
Apa yang sebenarnya terjadi? Fian dan Rama terkejut mendengar Arin berteriak histeris.
"Tidak... tidak. Aa kaki aku tidak bisa digerakkan. Ini kenapa.."
"Tenang Arin. Tenang ya. Tidak apa-apa, pelan-pelan saja."
"Aa .. kaki aku lumpuh ya. Dan ini muka aku banyak yang luka ya. Tidak.. tidak Aa.. tidak.. akhhhh"
Arin meraba wajahnya. Pantas saja terasa nyeri. Ternyata banyak luka di sana. Ternyata tubuhnya terdapat banyak luka.
"Kakak... kakak pasti akan sembuh. Kakak jangan panik." Rama berusaha membujuk sang kakak.
"Arin.. Arin tenang saja Lo pasti akan sembuh. Ada gue, Gue akan selalu ada buat Lo. Lo adalah saudara gue. Jadi tenang ya. Pasti Lo sembuh nanti.."
Fian mencoba menenangkan Arin. Dia merasa khawatir dengan keadaan Arin
"Tidak.. tidak... hiks.. hiks.. hiks. Apa jadinya tanpa kaki. Gue akan jadi benalu. Gue hanya akan merepotkan kalian semua."
Arin berteriak sambil memukul-mukul kakinya dengan keras. Dia benar-benar merasa putus asa.
"Arin, dengarkan saya. Apapun keadaan kamu, saya akan selalu berada di sampingmu. Saya akan tetap menyayangi. Dengar itu!!"
Bara sudah tidak tau lagi bagaimana cara membujuk Arin. Dia bingung. Sampai-sampai suaranya sedikit meninggi.
"Hiks... hiks.. hiks. Maaf...maaf. Maafkan saya telah merepotkan kalian."
Arin semakin merasa terpuruk. Hatinya semakin merasa sakit. Selama ini dia tidak pernah di bentak. Arin tidak menangis lagi. Dia tidak berteriak lagi. Tinggal suara isakannya saja.
Arin kembali berbaring. Dia menutup mukanya dengan selimut.
"Arin maaf. Saya tidak bermaksud membentak kamu. Sungguh Arin. Maafkan saya. Saya hanya tidak ingin kamu merasa sendiri. Ada saya, ada Fian, ada Rama dan ada keluarga kamu yang akan mendukung kamu. Jangan seperti ini. Jangan bersedih lagi ya."
Melihat keadaan Arin terdiam. Bara malah merasa bersalah. Memang suaranya tadi meninggi karena Bara bingung harus bagaimana untuk menenangkan Arin.
"Maafkan saya pak dokter. Maafkan saya.Ini terakhir kali saya merepotkan anda. Besok-besok saya berjanji tidak akan merepotkan anda lagi."
Bara terkejut mendengar ucapan Arin. Begitupun dengan Fian dan Rama.
"Arin, kenapa kamu bilang begitu. Saya senang kamu mau tergantung pada saya. Saya juga tidak merasa direpotkan. Arin saya benar-benar menyayangi kamu."
Arin terlihat diam. Dia ingat kejadian kemarin. Saat dia keluar dari gerbang rumah Fian, tiba-tiba ada sebuah motor berjalan kencang ke arahnya. Arin sempat melihat sekilas orang yang ada di atas motor tersebut, namun Arin tidak percaya kalau dia tega melakukan hal itu.
"Hiks.. hiks.. Bahkan orang yang mengaku sayang dan mencintainya tega mencelakai gue." gumam Arin dalam hati.
Sekarang dia tidak tahu harus percaya pada siapa. Bahkan Bara membentaknya. Ayahnya memukulnya. Apa arti kata sayang yang keluar dari mulut mereka. Apa arti kata cinta yang selalu digembor-gemborkan.
Arin kembali tersedu. Kilatan kejadian-kejadian yang dia alami di masa lampau berkelebat di benaknya. Kejadian yang telah membuat dia tidak percaya diri. Kejadian-kejadian yang membuat dia tidak percaya apa itu cinta dan kasih sayang.
"Arin...Arin.. jangan begini. Maafkan saya. Saya tidak bermaksud memarahi kamu."
Bara memegang lengan Arin. Namun Arin menghindar. Dia masih diam. Hanya sedu sedan nya saja yang terdengar. Arin merasa sangat sedih.
Dia merasa tidak ada seorangpun yang tulus padanya.
Arin merasa sendirian. Dia tidak tahu harus apa. Dia merasa menjadi gadis yang tidak berguna.
"Kak, kakak tidak boleh sedih. Kan ada aku. Aku akan selalu ada buat kakak. Ada bang Fian juga. Bang Fian pasti akan menjaga kakak juga. Ada bang dokter juga. "
"Pergi kalian.. pergi.. aku gadis yang cacat. Aku gadis tak berguna. Biarkan aku sendiri."
Arin terlihat lemah. Ucapan yang keluar dari mulutnya terasa sangat menyedihkan. Terdengar seperti sangat putus asa.
"Arin.. dengar gue. Lo ga percaya sama gue. Lo tau bagaimana gue selama ini kan? Gue akan selalu ada dan akan terus selalu ada buat Lo. Jangan seperti ini. Sakit hati gue Rin. Ini bukan Arin yang gue kenal."
Tidak terdengar suara apapun lagi. Arin diam saja. Namun tiba-tiba.
"Heh.. huuuhhh... huuuuhh..Sa....kit.. sa...kit..."
Nafas Arin tersengal. Dia terlihat memegangi dadanya. Monitor mulai berbunyi. Semua orang panik.
"Arin.. Arin.. Lo kenapa."
"Kakak.. kakak.."
"Pencet tombol darurat cepat... cepat.. Arin .... Arin sadar... lihat saya.. lihat saya...."
Rama segera melaksanakan apa yang Bara perintahkan. Dia segera memencet tombol darurat. Fian terlihat mencoba mengguncang tubuh Arin. Bara segera bertindak. Dia tekan dada Arin.
__ADS_1
Nafas Arin masih tersengal. Keringat membasahi wajahnya. Dia terlihat meringis kesakitan. Tangannya masih memegangi dadanya.
"Apa yang terjadi.. dokter.. dokter.. kenapa dengan kak Arin.. kak.. kak Arin.. "
Rama melihat Arin dengan perasaan sangat takut. Begitu juga Fian. Bahkan Bara lupa cara bernafas. Semua merasa takut. Namun sebagai seorang dokter Bara harus tetap terlihat tenang. Dia segera melakukan tindakan medis.
Beberapa dokter datang ke dalam ruangan. Sekilas melihat, para tenaga medis tau apa yang sebenarnya terjadi pada pasien. Mungkin karena terlalu shock hal itu bisa terjadi.
Segera semua tenaga medis melakukan tindakan. Semua segera mengambil tugas masing-masing.
"Maaf yang tidak ada kepentingan silahkan keluar. Pasien akan segera Kami tangani. Mohon menunggu keluar."
Seorang dokter memberi arahan pada Fian dan Rama. Sedangkan Bara memandang Arin dengan perasaan yang campur aduk.
Setelah Fian dan Rama keluar segera semua tenaga medis memeriksa kondisi Arin.
"Dokter bagaimana kondisinya." Tanya Bara dengan pelan. Dia sendiri tidak menyangka Arin bisa sampai shock seperti ini.
"Mari kita usahakan yang terbaik buat semuanya."
Dokter Rizal memberi semangat pada semua. Dokter Rizal memandang Bara dengan pandangan iba. Dia sangat tahu bagaimana perasaan Bara pada Arin.
"Jika Dokter Bara tidak sanggup, silahkan ke pinggir saja."
"Tidak Dok, saya masih bisa dan saya harus bisa mengusahakan yang terbaik buat Arin."
Bara maju mendekati Arin yang terbaring lemah tak berdaya dalam penanganan para tenaga medis. Namun tiba-tiba monitor jantung berbunyi sangat nyaring.
Tuuuuutuuuuuuut...
Wajah Bara menegang. Dia serasa tidak percaya.
"Dokter Bara ..ayo cepat siapkan alat pacu jantung. Ayo cepat.. cepat."
Dengan sigap Bara melakukan instruksi dokter Rizal. Dia segera memberi pertolongan pada Arin. Namun Bara sangat terkejut ketika dia melihat tangan Arin terjuntai lemas ke samping tubuhnya dan disertai bunyi alat monitor yang panjang.
Tuuuuuuuuuuuttttt
Bara lemas. Dia hanya diam mematung. Tak terasa setetes air mata jatuh di pipinya. Dia sudah tidak bisa apa-apa lagi. Dia hanya menatap Arin yang tergolek di tempat tidur.
"Yang ikhlas ya."
Hanya itu yang keluar dari mulut dokter Rizal. Kemudian dia memberi perintah untuk melepas semua alat medis yang menempel di tubuh Arin.
Setelah semua lepas, tubuh Arin ditutup kain putih.
Bara masih diam. Ada yang lepas dari jiwanya. Dia seperti bermimpi. Bahkan dia belum sadar sepenuhnya dengan apa yang terjadi.
"Benarkah... Arin. Bangun Arin."
Ucap Bara lemah. Secepat itukah. Bara serasa dilemparkan ke masa lalu. Semua kenangan terbayang di pelupuk matanya. Seperti slide film yang diputar. Kepingan-kepingan peristiwa yang dia alami bersama Arin terbayang dengan sendirinya.
"Arin...."
Hanya itu yang keluar dari mulut Bara. Dia benar-benar terpuruk. Dia benar-benar tidak percaya Arin pergi.
"Dokter.. "
Bara hanya diam memandang tubuh Arin yang mulai ditutup kain putih. Dan ketika tubuh Arin mulai di dorong ke luar dari ruang ICU menuju keluar pun, Bara masih diam. Dia belum sepenuhnya sadar apa yang terjadi.
Namun ketika dia sadar ruangan telah kosong, Bara segera berlari ke luar. Dia menyusul keluar.
"Ariiinnn...."
Bara hanya mampu bergumam. Dia sudah tidak punya kekuatan untuk berteriak.
Di luar terlihat Fian dan Rama mengelilingi bangkar yang membawa Arin. Terlihat mereka sedang menangis. Bara berhenti. Dia tidak punya keberanian untuk bertemu mereka. Bara merasa gagal menyelamatkan Arin.
"Bang.."
Terdengar suara Rama memanggil Bara. Bara hanya memandang Rama dengan perasaan yang tidak menentu.
"Bang.. kenapa kakak pergi begitu cepat."
Rama mendekati Bara dan menarik Bara untuk mendekati Arin. Bara hanya bisa menggeleng. Dia tidak tahu harus berkata apa.
"Bang kenapa diam saja. Ini tidak mungkin.. Kakak masih hidup kan? Ini bohong kan?"
__ADS_1
Fian mendekati Rama dan memeluknya. Bara sedikit menjauh. Dia mendekati Arin yang terbaring di bangkar. Bara menutup kembali tubuh Arin yang tadi sedikit dibuka kain penutupnya oleh Rama. Kemudian dia memberi perintah untuk segera membawa Arin ke kamar jenazah.
"Pak dokter tunggu.."
Tiba-tiba Fian mengejar Bara.
"Gue belum puas melihat Arin. Biarkan gue melihatnya untuk terakhir kali."
Rama ikut mendekat. Fian membuka penutup wajah Arin. Dia ingin memandang sepuasnya wajah wanita yang sangat dia sayangi untuk yang terakhir kali. Matanya tidak lepas dari wajah Arin. Setetes air mata jatuh di pipi Fian.
Fian benar-benar tidak menyangka Arin akan pergi secepat itu. Dia elus pipi Arin dengan pelan, dengan penuh perasaan. Karena ini yang terakhir kali dia akan bertemu Arin.
"Selamat jalan. Semoga Lo bahagia di sana. Gue tahu apa yang lo rasakan selama ini. Maafkan gue yang tidak bisa menjaga Lo. Maafkan gue karena telah menyakiti Lo. Istirahatlah dengan tenang. Telah habis semua penderitaan Lo selama ini. Selamat jalan teman."
Fian sudah tidak kuasa. Dia berlari menjauh dari tempat itu. Hatinya sangat sakit. Dia tidak bisa menerima kepergian Arin yang begitu cepat.
"Seharusnya tidak begini... tidak begini."
Fian berlari sambil terus bergumam. Air matanya jatuh satu-satu. Dia tidak perduli dengan pandangan orang padanya karena dia memang merasa sangat kehilangan.
Rama hanya diam terpaku melihat tubuh Arin di dorong ke kamar jenazah. Bahkan Rama tidak punya keberanian untuk memberi tahu pada keluarganya. Rama tidak sanggup melihat reaksi sang Bunda.
Pasti bunda akan sangat terluka. Pasti bunda akan sangat kehilangan seperti dirinya. Kakak yang sangat dia sayangi begitu cepat meninggalkannya.
Bagaimana nanti dia menjalani hidupnya tanpa semangat dari kakaknya tersebut. Bagaimana perasaan bunda jika mengetahui hal ini.
Bunda pasti akan sangat sedih. Bunda pasti akan sangat terpukul.
"Tidak... tidak. Bunda maafkan Rama yang tidak bisa menjaga kakak. Maafkan Rama.. maafkan."
Rama jatuh terduduk di lantai. Dia tidak perduli pandangan orang yang melewatinya. Dia sedang berduka. Dia sedang merasa sangat kehilangan. Rama tidak sanggup melihat tubuh sang kakak yang dibawa ke kamar jenazah.
Malam semakin larut. Suasana semakin mencekam. Tubuh Arin sudah di bawa ke kamar jenazah. Rama sudah ditenangkan. Begitu juga dengan Fian. Keluarga sudah diberi tahu yang sebenarnya.
Administrasi kepulangan jenazah sedang di urus oleh Bara. Dia tidak ingin orang lain yang menyelesaikan semua urusan Arin. Dia ingin berguna di hari terakhir Arin berasa di dunia ini.
Setelah semua selesai, jenazah Arin dipulangkan ke rumahnya. Di rumah keluarga Yanto telah melakukan semua persiapan penyambutan kepulangan jenazah.
Semua keluarga sudah berkumpul. Terdengar suara tangis yang menyayat hati. Semua ikut bersedih atas kepergian Arin. Semua tidak ada yang menyangka hal ini akan terjadi.
Arin gadis yang baik, yang selalu mendapatkan cobaan dan ujian dalam hidupnya kini telah pergi meninggalkan dunia. Dia tidak akan merasakan sakit lagi. Dia tidak akan merasa terluka lagi. Dia bisa beristirahat dengan tenang. Dia sudah nyaman di alam sana.
🌸🌸🌸
"Apa ini? Kenapa ini?"
Arin yang baru sadar dari tidurnya terkejut menyadari kenyataan kalau tubuhnya penuh luka. Dia sudah merasakan keanehan dalam tubuhnya. Seluruh tubuhnya terasa sakit semua.
Dia belum menyadari apa yang terjadi. Dia belum sepenuhnya tahu apa yang dia alami. Namun ketika dia menggerakkan kakinya saat dia berusaha untuk duduk, saat itulah dia sadar. Ternyata kakinya tidak bisa bergerak. Kakinya lumpuh. Terasa sangat berat untuk digerakkan.
Arin sangat shock. Dia berusaha mengendalikan dirinya. Namun ternyata otaknya tidak bisa menerima kenyataan itu. Ketika dia sadar kepalanya diperban. Mukanya yang mulai terasa perih. Dan kakinya yang tidak bisa digerakkan, jiwanya memberontak.
Dia merasa kesakitan. Tidak hanya tubuhnya yang sakit, namun hatinya juga.
Arin merasa penderitaannya tidak pernah putus. Dia merasa cobaan selalu menimpanya. Dan saat inilah puncaknya. Ketika kakinya tidak bisa digerakkan. Arin merasa dunianya runtuh.
Arin merasa sangat putus asa. Dia tidak sanggup tanpa kaki. Bagaimana dia menjalani hidupnya nanti. Arin gadis yang mandiri. Bagaimana dia akan melangkah tanpa kaki.
Jiwanya mulai rapuh. Otaknya tidak bisa menerima kenyataan yang sebenarnya terjadi. Tubuhnya yang penuh luka semakin mendukung keputusasaannya.
Dan semua berakibat fatal pada jantungnya. Ketika tiba-tiba rasa sesak memenuhi rongga dadanya. Semua kerja organ tubuhnya tiba-tiba tidak berfungsi.
"Apa ini? Kenapa gue? Kenapa badan gue terasa ringan? Kenapa rasa sakit itu tiba-tiba menghilang? Kenapa gue bisa terbang? Dan kenapa para tenaga medis terlihat panik? Apa yang terjadi? Apa yang mereka lakukan pada tubuh gue? Apakah ini akhir hidup gue?"
Begitu banyak pertanyaan yang Arin pikirkan saat dia melihat tubuhnya yang terlihat lemas di tempat tidur. Saat para petugas medis mulai panik. Saat semua alat pacu jantung di pakai dan saat bunyi monitor terdengar nyaring.
Dan ketika semua petugas medis mengangkat bahunya. Itulah puncak rasa putus asa terlihat. Dan saat dengan perlahan semua alat medis dilepas dari tubuh Arin.
Tubuh Arin yang ditutup perlahan dengan kain putih. Semua terjadi begitu cepat. Tubuh ringannya melayang menyaksikan semua yang terjadi.
Arin juga melihat bagaimana Bara, bagaimana Fian dan bagaimana Rama begitu terluka melihat tubuhnya yang di dorong ke kamar jenazah.
"Mungkin inilah akhir hidupku. Selamat tinggal. Semoga kalian semua bisa bahagia tanpa diriku. "
Tak ada yang tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Hidup dan mati rahasia Tuhan. Kita hanya bisa menerimanya.
TAMAT
__ADS_1