
Ada apa lagi
"Arin.."
Bara bermimpi. Seperti ada kejadian yang menimpa Arin. Entah mengapa Bara tiba-tiba teringat Arin. Dia ketiduran di bathtub. Bara diam sejenak. Dia mengambil nafas panjang. Pikirannya langsung terbang pada Arin. Apa yang terjadi. Apa terjadi sesuatu dengan Arin? Dia berpikir kok bisa seperti ini. Apa karena dia terlalu memikirkan keadaan Arin dan terbawa mimpi. Atau memang terjadi sesuatu dengan Arin. Daripada hanya berpikir mending langsung bertanya saja pada pihak yang terkait.
Bara buru-buru menyelesaikan mandinya. Dia keluar dari kamar mandi dengan cepat. Bara ingin menghubungi bagian informasi di rumah sakit. Bara takut terjadi apa-apa dengan Arin. Tiba-tiba dia mendengar suara ponselnya berdering. Bara berdebar. Pikirannya sudah tidak karuan.Dia mengangkat teleponnya.
"Assalamu'alaikum. Ya Halo, Saya sendiri. Baiklah. Saya segera ke sana."
Benar dugaan Bara. Terjadi sesuatu dengan Arin. Dia buru-buru berganti baju. Semua dia lakukan dengan cepat. Sebagai seorang dokter dia harus profesional. Harus siap sedia bila ada panggilan mendadak. Tidak perduli lagi apa , dengan siapa. Jika pihak rumah sakit membutuhkan tenaganya seorang dokter harus selalu siap. Apalagi ini menyangkut kesehatan Arin. Bara akan melakukan apapun buat Arin.
Bara menuruni anak tangga dengan tergesa. Dua anak tangga dia lompat sekaligus. Dia harus segera sampai di rumah sakit.Dia mencari kedua orang tuanya untuk pamit.
"Mama.. Papa.. Kalian di mana?"
Kebetulan mama dan papa mendengar teriakan Bara. Tak biasanya Bara sepanik ini.
"Kami di sini sayang. Ada apa? Tumben sampai berteriak begitu. Ada yang bisa kami bantu Nak? Ada sesuatu yang pentingkah?" Ucap mama dari teras depan rumahnya. Mama heran dengan sikap Bara yang tak seperti biasa.
"Pa, Ma. Bara ke rumah sakit lagi ya. Pasien Bara kritis lagi."
"Astaghfirullah, Semoga dia baik-baik saja. ya udah Nak berangkat sana, berangkatnya hati-hati ya. Pelan-pelan nyetirnya. Jangan ngebut. Semoga dilancarkan semua urusan kamu ya Bara."
"Amin.."
Tidak pakai lama Bara langsung meluncur ke rumah sakit. Bara pengen secepatnya sampai rumah sakit dan mengetahui keadaan Arin. Untung ini hari minggu jadi jalanan tidak begitu macet. Dia bisa secepat mungkin sampai rumah sakit. Pikirannya terbelah. Kenapa Arin bisa pingsan lagi. Padahal pemeriksaan tadi siang semuanya terlihat baik-baik saja. Tidak ada keanehan terlihat. Sikap Arin juga sudah kelihatan normal. Pandangan matanya terlihat begitu semangat. Senyuman selalu terhias di bibirnya. Apa mungkin Arin bisa menyembunyikan semua yang dia rasakan. Tapi kalau dilihat ekspresinya semua terlihat wajar dan biasa saja. Tak ada yang aneh.
Bara bingung memikirkan hal ini. Apa sebegitu pintarnya Arin bisa menyembunyikannya semuanya. Semoga dia baik-baik saja. Hanya itu doa yang bisa Bara panjatkan.
Bara sampai rumah sakit tiga puluh menit kemudian. Dia berpapasan dengan Bram di loby rumah sakit.
"Bram, lo juga datang. Apakah lo juga dihubungi oleh pihak rumah sakit." Bara terkejut melihat Bram datang.
"Iya, gue juga kaget. Tiba-tiba ada telpon berbunyi dan mengabarkan keadaan Arin. Ayo kita segera ke sana."
"Tunggu dulu, kita langsung ke ruangan Arin atau menemui Dokter Rizal dulu."
"Sebaiknya ke ruangan dokter Rizal dulu. Tadi informasi yang gue dapatkan begitu." Jawab Bram. Mereka berdua berjalan dengan tergesa-gesa.
Bara dan Bram menuju ruangan Dokter Rizal. Ternyata sang Dokter sudah menunggu.
"Selamat sore Dok, maaf kami baru datang." Ucap Bara dan Bram bersamaan.
"Kalian kompak sekali. Tapi baguslah kalian bisa segera sampai disini. Kita langsung bisa membahas masalah status pasien yang bernama Arin. Suster tolong ambilkan buku status pasien Arin yang sudah saya siapkan tadi." dokter Rizal memang sudah mempersiapkan semuanya.
"Baik Dokter." jawab sang suster dengan cepat. Suster membagikan buku status Arin kepada Bara dan Bram. Memang sudah dipersiapkan untuk kedua dokter tersebut. Masing-masing mendapat satu map.
Bram dan Bara langsung sigap dengan tugas masing-masing. Mereka membuka Map status Arin tersebut. Tidak ada kejanggalan dalam hasil pemeriksaan. Lalu kenapa Arin bisa pingsan lagi.
"Bagaimana sudah kalian lihat. Apa sudah kalian temukan keanehan status pasien?" Tanya Dokter Rizal.
"Menurut saya secara fisik pasien baik- baik saja. Namun secara psikis ada gangguan dalam jiwanya. Dugaan saya ada trauma atas semua kejadian yang pernah pasien alami." Bram menjelaskan semua dugaan yang selama ini dia pikirkan.
Bara hanya menyimak. Pemikiran dia sama dengan yang Bram ungkapkan barusan.
"Saya setuju dengan ulasan Dokter Bram. Selama beberapa hari ini saya mengamati tingkah dan sikap pasien mengarah ke situ." Bara juga mengungkapkan apa yang dia rasakan selama ini.
"Lalu apakah kalian sudah menemukan solusi untuk memecahkan masalah tersebut." Ucap Dokter Rizal sambil memandang Bara dan Bram bergantian.
"Menurut pendapat saya mungkin perlu diadakan pendekatan personal kepada pasien. Dan setelah pasien merasa nyaman kita berikan sugesti yang bisa membangkitkan semangat pasien." Ucap Bram lagi. Sebagai psikiater dia cocok menangani masalah tersebut.
Dokter Rizal mengangguk kepala. Dia pahami penjelasan Bram. Dan akhirnya dia menyetujui ulasan tersebut.
"Baiklah, mungkin untuk saat ini, kita jalankan semua yang baru saja dijelaskan oleh Dokter Bram. Bagaimana Dokter Bara? Apa anda setuju?"
Baru menganggukkan kepala tanda setuju. "Saya setuju dengan uraian Dokter Bram."
"Bagus. Jadi silahkan kalian berdua berkoordinasi dengan pihak-pihak yang bisa membantu langkah-langkah yang akan kalian tempuh. Rapat saya tutup. Selamat bekerja. Semoga kita berhasil menyembuhkan pasien. Saya tunggu hasil kerja kalian. Selamat sore."
Dokter Rizal menutup rapat darurat ini. Bram dan Bara keluar dari ruangan Dokter Rizal.
__ADS_1
"Bagaimana Bram? Kita mau membahas langkah-langkah kita di mana. Ruangan lo apa ruangan gue." Tanya Bara setelah agak jauh dari ruangan Dokter Rizal.
"Ruangan gue juga boleh. Atau kita melihat keadaan Arin dulu?" Sahut Bram.
"Ke ruangan lo dulu saja. Nanti setelah magrib baru kita melihat Arin. Sekarang paling dia masih belum sadar." Ucap Bara menjawab pertanyaan Bram.
Mereka berdua menuju ruang praktek Bram. Ruangan itu tidak jauh dari ruang dokter Rizal. Bram hanya buka praktek pada hari senin sampai jumat. Ada dua shift bergantian dengan dokter Fathan.
Sesampainya di ruangan Bram, Bara langsung membuka kembali map status kesehatan Arin. Dia berpikir apa yang terjadi kemarin. Saat dia tinggalkan Arin sudah dalam keadaan stabil. Sudah terlihat rileks. Sudah terlihat begitu bersemangat. Apa ada kejadian yang membuat dia drop lagi.
"Arin, kamu kenapa lagi. Apa beban itu terlalu berat kamu tanggung.Pindahkan semua beban itu ke pundak ku. Biar aku saja yang menanggung semua beban itu. Jangan kamu simpan sendirian." Bara hanya berkata dalam hati. Dia tidak ingin Bram mengetahui apa yang dia rasakan.
"Bar...Bara. kenapa malah melamun. Wei... Mari kita bahas apa yang sebenarnya terjadi dengan Arin."
Bram berkata sedikit keras, dia tepuk tangan Bara.Karena dilihatnya Bara sama sekali tidak menunjukkan respon apapun. Bara hanya diam saja. Bara melamun.
"Eh..apa tadi."
"Hem .. melamun saja terus. Di otak lo pasti isinya Arin dan Arin iya kan. Udah jatuh cinta lo ya. Hahaha.." Bram mencolek-colek bahu Bara.
"Hahaha...apaan sih lo. Bisa-bisanya mengambil kesimpulan seperti itu."
"Dokter Bara yang terhormat, Saya adalah teman anda sejak kecil. Saya tahu semua sikap dan sifat anda luar dalam. Dan indikasi menunjukkan ke arah sono."
"Lebay lo..Sok tau banget." Bara mencibir. Tapi dia tersenyum juga. "Bagaimana, benarkan dugaan gue. Lo sudah benar-benar jatuh cinta pada Arin. Selamat ya.. semoga perasaan lo mendapat balasan setimpal."
"Hahaha.. omongan lo semakin kacau. Tapi terima kasih untuk support yang lo berikan ke gue. Lo dan Bima memang sahabat terbaik gue. " Bara mau memeluk Bram.
" Jijay... jauh-jauh lo. Gue masih normal ya." Bram berlari menghindar.
"Bagus gue ditinggal ya. Gue ga diajak bersenang-senang. "
Tiba-tiba muncul Bima di depan pintu. Bara dan Bram terkejut. Mereka berdua mendekati Bima dan bermaksud memeluk Bima. Namun Bima menghindar.
"Dih, apaan main peluk-pelukan. Kaya Teletubbies. Hahaha... " Bima berjalan menjauh. Mereka bertiga malah main kejar-kejaran.
"Udahan deh. Capek gue. Gue mau teh dong." Ucap Bima sambil duduk di kursi yang ada.
"Hahaha.... Haus gue. Kalian kenapa ga kasih kabar kalau di sini. Tadi gue ke rumah lo Bar, tante bilang lo ke rumah sakit. Apa ada masalah lagi?" Bima bertanya karena tidak biasa hari libur mereka ada di rumah sakit.
"Iya, Arin pingsan lagi. Sudah Adzan tuh. Sholat magrib dulu yuk baru kita ke ruangan Arin." Ucap Bara.
Mereka bertiga menuju mushola untuk melaksanakan sholat Maghrib berjamaah.Di rumah sakit memang ada mushola yang lumayan luas untuk sholat berjamaah. Dan jamaahnya selalu penuhi.
🌸🌸🌸
Langit telah berwarna jingga. Pertanda senja segera tiba. Warna jingga menghiasi langit di ufuk barat. Sangat indah, sayang untuk dilewatkan. Karena indahnya senja hanya sekejap mata. Memanjakan mata sejenak untuk sekedar menatap. Senja datang karena itu pertanda, malam akan segera tiba. Temaram cahaya mulai terlihat. Menemani sang malam menuju peraduan.
Senja itu Arin masih tidur lelap. Dia belum sadar dari pingsannya. Bunda sedang melaksanakan sholat magrib. Dengan khusuk beliau berdoa untuk kesembuhan anak tercinta. Demi sang buah hati yang tak kunjung sembuh dari sakitnya. Bunda berdoa begitu syahdu. Airmata menetes di kedua pipinya. Bunda merasa begitu sedih, begitu takut terjadi sesuatu kepada anaknya. Saking khusyuknya berdoa bunda tidak menyadari di tempat tidur ada pergerakan.
Arin mulai membuka matanya. Dia menatap sekeliling. Dia melihat bunda sedang berdoa. Arin menatap bunda yang terlihat bahunya terguncang oleh isak yang tak kentara. Hati Arin basah. Dia tau bunda sedang bersedih. Arin menatap cukup lama ke arah bunda. Sebenarnya dia harus, tapi dia tak ingin mengganggu bunda. Arin terdiam, dia merasa dialah penyebab bunda menangis.
"Bunda sedih karena aku tak sembuh- sembuh. Aku juga ingin sembuh. Tapi luka di perut ini sudah mulai membaik. Sudah tidak berasa sakit lagi jadi besok bisa pulang dong. Gue ga mau melihat bunda sedih." Arin hanya bisa berucap dalam hati. Dia tidak ingin membuat bunda dan keluarganya sedih.
Arin melihat bunda telah selesai berdoa dan mulai melipat mukenanya. Arin pura-pura terpejam lagi. Arin menuggu waktu yang pas untuk bangun. Sebentar lagi. Arin tidak ingin bunda tahu kalau dia tahu bunda menangis. Arin mendengar langkah bunda yang semakin mendekat. Tapi tak lama terdengar pintu diketuk.
Tok..tok..tok.
"Assalamu'alaikum bunda."
Arin tidak jadi membuka mata. Dia urungkan karena ingin tahu siapa yang datang.
"Wa'alaikumsalam. Eh pak Dokter. Rombongan ya Dok, hehehe. Silahkan. Mau memeriksa Arin ya Dok?" Bunda bertanya pada rombongan dokter yang datang malam itu.
"Iya bunda. Bagaimana keadaan Arin hari ini?" Tanya Bram sambil berjalan mendekati ranjang.
"Masih belum bangun ya Bram." Bima mengikuti Bram mendekati ranjang. Sedangkan Bara mendekati bunda.
"Bunda, maaf mau bertanya? Apa yang sebenarnya terjadi tadi? Tadi pas saya tinggal dia masih baik-baik saja. Apa ada sesuatu sepeninggal saya?" tanya Bara pelan seperti berbisik. Bara takut kalau Arin mendengar ucapannya. Bara curiga Arin sudah sadar dan pura-pura tertidur. Bara mulai paham dengan sikap Arin. Jadi untuk mengantisipasi hal buruk yang akan terjadi , Bara memilih sedikit menjauh dari ranjang. Bara memberi kode pada bunda untuk sedikit menjauh dari ranjang. Bunda mengerti dan mengikuti langkah Bara.
"Tadi tiba-tiba Arin merasa sedih dan menangis. Entah apa sebabnya. Dia juga bilang sudah ingin pulang." Bunda menceritakan awal kejadian saat Arin pingsan tadi.
__ADS_1
Bram dan Bima mendengarkan dengan seksama. Suara bunda yang pelan membuat mereka berdua mendekati bunda agar lebih jelas mendengarkan nya.
Arin merasa semua orang menjauh dari ranjang. Dia membuka mata. Dia ingin tau apa yang bunda dan para dokter bicarakan. Tapi karena suara mereka sangat pelan, malah terdengar berbisik, Arin jadi tidak bisa mendengar nya. Dia yakin kalau mereka pasti membicarakannya. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia merasa jadi beban keluarga. Arin terisak dan itu jelas terdengar oleh mereka berempat. Mereka terkejut.
"Kok menangis, Ada apa nak?" Bunda yang pertama kali mendekati ranjang dan mengelus kepala Arin dengan sayang.
Bara, Bima dan Bram saling pandang. Mereka mengangguk. Mereka menjadi mengerti apa yang sebenarnya terjadi sama Arin.
"Kenapa menangis. Apa ada yang sakit? Coba bilang ke saya mana yang sakit." Tanya Bara.Dia pandang Arin dengan lembut. Hatinya tersentuh melihat keadaan Arin yang seperti ini.
Arin menggelengkan kepala. Tangisnya sudah reda. Tinggal isakannya saja yang sesekali terdengar.
"Bagaimana kalau kita makan es cream atau mau coklat. Bagaimana, mau pilih yang mana. Pasti enak dan segar." Tawaran Bram sangat menggiurkan bagi Arin. Dia mengangguk. Bram ingin Arin terlihat rileks biar bisa diajak ngobrol nantinya.
"Baiklah gue aja yang beli. Gue beli dua-duanya. Mau rasa apa Arin?" Bima menawarkan diri. Bima tau alasan Bram mengajak Arin makan coklat ataupun es cream.
Bara tersenyum melihat mata Arin yang berbinar. Arin menjadi seperti anak kecil yang menginginkan diperlakukan dengan lembut. Bara jadi gemas sekali. Namun dia hanya bisa tersenyum, tidak mungkin bisa melakukan apa-apa.
"Bagaimana perasaan kamu Arin. Apa ada yang kamu pikirkan. Kenapa tadi menangis. Mungkin ada yang ingin diceritakan. Kita siap mendengarkan." Bara mendekati ranjang. Arin diam terpaku. Dia memandang Bara dengan intens. Arin ingin memastikan sesuatu. Tak sengaja Bara juga memandang Arin. Pandangan mereka bertemu sesaat. Arin terdiam. Begitu juga Bara. Tapi tak berlangsung lama. Arin memutus pandangan itu.Dia mengalihkan pandangannya pada bunda.
"Bunda, Arin haus dan juga lapar. Apa boleh minta makan?" Arin berkata sambil memainkan tangannya seperti anak kecil yang meminta sesuatu. Bunda tersenyum. Bunda merasa Arin menjadi sangat manja. Dia berkata seperti anak kecil. Bara dan Bram juga tersenyum. Sisi anak-anak Arin sangat menggemaskan. Pengen rasanya Bara mengacak-acak rambut Arin. Ternyata malah Bram yang berani melakukannya.
"Ikh Dokter Bram, berantakan rambut Arin."
"Habis kamu bikin gemes si. Pengen getok rasanya.Hahaha..." Ucap Bram. Dia tertawa melihat Arin yang semakin cemberut.
"Sekarang makan dulu.Pasti lapar. Kamu baru makan siang tadi kan? Mau saya suapin." Bara mengambil nampan tempat makanan yang disediakan rumah sakit.
"Tidak usah Dok, saya masih bisa makan sendiri." Arin tertunduk malu.
" Biar saya saja Dokter. Malah merepotkan kalian berdua." Bunda merasa sungkan karena Arin malah diladeni langsung sama dokter.
"Tidak merepotkan kok bunda, Saya malah merasa senang seperti mempunyai adik perempuan." Jawab Bram.
"Saya juga tidak merasa direpotkan. Karena Arin sudah saya anggap teman." Bara ikut menjawab juga. Bram tersenyum mendengar jawaban Bara. Ingin menggoda Bara tapi ada bunda. Takut nanti bunda salah paham.
"Maaf Dokter, saya malu kalau makan sambil dilihatin. Ga tertelan makanannya." Ucap Arin sambil menunduk. Memang kalau kita lagi makan ada yang melihat malah menjadi tidak nyaman.
"Baiklah kita keluar dulu. Ayo Bram." Bara dan Bram berjalan keluar ruangan. Mereka menunggu di depan ruangan. Duduk sambil berbincang-bincang apa saja.
"Arin menjadi seperti anak kecil yang ingin dimanja dan diperhatikan. Dia seperti anak yang kurang perhatian. Bisa jadi karena keadaan keluarganya yang sibuk mencari nafkah dan dia tumbuh sendirian. Dia dipaksa dewasa sebelum waktunya." Bram mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya tentang kasus Arin.
"Bisa jadi begitu. Banyak kasus dengan latar belakang orang tua yang sibuk bekerja, anak-anaknya menjadi kurang diperhatikan. Kalau kasus Arin karena memang tuntutan ekonomi yang mengharuskan kedua orang tuanya sibuk mencari Nafkah." Bara juga mengungkapkan apa yang dia pikirkan.
"Ditambah lingkungan yang juga mempengaruhi. Tetangga yang suka membulli dan menghina bisa jadi menambah beban di otaknya. Terkumpul bertahun-tahun dipendam sendiri."
"Benar sekali, di tambah lagi Arin mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari sahabat dan orang-orang yang justru mengaku sangat menyayanginya. Ironisnya orang-orang yang menyayangi nya tega melakukan tindak kejahatan."
Tambah Bram .
"Serius amat sih. Lagi membahas apa? Kok di luar?" Bima baru saja tiba dari super market membeli berbagai macam cemilan. Tentu saja es cream dan coklat tidak ketinggalan.
"Arin lagi makan. Malu kalau dilihat katanya. Jadi kita ya keluar. Lo beli apa saja? " Bram membuka tas yang dibawa Bima.
"Wah banyak sekali. Baik banget lo sama kita-kita." Bram mengambil satu bungkus snack dan membukanya.
"Itu kan buat Arin. Teganya lo makan." Bima protes karena memang makanan ini dia beli khusus buat Arin.
"Satu doang, nanti gue ganti. Eh ini lo ga lagi modus kan? Atau jangan bilang lo ada maunya sama kita?" ucap Bram lagi. Bara cuma menyimak percakapan kedua temannya. Pikirannya masih terfokus pada Arin dan juga perbincangan antara dia dan Bram barusan membuat Bara berpikir harus bisa mengambil langkah yang terbaik.
Bram dan Bima menghentikan obrolan mereka. Mereka berdua menatap Bara. Dan lalu Bima berkata.
"Dorrr..."
Bima sengaja membuat kaget Bara. Bram juga terkejut dan melongo melihat Bara. Ada apa dengan Bara. Bara terkejut apa tidak ya.
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen.
Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1