
Fian melangkah dengan gontai. Sudah satu bulan berada di Surabaya belum sedikit pun dia mendapatkan petunjuk. Dia sudah mencari keberadaan suster Ika sesuai petunjuk yang dia dapatkan. Namun belum juga ketemu. Entah bersembunyi dimana sang suster.
Kali ini Fian mendapatkan bocoran kalau suster Ika sedang berada di rumah sakit Siloam Surabaya. Fian langsung meluncur ke sana. Untung saja pekerjaannya sudah selesai dan kuliahnya libur.
Dan beruntung nya juga Fian mendapatkan kendaraan inventaris dari perusahaan berupa motor. Jadi Fian bisa menggunakan kemana pun dia mau.
Fian melajukan motornya menuju rumah sakit tersebut. Sebenarnya dia masih ragu juga karena foto yang dia dapatkan adalah foto suster Ika masih muda. Dan sekarang sudah dua puluh tahun berlalu. Apakah dia bisa mengenali wajah suster Ika tersebut.
Tapi Fian tidak putus asa. Dia harus terus melangkah. Apapun hasilnya nanti dia tidak memikirkan.
Di depan Rumah sakit Fian menghentikan kendaraannya. Dia mencari tempat parkir. Menurut informasi Suster Ika bekerja manjadi kepala suster di rumah sakit tersebut. Fian fokus melangkah. Dia memikirkan bagaimana cara bisa bertemu suster Ika. Kalau langsung bertanya di bagian informasi, apakah petugas mau memberitahu. Atau dia harus mencari sendiri.
Karena berjalan sambil melamun, tak sengaja Fian menabrak seseorang.
"Haduh.."
Fian terkejut. Dia menabrak seorang wanita yang berjalan di depannya.
"Maaf, saya tidak sengaja. Apa ada yang sakit."
Wanita tersebut jatuh terduduk karena Fian cukup keras menabraknya.
"Akh.. Tidak apa-apa. Cuma sedikit terkejut saja."
"Mari saya bantu berdiri."
"Terimakasih, Saya bisa sendiri."
Wanita itu berusaha bangkit dari duduknya. Namun tiba-tiba terjatuh lagi.
"Haduh.."
"Kenapa mbak, apa ada yang sakit. Mari saya bantu."
Fian membantu wanita tersebut. Dia heran juga. Seharusnya di posisi jatuhnya tidak mungkin ada yang cidera. Namun Fian hanya diam dan tetap membantu.
"Apa ada yang dirasa sakit mbak."
"Eh.. iya pantat saya sakit masih Mas. Terasa sedikit nyeri. " Wanita tersebut meringis seperti menahan sakit.
"Mari saya antar kan periksa."
"Eh.. tidak usah Mas. Saya bisa sendiri." Wanita tersebut terlihat malu. Sepertinya area rasa sakit tersebut yang membuatnya malu.
"Tidak apa-apa. Saya harus bertanggung jawab karena saya yang menabrak anda."
"Eh, Tidak usah mas . Saya bisa sendiri."
Wanita tersebut kekeh tidak mau di antar oleh Fian. Fian jadi penasaran. Akhirnya Fian mengalah.
"Ya sudah kalau memang tidak mau. Sekali lagi saya minta maaf ya Mbak."
"Iya Mas, Tidak apa-apa. Ini juga salah saya karena berjalan buru-buru. Mari Mas, saya duluan."
Wanita tersebut berjalan sedikit tertatih. Seperti menahan sakit. Fian merasa tidak tega. Dia mengikuti wanita tersebut dari belakang. Berjalan perlahan dengan memberi jarak agar tidak terlihat.
Namun tiba-tiba wanita tersebut berhenti dan terlihat merintih menahan sakit. Fian mempercepat langkah menyusul wanita tersebut. Fian tidak tega melihatnya.
"Mbak, mari saya bantu. Saya lihat Mbaknya kesakitan."
"Eh..Masnya masih mengikuti saya?"
Wanita tersebut terkejut mendengar suara Fian yang ada di belakang nya.
"Saya hanya tidak tega melihat Mbaknya meringis kesakitan."
"Eh, saya tidak apa-apa kok Mas. Aduh.."
"Itu kenapa mengaduh. Ada yang luka kah?"
Wanita tersebut terlihat kebingungan. Memang benar dia kesakitan. Tapi dia malu bilang sama Fian.
"Itu Mas. Aduh.. itu yang sakit pantat saya. Saya bisulan."
Ucap wanita tersebut sambil menunduk. Dia terlihat malu. Namun dia benar-benar kesakitan.
"Mari saya antar ke ruang periksa mbak. Ga usah malu."
Wanita tersebut berpikir sejenak. Dia merasa malu karena penyakitnya adalah penyakit yang menjijikan. Tapi dia benar-benar butuh bantuan. Dia kesulitan berjalan. Lukanya terasa nyeri.
"Baiklah Mas, terimakasih sebelumnya.Eh.. maaf masnya namanya siapa. Kalau boleh tau."
"Oh ya.. saya Fian."
"Panggil saja Ran.."
Mereka berjabat tangan sambil menyebutkan nama masing-masing.
Fian memapah Ran. Dia merasa kasian pada Ran. Walaupun sakitnya terlihat sepele tapi memang rasanya lumayan menyiksa.
__ADS_1
"Itu ruang periksanya Mas. Sudah sampai disini saja. Terimakasih banyak. Maaf merepotkan."
"Iya Ran sama-sama."
Ran berdiri di depan ruang periksa. Dia menunggu giliran untuk dipanggil. Sebenarnya dia merasa lelah, ingin duduk beristirahat. Namun pantatnya sakit. Terasa nyeri dan cenut-cenut. Tentu saja dia tidak bisa duduk.
Dari kejauhan Fian hanya memperhatikan. Dia merasa kasian sekali. Pasti sakit dan tidak bisa duduk. Fian kembali mendekat Ran.
"Ran.."
"Eh.. Mas Fian belum pergi."
"Kamu tidak duduk. Tapi pasti sakit ya buat duduk."
"Iya Mas. Saya bingung dengan penyakit saya ini. Kenapa juga tumbuhnya di belakang. Hehehe.."
"Tunggu di sini sebentar ya. Saya keluar sebentar. Eh mungkin kalau dipakai duduk agak miring bisa Ran."
"Iya saya coba Mas.."
Ran mencoba untuk duduk secara perlahan. Terasa sakit memang. Namun dia paksa juga. Posisi duduknya di angkat sedikit di bagian yang sakit. Lumayan juga. Kakinya terasa pegal dan akhirnya Ran bisa istirahat.
"Nah begitu. Eh saya ke kantin dulu ya. Tunggu saya jangan kemana-mana nanti kalau semisal sudah dapat giliran periksa."
"Eh Mas, memang nya mau ngapain."
"Sudah pokoknya ikuti saja perkataan saya. Saya hanya sebentar."
Fian melangkah menjauh. Dia pergi ke kantin. Dia ingin membeli minuman dan sedikit makanan. Dia kasihan melihat Ran yang terlihat sedikit pucat dan menahan rasa sakit.
Tidak lama Fian sudah mendapatkan yang dia inginkan. Dua botol minuman kemasan dan juga beberapa kantong cemilan. Fian sudah tidak melihat Ran di situ. Fian mengintip ke dalam ruang periksa. Walaupun tidak terlihat dia yakin Ran ada di dalam. Fian duduk menunggu. Mungkin Ran masih diperiksa di dalam. Ran tidak mungkin pergi secepat itu. Fian meras cuma sebentar di kantin rumah sakit.
Sambil menunggu Ran keluar dari ruang periksa, Fian memainkan ponselnya. Dia tiba-tiba teringat Arin. Apalagi ini malam minggu . Biasanya mereka berdua akan duduk di depan rumah Arin bersama teman-temannya. Fian merindukan suasana tersebut. Dia rindu mama, rindu papa dan juga abangnya Andra.
Fian sengaja tidak memberi kabar sama sekali kepada mereka. Bukan Fian tega, namun Fian berjanji pada dirinya sendiri kalau belum ketemu suster Ika dia tidak akan menghubungi keluarga dan teman-temannya.
Selama dia belum menemukan bukti dia tidak akan pernah kembali. Itu tekadnya. Dia juga sudah berjanji untuk melepaskan Arin. Entah ada bukti ataupun tidak.
Walaupun rasa sayangnya pada Arin begitu besar, namun entah mengapa dia takut untuk memilikinya. Rasa cinta yang tumbuh sejak jaman kanak-kanak malah membuatnya takut tidak bisa membuat Arin bahagia. Itulah kenapa dia menyerahkan Arin pada Bara.
Fian percaya pada takdir, jika menang dia berjodoh dengan Arin, dia yakin pasti akan ada jalan untuk mereka tetap dekat.
Saking fokus nya melihat foto Arin, tak sadar ada orang yang duduk di depan nya , dan dari tadi memperhatikannya. Seorang wanita setengah baya terus saja memperhatikan Fian. Fian tidak menyadari itu. Fian masih saja memandang foto Arin sambil melamun.
Tiba-tiba ada dua anak kecil berlarian dan tersandung kaki Fian. Fian terkejut.
"Maaf om.. maaf."
"Iya om."
Kedua anak itu berlalu. Mereka berdua berlari menjauh dari tempat Fian berada. Fian mengangkat mukanya. Orang yang di depan Fian terkejut. Dia buru-buru pergi. Wanita itu mengenali wajah Fian. dan segera menjauh dari Fian.
Fian tidak menyadari itu semua. Dia segera memasukan ponselnya. Namun tiba-tiba.
"Itu tadi seperti suster Ika. Eh iya bukan ya."
Fian melihat ke arah perempuan itu pergi. Fian bangun dan mengejarnya. Fian sedikit berlari agar bisa menyusulnya. Namun dia kehilangan jejak. Fian melihat ke segala arah.
"Kemana perginya tadi ya. Ke kanan atau ke kiri. Kalau lurus ga mungkin. Pasti masih terlihat."
Fian akhirnya berbelok ke kiri. Dia terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Matanya mengawasi ke segala arah. Namun wanita tadi tidak terlihat juga.
Akhirnya Fian menyerah. Dia memutuskan kembali ke ruang periksa. Dia kembali duduk di tempat semula. Menunggu Ran keluar dari ruang periksa. Namun setelah lima belas menit Fian menunggu, Fian merasa dia sudah terlalu lama menunggu.
"Masa belum keluar juga. Udah satu jam sepertinya dia di dalam."
Fian melihat jam ditangannya. Ternyata sudah jam empat.
"Sudah jam empat. Dokter praktek sampai jam berapa ya."
Fian melihat ke kanan dan kiri . Tempat itu sudah sepi. Sudah tidak ada lagi pasien yang menunggu.
"Jangan-jangan Ran sudah keluar. Jangan-jangan dia sudah pergi."
Terlihat pintu ruangan Dokter terbuka. Keluarlah seorang dokter dan dua orang suster. Fian buru-buru menghampiri mereka.
"Maaf Dok mau bertanya, Apakah sudah tidak ada pasien di dalam."
"Tidak ada mas, pasien terakhir sudah keluar sekitar dua puluh menit yang lalu."
"Oh.. terimakasih infonya sus."
Dokter dan suster itu meninggalkan Fian. Fian terdiam.
"Jadi benar Ran sudah keluar saat gue sedang mengejar wanita itu tadi."
Akhirnya Fian meninggalkan tempat tersebut. Dia melangkah dengan gontai.
"Ya sudahlah. Yang penting Gue sudah bertanggung jawab mengantarkan dia tadi."
__ADS_1
Akhirnya Fian memutuskan pulang. Mungkin besok dia akan kembali mencari informasi. Mengingat hal itu Fian buru-buru menuju ruang informasi di bagian loby. Dia berpikir bisa menanyakan tentang suster Ika di sana.
"Maaf mbak mau bertanya. Apa di rumah sakit ini ada suster yang bernama suster Ika."
Mbak penjaga menoleh ke arah Fian.
"Maaf ,masnya siapa ya. Kami tidak bisa memberikan informasi begitu saja tentang karyawan kami di sini."
"Saya saudaranya, saya datang jauh-jauh dari Jakarta untuk mencari suster Ika."
"Suster Ika, baru saja pulang. Itu dia orangnya , yang berjalan ke arah tempat parkir."
Tiba-tiba ada seorang dokter yang menjawab pertanyaan suster Ika. Dokter itu tersenyum.
"Terimakasih Dokter."
Fian segera berlari ke arah tempat parkir. Namun terlambat orang tersebut, sudah melajukan kendaraannya dengan cepat. Sepertinya dia menyadari kalau ada orang yang mengejarnya.
"Sialan.. Terlambat. Tidak mungkin akan terkejar."
Fian kembali ke loby. Dilihatnya Dokter yang tadi memberikan informasi masih ada di situ sedang berbincang dengan rekannya. Fian berharap bisa mendapatkan informasi tentang suster Ika dari Dokter tersebut.
"Maaf Dokter saya mengganggu, bisa saya bertanya."
"Eh anda yang tadi bertanya tentang suster Ika kan. Ada perlu apa dengan suster Ika."
"Maaf dokter apa saya boleh mengetahui tempat tinggal suster ika?"
"Maaf, anda siapa dan ada perlu apa ingin mengetahui tentang suster ika."
Dokter yang satunya bertanya pada Fian. Fian bingung mau menjawab apa. Apa dia harus jujur. Rasanya tidak mungkin.
"Saya kerabat jauhnya, Sudah lama kehilangan kontak beliau. Sudah dua puluh tahun."
Kedua dokter tersebut saling pandang. Kemudian mengangguk.
"Maaf saya tidak bisa memberikan data karyawan sebelum yang bersangkutan memberikan ijin."
"Tolonglah saya. Ini sangat penting bagi hidup saya." Fian terlihat putus asa. Ternyata susah sekali menemukan orang yang tau tentang latar belakang kemelut kehidupannya.
Kedua dokter tersebut saling pandang kembali.
"Maafkan kami, tetap tidak bisa. Silahkan kalau mau bertemu buat janji saja sama petugas."
"Mungkin hari senin suster Ika akan kembali bekerja. silahkan bertemu pada hari tersebut. Kami permisi."
"Baiklah Dok ."
Kedua Dokter tersebut berlalu meninggalkan Fian. Fian melangkah gontai menuju tempat parkir. Dia ingin berteriak sekencang-kencangnya. Kenapa begitu sulit menemukan fakta dengan dirinya. Dia sudah berusaha sejauh ini. Tapi belum juga mendapatkan hasil yang berarti. Sepertinya dia diputar-putar oleh keadaan. Selalu saja bertemu jalan buntu.
Fian pulang mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Dia belum ingin pulang ke kos-kosan nya. Dia masih ingin berputar-putar mengelilingi kota untuk melampiaskan semua perasaannya.
Adzan Maghrib terdengar berkumandang. Fian menghentikan motornya di sebuah masjid. Dia ikut sholat berjamaah dan dan juga beristirahat di masjid tersebut sampai sholat isya. Fian sedikit mengadu apa yang dia alami kepada Sang Pencipta. Fian menceritakan segala yang dia rasakan pada Sang Khalik. Selama ini Fian mamang selalu terlihat tegar di luar. Namun sebenarnya dia rapuh juga. Hanya orang tidak akan pernah tau karena Fian bisa menyembunyikan apa yang dia rasakan sendiri.
Fian memendam semuanya sendiri. Bahkan Nando pun sebagai sahabat tidak tau. Fian tidak pernah cerita. Namun Nando tau apa yang Fian rasakan. Nando bisa membaca dari beberapa hal yang terjadi selama ini. Dan Nando tidak pernah bertanya bukan karena tidak perduli. Namun karena dia berpikir kalau Fian akan berbagi cerita jika dia memang ingin. Walaupun dipaksa dengan cara apapun Fian tidak akan goyah.
Setelah sholat isya Fian berniat mencari makan malam. Perutnya terasa lapar. Namun tiba-tiba dadanya terasa nyeri. Terasa ada yang menusuk-nusuk.
"Aduh.. aduh.."
Fian memegang dadanya. Terasa sangat sesak dan nyeri. Fian bersandar di dinding depan masjid tersebut. Untung dia belum menaiki motornya. Fian memejamkan matanya sambil terus mengucap istighfar. Hanya itu yang bisa dia lakukan. Belum pernah dia merasakan sakit seperti saat ini.
"Nak..nak..ada apa. Kenapa kamu nak."
Ternyata sang ustadz melihat kejadian tersebut dan mendekati Fian.
"Dada saya terasa sakit Ustadz."
Fian masih memegangi dadanya
Ada apa sebenarnya dengan rasa sakit ini. Dia tidak pernah merasakan sakit yang seperti ini. Sang ustadz memberi sebotol air mineral kepada Fian .
"Ini di minum dulu Nak."
"Terimakasih Pak ustadz."
Fian meminum sedikit air tersebut. Sekarang sudah agak berkurang sesaknya.
"Apa perlu di bawa ke rumah sakit. Biar Udin yang mengantarkan Nak."
"Tidak usah Ustadz. Sebentar lagi akan membaik."
"Ya baiklah kalau begitu. Kalau boleh tau anda kenapa Nak. Saya lihat dari sholat magrib anda khusuk berdoa bahkan sampai sehabis sholat isya pun masih tekun berdoa."
Fian memandang sang Ustadz. Sesak di dadanya sudah sedikit berkurang. Nyerinya juga sudah tidak sesakit tadi.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan Fian. Apakah ini ada hubungannya dengan yang terjadi dengan Arin. Atau memang Fian mengidap suatu penyakit.
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih untuk semua pihak yang telah mendukung novel ini. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️