Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 81


__ADS_3

Hari ini hari Minggu. Hari untuk bersantai buat para pekerja. Saatnya berkumpul keluarga. Saatnya menikmati hari libur setelah 6 hari sibuk kerja mencari nafkah. Mencari uang yang kata orang adalah segalanya. Untuk mencukupi semua kebutuhan keluarga.


Pagi ini Arin tetap bangun seperti biasa. Sudah menjadi kebiasaannya setiap hari minggu, dia akan merapikan kamar dan juga rumahnya. Biasanya dia akan merubah tata letak benda di kamarnya maupun di rumahnya. Agar tidak membosankan katanya.


Tapi memang benar. Suasana rumah akan terlihat berbeda dan ini akan berpengaruh juga buat para penghuninya. Dengan suasana baru bisa jadi akan membangkitkan semangat baru.


Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Arin tidak sadar kalau ternyata hari sudah beranjak siang. Arin mendengar ponselnya berbunyi tanda ada pesan masuk. Arin mengambil ponselnya. Dia melihat ada pesan WhatsApp yang masuk. Ternyata dari fian.


Fian: Assalamu'alaikum.. Selamat pagi.


Arin menghentikan pekerjaannya. Dia segera menjawab pesan dari Fian.


Arin: Wa' alaikumsalam. selamat pagi juga Fian. Lo sedang apa. Tumben pagi-pagi sudah kirim chat.


Fian : Hah pagi... coba lihat jam berapa sekarang.


Arin melihat jam yang tergantung di dinding.


Arin : Jam sembilan lebih tiga puluh. Ternyata sudah siang ya.


Fian : Jangan bilang lo belum mandi.


Arin : Memang belum. Kok lo tau.


Fian : Pasti lo lupa ya.


Arin : Lupa apa. Ada apa sih.


Fian : Ariiiiiin.... Buruan mandi. Lo lupa kita mau pergi.


Arin: Eh .. mau kemana sih. Oh iya. Ok gue mandi.. Hehehe.. maaf.


Fian : Kebiasaan... belum tua sudah pikun.


Arin : Iya maaf.. Ya udah gue mandi dulu. Ga lama kok.


Fian : Iya cepet.. Gue OTW rumah lo ya.


Arin : Eh .. nanti dulu.. Kan masih lama. Gue aja baru mau mandi.


Fian : Iya.. iya.. Sudah sono. Buruan. Malah masih pegang hp.


Arin : Iya .. iya..


Arin meletakkan ponselnya. Untung pekerjaannya sudah selesai. Sudah rapi ruang tamu dia permak. Tapi kamar dia belum. Tapi sudah terlanjur ada janji. Besok lagi aja masih ada waktu tentunya.


Arin mengambil handuk dan bergegas menuju kamar mandi. Untung dia kalau mandi tidak lama. Cukup lima belas menit saja. Dan berdandan pun Arin tidak lama. Karena memang tidak pernah berdandan yang aneh-aneh. Hanya sewajarnya saja. Pake bedak tipis-tipis dan juga lipstik ala kadarnya.


Penampilan Arin justru terlihat natural. Cantik alamiah tanpa polesan berlebihan. Malah lebih sedap di pandang mata.


Arin sedang di kamarnya sedang merapikan penampilannya, saat terdengar suara mesin mobil berhenti di depan rumahnya. Arin heran tidak mungkin Fian datang dengan memakai mobil. Lebih nyaman memakai motor. Praktis dan gampang mencari jalan pintas jika macet. Lebih efektif pokoknya.


Arin melihat dari jendela siapa yang datang. Dar jendela kamar, Arin bisa melihat dengan jelas mobil yang baru datang tadi. Arin tidak mengenali mobil tersebut. Dan dia merasa tidak mempunyai teman orang kaya. Arin masih memperhatikan mobil tersebut. Dari pintu samping terlihat seorang laki-laki keluar. Arin terkejut. "Eh... Bukankah itu Aa Bara. Sama siapa dia. Kok ga ngomong kalau mau datang hari ini."


Arin bingung dia harus pergi. Tapi ada tamu. Akhirnya Arin hanya duduk dalam kebimbangan. Tiba-tiba terdengar suara bunda memanggil namanya.


"Arin.. Arin. Kamu sedang apa. Ada tamu di luar."


Arin terkejut mendengar suara bunda. Dia sedang melamun tadi.


"Eh .. iya bund. Ada apa."


"Ada tamu mencari kamu."


"Siapa bund.."


" Ayo keluar dulu. Di temui dulu tamunya. Nanti juga tau."


"Iya bund.. ."


Bunda mendahului Arin. Tapi Bunda menuju dapur untuk membuatkan minuman buat para tamunya. Arin berjalan menuju ruang tamu. Sebenarnya dia sedikit malas. Karena dia mau pergi. Semua rencananya gagal. Tiba di ruang tamu Arin terkejut.


"Tia... "


"Kakak cantik."


Arin mendekati Tia. Dan menggendongnya.


"Halo Tia. Kok tau rumah kakak."


Arin melihat ke sekeliling. Dia terkejut. Ada Arga duduk di kursi. Tadi dia hanya melihat Bara saja. Tidak tau kalau ada Arga.


"Selamat siang pak Bos. Selamat siang Aa."


"Siang juga Arin." Jawab Bara sambil tersenyum. Dia memandang Arin tanpa berkedip. Arin terlihat begitu cantik walaupun hanya dengan pakaian sederhana. Sedangkan Arga hanya mengangguk.


"Jadi yang dipanggil kakak cantik oleh Tia, itu kamu." Tanya Arga sambil menunjuk Arin. Dia tidak menyangka dunia sesempit ini. Arga tersenyum senang. Ternyata ada jalan untuk mendekati Arin juga. Dia benar-benar tidak menyangka akan hal itu.


"Iya pak Bos. Saya juga tidak menyangka juga kalau Tia adalah anak bos saya. Pantas kemarin Tia ada di pabrik. "


"Kamu tahu Tia di pabrik. Kamu ketemu Tia kemarin.?" Tanya Arga antusias.


Bara hanya mendengarkan saja. Dia duduk diam saja hanya menyimak pembicaraan mereka. Bara malah asyik memandangi Arin yang hari ini terlihat sangat cantik.


"Iya pak Bos. Tia kan datang ke mesin saya dan tertidur di sana."


"Jadi kamu yang menemukan Tia?"

__ADS_1


"Iya papa. Papa ga percaya apa yang Tia cerita kemarin."


"Oh jadi bukan Ocha yang menolong Tia."


"Ikh papa. dibilang Tia mau ketemu kakak cantik dan Tia mengikuti kakak."


Tia duduk di pangkuan Arin. Dia memainkan rambut Arin yang panjang di bawah bahu. Rambut yang hitam legam mengkilap sangat indah dan sehat.


"Aa kok ga ngomong kalau pagi ini mau kesini."


"Ini dadakan Arin. Semalem pulang dari sini Arga nelpon dan bilang kalau Tia pengen ketemu kamu."


"Oh gitu. Tapi.."


Arin tidak meneruskan ucapannya. Dia mendengar suara motor yang sangat di kenalnya dan sangat dirindukannya.


"Sebentar Tia turun dulu ya. Kakak mau nemuin temen kakak di luar sebentar. sebentar ya Aa dan pak Arga."


Arin menurunkan Tia yang duduk di pangkuannya. Arin berjalan keluar. Di pintu gerbang Fian sedang menunggu di atas motornya.


"Hai Fian.."


"Ayo berangkat. kok belum siap. Mobil siapa tuh. Ada tamu ya."


"Iya.. masuk dulu yuk. Ada dr Bara dan temannya."


"Ga deh. Gue tunggu aja sampai mereka pulang. Gue tunggu di bawah pohon jambu aja ya."


"Masuk aja dulu. Kan lo kenal. Temui mereka sebentar habis itu kita pergi."


"Kenapa harus bertemu mereka sih. Males gue.."


"Fian ikh sebentar saja.. "


Arin merajuk. Dia cemberut. Fian tidak tega. Dari pada tidak jadi pergi.


" Oklah. Yukk sayang.."


"Sayang.. sayang kepala lo peyang."


"Hahaha.."


Fian tertawa keras. Dia senang sekali menggoda Arin. Arin pasti akan memajukan bibirnya. Dan itu terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Fian berjalan sambil berusaha menggandeng tangan Arin. Tapi Arin menolak. Dia malah menabok lengan Fian dengan keras.


"Ga usah gandengan segala. Memangnya mau nyebrang."


"Apaan sih. Sakit tau. Kan biar mesra. Kan memang mau nyebrang. Nyebrangin hati lo. Hahaha.. "


"Dasar ga je lo.."


Dari dalam rumah dua pasang mata memperhatikan interaksi antara Fian dan Arin dengan muka yang sedikit kecewa. Melihat keakraban mereka berdua tentu saja membuat iri orang yang melihatnya. Fian dan Arin terlihat sangat serasi dan sepadan. Terlihat bisa saling mengimbangi dan melengkapi.


"Assalamu'alaikum." Sapa Fian ketika masuk.


"Wa'alaikumsalam.. Eh Fian apa kabar." Bara mengulurkan tangan mengajak Fian bersalaman. "Lama tidak jumpa, Bagaimana keadaan lo."


Fian menyambut tangan Bara. "Alhamdulillah bang, gue sehat dan baik selalu." Jawab Fian.


"Hai saya Arga." Arga pun juga mengulurkan tangan bersalaman dengan Fian.


"Saya Fian bang, Teman Arin."


"Kakak ganteng..."


Fian menoleh. Dia mendengar suara anak kecil yang tidak asing di telinganya.


"Tia..Kok disini."


"Kakak.."


Fian memandang ke arah Bara dan Arga bergantian.


"Tia anak saya. Apa anda mengenal Tia. Tia sayang mengenal Kakak ini."


"Iya papa. Dia yang menunggu Tia dulu saat Tia di rumah sakit. Papa ga dateng- datang dan kakak ini yang menggendong Tia." Jawab Tia polos.


"Makasih Fian telah menolong anak saya. Saya harus membayar dengan apa atas semua kebaikan yang kalian berikan kepada Kami."


"Apaan sih bang. Kita tidak minta balasan apapun. Kita cuma ga tega melihat anak kecil yang sedang menangis. Kita hanya sedikit membantu saja."


"Kakak rumahnya deket sini ya.." tanya Tia memotong ucapan Arga.


"Iya Tia.. Tia mau main ke rumah kakak?"


"Mau.. mau tapi tidak sekarang ya kakak ganteng."


Fian mencubit pipi Tia dengan gemas. Yang lain hanya memandang mereka berdua.


"Di minum dulu itu teh nya."


Arin memecah keheningan dua laki-laki tamunya yang sedang memperhatikannya interaksi antara Tia dan Fian.


"Terimakasih kasih Arin." Jawab mereka berdua bersamaan.


"Bagus ya kalian berdua. Kakak cantik dicuekin. Kakak cantik masuk aja deh."


"Jangan.." Jawab mereka berempat bersamaan.

__ADS_1


"Dih kompak sekali kalian. Lagian salah siapa kakak di cuekin."


Tia mendekati Arin.


"Kakak cantik maafin Tia ya. Tia bukan mendiamkan kakak cantik. Tapi Tia juga ingin berbicara sama kakak yang ganteng."


"Hehehe ... iya sayang. Silahkan. kakak cuma bercanda kok. Ya sudah sono terusin."


Tia kembali mendekat Fian. Dengan santainya dia duduk di pangkuan Fian. Mereka berdua asyik berbincang yang ga tau apa yang mereka bincangkan. Terlihat sangat akrab dan selalu diselingi tawa.


Sebenarnya Arin juga ingin berbincang dengan Fian. Ada yang penting yang akan dia sampaikan. Namun bagaimana lagi. Mana mungkin dia tidak memikirkan perasaan Tia.


"Arin.. Apa kamu mau pergi tadi." Tanya Bara. Dia melihat Arin yang terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu sambil menunduk.


"Eh.." Arin terkejut mendengar pertanyaan Bara.


"Sebenarnya saya sama Fian mau keluar sebentar. Mau jalan-jalan gitu."


Jawab Arin dengan malu-malu.


"Jadi kita menganggu dong. Aduh... bagaimana ini? Maaf ya Arin kita tidak tau." Arga ikut menyambung ucapan Bara.


"Eh.. tidak apa-apa kok. Bisa lain waktu. Masih ada waktu yang lain kok."


Arin menjadi tidak enak dengan jawaban dia tadi. Sebenarnya dia juga merasa bimbang. Dia benar- benar ingin berbicara banyak dengan Fian. Karena memang ada hal penting yang ingin dibicarakan. Tapi mau bagaimana lagi sedang ada tamu di rumahnya.


"Kalau begitu bisa lain kali kami ke sini lagi. Masih bolehkan. Tia mari kita pulang. Sudah siang. Kakak cantik mau ada acara."


"Eh.. tidak apa-apa Aa. Kita juga bisa lain waktu kok perginya.."


"Tak apa Arin. Pasti hari ini sudah kalian tunggu. Jadi kita bisa berkunjung lagi lain waktu."


Perasaan Bara sebenarnya tidak nyaman mendengar pengakuan Arin tadi. Bara merasa dia telah menyukai orang yang salah.


"Ayo Tia kita pulang. Besok main lagi. Ini sudah siang."


"Tapi pa.. Tia masih kangen sama kakak cantik dan kakak ganteng.."


Tia merajuk. Dia sudah cemberut saja. Mukanya ditekuk.


"Iya sih tidak apa-apa kok. Kita bisa kapan-kapan perginya. Iya kan Fian."


Arin memandang Fian. Dan Fian terhenyak mendengar perkataan Arin. Dia sadar waktunya tinggal hari ini saja. Dan itupun tinggal beberapa jam lagi. Fian melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir jam dua belas.


Fian memandang Arin dengan sendu. Bara memperhatikan itu semua. Bara merasa curiga dengan tatapan Fian ke arah Arin.


"Ayo Arga kita pulang dulu. Tia nanti om belikan es cream. Sekarang pulang dulu ya. Lain kali kita kesini lagi."


Tia masih cemberut. Namun dia tidak menolak ajakan Bara.


"Baiklah Om ganteng.."


Tia mendekati Arin dan mencium tangan Arin.


"Kakak Tia pulang dulu ya. Nanti Tia main kesini lagi. Bolehkan?"


"Tentu sayang. Kapanpun Tia mau. Tia boleh datang. Maafkan kakak ya. Kakak ada acara. Jadi tidak bisa lama-lama menemani Tia."


" Iya kakak. Tidak apa-apa. Ayo pa.."


Tia berjalan duluan ke arah mobil mereka. Arga mendekati Arin.


"Terimakasih telah menjaga anak saya. Terimakasih kasih telah menyayangi anak saya."


"Sama-sama pak. Tapi ini bukan apa-apa. Tidak perlu berterima kasih."


"Saya pulang dulu Arin. Masih boleh kan saya berkunjung kembali lain waktu."


"Tentu Aa. Pintu ini terbuka buat Aa."


Bara tersenyum mendengar jawaban Arin. Itu berarti dia masih punya kesempatan untuk mendekati Arin.


Sebelum masuk ke dalam mobil Bara mendekati Fian.


"Saya tau. Ada sesuatu dibalik sikap kamu ini."


Fian terkejut. Dia memandang Bara dengan seksama.


"Saya akan membuktikan ucapan yang pernah saya bilang pada Abang. Masih ingat kan? Tolong jaga Arin. Jangan buat dia menangis."


Fian berkata lirih pada Bara. Dia takut Arin mendengar ucapannya. Dan Bara mengangguk mantap.


"Saya akan menjaganya dengan nyawa saya."


"Terimakasih. Saya percaya pada anda." Fian menjabat tangan Bara erat. Mereka berbincang saling berbisik. Takut ada yang mendengar percakapan dua laki-laki tampan ini.


Dari jarak yang tidak begitu jauh Arin memperhatikan mereka berdua. Arin sedikit curiga dengan percakapan mereka yang bisik-bisik. Tapi Arin tidak ingin menganggu privasi mereka.


Akhirnya Arga dan Bara meninggalkan rumah Arin. Tia masih melambaikan tangan ke arah Arin dan Fian sampai mereka benar-benar tidak terlihat. Arin memandang Fian. Demikian juga dengan Fian. Mereka saling pandang dalam pandangan yang sangat dalam.


"Ekhm.. Pandangan matamu menarik becak.. Hahahaha...."


Mereka berdua terkejut.


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan like dan komen Terima kasih atas dukungannya ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2