Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 44


__ADS_3

Tak tau harus apa


Bunda ,Rama dan Nia duduk didepan ruang rawat Arin. Sedangkan Bara dan Bram kembali ke ruangan Bara. Ada yang akan mereka bahas tentang perkembangan kesehatan Arin. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Seharusnya Bara sudah pulang. Tapi hari ini, Bara merasa ingin terus di rumah sakit. Ingin terus melihat Arin.


"Bram, menurut lo, kenapa tadi Arin pura-pura amnesia." Bara membuka percakapan. sesampainya mereka di ruangan Bara.


Bara dan Bram penasaran apa tujuan Arin pura-pura amnesia. Bara ingat, tadi setelah Arin memandangnya , Arin terlihat salah tingkah.Ada apa sebenarnya.


"Kalau menurut pengamatan gue, Arin merasa malu setelah sadar dengan hal yang pernah dia lakukan ke lo."


"Maksudnya bagaimana? Memangnya apa yang terjadi?" Bara malah terlihat kebingungan.


"Astaga Bara, kok bisa ya lo lulus tes kedokteran. Otak lo lemot gitu. Hahaha.." Bram malah meledek Bara.


"Jangan menghina ya. gue lulus murni tanpa embel-embel. Enak saja kalau ngatain orang." Bara terlihat agak tersinggung dengan ucapan Bram.


"Hahaha.. sensi sekali sih Pa Dokter. Maksud gue, Arin ingat semua kejadian antara lo dengan dia. Apalagi pas dia cium lo. Itu menurut pendapat gue."


"Hm, begitu ya. Tapi bisa jadi juga. Kenapa harus malu. Kan saat itu dia sedang tidak sadar. Pura-pura saja tidak inget."


"Itu kalau pemikiran lo, tapi kalau pemikiran cewek itu beda. Apalagi yang masih polos seperti Arin. Dia akan teringat terus suatu kejadian yang di alami."


"Begitu ya."


"Eh.. memangnya lo tidak. mengingatnya. Atau malah selalu terbayang ya. Hahaha..."


"Apaan sih. Lo ga jelas."


Tapi muka Bara sudah berwarna merah. Bram tertawa keras. dia semakin semangat menggoda Bara.


"Ngomong-ngomong lo ga pulang. Jam kerja lo sudah habis kan. Sekarang sudah jam sepuluh."


"Nanti saja. Masih pengen berbincang dengan Arin. Ada yang mau gue bahas sama dia soal kesehatannya."


"Soal kesehatan atau soal yang lainnya. Hayo.. jangan-jangan mau berbicara soal hati. Hahaha.." Bram selalu saja punya bahan untuk menggoda Bara.


"Lo itu selalu saja berpikir yang aneh- aneh. Beneran gue memang mau bertanya soal kesehatan mentalnya."


"Weh.. tugas gue itu. Harusnya gue yang menangani soal ini. Jangan lo ambil kerjaan gue." Bram mendekati Bara dan memiting lehernya. Bara berontak.


"Sakit tau. Bram gila lo ya.."


"Hahaha... becanda bro.. Khusus untuk Arin gue serahkan sama lo. Semoga semuanya kembali membaik. Jika lo butuh bantuan gue siap dua puluh empat jam."


"Terima kasih bro."


Mereka berdua saling mengadu tangan.


"Gue pulang dulu ya. Mengantuk banget gue. Lo masih nanti kan. Gue duluan ya. Semangat. Semoga misi lo berhasil." Bara menganggukkan kepalanya dengan semangat.


Bram pamit pulang. Sebenarnya dia libur. Cuma karena ingin menemani Bara dia datang ke rumah sakit. Tapi tidak itu saja, sebenarnya dia juga ingin tahu keadaan perkembangan lain.


Bara merapikan ruangannya yang sedikit berantakan karena semalam dipakai buat begadang mereka bertiga. Sebenarnya bisa menyuruh cleaning servis tapi Bara lebih senang melakukan sendiri. Setelah semua rapi Bara membersihkan diri. Dia mau menemui Arin siang ini. Mumpung tidak ada kerjaan. Dia bisa berlama- lama berbincang dengan Arin. Banyak hal yang ingin dia perbincangkan dengan Arin. Banyak hal yang ingin dia tanyakan. Semoga semua menjadi baik- baik saja setelah ini.


🌸🌸🌸


Fian sudah pulang. Nia dan Rama juga sudah pulang. Hampir dua jam Arin berbincang dengan Fian. Banyak hal yang mereka bicarakan dari hal yang menyedihkan sampai hal-hal yang bisa membuat mereka tertawa. Arin sampai merasa lapar lagi. Sebelum pulang Fian membelikan Arin cemilan dulu buat pengganjal lapar. Jam makan siang masih satu jam lagi. Jadi sebelum jatah makan datang Arin memakan cemilan yang dibelikan Fian.


Arin sebenarnya mengingat semuanya. Arin tidak lupa. Dia tadi hanya sedikit gugup melihat Bara. Dia merasa ada sesuatu kejadian yang pernah terjadi bersamanya. Namun dia lupa.Arin ingin mengingatnya, tapi otaknya tidak mampu. Dia tidak ingin memaksakan diri. Karena jika dia terus berpikir, dia akan merasa tegang dan kesakitan. Entah mengapa sulit sekali untuk mengingat semua kejadian yang ada hubungannya dengan Bara. Arin harus bekerja keras untuk itu. Tapi untuk saat ini dia sedang tidak ingin berpikir.


Jatah makan siang sudah tiba. Arin langsung memakannya. Dia jadi gampang merasa lapar. Tidak pakai lama semua makanan itu langsung tandas tanpa sisa. Bunda tentu saja merasa senang. Arin mau makan dan pasti akan segera pulih dan bisa segera pulang.


Tok..tok..tok.


Pintu diketuk. Ada yang datang. Ternyata Bara yang mengunjungi Arin.


"Assalamu'alaikum, "


"Wa'alaikumsalam.. Eh Dokter Bara. Silahkan masuk. Arin baru saja selesai makan."


Bara masuk ke dalam ruangan. Dia sudah memakai baju bebas. Pakaian dokternya sudah dia lepas. Dia akan bertemu Arin secara pribadi sebagai Bara bukan sebagai dokter Bara.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan kamu. Apakah sudah membaik? Sudah bisa makan? Sudah minum obat? Baguslah. Semoga segera pulih." Ucap Bara.


Arin hanya mengangguk. Dia merasa gugup. Tiba-tiba Arin teringat sesuatu. Dia ingat tasnya karena disana ada uang dan surat dari Bara.


"Bunda tas Arin mana?"


" Tas kamu di dalam lemari. Sebentar bunda ambil." Bunda mencari tas Arin yang memang di simpan nya di dalam lemari.


"Ponsel Arin tidak di charger ya bund. Pasti udah mati. Seminggu tidak di lihat."


Bunda menyerahkan tas Arin yang beliau ambil dari dalam lemari.


"Maaf bunda, boleh saya bicara dengan Arin hanya berdua saja?"


"Silahkan Dokter. Kalau begitu saya keluar dulu Dok."


"Iya bun, maaf ya sebelumnya bunda. Karena ada hal yang sedikit privasi mau saya tanyakan pada Arin."


"Iya Dokter, saya mengerti."


Bunda berjalan keluar ruangan. Dia memilih pergi ke kantin. Bunda sedikit mengantuk, jadi beliau ingin membeli kopi.


Sepeninggal bunda, Bara mendekati Arin.


"Boleh saya duduk di kursi ini." Bara sedikit berbasa-basi untuk memecah kecanggungan.


" Silahkan Dokter. Apakah ada sesuatu yang penting sehingga Dokter meminta waktu berbincang hanya berdua saja." Arin merasa gugup. Ada rasa takut juga. Takutnya kalau ada sesuatu berita tentang kesehatan fisiknya.


"Begini, sebelumnya saya mau bertanya terlebih dahulu." Bara menghentikan ucapannya. Dia sebenarnya bingung mau mulai dari mana.


Arin hanya mengangguk.Pandangan matanya menatap lekat pada Bara. Arin penasaran dengan apa yang akan Bara ucapkan.


"Bagaimana keadaan badan kamu. Apa ada yang terasa sakit selain luka bekas tusukan?"


"Hanya sedikit merasa pegal saja Dok, mungkin karena terlalu lama tidur." Jawab Arin apa adanya.


"Selain itu baik-baik saja kan? Baguslah."


"Begini, secara keseluruhan memang fisik kamu bagus. Tidak ada luka di tubuh bagian lain. Namun saya merasa kamu sedikit terganggu dengan pemikiran kamu. Sebentar jangan salah paham. Maksudnya pemikiran ya bukan otak kamu yang terganggu. Nanti beda jadi beda artinya."


Pelan-pelan Bara menjelaskan semuanya. Dia takut kalau Arin akan tersinggung.


"Iya Dok, apa mungkin saya gila ya?"


"Sudah saya duga pertanyaan kamu pasti begitu. Bukan gila tapi cara pandang kamu dalam menanggapi masalah ini."


Arin diam saja, dia tahu maksud Bara. Tapi Arin ingin tahu juga penjelasan Bara bagaimana.


"Begini, maaf sebelumnya.."


"Ikh Pak Dokter bilang maat terus. Lebaran sudah lewat." Ucap Arin memotong ucapan Bara. Bara tersenyum. Ternyata Arin anak yang lucu dan suka becanda.


"Memangnya kalau minta maaf pas hari lebaran saja. Tidak kan?" Balas Bara. " Ternyata kamu anak yang suka becanda ya. Hehehe.."


"Gantian saya bertanya, bolehkan?"


"Silahkan, Tidak di larang juga."


"Ikh pak Dokter menjawabnya begitu. Ini serius sekali."


"Lha salah menjawab kah saya? Maaf kalau begitu. Saya hanya bercanda.,. . Silahkan kalau mau bertanya. Kalau saya bisa menjawab akan saya jawab. kalau tidak, biarlah menjadi PR buat saya."


Arin diam. Apa sekarang saja dia membahas masalah hutang itu ya. mumpung bertemu dan uangnya ada di tangan Arin. Arin membuka tasnya dan mengeluarkan amplop yang berisi uang.


"Ini apa?" Bara tidak mengerti kenapa Arin memberinya amplop yang dia duga berisi uang.


"Ini uang Pak Dokter yang pernah saya pinjam tiga tahun lalu. Saya kembalikan." Jawab Arin. Dia masih menyodorkan amplop yang oleh Bara hanya dilihat saja.


"Uang saya? Hutang apa ya? Saya kok tidak mengerti." Bara masih saja tidak paham.


Arin mengeluarkan surat yang dulu diberikan Bara untuknya.

__ADS_1


"Baca ini, pasti pak dokter akan mengingat semuanya." Arin memberikan surat itu pada Bara. Bara menerimanya dan mulai membuka amplop itu.Pelan-pelan dia baca isinya. Bara tersenyum. Dia bisa lupa sama sekali tentang hutang itu. Padahal dia sudah mempersiapkan pertemuan itu jauh-jauh hari.


"Bagaimana pak Dokter? Apakah sudah mengingat semuanya. Pak Dokter menerima uang ini kan." Arin menyodorkan amplop itu kembali. Tapi Bara belum mau menerimanya.


"Sebenarnya saya tidak pernah benar- benar meminjamkan uang kepada kamu. Sebenarnya saya hanya ingin membantu kamu. Tentang surat ini, maaf pada saat itu saya harus pergi pendidikan ke luar negeri. Jadi saya menulis surat itu agar kita bisa bertemu kembali. Tak disangka kita bertemu dalam keadaan seperti ini. Maaf." Ucap Bara panjang lebar.


Arin hanya diam. Dia bingung mau berkata apa.Dia memandang Bara. Tatapan mata mereka bertemu. Arin buru-buru memalingkan muka. Sedangkan Bara masih saja memandangi Arin


"Pokoknya Dokter harus menerima uang ini. Saya tidak menerima penolakan. Saya sudah berhutang dan saya punya kewajiban membayar. Titik." Ucap Arin tegas.


Bara tersenyum. Bara juga bingung harus bagaimana. Mau diterima atau ditolak uang tersebut. Tapi akhirnya Bara menerima amplop itu.


"Ya sudah ini saya terima. Terima kasih kamu sudah berniat membayar hutang kamu.Dan ini saya berikan pada kamu kembali, sebagai permintaan maaf saya karena telah membuatmu menunggu pembayaran hutang ini selama tiga tahun. Saya juga tidak menerima penolakan." Bara kembali meletakkan amplop uang itu ditangan Arin. Mereka berdua saling menyodorkan amplop uang itu. Masing- masing tidak mau menerima amplop itu. Akhirnya amplop itu terjatuh dan Bara mengambilnya.


"Ya sudah begini saja, bagaimana kalau kita bagi dua saja isinya Biar adil."


"Tidak mau. Itu semua uang pak Dokter. Kan saya berhutang sama pak Dokter. Ikh pak Dokter susah banget kalau di kasih tau." Arin cemberut. Dia mengerucutkan bibirnya.


"Hahaha.. kamu lucu sekali Arin. Kamu cantik." Ups Bara keceplosan. Tapi tak urung dia tersenyum juga.


"Apa sih pak Dokter ini." Arin jadi salah tingkah.


Bara menjadi bingung dengan uang itu. Mau diapakan dia ga tau. Dia dulu memang tulus membantu Arin. Tidak pernah sedikitpun dia akan menagihnya. Akhirnya Bara membuka amplop itu dan membagi dua sama rata. Satu di taruh di tangan Arin.


"Saya tidak mau tau. Harus di bagi adil saja. Sama banyak, jadi tidak ada yang iri. Begitu saja dan saya tidak mau kamu menolak. Atau saya tidak akan pernah mau mengenal kamu lagi." Bara juga sedikit cemberut.


"Hahaha.. Pak Dokter lucu. Hahaha.."


"Apanya yang lucu. Memangnya saya badut, hm." Ucap Bara. Tak urung dia tersenyum juga. Bara sangat senang Arin sudah bisa tertawa.


"Ya sudah kalau pak Dokter memaksa, saya terpaksa menerima uang ini. Terima kasih telah membantu meringankan beban saya." Mata Arin berkaca-kaca.


"Eh kok menangis. Apa saya telah membuat kesalahan. Jangan menangis. Saya paling takut melihat wanita yang menangis."


"Maaf, saya terharu. Kita baru kenal tapi Dokter sudah sangat baik pada saya. Harus dengan apa saya membalas kebaikan Dokter."


"Dengan kesehatan kamu. Kamu berjanji padaku akan selalu baik-baik saja. Kamu harus terus tersenyum dalam keadaan apapun. Dan satu lagi, maukah kamu menjadi teman saya?" Bara mengacungkan tangan


Arin memandang Bara. Arin tersenyum. Dia hapus air matanya. Dia sambut uluran tangan persahabatan dari Bara. Mereka berdua tersenyum dan akhirnya tertawa . Satu masalah telah terlewati dan telah bisa diselesaikan. Masalah hutang akhirnya sudah selesai. Arin bisa bernafas lega.


Bara pamit pada Arin dan berjanji besok akan menemui Arin lagi. karena besok jadwal libur kerjanya Bara.


Bara pulang dengan senyuman kebahagiaan. Akhirnya dia bisa merasa lega karena Arin dalam keadaan baik-baik saja. Tinggal langkah selanjutnya. Perjuangan Bara masih panjang.


🌸🌸🌸


Fian sampai rumah pukul sebelas. Rumah terlihat sepi. Dia langsung naik ke atas menuju kamarnya. Dia tidak menemukan siapa pun di dalam rumahnya. Fian langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Badannya terasa lengket, capek dan mengantuk. Tapi dia harus mandi dulu. Fian berendam sebentar untuk merelaksasi tubuhnya agar lebih segar. Tak terasa selama satu jam dia berendam. Dia tidak sadar kalau mamanya mencarinya.


Fian keluar kamar mandi hanya berbalut handuk di bagian bawah tubuhnya. Dia kaget melihat mamanya sudah duduk di atas ranjang. Fian tertegun. Dia sudah mengira apa yang akan dikatakan mamanya. Fian balik badan, Dian masuk kamar mandi lagi. Namun baru dia melangkah dua langkah terdengar suara.


"Fian.. mau kemana lagi. Belum selesai mandinya. Jangan menghindari dari mama."


"Sebentar Ma, Fian kebelet.."


"Jangan bohong kamu.Mau kabur dari mama kan? "


"Tidak Ma, Fian tidak bohong."


Fian menutup pintu kamar mandi. Dia duduk di toilet. Dia tahu kalau mamanya sudah tau yang sebenarnya. Fian bingung mau jawab apa. Dia harus bisa mencari alasan yang tepat.


"Fiaannnnnn.."


Mama sudah tidak sabar..


Apa yang akan terjadi selanjutnya.


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan like dan komen.


Terima kasih❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2