
Fian berlari ke luar rumah. Dia terlihat sangat panik setelah mendengar teriakan Bara. Dia takut terjadi apa-apa dengan Arin.
Begitupun Andra. Mereka dengan cepat beraksi ketika mendengar teriakan Bara.
"Arin mana, apa yang terjadi dengan Arin."
Setelah sampai di pintu gerbang, Fian melihat ke kanan dan kiri. Dia melihat Bara yang sedang memangku Arin yang bersimbah darah. Fian langsung mendekati Bara. Fian ikut berjongkok untuk melihat keadaan Arin.
"Bang, kenapa Arin. Apa yang terjadi."
Setelah melihat keadaan Arin yang terluka, tiba-tiba tatapan melihat sesosok yang sangat di bencinya duduk diatas motor dengan wajah yang khawatir juga. Fian berdiri. Dia dekati orang tersebut.
"Lo lagi... Lo lagi!! Tidak pernah bosan membuat Arin celaka!! Apa salah Arin ke Lo!! Dasar pecundang!!"
Fian memukul orang tersebut bertubi-tubi. Dia sangat marah dengan apa yang terjadi pada Arin.
"Maaf gue tidak sengaja.. "
",Maaf Lo bilang..!!! Sampai terjadi apa-apa dengan Arin. Gue kirim Lo ke neraka. Dasar biadab.. bajingan..!!!"
Bug....buug.. Fian terus saja memukuli orang tersebut.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi? "
Tiba-tiba terdengar suara orang ramai mendatangi tempat itu.
"Fian.. sudah .. dia sudah terluka parah." Andra mencoba menahan Fian untuk tidak memukul lagi.
"Biar saja.. Dia tidak punya otak. Seharusnya kemarin dia di penjara saja!! Arin sudah baik hati membebaskan!! Sekarang balasannya apa!! Dasar punya otak tidak pernah dipakai!! Kali ini gue pastikan Lo membusuk di penjara!!"
"Sudah Fian.. sudah. Serahkan saja pada polisi. Jangan kotori tanganmu dengan menyentuh orang tak punya hati nurani seperti dia. Menyebut namanya aja tabu rasanya." Andra ikut memaki saat dia menyadari apa yang terjadi
"Betul juga bang."
Fian menjauhi si penabrak yang sudah babak belur. Beberapa warga sekitar mengurus si penabrak dan menyerahkannya pada polisi. Fian segera masuk rumah untuk mengambil kunci mobil. Dia harus secepatnya membawa Arin ke rumah sakit.
"Arin.. Nak Bara.. Apa yang terjadi dengan Arin."
Ternyata Ayah Arin sudah sampai juga ditempat itu. Sutejo, Yanto dan juga yang lainnya sudah sampai di tempat kejadian.
"Maafkan Bara, Ayah.. Bara tidak bisa menjaga Arin. Arin bangun.. Arin.."
"Cepat bawa masuk ke mobil. Kita harus segera ke rumah sakit."
Suara Hary terdengar dari kursi kemudi.Ternyata Papanya Bara dengan sigap langsung mengambil tindakan. Begitu melihat apa yang terjadi, Hary dengan cepat mengambil mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat kejadian.
Bara dan Ayah mengangkat tubuh Arin dan memasukkan ke dalam mobil. Kemudian dengan cepat Hary menjalankan mobilnya menuju ke rumah sakit.
"Arin, kenapa?"
Bunda, Maria dan juga mana Bara baru sampai tempat tersebut. Bunda terlihat panik.
"Ayo naik, kita susul ke rumah sakit."
Fian sudah siap dengan mobilnya. Ternyata dia keduluan Hary untuk membawa Arin. Semua orang masuk mobilnya. Dan Fian segera menjalankan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, Arin langsung di bawa ke IGD. Luka Arin cukup serius. Arin banyak kehilangan darah. Pihak rumah sakit sudah memberi aba-aba untuk mempersiapkan pendonor.
Bara ikut masuk menangani Arin. Dia bertekad untuk melakukan yang terbaik buat Arin. Dia merasa gagal menjaga Arin tadi.
"Nak Bara, tolong selamatkan Arin. Tolong Arin .. tolong."
Sedu bunda memohon pada Bara. Bara hanya bisa mengangguk. Bajunya yang penuh darah menandakan kalau hatinya juga berdarah. Dia juga terluka melihat Arin yang terluka.
Dia sangat marah pada si penabrak. Orang yang tak ingin dia sebut namanya. Orang yang berkali-kali telah menyakiti Arin. Dia berharap orang tersebut mendapatkan hukumannya.
Tidak hanya Bara dan Fian, semua orang berharap demikian. Orang yang tidak tau diri itu harus dihukum seberat-beratnya.
Semua orang duduk menunggu di depan ruang operasi. Fian berjalan mondar-mandir. Perasaannya sangat takut. Dia ingat keadaan Arin tadi. Keluar darah dari kepalanya.
Fian menggelengkan kepala. Dia benar-benar takut. Dia sangat takut kehilangan Arin.
"Fian, duduk sini nak, Kita tau kalau kamu bersedih. Duduk sini deket mama. Kita doakan yang terbaik buat Arin."
Maria menatap Fian dengan iba. Wajah Fian yang terlihat sangat terluka. Dia terlihat sangat terpukul melihat keadaan Arin. Fian mendekati sang mama. Dia duduk di lantai. Dia letakkan kepalanya di pangkuan sang mama.
",Kita serahkan semua pada Tuhan, kita hanya bisa berdoa yang terbaik. Jeng Ida yang sabar ya."
Mama Bara berusaha menguatkan bunda Arin yang terlihat sangat terluka.
Baru saja kebahagiaan hadir ditengah-tengah mereka, pertikaian yang berpuluh tahun telah bisa di damaikan, baru sejenak mereka bisa tersenyum bahagia. Musibah itu datang lagi. Kecelakaan yang tak pernah di duga.
Di jalan kampung yang biasanya lengang, ada pemuda yang memang begitu dendam pada Arin, karena cintanya selalu ditolak. Dan dia nekad menabrak sang pujaan. Ya pemuda yang selalu ditolak itu bertekad siapapun tidak boleh memiliki Arin. Sehingga dia dengan sengaja menabrak Arin.
Dua jam telah berlalu. Namun ruang tindakan belum terbuka. Luka Arin memang parah. Dari kepalanya keluar darah.
"Ayah, bunda. Om dan Tante. Ini minum dulu dan ini sekedar buat isi perut."
Rama datang dengan sekantong makanan dan minuman. Dia yakin semua orang yang di rumah sakit pasti tidak ada yang kepikiran untuk mengisi perut mereka.
"Terima kasih Rama."
"Ayo jeng Ida. Dan semuanya. ini sekedar pengganjal perut."
Mama Bara ikut membagi satu-persatu makanan dan minuman yang di bawa Rama. Karena hanya dia yang terlihat tegar. Walaupun sebenarnya hatinya juga terluka.
Dan setelah lima jam pintu kamar operasi terbuka. Dokter Rizal keluar dari ruangan.
Ayah langsung berdiri. Dan semua orang ikut berdiri. Mereka tidak sabar ingin tau bagaimana keadaan Arin.
__ADS_1
", Bagaimana keadaan Arin dok."
Dokter Rizal menarik nafas panjang. kemudian berkata.
"Alhamdulillah pasien telah melewati masa kritisnya. Dia masih tidur karena pengaruh obat. Sebentar lagi dia pasti bangun. Banyak berdoa saja semoga diberikan yang terbaik."
"Alhamdulillaah.."
Semua orang bisa bernafas lega. Tapi tidak dengan bunda. Dia masih terlihat murung. Hatinya sangat sakit. Putrinya terbaring tak berdaya lagi. Ini kali ketiga dia melihat Arin yang tergolek tidak berdaya.
",Bunda jangan sedih ya. Kakak pasti sembuh." Rama berusaha menghibur sang bunda. Dia sangat tahu bagaimana perasaan sang bunda.
"Benar Ibu. Kita pasrahkan semuanya pada Yang di Atas. Semoga pasien segera sadar. Kalau begitu kami permisi dulu."
"Silahkan dokter. Terima kasih dokter."
"Apa bunda boleh masuk ya Yah. Nak Bara mana? Boleh ya bunda masuk."
"Sebentar bunda, Rama tanya dulu ya."
Rama mengintip ruang operasi lewat jendela kecil yang ada di pintu. Terlihat samar didalam Bara sedang duduk di samping tempat tidur. Kemudian Rama mengetuk pelan pintu, dan membukanya. Kemudian dia masuk. Dia melihat Bara sedang duduk terpekur sambil memandangi Arin.
"Bang, .."
Bara terkejut. Dia menoleh. Kemudian dia tersenyum.
"Rama.. Iya kenapa."
"Bang, bagaimana keadaan kak Arin?"
Bara menatap Arin sendu. Dia kemudian menggelengkan kepala.
Rama bingung, kenapa Bara menggelengkan kepala. Dia kemudian menggoyangkan tubuh Bara.
"Bang, apa yang terjadi. Kenapa kakak. Jangan bilang terjadi sesuatu dengan kakak."
"Iya Ram, ada otot syarafnya yang rusak. kemungkinan besar akan ada bagian tubuhnya yang lumpuh."
Rama tercenung. Dia tidak menyangka kecelakaan ini berakibat fatal. Namun dia masih bersyukur kakaknya selamat.
"Tidak apa-apa bang, masih ada aku yang akan menjadi kaki dan tangannya. Yang penting nyawanya tertolong."
"Iya benar Ram, saya juga siap untuk jadi kaki dan tangannya."
"Terima kasih bang."
"Tidak perlu berterima kasih Rama."
"Bang, apa pasien boleh dijenguk."
"Boleh , tapi jangan banyak orang dulu ya "
Rama keluar. Dia memberitahukan pada semua orang kalau Arin boleh dijenguk. Dan satu persatu mereka masuk untuk melihat keadaan Arin.
Setelah melihat keadaan Arin, satu persatu mereka berpamitan karena hari telah larut malam. Tinggal keluarga Arin saja dan juga Fian.
"Bunda sama ayah pulang ya. Biar Rama yang menjaga kak Arin."
"Iya bunda, biar Fian sama Rama yang menjaga Arin. Nanti kalau ada apa-apa kita beritahu. Bunda dan Ayah istirahat. Besok kemari lagi."
Akhirnya bunda dan Ayah pulang. Tinggal Rama dan Fian yang menginap. Mereka kasian melihat ayah dan bunda yang terlihat sangat letih. Karena memang hari ini adalah hari yang melelahkan setelah semua yang mereka lalui dari pagi.
🌸🌸🌸
Dua hari telah berlalu. Arin belum sadar juga. Pihak keluarga bergantian menunggui Arin. Keluarga Sutejo juga beberapa kali menjenguk. Keluarga Hary juga. Akung krisna dan kakek Sastro juga menjenguk sekali.
Sang penabrak sudah ditangkap dan dimasukkan penjara. Karena akhirnya dia mengakui kalau dia memang sengaja. Dan dia siap menanggung semua perbuatannya.
Malam itu Rama dan Fian yang menunggui Arin di rumah sakit. Malam ketiga Arin di rawat. Mereka duduk di kursi yang disediakan sambil sesekali mengajak Arin berbincang. Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Padahal hari sudah malam. Jam yang di pasang di dinding menunjukkan pukul sebelas malam.
Tok... tok.. tok.
Ternyata Bara yang datang. Dia sedang tugas malam dan memang sengaja ingin mengunjungi Arin.
"Kalian tidak tidur, beristirahatlah. Biar gantian saya yang menunggui."
"Iya bang, ini kita juga sambil istirahat."
"Baguslah, bolehkah saya disini sebentar. Kalian keluar dulu."
Rama mengangguk kemudian menarik tangan Fian dan mengajaknya keluar. Namun Fian hanya diam. Dia memandang Bara dengan pandangan tak senang.
"Sudahlah bang Fian. Ayo kita keluar dulu. Biar bang dokter disini."
Rama menarik tangan Fian sekuat tenaga. Dan akhirnya Fian mengalah. Dia ikut keluar ruangan.
Setelah mereka berdua keluar, Bara menarik kursi ke dekat ranjang. Dia duduk di situ. Dia genggam tangan Arin sangat erat. Dia ciumi tangan Arin dengan penuh kasih.
"Arin.. ini kali kedua aku mohon padamu. Bangunlah.. hiduplah bersamaku. Apapun keadaanmu nanti , aku akan menerimamu. Arin aku sangat menyayangimu. Semenjak dulu saat kita bertemu dan sampai saat ini tidak berkurang sedikitpun."
Bara menarik nafas panjang. Dadanya terasa sesak, kala dia ingat semua perjalanan hidup Arin yang selalu penuh luka. Ini kali ketiga dia menolong Arin yang terluka. Dia merasa sangat yakin Arin adalah jodohnya. Bukan dia mendahului Yang di Atas, namun mengingat apa yang terjadi selama ini.
Bara berdiri. Tangannya mengusap lengan Arin dengan lembut. Kemudian berpindah ke wajahnya. Dia usap dengan penuh kasih sayang. Bara memajukan wajahnya.
"Maaf bukan aku mencuri kesempatan, siapa tahu dengan cara ini kamu bisa bangun."
Bara mengecup pelan bibir Arin. Sangat pelan, sangat lembut dan sambil meresapi. Bibirnya masih menempel di bibir Arin. Cukup lama. Kemudian pelan-pelan dia membuka bibirnya. Dia isap bibir Arin dengan lembut. Dan yang terakhir dia gigit bibir Arin dengan lembut juga.
Bara menyudahi ciumannya. Dia berharap Arin bisa bangun. Dia sangat menyayangi Arin. Dan Bara ingin Arin tahu perasaannya.
__ADS_1
"Haaa..uuuusss... Miii.... nuuumm."
Bara tertegun. Dia melihat mata Arin terbuka dengan perlahan. Mata itu menyipit. Mungkin sedang menyesuaikan pencahayaan.
"Arin.. sayang. Kamu bangun.."
Bara tersenyum dia sangat bahagia karena akhirnya apa yang dia lakukan membuahkan hasil. Ide konyol dari Bima memang selalu bisa diandalkan.
Buru-buru Bara mengambil segelas air minum. Kemudian meminumkan kepada Arin dengan sendok.
" Minumlah pelan-pelan. Sedikit-sedikit dahulu."
Arin menatap Bara. Dia menatap dengan sendu. Dalam tidurnya dia mendengar apa yang Bara ucapkan. Dan otaknya langsung memberikan respon. Dan juga semua yang Bara lakukan benar-benar membuat otak Arin bereaksi. Seperti ada ikatan yang kuat di antara keduanya.
"Apa yang kamu rasakan. Ada yang sakit. Biar saya periksa dulu ya."
Bara bertanya dengan nada yang sangat lembut. Dia menatap Arin dengan pandangan yang lembut pula. Dia memeriksa keadaan Arin.
"Aa, aku lapar. Apa ada makanan? Apa aku boleh makan."
Bara tersenyum. Bara merasa geli. Selalu itu yang pertama kali keluar dari mulut Arin saat siuman. Lapar dan ingin makan. Bara mengusap kepala Arin lembut.
"Tunggu sebentar ya, saya pesankan bubur dari kantin."
"Tapi jangan lama-lama."
"Tenang saja.Tidak sampai lima menit. Apa sudah lapar sekali ya. Wkwkwk.."
"Aa malah meledek. Boleh aku bertanya?"
"Tentu boleh mau bertanya apa?"
"Berapa lama aku tidur. Lama mana dulu sama sekarang."
",Tidak lama hanya dua hari dua malam. Oh ya tunggu sebentar. Saya hubungi dulu pihak dapur untuk mengantarkan makananmu."
Bara mengotak-,Atik ponselnya sebentar. Kemudian fokus menatap Arin lagi.
"Tunggu lima menit . Sebentar lagi makanan datang."
"Dua hari dua malam ya.Pantas terasa lapar. Selama itu perut aku kan tidak terisi dokter."
"Hm.. iya.. iya. Nanti makan yang banyak ya. Biar cepat sehat dan cepat pulang."
"Siap Bosque... hehehe.."
"Bagus.."
Bara mengusap lagi kepala Arin dengan sangat lembut. Kali ini hatinya sungguh merasa sangat bahagia. Melihat Arin begitu penurut.Terlihat sangat manis dan menggemaskan. Apalagi ditambah tadi Bara berhasil membuat Arin bangun dengan cara yang konyol. Senyum Bara tak pernah hilang dari bibirnya.
"Aa kenapa senyum-senyum terus. Sepertinya lagi bahagia banget."
Bara kembali tersenyum. Kali ini sangat lebar. Bahkan sampai tertawa juga.
"Karena menang saya sedang bahagia. Semoga cepat sembuh."
Tok...tok..tok..
"Itu pasti makanan datang. Sebentar saya buka pintu dulu."
Dan benar yang datang petugas dapur membawa bubur beserta makanan lain yang tadi Bara minta.
"Terima kasih ya mas."
"Sama-sama pak dokter."
Setelah petugas itu keluar. Tiba-tiba terdengar suara Rama dan Fian
"Bang makanan buat siapa. Jangan bilang Kak Arin sudah sadar."
"Benar Rama, Fian. Arin telah sadar. Dan apa yang dia ingat pertama kali.? Makan. Dia lapar."
"Alhamdulillah.. wkwkwk."
Mereka berempat tertawa. Rama dan Fian mengelilingi tempat tidur di mana Arin tidur. Sedangkan Bara menyiapkan meja buat tempat makanan.
"Mau disuapin atau makan sendiri."
Arin mencoba menggerakkan tangannya dan dia berhasil.
"Makan sendiri saja. Kan tangan aku masih normal."
"Ok kalau begitu. Kamu duduk ya. Bisa kan. Tempat tidurnya kita naikkan terlebih dahulu."
Bara menarik tuas dan tempat tidur bagian atas mulai bergerak. Bara sebenarnya merasa was-was karena menurut dokter Rizal ada syaraf Arin yang mengalami kerusakan. Dan ada bagian tubuh Arin yang akan mengalami kelumpuhan.
Maka dari itu Bara melakukan semua dengan hati-hati. Dia memperlakukan Arin dengan sangat lembut agar saat Arin sadar ada kerusakan di anggota tubuhnya, Arin bisa menerimanya.
"Aku mau duduk aja dokter."
Arin berusaha untuk duduk sendiri. Namun saat dia menarik kakinya, dan terasa berat.
"Tidak... tidak.. Dokter.... Aa . tidak..."
Arin histeris. Dia berteriak sekencang-kencangnya. Arin menangis.
"Tidaaaaakkk....."
Bersambung ..
__ADS_1