Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 63


__ADS_3

Semua baik-baik saja


"Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumsalam.. baru pulang sayang."


Mama sedang duduk di teras saat Bara pulang. Mama baru saja selesai menyiram tanaman bunga miliknya. Semua bunga sedang mekar, terlihat sangat indah. Apalagi sore ini terlihat sangat cerah. Matahari yang sudah berada di ufuk barat memancarkan sinar kuning keemasan, menambah pantulan cahaya yang sangat indah.


"Iya ma."


"Bawa apa kamu. Seperti nya berat banget. Dapat oleh-oleh dari mana."


Mama melihat Bara mengeluarkan dua kantong kresek yang berisi jambu air dan juga singkong. Serta mengambil lagi satu kantong yang berisi bakso.


"Ini ada oleh-oleh dari teman Bara."


"Wah banyak sekali. Ini apa yang merah-merah. Wow jambu air. Jambu jenis ini sangat manis. Mama sangat suka. Segar sekali pasti."


Mama sudah tidak sabar ingin mencoba rasa jambu itu. Mama langsung membuka kantong plastik dan mengambil satu buah, kemudian mencuci jambu itu di kran yang ada di dekat taman dan kemudian memakannya.


"Ini manis sekali. Enak banget sayang. Mama mau bibitnya. Mama suka sekali ini. Segar sekali rasanya."


Sambil makan jambu mama masih saja berkomentar tentang jambu yang di makannya. Padahal mulutnya penuh.


"Iya memang enak. Tadi Bara sudah makan di sana. Langsung makan di bawah pohonnya. Lebih nikmat Ma."


" Benarkah.. Mama jadi kepengen. Kapan-kapan mama ajak dong ke sana. Mama mau minta bibitnya. Biar bisa kita tanam sendiri."


"Iya ma , Kapan-kapan Bara antar mama ke sana. Oh ya ini ada juga singkong kesukaan papa."


"Komplit banget temen kamu. Semua kesukaan kita ada semua."


" Iya juga ya. Bisa pas begini."


"Jangan-jangan jodoh.Ya ga.. ya .. ga. Hahaha.. pasti temen kamu cewek kan."


Bara tersipu mendengar ucapan mama. Dalam hati dia mengaminkan ucapan mama. Tentu saja Bara sangat senang bila dia benar-benar berjodoh dengan Arin.


"Hm... malah melamun. Pasti iya kan. Duh senengnya hati mama. Anak bungsu mama sudah punya pacar."


"Apa sih Ma. Belum jadi pacar. Masih pendekatan."


"Cie... cie.. cie.. yang lagi jatuh cinta."


"Dihh mama. Bara masuk aja deh. Males, mama meledek Bara terus."


"Hahaha... kan mama merasa bahagia sayang. Iya deh iya. Mama ga meledek lagi. Itu satu kantong lagi apa. Kok baunya harum sekali. Hemmmm... sungguh menggoda. Baunya sih bau bakso. Pasti bakso ini beli di tempat langganan kita. Ayo sayang kita makan bareng di dalam. Duh anak mama yang satu ini paling pengertian."


Mama mengalihkan topik bahasan. Kalau tidak, anak bungsunya pasti akan ngambek lagi seperti kemarin, dia tidak mau keluar untuk makan malam.Tapi sebenarnya mama memang sudah tidak tahan mencium aroma yang keluar, Aroma bakso itu memang sangat menggoda.


Mama bergegas menuju dapur dan menyiapkan mangkok. Dia sudah tidak sabar mau menyantap bakso dengan aroma yang kuat dan sangat menggoda.


"Pa.. pa.. papa.. sini deh "


Mama memanggil papa yang ada di teras belakang . Papa sedang duduk santai di pinggir kolam renang. Mendengar teriakan mama.Papa langsung mendekat. Karena kalau tidak pasti akan berteriak lebih keras lagi.


"Ada apa ma. Teriakannya terdengar sampai ujung bumi."


"Ujung bumi mana. Papa ada-ada saja. Hm.. biar papa denger dan langsung datang. Ga dua kali mama teriaknya. Mau bakso atau tidak Kalau ga mau mama habiskan sendiri." Ucap mama santai sambil berjalan ke dapur untuk menyiapkan mangkok.


" Mau dong. Hm aromanya... Pas banget ini sore-sore begini makan bakso. Siapa yang beli."


"Siapa lagi, kalau bukan Bara tentunya. Ini bakso langganan kita. Bara selalu tau apa yang kita mau. Hehehe.."


"Apa sih yang ga buat mama. Bara bisa merasakan apa yang papa dan mama inginkan. Selalu datang tepat waktu dan tempat. Iya kan." Bara memeluk mamanya. Tapi memang benar itulah yang terjadi. Pas mama pengen sesuatu, tidak sengaja Bara pasti beli apa yang diinginkan mamanya itu.


Bara ikut duduk di ruang makan. Dia rindu suasana seperti ini. Dia baru saja pulang dari luar negeri langsung disibukkan dengan pekerjaan. Jarang bisa berkumpul seperti ini. Dan saat ini dia tidak akan menyia-nyiakan waktu.


"Ini bakso kamu Nak."


"Bara sudah makan tadi disana ma, tapi melihat kalian makan bareng begini jadi kepengen lagi." Bara menerima mangkok bakso dari mama dan mulai menyantapnya.


"Ya sudah kamu makan lagi aja


Satu buat abang kamu, satu lagi biar buat si mbak."

__ADS_1


"Iya ma. Sengaja Bara beli banyak. Biar semua kebagian. Enak kan baksonya."


"Iya Bar. Mama dan papa sudah hafal aroma bakso langganan kita. Rasanya tidak diragukan lagi. Paling mak nyus." Ucap papa dengan mulut yang penuh bakso. Meniru ucapan salah satu chef terkenal.


"Udah tua itu makan hati-hati. Jangan sambil ngomong. Itu mulut penuh bakso pa. Ditelan dulu. Baru ngomong."


Mama merasa geli melihat cara papa makan yang seperti tidak pernah makan bakso. Tapi memang papa jarang makan karena dia jarang makan di luar. Papa lebih suka makanan rumahan yang dimasak oleh mama. Begitu juga dengan Bara dan Arkan. Bukan pelit atau menghemat. Karena bagi mereka makanan rumah lebih enak karena dimasak dengan bumbu cinta seorang ibu.


"Akhirnya habis juga. Bara langsung ke atas ya Ma, Mau mandi gerah banget. Keringatan ini. Makan bakso yang pedas keringat keluar semua."


"Iya sayang dan langsung istirahat ya."


Bara mengangguk. Bara bangun dari duduknya dan berjalan menuju ke kamarnya di lantai atas. Dia ingin membersihkan badan dan juga ingin istirahat. Setelah sampai kamar Bara langsung menuju kamar mandi. Mengisi bathtub dengan air hangat ditambah aromaterapi. Itu memang kebiasaan dia setiap dari luar rumah langsung membersihkan badannya dan sengaja Untuk merelaksasi tubuhnya agar bugar kembali.


Setelah semua siap Bara membuka seluruh pakaiannya. Dia masuk ke dalam bathtub. Terasa hangat dan menenangkan. Bara menenggelamkan seluruh tubuhnya. Yang terlihat hanya kepalanya saja. Badannya terasa pegal semua setelah beberapa hari sibuk dengan para pasiennya.


Bara memejamkan mata. Dia menikmati aroma yang keluar dari air yang merendam tubuhnya. Aromanya menenangkan. Bara sangat menyukainya. Makanya dia sering melakukan ini.


Tiba-tiba sekelebat bayangan Arin hadir di ingatannya. Bara tersenyum. Saat Arin memanggil dirinya dengan sebutan Aa, terasa sejuk di hatinya. Jantungnya berdebar lebih cepat. Bara merasa sangat senang tentunya. Membuat Bara bersemangat untuk mendapatkan Arin. Dia tidak akan mundur walaupun dia tahu Arin dekat dengan Fian. Bukan dia ingin menikung dari Fian, tapi Bara hanya ingin berusaha untuk merebut hati Arin. Siapa tahu Arin juga tertarik padanya. Jodoh Siapa yang tau. Bara hanya ingin memperjuangkan apa yang dia inginkan.


Seandainya dia tidak berjodoh dengan Arin, setidaknya dia sudah berusaha. Bukan diam saja. Tidak salah bukan jika kita ingin memperjuangkan sesuatu yang kita inginkan. Toh kita melakukannya dengan cara yang wajar. Bersaing dengan cara yang sehat.


Bara menarik nafas panjang. Sebenarnya dia merasa tidak percaya diri. Melihat bagaimana kedekatan antara Fian dan Arin. Ikatan batin yang kuat diantara keduanya tidak diragukan lagi. Bisa saling merasakan kesakitan satu sama lain. Melihat bagaimana cara mereka berinteraksi. Melihat bagaimana cara mereka bercanda, dan tawa Arin yang selalu bisa keluar dengan bebas dan lepas seperti tanpa beban saat bersama Fian.


Bisakah Arin seperti itu dengan Bara? Bisakah Arin terbuka seperti itu dengan Bara. Bisakah Arin tertawa lebar dan bebas seperti saat dengan Fian. Bara merasa dia itu terlalu kaku dan dingin. Bara adalah tipe orang yang tertutup. Susah bergaul juga. Apakah Bara sanggup untuk mendapatkan semuanya.


Bara sedang memikirkan bagaimana cara mengambil hati Arin. Bagaimana cara menaklukkan sang gadis pujaan.


"Yang penting jalani saja dulu. Ku ikuti saja alur kemana akan membawaku. Jika harus mendekat, pasti akan ada jalan. Gue harus semangat. Gue pasti bisa. Gue adalah Bara. Semangat."


Bara berbicara sendiri. Dia memberi semangat buat dirinya sendiri. Dia memang tidak boleh menyerah begitu saja. Baru dengan Arinlah jantung Bara bisa berdetak lebih cepat. Baru dengan Arinlah, Bara bisa merasa sangat bahagia. Arinlah yang telah bisa menggetarkan jiwanya. Apakah dia harus menyerah begitu saja. Tentu tidak kan?


Sudah tiga puluh menit Bara berendam Air sudah berubah menjadi dingin. Tidak hangat lagi. Bara menyudahi berendam nya. Sudah cukup membuat dirinya merasa rileks. Bara membilas tubuhnya di shower dan menyudahi mandinya.


Badannya sudah segar. Pikirannya juga sudah rileks. Saatnya tidur. Saatnya mengistirahatkan semua anggota tubuhnya. Harus bisa tidur nyenyak. Besok pagi tugas sudah menanti. Ada PR besar menanti. Kasus Tia belum selesai. Semoga dugaannya dan Bram benar.


Akhirnya Bara bisa memejamkan mata pukul sepuluh malam. Dia sudah tidak keluar kamarnya lagi setelah makan bakso tadi. Keluarganya sudah tau kebiasaannya. Dan mereka tidak akan mengganggu karena memang sudah sangat hafal kebiasaan anaknya itu.


🌸🌸🌸


Andra telah selesai makan. Dia kembali satu jam kemudian setelah dia pergi tadi. Dia membawa semua pesenan Fian.


"Iya bang. Papa sama mama keluar dulu ya . Jaga adikmu. Sepertinya tidurnya sangat nyenyak."


" Iya ma. Eh iya, malam ini biar Andra yang menjaga Fian. Mama sama papa pulang saja."


"Memangnya tidak apa-apa bang, Kamu bisa."


"Bisalah Ma. Andra kan sudah sehat. Nanti paling di temani Toni atau Irwan.'


"Baiklah kalau begitu. Seperti mama dan papa langsung pulang saja ya. Kamu ga apa-apa kan."


"Iya mama, Andra tidak apa-apa. Paling nanti temen-temen Andra datang pukul sembilan."


"Baguslah. Nitip adikmu ya. Jagain dia. Kalau ada apa-apa kasih tau mama."


"Iya ma. Siap."


Mama dan papa pergi meninggalkan Andra. Fian masih terlihat memejamkan mata. Entah tidur apa tidak. Andra meletakkan kantong plastik yang dia bawa di meja.


"Bang."


"Apa? Gue kira lo tidur."


"Memang tidur. Baru aja bangun."


"Ada apa?"


"Gue mau ke toilet. Kebelet. Bantu gue dong. Puyeng kepala gue."


"Manja lo. Mau diseret atau di lempar."


"Sadis. Mending di sianida aja bang."


"Pilihan yang bagus."

__ADS_1


Mereka masih saja berdebat. Namun hanya di mulut saja. Andra tetep membantu Fian dengan penuh kasih sayang. Bahkan sangat hati-hati banget. Itulah hubungan persaudaraan. Kadang kita perlu sedikit berbasa-basi untuk meramaikan suasana. Sedikit berdebat untuk mempererat rasa. Dan sedikit intrik untuk mendapatkan kebersamaan.


Andra membantu Fian ke toilet sampai selesai. Setelah Fian kembali berbaring, Andra juga ke toilet. Ternyata Andra kebelet juga.


"Bang udah belum. Lama banget." Fian berteriak. Sudah sepuluh menit Andra di dalam toilet.


Andra keluar dengan wajah yang lebih segar.


"Ada apa, Sabar kenapa. Gue perlu cuci muka biar tetep cool walaupun di rumah sakit. Siapa tahu ada cewek cantik lewat."


"Banyak kalau cuma lewat. Itu ada. Rambut panjang, kulit putih. Body aduhai."


"Mana... mana . gue kok ga lihat."


"Itu di belakang lo."


"Fian.... jangan aneh-aneh deh. Ga lucu."


Fian tertawa ngakak. Andra memang sedikit penakut. Fian suka sekali mengganggu Andra. Andra pasti akan marah dan berakhir tidur berdua.


" Beneran bang, Fian tidak bercanda. Itu dia sedang berjalan ke luar ruangan. Tidak menapak tapi."


"Fian..... jangan gila lo."


Andra sudah merinding. Dia sudah sedikit pucat. Andra benar-benar takut. Namun masih bisa dia sembunyikan. Fian tahu itu.


"Hahahaha... Abang lucu. Tapi ga sampai ngompol kan."


"Fian.... udah dong. Ini rumah sakit. Pasti yang lo bilang pasti banyak disini. Jangan nakut-nakutin gue dong."


"Fian tidak menakuti bang. Tadi memang beneran ada.Itu dia sedang melihat kemari."


Fian semakin menggoda Andra. Fian tidak bohong. Memang ada makhluk yang tadi disebutkan Fian berdiri di pintu kamar. Dan sedang memandang ke arah mereka. Fian hanya tersenyum dan melambaikan tangan menyuruh makhluk itu pergi. Dan makhluk itu benar-benar pergi meninggalkan mereka.


"Sudah pergi, tidak perlu takut lagi. Abang cemen. Begitu saja takut."


"Fian... Lo kan udah kenal gue dari kecil. Jangan bikin gue jantungan. Lo mau kehilangan gue."


"Kok ngomong gitu sih. Ya ga mungkinlah. Lo abang gue satu- satunya. Gue ga mau kehilangan lo dong."


"Co cweet... "


Tiba-tiba terdengar suara Toni yang membuat Andra dan Fian terkejut. Toni dan Irwan ternyata sudah datang. Mereka sedang di balik pintu saat Fian dan Andra berbincang.


"Dateng itu mengucapkan salam. Bukan malah bikin kaget seperti ini."


Andra menepuk bahu Toni dengan keras.


"Udah tadi, lo berdua asyik banget sampai ga denger gue ngomong. Ya udah kita masuk aja dong. Ga salah kita juga kan. Kalian aja yang ga dengar."


"Salah lah."


"Sudah-sudah.. gue puyeng bang. Kalian malah berantem. Bawa apa kalian kesini. Jangan bilang cuma bawa diri ya."


Andra merangkul kedua temannya itu dengan sangat erat. Toni dan Irwan sesak nafas. Memang sudah biasa mereka bercanda seperti itu.


"Sakit.. Sakit.. gila lo Ndro. Kan lo udah tau kebiasaannya kita. Hahaha.."


Toni masih bisa tertawa walaupun lehernya lumayan sakit karena rangkulan Andra tadi.


"Ini gue bawain gorengan. Biasa kesukaan lo berdua. Tahu bulat."


Irwan menyerahkan kantong plastik yang dia bawa. Andra membuka kantong itu dan melihat apa isi di dalam kantong tersebut.


"Cakep. Gitu dong. Ini bisa buat teman begadang kita malam ini " Ucap Andra senang.


"Memangnya mereka bawa apaan bang. Jangan bilang bawa kartu remi sama terigu."


"Hahahaha.. su'udzon banget lo Fian . Tapi memang bener sih. Fian memang pintar. Hahahaha..." Jawab Irwan sambil tertawa lebar.Toni juga ikut tertawa.


Memang teman-teman mereka adalah teman yang absurd. Teman-teman yang otaknya oleng semua. Tapi tentu saja ini sangat menghibur. Tanpa mereka hidup akan terasa hampa. Walaupun kadang menyebalkan tapi banyak yang menyenangkan juga.


Kamar akan ramai malam ini. Fian senang. Paling tidak dia bisa tidur dengan nyenyak. Andra ada yang menemani. Kakaknya yang sangat penakut itu kadang merepotkan juga jika sudah datang penyakitnya.


Akankah Fian bisa tidur atau malah ikut begadang bersama mereka.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan like dan komen Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2