makan makanan dari rumah sakit papa."


"Iya Arga. Tadi dia bilang lapar dan pas banget jatah dari rumah sakit datang. Langsung habis dia makan. Pinter banget Tia makannya."


"Baguslah kalau begitu. Ini buat nanti ya."


"Iya pa."


"Ayo Bram kita makan bersama. Gue udah lapar dan gue udah beli buat lo juga."


Arga menyodorkan satu bungkus makanan pada Bram dan Bram menerimanya.


"Terima kasih. Kebetulan gue juga lapar. Tia pak dokter makan dulu ya. Pak dokter juga lapar."


"Iya pak Dokter. Makan yang banyak biar cepat besar." Ucap Tia jenaka.


"Hahaha... Betul sekali ya Tia. Biar pak dokter besar dan seperti badut. Hahaha... Mau besar seperti apa lagi coba."


Arga menimpali ucapan putrinya. Meraka bertiga tertawa senang. Bram dan Arga menikmati Makanannya masing-masing. Sedangkan Tia menikmati cemilan yang Arga berikan. Sungguh nikmat rasanya makan dikala kita merasa lapar. Mana gratis pula. Bram jadi tersenyum sendiri mengingatnya.


Arga juga menikmati makanannya. Dia sangat bersyukur, karena baru kali ini dia merasa makanan yang dia makan terasa sangat lezat. Hanya sebungkus nasi padang warung pinggiran bukan restoran bintang lima. Namun terasa berbeda. Terasa sangat lezat karena dimakan dalam suasana yang bahagia. Arga terus tersenyum. Dia senang bisa bertemu orang-orang sebaik dan ramah seperti Bram dan Bara.


🌸🌸🌸


Bara sampai rumah pukul empat sore. Tadi pulang dari rumah Arin pas jam makan siang. Tapi dia mampir dulu di warung bakso langganannya. Di mana lagi kalau bukan di warung bakso depan rumah sakit tempat dia bekerja. Tak ada tempat lain memang karena Bara jarang sekali makan di luar rumah.


Bakso pesanan dia telah datang dan siap di santap.


Namun Bara malah melamun. Dia hanya mengaduk-aduk baksonya. Pikirannya melayang entah ke mana. Dia ingat kejadian tadi pagi. Saat dia ingin memberi kejutan pada Arin, malah dia yang terkejut. Tidak sengaja dia melihat Fian melakukan itu lagi. Dia melihat Fian mencium Arin lagi.


Hatinya sedikit patah. Sedikit merasa iri pada Fian. Kenapa Fian bisa sebebas itu pada Arin. Kenapa Fian bisa sedekat itu pada Arin. Kenapa persahabatan mereka begitu kental.


Bara ingat perkataan Fian tiga hari yang lalu. Saat malam di mana Arin kembali merasa trauma. Fian yang sudah menyerahkan Arin padanya. Fian yang terlihat sangat putus asa. Fian yang menyerah namun Bara tak tahu kenapa. Namun melihat perlakuan Fian kemarin, tidak ada satupun yang bisa menjadi acuan kalau Fian menyerah. Fian masih terlihat begitu dekat dengan Arin.


"Den, di makan baksonya."


Bara terkejut mendengar perkataan Abang tukang baksonya.


"Iya bang, hehehe.."


"Adennya melamun ya. Ada masalah ya den?"


"Tidak kok bang."


Bara mulai menikmati baksonya. Sudah agak dingin. Namun masih enak. Dia menyantapnya dengan perlahan. Dia menikmati sekali bakso itu. Dia sedang ingin melupakan kejadian itu. Makanya Bara mengalihkan dengan menikmati bakso yang sangat pedas untuk melampiaskan segala perasaannya.


Setiap hatinya merasa tidak nyaman pasti Bara melarikan semuanya dengan makan bakso dengan rasa yang pedas. Dan memang ini obat yang sangat mujarab buat Bara. Karena setelahnya, pasti perasaannya perlahan akan membaik. Dia sendiri juga merasa heran bisa berpengaruh seperti itu.


Satu mangkok bakso pedas sudah habis. Keringat dan air mata bercucuran. Namun hati menjadi lega. Receh sekali obat yang dibutuhkan Bara untuk mengobati luka hatinya.


"Den, sampai basah begitu itu muka. Keringat sampai keluar Semua."


"Iya bang, Sedap sekali baksonya bang. Saya ketagihan."


"Alhamdulillah kalau aden cocok dengan bakso buatan saya. Terima kasih aden."


"Sama-sama bang. Mau bungkus lima bungkus yang bang. Buat keluarga di rumah."


"Baik Aden , Abang siapkan dulu."


"Iya bang."


Sang abang tukang bakso menyiapkan semua pesenan Bara. Lima bungkus. Alhamdulillah rejeki buat si Abangnya. Baksonya memang enak dan selalu habis terjual.


Rejeki orang memang berbeda-beda. Ada yang mudah mendapatkannya ada pula yang susah. Namun semua harus di syukuri. Karena itulah kenikmatan yang hakiki. Daripada kita hanya mengeluh dan mengeluh. Yang ada malah semakin terasa berat.


"Ini aden sudah siap semua pesanannya. Lima bungkus bakso spesial."


"Jadi semua berapa, sama yang saya makan disini."


"Jadi enam porsi ya. Semuanya Sembilan puluh ribu."


Bara membayar semuanya. Tidak lupa memberi sedikit uang lebih buat sang abang.


Bara pulang dengan hati yang sudah dingin. Dia tidak mau terlihat bersedih di hadapan kedua orangtuanya. Dia tidak mau hal sepele ini menjadi beban kedua orangtuanya.


Hatinya sudah tidak resah lagi. Semua sudah dia pasrahkan kepada Sang Maha Pencipta. Dia tidak ingin memikirkan hal yang tidak seharusnya dia pikirkan. Biarlah semua menjadi rahasia Illahi. Jika memang dia berjodoh dengan Arin, pasti akan ada jalan dan petunjuk ke arah itu Jika tidak pasti akan ada hal yang akan terjadi untuk memisahkan mereka. Bara tidak akan menyerah dan juga tidak akan terlalu berambisi.


Dengan perlahan dan langkah pasti Bara pulang dengan hati yang sangat lapang dan tenang. Dengan sekantong jambu air dan juga singkong dari Arin. Dan lima bungkus bakso buat oleh-oleh orang rumah.


Senyum selalu menghiasi wajah tampan Bara. Tidak perduli hati gundah ataupun lelah. Itulah penyemangat hidupnya. Selalu tersenyum dan berpikir positif dalam menjalani hidup. Niscaya semua akan terlihat sangat mempesona. Hm.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like dan komen. Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2