Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 71


__ADS_3

Sudah seminggu Bara belum sekalipun mendengar kabar tentang Arin. Dia sibuk sekali. Banyak pekerjaan kali ini. Pasien di rumah sakit berdatangan karena kasus penyakit yang sedang mewabah saat ini.


Dia belum sempat berkunjung lagi ke rumah Arin. Sejak waktu dia mengantar Arin dulu. Dia juga lupa tidak meminta nomer telpon Arin.Dan sampai saat ini dia tidak tau bagaimana kabar Arin.


Kasus Tia sudah selesai. Tia sudah pulang. Ternyata Tia tidak mengidap leukimia. Laporan kesehatannya tertukar oleh pasien dengan nama yang sama. Tia hanya terkena demam berdarah dan untung bisa secepatnya diketahui. Sehingga penanganan pada Tia bisa segera di evaluasi.


Arga bisa tersenyum lega. Bara dan Bram juga tentunya. Karena kalau sampai salah diagnosanya, penanganan kepada pasien tentu akan salah juga. Untung nya pada saat itu Bara curiga dengan kondisi Tia. Dan secepatnya dia menyelidikinya. Dan beruntungnya tidak sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Siang itu, sesudah Bara selesai dengan pasien nya, pada saat jam istirahat, Bara menemui Bram.


"Bram.."


Bara memanggil Bram ketika dilihatnya Bram berjalan sendirian ke kantin. Tidak biasanya Bram sendirian. Biasanya dia selalu mengajak Bara untuk makan siang.


"Hei Bar.."


"Tumben ga ngajak gue makan siangnya."


"Maaf. Buru-buru tadi. Mau nelpon lo dulu malah ponselnya ketinggalan di laci meja."


"Hm.. Mau makan di kantin saja atau mau keluar."


"Di kantin aja Bar. Gue lagi males kemana-mana. Lagi males jalan."


"Ya udah ayoo..biar gue yang pesen. Lo mau makan apa. Tapi tunggu dulu deh. Tidak biasanya lo begini. Ada sesuatu kah yang tidak gue ketahui."


" Hm.. Tidak ada apa-apa. Hari ini gue sedang benar-benar tidak nafsu makan. Tapi perut gue sudah berbunyi dari tadi."


"Ok deh .. Bagaimana kalau kita makan nasi soto aja. Mungkin yang berkuah dan panas dan pedas bisa membuat lo semangat."


Bram mengangguk setuju. Bara menuju stan penjual soto. Sedangkan Bram mencari tempat duduk. Untung masih ada bangku di pojok yang masih kosong.


Sambil menunggu pesanan datang. Bram dan Bara berbincang-bincang.


"Bram, lo kenapa sih. Ada sesuatu yang terjadi kah. Tidak seperti biasanya lo terlihat lesu seperti ini."


"Tidak ada apa-apa. Hanya badan terasa capek saja. Beberapa hari ini pasien sedang banyak. Tau sendiri kan. Karena kasus penyakit yang sedang mewabah."


"Iya juga sih. Benar-benar menguras otak dan tenaga kita ya."


"Hm iya ... ngomong-ngomong bagaimana kabar Arin."


"Gue tidak tahu. Gue belum ke rumahnya lagi. Gue juga lupa tidak minta nomor teleponnya."


"Kan bisa minta di bagian informasi. Lo bagaimana sih."


"Iya juga. Kenapa tidak kepikiran sampai ke situ ya.Kalau tidak nanti hari Minggu deh gue main kesana."


"Baguslah.. lo harus semangat mengejar Arin. Semoga beruntung dan tentunya berjodoh."


"Amiin.. Iya Bram. Yang penting gue sudah berusaha. Soal hasilnya biarlah menunggu restu Allah."


Pesenan mereka datang. Mereka sangat menikmati semua makanan yang telah dipesan. Rasa capek membuat mereka sangat lapar. Benar makan makanan yang berkuah dan panas sangat menggugah selera. Memang mereka jarus mengisi tenaga karena tugas pekerjaan masih banyak. Karena kasus penyakit yang sedang mewabah belakangan ini sangatlah menguras tenaga dan pikiran mereka.


Mereka harus cekatan menangani semua kasus. Karena pasien terus saja berdatangan. Saking banyaknya pasien yang datang mereka sampai tidak sempat beristirahat. Baru hari ini mereka bisa sedikit bernafas lega. Karena dari rumah sakit pusat telah dikirim beberapa petugas medis yang akan membantu tugas mereka.


Mereka telah selesai makan siang. Waktu istirahat sudah habis. Sudah saatnya kembali bekerja. Mereka berdua janji bertemu lagi nanti sepulang bekerja. Mereka ingin menikmati bakso tempat langganan mereka di depan rumah sakit. Walaupun bekerja di satu tempat tapi mereka belakangan ini memang jarang bertemu. Karena memang pekerjaan yang sangat banyak dalam seminggu ini.


🌸🌸🌸


Arin sudah mulai masuk kerja. Luka diperutnya sudah kering. Tinggal sedikit lagi . Mungkin tinggal masa pemulihan saja. Namun begitu dia sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Dia sudah bisa bekerja kembali.


"Arin...."


Teriak Ocha saat melihat Arin memasuki tempat parkir. Kebetulan Ocha juga baru saja datang.


"Udah sembuh lo. Udah bisa masuk kerja."


"Seperti yang lo lihat."


Arin memutar tubuhnya seperti Cinderella. Ocha tertawa lebar melihat tingkah Arin.


"Hm.. iya deh. Yuk masuk dulu. Kita mengobrol di dalam ruang istirahat saja."


Ocha merangkul Arin. Mereka bersama berjalan beriringan masuk menuju ruang istirahat. Ruangan dimana para pekerja berkumpul sebelum tanda masuk berbunyi. Ternyata tempat itu masih sepi. Baru beberapa orang yang datang. Mereka tersenyum melihat kedatangan Arin dan Ocha.


"Duduk sini Rin. Beneran lo sudah tidak apa-apa. Sudah bisa berjalan normal."


"Maksud lo apa. Luka gue cuma diperut. Masih bisa berjalan mengitari mesin seperti biasa."


"Bukan begitu Arin. Luka lo tidak apa-apa Kalau buat patrol seperti biasa. Jatah mesin lo kan tetep delapan."

__ADS_1


"Iya Ocha. Gue masih sanggup. Gue masih kuat seperti dulu." ucap Arin. Dia tunjukkan lengannya seperti biasa.


"Hahaha... iya.. iya.. Gue tahu lo memang wonder women." Ejek Ocha. Arin hanya meringis.


"Weh .. Arin sudah masuk "


Tiba-tiba terdengar suara Wawan . Dia masuk ke ruangan bersama Joko.


"Bikin kaget aja sih. Anak cowok ga boleh masuk. Ini kan ruangan cewek." Ucap salah satu teman Ocha yang melihat kedatangan Wawan dan Joko.


Arin dan Ocha terkejut mendengar suara Wawan. Apalagi mereka berdua sudah masuk wilayah cewek.Ocha melotot pada mereka berdua.


"Eh.. apaan sih Cha. Sebentar doang. Cuma mau melihat Arin. Tidak apa- apa kan Rin kita masuk kesini sebentar."


Arin cuma tersenyum. Teman mereka yang lain juga cuma mengangguk. Memang di perusahaan tempat mereka bekerja dibedakan ruangan untuk cowok dan cewek untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.


"Gue sudah sehat. Sudah bisa masuk kerja. Kalian tega ya, teman sakit ga ada yang menengok. Dateng kek bawa parcel buah gitu. Apa amplop gitu." Arin memandang mereka dengan sedikit terlihat lemah. Padahal dia cuma berpura-pura.


"Hahaha.. drama di mulai."


Joko tertawa sedangkan Wawan cuma Tersenyum dan ikut menimpali ucapan joko.


"Nah.. kalo Arin sudah datang jadi seru lagi nih. Banyak drama diantara kita. Hahaha.." Wawan tertawa. Memang yang paling menghidupkan suasana adalah Arin. Dia sedikit berbicara namun sekali dia berkomentar pasti selalu bikin ramai .


"Kalian apa-apaan sih. Udah bel tuh .. yuk kita masuk. Nanti sore kita makan bakso lagi ya. Gue kangen kalian."


Arin berkata sambil berdiri dan berjalan keluar ruangan. Arin berjanji untuk berkumpul lagi nanti seru. Tentu saja disambut mereka dengan suka cita.


Semua karyawan mulai memasuki gedung pabrik di mana dilakukan kegiatan produksi. Termasuk Arin, Ocha, Wawan dan juga Joko. Semua bekerja dengan penuh semangat. Harus semangat. Semua demi untuk mengisi perut dan memenuhi kebutuhan lain tentunya.


Arin masih terlihat sedikit meringis saat dia harus membungkuk. Lukanya masih terasa sedikit nyeri. Namun dia tahan. Dia sudah berniat masuk kerja. Jadi harus siap dengan resiko itu. Dan memang dia harus masuk kerja karena sudah tiga mingguan dia tidak bekerja. Arin tidak mau di PHK. Dia masih butuh uang buat biaya kuliah.


Dari kejauhan sepasang mata memperhatikan tingkah laku Arin yang sedang meringis. Dari ruang pengawas sang anak pemilik perusahaan sedang meninjau di lapangan. Tapi dia hanya memantau dari ruang pengawas.


"Pak Teguh, saya mau tanya. Siapa karyawan yang terlihat sedang meringis di bagian sebelah sana."


Arga menunjuk di mana Arin berada.


"Oh itu. Dia Arin namanya. Dia baru masuk hari ini. Selama tiga mingguan dia tidak masuk karena sakit."


Arga menganggukkan kepala. Dia masih melihat ke arah Arin. Arga merasa kasian melihat Arin yang terlihat sedikit kesakitan.


"Ditusuk pisau saat ada perampok yang akan merebut tasnya."


"Oh .. korban perampokan."


Arga manggut-manggut. Dia merasa kasian melihat Arin. Tapi dia bingung harus berbuat apa.


"Pak teguh bisa panggil dia kemari sebentar."


"Siap Pak."


Teguh berjalan keluar ruangan. Dia menuju ke tempat di mana Arin sedang bekerja. Arin terlihat sangat tekun memeriksa dan menjaga mesin tenun itu agar tetap berjalan dan juga menghasilkan kain yang sesuai standar.


"Arin."


"Iya pak." Arin terkejut dipanggil oleh Teguh. Karena memang dia sedang berkonsentrasi melihat hasil kerja mesin yang di bawah pengawasannya.


"Dipanggil pak Arga sebentar."


"Eh, ada apa ya Pak."


"Tidak tahu. Segeralah menghadap beliau."


"Apa saya ada salah Pak?"


Arin merasa takut juga. Tapi dia merasa tidak berbuat kesalahan. Mengapa dipanggil oleh atasan. Arin tidak tau kalau Arga adalah anak dari pemilik perusahaan ini.


"Tidak tau Arin. Tadi pak Arga cuma bilang untuk memanggil kamu."


"Baiklah pak.Tapi siapa yang akan menggantikan saya menjaga mesin- mesin ini?"


"Tenang saja nanti saya akan menyuruh yang lain menggantikan kamu sebentar"


"Baiklah pak."


Arin berjalan bersama Teguh menuju ruang pengawas, Setelah Teguh menunjuk salah satu teman Arin untuk menggantikan pekerjaan Arin. Tentu saja Arin merasa sedikit takut kalau dia berbuat salah. Atau mungkin ini ada hubungannya dengan ketidakhadiran dia selama tiga minggu ini. Tapi Arin sudah siap dengan apa yang akan terjadi nanti.


Arin masuk mengikuti Teguh. Dia menganggukkan kepala pada Arga.


"Maaf ada apa Bapak memanggil saya."

__ADS_1


"Duduklah terlebih dahulu."


Arin duduk di kursi yang ada di depan Arga. Sedangkan Teguh kembali ke meja kerjanya. Arin memandang Arga sebentar. Arin seperti mengingat seseorang yang mirip dengan Arga. Tapi Arin lupa siapa. Dia menggelengkan kepala tanpa sengaja dan itu terlihat oleh Arga yang sedang memandang Arin juga.


"Ada apa, apa ada sesuatu?" Tanya Arga. Tentu saja Arin terkejut. Dia tidak tau kalau ternyata Arga memperhatikan sejak tadi.


"Tidak ada apa-apa Pak . Hanya sedikit bingung apa saya berbuat kesalahan, sehingga saya dipanggil kemari."


Arga menarik nafas. Dia juga bingung mau ngomong apa. Mau bertanya yang terjadi pada Arin, Arga merasa tidak enak juga.


"Tidak ada kesalahan yang anda perbuat. Cuma tadi saya melihat anda meringis seperti menahan sakit. Apa anda sakit? "


"Tidak pak ,Saya tidak apa-apa." Jawab Arin. padahal sebenarnya lukanya sedikit nyeri.


"Kata Pak Teguh anda habis sakit dan tidak masuk selama tiga minggu. Kalau boleh tau anda sakit apa?"


Arin memandang Arga sebentar. Kemudian dia menunduk lagi. Arin berpikir haruskah dia menceritakan semuanya pada atasannya tersebut.


"Iya pak, hanya sedikit luka tusuk di perut. Dan Alhamdulillah sekarang sudah sembuh dan bisa kembali bekerja."


"Baguslah kalau begitu. Jika luka kamu masih sakit, silakan beristirahat dahulu sampai benar-benar sembuh. Daripada menganggu aktivitas kamu."


Arin terkejut apa jangan-jangan dia diskors.


"Maaf Pak, Maksud Bapak, apa saya diskors."


Arga terkejut mendengar pernyataan Arin. Dia tidak bermaksud begitu. Entahlah Arga merasa bersimpati saja setelah tadi mendengar keterangan dari Teguh.


"Bukan begitu. Maksud saya kalau luka kamu masih sakit kamu masih boleh mengambil ijin untuk tidak masuk kerja sampai luka kamu sembuh dengan catatan ada surat keterangan dari dokter dan gaji kamu akan tetap dibayar utuh. "


Teguh hanya menyimak. Dia merasa heran tidak biasanya Arga banyak bicara seperti ini. Teguh tersenyum di balik meja kerjanya. Dia merasa ada sesuatu dengan atasannya itu.


"Tidak Pak, Saya masih sanggup bekerja. Terima kasih atas pengertian Bapak."


Terdengar bel tanda istirahat berbunyi. "Bel tanda istirahat sudah berbunyi. silahkan kamu istirahat dan jangan terlalu dipaksakan."


Ucap Arga lagi. Arin mengangguk.


"Saya permisi pak. Sekali lagi terima kasih atas perhatian Bapak. Mari Pak.. Mari pak Teguh saya duluan."


"Silahkan."


Jawab Arga dan Teguh bersamaan. Arin keluar ruangan menuju ruang istirahat. Dia sudah merasa lapar karena memang sudah saatnya dia makan.


Arga masih memandang Arin sampai tidak terlihat.


"Ekhem.. ekhem.."


Arga terkejut. Dia menoleh ke arah Teguh.


"Apa maksud kamu hm.."


"Cantik ya Pak.."


"Maksud kamu apa dan siapa."


"Tentu saja Arin dong Pak. Bapak melihatnya sampai kaya begitu."


Arga diam saja. Dalam hati dia membenarkan ucapan Teguh. Dia merasa tertarik dengan Arin. Tapi dia malu mengakuinya.


"Biasa saja. Wanita pastilah cantik."


Jawab Arga tenang. Dia memasang wajah datar. Dia tidak mau terlihat kalau dia tertarik pada Arin.


Teguh hanya tersenyum. Dia sudah kenal Arga lama. Bahkan sejak kecil. Jadi Teguh tau bagaimana sikap dan sifat Arga yang sebenarnya.


"Sudah siang. Apa tidak mau pergi makan."


"Hm, ayolah kamu temani saya. Habis itu saya mau kembali ke rumah. Kasian Tia sendirian. Omanya sedang pergi. Dan jangan lupa siapkan semua laporan perkembangan pabrik ini nanti sore."


"Siap pak Bos."


Teguh memberi hormat dengan tangannya. Kalau orang lain mungkin tidak berani. Tapi teguh sudah terbiasa dengan Arga dan Bapaknya. Karena memang Teguh adalah orang kepercayaan keluarga Arga.


Mereka berdua keluar ruangan. Arga masih penasaran dengan Arin dan berjanji dalam hati besok akan berkunjung lagi ke mari. Dia akan menerima tawaran sang Papa untuk memegang pabrik textile ini.


Apakah yang akan dilakukan Arga selanjutnya.


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan like dan komen Terima kasih❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2