Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 59


__ADS_3

Arin sampai rumah


Mobil Bara memasuki halaman rumah Arin.Di susul mobil Pak Santosa. Ayah, Rama dan Nia sudah bersiap di depan pintu. Rama sengaja tidak masuk sekolah khusus menyambut kakaknya pulang. Demikian juga dengan Nia dan Ayah yang ijin tidak kerja. Padahal mereka bertiga tahu pasti nanti Arin dan bunda akan marah jika mereka sampai melakukan hal begini. Tapi karena saking sayangnya mereka bertiga pada Arin mereka sengaja ijin. Lagian mereka bertiga juga jarang sekali ijin kalau tidak ada keperluan yang sangat penting. Dan kepulangan Arin adalah hal yang sangat penting buat mereka.


"Selamat pagi kakak sayang. Selamat kembali ke rumah." Sambut Rama. Dia sampai membungkukkan badan segala. Semua orang tertawa.


"Lebay kamu Ram. Tapi terima kasih atas sambutannya. Kamu ga sekolah hari ini?" Arin mengacak-acak rambut Rama.


"Meliburkan diri kak. Habis kangen sama kakak tersayang."


"Hilih, Kamu Ram. Bukan karena ada maunya kan?"


"Diih, kakak kok begitu ngomongnya. Rama beneran kangen sama kakak. Kemarin Rama ga sempat ke rumah sakit."


"Sudah.. sudah.. biar masuk dulu. Kalian berdua malah berdebat di sini. Itu kasian tamunya. Kelamaan berdiri.


Mari masuk pak Santoso dan Ibu Mia. Juga Dokter Bara, Silahkan masuk." Akhirnya Ayah menengahi perdebatan antara Arin dan Rama. Memang mereka berdua kalau bertemu pasti ada saja yang diributkan.


"Terima kasih Pak Yanto. Jangan format seperti ini. Kita kan teman lama."


"Tapi sekarang lain. Anda sekarang seorang camat. Panutan masyarakat."


Mereka semua masuk ke dalam rumah. Nia sudah menyiapkan singkong rebus teh hangat dan beberapa cemilan.


"Silahkan dicicip. Adanya cuma hidangan sederhana. Maaf orang kampung."


"Ini malah enak. Mana masih hangat. Baru matang ya."


"Iya . Silahkan di makan."


Setelah menyuguhkan hidangan Nia kembali ke belakang.


"Arin, buat istirahat saja. Rebahan di kamar." Ucap Bara yang memperhatikan Arin dari tadi. Arin yang terlihat duduk dengan tidak nyaman.


"Iya pak Dokter. Bunda ,Ayah, Arin mau duduk di bale di halaman saja ya. Udaranya masih sejuk. Arin pengen mencari angin."


"Iya Rin."


"Mari Om, Tante, pak dokter."


"Saya ikut Rin."


Arin mengangguk. Bara mengikuti langkah Arin menuju halaman samping rumah. Mereka berdua berjalan beriringan. Langkah Arin masih terlihat agak kaku karena masih ada sedikit rasa nyeri di lukanya.


"Apa perlu saya bantu Rin "


"Tidak usah pak Dokter, kita duduk di bale di bawah pohon jambu sono saja ya Pak." Ucap Arin. Dia menunjukkan sebuah bale bambu yang ada di halaman, di bawah pohon jambu air yang sedang berbuah.


"Nyaman sekali ya di sini. Ada angin yang bertiup semilir. Sejuk sekali. Apalagi sambil makan rujak." Bara melihat sekeliling. Dia memandang pohon jambu yang sedang berbuah berwarna merah. Sangat menggiurkan.


"Memang Pak Dokter doyan rujak."


"Saya suka, asal tidak terlalu pedas."


"Kalau mau nanti Rama biar saya suruh metik jambu buat Bapak."


"Arin, ini di luar rumah sakit. Bisa ga kalau manggilnya tidak usah terlalu formal. Panggil nama saja juga tidak apa-apa Tidak usah pakai pak segala."


"Tidak sopan dong kalau nama doang."


"Ya udah kamu panggil mas aja, atau Aa juga boleh." Bara tersenyum membayangkan jika Arin memanggilnya dengan embel-embel mas atau Aa. Pasti terdengar sangat lucu.


"Kenapa pak Dokter tersenyum sendiri?"


"Tidak Arin, saya lagi Membayangkan makan rujak di bawah pohon jambu ini. Boleh kan suatu saat nanti saya bermain kesini lagi?"


"Tentu boleh Pak Dokter."


"Panggil saja saya dengan nama saja. Jangan format kalau di luar lingkungan rumah sakit. Berasa saya menghadapi pasien dong."


"Baiklah Aa Bara, aku panggil Aa aja ya." Arin tersenyum setelah mengucapkan kalimat tersebut. Terasa sangat aneh. mungkin karena belum terbiasa.


Bara juga tersenyum mendengar perkataan Arin. Dadanya berdebar lebih cepat. Panggilan Arin terdengar sangat mesra di telinganya.


"Nah, kalau begitu kan terasa lebih akrab. Lebih enak di dengar."


"Iya juga ya. Baiklah Aa. Saya ambilkan teh dan cemilannya dulu ya." Arin bangun dari duduknya. Tapi di tahan oleh Bara.


"Tidak usah. Nanti saya ambil sendiri. Kamu masih susah berjalan begitu."


"Kalau begitu aku suruh Rama saja ya."


"Rama... Bawa teh dan cemilannya Pak Dokter ke sini." Arin berteriak.Dan untungnya Rama mendengar teriakkan Arin.


"Tidak usah berteriak seperti itu. Kasian jadi merepotkan Rama."

__ADS_1


"Tidak kok Bang, Rama tidak repot."


Ternyata Rama sudah sampai tempat di mana mereka duduk.


"Cepat sekali pesanan datang. Terima kasih Rama."


"Sama-sama bang. Tidak repot kok."


Rama melangkah menjauh dari mereka berdua.


"Tunggu dulu Ram"


"Ada apa lagi kak. Ada yang dibutuhkan lagi kah?"


"Tolong kamu petik jambu yang sudah matang. Buat Aa Bara dan buat tante Mia."


"Ekhem.. manggilnya udah Aa aja kak." Rama tersenyum menggoda sang kakak.


"Apaan sih kamu. Kata Aa Bara biar ga seperti di rumah sakit. Tapi memang betul si."


"Tapi iya juga sih. Terdengar lebih akrab aja ya bang. Ya udah bentar aku ambil kantong plastik dulu ke dalam ya."


Bara mengangguk. Dia senang berada di tengah-tengah keluarga Arin Yang sangat hangat ini.


Rama melangkah pergi untuk mengambil kantong plastik. Bara tersenyum. Panggilan Aa sangat nyaman di dengar di telinga. Bara merasa sangat bahagia. Seperti di panggil oleh sang kekasih. Terdengar sangat merdu dan mesra.


"Di minum tehnya Aa. Nanti keburu dingin. Juga singkong rebus nya. Maaf ya cuma seadanya."


"Ini juga sudah enak. Saya juka suka singkong rebus. Papa saya juga suka. Setiap hari libur papa pasti request sama Mama. Minta dimasakin singkong rebus." Bara berkata dengan penuh semangat. Dia mengambil sepotong singkong rebus yang masih mengepulkan asap. Terasa nikmat.


"Aa doyan singkong. Aku kira orang kaya tidak suka makanan kampung."


"Semua makanan sama. Tidak ada makanan orang kaya atau pun orang kampung. Yang penting enak di makan dan tidak beracun."


Rama datang dengan membawa kantong plastik besar.


"Aku manjat dulu bang. Mau banyak atau sedikit jambu nya."


"Yang banyak Ram. Siapa tahu bisa di jual nanti di jalan.Hehehe..."


"Abang bisa aja.. Boleh banget itu bang."


Rama memanjat pohon jambu yang berbuah lebat. Dia memetik Dua kantong besar jambu yang sudah masak itu. Pasti segar kalau di rujak siang hari.


"Udah banyak Ram, sudah kamu turun. Cuma buat tante Mia sama Aa kan."


Rama menurunkan dulu dua kantong plastik jambu yang baru di petiknya. Di bantu Bara menangkap dari bawah.


"Wah, banyak sekali. Boleh saya mencoba satu buah?"


"Silahkan Aa, banyak juga boleh. Ga ada yang melarang."


Bara mengambil satu buah jambu yang berwarna merah. Kemudian mencari kran air untuk mencuci Jambu itu.


"Manis sekali. Enak segar. Mama pasti suka."


"Benarkah segar banget. Apalagi baru metik dari pohon. Mana alamiah tanpa pestisida. Lebih aman kan bang."


"Benar sekali Ram. Kamu pintar dan kelihatan nya kamu pemerhati lingkungan ya "


"Ga juga bang. Aku memang suka bercocok tanam. Bunga-bunga yang di halaman depan itu, aku juga yang menanam di bantu bunda tentunya."


"Wah, kamu memang hebat ya. Jempol dua deh buat kamu." Ucap Bara sambil mengacungkan kedua jempolnya.


Mereka semua tertawa. Bara melihat jam tangannya. Tidak berasa. Seperti nya baru sebentar duduk berbincang. Ternyata sudah siang. Bara kasian melihat Arin yang sesekali terlihat meringis. Mungkin lukanya terasa nyeri. Dan memang seharusnya dia istirahat hari ini.


"Ternyata sudah siang, saya pamit pulang dulu ya"


" Kayaknya baru sebentar sudah siang saja. Hm.. baiklah Aa . Jangan lupa jambu nya di bawa. Dan juga singkong yang tadi pagi ayah baru mencabut nya."


"Iya Arin. Kamu istirahat biar cepat sembuh. Minggu depan kontrol bekas jahitan ya."


"Baik Aa Bara." Jawab Arin. Sebenarnya Arin masih merasa canggung dengan panggilan itu. Tapi karena Bara sendiri yang minta. Ya ok lah.


"Ayo saya antar ke dalam pamit sama Ayah dan bunda."


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah. Di dalam para orang tua sedang berbincang-bincang dengan serius. Entah apa yang mereka perbincangkan. Karena begitu mereka masuk, semuanya terdiam. Tadi sepertinya ada ketegangan diantara mereka berempat.


"Ayah, Bunda Bara pamit dulu. Biar Arin bisa istirahat."


"Iya pak Dokter, terima kasih telah membantu kami dan juga sudah mau mengantar Arin pulang sampai rumah."


"Sama-sama bunda. Terima kasih singkongnya enak. Dan terima kasih juga buat jambu dan singkong mentahnya. Papa dan mama saya pasti suka."


"Cuma singkong saja pak Dokter, kami tidak bisa memberi yang lebih "

__ADS_1


"Ini sudah lebih dari cukup. Saya permisi. Mari Pak Santosa dan Ibu Mia saya duluan. Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumsalam..."


Bara pulang. Mobilnya sudah meninggalkan halaman rumah Arin. Bahkan sudah jauh tidak terlihat.


Mereka kembali masuk ke rumah.


"Arin sini duduk. Ayah mau bicara sedikit sama kamu. Mumpung ada keluarga Omed."


"Iya Ayah, memangnya ada apa Yah."


"Begini Arin. Ini tentang Omed. Kamu tentu sudah tau yang terjadi sebenarnya kan?" Mama Omed mulai bicara intinya.


"Iya Tante, saya sudah tau semuanya. Tentang dalang perampokan saya kan?"


"Iya Arin. Tante minta maaf. Ini salah tante bisa mendidik anak."


" Sudahlah Tante. Saya sudah memaafkan kesalahan Omed dan teman-temannya. Tapi semua sudah di tangani kepolisian. Biarlah semua berjalan sesuai prosedur yang berlaku." Ucap Arin santai. Dia memang sengaja melakukan ini, untuk membuat efek jera pada pelakunya. Arin punya rencana tersendiri buat menghukum Omed dan kedua temannya.


"Iya Arin. Kami tahu. Terima kasih sudah memaafkan kesalahan Omed. Itu yang terpenting. Soal hukuman, kami iklas kalau memang itu yang terbaik buat Omed." Tante Mia menitikkan air mata. Dia bingung harus bagaimana. Sebenarnya dia ingin memohon pada keluarga Arin untuk mencabut tuntutan kepada Omed. Namun Omed memang bersalah. Sudah sepantasnya mendapatkan hukuman yang sesuai dengan perbuatannya.


"Untuk biaya rumah sakit yang Tante keluarkan akan Arin ganti. Tapi dengan cara dicicil. Karena Arin hanya buruh pabrik. Bagaimana Om dan Tante?"


"Tidak Arin. Tidak usah diganti kami iklas. Ini sebagai tanda penyesalan kami. Bukan hanya karena perampokan itu saja yang membuat kami membantu biaya rumah sakit kamu. Tapi juga karena sebenarnya, kami kami dulu telah berbuat curang pada Ayah kamu."


Tante Mia tergugu. Dia menangis tersedu.


"Maafkan kami Mas Yanto dan jeng Ida. Mungkin kalau dulu kami tidak curang, kamu tidak akan di pecat."


Arin memandang ayah dan bunda bergantian meminta penjelasan. Namun Arin tidak mendapatkan apa yang dia cari. Ayah dan bunda hanya diam saja. Ayah menarik nafas dalam.


"Sudahlah Mia, Santoso, Tidak usah di bahas lagi. Ini sudah berlalu sangat lama. Aku sudah mengikhlaskan semuanya. Hidupku juga sudah tenang. Walaupun aku hanya sebagai buruh serabutan, Tapi kami masih bisa hidup dengan layak." Ucap Ayah dengan sangat tenang. Tak ada raut wajah emosi sedikitpun.


Arin sebenarnya penasaran. Tapi tidak mungkin Arin memaksa mereka untuk menceritakan apa yang dulu pernah terjadi.


"Tapi Mas, hal ini yang membuat kesalahpahaman terus berlanjut sampai sekarang."


"Sudah .. aku bilang cukup. Aku tidak mau membahas semuanya lagi. Semua sudah aku tutup. Aku mau istirahat."


Ayah bangun dan meninggalkan ruang tamu begitu saja. Arin semakin bingung apa yang terjadi sebenarnya, sampai membuat ayah bersikap seperti ini.


"Maafkan Mas Yanto ya jeng. Mungkin yang lalu sebaiknya tidak usah di bahas lagi. Hanya membuat luka lama terbuka lagi."


"Kalau begitu kami permisi jeng. Sampaikan ucapan permintaan maaf kami pada Mas Yanto."


"Iya jeng."


Mama Omed memeluk bunda sambil menangis. Sedangkan pak Santoso hanya diam saja. Dia tahu masalah yang sebenarnya. Namun tidak ingin memperkeruh suasana. Mungkin memang belum saatnya semua terungkap sekarang.


"Kami pamit jeng Ida. Sekali lagi maafkan Semua kesalahan yang telah kami perbuat. Kami permisi. Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumsalam.." Jawab Arin dan bunda bersamaan.


"Sebentar Tante. Ini ada sedikit hasil kebun kami hanya buah jambu. Di terima ya semoga bisa menyegarkan hari yang panas ini."


"Terima kasih Arin."


Tante Mia menerima kantong yang berisi jambu dari Arin dan kemudian memeluk Arin. Arin terkejut. Namun dia diam saja. Arin hanya tersenyum. Pak Santoso dan tante Mia melangkah keluar rumah. Menuju mobil mewah mereka yang terparkir di halaman rumah Arin. Akhirnya mobil pak Camat Santoso meninggalkan rumah Arin.


Sebenarnya banyak tetangga yang ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah Arin. Tentu saja karena di depan rumah ada dua mobil mewah terparkir. Apalagi salah satu mobil itu milik pejabat. Namun mereka hanya bisa melihat dari jauh. Tidak mungkin ikut mendengarkan percakapan mereka dari dekat.


"Arin , kamu istirahat ya Nak. Sono masuk kamar."


" Iya bunda. Arin masuk kamar dulu. Tapi kemana kan Nia sama Rama bunda?"


"Nia berangkat kerja, tadi dia hanya ijin terlambat saja. Sedangkan Rama bukannya masuk kamar ya."


"Ya udah bunda, Arin juga masuk kamar. Badan Arin masih terasa pegal semua. Arin istirahat dulu ya bund."


Arin melangkah ke dalam. Sampai di depan kamar Ayah, Arin berhenti sebentar. Dia memandang ke dalam. Namun hanya sebentar kemudian Arin meneruskan langkah masuk ke dalam kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya yang masih terasa pegal. Lukanya masih sedikit terasa nyeri.


Arin masih kepikiran ucapan ayah tadi. Apa yang sebenarnya terjadi di masa lampau. Sampai ayah bisa berkata begitu keras pada Tante Mia. Tidak biasanya ayah bersikap begitu. Pasti kejadian ini membuat ayah sangat terluka. Arin pengen tahu tapi masih dia tahan. Nanti kalau ayah sudah tidak marah lagi. Pasti dengan senang ayah bercerita pada Arin. Itulah biasanya yang ayah lakukan kalau sedang marah.


Arin ingin memejamkan mata. Namun tidak bisa juga. Dia masih teringat kejadian semalam bersama Fian.


Arin tersenyum mengingat semuanya. Namun dia merasa aneh dengan semua ucapan Fian dan juga semua sikap Fian.


"Semoga ini semua bukan firasat buruk. Semoga ini karena Fian sedang menunjukan sisi perhatiannya pada gue."


Arin memejamkan mata berusaha untuk tidur. Dan selalu saja bayangan Fian yang muncul.


Apa yang sebenarnya terjadi pada Fian.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like dan komen


Terima kasih❤️❤️❤️❤️


__ADS_2