
Hari ini hari Sabtu. Arin kerja cuma sampai pukul setengah tiga. Sepulang kerja dia telah berjanji bertemu dengan Bara. Arin ingin segera memberi jawaban kepada Bara.
Walaupun sebenarnya Bara tidak menuntut jawaban secepatnya. Karena memang Bara tahu bagaimana perasaan Arin. Namun Arin merasa dia harus segera memberi jawaban.
Pasalnya Arin memang tidak ingin memberi harapan palsu kepada Bara. Arin ingin segera berbicara jujur pada Bara. Tentang semua yang dia rasakan selama ini.Arin berpikir, secepatnya Bara harus mengetahui segalanya. Mengetahui tentang segala yang dia rasakan.
Sepulang kerja Arin langsung menuju ke tempat yang telah dia janjikan kepada Bara. Di mana lagi kalau bukan di depan Rumah sakit. Karena memang rumah sakit tersebut selalu dia lalui jika mau pergi atau pun sepulang kerja. Untuk menghemat waktu juga dan memang tempatnya strategis. Sekaligus di depan Rumah sakit banyak penjual jajanan yang sangat enak.
Arin tiba di Rumah sakit pukul tiga. Sedangkan dia berjanji bertemu dengan Bara pada pukul empat.
" Masih jam tiga. Hm, enaknya ngapain dulu ya. Dari pada pulang dulu."
Arin Sampai terlalu awal. Dia sengaja tidak pulang ke rumah terlebih dahulu. Toh dia hanya menunggu satu jam dari waktu yang telah dia tentukan. Pulang pun percuma tidak bisa istirahat.
"Mending muter-muter dulu di area rumah sakit. Eh iya kan ada taman yang indah di dalam area rumah sakit. Mending bertemu di sana saja deh."
Arin masuk ke area rumah sakit dan memarkirkan motornya di tempat parkir. Sebelum itu dia memberi pesan singkat kepada Bara , Bahwa dia akan menunggu Bara di taman yang ada di area Rumah sakit.
Arin berjalan-jalan di koridor Rumah sakit sambil bersenandung pelan. Sebenarnya untuk mengurangi rasa nervous nya karena akan bertemu Bara. Jujur saja Arin merasa deg-degan. Dia masih bingung mau menjawab apa nanti. Yang dia yakini hanya satu. Yaitu apa yang spontan keluar dari mulutnya itu jawaban atas hatinya. Dia sudah tidak ingin memikirkan resiko apa yang akan dia dapatkan atas keputusan nya nanti.
Di tengah perjalanan dia berhenti. Dia terhenyak. Dia seperti melihat seseorang yang dia kenal. Seseorang yang telah tiga bulan tidak dia temui.
"Bukan kah itu Fian. Eh iya apa ga sih." Walaupun ragu, Arin tetap saja mengikuti Fian dari belakang. Arin melihat Fian mendorong kursi roda
",Siapa yang sakit ya?"
Arin terus mengikuti kemana Fian melangkah. Namun masih dalam jarak aman. Arin sengaja belum ingin menegur Fian. Pasalnya Arin masih merasa kecewa atas kepergian Fian yang tanpa pamit dan tak memberi kabar sedikit pun.
Sebenarnya Arin ingin tahu alasan Fian menjauh darinya. Tapi tidak sekarang. Nanti jika saatnya tiba dia akan bertanya sendiri pada Fian.
Dari jauh Arin melihat Fian berhenti di ruangan yang sama dengan dirinya saat di rawat dulu.
",Itu ruang ICU. Siapa yang sakit ya. Kok gue tidak mendengar berita apapun."
Dilihatnya Fian berhenti lama di depan pintu. Tapi sejurus kemudian Arin melihat Fian masuk dengan membuka pintu sedikit kasar.
Setelah Fian masuk, Arin segera mendekati ruangan tersebut. Arin melihat ke dalam melalui jendela kecil. Dia melihat Fian yang berdiri disana dan juga ada Andra. Namun yang terbaring sakit tidak terlihat.
Tiba-tiba Arin melihat Fian berjalan mendekati pintu. Buru-buru Arin bersembunyi. Untung saja ada tempat untuk bersembunyi. Kalau tidak dia pasti ketauan. Bukan Arin tidak ingin bertemu dengan Fian. Namun karena ada yang aneh di diri Fian belakangan ini.
Ternyata Fian hanya mengambil kursi roda. Arin keluar dari persembunyiannya. Bermaksud akan kembali ke tujuan semula yaitu menuju taman. Namun sampai di depan ruangan yang di masuki Fian tadi, Arin mendengar suara seorang perempuan yang sedang marah-marah. Arin menghentikan langkahnya ketika dia mendengar namanya ikut disebut.
Arin terkesiap. Suara itu suara yang orang sangat dia kenal. Ya suara Maria. Arin mendengarkan sebentar apa yang mereka bicarakan di dalam.
"Arin lagi... Arin lagi..Hanya gadis miskin itu yang ada di otak kamu. Dia pakai ilmu pelet apa sih. Sampai kamu tidak bisa lepas dari dia. Sekali lagi kamu berhubungan dengan gadis sialan itu. Kamu tidak mama anggap sebagai anak."
Deg. Jantung Arin berdebar sangat keras. Dia benar-benar terkejut mendengar ucapan Mamanya Fian. Air Matanya keluar. Dia merasa sangat terpukul. Walaupun sebenarnya sudah terbiasa mendengar umpatan dan makian dari Maria, namun baru kali ini dia merasa sangat sakit hati. Pasalnya ini menyangkut Fian juga.
Arin jadi mengerti alasan kenapa Fian menjauhinya belakangan ini.
__ADS_1
"Salah gue apa. Jadi ini yang membuat Lo menjauh dari gue. Fian gue mengerti. Gue tidak akan menemui Lo lagi."
Arin berlari menjauh dari tempat itu. Hatinya terasa sakit. Bukan karena makian untuknya, namun juga dia merasa kasian dengan Fian. Dia yakin Fian juga merasa sama hancurnya dengan dirinya.
Sebegitu bencinya kah orang tua Fian padanya. Sehingga semua menjadi seperti ini. Arin yakin Fian sangat tertekan dengan semua ucapan sang Mama.
"Salahkah persahabatan kita ini Fian? Salahkah hubungan kita selama ini. Dosa apa sebenarnya di masa lalu. Sehingga mamamu begitu membenci gue."
Arin melihat Fian berjalan ke arah pintu. Buru-buru Arin menjauh. Dia tidak ingin bertemu Fian saat ini. Walaupun sebenarnya dia juga ingin memberi dukungan pada Fian. Namun Arin berpikir jauh lebih baik jika dia menghindari saja. Dia tidak ingin Fian semakin di marahi oleh sang mama.
Arin berjalan tergesa. Sesekali dia menengok ke belakang. Dia melihat Fian mengikutinya. Arin segera bersembunyi. Sebisa mungkin dia ingin menghindar dari Fian.
Dan berhasil. Fian sudah tidak terlihat lagi. Fian pasti kehilangan jejaknya. Akhirnya Arin berjalan menuju taman. Dia ingin mencari tempat yang nyaman untuk sekedar menenangkan pikirannya. Arin duduk di salah satu bangku taman. Arin menumpahkan kesedihan nya di sana. Tak terasa air matanya keluar.
Sebenarnya dia tidak secengeng ini. Sebenarnya Arin tidak ingin menumpahkan air matanya sia-sia. Dia bukan orang yang cengeng. Dia jarang menangis di tempat umum seperti ini. Namun kali ini perasaan nya sungguh sangat sakit. Arin sedikit terisak. Namun tiba-tiba dia melihat sebuah sapu tangan terulur padanya.
"Kenapa.. Ada apa menangis seperti ini."
Arin terkejut. Dia tidak menyadari jika ada orang di tempat itu. Arin mendongak. Dia ingin melihat siapa yang mengulurkan sapu tangan. Sejurus pandangannya melihat sesosok orang yang ingin dia temui. Arin berdiri dan tanpa sadar dia memeluk tubuh itu. Dia memeluk laki-laki itu dan menumpahkan air matanya di dada sang lelaki. Laki-laki tersebut membalas pelukan Arin. Dia mengelus kepala Arin dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Ada apa. hm.. kenapa? Ada yang menyakiti kamu kah."
Arin menggelengkan kepala. Dia mengurai pelukannya. Dia menatap sang lelaki.
"Aa. boleh Arin bertanya?"
Sang lelaki menghapus airmata yang menetes di pipi Arin. Arin tersipu. Dia merasa malu. Namun hatinya sedikit terhibur.
"Dih.. bagaimana sih."
Arin terdiam. Namun dia menunduk. Dan mengumpulkan keberanian untuk mengeluarkan apa yang ada di pikirannya.
"Aa apa benar perasaan Aa pada ku."
"Tentu benar. Dan sudah sejak lama saya simpan rapat-rapat di dalam lubuk hati saya."
Arin masih menunduk. Namun sejurus kemudian dia beranikan diri menatap Bara.
"Aa tidak mempermasalahkan status sosial Arin kah? Arin hanya orang miskin. Arin tidak punya apa-apa yang bisa Arin banggakan."
Bara menutup bibir Arin dengan telunjuknya. Arin terkejut. Dia tidak menyangka Bara berani berbuat demikian.
"Jangan berpikir begitu. Saya tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Cinta saya tulus untuk kamu."
Arin terdiam lagi. Dia kehilangan kata-kata mendengar ucapan Bara.
"Bagaimana dengan keluarga Aa. Apa tidak menjadi masalah juga."
"Tidak, Saya yakin mereka juga akan menerima kamu."
__ADS_1
Arin terdiam, walaupun hatinya masih ragu. Tapi kali ini dia beranikan diri untuk melangkah. Karena dia melihat ketulusan Bara selama ini. Dan juga karena kejadian Yang baru saja dia alami.
"Aa, kalau sudah yakin, maukah Aa menikahi Arin dalam waktu dekat ini?" Bara terkejut. Dia tidak pernah akan secepat ini. Dia tidak menduga sama sekali dengan ucapan Arin barusan.Ini seperti mimpi. Benar-benar di luar perkiraannya.
Namun sekarang Bara yang menjadi ragu. Tidak mungkin tidak ada sesuatu kejadian yang melatarbelakangi ucapan Arin barusan. Pasti ini semua ada hubungannya dengan keadaan Arin sebelumnya. Karena Bara tahu bagaimana isi hati Arin selama ini.
"Apa kamu sudah yakin dengan ucapan kamu itu. Kamu sudah pikirkan."
Arin terdiam. Namun sejurus kemudian dia mengangguk juga.
"Iya Ada, Arin sudah yakin."
Bara senang dan sekaligus bingung kenapa bisa secepat ini.
"Ok siap tuan putri. Nanti setelah bang Arkan menikah saya akan melamar kamu."
Arin diam. Saat ini dia tidak ingin berpikir apa-apa lagi. Dia hanya ingin menjauh dari Fian. Mungkin ini adalah jalan yang ditunjukkan Allah untuk nya.
Bukan Arin terburu-buru. Namun dia sudah tidak punya jalan lain lagi selain menunjukkan ke orang-orang kalau dia dan Fian memang murni hanya sebatas teman. Arin ingin menunjukkan pada dunia kalau bukan hanya Fian dunianya.
Ini semua demi kebaikan semuanya. Kebaikan dia dan keluarganya. Dan juga demi kebaikan Fian juga. Arin tidak ingin Fian selalu mendapat Omelan dari kedua orang tuanya. Arin kasian melihat Fian selalu hidup dalam tekanan kalau masih tetap berteman dengannya.
Sebenarnya Arin tahu kalau dari kejauhan Fian melihat apa yang dia lakukan dengan Bara. Arin sengaja menunjukkan pada Fian kebersamaan mereka agar Fian semakin yakin untuk bisa menjauh darinya.
Bahkan Arin juga melihat raut kesedihan di wajah Fian melihat hal yang dia lakukan. Melihat saat Fian berjalan menjauh dari area taman tersebut dengan raut muka yang begitu sendu. Bukan dia tega tapi memang Arin harus tega. Agar semuanya bisa berjalan sebagaimana mestinya. Arin malah sengaja melakukannya. Dia memang harus melihat realita bahwa dia tidak akan pernah bersatu dengan Fian.
Bukan hanya Arin, sebenarnya Bara pun tahu keberadaan Fian. Bahkan Bara menyadari kalau Arin sengaja menunjukkan kemesraan di depan Fian. Bara hanya mengikuti permainan ini. Namun Bara tetap akan menyelidiki latar belakang atas semua yang Arin lakukan. Agar dia bisa mengambil sikap selanjutnya.
"Arin, saya lapar. temani saya makan yuk. Kita makan bakso saja bagaimana."
"Baiklah. Bakso depan rumah sakit kan. Ayolah saya juga lapar."
"Kalau begitu tunggu saya merapikan kerjaan saya sebentar. Ada yang tertinggal di ruangan saya. Mau ikut ke ruangan saya sebentar. Sebentar saja dan kita bisa makan bakso sepuasnya."
Arin mengangguk. Mereka berdua berjalan beriringan. Bara tersenyum bahagia walaupun sebenarnya masih ada tanda tanya besar di hatinya. Namun dia tidak ingin bertanya lagi. Bara hanya ingin mengikuti keinginan Arin. Dia hanya ingin membuat Arin bahagia.
Selanjutnya biarlah dipikirkan Nanti. Bara hanya berharap semua bisa berjalan sesuai yang dia harapkan.
Sementara Arin berjalan dengan langkah ringan. Dia bisa menjawab pernyataan Bara. Walaupun hatinya sendiri belum yakin. Namun kejadian tadi menunjukkan ke arah jalan yang mana yang harus dia tempuh. Membuat Arin ke arah mana dia harus melangkah. Arin merasa bersyukur telah bisa menyaksikan semua kejadian tadi. Hal yang bisa membuatnya membuka mata dan tidak berharap lagi.
Bahwa perasaannya selama ini membuat orang-orang di sekitarnya tersakiti. Walaupun sebenarnya Arin sudah menyadarinya dari dulu.
Kemarin Arin masih punya harapan untuk melunakkan hati mama Fian dengan sekolah setinggi mungkin untuk menyejajarkan status sosialnya. Walaupun tidak bisa sama paling tidak bisa sedikit ada yang bisa dipandang dari dirinya. Namun ternyata semua sia-sia. Masih saja dia tidak dianggap.
Masih saja dia direndahkan. Apapun yang dia lakukan selalu salah di hadapan orang yang membencinya.
Memang apapun yang kita lakukan di hadapan orang yang membenci kita tidak pernah akan di hargai dan pasti di pandang sebelah mata. Apapun yang kita lakukan akan selalu salah di mata mereka.
Jadi tidak perlu menjelaskan apapun kepada orang yang membenci kita. Hanya buang tenaga saja. Apapun perkataan kita tidak akan pernah ada artinya dan hanya dipandang rendah. Dan mereka tetap akan membenci walaupun kebaikan yang kita lakukan. Semangat Arin.
__ADS_1
Bersambung