Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 98


__ADS_3

Pesawat Fian tiba di Jakarta pada pukul tujuh. Perjalanan Jakarta Surabaya ditempuh dalam waktu satu setengah jam. Untung saja perjalanannya lancar tidak ada halangan dan rintangan.


Memang di udara ada kemacetan? Tentu tidak. Tapi kita tidak tahu jika itu sudah di atur. Siapa tahu ada burung elang yang tiba-tiba melintas bersama rombongannya. Atau ada burung gereja yang lupa jalan pulang dan hanya berkumpul kebingungan di atas sana. Siapa tahu???


"Pak supir, ini kita mau kemana? Kok bukan ke arah jalan pulang."


Fian memperhatikan jalanan ibukota di pagi hari. Dia menyadari kalau mobil tidak menuju ke arah yang benar.


"Kita sarapan dulu Fian. Om lapar. Makan? bubur ayam dulu di depan rumah sakit yang di depan sana ya." Jawab Adam.


"Kenapa ga langsung pulang aja Om. Lagian sudah dekat juga."


"Keburu lapar Fian. Sebentar saja Memangnya ada apa kamu terburu-buru." Kali ini Hary yang menjawab.


"Tidak ada apa-apa Om. Biar cepat sampai rumah saja."


"Ya sudah kalau begitu. Tidak apa-apa kalau mampir beli sarapan dulu dong. Kan tidak ada yang diburu-buru kan?"


"Baiklah.."


Akhirnya mereka memutuskan untuk makan bubur dulu di depan rumah sakit. Memang benar tidak ada pekerjaan juga mereka buru-buru dan harus segera di selesaikan.


Namun Fian merasa heran juga. Kenapa setelah sampai di Jakarta mereka terlihat santai. Sedangkan semalam dia begitu di buru-buru. seperti dikejar hal yang sangat darurat.


"Jangan heran Fian. Kita memang harus mengisi perut dulu. Om lapar. Om tahu kamu pasti bertanya-tanya. Semalam kita begitu terburu-buru. Sedangkan sekarang kita malah santai."


Ucap Adam sambil turun dari mobil. Adam yakin apa yang dia ucapkan pasti ada di pikiran Fian.


Fian mengikuti Adam dan Hary. Mereka menuju salah satu gerobak makanan yang ada di depan area rumah sakit. Terdapat beberapa gerobak makanan di sana. Tepi mereka memilih bubur ayam.


Untung tidak begitu ramai. Jadi tidak perlu menunggu pesanan terlalu lama.


"Makan yang banyak Fian. Sebentar lagi kita harus mengerjakan sesuatu yang membutuhkan tenaga banyak."


Fian hanya mengangguk. Sedangkan Hary hanya menggelengkan kepala melihat sikap Adam kepada Fian yang terlihat sedikit galak.


Akhirnya pesanan mereka tiba. Mereka makan dalam diam. Mereka terpaku pada makanan mereka walaupun sebenarnya otak mereka berisi bermacam-macam hal yang mereka pikirkan.


Fian terlihat tidak berselera. Dia belum menemukan petunjuk apapun. Namun sudah dipaksa pulang ke Jakarta.


"Makan yang benar Fian. Sayang makanannya kalau cuma dilihat."


Hary yang dari tadi memperhatikan Fian mencoba untuk mencairkan suasana. Sebenarnya Hary merasa kasian sama Fian. Harusnya Adam menceritakan apa yang terjadi bukannya memperlakukan Fian dengan kasar.


Fian diam saja. Namun sedikit demi sedikit dia mulai menyuap. Sebenarnya dia juga merasa lapar. Hanya tidak berselera saja.


"Nah begitu Fian. Makan yang banyak. Lapar juga kan." Adam sebenarnya juga merasa kasian pada Fian. Namun dia juga tidak tega untuk bicara yang sesungguhnya.


Mereka bertiga fokus pada makanan masing-masing. Semuanya merasa lapar. Dari kemarin siang mereka belum juga beristirahat.


Kekacauan di perusahaan dan harus lembur untuk menyelesaikannya saja sudah menguras tenaga. Di tambah dini hari harus pulang ke Jakarta. Kalau tidak dalam keadaan darurat mereka juga tidak mau.


Keadaan yang tiba-tiba mengharuskan mereka kembali ke Jakarta sebelum semua terlambat. Maka dari itu mereka harus mengisi tenaga dulu untuk menghadapi kenyataan di depan yang menunggu mereka.


"Sudah habis semua kan. Yuk kita kembali melanjutkan langkah kita. Energi kita sudah kembali terisi." Adam berkata sambil berdiri dan membayar semua makanan yang mereka makan. Adam berjalan mendahului Fian dan Hary.


Wajah mereka bertiga terlihat sangat lelah. Namun mereka harus meneruskan langkah.Tinggal sedikit lagi mereka sampai. Tiba-tiba terdengar suara telepon berdering. Ternyata ponsel Adam yang berbunyi. Dia melihat siapa yang menelponnya. Kemudian Adam memberi kode untuk menjawab telepon itu agak menjauh. Adam mencari tempat yang aman untuk menjawab telepon. Mukanya terlihat tegang. Dia terlihat sedikit emosi juga. Namun percakapan itu tidak lama. Tak berapa lama Adam mendekati Hary dan Fian.


"Ayo kita segera menuju ke sana. Tidak ada waktu lagi."


Adam mempercepat langkahnya. Fian hanya mengikuti. Mereka semua segera masuk ke dalam mobil dan sang supir segera menjalankan kendaraannya.


"Kita langsung ke tempat tujuan saja mas."


"Baik pak." Jawab sang supir.


Fian masih belum mengerti apa yang terjadi. Dia hanya mengikuti saja kemana pak sopir membawa mereka. Namun dia heran ketika mobil malah masuk ke dalam area rumah sakit dan bahkan mereka menuju tempat penurunan penumpang di loby rumah sakit.


"Kok kita kesini. Siapa yang sakit Om. Ada apa sebenarnya."


Fian sudah tidak dapat menahan emosi. Perasaannya tiba-tiba menjadi tidak nyaman. Dadanya berdebar tidak karuan. Fian merasa ada sesuatu yang telah terjadi dan sesuatu tersebut adalah hal yang tidak baik.


Adam maupun Hary tidak menjawab. Mereka terus melangkah menyusuri koridor rumah sakit. Langkah keduanya yang terlihat buru-buru malah membuat Fian sangat tegang.

__ADS_1


"Om Adam. Tidak adakah penjelasan sama sekali? Jangan buat Fian bingung."


Adam mendekati Fian dan merangkul pundak Fian.


"Tidak usah banyak tanya. Mari kita menuju ke sana."


Adam melangkah mengiringi langkah Fian. Sedangkan Hary berjalan di belakang.


Dari kejauhan Fian melihat seseorang yang sangat dia kenal. Namun orang tersebut terlihat berjalan mondar-mandir. Seperti orang yang khawatir dan juga gelisah.


"Bukannya itu Bang Andra. Om siapa yang sakit... Om.. Om Adam.. Om hary.."


Fian mengguncang tangan kedua orang yang ada di dekatnya. Namun mereka berdua hanya diam. Akhirnya Fian berlari mempercepat langkahnya. Dia ingin segera sampai ke tempat orang yang dia yakini adalah sang Abang.


"Bang Andra."


Ternyata benar orang tersebut adalah Andra. Fian lalu memeluk sang Abang . Dia guncang juga tubuh Andra. Perasaan Fian sudah tidak enak.


"Bang, siapa yang sakit."


Andra terkejut dengan kedatangan Fian yang tiba-tiba. Andra heran padahal dia tidak memberitahu siapa-siapa tentang kecelakaan ini.


"Mama dan papa Fian. kemarin sore mereka kecelakaan. Tapi kalian tau dari mana kami ada di rumah sakit ini.?" Andra merasa heran atas kedatangan mereka bertiga.


"Bagaimana keadaannya bang. Ga parah kan."


"Mereka berdua belum sadar. Tapi kata dokter mereka berdua sudah melewati masa kritisnya. Tinggal menunggu sadar saja."


Fian mencoba melihat ke dalam ruangan ICU melalui kaca. Namun tidak terlihat jelas. Cuma terlihat dua orang pasien yang sedang tertidur. Sedangkan Andra menatap Adam memohon penjelasan. Namun yang di tatap pura-pura tidak melihat. Demikian juga dengan Hary. Malah terlihat bermain ponsel.


"Bang, bener tidak parah kan."


"Semoga Fian."


Andra kembali duduk di bangku yang ada. Kemudian dia melihat ke sekeliling. Andra menatap Adam dan Hary dan mencoba memecah keheningan dengan menegur mereka berdua. Walaupun sebenarnya Andra masih heran darimana mereka mendapatkan berita kecelakaan itu.


"Om Adam, Om Hary. Apa kabar?"


"Abang mengenal mereka?" Fian terkejut mendengar ucapan Andra. Karena itu berarti Andra mengenal kedua orang tersebut.


Andra memandang Fian. Dia ragu mau menjawab pertanyaan Fian. Karena sebenarnya memang dia mengenal kedua orang tersebut. Dan mengetahui cerita dibaliknya.


"Iya Fian, gue mengenal mereka."


"Sejak kapan?"


"Sejak kecil, namun baru ketemu lagi tiga bulan yang lalu."


"Jadi benar dugaan gue ya."


"Apa yang kamu pikirkan tentang kami?" Adam menatap Fian. Dia yakin Fian berprasangka buruk kepadanya.


"Tidak. Saya hanya menduga kalau kalian berdua mengenal keluarga saya."


"Kami berdua adalah teman sekolah papa kamu Fian." Hary menepuk pundak Fian pelan mencoba untuk menenangkan perasaan Fian. Hary tahu kalau Fian punya prasangka buruk padanya dan juga Adam.


Fian diam saja. Dia merasa sedikit pusing. Capek dalam perjalanan dan juga karena kurang istirahat. Di tambah lagi dia mengetahui kalau kedua orang tuanya kecelakaan dan dalam keadaan koma.


"Andra, kami permisi pulang dulu ya. Nanti kalau papa kamu sudah sadar beritahu kami." Ucap Adam. Dia bangkit dari duduknya. Dia sebenarnya juga merasa sangat lelah. Sama seperti Fian. Dari kemarin banyak hal yang membebani pikirannya.


"Baik Om."


"Fian, Andra kami pamit dulu ya. Jangan lupa beritahu kami perkembangan papa kamu.,"


"Siap Om."


Adam dan Hary meninggalkan tempat itu. Mereka juga lelah. Mereka juga butuh istirahat. Mereka akan pulang dulu ke rumah masing-masing. Dan berjanji akan bertemu lagi nanti jam makan siang. Karena masih ada hal penting yang harus mereka kerjakan.


Sepeninggal Adam dan Hary, Fian mendekati Andra.


"Bang, kalau boleh tahu apa penyebab Papa dan mama kecelakaan."


Andra diam. Dia bingung harus bagaimana. Dia belum bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Kok diam. Apa yang sebenarnya terjadi."


Andra menarik nafas panjang sebelum berkata.


"Kemarin siang papa dan mama pergi keluar untuk mengunjungi teman papa. Namun di tengah jalan tiba-tiba ada truk tronton remnya blong. Dan menabrak mobil Papa."


Yang Andra tahu memang kejadiannya seperti itu. Itu menurut cerita dari saksi mata.


"Lo pulang dulu sono. Istirahat di rumah. Pasti capek. Nanti siang baru kesini lagi. Gantiin abang ."


"Tidak usah bang. Biar gue disini saja. Walaupun capek, gue bisa istirahat di sini kok."


"Tidak apa-apa kalau mau pulang Fian. Biar gue yang menunggu di sini."


"Sudah kita tunggu saja berdua di sini. Oh ya bang. Bagaimana kabar Arin. Apa dia baik-baik saja."


Andra mengalihkan pandangan. Dia harus bercerita apa, kalau selama ini dia memang selalu menghindar dari Arin.


"Arin baik-baik saja. Yang gue denger dia lagi sibuk menyusun skripsi." Ucap Andra pelan.


"Apa dia pernah tanya tentang gue bang.'


Andra menarik nafas dalam-dalam. Dia sedih bila mengingat hal itu. Karena beberapa kali dia selalu menghindar bila bertemu Arin.


"Gue selalu menghindar bila bertemu Arin. Karena gue bingung harus menjawab apa. Gue tidak tega ngomong yang sebenarnya tentang kepergian lo."


Fian terhenyak. Ternyata kepergiannya membuat orang-orang yang disayanginya bersedih.


"Seandainya kepergian lo dalam keadaan baik-baik pasti gue akan bisa menjawab apa adanya."


"Maafkan gue, bang. Mulai saat ini gue akan hadapi semuanya. Gue akan bilang terus terang pada Arin."


"Apa lo sudah siap."


"Gue sudah siap dengan semua kemungkinan paling buruk sekalipun."


"Baguslah Fian. Kasian Arin."


"Iya Bang, gue tahu. Gue salah pergi begitu saja. Seharusnya gue pamit jujur bilang apa adanya."


"Iya Fian. Walaupun gue tahu kalian belum resmi jadian, Paling tidak hargai Arin sebagai seorang teman dan sahabat."


Fian terdiam mendengar ucapan Andra. Dia memang egois. Dia tidak memikirkan perasaan Arin sedikitpun. Seharusnya sebagai seorang sahabat dia tidak jadi pengecut, pergi meninggalkan tanda tanya besar.


"Iya bang, gue salah. Nanti setelah papa dan mama sadar, gue mau bertemu Arin dan bilang apa adanya."


"Iya Fian. Berdamailah dengan keadaan. Jangan mengingkari lagi."


Fian terdiam. Dia merasa sangat bersalah pada Arin. Dia yakin Arin pasti marah padanya. Dia yakin Arin pasti sangat terluka atas keadaan ini.


mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing. Andra juga merasa tidak tega dengan kondisi adiknya yang harus menerima imbas dari peristirahatan masa lalu. Seandainya semua bisa segera dibongkar. Seandainya semua tidak menjadi misteri. Seandainya orang tuanya tidak menyembunyikan apapun dari dia ataupun Fian. Pasti keadaannya tidak seperti ini.


"Bang, gue ke mushola dulu ya. Mau cuci muka sekalian ingin berdoa semoga papa dan mama segera sadar."


"Iya Fian. Beristirahatlah sejenak di mushola."


"Iya Bang, gue nitip koper sama tas gue ya. Eh tas ranselnya biar gue bawa saja. Koper saja yang gue tinggal."


"Ya udah sono cuci muka. Biar seger ga kucel seperti ini."


Andra mengacak rambut Fian dengan perasaan sayang dan sekaligus sedih. Namun sayangnya dia hanya bisa sebatas itu. Dia tidak bisa membantu apapun untuk adiknya yang sangat dia sayangi itu.


Hari telah beranjak siang. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan. Rumah sakit sudah terlihat ramai. Banyak pasien mulai berdatangan. Suster, perawat dan dokter Sudah terlihat hilir mudik untuk memeriksa pasien.


Fian berjalan menyeret langkahnya menuju mushola rumah sakit. Dia merasa gerah dan juga risih. Dia ingin mencuci muka dan sekaligus melaksanakan sholat dhuha dan juga ingin mendoakan kedua orang tuanya agar segera membaik.


Andra menatap kepergian Fian dengan sendu. Dia mengusap wajahnya kasar. Ada kesedihan terpancar di wajahnya yang tampan. Dia merasa gagal sebagai kakak karena tidak bisa menolong adiknya yang sedang dalam kesulitan.


Kesedihannya berlipat ganda. Ditambah lagi keadaan orang tuanya yang sedang koma. Seandainya orang tuanya dalam keadaan sehat dan baik-baik saja pasti dia akan mendesaknya untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.Andra juga merasa geram. Karena masalah keluarganya tidak pernah selesai.


Mungkin saatnya sudah tiba. Andra dan Fian sudah dewasa. Pasti sudah bisa menilai ataupun bisa menerima kejadian yang terjadi di masa lampau.


Dari kejauhan sepasang mata memperhatikan interaksi kakak beradik tersebut. Ada rasa kecewa terlihat di wajahnya. Namun buru-buru dia tepis. Dia sudah merasa yakin dan percaya diri. Dia sudah tidak memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Sudah dia pasrahkan semuanya pada kehendak Allah. Karena dia yakin pasti Allah akan memberinya jalan yang terbaik buat umatnya.

__ADS_1


Bersambung


Mohon dukungannya. Terima kasih telah mampir di novel pertama saya. Love u All ❤️❤️❤️


__ADS_2