Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 57


__ADS_3

Saatnya pulang


"Papa.."


"Iya sayang. Ada apa?"


"Kita jalan-jalan ke taman yuk. Tia mau ketemu kakak cantik."


"Baiklah.... Ayoo. Papa juga pengen ketemu kakak cantik."


"Papa, apa hari ini papa ga kerja?"


"Ga sayang. Hari ini papa mau bersama Tia seharian. Papa mau main sama Tia di sini."


"Benarkah? Hore...."


Tia bersorak kegirangan. Dia sangat senang papa bisa menemaninya. Hari yang selalu ditunggu oleh Tia.


"Apakah kamu senang sayang?"


"Iya, Tia sangat senang sekali. Apa suster Ayu libur papa?"


"Iya, khusus hari ini Tia sama papa. Kasian suster tidak pernah libur


Biar dia libur hari ini."


"Hore... Ayo pa, Kita ke taman sekarang. Kemarin Tia ketemu kakak cantik di taman."


Arga menyiapkan kursi roda buat Tia. Dia sengaja tidak kerja karena ingin menemani Tia seharian. Dua tahun ini dia tidak pernah sekalipun libur kerja. Bukan karena banyak kerjaan , namun karena sengaja menyibukkan diri agar bisa melupakan Sheila. Bahkan sampai melupakan kebahagiaan sang buah hati.


"Sini papa gendong."


Arga mengangkat tubuh Tia dan mendudukkannya di kursi roda. Dia terkejut Tia begitu enteng saat dia angkat.


"Tia ternyata begitu kurus. Maafkan papa sayang."Ucap Arga dalam hati. Matanya sudah berembun. Tapi buru- buru dia usap. Dia tidak mau Tia melihat dia sedang menangis. Namun terlambat.


"Papa kenapa. Kok ada air mata. Papa kenapa menangis? Apa Tia nakal?"


"Tidak sayang. Tia tidak nakal. Tia anak baik. Papa sayang sama Tia."


Arga memeluk Tia dengan erat. Ari matanya semakin deras membasahi pipinya.


"Papa kenapa. Papa tidak boleh menangis. Nanti kita beli es cream ya. Papa jangan menangis lagi."


Arga menciumi seluruh wajah Tia. Dia telah mengabaikan anak yang begitu manis ini. Anak kandung satu-satunya. Mulai hari ini Arga berjanji akan selalu menemani Tia kapanpun dia punya waktu.


"Sudah papa, geli tau. Wajah aku jadi basah kena air mata. Papa jangan nangis lagi ya. Kan ada Tia. Papa jangan sedih lagi. Tia sering melihat papa menangis malam-malam. Pasti papa ingat sama mama ya. Kata opa, Mama sudah bahagia di surga. Jadi kita tidak boleh bersedih lagi."


Arga memeluk Tia semakin erat.


"Maafkan papa nak. Maafkan Papa yang telah mengabaikan kamu."


"Tia tidak apa-apa papa. Tia sayang Papa. Tia juga tidak mau melihat papa menangis. Papa jangan sedih lagi ya."


Tia menghapus air mata Arga dengan tangannya yang kecil. Arga mengambil tangan Tia dan menciumi nya. Tia sungguh anak yang baik. Tia anak yang cerdas dan pengertian juga peka dengan lingkungan sekitar.


"Papa sayang Tia." Arga menciumi Tia lagi.


"Sudah papa. Sudah cukup. Lihat hari telah siang. Lihat sudah terang di luar. Kita jadi ke taman tidak. Nanti keburu kakak cantik nya pergi."


"Ayo sayang. Papa dorong ya. Papa juga ingin kenal sama kakak cantik nya Tia." Ucap Arga bersemangat.


Arga penasaran dengan orang yang selalu dipanggil Tia dengan sebutan kakak cantik. Secantik apa dia sampai bisa membuat Tia selalu ingin bertemu. Mereka berdua menuju taman sambil bersenda gurau. Tia sangat bahagia. Begitu juga dengan Arga.


🌸🌸🌸


Fian terbangun saat merasakan seperti ada orang yang menepuk pundaknya. Tentu saja dia terkejut. Fian melihat ke sekeliling. Tak ada seorangpun terlihat di sana. Fian melihat ke arah sofa dan disana terlihat Bunda pun masih tidur. Lalu Fian melihat ke arah Arin ternyata sama. Arin juga masih tidur. Lalu siapa yang menepuk pundaknya? Fian merasa sedikit merinding. Tapi mungkin dia bermimpi tadi, jadi berasa terjadi betulan.


Fian teringat, semalam dia tidur di ruangan Arin.Tidur sambil menggenggam jemari tangan Arin. Dan saat ini jari jemari mereka berdua masih bertautan.


Fian tersenyum. Dia merasa sangat bahagia hari ini. Dia bisa mewujudkan apa yang dia inginkan. Tidur dengan Arin dan saling berpegangan tangan. Fian melihat arlojinya. Ternyata sudah pukul lima tiga puluh. Fian belum sholat subuh. Dia kesiangan. Fian bangun dari duduknya dan akan pergi ke mushola untuk melaksanakan sholat subuh. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.


Sebelum pergi Fian mendekatkan wajahnya ke wajah Arin. Dia ingin mengecup kening Arin. Namun dia batalkan . Fian merasa tidak pantas melakukan itu. Dia bukan apa-apa bagi Arin. Akhirnya dia hanya mencium tangan Arin dan kemudian berlalu keluar dari ruangan.


Tadi Fian sebenarnya sempat melihat ada bayangan orang di pintu namun dia abaikan.. Sebelum membuka pintu Fian menengok ke belakang sekali lagi. Memandang Arin sebentar. Dan kemudian melangkah dengan pasti keluar dari kamar Arin. Ada setetes ari mata jatuh. Langsung dia usap.


Sampai di luar dia terkejut. Ada Bara sedang berdiri bersandar di tembok. Dan dugaan Fian benar. Bayangan tadi adalah bayangan dari tubuh Bara. Fian tersenyum.


"Dokter Bara."


Bara terkejut mendengar sapaan dari Fian.


"Fian."


"Iya Dokter, kok sudah datang pagi-pagi. Shift pagi atau malam? "

__ADS_1


Bara sedikit gelagapan. Dia ambil nafas dalam dulu sebelum menjawab pertanyaan Fian.


"Saya shift pagi. Sengaja datang pagi. Sengaja ingin bertemu Arin dulu sebelum dia pulang. Sambil membeli sarapan buat bunda."


Bara menunjukkan kantong yang dia bawa pada Fian.


"Baguslah. Saya permisi dulu Dokter. Kesiangan belum sholat subuh."


"Silahkan Fian."


Fian melangkah meninggalkan Bara. Namun sebelum jauh Fian menengok ke belakang.


"Dokter, titip Arin. "


Setelah itu dengan langkah pasti Fian melangkah meninggalkan ruangan Arin. Dia menuju mushola rumah sakit dengan cepat. Dia tidak mau lebih terlambat lagi untuk melaksanakan sholat subuh.


Setelah sholat subuh Fian masih duduk di mushola. Dia menengadahkan tangan, berdoa dengan sangat khusuk. Bahkan sampai ari matanya berlinang. Fian bukan cowok cengeng. Tapi bila sudah berhubungan dengan Arin, dia selamat berlebihan. Entah kenapa dari dulu selalu begitu. Sedari kecil dia sangat posesif pada Arin. Dia sangat ingin selalu bisa melindungi Arin.


Setelah cukup lama berdoa. Fian menyudahi doanya, dia bangun dan dengan langkah pasti dia menuju parkiran. Dia harus pulang sekarang. Sudah tidak ada waktu lagi. Fian menjalankan motornya dengan kecepatan penuh. Dia sudah tidak memperdulikan apapun. Dia harus cepat pulang. Harus cepat sampai rumah.


🌸🌸🌸


Arin menggeliat. Dia membuka mata dengan perlahan. Menyesuaikan pencahayaan yang ada di kamar. Matanya masih teras mengantuk. Dia tidur dini hari.


Arin memandang sekeliling. Dia masih belum sadar penuh. Kepalanya terasa agak pusing.


"Selamat pagi Arin. Sudah bangun."


Arin merasa risih. Dia baru bangun. Yang dia lihat malah wajah Bara. Arin menutup mukanya dengan selimut.


"Kenapa ditutup. Saya sudah terlanjur melihat sejak kemarin. Kenapa harus malu. Kamu masih cantik walaupun bangun tidur."


Bara tersenyum melihat tingkah Arin yang menggemaskan. Ingin sekali dia mengacak-acak rambut Arin. Namun tak mungkin dia lakukan.


Arin masih saja menutup mukanya dengan selimut. Dia mulai berpikir. Dia ingat kalau semalam dia tidur di temani Fian. Bahkan Fian selalu menggenggam tangannya. Arin membuka selimutnya. Dia melihat ke sekeliling. Tidak terlihat Fian. Arin hanya melihat bunda yang akan masuk kamar mandi.


"Maaf pak Dokter mau nanya. Apakah pak Dokter sudah dari tadi disini?"


"Saya baru masuk. Mungkin sekitar lima menitan. Ada apa memangnya?"


"Apa pak Dokter melihat Fian?" Tanya Arin ragu-ragu. Dia merasa tidak enak pada sang dokter.


"Iya tadi saya berpapasan dengan Fian. Dia mau sholat subuh katanya bangun kesiangan. Apa dia menginap di sini?"


Arin terdiam. Dia ragu mau menjawab apa. Dia termangu.Jujur apa tidak.


"Maksudnya bagaimana?"


"Jadi begini, saya bermimpi semalam Fian menemani saya tidur. Kalau pak Dokter berpapasan, berarti benar kalau dia ada disini semalam." Jawab Arin. Dia malu kalau harus menjawab yang sebenarnya.


"Oh begitu ceritanya." Bara menganggukkan kepalanya. Bara menyaksikannya semuanya. Kejadian yang terjadi tadi pagi. Kejadian saat Fian sedang mencium Arin. Saat Fian mencium kening Arin. Saat Fian mengecup tangan Arin.


"Ada apa Pak Dokter."


"Tidak ada apa-apa. Hari ini kamu sudah diperbolehkan pulang. Kamu mau pulang jam berapa. Hari ini saya libur. Saya bisa mengantar kamu pulang."


Terdengar pintu kamar mandi terbuka. Bunda sudah selesai membersihkan diri .Wajahnya sudah terlihat segar.


"Arin, kamu mandi dulu sana. Malu sama pak dokter."


Bara tersenyum. Arin hanya nyengir. Sudah terlanjur melihat. kenapa harus malu


"Iya bund, Arin mau mandi."


Arin bangun, dia berusaha turun sendiri dari tempat tidur.


"Sini saya bantu."


"Tidak usah Dok, saya mau belajar berjalan sendiri. Lagian lukanya sudah tidak begitu nyeri lagi." Tolak Arin pelan.


"Baiklah, pelan-pelan saja." Bara memperhatikan Arin dari jauh.


Arin melangkah perlahan. Sudah tidak sakit. Bara aja yang terlalu khawatir.


Sementara Arin mandi Bara berbincang dengan bunda.


"Bunda, biar nanti Bara yang mengantarkan Arin dan bunda pulang."


"Memang tidak menggangu tugas pak Dokter."


"Tidak bunda, hari ini saya libur."


"Maafkan kami ya, selalu merepotkan pak dokter."


"Jangan sungkan bunda, ini sudah tugas saya sebagai tenaga medis."

__ADS_1


"Tapi tidak harus sampai mengantarkan pulang segala bukan."


"Tidak apa-apa bund, ini karena libur. Mumpung saya bisa bund, jangan sungkan."


"Oh ya dokter, biaya rumah sakitnya bagaimana? Pasti sangat besar."


"Bunda tenang saja semua sudah lunas."


"Yang membayar siapa? Pasti Sany mahal. Ini kamar VIP kan?"


"Pokoknya Bunda tenang. Tidak usah memikirkan soal biaya."


"Tidak bisa begitu dokter. saya akan merasa tidak tenang. Apalagi Arin, dia akan terus mencari tau tentang ini. Kami tidak mau berhutang budi."


"Assalamu'alaikum."


Bunda dan Bara terkejut tiba-tiba ada suara salam dari arah pintu.


"Wa'alaikumsalam.." Jawab bunda dan Bara bersamaan.


"Maaf jeng Ida mengganggu."


"Saya kira siapa. Jeng Mia pagi-pagi dari mana Sudah sampai sini."


Ternyata yang datang Orang tua Omed. Pak Santoso dan Istrinya Mama Mia.


"Saya mendengar hari ini Arin sudah diperbolehkan pulang. Maaf ya jeng Ida baru hari ini kami bisa datang lagi kesini."


"Iya jeng tidak apa-apa. Kami mengerti."


"Arin nya mana jeng ,kok tidak keliatan."


"Arin sedang membersihkan badannya jeng."


Bunda dan jeng Mia terus mengobrol. Sedangkan pak Santoso berbincang dengan Bara. Mereka punya obrolan masing-masing. Sampai tidak menyadari kalau Arin sudah selesai mandi. Arin membuka pintu secara perlahan. Jalannya pun pelan-pelan.


"Eh ,Arin sudah selesai mandi. Sini tante bantu." Mama omed membantu menuntun Arin menuju tempat tidur. Arin sudah terlihat segar.


" Sekarang sarapan dulu lalu pulang." Ucap Bara menyiapkan bubur yang tadi dia beli.


"Biar saya saja yang menyiapkan Dokter."


Bunda meminta bungkusan itu. Bunda merasa tidak enak hati masa keperluan Arin yang menyiapkan sang dokter.


"Tidak apa-apa bunda. Ini sudah siap juga." Bara memberikan kepada Arin. Arin menerimanya dan mulai memakannya.


"Mari makan semua, saya lapar." Dengan tenang Arin menghabiskan bubur yang diberikan Bara tadi. Arin masih berpikir Fian kemana. Semalam Fian berjanji akan mengantarkan dia pulang. Arin sudah merasa senang. Tapi Fian nya malah tidak kelihatan batang hidungnya.


Bunda merapikan semua baju dan barang bawaan yang akan di bawa pulang. Mama Omed juga membantu. sedangkan Pak Santosa berbincang menemani Bara.


Ayah dan Rama tidak bisa menjemput. Mereka merapikan rumah agar setibanya Arin di rumah, Rumah sudah dalam keadaan rapi. Siapa tahu ada tamu yang mau menengok Arin, keluarga tidak malu kalau rumah sudah dalam keadaan bersih dan tapi . Walaupun rumahnya kecil dan sederhana.


Arin telah selesai makan. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan. semua sudah siap untuk mengantar Arin.


"Bunda, memangnya biaya rumah sakit sudah di bayar. Kita bisa pulang semudah ini." Bisik Arin pada bunda. Takut ada yang mendengar. Namun walaupun berbisik ada saja yang mendengar perkataan Arin tadi.


"Sudah Arin. Semua sudah lunas. Sudah tante bayar."


"Tante tapi pasti mahal. Apa tidak merepotkan Tante. Lalu bagaimana cara kami mengganti semuanya." Ucap Arin dalam kebingungannya.


"Sayang, Tidak usah diganti. Ini sebagai tanda permintaan maaf kami kepada kamu. Maafkan Omed dan kami juga ya Nak." Tante Mia mengusap tangan Arin.


"Tapi pasti ini biasanya mahal tante, Nanti kalau Arin sehat, Arin akan bekerja lagi dan menggantinya."


"Sayang, jangan begini. Tolong ijinkan tante menebus semua kesalahan yang telah omed dan kami lakukan sebagai orang tua yang tidak bisa mendidik anak kami. Hanya cara ini yang bisa kami tempuh Arin."


Tante Mia terus membujuk Arin, agar mau menerima bantuannya. Dan Akhirnya Arin luluh juga.


"Baiklah Tante , Arin terima semua ini. Terima kasih telah meringankan beban biaya ini ya tante."


"Justru kami yang berterima kasih."


Tante Mia memeluk Arin. Mereka semua terharu melihat kejadian itu.


Akhirnya Arin pulang dengan di antar pakai mobil Bara. Pak Santoso dan Tante Mia mengikuti dari belakang.


Arin masih memikirkan Fian. kemana gerangan Fian. Arin masih ingat janji Fian semalam kalau dia akan mengantarkan Arin. Arin melihat ke sekeliling. Tapi tidak juga menemukan Fian di mana pun. Kenapa Fian berbohong. Kenapa Fian mengingkari janji.


"Ayo Arin masuk mobil. Ada yang ditunggu?" Tanya Bara.


" Tidak pak dokter." Arin masuk ke dalam mobil. Di susul bunda.


Dia sudah pasrah. Dia sudah menyerah menunggu Fian. Fian kemana gerangan. Dia menghilang Begitu saja. Bersambung


Jangan lupa tinggalkan like dan komen

__ADS_1


Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2