Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 37


__ADS_3

Hati yang berdebar


Bara istirahat sebentar setelah sholat subuh. Dia merasa sangat mengantuk. Semalaman dia tidak tidur. Menunggu Arin yang terus-menerus mengigau. Dia selalu merasa was-was melihat keadaan Arin yang terlihat begitu berantakan. Dan pagi ini dia akan istirahat sebentar sebelum tugas rutin mengecek kemajuan kesehatan pasien. Bima dan Bram sudah pulang setelah sholat subuh tadi.Sebelum tidur Bara makan bubur ayam dulu karena memang perutnya terasa sangat lapar. Bara menyetel alarm di ponselnya pada pukul tujuh. Tugas dia pada pukul delapan jadi ada jeda waktu selama satu jam buat persiapan pasti cukup.


Bara tertidur hampir dua jam. Alarm berbunyi dan dia langsung bangun. Semua sudah dipersiapkan waktunya sesuai rencana. Bara menuju kamar mandi. Dia membersihkan diri dan sudah siap kembali sekitar tiga puluh menit kemudian. Jam tujuh tiga puluh dia menuju kamar Arin. Memang belum jam kunjungan. Tapi dia memang sengaja ingin mengunjungi Arin terlebih dahulu. Sampai di depan ruangan, dia melihat keadaan yang sepi.


Bara baru mau mengetuk pintu. Tapi untungnya dia mengintip dulu dari jendela kaca. Dia melihat Fian ada di dalam sedang berbicara dengan Arin yang masih saja tertidur. Terlihat Arin yang tersenyum bahagia. Entah apa yang diucapkan Fian, sehingga membuat Arin bisa terlihat sebahagia itu. Bara masih mengamati dari luar. Bara terkejut melihat Fian mendekati dan ternyata mereka berciuman. Hatinya berdebar. Ada rasa nyeri dalam dada. Yang menyakitkan lagi Arin terlihat membalas ciuman itu. Ternyata Arin sudah sadar, Atau memang masih dalam mimpinya. Setelah Bara melihat Fian sudah kembali ke tempat dudu, Barulah Bara memasuki ruangan. Bara sengaja tidak mengetuk pintu. Dia sengaja segera masuk karena dia tidak ingin melihat kejadian yang tadi terulang kembali. Dia sengaja buru-buru masuk, untuk mengantisipasi agar Fian tidak mencium Arin lagi. Dia tidak rela. Dia tidak ikhlas. Gadis yang dia sukai di cium orang.


"Makan apa melamun? Itu nasi goreng cuma di lihat, tidak di habisin, tadi katanya lapar."


Papa menepuk punggung Bara. Tentu saja dia terkejut.


"Papa bikin kaget saja. Ga ada apa-apa Pa." Bara kaget ada papa yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya.


"Ada yang dipikirkan, Sini cerita ke papa siapa tau papa bisa bantu."


"Tidak ada kok Pa, Biasalah mikir pasien yang sedikit agak bandel minum obat."


"Ya udah, Papa mau mandi dulu. Mau ke toko. Ini hari Sabtu kan? Mau ngasih bonus sama karyawan."


"Asyik bonus, aku juga mau dong Pa." Mama langsung memotong ucapan papa. kalau mendengar soal bonus, mama langsung terlihat bersemangat.


"Mama denger aja ada yang bilang bonus." Papa mencibir mama. Bara ikut tertawa.


"Iya dong, yang berbau-bau duit siapa yang bisa nolak. Hehehe.." Mama tersenyum senang. "Mama ikut ke toko dong Pa. Sekalian kita jalan-jalan, menikmati hasil jerih payah kita. Ini kan malam minggu, bagaimana kalau kita berkencan saja Pa."


"Mama tidak mau kalah sama yang muda." Papa hanya tersenyum.


"Lagian nunggu anak bujang kita kelamaan. Di suruh bawa menantu ga ada yang bawa. Kan Mama kepengen gendong cucu."


"Mama yang di bahas itu terus. Bara udah kenyang. Bara mau istirahat dulu ya Ma, Pa." Bara bangun dari duduknya. Dia melangkah menuju kamarnya.


"Tu Mama, Bara tidak nyaman didesak begitu. Besok lagi ga usah dibahas soal cucu. Kalau sudah ketemu jodohnya mereka pasti mengenalkan ke kita. Mama yang sabar."


"Iya Pa. Niat mama juga cuma becanda Pa. Tidak biasanya Bara seperti itu. Mungkin dia sedang ada masalah Pa."


" Bisa jadi begitu, Tadi pas makan juga terlihat melamun. Ya sudahlah Ma, jangan ikut campur urusan anak-anak. Kalau mereka ingin cerita pasti akan datang sendiri ke kita. Jangan terlalu memaksa anak untuk terbuka ,ke kita. Mama kurangi rasa penasarannya. Pelan-pelan kalau mau tanya ke Bara."


"Iya Pa, Mama paham. Ya udah katanya mau mandi. Buruan, keburu siang. Kasihan semua karyawan menunggu bonus tengah bulan."


"Ayo, mandi berdua Ma. Papa pengen. Sebentar aja ." Papa mengedipkan mata pada mama. Mama hanya tersenyum.


"Papa ikh... ayo Pa. Yakin cum sebentar. Sebentar nya Papa satu jam juga." Mama cemberut. Papa malah tertawa lebar.


"Hm.. Ingat umur." Bara melewati mereka berdua. Dia lupa tas kerjanya ketinggalan di meja makan.


"Apaan si Bara ini." Mama tersipu malu. Sedangkan papa malah tertawa keras. Mereka berdua meninggalkan Bara menuju ke kamar.


Setelah mengambil tasnya Bara kembali ke kamar. Dia bahagia melihat keharmonisan kedua orang tuanya. Bara ingin istirahat. Nanti malam masih kerja. Dia benar-benar lelah.


🌸🌸🌸


Ai menunggu Fian di depan rumah sakit. Mereka sengaja janji bertemu di depan rumah sakit biar Fian tidak bolak balik. Ai juga mengajak Via. Mereka bertiga pergi ke kantor polisi ingin menengok Omed. Ai merasa kasian sama Omed. Pengen melihat keadaannya. Omed yang terbiasa hidup enak harus mendekam di penjara. Apa bisa menjalaninya, pikir Ai.


Mereka bertiga tiba di kantor polisi pukul Sembilan. Omed sudah dipanggil oleh sipir penjara. Terlihat Omed berjalan mendekati mereka. Begitu melihat Omed, Fian merasa darahnya mendidih. Dia marah mengingat apa yang telah dilakukan Omed pada Arin. Omed tau itu. Dia berjalan mendekati bangku yang telah disediakan dengan menunduk. Bukan takut tapi merasa malu.


"Hai Omed, apa kabarmu?" Ai menyapa Omed. Tapi Omed diam saja. Dia hanya tersenyum tipis.


Fian masih emosi. Ingin rasanya dia memukul Omed. Tapi dia tahan. Tangannya sudah mengepal. Rahangnya terlihat mengeras karena menahan semua rasa kesalnya. Ingin rasanya melampiaskan semua kemarahannya. Ingin rasanya membalas semua perlakuan Omed ke Arin.


"Maaf Fian. Maafin gue. Maafin semua kesalahan gue. Gue bener-bener menyesal." Omed malah berkata pada Fian. Dia tidak menggubris pertanyaan Ai.


"Enak saja bilang maaf. Memangnya dengan kata maaf urusan langsung selesai. Kalau semua masalah bisa diselesaikan dengan kata maaf. Penjara kosong." Fian menjawab dengan nada yang sangat sinis.

__ADS_1


"Sudah si Fian. Toh Omed sudah mendapatkan hukumannya." Ai menenangkan Fian yang terlihat sangat emosi.


"Gue tidak mengerti dengan jalan pikiran lo Med. Yang gue denger lo suka sama Arin. Kok tega menyuruh orang untuk mencelakai orang yang lo suka. Otak lo di mana si." Fian berkata masih dengan nada yang penuh emosi.


"Maafin gue Fian. Gue memang jahat. Pukul gue biar lo puas. Gue rela." Omed berkata dengan penuh penyesalan. Dia memang salah dan dia rela jika harus mendapatkan pukulan juga dari Fian.


Fian cuma diam saja. Dia memandang Omed dengan penuh kebencian. Tapi dia ingat nasehat bunda. Perlahan emosi nya berkurang. Dia duduk di kursi tapi tidak memandang Omed lagi. Dia takut akan merasa emosi lagi.


"Omed, lo apa kabar? Dari tadi pertanyaan gue ga dijawab." Ai sedikit protes karena dari tadi Omed cuma fokus sama Fian.


"Maaf, beginilah keadaan gue. Gue baik- baik saja. Jangan khawatir akan keadaan gue. Keadaan Arin bagaimana? Apa dia sudah sadar."


"Fian, lo yang tau keadaan Arin. Ga mau menjawab pertanyaan Omed kah?" Via menyenggol Fian yang tidak merespon pertanyaan Omed.


"Tanya sama gue. Gue kira nanya sama Ai." Fian menjawab dengan acuh.


"Fian kenapa si gitu amat sama Omed." Ai merasa tidak suka melihat sikap Fian ke Omed.


"Pikir aja sendiri.Itu si kalau lo bisa mikir." Fian menjawab semua pertanyaan dengan semaunya sendiri. Fian masih merasa marah sama Omed. Jadi malas menjawab semua pertanyaan Omed.


"Baiklah Fian, kalau tidak mau menjawab pertanyaan gue."


"Fian jawab saja kenapa si."


"Terserah gue, gue mau keluar. Kalian berdua gue tunggu di depan."


Fian melangkah keluar ruangan. Melihat wajah Omed membuatnya sangat emosi. Dia belum bisa memaafkan perbuatan Omed. Hatinya merasa sakit mengingat kejadian yang membuat Arin belum mau bangun.


"Sudah, biarkan saja Fian keluar Med. Tadi si dia cerita keadaan Arin sudah ada kemajuan. Tinggal menunggu sadarnya saja. Luka diperutnya sudah mulai kering." Jawab Ai menghibur Omed.


"Alhamdulillah, semoga Arin segera sadar dan segera sembuh."


"Amiin." Ai dan Via menjawab bersamaan.


"Maksudnya lo mau keluar dari penjara gitu."


"Iya... Ijin sebentar sama pak polisi."


"Coba aja. Apalagi kalau pengacara lo atau bokap lo mungkin malah bisa dipermudah."


"Iya deh besok aja kali ya."


"Med, jangan patah semangat ya. Gue akan selalu ada buat lo. Arin pasti juga memaafkan lo. Lo kan tau bagaimana sifat Arin. Pasti dia akan memaafkan lo." Ai memberi semangat kepada Omed.


"Makasih Ai dan juga Via. Kalian berdua sudah mau menjenguk gue."


Waktu kunjungan sudah habis. Sang sipir penjara sudah memberi kode. Ai dan Via keluar. Dilihatnya Fian duduk di atas jok motornya.


"Ayo pulang. Lo mau pulang ke rumah apa balik ke rumah sakit." Tanya Ai mengagetkan Fian.


"Ai, kebiasaan banget si. Kalo datang itu ngasih kode. Biar gue ga kaget."


"Sialan lo, dipikir gue setan apa." Ai memukul tangan Fian dengan keras.


"Lo mau balik ke rumah sakit apa langsung pulang ke rumah." Tanya Via.


" Gue mau pulang dulu. Mau mandi dan ganti baju. Nanti sore baru balik ke rumah sakit. Ayo kita pulang. Ngantuk gue."


"Ya udah ayo. Lo pulang sendirian ya. Gue sama Ai mau mampir ke mall dulu." Ucap via.


Mereka bertiga berpisah disini. Karena arah yang akan mereka lalui berbeda arah. Fian ingin pulang. Dia merasa sangat capek dan mengantuk. Dia mau istirahat dulu dan nanti sore baru kembali ke rumah sakit. Semalem dia benar-benar tidak memejamkan mata sedikitpun. Pikirannya sangat kacau. Memikirkan keadaan Arin. Dia selalu berdoa semoga Arin segera pulih. Banyak hal yang ingin Fian katakan dan juga lakukan berdua Arin. Cepat sembuh Arin. Apalagi mengingat kejadian tadi pagi saat dia mencium nya. Fian menjadi bersemangat. Arin membalas ciuman nya.


🌸🌸🌸

__ADS_1


"Fian...Fian. Bangun nak. Udah siang." Mama maria mengetuk pintu kamar Fian. Mama belum melihat Fian dari tadi. Makanya Mama mencari Fian ke kamar."Fian, bangun. Tumben belum bangun sudah jam segini."


"Biarin si Ma, sekali-sekali Fian bangun siang."


Andra yang kamarnya bersebelahan membuka pintu dan menjawab pertanyaan mama. Dia semalam tidak bilang ke mama, kalau Fian tidak pulang. Memang Andra sengaja. Karena pas dia pulang rumah sudah sepi. Mama dan papa sudah masuk kamar.


"Adiknya belum makan, ini sudah siang Andra. Kamu sudah sarapan belum. Mama masak soto ayam kesukaan kalian."


" Iya Ma, sebentar lagi Andra turun. Biar Andra aja yang bangunkan Fian."


"Baiklah Andra, harus bangun ya. Segeralah turun ke bawah papa sudah menunggu untuk sarapan."


"Iya Ma, sebentar lagi Andra pasti turun."


Setelah mama pergi, Andra mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Fian. Setelah itu Andra turun ke bawah, ke ruang makan. Dia sudah lapar. Karena waktu sudah menunjukkan pukul delapan.


"Mana Fian, Ndra?"


"Dia ga ada di kamarnya. Tadi pas Andra telpon, katanya dia keluar tadi pagi. Ada janji sama temannya Ma."


Andra berbohong pada mama. Dia tahu kalau ini salah, tapi demi kebaikan semua dia melakukan itu. Andra tidak ingin mamanya memarahi Fian dan juga pasti mamanya akan memaki Arin. Andra tidak rela Arin yang tidak bersalah ikut disangkutpautkan.


"Ya sudah kita makan dulu saja, Papa sudah lapar Ma." Ucap Papa. Dia memang sudah merasa lapar.


Akhirnya mereka sarapan hanya bertiga. Andra merasa lega karena mama sudah tidak bertanya lagi mengenai Fian. Semoga nanti Fian tidak salah menjawab pas mama bertanya padanya nanti. Sebenarnya Andra juga sudah pasrah jika mama sampai marah. Sudah biasa juga. Entah mengapa mama begitu anti sama keluarga Arin.


Setelah selesai makan , Semua orang kembali dengan rutinitas masing-masin.


Fian pulang satu jam kemudian. Dia melihat mama sedang menonton televisi. Hatinya sudah was-was. Pasti mama akan marah pikirnya.


"Assalamu'alaikum, selamat pagi Mama." Fian menyapa mamanya walaupun dengan hati yang berdebar.


"Wa'alaikumsalam, pagi sayang. Dari mana kamu, pagi-pagi sudah kelayapan."


"Ketemu teman Ma. Ada janji tadi sama Ai dan Via. Mama tau kan mereka."


"Ai anaknya Pak Doni yang Istrinya punya butik itu ya."


"Iya Ma, Ternyata mama kenal juga dengan Mamanya Ai." Tanya Fian. Sengaja Fian mengajak mama berbincang, agar mama lupa dengan berita tentang Arin .


"Kalo Via anaknya Pak Hary yang punya restoran itu ya."


"Ternyata mama kenal baik dengan mereka."


"Kenal dong, mereka kan temen Arisan mama. Tidak seperti jeng Ida yang hanya pembantu. Mama setuju kalau kamu berteman dengan mereka."


"Iya Ma. Mereka memang teman Fian sejak SMA. Ya udah Fian ke kamar dulu. " Fian sengaja tidak membahas sedikit pun tentang keluarga Arin. Walaupun tadi Mama sempet menyebut nama bunda.


" Tunggu Fian, mama mau tanya. Itu anak si pembantu kenapa lagi masuk rumah sakit?"


Fian menghentikan langkahnya dan terdiam. Haduh sudah mencoba menghindari masih saja mama teringat sama Arin. Atau mungkin sebenarnya mama tidak membenci Arin. Karena setiap hari mama menyebut nama dia. Bukannya cinta dan benci itu beda tipis. Jangan terlalu cinta, karena begitu putus pasti akan sangat membencinya. Dan jangan terlalu benci nanti kamu malah akan jatuh cinta.


Fian bingung mau menjawab apa. Karena apapun yang dia jawab pasti akan menjadi bahan celaan mama pada Arin. Fian pura-pura tidak mendengar.


"Fian, kok diam. Jawab pertanyaan Mama. Jangan menghindari Mama. Sini duduk dulu. Mama mau berbincang sama kamu."


Fian tambah bingung. Dia bingung harus bagaimana. Mau berbuat apa . Menghindari atau menuruti kemauan mama. Kira-kira bagaimana ya.


Bersambung


Jangan lupa like dan komen.


Terima kasih ❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2