Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 83


__ADS_3

Sepulang dari rumah Arin, Bara berjanji bertemu dengan Bram dan juga Bima. Mereka berjanji bertemu di depan rumah sakit pukul empat sore. Bara sudah rapi Sudah siap berangkat. Perjalanan ditempuh selama tiga puluh menit. Sekarang baru jam tiga lebih lima belas. Pas waktunya jika tidak ditambah macet.


Dengan kecepatan sedang Bara melajukan mobilnya Dia menyalakan tape mobil. Menyetel lagu dari Jamrud yang berjudul pelangi di matamu. Lagu kesukaan nya. Pas dengan kondisi dirinya yang memang selalu tidak berkutik dihadapan wanita yang di sukainya.


Tiga puluh menit kita disini tanpa suara. Dan aku resah harus menunggu lama kata darimu. Mungkin butuh kursus merangkai kata untuk bicara. Dan aku benci harus jujur padamu. Tentang semua ini


Bara ikut melantunkan lagu tersebut mengikuti suara dari tape mobil. Dia seperti menghayati lagu tersebut. Tapi pandangannya tetap fokus ke depan. Melihat arus lalu lintas yang padat namun tetap lancar.


Tepat tiba di perempatan lampu menyala merah dan Bara menghentikan mobilnya. Bara menoleh ke sisi kirinya.Dia melihat sepasang muda-mudi berboncengan motor. Sang cewek memeluk erat pinggang sang cowok. Bara hanya melihat sekilas. Namun dia berpaling lagi. Dia seperti mengenali warna baju yang dipakai sang cewek.


"Bukannya itu baju.. Eh .. baju yang sama yang dipakai Arin tadi.".


Bara semakin menajamkan penglihatannya. Namun sayang. Lampu sudah menyala hijau. Motor tersebut melaju kencang didepannya. Bara juga melajukan mobilnya. Di belakangnya bunyi klakson terdengar bersahutan. Dia mengikuti motor tersebut. Namun naas. Di lampu merah berikutnya dia terjebak lampu yang keburu menyala merah. Sedangkan motor tersebut sudah melaju kencang di depannya.


Akhirnya Bara hanya bisa menyerah. Dia menjalankan mobilnya kembali dengan santai. Karena dia memang tidak terburu-buru.


"Eh .. apa yang gue lakukan. Kenapa jadi kepo seperti ini.. hehehe. Ada-ada aja."


Bara menggelengkan kepala. Merasa bingung dengan tingkahnya sendiri. Jatuh cinta membuatnya melakukan hal yang tak biasanya. Bara terus saja tersenyum. Dia mengingat kejadian tadi. Belum tentu juga itu Arin. Banyak baju yang sama di dunia ini.


Tak terasa perjalanan telah sampai. Dia sudah sampai di depan rumah sakit tempatnya dinas. Tidak tau kenapa mereka selalu bertemu di sini.


Bara memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Di dekat tenda penjual makanan. Memang di depan rumah sakit ini banyak penjual makanan membuka lapaknya. Tempatnya memang sangat strategis.


Ternyata Bram dan Bima belum datang. Bara masih belum turun. Dia mengambil ponselnya. Baru saja dia akan menyalakan ponselnya, di depannya lewat motor yang dia kenali. Bara mengikuti kemana arah motor itu berjalan. Ternyata berhenti di depan tenda bakso. Bara masih memandangnya. Dia seperti mengenali pemiliknya. Dan ternyata dugaannya benar. Setelah kedua orang yang mengendarai membuka helm yang mereka pakai.


"Arin dan Fian. Pasti mau makan bakso."


Pandangan Bara masih melihat ke arah mereka. Dadanya berdenyut. Ada rasa kecewa hadir di dalam hatinya. Melihat mereka begitu mesra berboncengan tadi.


"Lalu .. apa maksud Fian menitipkan Arin pada gue ya."


Bara bermonolog sendiri. Dia masih belum memahami sikap Fian. Bara melihat kedua orang tersebut memasuki tenda bakso dengan bergandengan tangan.


"Masihkah gue punya harapan. Mereka begitu serasi dan terlihat saling mencintai. Apakah gue bisa masuk ke dalam kehidupan Arin selanjutnya."


Bara memejamkan mata. Pikirannya sedikit kacau. Dia mulai tidak percaya diri. Bagaimana tidak. Melihat kemesraan yang mereka tunjukkan, Apakah bisa dia merebut hati Arin dari Fian.


"Tok.. tok..tok."


Bara terkejut. Kaca mobilnya diketuk dari samping. Ada yang datang rupanya. Bara menoleh. Ternyata disamping mobilnya sudah berdiri Bram dan Bima. Bara membuka kaca mobil.


"Sudah lama menunggu ya.." Tanya Bara yang melihat Bram berdiri tepat disamping pintu mobil .


"Cepat turun. Lo lihat apa. Jangan bilang lo melihat Fian dan Arin tadi. Lo cemburu ya." Bima menggoda Bara yang mukanya terlihat murung.


"Apaan sih bro.. Gue cuma tertidur sebentar. Habisnya kalian berdua lama." Bara mencoba menutupi perasaan yang sebenarnya. Tidak mungkin kan dia mengakui yang sebenarnya dia rasakan.


Bara menaikkan kaca mobil dan bergegas keluar. Dia tidak mau terlihat menyedihkan di hadapan teman- temannya. Walaupun dia tidak yakin kalau temannya tidak tau. Bram dan Bima pasti tau.


"Kita mau kemana sekarang."


Bara mengunci mobilnya. Lalu berjalan menyusul teman-temannya yang duduk di bangku taman yang ada di sana.


"Biasalah. Kemana lagi kalau bukan makan bakso." Jawab Bram sambil mengedipkan mata. Bima mengetahui tujuan Bram melakukan itu. Dia pun tertawa. Bara hanya terdiam. Apakah dia sanggup nanti bila melihat kemesraan Arin dan Fian di dalam.


"Ga ada pilihan lain kah?"


"Kenapa hm.."


"Tidak apa-apa. Apa tidak bosan makan bakso terus. Ganti menu yang lainlah sekali-sekali."


"Lo bagaimana sih. Kan memang tujuan kita kesini dari pertama mau makan bakso."


Bara hanya bisa mengambil nafas panjang. Dia tidak tau bagaimana jadinya kalau nanti di dalam dia melihat Arin dan Fian. Dia masih shock melihat kemesraan mereka tadi.


"Ayolah kita ganti menu saja. Di sana juga ada menu soto daging yang enak."


"Lo kenapa sih Bar. Tidak biasanya lo begini. Biasanya lo paling semangat kalau kita ajak makan bakso di sini."


"Tidak ada apa-apa. Hanya ingin berganti menu saja."

__ADS_1


Bram dan Bima saling pandang. Sebenarnya mereka juga tidak tega. Tapi mau bagaimana lagi. Mereka berdua sudah menyempatkan dari jauh-jauh hari. Masa tidak jadi menikmati bakso di sini. Padahal dari tadi mereka berdua sudah membayangkan betapa lezat dan nikmatnya rasa bakso di sini.


"Sudahlah hadapi saja. Gue tahu di dalam ada Fian dan Arin kan. Makanya lo ga mau masuk."


Bara memandang Bram. Bara tidak menjawab. Dia hanya menarik nafas panjang.


"Ya sudahlah ini sudah resiko yang harus gue tanggung.Yuklah masuk. Gue sudah siap."


Bara mendahului Kedua temannya. Dia sudah bertekad apapun yang dia lihat dia bisa menahan semuanya.


Akhirnya mereka bertiga masuk ke dalam tenda dan memesan bakso sesuai selera. Mereka melihat sekeliling untuk mencari tempat duduk yang kosong. Pandangan mereka bertiga sama-sama menuju di pojok ruangan. Di sana terlihat sepasang muda-mudi sedang asyik menikmati bakso. Dan hanya di meja itu terdapat bangku kosong. Bara ragu mau melangkah. Namun kedua temannya sudah mendahului berjalan ke arah meja tersebut. Mau tidak mau Bara akhirnya mengikuti juga.


Bara tertegun. Ternyata yang sepasang muda-mudi itu adalah Fian dan Arin. Bara terdiam sebentar sebelum duduk di kursi yang kosong.


"Permisi... Maaf bolehkah kita duduk di sini?" Bram menggeser kursi.


"Eh abang .."


"Lho kalian di sini juga." Bima pura-pura terkejut melihat pasangan tersebut. Sebenarnya dia sudah melihat mereka sejak tadi.


"Halo Fian , Arin. kita bertemu lagi di sini." Sapa Bram.


"Hai.. kalian makan bakso juga di sini." Bara menarik kursi dan duduk di sebelah Arin.


"Kalian dari mana. Jadi pergi tadi." Sambung Bara. Bukan Bara ingin tau tapi hanya ingin tidak terlihat kaku. Namun di mata Bram dan Bima, tau kalau Bara terlihat cemburu.


Bram dan Bima saling pandang.


"Tadi kita nonton Film Aa. Tau tu Fian padahal dia tau kalau gue penakut. Gue kan takut hantu. Masa di ajak nonton film horor."


Arin memukul Fian dengan sendoknya. Fian hanya tertawa.


"Masa sih penakut. Yang sering nongkrong di bawah pohon jambu tengah malam siapa."


"Eh.. bukan gue ya. Gue ga pernah keluar tengah malam. Fian beneran lo melihat ada yang duduk di bangku."


Arin mendekatkan tubuhnya ke Fian. Sambil berbisik.


"Apaan sih lo. Orang jelas-jelas itu elo. Pas gue mau deketin lo bangun dan masuk rumah."


"Uhuk.. uhuk."


Bara tersedak kuah bakso yang pedas. Arin menoleh. Dia segera memberikan minum pada Bara.


"Aa hati-hati kalau makan. Itu kan pedas. Sakit pasti kan itu hidung dan dada."


"Uhuk... uhuk." Bara malah semakin tersedak menerima perlakuan dari Arin. Dia tidak menyangka kalau Arin punya perhatian padanya. Hidungnya berasa sakit dan dadanya juga.


"Belum selesai ngomong. udah tersedak lagi. Aa ikh.. di bilang hati-hati. Ga ada yang minta juga."


Arin membantu Bara. Dia memberi minum dan mengambilkan tissue buat Bara. Semua orang hanya diam memperhatikan. Begitu juga dengan Fian. Dia tersenyum menyaksikan itu semua. Dia yakin dengan pilihannya . Yakin memilih Bara untuk menjaga Arin. Arin terlihat peduli pada Bara. Bisa jadi dia sudah ada perasaan ke Bara.


"Ekhm.. ekhm.."


Bram terbatuk yang di buat-buat. Sengaja ingin menggoda Bara.


"Dengerin tuh kata Arin. Ga ada yang minta. Makan jangan buru-buru. Iya kan Rin.." Bram mengikuti perkataan Arin.


"Eh..."


Arin jadi salah tingkah. Dia menyudahi membantu Bara dan kembali memakan baksonya yang tinggal sedikit.


"Udah habis.. ayo pulang Fian . Udah kenyang. Lagian ini sudah sore juga." Ucap Arin. Dia bangun dari duduknya. Dan menarik Fian. Arin merasa malu atas tindakannya tadi. Tadi memang dia hanya spontan saja. Hanya ingin membantu Bara.


"Eh kalian tidak menunggu kami." Bram berusaha mencegah Arin dan Fian pergi.


"Maaf bang , Arin nya sudah kabur duluan. Pamit abang semua kita duluan ya. Kita udah dari tadi juga di sini."


"Iya Fian.. jagain Arin ya. Bawa pulang. Jangan ada yang lecet. Hehehe.." Bram berkata sedikit keras. Tapi pandangannya ke arah Bara.


"Iya bang .. beres." Jawab Fian sambil mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


"Kalian kenapa sih. Kenapa melihat ke arah gue begitu." Bara berkata sambil memandang kedua temannya bergantian. Dia tau maksud dari ucapan Bram tadi.


"Tidak apa-apa kok. Lo memang mikirnya apa. Kan benar ucapan gue. Iya kan Bim.."


"Hahaha..benar sekali. " Mulut Bima masih penuh bakso. Namun menjawab juga perkataan Bram.


"Telen dulu. Kalau lo yang tersedak ga ada yang menolong." Balas Bram lagi.


Bara cuma mencibir perkataan temannya itu. Merdeka berdua memang selalu mengolok-oloknya. Dan selalu begitu. Bara tidak pernah mengambil hati perkataan temannya. Karena dia tahu kedua temannya itu hanya bergurau.


Tak terasa bakso di mangkok mereka sudah habis. Minumannya pun juga sudah habis. Tapi mereka masih asyik berbincang. Banyak hal yang mereka obrolkan. Dari masalah kerjaan sampai pacar.


Bara hanya bisa menyimak kalau sudah berbincang dengan pacar. Karena hanya dia sendiri yang belum punya pacar. Dia selalu merasa tidak nyaman bila sudah membahas hal tersebut. Di usianya yang sudah menginjak dua puluh Tujuh dia sama sekali belum pernah mempunyai teman dekat seorang wanita. Waktunya hanya dihabiskan buat belajar dan belajar. Apalagi sekarang dia menjadi dokter yang sangat di andalkan. Sudah tentu waktunya habis buat mengabdi di dalam pekerjaannya.


🌸🌸🌸


Sementara Fian dan Arin sudah sampai di depan rumah Arin. Fian tidak langsung pulang.Memang rencananya dia akan berpamitan sama ayah dan bunda. Namun tidak langsung bicara kalau dia mau pergi jauh. Dia tidak akan berterus terang tentunya.


"Mampir dulu ya gue sebentar. Boleh kan. Lo sekarang berat. Tambah gemuk kayaknya. Capek gue."


"Enak aja.. berat badan gue masih sama ya. Alasan lo aja. Bilang kalau memang belum mau berpisah sama gue.."


"Dihh ... Ga ada ya begituan. Memang lo berat sekarang. Mungkin berat karena menanggung kerinduan. Hahaha..."


"Dihh....dasar orang ga jelas. Gue masuk dulu ya. Mau mengambil minum. Kita duduk di bawah pohon jambu aja ya."


"Ok sip.. mau minum yang berwarna ya. bosen yang putih terus."


"Tenang aja. Ada tu di belakang. Air berwarna hitam. Comberan. Hahaha.."


"Eh.. tega banget sama gue. Tapi kalau lo mau menemani minum, gue maulah. Dengan ikhlas gue lakuin.."


"Pe a lo.. Ogah gue. Gue masuk dulu."


Arin berjalan memasuki rumah. Dia menuju kamarnya, menaruh tas dan mengganti sepatunya. Dia ke kamar mandi sekedar mencuci muka biar keliatan lebih segar pikirnya. Lalu keluar lagi dengan membawa sebotol besar jus mangga dan dua buah gelas. Tak lupa cemilan yang di atas meja dia sambar juga.


"Nih minum dulu. Haus kan.."


"Iya terima kasih.."


Fian membantu Arin meletakkan semua yang Arin bawa di atas balai bambu yang ada di bawah pohon jambu yang teduh.


Suasana sore itu sangat lengang. Rumah Arin terlihat sepi. Tidak tampak kehidupan. Sepertinya mereka tidak ada di rumah.


"Rumah sepi, Ayah dan bunda kemana."


"Kondangan.. Tadi siang udah bilang kalau nanti selepas ashar mau kondangan. Rama lagi bersih-bersih kamarnya. Kak Nia ke rumah temannya."


"Oh.. Gue minum ya haus.."


"Minum aja. Kan sudah disediain. Biasanya ga pernah ijin langsung ambil aja."


"Dihh.. lo sama gue gitu amat sih kalau jawab."


"Habisnya lo tidak seperti biasanya sih.."


"Iya deh.."


Fian menuang jus ke dalam dua gelas yang ada. Satu dia sodorkan pada Arin. Satu lagi dia minum sendiri. Dia memang haus. Apalagi suasana sore itu yang panas.


Arin menerima gelas yang disodorkan Fian. Namun dia tidak langsung minum. Arin memandangi gelas tersebut. Pikirannya sedikit berkelana pada kejadian tadi di warung bakso. Bisa-bisanya dia memperlakukan Bara seperti itu. Muka Arin sedikit memerah.


Dan Fian melihat itu. Hatinya sedikit berdenyut. Namun dia tersenyum juga. Dia tidak mau terlihat sedih di depan Arin.


"Kok tidak di minum. Nanti ga dingin lagi. Jadi kurang segar."


Arin menoleh. Dia mengambil nafas panjang dulu.Dan kemudian meminum jus mangga itu.


"Masih seperti anak kecil. Minum masih belepotan."


Fian mendekati Arin. Arin terkejut. Fian semakin mendekati Arin.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan like dan komen Terima Kasih untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2