
Tepat pukul satu siang, selepas jam makan siang Bara keluar dari rumah sakit. Ada keperluan tugas luar untuk bertemu dokter ahli syaraf.
Sepulang dari bertemu temannya itu, Tak sengaja Bara melihat Arin menaiki motornya ke arah pertokoan. Bara mengikuti kemana Arin pergi. Kebetulan sekali karena sebenarnya dia memang ingin berbincang dengan Arin. Ada banyak hal yang ingin dia sampaikan.
Sudah dua minggu dia sama sekali belum berkunjung ke rumah Arin. Karena memang dia sedang banyak pekerjaan, Ditambah lagi dengan acara pernikahan sang kakak.
Bara melihat Arin berhenti di sebuah toko. Bara juga berhenti. Namun dia tidak turun dari mobilnya. Bara hanya mengawasi saja. Ternyata Arin tidak lama di dalam toko. Mungkin Arin hanya membeli barang yang diperlukan saja. Dan begitu melihat Arin keluar, Bara membuka pintu dan turun dari mobilnya . Kemudian dia menyapa Arin.
"Arin..."
Arin menoleh. Saat melihat Bara, Arin tersenyum dan berjalan mendekati Bara yang berdiri di sisi mobilnya. Kebetulan motornya di parkir tidak jauh dari mobil Bara. Jantung Bara sudah berdetak tidak karuan melihat senyuman Arin. "Duh, manis sekali, bagaimana besok aku tanpa dia." Bara bergumam dalam hati.
"Eh Aa.. Kok ada disini. Sengaja mengikuti ya."
Bara tersenyum mendengar pertanyaan Arin. Dan ketika Arin sudah dekat dia mengacak rambut Arin dengan gemasnya.
"Dih kepedean. Tadi saya melihat motor kamu. Tapi masih ragu itu kamu apa bukan. Eh ternyata memang kamu."
"Dihh modusnya.."
"Siapa yang modus. Benar kok. Saya tidak berbohong."
"Iya deh iya.."
"Kamu baru pulang kerja kah. Sudah makan belum."
"Iya Aa, ini baru pulang dan beli sesuatu titipan bunda." Ucap Arin. Dia angkat kantong plastik yang dia bawa.
"Sudah makan belum. Pertanyaan yang ini belum dijawab."
"Sudah tadi. Pasti Aa belum ya. Sono makan dulu. Jangan sampai ada kabar dokter sakit ya. Ga elegan banget. wkwkwk.."
"Iya memang belum.Temani ya. Kamu tidak sibuk kan. Mau ya.. harus mau dong."
"Dih maksa."
"Kalau tidak mau ya tidak apa-apa. Paling-paling nanti kamu denger berita dokter sakit perut."
"Jangan lah. Jangan sampai sakit. Oklah aku temani. Tapi makannya jangan jauh-jauh ya. Ya udah Aa jalan duluan nanti saya ikuti."
"Tidak begitu. Parkir saja motornya di tempat parkir. Kamu naik mobil saya. Nanti pulangnya saya antar lagi di tempat ini lagi."
"Hm ..Baiklah."
Bara berjalan ke arah tukang parkir dan bilang sesuatu. Si tukang parkir tersenyum. Dia terlihat senang. Karena Bara menyelipkan lembaran uang berwarna merah di genggaman tangannya.
"Jagain motor itu ya bang."
Abang tukang parkir mengangguk dengan semangat.
Lalu Bara melangkah mendekati mobilnya dan membuka pintu samping kiri. "Silahkan tuan putri.." Bara membungkuk selayaknya pelayan.
"Dih Aa lebay. Jangan berlebihan seperti itu. Tidak pantas buat saya Aa."
Bara hanya tersenyum. Bara menutup pintu. Kemudian berputar dan membuka pintu sopir. Bara memakai sabuk pengaman. Kemudian menjalankan mobilnya dengan perlahan.
"Makan di mana kita."
"Terserah Aa saja. Saya penumpang terserah sang sopir mau membawa kemana."
"Saya bawa ke KUA mau. wkwkwk.."
"Mana ada orang lapar pergi ke KUA.."
Arin mencibir. Bara hanya tertawa.
Bara membelokkan mobilnya menuju rumah makan langganannya. Bara biasa makan di rumah makan yang menyediakan masakan Nusantara. Bara menyukai masakan Indonesia. Setelah sampai dia mencari tempat parkir yang sudah tersedia. Untung jam makan siang sudah terlewat. Jadi rumah makan ini terlihat agak sepi. Walaupun masih banyak pembeli juga, namun tidak seramai jam makan siang.
Bara mencari tempat duduk yang paling nyaman. Dia melihat pojok ruangan masih tersisa satu meja kosong. Sebuah tempat yang sangat pas untuk pasangan muda-mudi.
Pelayan datang menyodorkan buku menu.
"Kamu mau makan apa."
"Tidak Aa, saya masih kenyang. Lagian saya kan hanya menemani."
"Mana boleh begitu. Harus makan ya. Nanti kalau tidak mau, kamu harus menyuapi saya. Bagaimana? Mau pilih yang mana."
"Aa .. saya masih kenyang. Beneran Aa.."
"Tidak enak dong kalau saya makan sendiri. Mau ya.."
"Baiklah tuan pemaksa.. mbak saya pesan ikan nila bakar sama sambal terasi mentah jeruk limau ya. Aa makan apa.."
"Saya mau ayam bakar saja. Sambalnya sambal tomat saja. Ditambah tumis kangkung. Dan minumnya jus mangga."
Setelah mereka menyebutkan pesanannya, pelayan itu pergi untuk menyiapkan apa yang disebutkan tadi.
"Aa, ini hari Sabtu kan. Apa Aa kembali lagi ke rumah sakit nanti."
"Setelah ini saya sudah bebas tugas. Laporan bisa saya kirim lewat email. Ada apa.."
"Oh.. Aku kira kembali lagi ke rumah sakit."
__ADS_1
"Tidak, tadi dokter Rizal bilang begitu. Memangnya ada apa?"
"Tidak ada apa-apa. Tanya doang kok."
Pelayan terlihat mendekat membawa semua pesanan. Mereka menghentikan obrolannya. Setelah pelayan pergi mereka mulai makan.
"Makan yang banyak, kamu masih dalam masa pertumbuhan."
"Ikh apaan sih. Aa tuh yang seharusnya makan banyak. Pekerjaan Aa kan sangat banyak dan menyita waktu. Butuh tenaga yang banyak."
"Kata siapa, kamu tuh yang harus makan banyak. Kurus begitu."
"Ini bukan kurus Aa, tapi tubuh ideal itu seperti ini."
"Mana ada, Makan dulu keburu dingin tidak enak."
"Dih siapa yang mengajak berdebat."
Mereka makan sambil sesekali berbincang. Ada saja candaan yang Arin lontarkan. Begitu juga dengan Bara. Ternyata Bara tidak sedingin yang terlihat. Dia juga pintar bermain kata. Suasana menjadi hangat tentunya. Bahkan Bara bisa mengimbangi candaan Arin.
Mereka tertawa bersama. Perbincangan mereka terlihat seru. Tak terasa makanan yang mereka pesan sudah habis. Makan sambil berbincang membuat mereka tak sadar telah menghabiskan makanan yang mereka pesan.
"Kenyang.." Ucap Bara. Dia elus perut yang terlihat sedikit padat. Kemudian dia mengambil gelas dan meminum isinya.
"Arin.."
"Kenapa Aa.."
Bara diam sejenak. Pandangannya lurus pada Arin. Dia mengambil nafas panjang dan pelan.
"Arin.. sudah bertemu Fian belum. Bukan kah dia sudah pulang ya."
Arin memalingkan muka. Arin mengalihkan pandangan. Dia malah memandang keluar jendela. Kemudian Arin kembali memandang Bara sambil menarik nafas panjang.
"Kalau bertemu belum. Tapi kalau melihat sudah."
"Oh gitu. Kenapa pas melihat tidak menyapa."
Arin menunduk. Hatinya terasa perih. Dia mengingat kejadian di rumah sakit. "Aa, apa aku harus menyapa dia, sedangkan Fian sudah tidak mau bertemu aku lagi."
"Iyakah, memangnya ada apa. Boleh saya tahu."
Arin terdiam. Dia tidak ingin menceritakan kejadian tersebut. Karena baginya itu sangat menyakitkan. Ingin sekali dia melupakan kejadian tersebut. Sebenarnya tidak hanya kejadian di rumah sakit saja. Namun semua kejadian yang sama yang sering dia alami.
Makian dan cacian dari orang tua Fian terngiang di telinga Arin. Arin menggelengkan kepala. Dia merasa harus keluar dari lingkaran itu.
"Aa, tidak bisakah kalau tidak menyebutkan nama Fian dalam perbincangan ini."
"Ok baiklah. Apa kamu mau es cream. Di sini menyediakan lho. Saya pesankan ya. Mau rasa apa.."
"Saya suka es cream jadul Aa."
"Es cream macam apa itu. Saya baru mendengarnya."
"Es cream kampung Aa. Enak tau."
"Iya enak. Tapi esnya seperti apa."
"Memangnya Aa belum pernah makan. Padahal enak sekali.. Hemm yummy.."
Arin sengaja membelokkan perbincangan. Sengaja dia membuat Bara penasaran dan melupakan perbincangan yang tadi.
"Arin.. jangan buat saya penasaran. Katakan. Seperti apa enaknya."
Bara menyilangkan tangannya di depan dada. Dan mukanya terlihat cemberut. Namun Arin malah tertawa.
"Hahaha.. Aa lucu. Aa itu tidak pantas mukanya seperti itu. Aa kalau marah malah terlihat lucu."
Bara tersipu. Mukanya terasa panas. Pasti mukanya sudah memerah.
"Belum pernah melihat saya marah ya."
"Belum, pasti serem ya. Hii .. takut . Kabur akh. Pak dokter serem. Hahaha.."
Arin malah sengaja menggoda Bara. Bara hanya tersenyum. Dia senang kalau melihat Arin terlihat ceria seperti saat ini. Mereka asyik bercanda. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata memperhatikan mereka dari kejauhan. Bara menyadari itu. Kemudian dia bangun dari tempat duduknya.
"Saya pesankan es cream rasa jadul ya."
"Memangnya Aa tau."
"Gampang. Nanti bisa bertanya pada pelayan."
Bara bangkit menuju meja pesanan. Kemudian menyebutkan jenis es yang disebutkan Arin. Dan beruntungnya menu itu ada disini.Setelah itu Bara mendekati Arin.
"Ditunggu pesanannya nona. Saya mau ke toilet dulu."
"Dih tidak lucu. Hahaha.."
"Tidak lucu kenapa tertawa. Jangan kemana-kemana. Saya mau ke toilet sebentar."
Arin mengangguk. Kemudian dia membuka ponselnya untuk mengusir kesendirian. Dan juga ingin melihat, apakah ada pesan masuk atau tidak. Sedang fokus melihat ponsel, tiba-tiba terdengar suara orang yang sangat dia rindukan. Namun tidak ingin dia temui.
"Arin..."
__ADS_1
Arin tentu saja terkejut. Dia tidak berharap bertemu Fian di sini. Arin sedang ingin melupakan tentang Fian. Arin menoleh. Dia memandang Fian datar.
"Sendirian saja."
Arin cuma mengangkat bahu. Dan kembali fokus pada ponselnya.
"Maafkan gue, Arin. Maafkan gue yang pergi begitu saja."
Arin mengangkat kepalanya. Dia pandangi Fian dengan senyuman sinis.
"Sudah gue maafin. Tenang saja. Gue tahu diri kok."
Arin kembali fokus pada ponselnya. Fian duduk di kursi yang tadi di duduki Bara. Fian memandang Arin. Namun Arin terlihat tak peduli.
"Rin.. gue tahu gue salah. Maafin gue ya." Fian meraih tangan Arin. Namun Arin mengibaskan tangan Fian.
"Lepaskan. Sudah gue bilang tadi. Gue maafin Lo." Arin melengos. Tak sedikitpun dia memandang Fian.
"Rin.. Lihat gue. Gue mau bicara."
"Ini sudah. Bicara tinggal bicara. Nanti gue denger!!" Arin melotot memandangi Fian.
"Hahaha... Lo lucu banget sih. Jadi tambah kangen gue." Fian mengacak rambut Arin . Namun Arin berusaha menghindar. Dia kibaskan tangan Fian.
"Lepaskan. Berantakan ini."
"Iya.. iya maaf. Arin gue kangen sama Lo. Tiga bulan ga ketemu Lo rasanya berat sekali. Namun apa daya. Harus gue lakukan."
"Lebay Lo. Lo aja kali. Tapi gue tidak tuh." Arin memandang ke luar jendela. Dia tidak ingin memandang wajah Fian sama sekali. Walaupun sebenarnya dia sangat merindukan Fian. Namun kali ini dia tidak boleh goyah lagi.
"Lo makan sama siapa. Ini belas siapa."
"Sama oranglah. Masa kucing." Arin membalas ucapan Fian dengan nada yang sedikit keras.
"Kalau Lo judes begitu malah semakin cantik. Lucu tau. Hahaha.."
"Fian.. Kenapa tiba-tiba Lo ada di sini sih. Lo ngikuti gue ya."
"Kalau iya kenapa. Kan udah gue bilang tadi, gue kangen sama Lo. Rin... gue sayang sama lo."
Arin sedikit terkejut. Selama ini Fian tak pernah mengungkapkannya isi hatinya. Boro-boro ngomong serius. Yang ada setiap hari mereka hanya becanda dan berkelahi. Namun hal itulah yang menyatukan mereka. Arin memandang Fian. Yang dipandang membalas pandangan Arin. Arin melengos. Dia alihkan pandangannya melihat ke sekeliling. Namun sejurus kemudian dia memandang Fian lagi.
"Masa sih, kalau benar-benar sayang. Terus kenapa selama ini Lo tanpa kabar sedikitpun. Pergi tanpa pamit."
Fian memandang Arin. Arin pun demikian. Mereka saling pandang. Namun hanya sebentar. Arin sudah kembali menunduk dia melihat ponselnya. Kemudian memandang Fian lagi.
"Fian, semisal nih ya, semisal nih. Lo kan tadi bilang sayang. Memang ada pengaruhnya buat hubungan kita.Toh sama saja mama Lo tak akan pernah suka sama gue. Nanti dikira gue melet Lo lagi. Di kira gue guna-guna Lo."
Fian terkejut. Dia heran Arin tau kalau mamanya bilang begitu. Fian memandang Arin intens.
"Eh kok begitu. Ya tidak lah. Gue akan berusaha membujuk mama dan papa untuk menyetujui hubungan kita. Tapi kita jadian ya. Deal ya kita pacaran."
Fian langsung ngomong apa yang dia inginkan. Sekarang saatnya dia berterus terang tentang apa yang dia rasakan. Fian memang benar-benar ingin menjalin hubungan yang serius dengan Arin.
"Tidak.. tidak mau. Gue hanya ingin jadi teman Lo saja ga lebih."
Fian terdiam mendengar jawaban Arin. Dia pandangi Arin secara seksama. Dia tatap muka Arin.
"Kenapa, Lo ga sayang sama gue ya. Dulu Lo pernah bilang kalau Lo sayang sama gue.."
Muka Fian terlihat sedih . Badannya dia sandarkan di sandaran kursi. Sedangkan matanya menerawang. Dia tak percaya Arin menolak mentah-mentah.
"Apa semua sudah terlambat ya. Apa semua sudah tidak seperti dulu lagi
Arin kali ini gue berjanji akan benar-benar membujuk mama."
Fian memajukan tubuhnya ke arah Arin. "Pegang janji gue Arin. Gue janji akan memperjuangkan Lo. Gue akan melakukan segala cara untuk membujuk mama."
Arin hanya memandang Fian dengan sedih. Kenapa baru sekarang Fian berkata seperti itu. Kenapa baru sekarang Fian mengungkapkan perasaannya. Setelah dia merasa putus asa dengan penantiannya. Apalagi Setelah dia mendengar bagaimana kebencian orang tua Fian. Bagaimana makian yang keluar dari mulut mama Fian yang sangat menyakitkan baginya.
Haruskah dia berani menegakkan kepala di hadapan mamanya Fian.
"Ini pesanan es creamnya. Silahkan di nikmati."
Mereka berdua terkejut. Pasalnya mereka berdua sedang sama-sama melamun.
"Terima kasih, Eh Mas yang memesan es cream mana ya."
"Saya tidak tahu mbak. Saya hanya bertugas mengantarkan saja."
"Ok Mas terimakasih."
"Sama-sama. Selamat menikmati."
Arin mengangguk . Dia mencari Bara. Arin baru teringat Bara. Dia melihat ke sekeliling. Sudah lima belas menit Bara belum kembali dari toilet.
Gara-gara Fian datang Arin sampai melupakan Bara.
"Kenapa lama sekali di toiletnya."
Tiba-tiba terdengar bunyi nada pesan masuk dari ponselnya. Buru-buru Arin membuka ponselnya dan ternyata ada pesan masuk dari Bara.
"Saya pulang dulu. Ada urusan mendadak. Selamat menikmati es cream jadulnya. Dan selamat bertemu Fian."
__ADS_1
Arin terdiam. Dia masih memandangi pesan tersebut dan tidak bersemangat untuk membalasnya.
Bersambung