
Hari telah berganti. Waktu telah berjalan begitu cepat. Tak terasa waktu pernikahan Arkan telah tiba. Selama satu minggu ini Bara sibuk membantu persiapan pernikahan Arkan. Dia bahkan melupakan pesan dari Arin karena dia memang harus fokus dengan acara tersebut.
Pagi itu semua orang sibuk berbenah diri. Acara akan diadakan di rumah. Karena memang rumah mereka terbilang besar. Pun dengan halamannya yang cukup luas.
Mereka sengaja tidak mengundang banyak orang. Cuma keluarga dan juga teman dekat mereka. Dan juga beberapa kolega mereka.
Bara terlihat sudah rapi. Dia terlihat semakin tampan memakai pakaian adat Jawa. Tak lupa juga memakai blangkon. Serasa seperti pangeran jaman kerajaan.
Acara ijab kobul dilaksanakan jam delapan pagi. Sudah selesai dua jam yang lalu. diteruskan acara resepsi. Lumayan juga tamu yang datang. Walaupun katanya hanya saudara dan teman dekat, namun ternyata keluarga mereka sangat banyak. Di tambah dengan teman-temannya mereka ternyata banyak juga.
Untung mereka sudah mempersiapkan semua dengan matang. Jadi semua bisa diatasi. Termasuk makanan. Mereka sudah mempersiapkan semua dengan segala kemungkinan yang terjadi. Dan Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar.
Hari telah sore . Namun masih banyak tamu berdatangan. Sebenarnya mereka sudah sedikit lelah karena dari tadi belum beristirahat sama sekali. Tamu datang secara bergantian.
Sepasang pengantin masih harus siap menyambut tamu sampai jam delapan malam nanti. Bunda sudah terlihat capek. Sebentar Bara merasa kasian sama mama. Namun karena ini memang tuntutan acara. Bara hanya bisa memperhatikan saja.
"Bunda makan dulu ya. Dari tadi Bara lihat mama belum makan."
Bara mendekati sambil membawa sepiring nasi .
"Ish kamu, Mama lagi menyambut tamu di suruh makan."
"Aku siapin ya sambil duduk. Mumpung sepi ma.."
"Ok baiklah.. baiklah. Dasar kamu ikh selalu maksa."
Akhirnya mama mengalah. Sebenarnya dia lapar dan capek tapi karena memang ini dalam keadaan pesta tidak mungkin juga mama lari dari tanggung jawab. Mumpung sedikit sepi mama memanfaatkan waktu yang ada.
"Papa juga mau . Hm kamu sayanya cuma sama mama."
"Diihh .. tuh papamu mau juga. Lapar juga ya pa."
"Iya.. Dari tadi tamu datang tak henti-henti."
"Nih .. kalian berdua makan sendiri. Bara mau menemui tamu."
Bara menyerahkan piring kepada mama. Bara pergi dari panggung. Ada temannya yang datang. Dia harus menemaninya.
Baru saja papa makan dua suap, dari kejauhan dia melihat seseorang yang sangat ingin dia temui. Papa terkejut juga. Akhirnya orang yang dia tunggu selama ini datang juga. Papa bangun dari duduknya.
"Ada apa Pa?"
Mama heran melihat apa yang dilakukan suaminya. Mama ikut berdiri dan memandang ke mana arah pandang suaminya. Mama melihat sepasang suami istri yang terlihat tidak asing berjalan ke arah mereka.
"Pa.. bukannya itu Yanto dan Ida. Mereka datang pa. Akhirnya kita bisa bertemu mereka lagi."
Mama berjalan menyongsong sang tamu. Dia sudah tidak sabar bertemu sahabat yang telah lama tidak bertemu.
"Yanto, jeng Ida.."
Sang tamu tentu saja terkejut mendengar suara tersebut. Tak disangka tuan rumah menyambutnya dengan sangat baik.
"Jeng Mia.."
Ternyata yang datang ayah dan bundanya Arin. Mereka ternyata adalah teman yang sudah lama tidak bertemu. Bunda memeluk Mia, mamanya Bara. Mereka saling melepas kerinduan. Air mata mengalir dari kedua perempuan setengah baya yang masih terlihat kecantikannya.
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu mbak. Mbak kemana saja. Kita mencari ke rumah mbak yang dulu ternyata sudah pindah."
Mamanya Bara menyeka air mata yang jatuh dengan sendirinya. Dia sangat senang bisa bertemu kembali dengan sahabatnya tersebut.
"Saya pindah rumah setelah anak ketiga saya lahir."
"Jadi sekarang anak mbak jadi tiga.. Aku masih tetap dua.. Duh senangnya pasti anak mbak sudah tumbuh jadi gadis-gadis cantik."
"Ya begitulah.. hehehe.."
__ADS_1
Sedangkan pak Yanto hanya memandang datar pada Hary. Dia hanya diam di tempat menunggu istrinya bertemu kangen dengan temannya itu.
Dari atas panggung Hary memandang Yanto dengan penuh kerinduan. Tapi dia lihat Yanto memandangnya dengan dingin, tanpa ekspresi. Hary tahu kalau masih ada kesalahpahaman diantara mereka.
Hary turun dari panggung dan mendekati Yanto. Kemudian mengukur tangan berniat menyalami sang tamu.
"Terima kasih telah hadir."
Hary sangat bersyukur Yanto membalas uluran tangannya dan menjabatnya dengan erat
"Belum selesai urusan kita.."
Yanto berbisik ditelinga Hary namun sambil tersenyum. Sebentar dia sudah melupakan kejadian di masa lalu.
"Apa kabar teman.." Hary memandang Yanto lekat. "Masih gagah seperti dulu. Tidak ada yang berubah kecuali rambutmu yang sudah memutih. Hahaha.."
"Ternyata kamu mengakui kalau aku tetap yang paling gagah. Hahaha.."
"Sudah tua masih narsis juga..Tapi aku senang kamu mau hadir di acara putra sulungku. Ayo naik dulu. Aku kenalkan dengan kedua anakku."
Yanto mengikuti langkah Hary. Begitu juga dengan Ida. Mereka berdua berjalan menaikkan panggung untuk mengucapkan selamat kepada sepasang pengantin yang sedang berbahagia.
"Selamat ya Arkan. Sakinah mawadah warahmah.."
"Terima kasih om.." Arkan melihat ke arah sang papa. Dia lupa dengan orang yang berdiri di depannya tersebut.
"Ini Om Yanto .. apa kamu lupa. Dulu beliau ini sering mengajak kamu bermain bola.."
Hary menjelaskan kepada Arkan yang ternyata lupa pada Yanto. Mungkin karena sudah dua puluh tahun tidak bertemu.
"Oh ya ingat, Arkan ingat. Om Yanto yang sering mengajak aku berenang di sungai kan.. Apa kabar om .. terima kasih telah hadir."
Arkan mencium tangan Yanto dengan takzim. Arkan dulu sangat dekat dengan Yanto di waktu kecil. Arkan sering berkunjung ke rumah Yanto dahulu.
"Alhamdulillah kami baik.. Sudah besar kamu sekarang ya. Bukannya kamu punya adik. Mana dia.."
" Iya jeng, ayo di coba hidangannya." Sang mama ikut mempersilahkan tamunya. Dia ikut melayani tamu istimewanya.
Bunda Arin mengangguk dan mengikuti tuan rumah ke arah meja hidangan.
Mereka menikmati hidangan sambil bercengkrama. Entah mengapa tiba-tiba tamu jadi sepi. Tuan rumah merasa situasi sangat mendukung atas kedatangan tamu istimewanya ini.
Di saat mereka sedang berbincang, terlihat di pintu masuk ada yang datang juga tamu yang lain. Hary melihat ke pintu masuk. Dia melihat serombongan tamu datang. Ternyata Sutejo beserta keluarga besarnya hadir. Ada Maria, Fian dan juga Andra. Dan juga Adam bersama keluarganya juga. Hary mendekati tamu tersebut dan mempersilahkan masuk dan mempersilahkan naik ke panggung.
Yanto ikut melihat ke arah mana yang dilihat Hary. Yanto terdiam. Haruskah dia ikut mendekati tamu tersebut. Namun Yanto hanya diam.Dia kembali sibuk dengan makanan yang dia pegang. Dia bersama istrinya hanya berdiri di tempat sambil menikmati hidangan tanpa sedikitpun memandang ke arah orang tersebut. Bahkan seolah-olah tidak melihat kedatangan mereka.
Hary mendekati tamu yang baru datang tersebut.
"Sutejo.. hai apa kabar..lama tak jumpa. Terima kasih telah mau hadir."
Yang dipanggil terkejut. Dia merasa sangat tersanjung. Tuan rumah yang mempunyai hajat langsung menyambut kedatangannya.
"Alhamdulillah Hary ... Sungguh tersanjung langsung disambut yang punya hajat. Hahaha.."
"Kalian tamu istimewa. Hem.. ini pasti Maria. Masih terlihat cantik. Andra dan Fian juga ikut. Syukurlah.. Mari kita keatas panggung. Aku perkenalkan pada pengantinnya."
Mereka berjalan menuju panggung. Dari jauh Yanto hanya melihat mereka.
"Bund, Cepat makannya. Kita langsung pulang."
"Kenapa Yah, baru saja datang.Apa tidak apa-apa. Kan lama ayah tidak berjumpa dengan mereka."
"Bunda pasti tau alasan ayah."
"Baiklah Yah."
__ADS_1
Bunda cepat-cepat menghabiskan makanannya. Untung saja dia hanya mengambil sedikit. Mereka melihat tua n rumah masih sibuk dengan tamunya.
"Ayo bunda kita pulang. Sudah habis makanannya."
"Apa kita tidak pamit dulu Yah."
"Tapi mereka sedang sibuk menyambut tamu mereka. Pamit dari jauh saja. Mumpung mereka memandang ke sini bund."
Yanto memberi isyarat pada Hary. Yanto mengatupkan kedua tangan di depan dada, lalu menunjukkan jarinya ke arah luar. Diikuti sang istri.
Mereka berdua sengaja pulang cepat karena ada Sutejo dan Maria. Yanto hanya mengantisipasi hal yang tidak mereka inginkan. Agar tidak menggangu acara tersebut. Yanto memilih mengalah walaupun sebenarnya dia masih ingin berbincang dengan teman yang sudah lama tidak berjumpa. Namun apa daya daripada nanti malah bisa mengacau suasana pesta.
Melihat hal yang dilakukan Yanto, Hary buru-buru mendekati Yanto. Dia ingin mencegah agar Yanto tidak buru-buru pulang.
"Eh.. mau kemana. Buru-buru sekali. Baru juga datang. Masih banyak makanan yang belum dicoba."
",Maafkan kami, Secepatnya kami harus pulang. Ada pesanan kue yang harus segera dibuat."
Yanto memberi alasan yang masuk akal. Tapi memang benar bunda memang ada pesanan kue. Mereka memang tidak berbohong.
"Ok baiklah. Tapi lain kali kita harus bertemu kembali. Masih banyak yang ingin aku ketahui tentang kemana kalian selama ini."
"Pasti, aku juga masih rindu . Kalau begitu kami pamit dulu. Semoga sukses acaranya. Assalamu'alaikum..."
Yanto menjabat erat tangan Hary. Begitu pula dengan Hary. Serasa belum ingin berpisah. Tapi Yanto tidak bisa di tahan. Yanto ingin segera pulang ke rumah.
"Wa'alaikumsalam.. sampai jumpa kembali di lain waktu."
Hary memandangi kepergian Yanto. Dia menghela nafas berat. Dia tahu dia juga ikut merasa bersalah. Kejadian dua puluh tahun yang lalu, menorehkan luka begitu dalam pada banyak orang.
Yanto bisa bernafas lega setelah keluar dari rumah Hary.
"Ayah, bunda..kok di sini."
"Eh , Nak Bara. Iya .. menghadiri resepsi pernikahan teman. Apa nak Bara juga."
Bara terkejut melihat orang tua Arin hadir di acara resepsi pernikahan sang kakak. Namun baru saja dia menyapa, terdengar nada dering telepon berbunyi.
"Maaf Ayah, bunda. Bara menjawab telepon dulu. Dari tadi berbunyi terus."
"Silahkan Nak, kalau begitu kami langsung pulang saja. Mari Nak.."
",Eh, Ayah , bunda kok tergesa-gesa. Maaf ya Bara tidak bisa menemani."
"Tidak apa-apa. Permisi Nak Bara. Kami duluan."
Ayah dan bunda segera pergi. Bara hanya memandang sekilas. Seandainya tidak ada telepon, dia pasti akan mengantarkan kedua orang tua Arin pulang.
" Yah, kok Nak Bara ada disitu ya. Tamu atau keluarga."
"Entahlah bund, tapi kalau dilihat secara seksama, ada kemiripan antara Bara dan Hary. Apa Bara anaknya Hary yang nomer dua ya."
"Iya juga. Bisa jadi begitu. Ayo bund, kita cepat pulang. Nanti kue pesanan kamu tidak selesai bagaimana."
"Iya Yah, Tapi jalanya pelan-pelan.Kita pulang naik apa."
"Naik angkot. Kita jalan ke depan sedikit."
Mereka berdua berjalan sambil berbincang. Ayah sebenarnya masih ingin berlama-lama bertemu dengan Hary, Ada sesuatu yang ingin dia tanyakan. Namun memang suasana tidak mendukung. Suatu saat nanti dia akan datang kembali ke rumah ini untuk memperjelas semua pertanyaan yang dia simpan di otaknya selama ini.
Sedangkan Sutejo, Adam dan Hary masih berbincang. Sambil menyambut tamu-tamu yang semakin banyak berdatangan. Mereka berbincang sampai acara selesai.
Pukul delapan acara ditutup. Mereka semua merasa capek dan ingin segera beristirahat. Tak terkecuali Bara. Sebagai tuan rumah dia ikut sibuk menyambut tamu yang tidak berhenti datang. Banyak tamu yang datang walaupun tidak mendapatkan undangan. Untung saja persediaan makanan cukup. Karena semua sudah di antisipasi.
Semua sudah masuk ke kamar dan beristirahat. Sedangkan di luar petugas dekorasi sedang membongkar tenda dan sekaligus merapikan semua peralatan yang dipakai. Besok pagi semua harus kembali bersih seperti semula.
__ADS_1
Bersambung