
Semoga selalu sehat
Hari mulai larut. Suasana sudah sepi. Jam dinding berdentang sepuluh kali. Pertanda waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Lampu sebagian rumah di komplek sudah banyak yang padam. Hanya tinggal sebagian kecil saja yang masih menyala. Pasti mereka sudah nyenyak dalam tidurnya. Mereka sudah menikmati mimpi indahnya.
Di sebuah rumah mewah, sepasang suami istri masih terjaga. Mereka berdua masih terlibat percakapan yang serius.
"Pa, Kita harus bagaimana? Mereka marah pada kita."
"Itu salah mama. Kenapa harus mengungkit kisah lama. Mama kan tahu, Kalau karena kejadian itu banyak orang yang ikut terluka. Terutama Yanto."
"Maafkan Mama, pa. Terus kita harus bagaimana? Anak kita pa. Anak kita masih di penjara."
"Itu sudah resiko karena dia telah berbuat jahat. Ya harus ditanggung sendiri. Korban dan pelaku sama-sama terkena beban mental. Impas kan?"
"Pa, Tapi anak kita pa."
"Papa sudah tidak mau berpikir lagi. Semuanya sudah papa serahkan kepada pengacara. Masih banyak urusan papa yang lebih penting."
"Maksud papa anak kita tidak penting begitu. Papa tega ya. Dengan susah payah kita mendapatkannya. Masa mau membuangnya begitu saja."
"Ini yang salah. Kemarin mama bilang sudah ikhlas menerima semuanya karena memang sudah menjadi resiko karena perbuatannya sendiri. Kenapa sekarang lain. Mau mama apa sebenarnya."
"Pa.. tidak bisakah papa membujuk yanto? Papa kasih duit atau pekerjaan mungkin."
"Apa mama lupa siapa yanto. Orang paling keras kepala. Mana mau dia menerima itu semua. Papa sudah merasa bersalah karena kejadian yang lalu ma. Ditambah lagi sekarang anak kita juga melakukan kesalahan pada anaknya. Mau ditaruh di mana muka papa. Sudah berkali-kali kita menyakiti hati keluarga yanto."
Mia terdiam. Benar apa kata suaminya. Dulu Santoso telah memfitnah Yanto sampai dia dipecat dari pekerjaannya. Dan sekarang Omed melukai anaknya. Penderitaan Yanto sudah lengkap.
"Iya juga si Pa. Maafkan Mama,Pa."
"Bahkan dengan kita membayar biaya rumah sakit Arin pun itu belum cukup untuk membayar semua yang kita lakukan ke dia.Mama jangan egois. Papa tidak mau menyakiti hati Yanto lagi. Papa malu kalau harus menemui dia lagi."
"Baiklah Pa.. Mama mengerti."
"Kita tidur Ma. Biarlah Omed menjalani hukumannya sesuai dengan perbuatannya. Biar dia jadi dewasa pemikirannya. Biarlah ini menjadi pelajaran berharga buat dia."
"Iya pa.. sudah larut Malam . Ayo Kita tidur."
"Iya Ma... sini papa peluk. Mama jangan berkecil hati. Kita hadapi semua ini sama-sama."
Mama diam. Dia sudah tidak bisa menjawab lagi perkataan suaminya. Dia tidak tau lagi harus bagaimana. Benar kata Santoso. Kesalahannya terlalu banyak pada keluarga Yanto. Apa masih Harus meminta Yanto untuk menarik tuntutannya pada Omed. Terlihat jahat sekali mereka.
Mia tetap tidak bisa tidur. Pikirannya melayang jauh pada kejadian dua puluh tahun lalu. Dia dengan ambisinya ingin naik jabatan. Dengan teganya mengorbankan sahabatnya sendiri. Mungkin ini hukuman dari Tuhan buat semua dosa dan kesalahannya di masa lalu. Mia merasa sangat bersalah. Baru sekarang dia menyadari semua itu. Di kala anaknya mendapatkan kesulitan. Di saat anaknya membutuhkan pertolongan dan hanya Yanto orang yang telah dia sakiti yang bisa menolongnya. Mia merasa malu sekaligus merasa tidak berdosa. Mia terus saja berpikir sampai dia tertidur dengan pemikiran yang sangat berat.
🌸🌸🌸
"Fian udah dong. Lo masih sakit. Makan tahunya ga usah pakai cabe."
"Ga enak bang. Abang diem aja. Jangan ngadu sama dokter."
"Fian, kalau dibilangin jangan membantah dong. Badan kamu aja masih panas. Makan jangan sembarangan. jangan seperti anak kecil apa."
"Iya deh iya. Nih tahunya aku kembalikan."
"Dasar kalian berdua ga ada yang benar." Toni menyela perdebatan antara Fian dan Andra. Memang walaupun sudah dewasa namun mereka berdua sering memperdebatkan sesuatu yang tidak penting.
"Apa Lo. Ini urusan sudah penting. Bukannya bantuin. Malah cuma komen doang."
"Hilih .. penting apaan. Sok banget sih lo. Tapi biarin aja. Kalau sakit dia rasakan sendiri."
"Benar juga. Sakit dia sendiri yang ngrasain. Biarin pengen lama di rumah sakit."
"Kalian parah ya. Jahat kalian. Tega banget doanya kok begitu."
"Salah lo sendiri. Udah tau sakit. Malah makan yang aneh-aneh."
"Iya deh. Nih buat kalian aja. Gue udah."
__ADS_1
Fian menyerahkan plastik berisi tahu bulet dan cimol. sebenarnya dia masih mau. Tapi mau bagaimana lagi. Dia lagi sakit ga boleh makan yang pedes- pedes .
"Dari tadi dong. Gue kan pengen. Mau comot ga tega sama yang sakit."
"Gaya lo Ton... Biasanya main rebut aja. Sok alim lo."
Jawab mereka bertiga bersamaan. Andra dan Irwan langsung menyerbu Toni dengan menggelitik pinggangnya. Toni kegelian. Dia berteriak minta ampun.
"Ampun... sudah... sudah.. menyerah gue. Jangan.. Jangan." Andra dan Irwan masih saja menggelitik Toni. Padahal Toni sudah kewalahan. Air matanya keluar karena kegelian. Dia memang ?tidak tahan geli.
"Udah si bang, Kasian bang Toni itu. Lagian ini rumah sakit. Kalian berisik sekali."
"Iya juga Wan."
Andra dan Irwan berhenti menggelitik Toni. Dia sudah terlihat kepayahan. Keringat sudah membasahi muka dan rambutnya.
"Tega banget sama gue. Astaga gue pengen pipis." Toni berlari ke ke kamar mandi. Dia sudah tidak tahan menahan rasa ingin buang air kecil.
"Hahahaha...
Andra dan Irwan tertawa terbahak- bahak. Mereka berdua puas sekali bisa mengerjai Toni. Selalu begitu. Mereka selalu ada ide untuk membuat temannya tidak berkutik. Biasanya Toni yang paling usil. Yang lain selalu bisa dikerjai Toni. Dan sekarang Toni yang kena. Pasti puas bisa membalas.
Fian hanya bisa memandang mereka bertiga. Dia cuma bisa menyaksikan keceriaan mereka bertiga. Seru pastinya. Biasanya dia selalu ikut dengan drama tak jelas teman-teman abangnya itu. Tapi sekarang Fian hanya bisa melihat saja. Dia tidak bisa kemana-mana. Tangan di infus dan kepala juga masih terasa sakit.
Seandainya dia tidak mandi tadi pagi. Fian tidak akan sakit seperti ini. Tidak perlu di sesali. Semua sudah terjadi. Tak apa sekali-sekali tidur di penginapan.
"Bang, main remi nya deket sini dong. Gue mau ikut."
"Dasar bocah geblek. Lo lagi sakit. Harus istirahat. Malah mau ikut main remi." Toni mengomeli Fian. Tapi memang benar. Pasien itu butuh istirahat.
"Kalian mainnya seru banget sih. Kan gue jadi pengen." Fian masih merengek seperti anak kecil.
"Tidur sono. Lo itu pasien. Denger ga. Pasien. Dan pasien harus apa? Istirahat. Tidak usah aneh-aneh." Gantian Andra yang mengomel.
Sebenarnya dihati mereka tertawa. Seneng aja bisa membuat Fian jadi cemberut seperti itu.
Fian berusaha memejamkan mata. Sekarang sudah jam sebelas malam. Tapi dia masih belum bisa tidur. Abang dan kedua temannya malah asyik bermain remi. Berisik sekali. Seru sekali yang kalah dapat hukuman di pakaikan bedak pakai terigu.
Fian melirik mereka. Fian merasa serba salah. Sudah berganti-ganti posisi tapi tetap terasa tidak nyaman.
"Arin sedang apa ya. Mungkin sudah tidur. Sudah malam juga." Ucap Fian lirih. Sebenarnya dia ingin memberi kabar pada Arin. Namun takut malah Arin kepikiran. Fian merasa tidak tenang. Dia mengambil ponselnya. Dan menyalakannya. Fian sudah mengetik satu kalimat. Tapi di hapus. Kemudian nulis lagi tapi di hapus lagi. Begitu terus menerus.
"Nulis apa sih. Kepo gue."
Fian kaget. Tiba-tiba Andra sudah ada di samping tempat tidurnya.
"Apaan sih. Bikin kaget orang aja. Jantungan gue bang."
"Habisnya dari tadi gue lihat lo seperti melamun gitu. Lagi ngapain sih. Lagi mikirin Arin ya."
Fian memandang ke arah Andra. "Bang, jangan kasih tau Arin kalau gue sakit ya. Gue ga mau dia kepikiran. Kasian dia juga belum sembuh."
"Iya .. gue tau kok. Jangan khawatir. Bahkan Nando juga tidak tau kalau lo di sini."
"Eh iya.Gue sampai lupa sama itu bocah. Tiga hari ini gue ga ketemu dia."
"Nanti kalau dia nanya baru lo kasih tau. Tapi kalau tidak, kita diam saja. Tidak usah diberitahu."
"Iya bang."
"Sekarang lo tidur. Sudah malam. Badan lo bagaimana rasanya. Yang sakit yang mana sebenarnya. Yang lo rasakan apa?"
"Banyak banget nanya nya. Satu-satu dong bang. Terus gue harus jawab yang mana dulu."
"Terserah lo aja. Sudahlah sekarang tidur saja. Sudah tengah malam. Gue juga ngantuk. Lihat mereka berdua sudah pulas."
Andra meninggalkan Fian. Dia menuju sofa yang ada dan merebahkan tubuhnya. Dia merasa mengantuk juga. Tentu Andra merasa capek karena seharian ini dia sudah mengurus Fian. Sedangkan Toni dan Irwan sudah pulas. Mereka tidur di atas tikar yang sengaja mereka bawa Tadi. Walaupun di rumah sakit mereka berdua bisa tidur dengan pulas.
__ADS_1
Fian mencoba tidur. Namun tidak bisa juga. Mata memang terpejam. Namun dia tidak tidur. Akhirnya Fian mengambil ponselnya lagi. Fian membuka aplikasi WhatsApp. Dia buka kontak Arin. Ternyata terakhir terlihat dua menit yang lalu.
Fian ragu-ragu mau mengirim pesan. Dia sudah menulis satu kata. Tapi dia hapus lagi. Dia sebenarnya tidak ingin menggangu Arin. Namun Fian rindu.
Fian : Assalamu'alaikum
Dan Fian mengirim pesan itu. Fian menunggu pesan itu terkirim. Ternyata memang masuk dan centang dua. Fian menunggu. Tapi tak juga di baca. Fian menutup kembali ponselnya. Namun terdengar bunyi pesan masuk. Fian langsung membukanya. Ternyata pesan dari Arin yang masuk.
Arin : Wa'alaikumsalam Fian.
Fian senang sekali tentunya. Dia langsung membalas pesan itu.
Fian : Kok belum tidur.
Arin: Belum bisa tidur. Kamu sendiri kenapa belum tidur.
Fian : Sama ga bisa tidur.
Arin : Kenapa? Sudah tengah malam ini.
Fian: Kamu sendiri kenapa. Harusnya kamu istirahat. Biar cepet pulih.
Arin : Tadi sudah sempat tidur. Tapi kebangun.Ini baru mau tidur.
Fian : Baguslah. Tidur lagi sono.
Arin : Iya gue tidur nanti . Tapi gue mau nanya boleh?
Fian : Kenapa harus bilang. Biasanya langsung tanya aja.
Arin: Kemarin lo pulang jam berapa. ga pamit sama gue. Pas gue pulang lo sudah ga ada. Kan lo udah janji mau ngantar gue pulang.
Fian berpikir. Dia tidak langsung menjawab. Dia bingung mau menjawab apa. Haruskah dia jujur yang apa sebenarnya. Tapi Fian tidak mau menyakiti Arin. Fian diam sejenak. Lalu mengetikkan lagi balasan atas pertanyaan Arin.
Fian: Gue pulang tadi pagi. Ngantuk banget gue. Jadi tidak sempat ke rumah sakit buat jemput lo. Maaf ya.
Arin: Oh begitu. Tapi lo baik-baik saja kan.
Fian: Iya gue baik-baik saja. Jangan khawatir sayang.
Arin: Hm. Sudah berani ya sekarang.
Fian: Sejak kapan gue penakut. Ya udah tidur sono. Sudah malam. Cepat sembuh. Jaga kesehatan. Jangan suka begadang. Kalau rindu boleh kok. kirim pesan dulu. hehehe.
Arin: Ya udah gue tidur dulu. Lo juga tidur ya. Lo juga jaga kesehatan. jangan sampai sakit. Jangan lupa makan.
Fian : Iya.. bye. Assalamu'alaikum.
Arin : Wa'alaikumsalam
Fian menutup ponselnya. Dia senang sudah bisa berbalas pesan dengan Arin. Dia senang Arin baik-baik saja.Fian juga senang Arin mengkhawatirkan dirinya.
Fian meletakkan ponselnya di atas meja. Dia mencoba untuk memejamkan mata. Pikirannya sudah tenang kali ini. Lama kelamaan dia tertidur juga.
Sementara Arin juga merasa senang tentunya. Dari pagi dia menunggu kabar dari Fian. Fian yang berjanji mau menjemput nya dari rumah sakit tidak kunjung datang sampai sore. Untung ada Bara tadi. Sehingga Bara lah yang akhirnya mengantarkan Arin pulang.
Arin sudah merasa tenang. Kali ini Pikirannya sudah tidak memikirkan yang macam-macam lagi. Dia sudah mendengar kabar tentang Fian. Hatinya sudah tenang.
Arin merebahkan tubuhnya. Dia merasa lelah dan mengantuk juga. Luka di perutnya masih terasa sedikit ngilu. Tapi dia harus bersabar. Kesehatan dan kesembuhan butuh proses dan waktu. Karena sudah mengantuk dan memang lelah , Akhirnya Arin tertidur juga.
itulah hubungan persahabatan yang kental satu sama lain bisa merasakan kesakitan sahabatnya.
Semoga cepat sembuh Fian dan Arin. Biar bisa segera melanjutkan perjalanan hidup kalian yang masih panjang. Masih banyak cobaan dan rintangan yang menghadang di depan. Semoga kalian bisa melewati nya dengan ikhlas dan sabar.
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan like dan komen Terima kasih❤️❤️❤️❤️
__ADS_1