
Dengan langkah mantab dan tegap Fian melangkah menuju motornya yang diparkir di garasi. Sebenarnya dadanya bergejolak. Tapi dia harus kuat. Ini sudah keputusannya.
Fian mengendarai motornya dengan perlahan. Jarak rumahnya dengan rumah Arin cuma 300 meter. sebenarnya dekat. Biasanya dia jalan kaki. Tapi kali ini perasaannya sedang tidak nyaman. Lebih baik dia menggunakan motor. Itu pemikiran Fian tentunya.
Setelah tiba di depan rumah Arin, Fian terdiam. Dia melihat sebuah mobil terparkir di halaman rumah Arin. Fian berhenti dan mematikan mesin motornya agak jauh dari rumah Arin. Fian turun dari motornya. Dia berjalan perlahan menuju rumah Arin. Dia ingin tau siapa orang yang sedang berkunjung ke rumah Arin.
Pintu rumah Arin terbuka lebar. Fian dengan mudah melihat ke dalam. Fian melihat Bara ada di dalam. Arin pun ada. Mereka berdua terlihat bahagia. Terlibat sangat akrab dan dekat. Arin terlihat tertawa bahagia. Fian bisa menyaksikan semua itu. Arin yang bisa tertawa begitu lebar dan terlihat santai tidak ada beban.
Fian menarik nafas panjang. Ada sesak terasa di dadanya. Dia merasa senang melihat Arin bisa tertawa. Fian merasa keputusannya tepat memilih Bara untuk menemani Arin. Mereka berdua terlihat cocok.
Fian terdiam sesaat. Dia memandang Arin dari jauh. Arin menoleh padanya. Tidak tau itu sengaja atau tidak. Tapi terlihat seperti Arin tidak melihat kalau itu Fian. Mungkin karena jauh dan di gelap malam juga, Arin tidak akan menduga kalau ada Fian di sana yang sedang memperhatikannya.
Mereka berdua terlihat kembali asyikk berbincang sambil tertawa. Fian hanya memperhatikan saja. Dia sudah tidak punya keinginan untuk masuk. Dia sudah tidak ingin bertemu Arin lagi. Fian memutuskan pulang saja. Namun ketika dia berjalan dua langkah, dia berpapasan dengan Rama.
"Bang.. kok ga jadi masuk."
"Eh.. Ram.. Tidak Ram. Kakak kamu masih ada tamu. Lain kali saja."
"Ada tamu siapa memangnya?"
"Lihat saja sendiri Ram.. Ya udah gue pamit ya. Jangan bilang sama kakak lo, kalau gue kesini."
"Kenapa bang.. Kenapa kalau kak Arin tau."
"Tidak apa-apa. Cuma tolong jangan bilang kalau gue kesini. Udah gitu aja. Gue pamit ya. Assalamu'alaikum."
"Wa' alaikumsalam."
Fian kembali menuju motornya Yang terparkir tadi. Dia sudah tidak ingin bertemu Arin. Sudah melihat dari jauh bagaimana keadaan Arin, dia sudah merasa tenang. Arin sudah bahagia bersama Bara.
Fian menyalakan motornya. Dia melaju dengan pelan. Fian mengendarai motornya tak tentu arah. Dia sudah tidak ada tujuan. Semua yang direncanakan hancur sudah. Tapi ini malah mempermudah langkahnya untuk pergi. Dia sudah semakin mantab meninggalkan kota ini.
Fian berhenti di alun-alun. Dia berhenti tepat di depan tenda bakso. Dia ingin melampiaskan semua yang dia rasakan dengan makan bakso yang super pedas.
"Bang.. pesen bakso satu ya. Minumnya jeruk hangat saja."
Fian mencari tempat duduk. Untung masih ada tempat kosong. Dia memilih duduk di pojok. Lebih nyaman dari pandangan orang. Fian menunduk. Hatinya basah. Sedikit merasa sesak. Dia merasa perjalanan hidupnya selalu tidak sesuai dengan keinginannya. Tapi dia harus bisa menerima semuanya. Dia harus ikhlas. Dia harus tetap menjalani apa yang terjadi. Karena semakin kita menolak, rasanya akan lebih menyakitkan. Jalan satu-satunya hanyalah menerima dan menjalani apa yang seharusnya terjadi.
"Ini pesanannya mas."
"Terimakasih bang."
Akhirnya pesanannya datang. Fian menambah saos dan sambal. Dia tuang tiga sendok sambal. Fian mencoba rasa baksonya. Dan semua sudah sesuai seleranya. Pedes sekali. Sampai Fian mengeluarkan airmata.
Inilah tujuan Fian. Dia tidak ingin orang lain melihat kesedihannya. Dia bukan cengeng. Tapi rasa hatinya sedang benar-benar tidak baik. Tapi dia tidak ingin orang tau. Dia menyamarkan dengan makan makanan yang sangat pedas. Air mata dan keringat bercampur jadi satu. Wajahnya basah. Tapi tak akan ada orang yang akan mengira kalau dia sedang terluka. Tak akan seorangpun tau kalau dia sedang menangis.
"Mas.. pedes banget ya. Sampai mengeluarkan airmata."
Tanya pembeli yang duduk di depannya. Ternyata dia memperhatikan semua yang terjadi pada Fian.
Fian hanya tersenyum sambil mengangguk. Dia menghabiskan satu mangkok bakso dengan cepat. Dia sudah melampiaskan semua rasanya. Dia sudah merasa sedikit lega. Fian menghabiskan minumannya dan beranjak pergi setelah membayar semua yang dia pesan.
Fian masih duduk di atas motornya. Dia belum menjalankan motornya. Fian menarik nafas panjang. Dia belum ingin pulang. Hari belum malam. Masih pukul sepuluh. Dia masih ingin menghabiskan malamnya di luar. Dia tidak mau terlihat menyedihkan. Dia tidak mau Andra tau apa yang sedang dia rasakan. Fian tidak mau dikasihani. Ini adalah takdirnya. Dia tidak mau ada yang tau deritanya.
Setelah di rasa semua baik-baik, Fian mulai menjalankan motornya. Dia ingin pulang saja. Dia ingin tidur saja. Fian tidak ingin terjadi apa-apa dengan dirinya. Dia ingin tetap baik-baik saja.
"Udah pulang.."
Fian terkejut. Saat dia masuk ke dalam rumah tadi rumah terlihat sepi. Namun ternyata Andra belum tidur. Andra duduk di ruang tamu dalam keadaan gelap.
"Udah bang.."
Fian menjawab sambil tetap berjalan menuju kamarnya. Dia hanya menoleh sebentar ke arah Andra dan kemudian berjalan lagi.
Andra diam saja. Dia tau Fian sedang tidak baik-baik saja. Tadi Toni memberi kabar kalau dia melihat Fian memasuki warung bakso sendirian. Tapi akhirnya Andra bangun juga. Dia tidak tahan melihat semua ini. Andra mengikuti Fian. Namun saat dia mau membuka kamar Fian, ternyata pintunya terkunci. Andra mengetuk pintu itu.
Tok.. Tok.. Tok..
__ADS_1
"Fian.. buka pintu dong. Gue mau bicara sebentar."
Andra mencoba memanggil Fian. Namun tidak terdengar balasan. Andra mengetuk lagi.
Tok.. tok... tok..
"Fian.. Fian.."
Andra masih berusaha memanggil nama Fian. Dia menunggu sebentar. Tak lama terdengar suara kunci di putar. Dan pintu terbuka.
"Masuk bang. Sory tadi gue di kamar mandi. Ga denger lo manggil."
Setelah membuka pintu Fian berbalik berjalan menuju lemari , mengambil kaos untuk mengganti kemejanya. Dengan santai dia membuka baju dan berganti pakaian. Wajahnya terlihat segar sehabis dia mencuci muka tadi. Sudah hilang semua bekas kesedihan di wajahnya. Dia tidak ingin Andra melihatnya. Makanya tadi dia buru-buru ke kamar mandi. Fian sudah menduga Andra akan menyusulnya ke kamar.
"Ada apa bang."
Fian mendekati Andra yang duduk di ranjang sambil bermain ponsel.
"Dari mana tadi. Ngapel ya.."
"Iya bang.. Biasa dong kan ini malam Minggu."
Jawab Fian santai. Fian juga mengambil ponselnya dan membuka aplikasi WhatsApp. Ada pesan masuk. Dia lihat sebentar. Ternyata dari Arin. Tapi dia belum ingin menjawab. Dia pikir nanti saja setelah Andra keluar dari kamarnya. Fian mematikan ponselnya dan meletakkan di atas bantal.
"Kenapa bang..Abang aneh . Ada apa sih. kok tumben bertanya begitu."
Andra memandang Fian sejenak. Lalu bangkit. Dia menepuk pundak Fian pelan. Dan kemudian berjalan keluar pintu. Sebelum membuka pintu Andra berkata.
"Semangat.. lo pasti bisa.."
Ucapnya sambil mengepalkan tangan. Fian mengambil bantal dan melemparnya ke arah Andra.
" Abang lebay.. Hahaha.."
Andra menghindar sambil tertawa. Dan mereka berdua tertawa keras. Malam yang sunyi jadi terdengar sedikit berisik.
"Bang Andra ga jelas deh. Memang ada apa dengan gue. Ternyata dia tidak mengenali kalau adiknya ini sangat hebat dan kuat."
Fian kembali tiduran di ranjang. Dia membuka ponselnya yang tadi dia letakkan. Dia ingin membalas pesan dari Arin. Dia melihat status Arin masih online. Fian yakin kalau Arin pasti menunggu balasan darinya.
Fian: Wa'alaikumsalam.. selamat malam juga.
Dan terkirim. Tak lama terlihat status Arin sedang mengetik.
Arin : Tadi lo ke rumah ya. Kok ga masuk.
Fian berpikir sebentar. Apa Arin melihatnya tadi atau Rama yang bercerita.
Fian: Kata siapa gue ke rumah lo.
Dan langsung dibalas oleh Arin.
Arin: Gue mendengar suara motor lo. Ga ada yang bisa menyamai suara motor lo yang khas. Kenapa ga masuk.
Fian: Dih siapa yang ke rumah lo. Lo kepedean.
Arin : Dih ga ngaku juga. Awas kejatuhan tai cicak lo kalau boong.
Dan setelah membaca pesan Arin. Tiba-tiba terasa hangat di tangannya. Fian heran ini cicak tidak tau sopan santun. Bertelur sembarangan. Dan Fian tersenyum. Typing Arin tidak salah.
"Sial.. "
Fian meletakkan ponselnya dalam keadaan masih menyala. Dia menuju kamar mandi untuk membersihkan kotoran cicak yang jatuh tadi. Setelah dirasa sudah bersih Fian kembali meneruskan berbalas pesan dengan Arin. Ternyata sudah ada pesan yang masuk.
Arin: Bener kan. Lo pasti dari kamar mandi. Habis mencuci bekas kotoran cicak yang jatuh.
Sebelum membalas Fian tersenyum. Bagaimana bisa melupakan semuanya tentang Arin. Jika hal sepele saja bisa sangat berkesan
__ADS_1
Fian : Sok tau lo.
Fian tertawa juga akhirnya. Selalu ada hal sederhana yang bisa membuatnya tertawa bila bersama Arin.
Arin : Masih ga mengakui. Tapi iya kan kejatuhan kotoran cicak.
Fian : Iya.. hehehe. Lo kok bisa nebak sih. Lo cenayang ya.
Arin : Bukan dong. Gue bukan cenayang. Tapi tersayang. Iya kan.. hahaha..
Fian tertawa membaca pesan Arin. Memang benar Arin adalah kesayangannya.
Fian: PD sekali anda.
Arin: Tentu dong. Arin gitu lhoo. Hahaha..
Fian; Ketawa terus. Awas ada nyamuk masuk. Eh kok belum tidur. Ini sudah malam.
Arin : Belum. Kan lagi membalas pesan. Nanti kalau tidak di bales pasti besok ada yang ngambek.
Fian; Siapa dah. Kenapa harus ngambek.
Arin: Tuh kan. Sudah mulai ngambek. nahlo.. jangan ngambek atuh. Nanti gue beliin permen kaki deh. Hahaha..
Fian : Dih.. ga banget ya permen kaki. Gue mau bibir lo aja.
Fian terkejut. Duh kok terkirim. Dia kebablasan. Lama tak ada balasan. Dia menyesal telah menulis kalimat itu. Tapi terdengar bunyi pesan masuk.
Arin : Fian lo punya waktu ga. Besok kita ketemu yuk.
Fian berpikir sejenak. Dia besok pergi sore hari. Masih ada waktu sebentar untuk bertemu Arin.
Fian: Ok kalau begitu. Gue jemput jam sepuluh pagi.
Arin : Siap. Tapi kita mau kemana.
Fian: Kemana nya besok saja. Ya udah tidur gih. Sudah malam. Sudah hampir jam dua belas.
Arin ; Ok deh kalau begitu. Lo juga istirahat. Jangan begadang.
Fian: Iya cayank..lo juga tidur. Bye Assalamu'alaikum.
Arin: wa' alaikumsalam
Fian melihat membaca sebentar pesan- pesan tadi. Dia tersenyum senang. Selalu memberi kebahagiaan tersendiri ketika berbalas pesan dengan Arin. Fian lalu mematikan ponselnya dan meletakkan di atas meja. Dia merebahkan kepalanya. Dia memandang langit-langit kamar. Ada resah disana. Haruskah ini akan menjadi kenangan terakhir untuk nya. Akankah semua harapan tentang cintanya dengan Arin hanya sampai pada titik ini.
Fian semakin gelisah. Ada rasa tidak rela melepas Arin begitu saja. Dia tidak ingin berpisah dengan Arin. Pertahanan mulai goyah lagi.
" Tidak boleh.. harus bisa. Keputusan gue udah bulat. Semua demi mama. Maafkan gue Arin. Bukan gue memberi harapan palsu pada lo. Tapi ini semua demi kebaikan kita dan keluarga kita."
Fian menutup mukanya dengan bantal. Dadanya terasa sesak. Kepalanya berdenyut. Terasa sangat sakit. Apakah begini rasanya cinta tak direstui. Sangat menyakitkan. Fian bangun. Kemudian mengambil obat sakit kepala. Dia tidak ingin sakitnya terus berkepanjangan. Besok harus pergi. Dia tidak ingin menunda lagi. Semuanya sudah dipersiapkan dengan matang.
Ini cita-citanya. Fian ingin memperdalam ilmu bisnis yang sangat dia sukai. Dia ingin menjadi pengusaha dan mumpung ada waktu dan kesempatan, Dia akan mempergunakan sebaik-baiknya.
Sakit kepala yang dirasakan Fian sudah berkurang setelah minum obat. Dia sudah memejamkan mata. Rasa kantuk juga sudah menyerangnya. Akhirnya Fian tertidur juga. Walaupun masih dalam kebimbangan.
Semoga Fian bisa menentukan jalan mana yang ingin dia tempuh. Semuanya ada konsekwensinya. Ada dampak baik dan buruk tentunya. Dia tidak bisa memilih keduanya.
Fian hanya bisa menyerahkan semuanya kepada Takdir. Jika takdirnya berjodoh dengan Arin pasti akan dipertemukan kembali. Fian pasrahkan semua pada kehendak Sang Illahi Robbi.
Fian sudah harus bisa memantapkan keputusannya. Dia tidak boleh bimbang lagi. Dia sudah mengambil keputusan dengan penuh pertimbangan tentunya.
Malam ini tidur Fian terlihat gelisah. Berkali-kali dia berganti posisi. Terlihat selalu bergerak. Mungkin dalam tidurnya diapun masih berpikir. Masih memikirkan hal-hal yang seharusnya dia ikhlaskan. Bukankah dia sudah mantab dengan keputusan yang dia ambil.
Semoga semua berjalan sesuai yang dipikirkan Fian. Selamat berjuang Fian. Doa yang terbaik buat kehidupanmu. Semoga semua apa yang kamu cita-citakan tercapai. Dan juga apa yang kamu cintakan akan menjadi milik kamu.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komen Terima kasih❤️❤️❤️❤️