Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 77


__ADS_3

Pagi itu Fian terbangun saat adzan subuh berkumandang. Setelah sholat subuh dia berniat olah raga pagi. Biasanya dia memang lari di pagi hari. Udaranya masih segar dan tentu juga baik untuk kesehatan. Fian selalu rajin menjaga kebugaran tubuhnya. Walaupun perutnya tidak kotak-kotak, paling tidak masih rata. Tidak buncit seperti bapak- bapak.


Fian biasanya hanya mengelilingi kampung sampai dua atau tiga kali. Itu memakan waktu sekitar satu jam. Lumayan untuk membakar kalori. Menjaga keseimbangan berat agar tidak kegemukan.


Pagi itu tidak sengaja dia melihat Arin sedang mengendarai motornya. Pas saat Arin akan berangkat kerja. Fian melihat Arin berangkat bareng temannya. Fian hanya bisa memandang dari jauh. Dia tidak ingin menyapa. Cukup melihat dari jauh saja.


Fian kembali ke rumah setelah dirasa sudah cukup dia mengeluarkan keringat. Badannya terasa lebih ringan. Keringat bercucuran di seluruh tubuhnya. Menambahkan kesan semakin seksi tentunya. Bahkan ibu- ibu yang sedang belanja, menyempatkan diri untuk menoleh melihat ke arah Fian. Fian tidak menghiraukan mereka. Baginya semua itu tidak penting. Yang terpenting habis olah raga badan menjadi lebih sehat. Dan sekarang waktunya dia pulang. Perutnya sudah lapar. Dia segera berlari pulang ke rumah.


"Assalamu'alaikum.."


Tidak ada yang menjawab. Rumah tampak sepi. Fian menuju dapur. Dia merasa haus. Di dapur tidak ada siapa- siapa. Mama yang biasanya memasak juga tidak terlihat. Setelah minum Fian kembali ke kamar. Sebelum masuk dia melihat ke kamar Andra. Terlihat sepi. Mungkin Andra belum bangun. Fian membuka pintu kamarnya. Saat dia akan masuk terdengar suara mama memanggil.


"Fian."


Fian menoleh. Dia melihat mama berjalan ke arahnya.


"Fian, mama ingin berbicara sama kamu. Kita berbicara di sini saja."


Fian mengangguk. Tapi dia sudah kepengen pipis.


"Baik ma, sebentar Fian ke kamar mandi dulu."


Dengan sedikit berlari Fian menuju kamar mandi. Dia memang menahan kencing dari tadi. Tapi tadi malah diisi lagi dengan segelas air putih. Tapi memang dia merasa haus juga.


Saat dia keluar dari kamar mandi, dilihatnya sang mama sedang duduk sambil memegang sebuah album foto. Fian mendekati sang mama dan memeluknya.


Mama menutup album itu dan meletakkannya kembali ke tempat semula. Mama memandang Fian. Mata mama berkaca-kaca. Mama mengelus rambut Fian.


"Maafkan Fian ya Ma. Fian bener-bener tidak berniat mencelakai bang Andra." Mama mengangguk. Tangannya masih mengelus rambut Fian


"Mama tidak menyalahkan kamu Nak. Semalam mama hanya terkejut saja. Maafkan mama telah memperlakukan kamu dengan kasar ya. Bukan mama tidak sayang. Tapi mama hanya terkejut.


"Iya Ma, Fian mengerti kok."


Fian melepaskan pelukannya. Sekarang dia tiduran di pangkuan sang mama. Entah apa yang dia rasakan saat ini. Dia ingin sekali dimanja saat ini.


"Ma.. Apa aku boleh tanya sesuatu?"


"Mau tanya apa. Kalau mama bisa jawab pasti mama jawab."


Fian menarik nafas panjang. Dia terlihat ragu-ragu mau mengajukan pertanyaan yang selama ini ada di benaknya.


" Ma..apa yang membuat mama membenci keluarga Arin."


Mama terdiam. Dia tau suatu saat pasti Fian akan mempertanyakan hal ini. Dan saat itu telah tiba. Tapi mama belum siap untuk mengungkapkan semuanya.


"Fian.. maafkan mama. Mama belum siap mengungkapkan yang sebenarnya. Nanti ya. Tunggu saat itu tiba. Sepertinya tidak akan lama lagi. Kamu sabar ya."


"Iya ma."


Fian mengangguk. Ternyata saatnya belum tiba juga. Dia harus menunggu lagi misteri itu. Fian berpikir mungkin ini sangat berat buat sang mama.


"Fian.. mama mohon dengan sangat. Jauhi Arin. Mama tidak ingin kamu terluka nantinya."


Fian mengangkat kepalanya dari pangkuan sang mama. Dia memandang mama mencoba mencari penjelasan.


"Fian.. sekali lagi maafkan mama. Ini semua demi kebaikan kalian berdua."


Fian semakin bingung dengan perkataan mama.


"Maksud mama apa?"


Mama menunduk. Mama belum bisa menemukan jawaban atas pertanyaan Fian. Tapi dia harus menjawabnya juga.


"Fian.. yang harus Fian tahu kalau mama sayang sama kamu. Dan mama ingin yang terbaik buat kamu. Itu saja. Dan sekali lagi, Ingat ya. Jauhi Arin. Kalau kamu tidak ingin sakit hati."


Mama bangun dan meninggalkan kamar Fian. Di depan pintu, dia menghentikan langkahnya dan menghapus air mata yang jatuh di pipinya.


"Maafkan mama, Nak. Belum saatnya semua terbuka."


Mama mempercepat langkahnya. Dia tidak ingin Fian melihat dia menangis. Namun mama tidak menyadari jika ada sepasang mata sedang menyaksikan semuanya. Andra melihat semuanya dari balik kamarnya. Dia tidak sengaja mendengar semuanya. Dia tadi berencana mau ke kamar Fian. Namun melihat ada mama, dia mengurungkan niatnya.


"Semoga semua segera terungkap. Agar tidak ada lagi yang terluka."


Ucap Andra lirih. Dia kembali merebahkan tubuhnya. Sebenarnya dia lapar, Namun nafsu makannya tiba-tiba hilang mendengar ucapan mama tadi.


Sepeninggal mama, Fian kembali merebahkan tubuhnya. Dia menerawang menatap langit-langit kamar. Ada banyak hal yang dia pikirkan. Dia masih memikirkan alasan apa yang membuat sang mama begitu membenci Arin.


"Ya sudahlah. Untuk apa terlalu dipikirkan. Jalani aja apa yang ada. Semoga semua baik-baik saja. lha perut gue bunyi. Lapar gue."


Fian bergegas bangun. Ternyata untuk menerima kenyataan butuh asupan juga. Fian tersenyum sendiri. Dia merasa geli dengan isi pikirannya sendiri.


Fian keluar kamar. Dilihatnya kamar Andra masih tertutup. Dia mengetuk pintu kamar Andra.

__ADS_1


"Bang... bang. Makan yuk. Lapar gue. Lo udah baikan kan. Luka lo bagaimana?"


Andra membuka pintu kamarnya.


"Yuk gue juga lapar."


"Bagaimana lukanya. Masih sakit."


"Ga apa-apa kok. Cuma lecet doang ini. Yuk akh, laper banget gue."


Andra berjalan mendahului Fian. Dia memang sudah merasa lapar dari tadi. Tapi malas turun. Sekarang ada temen makan dia semangat lagi.


Mereka hanya makan berdua. Papa dan mamanya tidak terlihat. Tapi pasti sudah sarapan karena dilihat jumlah lauk dan sayurnya yang hanya sedikit.


Mereka makan sambil terus bercakap- cakep. Dari dalam kamar, mama hanya menyimak semua yang mereka perbincangkan. Ada rasa sedih menggelayuti hatinya. Seandainya tidak terjadi kejadian dua puluh tahun lalu. Pasti mama tidak akan sejahat ini pada Fian.


"Ma.."


Mama terkejut. Papa sudah berdiri dibelakang mama sambil memegang bahunya.


"Jangan terlalu dipikirkan. Jika saatnya sudah tiba, kita pasti akan membuka semuanya."


"Iya pa.. maafkan mama yang terlarut dengan semua ini."


"Fian sudah besar. Pasti dia bisa mengerti semua alasan mengapa kita begini."


"Iya pa.."


Mama menghela nafas panjang. Dia terlalu bawa suasana. Tidak seharusnya dia begini.


"Jalan-jalan yuk ma, papa ingin menghirup udara segar."


"Sip pa.. tau aja mau mama. Jadi tambah sayang dah."


"Cepetan ganti baju. Jangan lama-lama."


"Ok papa sayang."


Mama tersenyum. Papa selalu mengerti yang dia mau. Jalan-jalan bisa merubah mood nya menjadi kembali membaik. Sambil bersenandung mama berganti pakaian.


🌸🌸🌸


Arin mempercepat langkahnya. Dia sudah terlambat sepuluh menit. Seharusnya dia sudah masuk dan mulai bekerja kembali. Tadi dia keasyikan mengobrol dengan Tia. Arin jadi lupa waktu. Untung suster Ayu segera datang. Dan Arin bisa dengan segera meninggalkan Tia. Tentu saja Arin tidak tega meninggalkan Tia seorang diri tanpa ada yang menemani. Tapi akibatnya dia jadi terlambat masuk ke pabrik. Pasti dia akan kena omel.


"Arin... Arin tunggu."


"Arin.. tunggu."


Terdengar suara itu lagi. Arin berhenti. Dia bingung dari tadi dia mendengar suara memanggil namanya. Namun tak terlihat orangnya sama sekali.


"Arin.."


"Siapa sih."


Arin berhenti lagi. Dia melihat ke sekeliling lagi. Tiba-tiba dari samping muncul Titin. Dia adalah kepala regunya


"Astaghfirullah.. pok Titin. Bikin kaget aja. Dari tadi aku sudah mencari suara orang yang memanggil. Tapi tidak terlihat."


"Lo dari mana. Lo lihat ini sudah jam berapa."


"Hehehe.. maaf tadi sehabis menyelesaikan tugas Pak Teguh, Gue ke toilet. Kebelet. Mules . jadi lama deh."


"Malah cengengesan. Lo gue hukum ya. Bantu tugas gue mencatat jumlah mesin yang jalan."


"Eh.. tidak bisa begitu pok. Gue kan tidak salah. Gue kan dapat tugas dari pak Teguh "


"Jangan ngeles lo. Pokoknya harus lo kerjain atau..."


"Atau apa Titin."


Mereka berdua terkejut. Pak Teguh sudah ada di belakang mereka.


"Eh pak Teguh. Tidak pak.. Maaf permisi pak saya melanjutkan pekerjaan saya dulu."


Titin meninggalkan tempat itu. Dia menjauh sambil cemberut. Dia gagal mengerjai Arin. Selama ini dia tidak pernah berhasil jika ingin mengerjai Arin. Selalu datang orang yang membantu Arin.


"Terima kasih pak.. Saya kembali bekerja."


"Iya Rin.."


Arin berlalu dari hadapan pak Teguh. Dia harus kembali bekerja. Waktu kerjanya sebentar lagi. Arin pulang pukul dua tiga puluh menit.


"Arin.. Tunggu."

__ADS_1


Arin menghentikan langkahnya. Pak Teguh menyusul Arin.


"Ada apa Pak.."


"Baju yang tadi buat kamu saja. Tidak usah di kembalikan."


",Tapi pak .. itu..."


"Sudahlah.. itu sudah menjadi milik kamu. Kamu tidak usah sungkan. Ok. Kalau begitu saya permisi dulu. Selamat bekerja kembali. Dan jaga keselamatan kerja."


Arin mengangguk. Dia tidak bisa protes lagi. Arin kembali ke mesinnya. Dia harus segera memeriksa mesin- mesinnya.


Dari ruangan pengawas sepasang mata memperhatikan semua yang terjadi. Dia hanya diam tanpa ekspresi. Dia menggelengkan kepala melihat semua tingkah para pekerjanya.


"Kamu lihat apa Arga."


Arga terkejut. Bagas sang papa sudah berdiri di samping nya. Bagas ikut memandang ke arah mana pandangan Arga.


"Cantik ya. Dia karyawan teladan. Walaupun dia bekerja belum lama di sini. Baru tiga tahun dia bekerja. Dan sangat dia sangat rajin."


Arga melangkah menjauh dari jendela. Dia kembali duduk di kursinya. Bagas mengikuti Arga.


"Pa.. Arga bersedia menggantikan papa bukan berarti Arga harus selalu disini. Arga punya usaha sendiri."


"Iya papa tahu. Kamu hanya memantau saja perkembangannya dari jauh."


"Iya pa.. terima kasih."


"Arga.. sudah saatnya kamu mencari pengganti Sheila. Carilah wanita yang menyayangi Tia."


"Tapi Arga belum memikirkan hal itu pa. Biarlah Arga mengganti dulu waktu Arga yang telah hilang. Saat ini Arga hanya ingin fokus sama perkembangan Tia. Kasian Tia, Arga telah menelantarkannya."


"Baguslah Nak. Kamu telah menyadari semua. Tapi Tia juga butuh seorang ibu."


"Iya pa."


Arga hanya bisa mengiyakan ucapan sang papa . Tapi benar. Dia belum sama sekali berpikir ke arah itu. Tujuannya sekarang hanya ingin membahagiakan Tia.


Ingat Tia, Arga bangkit dari duduknya. Dia berjalan tergesa.


"Arga.. mau kemana."


"Tia pa.. Bukannya tadi Tia ikut kemari sama suster. Arga lupa."


"Astaghfirullah Arga.."


Mereka segera berlari keluar. Arga lupa Tia dia tinggalkan dimana tadi. Dia terus saja berlari ke sana kemari. Yang dia ingat tadi Tia pengen pipis dan dia pergi bersama suster. Arga berlari ke arah toilet di ruangan yang tadi digunakan untuk acara penyambutannya. Dia melihat ke sana kemari. Tapi Tia tidak terlihat. Arg panik. Kenapa dia bisa melupakan anaknya.


Bagas menelpon Teguh agar membantu mencari Tia. Mereka juga mengerahkan para office boy untuk membantu. Karyawan yang lain ikut bingung mencari.


Mereka berbisik-bisik menyayangkan sikap bos nya teledor meninggalkan sang buah hati.


Arin yang tidak mengerti apapun hanya diam . Dia tetap fokus bekerja. Tapi memang dia tidak tau apa yang terjadi karena ruangan mereka tersekat dinding yang kedap udara.


Semua karyawan di bagian produksi tetap bekerja seperti biasanya. Mereka tidak ikut heboh dengan hilangnya anak sang bos mereka.


Tiba-tiba arin terkejut dengan suara anak kecil yang memanggil namanya.


"Kakak cantik.."


Eh itu suara Tia. Kok Tia ada di bagian produksi. Kan bahaya. Daerah produksi adalah daerah terlarang untuk anak-anak.


"Tia kok disini. Sama Siapa."


" Tadi Tia mengikuti kakak cantik."


"Astaga Tia. Suster mana."


"Tidak tau."


"Haduh bagaimana ini. Kakak sedang bekerja Tia. Kenapa Tia menyusul kemari. Sekarang Tia diam saja di situ ya. Jangan berjalan kemana-mana. Berbahaya."


Arin bingung harus bagaimana. Dia harus bekerja. Sedangkan Tia ada di sampingnya. Dia tidak tau harus mengembalikan Tia kemana. Untung Tia anak penurut.


Tia duduk di langit di sekitar mesin yang jadi tanggung jawab Arin. Arin sesekali mengajak Tia berbincang agar Tia tidak berjalan kemana-mana.


Arin heran . Kok sepi ga ada suara lagi. Dia melihat ke arah Tia duduk. Ternyata Tia tertidur bersandar mesin. Dia merasa kasian. Dia mendekati Tia. Sebenarnya Arin ingin mengangkat Tia dan membawa ke ruang istirahat di sana ada tikar yang nyaman buat Tia tidur. Tapi tak terlihat temannya satupun. Dia ingin meminta tolong untuk menjaga sebentar mesinnya.


Akhirnya karena kasihan Arin nekad meninggalkan mesin untuk memindahkan Tia ke ruangan istirahat. Toh jarak ruang istirahat dan mesinnya tidak jauh. Pasti tidak apa-apa. Dengan perlahan dia menggendong tubuh Tia. Tia masih terlelap dalam tidurnya. Tia tidak tau kalau papa dan orang-orang sedang kebingungan mencarinya. Tia terlelap dalam gendongan Arin .


Arin meletakkan Tia di tikar. Arin merasa ini lebih nyaman dan lebih baik dari tempat tadi . Arin pikir nanti setelah jam kerjanya selesai dia akan mencari orang tua dan susternya. Toh tinggal setengah jam lagi. Bukannya itu tidak lama.


Namun kita tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Kita tunggu saja.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan like dan komen Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2