
Aku pulang
"Kakak cantik.. kakak cantik.. jangan pergi.. jangan tinggalkan Tia."
Tia mengigau. Mungkin Tia sedang bermimpi tentang Arin.
Arga tidur di samping Tia. Dia terkejut mendengar suara Tia. Dalam tidurnya Tia terlihat gelisah. Bergerak terus. Bolak balik badannya. Padahal semalam dia tidur sangat nyenyak. Mungkin pengaruh mimpinya sehingga tubuhnya juga bereaksi.
"Tia.. Tia.. kamu kenapa sayang.Kamu bermimpi ya."
Arga mengusap badan Tia agar bisa tenang.
"Kakak cantik... Kakak cantik.. jangan pergi."
Arga kebingungan harus bagaimana. Dia usap-usap badan Tia agar tenang.
"Kakak cantik...."
Tiba-tiba Tia membuka matanya. Dia terbangun.Tia memandang sekeliling.
"Kakak cantik mana."
"Sayang.. kamu mencari siapa? Ini papa sayang."
"Papa.. hiks...hiks..hiks.. kakak cantik mana Pa."
"Kakak cantik yang mana sayang . Papa tidak tahu."
"Kakak cantik yang tadi ke sini Pa. Tia mau sama kakak cantik."
"Ini sudah malam sayang. Lihat sekarang jam berapa" Arga melihat arlojinya. Ternyata sudah tengah malam.
"Sudah jam dua belas malam. Besok saja bertemu kakak cantik nya."
"Tia mau sekarang Pa. .. Tia mau bobo ditemani kakak cantik."
"Sayang, dimana Papa harus mencari kakak cantik. Ini sudah malam. Pasti kakak cantik sudah tidur."
"Pokoknya Tia mau kakak cantik.Papa jahat...papa jahat."
"Tia...."
Arga membentak Tia. Arga sudah tidak sabar menghadapi Tia yang tidak mau menuruti perkataannya.
Tia terkejut. Papanya membentaknya. Tia langsung diam. Tapi dia ketakutan. Tia hanya berani sesenggukan. Dia tidur membelakangi Arga. Arga bingung harus bagaimana.
"Tia.. Tia sayang maafkan papa. Bukan maksud papa marah sama kamu. Sayang lihat papa sini Nak." Arga mengusap punggung Tia. Tapi Tia diam saja. Dia masih menangis tapi tidak berani keras. Hanya tubuhnya saja yang kelihatan bergetar.
Arga sangat menyesal telah membentak Tia. Karena Arga memang ga tau bagaimana cara membujuk Tia. Biasanya Sheila yang melakukan semuanya. Biasanya Sheila yang mengurus Tia. Arga tidak pernah ikut campur. Arga berpikir tugasnya hanya mencari uang untuk kelangsungan hidup keluarganya. Dia juga dulu merasakan begitu. Papa Arga juga sibuk bekerja. Jadi Arga pikir setelah jadi seorang ayah, tugasnya hanya mencari uang. Sekarang Arga baru merasakan. Begitu berat tugas seorang ibu, seorang istri yang harus bisa mengurus keluarganya. Arga bisa merasakan sekarang. Di saat sang anak sakit dan rewel seperti saat ini dibutuhkan kesabaran ekstra. Tapi tidak hanya sabar saja tapi juga cinta dan kasih sayang.
Arga ingat dulu saat dia kecil. Saat dia merajuk minta mainan, hanya mamanya yang selalu menuruti kemauannya. Papa nya tidak mau tahu yang penting anaknya diam dan tidak rewel. Itulah yang terpatri di ingatan Arga. Bahwa semua akan selesai dengan uang.
Namun sekarang dia sadar. Setelah kematian Sheila dia bisa merasakan sendiri bagaimana harus menenangkan sang anak agar tidak rewel. Kalau yang diminta mainan atau makanan Arga pasti sanggup untuk menurutinya. Tapi ini minta kakak cantik, sedangkan dia saja tidak tahu yang mana orangnya. Bodohnya dia kenapa tadi tidak bertanya pada Ayu apa yang Tia alami hari ini.
"Maafkan Papa sayang. Besok kita cari kakak cantik ya. Kalau sekarang sudah malam. Kakak cantik pasti sedang istirahat. Papa janji akan membantu Tia untuk bertemu dengan kakak cantik."
Arga jadi ingat Ayu. Susternya pasti tau apa dan siapa yang bertemu dan berinteraksi dengan Tia. Arga mengambil ponselnya sambil masih memeluk Tia dari belakang. tangan satunya memegang ponsel dan mengetikkan pesan pada Ayu.("Ayu tolong beri saya informasi tentang kakak cantik yang selalu di sebut Tia.")
Dan terkirim. Arga menunggu balasan dari Ayu. Tapi ternyata pesannya baru centang satu.jadi belum di buka. Arga masih menunggu.
"Mungkin Ayu sudah tidur, ya sudahlah aku tunggu sampai besok." pikir Arga.
Tia masih sesenggukan. Arga memeluk Tia erat. Dia merasa sangat bersalah telah berkata keras tadi. Arga juga masih mengusap-Usap punggung Tia. Lama kelamaan nafas Tia terdengar teratur, walaupun masih ada sesenggukan sesekali. Tia sudah tidur. Dia merasa nyaman tidur di samping papanya. Tia melupakan sejenak tentang kakak cantiknya.
Arga merasa bodoh karena tidak peka dengan kemauan dan keinginan sang buah hati.
"Mulai sekarang papa akan selalu ada buat kamu sayang." Arga menciumi wajah Tia dengan penuh kasih sayang. Tia menggeliat. Arga tersenyum.
"Maaf, papa malah mengganggu tidurmu. Sekarang tidur dulu yang nyenyak ya. Besok papa turuti semua yang kamu mau."
Arga ikut terpejam dan Akhirnya mereka tidur dengan saling berpelukan.
🌸🌸🌸
Malam ini Fian tidak menginap. Rencananya Fian mau pulang pukul sebelas malam. Itu juga karena Arin sudah terlihat mengantuk. Arin sudah menguap beberapa kali , baru Fian pamit pulang.
"Gue udah ngantuk, pulang sono."
__ADS_1
" Dih ngusir."
"Memang,sengaja, lagian lo sih, udah tau tuan rumah udah menguap. Masih betah aja. Ga sadar diri sih lo nya." Memang antara Arin dan Fian kalau berbicara sudah tidak pakai sopan santun. Mereka sudah saling paham satu dengan satunya.
" Hahaha... sengaja siapa tahu diajak tidur bareng."
"Gila lo, tidur bareng lo. Ogah. Tidur sama kunti aja sono."
"Jangan marah dulu, tidur bareng ga mesti satu tempat tidur. Pikiran lo sekarang kotor ya. Besok gue bawa pemutih deh buat bersihin otak lo."
"Buat lo aja kali. Otak lo tuh yang butuh di sapu. Udah sono pulang. Fian.. bawor .. pulang. Udah malam."
"Masih ingat aja panggilan kecil gue. Hahaha..."
"Astaga Fian. Dasar teman tidak tahu diri. Pulang ga.. "
"Hahaha.. Iya Arin sayang. Cium dulu sini." Fian mendekati Arin sambil memajukan bibirnya.
"Ogah.. Fian gila pulang sana. Gue ngantuk." Arin melengos. Fian selalu bisa membuat Arin tertawa. Kalau bersama Fian, Arin merasa bebas mengekspresikan diri. Mau berkata kasar pun Fian tidak akan tersinggung. Begitu juga sebaliknya. Tapi Fian tidak pernah berkata kasar pada Arin. Fian selalu menjaga Arin dengan baik.
"Ya udah gue pamit dulu. Mimpiin gue ya. Gue pulang dulu. Jangan lupa bahagia."
"Apaan sih lo. Serem ucapan lo."
"Apanya yang serem sih. Tidur sono. Awas begadang. Gue bisa lihat lho."
"Fian ga jelas. Memang bagaimana cara nya."
"Katanya disuruh pulang. Malah diajak ngobrol. Belum rela ya berpisah sama Aa Fian." Fian mengedipkan mata.
"Fian,lo kesambet di mana sih."
"Kesambet apaan coba. Gue masih waras. Bukannya sudah biasa kita becanda seperti ini. Lo aja yang mimpinya kelamaan."
"Fian.. hiks...hiks."
"Kok nangis. Salah ngomong gue ya. Maaf."
"Jangan aneh deh. Gue takut."
"Takut kenapa. Yang aneh bagian mana. Coba sebutkan."
"Memang gue mau kemana. Katanya tadi disuruh pulang. Kan sudah di usir tamu yang tidak tau diri ini. Lagian cuma mau pulang ke rumah.Lo tu yang aneh. Pakai nangis segala. Sejak kapan lo jadi cengeng."
Mata Fian berkaca-kaca. Tapi dia masih saja meledek Arin. Perasaan Fian hari ini memang terasa berbeda. Ada rasa tak rela untuk pulang. Dia begitu berat meninggalkan Arin malam ini. Fian menunduk. Dia tidak mau Arin melihat dia menangis. Tapi terlambat.
"Lo kenapa. Kok nangis."
"Siapa yang nangis. Kelilipan ini. Tadi nyamuk masuk mata."
"Mana ada nyamuk masuk mata. Lo kenapa sih, ga mau cerita ke gue."
"Arin sayang, gue tidak apa-apa. Beneran cuma kelilipan . Ga bohong. Kalau bohong dosa. Lagian gue cowok ya. Mana ada cowok cengeng."
" Alesan aja lo. Ya sudah kalau tidak mau mengaku. Eh nanti dulu. Sejak kapan panggilan lo ke gue berubah?"
"Berubah bagaimana? Nama lo masih Arin kan. Dari tadi gue juga manggil lo dengan sebutan Arin. Tidak berubah jadi juminten. Hahaha..."
"Itu tadi lo manggil gue apa."
"Arin."
"Tadi manggil sayang deh kayaknya."
" Bilang aja mau dipanggil sayang. Seneng ya dipanggil sayang. Hayo.. cie.. cie.." Fian mencolek-colek tangan Arin sambil mengedipkan mata. Fian memang sangat senang menggoda Arin.
Arin diam saja.Wajahnya terasa panas. Kalau mau jujur pasti Arin merasa senang. Namun dia telah berjanji sama dirinya sendiri, sebelum mamanya Fian merubah sikapnya, dia akan membuang jauh perasannya pada Fian.
"Senang ga ya." Arin pura-pura berpikir. Dia letakan telunjuknya di keningnya. Dia tersenyum."Senanglah, sesama teman kan boleh saling menyayangi, tapi sebagai teman dan sahabat ya. "
Fian tersenyum. Dia tahu maksud dari ucapan Arin. Fian memandang wajah Arin yang bersemu merah. Arin menjadi salah tingkah. Dia melihat ke arah lain.
"Iya gitu aja. Sebagai sahabat ya. Duh.. sakit hati Aa hanya dianggap sahabat. Hiks..hiks."
"Lebay lo. Pakai jurus air mata komodo segala. Pulang sono, udah malam. Nanti dicari mama." Arin mengalihkan pembicaraan. Lagian ini sudah malam. Dia tahu Fian pasti akan dimarahi mama nya.
"Iya gue pulang, Jangan rindu ya. kangen aja. Karena rindu hanya milik dilan. Tidak boleh dibagi-bagi katanya."
__ADS_1
"Kacau lo. Hahaha .... dasar pea."
Mereka berdua tertawa lagi. Kapan pulangnya kalau begini terus. Mereka berdua memang punya chemistry yang baik, jadi obrolan apapun akan jadi ramai buat mereka.
"Sekarang gue serius..."
"Sejak kapan..."
"Apanya..?"
"Keseriusan lo.. Gue sudah siap nih. Siap-siap menghindar. Hahaha... "
".Dasar Arin.." Fian menggelengkan kepala. Ada saja ucapannya yang membuat hatinya berbunga dan layu sekaligus. Tapi Fian bahagia melihat Arin sudah bisa becanda dan tertawa terbahak seperti ini. Fian menjadi gemas. Dia mencubit tangan Arin dengan kencang. Arin berteriak.
"Aaahh ... Fian sakit tau. Ikh jahat banget sekarang Sudah berani KDRT hiks..hiks..hiks." Arin pura-pura menangis.
"Lagian seneng banget memotong pembicaraan orang. Tapi biar lo selalu ingat. Kalau cubitan gue sangat sakit. Ini gue nginep aja kali. Udah malam juga." Fian pura-pura mau merebahkan tubuhnya di samping Arin.
"Eh.. mau ngapain lo. Enak aja mau tidur disini. Sempit tau. Dan bukan muhrim. Jauh-jauh dari gue." Arin mendorong tubuh Fian.
"Pelit banget sedikit aja kenapa sih. Ya udah sekarang gue serius mau pamit. Lo jaga kesehatan ya. Cepet sembuh. Makan teratur. Jangan suka begadang. Kalau lagi ga bisa tidur, ingat lagu kenangan kita. Jangan mikir yang aneh-aneh. Lo anak baik jangan dengerin apa kata orang. Jadilah diri sendiri..."
"Stop. Panjang banget pesan lo. Lo mau kemana. Cuma mau pulang pesannya seperti orang mau tawuran. Rombongan. Ya udah sono pulang. Hati-hati di jalan. Besok gue pulang. Gue tunggu di bawah jendela ya."
" Mau ngapain di bawah jendela.Hm.. ya sudahlah....Tidur sono. Tidur yang nyenyak ya sayang. Jangan pernah menangis untuk hal yang tidak penting. Air matamu sangat berharga."
Fian meraih tangan Arin dan menciumnya.
"Gue pulang, bye.. muaach."
"Dih apaan lo. Aneh dah. udah malam hati-hati bawa motornya."
Fian mengangguk. Dia berjalan keluar dengan langkah yang mantap. Di depan pintu Fian berhenti sebentar. Menoleh ke dalam. Dia melihat Arin juga sedang melihatnya. Sejenak mereka saling pandang. Dan Fian berlalu. Dia melangkah dengan pasti . pulang ke rumah orang tua nya. Ada setitik air mata jatuh. Dia sudah siap. Apapun yang terjadi siap tidak siap dia harus siap. Dia pulang dengan langkah gontai. Tapi hidup harus berjalan. Dia sudah siap untuk melangkah. Dia sudah mengambil keputusan.
Tapi ditengah jalan Fian berhenti. Dia ragu mau pulang atau tetep menunggu di sini. Mamanya telah memberinya ijin untuk menunggu Arin malam ini. Dia ingin menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Tadi dia sudah pamit masa mau kembali lagi. Malu ga ya kalau balik lagi. Fian punya malu ga ya..
🌸🌸🌸
Arin masih terjaga. Padahal waktu sangat malam bahkan sudah mendekati dini hari. Setelah Fian pulang, Arin malah tidak bisa tidur. Padahal tadi sudah berulang kali menguap. Tadi rasanya dia mengantuk sekali. Kenapa rasa kantuknya bisa hilang begitu saja. Mungkin karena tidak bisa tidur, kepalanya terasa sedikit pusing. Arin sudah berusaha memejamkan mata, namun hanya matanya saja yang terpejam namun tidak tidur.
Dia merasa hari ini Fian terlihat sangat aneh. Sikapnya dan perkataan nya juga. Kadang terlihat sangat gembira, namun sedetik kemudian terlihat bersedih. Dan juga nasehat-nasehat nya juga biasanya tidak serius seperti tadi. Tidak biasanya dia berkata begitu jika ingin pergi.
" Fian ada apa sebenarnya. Jangan begini. Apa yang lo sembunyikan dari gue. Gue tahu luar dalam tentang lo. Lo terlihat berbeda hari ini."
Setitik air mata jatuh dari mata Arin. Dia menghapusnya. Seharusnya dia tidak boleh seperti ini. Seharusnya dia merasa bahagia karena besok sudah diperbolehkan pulang. Seharusnya dia bisa menahan perasaannya.
"Tidak. Gue tidak boleh begini. Fian........"
Ingin rasanya Arin menjerit sekeras mungkin. Kenapa hanya kalimat yang biasa di ucapkan pengaruhnya begitu besar buatnya. Kenapa dengan dirinya.
"Gue tidak apa-apa. Gue harus bisa. Gue harus sehat. Besok gue harus pulang." Ucap Arin menyemangati dirinya sendiri.
Besok saatnya dia kembali ke kehidupan nyata. Dia harus sanggup menghadapi semua cobaan yang akan datang kembali. Dia harus sanggup melewati semua rintangan. Jalan terjal pasti akan menunggu di depan.
Dunia mimpinya telah usai. Saatnya dia mengejar semua impiannya. Dia harus meraih cita-citanya. Ini baru setengah jalan. Kuliahnya baru di tahun ke tiga. Dua tahun lagi dia baru selesai.
Arin masih saja terus berpikir apa maksud ucapan Fian. Arin tidak mengerti kenapa kali ini pesan Fian begitu banyak.
"Semoga bukan firasat yang buruk."
Air mata Arin menetes semakin deras. Dia merasa sakit dengan ucapan Fian. Padahal tidak ada kata yang salah dan kasar dalam semua perkataan Fian. Semua wajar sebagai teman yang mendoakan temannya. Hanya itu yang berputar- putar di otak Arin.
Mata Arin masih saja tidak mau terpejam. Dia masih saja tidak bisa tidur. Berdoa sudah. bernyanyi sudah. Apalagi yang belum dia lakukan.
Arin melihat sekeliling. Dia ingat bunda. Arin berpikir.
"Kira- kira tadi bunda mendengar semua candaan gue sama Fian ga ya.Tadi kan tawa gue kenceng banget. Duh jadi ga enak sama bunda. Semoga tidur bunda pulas."
Arin masih melihat ke arah bunda. Dia merasa kasian sama bunda yang selama seminggu ini ikut tidur di rumah sakit.
Tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk Arin diam saja. Dia pura-pura tidur. Kemudian terdengar suara pintu di ketuk lagi. Arin jadi merinding. Orang atau bukan yang mengetuk pintu. Sejenak berhenti tidak ada suara. Sepi sekali. Namun tiba-tiba terdengar suara pintu di buka dari luar. Arin masih memejamkan mata.
Kira-kira Siapa ya yang malam- malam masuk ke kamar Arin. Kira- kira orang Atau...
Merinding bulu kudukku.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komen.
Terima kasih❤️❤️❤️❤️❤️