Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 107


__ADS_3

"Ada apa Rin. Kenapa malah melamun. Ada gue disini lho


Masa gue dicuekin."


Arin hanya diam saja. Dia memang terlihat melamun. Entah apa yang dia pikirkan.


"Arin.. Lo kenapa sih."


"Eh ...apa Fian."


"Dari tadi di panggil diam saja."


Arin diam lagi. Sebenarnya dia masih merasa kecewa atas kejadian dua Minggu yang lalu. Dia kecewa atas ucapan mamanya Fian. Ada rasa marah dalam hatinya atas semua tuduhan mamanya Fian. Padahal selama ini dia tak melakukan apa yang mamanya Fian tuduhkan.


Ingin rasanya dia memaki Fian untuk melampiaskan semua yang dia rasakan. Namun Arin berpikir kembali


Dia kecewa sama orang tua Fian, masa dilampiaskan pada anaknya. Karena memang Fian tidak bersalah dalam hal ini.


Namun sejujurnya Arin juga kecewa sama Fian. Fian yang pergi begitu saja tanpa pamit padanya. Fian yang sudah tidak mau berkomunikasi dengannya. Arin hanya ingin Fian bicara jujur apa yang sebenarnya terjadi. Pasti Dia akan mengerti. Pasti dia bisa memahami Fian.


"Ariiiiin ... malah melamun.. Ariiiiin... "


"Eh apa Fian. Jangan teriak-teriak. Berisik tahu. Lihat itu semua orang melihat kemari. Bikin malu saja.."


"Salah Lo sendiri. Dipanggil dari tadi diam saja.."


"Hm...."


" Lihat itu es creamnya meleleh. Buruan di makan. Atau mau aku suapin aja ya.. Aaa.."


"Ga mau.. buat Lo aja.."


"Yakin nih..Enak banget lho ini. Ini kan es cream kesukaan kita." Fian menyendok es cream tersebut dan siap untuk dimasukkan mulut."


"Eh jangan.. ini punya gue.."


Arin dengan cepat membelokkan sendok ke mulutnya. Dia tidak rela es cream kesukaannya di makan Fian.


"Sini balikin es cream gue."


Arin berusaha merebut mangkok es cream tersebut. Namun Fian menghindar. Mereka berdua saling berebut untuk menyuap.


"Ga kena.. Wek .. ga kena.."


"Fian... kembalikan.. Itu punya gue.."


"Suruh siapa beli cuma satu. Gue kan kepengan juga. Sini gue suapin. Kita makan berdua saja."


"Tidak mau. Gue bisa makan sendiri. Bawa sini. Fiaaaan..."


Fian malah sengaja menyuap beberapa sendok es cream ke mulutnya, dengan sengaja Fian menggoda Arin.


"Fian.. itu punya gue. beli sendiri Sono."


"Ga mau. Maunya semangkok berdua."


"Mana puas, Fian .. itu kan yang membelikan pak dokter khusus buat gue."


Fian berhenti menyuap. Dia lupa dia datang karena ada pesan dari Bara agar dia datang di kafe ini. Dan ternyata ada Arin di sini.


"Jadi tadi Lo berdua sama Dokter Bara makan di sini. Sekarang mana dokter Bara nya."


Arin menggeleng.


"Tidak tahu.. tadi pamit ke toilet tapi sampai saat ini belum kembali."


Fian diam lagi. Ternyata ini semua idenya Bara. dokter Bara pergi setelah melihat Fian datang. Tadi sekilas memang Fian melihat Bara yang berjalan menuju toilet.


"Arin.. boleh gue tahu sesuatu. Seberapa jauh hubungan Lo sama dokter Bara."


Arin tidak langsung menjawab. Karena dia bingung. Selama ini memang antara dia dan Bara belum terlalu jauh berhubungan. Walaupun Bara pernah mengungkapkan isi hatinya.


Walaupun Arin pernah meminta Bara untuk melamarnya. Namun perbincangan hanya sampai di situ. Tidak ada kelanjutannya lagi.


"Kok diam.. Lo udah jadian ya."


"Dih kepo, emangnya Lo perduli.."


Arin sengaja ingin gantian menggoda Fian. Dia ingin tahu apa reaksi Fian.

__ADS_1


"Arin, seandainya gue serius sama Lo bagaimana?"


"Hah.. gue ga salah denger." Arin mendekatkan telinganya ke arah Fian. Arin benar-benar terkejut dengan perkataan Fian.


"Gue serius Arin. Gue sayang sama lo." Fian menarik tangan Arin dan menggenggamnya. Arin diam. Namun pandangannya lurus menatap Fian. Dia menarik nafas panjang. Dia tidak menduga kalau Fian akan mengungkapkan isi hatinya.


Ada rasa bahagia di hati Arin. Tentu saja karena kata-kata itulah yang selama ini dia tunggu keluar dari mulut Fian. Namun rasa kecewa dalam hati Arin ternyata lebih besar. Kecewa atas sikap Fian yang selama tidak pernah berterus terang padanya. Apalagi setelah kepergian Fian tiga bulan ini.


"Kalau memang sayang, kemana Lo selama ini. Pergi begitu saja tanpa pamit. Itu yang lo bilang sayang!?"


"Maaf Arin. Maafkan gue. Waktu itu gue ada pekerjaan mendadak ke luar kota."


"Itu bisa-bisanya alasan Lo aja."


Arin melengos. Dia benar-benar kecewa Fian tidak mau bilang yang sebenarnya. Fian tidak pernah jujur padanya.


"Gue tidak bohong. Gue harus ke Surabaya. Ada masalah besar yang harus gue pecahkan di sana."


Arin menarik nafas panjang. Pandangannya kembali pada Fian.


"Kenapa tidak bilang terus terang. Kenapa pesan-pesan gue tidak pernah Lo jawab. Kenapa Lo pergi seperti di telan bumi . Bahkan bang Andra kabur saat bertemu gue. Itu yang lo bilang sayang!"


Fian diam saja. Arin terlihat marah. Terpancar rasa sedih dan kecewa di wajah Arin. Ini memang kesalahannya. Kalau saja dia pamit dan jujur pada Arin. Pasti Arin tidak semarah ini.


"Maafkan gue Arin. Maafkan ya. Gue mau memperbaiki semuanya. Gue mau kita mulai dari awal lagi. Bagaimana..?"


Arin diam. Dia semakin tidak mengerti dengan sikap Fian. Pergi begitu saja. Tanpa satu pesan pun. Dan datang tanpa rasa berdosa.


"Bagaimana Arin. Lo mau kan. Lo mau jadi istri gue. Lo mau kan menemani gue sampai tua nanti. Gue janji akan memperbaiki sikap gue. Gue janji akan membujuk mama dan papa untuk menerima Lo."


Fian berkata sepenuh hati. Dia sangat berharap Arin mau menerimanya. Fian benar-benar sangat menyayangi Arin.


Arin masih diam. Ada kebimbangan dalam hatinya. Terlalu banyak penghalang untuk mereka. Bisakah mamanya Fian menerimanya nanti. Arin juga memikirkan bagaimana juga perasaan orang tuanya nanti . Setelah apa yang kedua orang tua Fian lakukan pada keluarganya. Apakah bisa nanti mereka hidup berdampingan.


"Fian... seperti itu tidak mungkin terjadi."


"Kenapa Rin.. kenapa. Gue akan berusaha Rin. Gue pasti berhasil membujuk mama dan papa."


"Tapi gue tidak yakin Fian. Gue merasa ini semua mustahil. Melihat bagaimana kebencian mama Lo pada gue, Bagaimana cacian yang keluar dari mulut mama Lo, gue dengar sendiri Fian."


Arin menunduk. Dia tarik tangan yang di genggaman Fian. Arin mengusap setetes air mata yang jatuh tanpa bisa dia tahan. Terngiang kembali perkataan mamanya Fian. Arin menggeleng.


Terlihat raut kecewa di wajah Fian. Kenapa saat dia ungkapkan malam begini kejadiannya. Arin menolaknya. Padahal Fian yakin Arin juga menyayanginya.


"Rin.. tak bisakah kita mulai dari awal lagi. Tak bisakah ada kesempatan buat gue. Gue mau kita lebih dari sekedar teman."


Fian menarik lagi tangan Arin . Dia genggam erat. Dia ciumi tangan Arin. Serasa tidak ingin dia lepaskan. Arin hanya diam. Karena Arin merasa ini adalah akhir dari kisah mereka berdua.


"Maaf Fian, mungkin lebih baik kita hanya sebatas teman. Mungkin lebih baik kita hanya sebagai sahabat. Bukan gue tidak mau berjuang. Tapi gue merasa semua sudah berada di titik buntu. Sekali lagi maafkan gue Fian."


"Tidak bisakah kita berusaha lebih keras lagi?"


"Tidak Fian. Sekali lagi maafkan gue."


Dengan perlahan Fian melepaskan genggaman tangannya pada tangan Arin. Hatinya terasa sakit. Dia sangat kecewa. Ternyata dia benar-benar sudah terlambat. Jadi selama ini usahanya sampai ke Surabaya hanya sia-sia. Arin tetap saja tidak dapat dia genggam.


Fakta yang dia dapatkan belakangan inipun tidak dapat membantu apa-apa. Kebencian sang mama telah memusnahkan semua kebahagiaannya.


"Baiklah Arin. Gue terima keputusan ini. Semua memang salah gue. Maafkan gue. Maafkan juga mama gue. Maafkan atas perlakuan kedua orang tua gue pada keluarga Lo. Maafkan .."


"Fian, maafkan gue juga. maafkan jika gue menyerah saat ini. Semua bukan salah Lo. Tapi ini semua sudah takdir. Ini semua mungkin jalan yang terbaik. Gue tidak pernah menyalahkan kedua orang tua Lo. Gue memahami apa yang orang tua Lo lakukan ke gue. Gue terima semuanya. Jika diperbolehkan kita masih bisa menjadi teman. Menjadi sahabat seperti hari kemarin."


Arin menunduk dia sudah tidak sanggup menahan air matanya. Pipinya sudah basah. Dadanya terasa sesak. Sakit dan terasa menyiksa sekali.


Begitu juga dengan Fian. Setetes air mata jatuh di pipinya. Dia tidak ingin menangis. Dia bukan pria cengeng. Tapi rasanya memang begitu sakit. Dadanya terasa sangat sesak. Tapi dia menyadari semua memang kesalahannya yang tidak berani berjuang sejak awal.


Untung saja mereka duduk di pojok ruangan. Sehingga tidak terlihat nyata. Tidak ada orang yang akan menyadari apa yang terjadi kecuali memang orang tersebut benar-benar memperhatikan interaksi mereka berdua.


"Arin hapus air matamu. Maafkan gue . Gue tidak bisa memberi kebahagiaan buat Lo. Teman macam apa gue ya. Hahaha.."


Fian tertawa sumbang. Dia mentertawakan dirinya sendiri. Dia yakin hati mereka sama hancurnya. Dia yakin Arin juga sangat terluka seperti dirinya.


"Lo adalah teman terbaik buat gue. Lo segalanya buat gue. Namun hanya sebatas teman dan sahabat. Tidak lebih."


Arin mengangkat kepalanya. Dia beranikan diri menatap Fian. Tapi sebelum itu dia hapus terlebih dahulu air mata yang menetes di pipinya. Mukanya terlihat sedikit merah. Juga matanya.


Demikian juga dengan Fian. Walaupun dia tertawa tapi tawanya terdengar hambar. Tawa yang penuh kesakitan. Matanya pun terlihat merah.


"Arin, kita Songsong masa depan kita masing-masing. Semoga Lo mendapatkan jodoh yang lebih baik segalanya dari gue."

__ADS_1


"Dan Lo juga. Semoga Lo juga mendapatkan gadis yang lebih cantik dan lebih baik dari gue."


"Hahahaha.. kok gue geli ya mendengar ucapan Lo."


"Diihh pea... namanya Lo merusak suasana. Gue lagi melow ini. Hahaha.."


Mereka berdua malah tertawa. Walaupun mereka sebenarnya sedih, namun mereka tidak ingin menunjukkannya.


"Pulang yukk.. antar gue ngambil motor di tempat parkir Toko merak."


"Kok jauh banget parkirnya. Terus Lo kesini naik apa tadi."


"Gue ikut mobil dokter Bara."


"Okelah.. lumayan bisa buat kenangan indah lagi bareng Lo. Hahaha.."


"Dihh kacau nih bocah. Apa ga semakin hancur Lo. Hahahaha.."


"Ga lah.. ini kan sudah keputusan Lo . Gue akan mencoba menerima dengan sepenuh hati. Walaupun sakit harus di jalani."


"Baiklah.. baiklah.. Terserah Lo aja. Asal Lo bahagia. Hm.."


"Bahagia gue hanya bersama Lo.."


"Udah ikh.. malah gombal. Sudah sore juga. Nanti gue dicari bunda."


Arin bangun dari duduknya dan menuju meja kasir untuk membayar semua pesanannya. Dan ternyata semua sudah di bayar oleh Bara.


Fian menyusul Arin. Dia rengkuh pundak Arin. Mereka berjalan saling berpelukan dan bercanda. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih. Bagi orang yang tidak tahu pasti akan mengira seperti itu. Namun yang tahu sebenarnya hanya mereka berdua.


Arin dan Fian pulang dengan kendaraan masing-masing, setelah sebelumnya Fian mengantarkan Arin untuk mengambil motornya terlebih dahulu.


Senyum terpancar dari keduanya. Senyum kesedihan dan juga kebahagiaan sekaligus. Karena sudah tidak ada lagi kesalahpahaman di antara mereka berdua. Walaupun mereka tidak dapat bersatu, namun mereka tetap terlihat bahagia.


🌸🌸🌸


Dari jauh sepasang mata melihat semua yang terjadi di meja itu. Dia tersenyum. Dia merasa berhasil menemukan sepasang orang yang saling menyayangi.


Ya Bara masih ada di sana. Dia duduk di pojok yang lain. Dia tadi mengganti baju yang lain dan memakai topi sehingga Arin dan Fian tidak mengenalinya.


Bara ingin menyaksikan sendiri bagaimana hasil dari rencananya. Memang dia tadi sengaja mengirim pesan pada Fian untuk datang ke restoran tersebut. Dan untungnya Fian mau dan rencana bara untuk mempertemukan keduanya berhasil.


Bara keluar setelah melihat Arin dan Fian sudah pergi dari restoran tersebut. Bara juga memindah tempat parkir mobilnya agar Arin tidak melihatnya.


"Alhamdulillah.. akhirnya mereka sudah bersatu. Aku sudah tenang. Aku sudah berhasil menyatukan mereka. Dan sudah saatnya aku pergi menjauh dari kehidupan mereka."


Bara bergumam setelah dia masuk ke dalam mobilnya. Dia sandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobilnya. Matanya terpejam. Ada rasa sesak di dadanya. Dia memang harus mengorbankan perasaannya. Demi kebahagiaan orang yang di sayanginya.


Bara mengambil nafas panjang untuk mengurangi rasa sesak di dadanya. Kemudian dengan perlahan dia meninggalkan halaman parkir. Dia hanya ingin pulang ke rumah. Berendam di bathtub. Sambil menghirup aromaterapi kesukaannya. Dia ingin mendinginkan kepalanya. Dia ingin menenangkan hatinya. Dia ingin melupakan semua kenangan indahnya.


"Nak, kamu kenapa?"


"Eh .. Mama. Bikin kaget aja sih."


Bara memeluk sang mama yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya saat dia turun dari mobil. Padahal Bara tidak melihat sang mama berada di sekitar tempat itu.


"Memangnya Bara kenapa Ma. Bara baik-baik saja."


"Jangan bohong kamu. Seorang ibu tahu apa yang sedang dialami anaknya."


"Dihh hebat. Mama bisa berubah jadi cenayang. Aku baik-baik saja Mama sayang."


Bara memeluk mamanya erat. Dia tidak ingin mamanya khawatir padanya. Tapi dia heran juga . Kenapa mama bisa tahu padahal dia merasa dia biasa saja.


"Dasar manja. Mandi sono. Bau acem. Setelah mandi nanti cerita sama mama apa yang terjadi."


"Mama sayang, aku tidak apa-apa. Aku cuma lelah karena hari ini banyak pekerjaan."


"Hm benarkah. Baiklah kalau belum mau cerita. Mama buatkan wedang jahe ya biar tubuh kamu bugar lagi."


"Terima kasih mamaku tersayang."


Bara memeluk sang mama lagi. Dan mencium pipi sang mama. Kemudian beranjak pergi menuju kamarnya.


Perasaan Bara menjadi tidak nyaman. Makanya dia buru-buru ingin segera menjauh dari sang mama. Dia tidak ingin sang mama tahu apa yang dialami nya.


Bara sudah berendam di bathtub. Lengkap dengan aromaterapi dan bunga mawar di dalam airnya. Dia ingin kembali segar dan penuh semangat untuk menjalani hari selanjutnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2