
Fian dan Andra akhirnya pergi juga. Walaupun mama melarang, mereka tetap pergi. Mereka hanya ingin sekedar mencari angin dan ingin sedikit berbincang. Sudah lama mereka tidak pernah keluar berdua saja. Biasanya mereka keluar dengan teman mereka masing-masing.
"Bang, kita naik motor sendiri-sendiri aja ya. Kita konvoi aja pelan-pelan."
"Sip.. untung gue udah siap bawa kunci."
Andra menunjukkan kunci yang dia pegang. Mereka menaiki motor mereka sendiri-sendiri.
"Ikuti gue ya bang."
"Siap.. jangan jauh-jauh ya. Udah mendung itu. Takutnya hujan."
"Iya bang gue tau. "
Fian mendahului Andra. Dia yang akan menunjukkan jalan ke mana mereka akan makan malam ini. Sebenarnya Fian tidak benar-benar ingin makan. Dia hanya ingin sekedar menghabiskan waktu bersama Andra.
Fian menghentikan motornya di samping penjual jagung bakar yang terlihat tidak begitu ramai. Hanya ada dua orang pembeli. Tempatnya nyaman untuk duduk sambil berbincang.
"Bang di sini aja ya. Tempatnya adem."
"Terserah lo aja. Gue manut. kan lo yang mau mentraktir gue."
"Iya deh.. "
Mereka berdua memarkirkan motornya di tempat parkir yang sudah disediakan. Lalu mereka berjalan menuju tukang jagung yang tengah mengipasi jagung yang terlihat hampir matang.
"Bang pesen dua ya. Kita duduk sebelah sana."Ucap Fian. Setelah itu Fian berjalan menuju tempat duduk Yang paling nyaman. Diikuti Andra di belakangnya. "Bang sini deh."
"Ya.. ada apa sih. Lo aneh banget hari ini." Andra mendekati Fian dan duduk di sampingnya.
"Anehnya di mana coba. Gue kan hanya mau ngobrol sama abang."
"Ya tau. Tapi kan di rumah juga bisa. Kenapa harus jauh- jauh?"
" Bang gue mau nanya dong. Sebenarnya gue adik kandung lo bukan sih?"
Andra terkejut mendengar pertanyaan yang Fian ajukan. Andra heran dengan sikap Fian yang tidak biasanya.
"Pertanyaan macam apa itu. Kalau mama dan papa denger pasti udah marah besar."
"Bang... "
"Apalagi!!. apa masih ada pertanyaan yang lebih konyol dari ini. Lo mikir ga sih. Selama ini mama dan papa sangat sayang sama lo. Bisa-bisanya nanya yang ga guna."
Andra sangat marah mendengar pertanyaan Fian. Andra bangun dari duduknya dan menjauhi Fian. Walau sebenarnya dia juga ragu dengan semuanya. Ragu dengan sikap mama dan papanya pada Fian, namun tentu dia tidak ingin memperkeruh suasana. Dia tau bagaimana kedua orangtuanya memperlakukan Fian dan dia. Andra juga merasa kalau mama dan papanya membedakan perlakuan diantara mereka berdua. Tapi Andra tidak ingin menyakiti hati semua orang.
Jika dia mengiyakan, Andra takut Fian jadi membenci kedua orangtuanya.
Sedangkan Fian hanya diam mendengar jawaban Andra. Fian tidak ingin berpikir macam-macam lagi. Untung pesanan mereka sudah jadi. Mereka berdua tidak bersuara lagi. Hanya suara kecap mereka yang terdengar sedang mengunyah jagung.
Fian terlihat menikmati jagung miliknya. Dia makan sambil dia pandangi jagung itu dengan penuh perasaan. Sebenarnya pikirannya pergi entah kemana. Dia seperti sedang melamun.
"Fian..."
Tak terdengar sahutan. Sepertinya Fian tidak mendengar panggilan Andra. Fian terlihat fokus pada jagungnya.
"Fian... Fian."
Kali ini suara Andra sedikit keras sambil tangannya juga menepuk tangan Fian. Tentu saja Fian terkejut.
"Ada apa bang. "
"Apa yang lo pikirin sih. Malah melamun. Katanya kita mau berbincang-bincang. Lo malah bengong.,"
"Jagungnya enak. Pas banget tidak tua dan tidak terlalu muda. Enak yang pedes. Punya abang rasa apa."
"Punyaku rasa yang tertinggal. Hahahaha..."
"Ada-ada saja lo bang."
Andra terkekeh. Memang benar apa yang dia ucapkan. Ada rasa yang tertinggal untuk seseorang. Tapi tak mungkin diungkapkan. Andra menghela nafas panjang. Dia teringat seseorang yang tidak mungkin bisa dia miliki.
"Ada apa sebenarnya bang."
__ADS_1
"Apaan.. ga kok. Cuma becanda. Pulang yuk udah malam sebentar lagi hujan. Mendungnya sudah gelap."
Andra bangun dari duduknya. Dia membayar jagung yang dia makan.Fian mengikuti Andra. Kemudian dia menepuk pundak Andra.
"Bang, gue boleh minta satu hal."
"Apaan itu. Jangan aneh-aneh deh. Lo kenapa sih sebenernya. Gue lihat lo seperti sedang memikirkan sesuatu."
Fian terdiam. Dia memandang sekeliling yang terlihat mulai sepi. Karena hari sudah semakin malam.
"Yuk pulang sekarang. Udah malam. Langit udah mulai menangis."
Fian menaiki motornya. Andra menyusul.
"Gue kira mau ngomong apa. Dasar lo selalu bikin penasaran. Awas lo ya."
Andra berteriak dari atas motornya. Sebenarnya dia tau Fian akan mengungkapkan sesuatu. Namun terlihat Fian ragu-ragu.
Hujan mulai turun walaupun masih rintik-rintik. Hanya gerimis kecil yang turun . Mereka mulai menambah kecepatan takut hujan akan semakin deras.
"Ayo bang cepet dikit udah mulai deras ini."
Fian berteriak. Dia mendahului Andra. Namun setelah sampai pertigaan Fian menghentikan motornya. Andra ikut berhenti. Padahal hujan sudah mulai deras dan jarak rumah mereka tinggal tiga ratus meter lagi.
"Ada apa Fian. "
"Ga ada apa-apa. Ayo bang."
Fian melajukan motornya Andra menyusul di belakangnya. Namun naas dia tidak melihat ada lubang di tengah jalan. Niat hati mau menyejajarkan motornya dengan motor Fian. Malah motornya oleng dan Andra terjatuh. Motornya ambruk menindih badan Andra. Fian terkejut mendengar suara gaduh. Dia menoleh dan melihat apa yang terjadi dengan Andra. Fian langsung putar balik berniat menolong Andra.
"Abang . Kok bisa jatuh. Ayo gue tolong. Ada yang luka ga."
Fian membantu mengangkat motor yang menindih Andra dan kemudian membantu Andra.Fian memeriksa tubuh Andra. Berharap tidak ada luka yang serius.
"Ke Rumah sakit yuk bang. Gue takut ada luka di dalam."
" Ga usah Fian. Ini cuma lecet sedikit. Ga parah juga." Andra meringis. Ada luka di siku dan lututnya.
" Yakinlah. Masih bisa kok. Pelan aja tapi ya."
"Ya udah hati-hati aja ya bang. Pelan- pelan."
Andra cuma menderita luka lecet di betis dan tangan sebelah kanan. Untung tidak parah . Hanya lecet di beberapa tempat.
Mereka pulang dengan pelan saja. Gerimis kecil masih jatuh membasahi bumi. Belum mau berhenti kerena ingin membasahi bumi yang semakin terasa panas ini.
Sesampainya di rumah, rumah sudah sangat sepi. Kamar mama sudah gelap. Mereka berdua berjalan pelan-pelan tanpa menimbulkan suara apapun. Mereka tidak ingin membangunkan mama ataupun papa. Fian memapah Andra. Namun naas, sesampainya di ruang tengah tak sengaja Fian menyenggol vas bunga dan vas itu jatuh. Dan pecah, menimbulkan suara yang sangat nyaring.
Lampu kamar mama menyala. Mereka berdua terbangun. Mama dan papa keluar dari kamar. Papa menyalakan lampu ruang tengah untuk melihat apa yang terjadi.
"Apa yang pecah.Siapa malam-malam yang bikin brisik. Andra .. Fian. Kalian baru pulang. Andra kamu kenapa?"
Mama terkejut melihat keadaan Andra yang dipapah Fian.
"Fian, kenapa dengan Andra. Kamu apakan kakak kamu. Sudah dibilang malam-malam jangan kelayapan. Ternyata ini yang kamu rencanakan buat kakak kamu."
Mama mendekati mereka. Papa membantu memapah Andra untuk duduk di sofa ruang tengah. Mama ke belakang mencari air dingin untuk membersihkan luka Andra dan juga obat luka untuk mengobati luka yang dialami Andra.
"Andra jatuh sendiri ma, karena memang Andra kurang hati-hati."
Mama kembali dengan segala keperluan untuk mengobati Andra. Dengan sigap mama membersihkan luka dan mengobatinya.
"Masih saja kamu membela adikmu yang telah mencelakai kamu. Dengar itu Fian. Bahkan Andra selalu membela kamu. Malah kamu balas seperti ini."
Mama memarahi Fian. Sedangkan papa hanya diam saja menyimak tanpa melakukan apapun. Fian hanya diam menunduk. Dia tidak bersalah. Andra jatuh sendiri. Dan mama menyalahkannya. Itu sudah dia duga sebelumnya. Akan selalu begitu. Dia akan selalu salah di mata sang mama.
"Sudah ma, di bilang Fian tidak bersalah. Andra jatuh karena kurang hati-hati. Lagian lukanya juga cuma lecet. Tidak parah."
"Kamu itu masih saja membela adikmu yang bersalah. Sudah lah kalian berdua istirahat. Ini sudah malam. Fian bantu kakakmu masuk ke kamar."
Fian hanya mengangguk. Fian bangun dan mendekati Andra. Dia rengkuh badan Andra dan memapahnya ke kamar tanpa bersuara sedikitpun.
"Jangan dengarkan apa kata mama ya Fian. Kan memang lo tidak salah. Gue jatuh karena memang gue tidak fokus tadi. Jangan diambil hati semua perkataan mama."Ucap Andra bijak. Hal ini malah membuat Fian semakin merasa terpojokkan. Selalu begitu. Dari dulu sampai sekarang perlakuan mama tidak berubah. Fian semakin yakin dengan semua rencananya.
__ADS_1
Fian mengantar Andra sampai ke kamarnya. Sampai Andra berbaring di tempat tidur.
"Gue kembali ke kamar ya bang. Kalau ada apa-apa panggil gue."
"Iya .. lagian ini tidak apa-apa. Gue masih bisa melakukan semuanya sendiri. Lo jangan khawatir ya."
Fian mengangguk. Dia berjalan keluar kamar Andra. Fian memasuki kamarnya sendiri. Dia masuk kamar mandi. Fian membasuh mukanya. Dia menatap cermin yang ada di kamar mandi. Lama dia menatap wajahnya sendiri.
"Mama maafkan Fian. Fian memang anak yang tak berbakti. Semoga mama sehat selalu." Ucap Fian lirih. Setetes air jatuh dari matanya. Dia tidak cengeng. Tapi tidak salah juga seorang laki-laki meneteskan air mata.
Fian sudah kembali berbaring ditempat tidur. Hari sudah malam. Tapi dia belum bisa tidur. Pikirannya menerawang jauh. Banyak hal sedang dipikirkannya. Dia harus mengambil sikap tegas. Dia harus mengambil keputusan yang terbaik buat kehidupannya.
Baru dini hari Fian bisa tidur. Untung besok hari sabtu. Dia libur kuliah. Namun ada suatu hal yang harus dia kerjakan. Keputusan penting telah diambilnya. Dia juga ingin bahagia. Dan juga ingin membahagiakan orang- orang yang dia sayangi. Dia harus mengambil sikap. Apapun keputusan Fian semoga adalah yang terbaik buat Fian dan juga buat semuanya.
🌸🌸🌸
Alarm ponsel Arin berbunyi. Dia menyetel alarm pada pukul tiga dini hari. Arin mau membantu bunda membuat kue pesenan Joko. Arin bangun dan langsung menuju ke dapur.
"Bunda, apa yang bisa aku bantu. Tapi Aku sholat dulu sebentar ya bun."
"Iya nak.Bunda sudah di bantu Rama. Kamu tidak perlu khawatir. Lagian Rama besok libur."
"Iya bund. Sebentar ya."
Bunda mengangguk. Dia masih sibuk mengukus ketan yang akan dibuat lemper. Arin meneruskan langkah ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Sudah menjadi kebiasaannya selalu melakukan sholat malam. Banyak doa yang ingin dia panjatkan dalam sholat malam kali ini. Entah mengapa perasaannya sedikit tidak nyaman kali ini.
Setelah sholat Arin kembali ke dapur. Tanpa banyak cakap dia dengan cekatan membantu bunda. Mereka sudah terbiasa jadi tidak perlu di suruh sudah bisa mengambil inisiatif sendiri.
Tak terasa adzan subuh sudah berkumandang. Mereka bergantian melaksanakan sholat subuh. Agar pekerjaan tidak keteter. Dan bisa selesai tepat waktu.
Dan benar jam tujuh semua sudah selesai di masukkan ke dalam kardus. Arin juga sudah rapi siap berangkat kerja. Dia hanya menunggu kedatangan Joko untuk mengambil pesanannya.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam.. Eh lo Jok, sudah rapi semua tinggal angkut."
"Ok sip. Mana Nyokap lo. Gue mau ngucapin terima kasih."
Arin masuk ke dalam untuk memanggil bunda.
"Bund, terima kasih sudah dibantu. Kalau tidak ada bunda saya pasti kebingungan mencari di mana semua kue ini."
"Iya Nak, sama-sama. Oh ya ini ada sedikit sisa buat sarapan."
Bunda menyodorkan kantong plastik berisi beberapa kue pada Joko.
"Terima kasih bun. Kami berangkat ya."
"Iya bund, Arin sekalian berangkat. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam.. Hati-hati kalian berdua."
"Iya bund."
Arin dan Joko berangkat bersamaan. Karena banyak kue yang harus di bawa. Jadi di bagi dua. Separo dibawa Joko yang separonya lagi di bawa Arin.
Joko berjalan didepan. Sedangkan Arin di belakang.
Dari jauh sepasang mata menyaksikan semua yang terjadi di rumah Arin. Walaupun tidak ada hal yang spesial yang terjadi. Namun perasaan orang tersebut sedang tidak baik-baik saja. Dia terlihat sedih dan terluka.
Bukan karena Arin pergi bersama Joko. Namun karena hal lain. Karena ada suatu hal yang sedang bergejolak di dalam hatinya. Dia sedang dalam posisi tertekan.
Merasa ada orang yang memperhatikan Arin menoleh. Ada perasaan gundah di dalam hatinya yang muncul tiba-tiba. Dia tidak tahu apa sebabnya. Namun hatinya berdebar lebih cepat.
Hampir saja Arin terjatuh. Dia tidak fokus pada jalanan. Untung dia segera bisa menguasai keadaan. Dan Alhamdulillah tidak terjadi hal yang tidak dia inginkan.
"Ada apa sebenarnya. kenapa tiba-tiba hati gue rasanya tidak karuan." Gumam Arin. Arin kembali fokus pada jalanan. Dia tidak mau celaka. Dia hilangkan dulu pikiran yang tiba-tiba terlintas di otaknya.
Ada apa sebenarnya. semoga tidak ada hal yang tidak diingkari akan terjadi. Semoga semua baik-baik saja. Dan siapa tadi yang memperhatikan Arin dari kejauhan. Semoga bukan orang yang ingin berbuat jahat.
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan like dan komen Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1