Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 45


__ADS_3

Mama oh Mama


Hari masih pagi. Adzan subuh baru saja berkumandang. Tapi Andra sudah bangun. Dia memang terbiasa bangun pagi. Hari ini dia mau joging. Setiap minggu dia berolahraga di lapangan. Atau kalau tidak dia berlari mengelilingi kampung. Lumayan untuk membakar kalori.


Setelah melaksanakan sholat subuh Andra bersiap berangkat. Andra sudah berpakaian olah raga lengkap dengan sepatunya. Pas dia menuruni tangga Andra berpapasan dengan Mama.


"Mau kemana sih gantengnya mama. Udah bersiap mau olah raga ya."


"Iya ma, biar tetep ganteng ma. Kalo ganteng begini, mama kan jadi cepet punya mantu." Andra selalu bisa meladeni ledekan mama. Andra selalu bisa menyenangkan mamanya.


"Kamu sendirian, Adik kamu mana. Apa belum bangun?"


"Belum Ma, Tapi ga tau juga. Andra ga bangunin Fian. Biarin aja sih dia tidur. Ya udah Andra berangkat dulu ya ma."


"Iya Andra. Mau dimasakin apa buat sarapan."


"Terserah saja. Apapun yang Mama masak pasti enak dan pasti Andra makan."


"Baiklah, Mama ke warung sebentar."


Akhirnya Andra berangkat olah raga. Mama ke warung mau membeli sayuran. Di warung sudah banyak orang berbelanja. Terlihat mengantri. Setelah mendapatkan semuanya mama pulang. Di depan rumah mama baru sadar kalau motor Fian tidak ada. Jadi dari kemarin dia tidak pulang .Mama buru- buru ke kamar Fian dan mengetuk pintu kamar Fian. Namun tidak ada jawaban. Mama membuka pintu kamar. Ternyata Fian tidak ada di dalam.


"Jadi semalam Fian tidak pulang. Kemana perginya anak itu." Mama bicara sendiri. Dia langsung kepikiran Arin si anak pembantu. Pikiran mama langsung ke dia.


"Hm, pasti tidak pulang karena menunggu Arin di rumah sakit. Dasar anak tidak bisa diatur. Sudah dibilangin tidak pernah menurut. Liat saja nanti kalau pulang." Gerutu mama.


Mama merasa dibohongi oleh Fian. Mama marah sekali. Mama kecewa sama Fian. Pergi menginap tanpa pamit. Mama menuju dapur dan memulai memasak. Mama akan menunggu kedatangan Fian. Mama kecewa sama Fian. Selesai masak mama menunggu Fian di ruang keluarga sambil menonton televisi. Menunggu itu pekerjaan paling melelahkan dan paling membosankan. Apalagi kalau harus memakan waktu dan dalam suasana hati yang marah. Pasti akan semakin terasa lama. Demikian juga dengan mama. Dia semakin marah karena Fian tidak kunjung pulang. Hari semakin siang. Tapi Fian belum pulang juga. Akhirnya mama menyerah. Mama memilih masuk kamar. Biar nanti saja memarahi Fian pikir mama.


Fian sampai rumah pukul sebelas. Mama melihatnya dan mengikuti Fian ke kamar. Tapi karena mama melihat Fian masuk kamar mandi, mama kembali lagi ke bawah. Mama tau Fian kalau mandi pasti lama. Mama sudah menghitung.waktu Fian mandi dan saat waktu itu tiba mama kembali ke kamar Fian.


Fian yang melihat mama duduk di ranjang, balik badan mau masuk lagi ke kamar mandi dan menutup pintu. Akan tetapi mama sudah terlebih dahulu melihatnya.


"Fian.. jangan kabur."


"Siapa yang kabur sih Ma, Fian mau buang air besar."


"Jangan bohong kamu. Fian keluar ga."


Mama Fian menggedor pintu kamar mandi. Akhirnya Fian keluar. Dia tahu mamanya tidak akan pernah berhenti sebelum tujuannya tercapai. Begitu Fian membuka pintu, tangan mama langsung menjewer telinga Fian.


"Haduhh..sakit... sakit Ma. Mama ada apa sih? Kenapa Fian di jewer." Fian merenggut, dia pura-pura tidak tahu kesalahannya.


"Kamu jadi anak tidak bisa dibilang pakai mulut. Mau kamu apa? Hm... Sudah dibilang jauhi anak pembantu itu. Jauhi. Kenapa masih saja mendekatinya." Mama masih menarik telinga Fian dengan keras.


"Mama, Mama sayang. Dia punya nama Mama. Namanya Arin. Kenapa mama selalu memanggil dengan anak pembantu Ma. walaupun itu benar." Dengan sabar Fian menjawab pertanyaannya Mamanya. Telinga nya sangat sakit. Fian mengelus-elu telinga nya.


"Terserah siapa namanya. Mama tidak perduli. Dengerin Mama, mulai sekarang kamu jangan deket -deket sama dia lagi." Mama dengan sangat emosi memandang Fian.


"Fian tidak mengerti apa maksud Mama."


"Semalam kamu di mana. Kamu tidak pulang dua hari ini kan? Kamu tidur di mana. Jawab!"


"Fian menunggu Arin di rumah sakit. Kasian dia sakit ma."


"Dia kan punya keluarga. Kenapa kamu harus repot-repot ikut menunggui nya?"


"Ma, Arin teman Fian sejak kecil. Fian hanya menemaninya. Fian hanya memberinya semangat. Tidak lebih Ma. Kenapa Mama begitu mempermasalahkan semua ini." Mama terdiam. Fian menjauh dari mama. Dia membuka lemari dan mengambil baju kemudian dipakai nya.


"Ma,boleh Fian tahu, Kenapa Mama begitu membenci keluarga Arin? Apa salah mereka pada keluarga kita? Selama ini Mama selalu melarang Fian dan Bang Andra untuk bergaul dengan keluarga mereka. Apa masalahnya? Mereka orang-orang yang baik lho Ma."


Fian menghentikan ucapannya.Dia ingin melihat reaksi Mama. Tapi mama diam saja. Tapi wajah mama terlihat menahan kemarahan.


"Pokoknya Mama tidak suka sama mereka. Titik itu saja. Mama hanya berharap kamu mendengar perkataan Mama." Mama berjalan keluar kamar. Mama memilih pergi. Dan selalu begitu. Mama tidak pernah menjawab pertanyaan Fian. Mama tidak pernah memberi tahu alasan mereka membencinya.


"Ma,mama.Mama belum memberitahu Fian. Mama jangan pergi dulu."

__ADS_1


Dan selama ini selalu begitu. Teka-teki tentang rasa benci keluarga Fian kepada keluarga Arin tidak pernah terjawab. Fian merasa sangat penasaran. Tapi Mama dan Papanya menyimpan rapat semua alasan itu. Mama dan papa selalu menghindar jika ada yang bertanya alasan yang sebenarnya. Tapi mereka selalu kekeh melarang Andra dan Fian untuk berteman dengan keluarga Arin. Pokoknya harus menjauhi keluarga Arin.


Mama melangkah pergi keluar dari kamar Fian. Dia kembali ke kamarnya. Hatinya masih terasa panas. Beliau masih kecewa dengan Fian yang tidak jujur. Mama duduk di kursi di depan meja rias. Dia mengambil nafas panjang. Dadanya sesak jika mengingat keluarga Arin. Mama belum sanggup untuk memberitahu alasan yang sebenarnya. Rasanya bencinya bukan tanpa alasan. Mama sebenarnya tidak ingin mengingat kejadian itu. Kejadian Dua puluh tahun lalu.


" Sudahlah mending aku berendam. Sakit kepalanya bila mengingatnya." ucap mama sambil berjalan memasuki kamar mandi. Dan selalu begitu. Setiap mengingat kejadian itu Mama selalu akan berakhir dengan berendam. Mama belum siap membuka semua misteri ini.


🌸🌸🌸


Bara pulang ke rumah sudah sangat terlambat. Sudah pukul tiga sore. Walaupun tubuhnya capek Namun dia merasa sangat gembira. Di mobil dia terus saja bersiul sambil terus tersenyum.


"Yes, akhirnya gue bisa berteman dengan Arin. Akhirnya dia mau menganggap gue jadi temannya." Bara berkata sendirian. Dia terus saja bersenandung. bersiul tidak henti- hentinya. Sampai di rumah pun Bara masih terus bersiul. Wajahnya terlihat berseri-seri.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Anak mama baru pulang. Sore sekali sayang." Mama menyambut kedatangan Bara.


"Iya Ma. Ada urusan yang harus Bara selesaikan tadi. Ada pekerjaan yang harus Bara kerjakan." Jawab Bara sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Mama mengikuti langkah Bara.


Mama mengamati wajah Bara. Mama memandang Bara tanpa berkedip.


"Ada apa dengan kamu sayang. Kamu terlihat sangat gembira." Mama memandang Bara penuh arti. Mama tersenyum melihat Bara yang terlihat sangat gembira.


"Memang ada apa Ma. Bara baik-baik saja . Ada yang aneh kah pada tubuh Bara?" Bara malah bingung dengan sikap mama. Bara memandang tubuhnya dari atas ke bawah, ke kiri dan kanan mecari keanehan yang ada.


" Kamu terlihat berbeda hari ini. Ada yang terjadi dengan kamu . atau di rumah sakit ada yang terjadi?"


" Apa sih Mama sayang. Bara biasa saja begini. Tidak terjadi apa-apa di rumah sakit."


"Terus, kenapa kamu terlihat begitu bahagia. Wajah kamu berseri-seri. Terlihat begitu cerah . Hahaha... Jangan bilang anak mama lagi jatuh cinta." Mama tertawa melihat wajah Bara yang memerah. Mama semakin senang menggoda Bara. Anaknya yang satu ini yang belum pernah pacaran.


"Apa sih mama. Seneng banget kalau ganggu Bara." Papa tiba-tiba muncul di ruang tamu.


"Ga kok Pa. Ini anak kamu terlihat begitu bahagia. Lihat saja Pa. Hahaha.. Mukanya memerah kan. Hahaha.." Mama masih saja tertawa.


"Mama begitu banget sama Bara. Ya udah Bara naik dulu ke atas. Bara mau istirahat. Capek." Bara berjalan menjauhi kedua orang tuanya.


Bara terus melangkah. Dia masih terus tersenyum. Dia merasa bahagia hari ini karena semua yang terjadi sesuai yang dia harapkan. Hari ini memang terasa berbeda. Baru kali ini Bara merasa dia mempunyai keberanian berhadapan langsung dengan seorang wanita. Dari dulu jaman dia sekolah, tak sekalipun dia mendekati lawan jenis. Sebenarnya banyak cewek yang suka padanya. Tapi tak sedikitpun ada yang dia ladeni. Bara memang terlalu kaku dalam bergaul. Beda dengan Arkan kakaknya yang supel. Arkan mempunyai banyak teman. Kalau Bara hanya berteman dengan Bram dan Bima. Bukan menutup diri tapi memang Bara selalu mementingkan pendidikan terlebih dahulu daripada yang lain.


Bara masuk ke kamarnya. Dia ingin istirahat. Badannya terasa capek. walaupun hatinya sedang bahagia tidak bisa membohongi fisiknya yang capek. Sebelum istirahat Bara membersihkan badan dulu . Dia ingin berendam. Melemaskan tubuh dan otaknya. Bathtub sudah diisi air dan wewangian aromaterapi. Bara membuka bajunya. Terlihat tubuhnya yang padat berisi. Bara selalu menjaga kebugaran tubuhnya. Bara masuk ke dalam bathtub dan mulai berendam.


Dia teringat semua percakapannya dengan Arin. Bara teringat senyuman Arin yang manis, tawanya, cara dia mengungkapkan perasaan nya. Cara dia tertawa. Semua tentang Arin terbayang di pelupuk mata.


"Akh. sudah gila gue. Kenapa begini banget si gue. Arin. Gue benar-,benar telah jatuh cinta sama lo." Ucap Bara. Dia bicara sendirian. Tersenyum sendirian. Bara merasa dirinya sudah tidak waras. Bara merasa hatinya penuh bunga.


🌸🌸🌸


"Bunda dari mana." Tanya Arin ketika melihat bunda memasuki ruangan.


"Bunda habis jalan-jalan. Melihat area rumah sakit ini yang ternyata begitu luas. Capek juga."


"Bunda mengitari seluruh bagian rumah sakit ini? Astaga, memangnya bunda tidak capek."


"Hehehe... ya begitulah. Bunda baru saja melihat-lihat bagian-bagian rumah sakit ini."


"Ikh bunda, memangnya bunda tidak nyasar?"


"Tidaklah. Nanti kalau nyasar tinggal tanya. Kan ada penunjuk arahnya."


"Kan mending buat istirahat daripada berjalan jauh memutar rumah sakit. Arin hanya khawatir bunda kecapekan."


"Bunda tidak capek kok Rin. Kan bunda melihatnya di denah rumah sakit yang ada di kantin. Hahaha..." Bunda tertawa bisa mengerjai Arin.


"Bunda,Ikh ga lucu. Kalau itu ga bakal capek lah. Arin pikir beneran ." Arin cemberut tak urung dia tertawa juga Bunda bisa saja becanda.


" Mending bunda tidur. Kurang kerjaan banget namanya. Kamu tidak tidur. Dokter Bara sudah pulang?" tanya bunda.

__ADS_1


"Sudah tiga puluh menit yang lalu pak Dokter keluar dari ruangan. Dia sudah pulang bund, Jam kerjanya sebenarnya sudah selesai dari jam delapan tadi. Tapi malah menyempatkan diri berbincang dengan Arin."


"Oh begitu ya. Dokter Bara sangat baik ya. Dokter Bram juga baik. Satu lagi temannya siapa?"


"Siapa bund, Arin tidak tau. Kemarin kan Arin tidur."


" Oh ya bunda ingat. Bima.. namanya Bima yang datang ke rumah bersama Dokter Bara memberi kabar kalau kamu masuk rumah sakit."


"Dokter Bara sudah tahu rumah kita bun?"


"Iya, malam kejadian setelah kamu ditusuk, Dokter Bara dan Bima ke rumah. Katanya Bima yang menolong kamu dari perampok itu. Berdua sama Dokter Bram. Itu menurut cerita mereka."


"Mereka orang-orang yang baik ya Bun


Semoga Allah membalas semua kebaikan mereka. Amin."


"Amin. Kamu tidak mengantuk. Tidur , istirahat biar cepet pulih."


" Tidak bisa tidur bunda, Kalau bisa pasti tidak Arin sia-siakan. Hehehe.."


"Bunda lupa kalau kamu kan *****


Hahaha.."


Mereka berdua berbincang. Banyak hal yang mereka bahas. Bunda merasa sangat bahagia. Arin telah kembali. Walaupun bunda masih curiga. Bunda masih sering melihat Arin yang kadang melamun . Kadang terlihat terdiam dengan tiba-tiba. Bunda yakin pada saat itu pasti Arin sedang teringat semua kejadian yang menimpanya.


"Bunda, apakah benar Arin sudah boleh pulang besok?"


"Asal kamu seperti ini terus pasti diperbolehkan pulang."


"Arin sudah kepengen pulang. Arin kangen masakan bunda."


"Tentu Arin. Sesampainya di rumah bunda akan memasak semua makanan kesukaan kamu."


"Bagaimana Arin memakan nya bun. Makanan kesukaan Arin kan banyak. Hehehe.."


"Iya juga ya."


"Bunda harus rayu pak Dokter ya biar besok Arin bisa pulang. Arin sudah ga betah di sini."


"Iya sayang Asal kamu berjanji, kamu akan baik-baik saja. Asal kamu selalu gembira pasti pak Dokter mengijinkan."


"Iya Bunda sayang. Arin berjanji."


"Nah begitu. Bunda senang kalau kamu selalu tersenyum seperti ini. Kalau ada apa-apa cerita ke bunda. Jangan dipendam sendiri." Bunda mengelus kepala Arin dengan penuh rasa sayang. Bunda tersenyum melihat keadaan Arin yang sudah terlihat membaik.


"Iya bunda. Arin sayang sama bunda , juga sayang sama Ayah, sama Rama juga. Sama kak Nia juga sayang." Mata Arin berkaca-kaca. Dia jadi merasa sedih lagi.


"Nak, Arin. Dengar bunda. Semua sayang kamu. Jangan pikirkan apapun. Lihat bunda, tatap bunda. "


" Hiks...hiks .hiks.. bunda.. Arin sayang bunda." Arin mulai menangis. Bunda panik. Bunda takut. Bunda merasa sikap Arin mulai aneh.


"Arin, Nak. Lihat bunda. Tatap bunda." Bunda memeluk Arin. Bunda mengelus rambut Arin. Arin masih terisak.


"Hiks..hiks .hiks..Bunda Arin pengen tidur. Arin mengantuk."


"Ya udah tidur, bunda temani disini. Sudah jangan menangis. Ada bunda disini."


Bunda terus menerus mengucapkan kata-kata yang menenangkan. Arin masih terisak. Bunda memeluk Arin. Bunda kaget . Bunda panik. Bunda berteriak.


"Arinn.....Arin,..Nak.Ariiiiiinnn."


Bunda langsung memencet tombol saklar memanggil dokter. Bunda takut. Apa yang terjadi dengan Arin kali ini.


Bersambung

__ADS_1


Budayakan tinggalkan like dan komen.


Terima kasih❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2