
Arin pulang dalam keadaan basah kuyup. Hujan yang turun tiba-tiba tidak membuat Bara menghentikan motornya. Dia ingin segera sampai di rumah Arin yang tinggal seratus meter saja.
"Kita berteduh dulu ya."
"Nanggung Aa tinggal sedikit lagi. Lagian ini juga sudah basah. Kita lanjutkan saja ya."
Sebenarnya Bara ingin berhenti Namun Arin menyuruhnya terus saja berjalan. Jadilah mereka pulang dengan di iringi hujan deras. Bara sebenarnya takut kalau nanti Arin sakit. Namun Arin kekeh untuk tetap melanjutkan perjalanan.
Sampai di rumah baju sudah basah semua. Bunda buru-buru membuka pintu ketika mendengar suara mesin motor berhenti di depan rumah nya.
"Eh, kenapa kalian hujan-hujanan. Seharusnya tadi berteduh dulu tunggu hujan reda."
"Udah nanggung bund, sedikit lagi sampai. Lagian sudah malam juga. Nanti bunda marah kalau Arin pulang telat."
"Astaghfirullah Arin. Ya ga lah kalau memang hujan. Nanti kalau kalian sakit bagaimana. Nak Bara masuk dulu. Ganti baju dulu. Nanti masuk angin."
"Tidak usah bund, Saya langsung pulang saja ya. Sudah terlanjur basah juga. Assalamu'alaikum.."
"wa'alaikumsalam. Hati-hati Aa.."
Bara melajukan motornya kembali. Dia harus segera sampai di rumah. Sebenarnya dari tadi badannya sudah berasa tidak enak. Saat pertama terkena air hujan, tubuhnya sudah bereaksi. Namun Bara berusaha menyembunyikan semuanya dari Arin. Dia tidak ingin mengecewakan Arin yang ingin bermain hujan di malam hari.
Bukan salah Arin, salah nya sendiri hanya membawa jas hujan satu. Jika dia memakainya Arin bagaimana? Jika Arin yang di suruh memakai pasti Arin memilih tidak memakai. Alhasil beginilah jadinya. Mandi hujan malam-malam.
Sesampainya di rumah, rumah terlihat sudah sepi. Karena hari memang telah larut malam. Hampir jam sebelas malam Bara sampai di rumah. Namun ketika Bara baru saja membuka pintu, terdengar suara sang mama.
"Bara,nak kamu kehujanan."
Mama langsung menyentuh badan putranya tersebut.
"Astaghfirullah Nak, badan kamu panas. Sudah tau tidak bisa terkena air hujan. Kenapa nekad. Memangnya tidak membawa jas hujan."
Suara mama sudah terdengar sangat khawatir.
"Ayo lekas ganti baju. Mama buatkan jahe panas."
"Iya ma.."
Bara segera menuju kamarnya. Dia langsung menuju kamar mandi. Menyalakan shower dengan air hangat. Dia harus segera menetralkan rasa dinginnya. Dia seharusnya tadi nekad berhenti saja. Inilah akibatnya kalau dia terkena air hujan.
Badan Bara sudah tidak menggigil lagi setelah terkena air hangat dari shower. Dengan cepat dia menyelesaikan mandinya dan segera berganti baju. Lalu segera masuk ke dalam selimut tebalnya. Dia tidak ingin menjadi sakit. Dia tidak ingin menjadi anak yang lemah hanya karena terkena air hujan.
"Nak, ini diminum jahenya. Ayo bangun dulu."
Mama masuk kamar Bara sambil membawa segelas air jahe hangat. Di belakangnya di ikuti sang Papa. Mama melihat Bara sudah berada di balik selimut tebalnya.
"Bar.. Bara.. di minum dulu jahenya. Biar hangat di tubuh kamu."
Bara membuka sedikit selimutnya lalu bangun dan duduk.
"Iya Ma.."
"Kamu kenapa Bar.. Udah gede masih main hujan."
"Tadi udah nanggung Pa, udah deket. Ya aku bablas."
Mama menyerahkan gelas yang berisi air jahe. Tangan mama tersentuh jari Bara. Mama terkejut. Tangan tersebut terasa panas. Mama kemudian meraba kening Bara.
"Kamu demam Nak. Badan kamu panas sekali."
"Apa sih Ma, Bara tidak apa-apa. Nanti juga sembuh."
"Kamu tuh dari kecil memang ga bisa kena hujan. Kenapa masih nekat juga. Bentar mama ambil Paracetamol dulu."
"Aku ga apa-apa ma. Mama jangan khawatir ya."
"Tidak khawatir bagaimana. Anak sakit ya pasti khawatir."
"Sudah Ma,anak kita sudah gede. Masih saja diperlakukan kaya orok."
Papa menggelengkan kepala melihat sikap mama yang sangat khawatir pada Bara.
"Eh papa bisa bilang begitu. Aku yang melahirkan Bara, Pa. Aku ga mau anakku kenapa-kenapa."
"Eh, iya deh iya. Biar mama yang mengambil obatnya. Papa disini saja tungguin anakku."
"Hm.."
Kalau sudah begini papa sudah tidak bisa berkutik. Mama pergi ke ruang bawah untuk mengambil obat buat Bara. Sepeninggal Mama, papa mendekati Bara.
"Pasti ini ada hubungannya dengan anak gadis ya."
Bara menoleh ke arah sang Papa. Sedikit terkejut dengan ucapan sang papa.
"Kamu tidak akan senekat ini karena kamu tau segala resiko kalau kamu kena hujan." Ucap papa lagi.
"Papa sok tau. Ga lah Pa. memang tadi sudah deket rumah hujannya."
"Papa tau bagaimana kamu Bar. Kamu itu selalu penuh perhitungan. Tidak mungkin kamu melakukan hal yang tidak berguna."
__ADS_1
Bara terdiam. Memang benar. Baru kali ini dia rela melakukan hal yang bisa membuatnya celaka demi seseorang.
"Siapa dia?"
"Maksud papa apa?"
"Siapa gadis itu. Anak papa sudah jatuh cinta ternyata."
"Eh.. siapa yang jatuh cinta. Siapa Pa Mama ketinggalan berita."
Mama yang tak sengaja mendengar ucapan papa langsung saja menyela ucapan papa.
"Bawa kesini nak. Mama mau kenal dong. Gadis seperti apa yang bisa membuat anak mama jatuh cinta."
"Apa sih Ma. Papa aja yang mengambil kesimpulan sendiri."
"Mama senang kalau kamu punya pacar"
Bara diam saja. Dia sendiri masih ragu dengan keadaan saat ini. Dia tidak tahu apakah Arin menerima perasaan nya atau tidak.
"Ya udah kamu istirahat Nak Jangan lupa diminum obatnya."
"Iya Ma. "
"Ya udah mama kembali ke kamar. Ayo Pa, biar anak kamu istirahat."
"Ayo Ma. Kamu istirahat Nak."
Bara mengangguk. Kedua orang tuanya berjalan keluar meninggalkan Bara sendirian. Bara minum jahe hangat yang dibuatkan bunda sampai habis. Badannya terasa hangat. Tapi demamnya belum turun juga
Sejak kecil Bara memang tidak bisa terkena air hujan. Badannya memang sedikit sensitif dengan air hujan. Pasti bila terkena air hujan, badannya akan meriang. Tapi kali ini tidak separah dulu. Tidak sampai masuk rumah sakit.
Setelah minum obat, Bara merebahkan tubuhnya. Dia menarik selimutnya sampai menutupi seluruh badannya. Tinggal kepala saja yang terlihat. Dia juga tidak menyalakan pendingin ruangan. Akan semakin memburuk pasti keadaannya.
Obat yang Bara minum mulai bekerja. Secara perlahan matanya mulai terpejam. Rasa kantuk menyerang dirinya. Dia sudah tidak tahan lagi. Akhirnya Bara jatuh tertidur. Nafasnya sudah terlihat teratur. Pertanda tidurnya sudah pulas.
🌸🌸🌸
Pagi itu Fian bangun pagi. Dia ingin berolahraga pagi. Untuk menjaga staminanya tentu saja dan juga merawat tubuhnya agar tetap terlihat bugar.
Fian sudah lumayan hapal daerah tempat tinggalnya sekarang. Dia berlari mengitari daerah tempat dia tinggal. Sebuah pemukiman yang sangat bersih dan rapi.
Fian terus saja berlari beberapa putaran. Dia fokus melihat ke depan. Saat melewati sebuah warung sayur, matanya tanpa sengaja melihat seorang yang dia lihat kemarin.
Fian melihat suster Ika sedang berbelanja. Fian memicingkan mata, menatap ke arah suster Ika. Hanya untuk memastikan dia atau bukan. Lalu Fian mencari tempat yang strategis untuk mengawasi Suster Ika. Fian ingin tau di mana suster Ika tinggal.
Tak berapa lama suster Ika selesai berbelanja. Fian tetap terlihat sedang berolah raga agar suster Ika tidak curiga.
"Maaf, Ibu saya mau tanya. Ini jalan apa ya?"
Suster Ika menatap Fian sekilas. Dia tidak menjawab malah mempercepat langkahnya.
"Tunggu, suster Ika. Saya mau bertanya."
Suster Ika terkejut. Dia heran ada yang mengenal nama aslinya. Selama ini dia memakai nama samaran. Suster Ika semakin mempercepat cepat langkahnya. Fian pun demikian. Dia tidak ingin kehilangan jejak lagi.
"Tunggu. Saya hanya ingin bertanya. Kalau anda terus-menerus menghindari dari saya berarti benar anda ada sangkut pautnya dengan masalah ini."
Suster Ika berhenti. Dia tidak tau apa maksud Fian.
"Maaf Nak, apa maksud kamu Tiba-tiba datang memanggil saya dengan sebutan Ika, padahal saya memang bukan orang yang kamu maksud."
"Apa anda kenal Mama Maria?"
Sang suster terkejut. Nama yang begitu familiar di telinganya. Tapi dia masih pura-pura tidak kenal.
"Maria, siapa ya. Nama Maria banyak. Maria yang mana?"
"Kalau Suparyanto, Bagaimana apa anda kenal?"
Suster ika terdiam. Dua nama yang sangat ingin dihindarinya.
"Saya yakin anda mengenal kedua orang tersebut."
"Apa mau kamu sebenarnya."
"Mau saya hanya ingin berbincang sebentar dengan anda."
"Baiklah temui saya nanti siang di Cafe Bintang jam satu."
"Apa jaminannya kalau anda pasti datang."
"Saya bukan orang yang suka mengingkari janji."
"Baiklah. Jam satu."
"Jangan terlambat. Satu menit saja kamu terlambat, kamu tidak akan bisa bertemu saya lagi."
"Baiklah."
__ADS_1
Suster Ika melangkah menjauh. Fian mengikuti langkah suster Ika.
"Berhenti bocah. Jangan ikut saya. Atau perjanjian kita batal."
"Baiklah."
Akhirnya Fian memilih jalan lain untuk meneruskan olahraga nya. Dia semakin semangat. Semoga kali ini dia bisa mendapatkan titik terang. Semoga kali ini dia bisa menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang selalu mejadi beban pikirannya.
Fian berhenti di sebuah gerobak tukang bubur ayam. Perutnya terasa lapar. Dia memesan satu mangkok bubur ayam lengkap dengan sate telur burung puyuh kesukaannya.
Fian asyik menikmati makanannya, Tiba-tiba di belakang nya ada orang yang sedang bercakap-cakap. Tak sengaja Fian mendengarkan percakapan mereka. Suara dua orang laki-laki dan perempuan sedang bercakap-cakap.
"Dia sudah di sini. Dua bulan yang lalu."
"Ini ulah Adam. Entah apa maksud dia membawanya kesini."
"Kasian dia yang menjadi korban kedua orang tuanya."
"Anak-anak mereka yang menjadi korban keegoisan mereka."
"Kita harus bagaimana? Apa sebaiknya kita jelaskan yang sebenarnya. Atau kita skip saja."
"Sebaiknya kita beritahu yang sebenarnya saja. Sudah terlalu lama masalah ini disembunyikan. Permusuhan antar keluarga yang berkepanjangan, anak-anaklah yang menjadi korban."
Fian mendengarkan dengan seksama percakapan dua orang tersebut. Percakapan yang menurut nya mirip dengan kisahnya. Apalagi ada nama Adam disebut tadi. Fian ingin melihat siapa yang bercakap-cakap itu, Namun dia takut kalau mereka ada yang mengenalnya.
Fian masih saja memasang telinganya. Namun percakapan itu sudah berhenti. Fian memberanikan diri menoleh. Tapi di belakangnya tidak ada orang satupun.
"Siapa mereka tadi ya. apa benar ini ada sangkut pautnya dengan kejadian itu." Gumam Fian. Dia semakin penasaran.
Fian segera menyelesaikan makanya kemudian bangkit dan segera membayar. Dia ingin mencari dua orang yang bercakap-cakap tadi.
Fian sudah jauh berjalan, namun tidak menemukan orang tersebut. Akhirnya Fian memilih pulang. Dia harus bersiap-siap untuk pertemuannya dengan suster ika.
🌸🌸🌸
Arin bangun agak kesiangan. Badannya terasa tidak enak. Mungkin akibat kehujanan semalam. Dia sengaja main hujan untuk menyembunyikan perasaan nya. Dia merasa tidak nyaman dengan pengakuan Bara. Dia juga belum memberi jawaban.
Arin merasa dia tidak punya perasaan apa-apa pada Bara. Lebih tepatnya belum. Walaupun ada rasa simpati sedikit buat Bara. Benar kalau Arin juga merasa ada ikatan antara dirinya dengan Bara. Banyak kejadian yang tidak di sengaja yang mempertemukan mereka berdua. Kejadian yang melibatkan Bara dalam kehidupannya.
Arin masih mengingat semua hal yang telah terjadi dia antara dirinya dan Bara. Namun hatinya belum merasa apa-apa Hanya ada perasaan nyaman bila berada di dekat Bara.
Bara yang selalu ada di saat dia mengalami kesulitan. Bara yang selalu muncul saat dia terluka. Arin merasa heran. Kenapa bisa begitu. Entah itu kebetulan atau mungkin sudah di atur oleh Yang Maha Kuasa.
Hatinya masih di isi oleh Fian. Walaupun selama hampir dua bulan ini dia tidak bertemu Fian sama sekali, perasaannya tidak berubah kepada Fian. Entah sampai kapan ini, Arin tidak tau. Arin belum bisa menggantikan posisi Fian pada orang lain. Termasuk Bara.
"Arin, bangun Nak. Sudah sholat subuh belum?"
Bunda mengetuk pintu kamar Arin. Karena sejak subuh tadi dia belum melihat anak gadisnya. Biasanya sehabis sholat subuh Arin selalu muncul di dapur walaupun sebentar.
"Arin lagi tidak sholat bun."
Bunda masuk ke kamar Arin dan melihat Arin masih berbaring di tempat tidur, dan masih dengan selimutnya.
"Kamu sakit Nak. Tumben masih pakai selimut."
Bunda mendekat dan menyentuh kening Arin.
"Arin tidak apa-apa bunda. Hanya mau bermalas-malasan. Boleh kan."
"Badan kamu sedikit hangat Nak, Akibat kena hujan semalam. Kenapa harus hujan-hujanan."
"Udah nanggung bunda, udah sampai gang depan pas turun hujan. Jadi ya sekalian saja."
"Ya sudah kamu istirahat saja. Bunda buatkan jahe hangat ya."
"Iya bun. Terima kasih. Arin istirahat sebentar Bund."
" Iya Nak. Lagian hari libur ini. Kamu istirahat saja."
"Baik bunda sayang."
Arin memeluk bunda dengan sayang. Sebenarnya hati Arin sedang tidak baik-baik saja. Dia sedang menunggu kabar dari Fian. Dan dia juga harus mempersiapkan jawaban buat Bara. Walaupun sebenarnya Bara tidak menuntut jawaban. Tapi Arin juga tidak mau memberi harapan palsu kepada Bara.
"Fian, Lo di mana. Bagaimana keadaan lo. Kenapa harus menghilang tanpa kabar seperti ini." Gumam Arin sendu. Setetes air mata jatuh dari sudut matanya.
Walaupun sebenarnya dia tahu nasib kisah cintanya dengan Fian tidak akan bersatu, Namun paling tidak dia tau kabar keadaan Fian saat ini.
Arin juga ingin kepastian dari Fian. Arin juga ingin tau selama ini Fian menganggap dia sebagai apa. Arin ingin tahu kejelasannya.
Seharusnya Fian tidak pergi begitu saja seperti saat ini. Arin ingat perkataan Fian saat pertemuan terakhir kemarin.
"Fian, apa benar lo memang benar-benar ingin pergi meninggalkan gue. Gue harus bagaimana? Gue Harus bersikap bagaimana. Jangan pergi begitu saja seperti ini. Gue rindu sama lo. Gue sayang sama lo. Berilah satu petunjuk saja buat gue."
Arin benar-benar bingung. Dia tidak bisa mengambil keputusan begitu saja. Dia ingin berharap dan menunggu Fian. Namun jika Fian tidak ada kabar seperti ini. Apakah dia berani berharap. Apakah Arin punya kekuatan untuk tetap menunggu. Apakah Arin punya keberanian untuk tetap mengharap hubungan dengan Fian akan berlanjut.
Entahlah.....
Bersambung..
__ADS_1
Terima kasih untuk dukungannya ❤️❤️❤️