Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 102


__ADS_3

Fian masih ada di mushola. Dia masih khusyuk berdoa. Banyak doa yang dia panjatkan. Untuk sang mama dan papanya yang paling utama. Agar kedua orang tuanya segera di beri kesehatan. Dan juga agar orang tuanya segera di buka hatinya.


Tidak mengapa jika dia tidak direstui. Tapi dia tidak ingin kedua orang tuanya selalu memaki orang yang disayanginya.


Fian tak habis pikir, dia sudah menjauh dari Arin. Tapi mengapa masih saja kedua orang tuanya memaki Arin. Fian hanya ingin mereka berdamai dengan keluarga Arin, tidak lebih. Walaupun dia harus mengorbankan perasaannya. Dia tidak apa-apa.


Setelah sholat isya Fian melangkah keluar dari mushola. Tapi dia belum mau menemui orang tuanya. Fian hanya duduk di depan kamar rawat saja. Perutnya terasa lapar. Namun dia juga tak ingin makan.


Fian hanya duduk diam sambil melamun. Banyak yang dia pikirkan. Dia ingin segera menyudahi sengketa ini. Fian juga ingin pergi jauh membuang semua kenangan menyedihkan ini.


"Fian.."


"Eh..."


Fian terkejut ada sebuah tangan menepuk bahunya. Dia menoleh ternyata Andra sudah duduk di sampingnya.


"Masih memikirkan perkataan mama?"


Fian diam saja. Dia menghela nafas panjang. Tidak dipungkiri memang dia masih kepikiran ucapan sang mama tadi.


"Seharusnya Lo sudah terbiasa dengan ucapan mama. Bukankah mama sering berucap demikian? Tidak usah dipikirkan."


Fian masih diam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia masih merasa terluka. Hatinya merasa sangat perih.


"Gue tahu apa yang lo rasakan. Gue tahu semuanya."


Fian menoleh ke arah sang Abang. Dia tidak menanggapi perkataan Andra.


"Fian... menurut gue lepaskan saja Arin. Pasti ini berat buat Lo. Tapi gue pikir ini yang terbaik buat semua."


Fian masih diam. Dia masih ingin mendengar kelanjutan perkataan Andra. Mungkin ada solusi terbaik yang akan Andra utarakan.


"Sekarang Lo pikir saja. Mama begitu benci sama Arin. Apa mungkin mereka bisa di satukan. Lo ga kasihan juga sama Arin. Tiap hari di maki sama mama."


"Bang.."


Andra menoleh. Dia memandang iba pada Fian. Dia sangat tidak tega dengan nasib yang di alami Fian. Sungguh kalau bisa Andra juga ingin membantu Fian. Namun apa daya melihat kebencian yang begitu besar dari kedua orang tuanya, Andra merasa pesimis akan berhasil membujuk mereka.


"Kenapa?"


"Apa perlu gue bicara jujur sama Arin ya. Tapi gue tidak tega. Kemarin gue pergi tidak bilang sama sekali pada Arin."


Andra diam. Dia sangat tahu apa yang Fian rasakan. Dia tahu sekali apa yang sebenarnya terjadi.


"Gue yakin Arin sudah mengetahui semuanya."


Andra menerawang. Dia ingat pernah melihat Arin duduk termenung sendirian di pinggir sungai. Saat itu dia mendengar sang mama sedang mengomel memarahi Fian. Dia memaki Arin dan keluarganya. Andra sendiri bingung setahu dia Arin tidak ada hubungannya dengan kejadian tersebut. Namun masih saja dihubungkan. Andra yakin Arin mendengar semua yang sang mama katakan.


Waktu itu Andra melihat Arin berjalan cepat melintasi rumahnya. Dia berjalan seperti berlari menuju sungai. Andra mengikutinya. Dan di pinggir sungai di atas batu besar dia melihat Arin sedang menangis. Andra tidak tau harus bagaimana. Dia merasa sangat bersalah atas perbuatan mama nya.


Kejadian itu tidak hanya sekali. Sering Andra melihat Arin mendengar sang mama sedang memaki keluarga Arin. Sudah berulang kali Andra mencoba mengingatkan sang mama, namun malah umpatan dan makian semakin membuat telinga sakit. Makanya Andra memilih diam. Dari pada kata-kata yang keluar semakin membuat sakit hati.


Andra dan Fian hanya bisa berdoa semoga semua segera bisa di ungkapkan. Ada kejadian apa yang membuat kebencian keluarganya begitu besar pada keluarga Arin.


"Iya bang.. Makanya gue pergi jauh. Gue tidak tega jika mendengar mama memaki Arin."


"Siapa Arin.."


Andra dan Fian terkejut. Tiba-tiba terdengar suara Adam. Mereka berdua menoleh. Ternyata benar di depan mereka Adam berdiri dengan tenang.


"Om.. kapan datang." Tanya Andra sambil menjabat tangan Adam. Diikuti oleh Fian.


"Baru saja. Bagaimana keadaan mama dan papa kamu."


"Mama sudah sadar. Sekarang sedang istirahat. Kata dokter tidak boleh di ajak bicara dahulu. Kalau papa belum bangun."


Andra menjawab pertanyaan Adam. Sedangkan Fian hanya duduk menyandarkan kepala.


"Alhamdulillah kalau begitu. Semoga papamu segera menyusul ya. Om masuk dulu ya. Om pengen melihat keadaan mereka."


"Iya Om. Silahkan."


Adam masuk ke dalam ruang perawatan. Dia melihat Maria masih tidur. Kemudian dia menuju bangkar Sutejo. Dia melihat tangan Sutejo bergerak. Adam mendekat.


"Kak.. kamu sudah bangun?"


Perlahan-lahan mata Sutejo terbuka. Sutejo melihat sekeliling.


"Di mana.. aku di mana..?"


"Kak.. Kamu di rumah sakit."


"Haus... air.. air."


Adam mengambil gelas berisi air yang selalu tersedia di meja. Kemudian dengan perlahan membantu Sutejo untuk meminum air tersebut.


"Aku panggil dokter dulu ya."


Adam menekan tombol panggil.


"Di mana Maria.. Bagaimana keadaannya?"


"Kak Maria sedang istirahat. Keadaannya sudah membaik. Kakak tidak perlu khawatir."

__ADS_1


Tidak lama kemudian seorang dokter dan seorang suster masuk. Diikuti oleh Fian dan Andra.


"Papa kenapa. apa yang terjadi dengan papa."


Andra terlihat panik. Begitu juga dengan Fian. Saat tadi melihat dokter memasuki ruangan dengan tergesa, mereka berpikir telah terjadi sesuatu dengan orang tuanya.


"Silahkan kalian berdiri agak jauh. Biar pasien saya periksa terlebih dahulu."


Sang dokter memeriksa keadaan Sutejo secara menyeluruh. Tidak butuh waktu lama ternyata. Karena memang keadaannya tidak terlalu parah. Cuma luka luar saja yang terlihat sedikit parah. Tangannya terkena pecahan kaca. Dan sudah diobati. Tinggal pemulihan saja.


"Semua baik-baik saja. Tapi tuan masih harus banyak istirahat. Biar pemulihan berjalan dengan sempurna. Jangan terlalu banyak di ajak bicara dulu."


"Baik Dok."


Andra, Fian dan Adam menjawab bersamaan. Mereka mendekat kembali ke tempat tidur.


"Kalau begitu saya permisi dulu. Jika ada sesuatu panggil saja kita."


"Baik Dok DNA terima kasih."


Sang dokter dan perawat meninggalkan ruangan. Andra mendekati sang papa. Begitu pula Adam dan juga Fian.


"Bagaimana keadaannya Pa?"


"Pa tidak apa-apa." Jawab Sutejo. Pandangan nya beralih ke arah Adam dan Fian.


"Kalian datang juga."


"Pa.. kenapa bisa kecelakaan?" Fian mendekati Sutejo dan mengusap lengan sang papa.


"Entahlah Nak. Kejadiannya begitu cepat. Tahu-tahu sudah terjadi benturan."


"Papa cepat sembuh ya.."


Sutejo mengangguk. Ada perasaan sedih melihat Fian. Kejadian kecelakaan itu sedikit banyak membuat Sutejo berpikir.


"Mas, semoga lekas membaik." Adam mendekat dan mengusap lengan Sutejo di sisi sebaliknya dengan dengan Fian.


"Lama kita tidak berjumpa. Kenapa kemari." Tatap Sutejo kepada Adam. Ada rasa gelisah terlihat di raut muka Sutejo saat melihat Adam.


"Iya Mas. Sudah lima belas tahun kita tidak bertemu."


Adam memandang Sutejo dengan prihatin. Seandainya dulu dia tidak diusir. Sekarang pasti dia bisa selalu mendampingi sang kakak.


Fian dan Andra hanya menyimak. Mereka berdua memandang interaksi sang papa dan Adam dengan seksama. Mereka berdua berharap ada kalimat yang diucapkan oleh kedua orang tua itu yang bisa membuka tabir misteri kejadian dua puluh tahun lalu.


Namun sepertinya itu tidak akan terjadi. Karena terlihat kedua orang itu hanya bercakap sewajarnya saja.


"Andra, Bagaimana keadaan mama."


"Eh.. Mama ya. Mama masih tidur. Dia sudah sadar kok Pa. Mungkin sebentar lagi bangun. Sudah tidur agak lama juga." Jawab Andra.


"Alhamdulillah.. Luka mama bagaimana. Tolong Papa mau melihat mamamu."


Sutejo bangun dari tidurnya. Dia menurunkan kedua kakinya.


"Mama di rawat satu kamar kok. Itu di ranjang sebelah sana."


Andra menunjuk ke arah ranjang mama. Papa terlihat bernafas lega.


"Bantu papa. Papa ingin melihat mama."


Fian mengambil kursi roda yang tadi di pakai Maria. Kemudian mendekati Sutejo dan membantunya duduk di kursi roda tersebut dan mendorongnya mendekati ranjang Maria. Andra dan Adam mengikuti dari belakang.


"Ma.."


Maria membuka matanya. Dia menoleh ke arah Sutejo.


"Pa.. Alhamdulillah papa sudah bangun. Mama menunggu papa dari tadi. Hiks.. hiks.."


"Jangan menangis ma.. Papa baik-baik saja. Keadaan Mama bagaimana. Mana yang sakit. Maafkan papa yang tidak hati-hati."


"Ini bukan salah papa. Kita memang harus mengalami ini."


Papa dan mama saling berpelukan. Mereka berdua merasa senang keadaan mereka berdua baik-baik saja. Tiba-tiba Maria terdiam. Maria melepaskan pelukan nya pada Sutejo. Pandangannya terpaku melihat ke arah Adam. Dia memandang tidak percaya. Adik kandungnya ada di sana. Adik yang telah lama dia cari. Adik yang telah terpisah beberapa puluh tahun.


"Benar kamu Adam. Adam adikku.. benarkah..?"


Adam diam terpaku. Ada rasa takut melihat Maria. Dengan sedikit ragu dia mendekati Maria.


"Kakak.. Iya kak ini aku." Ucap Adam terbata.


"Apa kamu tidak rindu sama kakakmu ini?"


Adam mendekati Maria dan memeluknya erat. Maria sangat merindukan adik semata wayangnya itu. Sudah lama mereka tidak berjumpa. Mereka berpelukan cukup lama.


Sutejo memandang mereka dengan penuh rasa gelisah. Ada sesuatu yang bergolak dalam hatinya. Dia sedikit menyingkir melihat interaksi dua kakak beradik yang memang sudah lama tidak berjumpa karena ulahnya.


Begitu juga dengan Andra dan Fian. Merasa berdua hanya menyimak. Mereka berdua hanya memperhatikan saja. Fian menatap sang papa dengan penuh tanda tanya di otaknya. Pasalnya ruangan ini ber AC. Namun dia melihat sang papa berkeringat.


"Pa.. ini Adam Pa. Dia sudah ketemu. Dia sudah datang." Maria menatap suaminya dengan perasaan gembira.


"Iya Ma .." jawab Sutejo pendek

__ADS_1


"Kecelakaan kita membawa berkah Pa.."


"Iya ma.."


Maria menatap Fian dan Andra. Maria memanggil mereka berdua untuk mendekat.


"Nak.. Ini Om Adam . Ini Om kamu. Adik Mama."


Fian dan Andra mengangguk mendengar ucapan sang mama. Maria memang terlihat sangat gembira bisa bertemu Adam.


"Kalian berdua sudah kenal sama Om Adam."


"Sudah ma.." Jawab Fian dan Andra pendek.


Maria tersenyum. Wajahnya terlihat sangat ceria.


Lain lagi dengan Sutejo. Sutejo terlihat semakin gelisah. Dia merasa semuanya akan terbongkar sekarang. Namun dia berharap Maria tidak bertanya hal-hal yang tidak dia inginkan.


Tiba-tiba Sutejo terlihat terkulai di atas kursi rodanya. Maria panik.


"Pa.. Papa kenapa.."


Andra Fian dan Adam buru-buru mendekati Sutejo. Tubuh Sutejo terlihat lemas. Sutejo pingsan lagi. Fian buru-buru memencet tombol panggil perawat.


"Mas.. kamu kenapa mas. Andra , Fian kita angkat Papa kamu ke atas tempat tidur saja."


Dengan segera mereka bertiga memindahkan tubuh Sutejo ke atas tempat tidur.


Tak lama dokter dan perawat datang.


"Ada yang terjadi dengan pasien."


"Tolong suami saya dok. Tiba-tiba dia pingsan lagi." Jawab Maria panik.


"Jangan panik nyanyi. Kami akan mengusahakan yang terbaik." Ucap sang dokter sambil memeriksa Sutejo.


"Ma... Mama jangan panik. Papa pasti baik-baik saja." Andra mencoba menenangkan sang mama.


"Iya Nak. Semoga papamu tidak apa-apa."


Fian mengusap tangan sang mama. Dia tidak berkata sepatah katapun. Hanya tangannya yang terus saja mengusap lengan sang mama bermaksud untuk menenangkan.


Fian memperhatikan sekeliling. Otaknya sedang bekerja. Dia merasa ada yang aneh dengan sikap sang papa saat pertama kali melihat Adam tadi. Sebenarnya Fian tidak sengaja memperlihatkan. Namun dia memang melihat perubahan sikap sang papa saat melihat Adam.


"Bapak tidak apa-apa. Tubuhnya hanya lemah. Dia hanya butuh istirahat sebentar. Dia sudah saya beri vitamin. Nanti setelah sadar, beri beliau makan sedikit demi sedikit saja. Sebentar lagi beliau akan sadar. "


"Alhamdulillah.. Terima kasih dokter."


"Sama-sama semua. Bapak biarkan istirahat dulu. jangan banyak diajak bicara dulu. Kalau begitu kamu permisi dulu."


"Terima kasih dokter. Silahkan."


Dokter dan perawat melangkah keluar meninggalkan ruangan tersebut.


"Mama juga istirahat. Papa tidak apa-apa. Hanya kondisinya belum pulih benar. Nanti setelah bangun, keadaan papa pasti sudah membaik. Mama jangan khawatir ya."


Fian menenangkan sang mama yang masih terlihat panik melihat keadaan sang papa.


"Iya Fian."


Mama merebahkan tubuhnya. Fian menyelimuti sang mama. Andra mengambil kursi dan duduk di samping ranjang sang mama. Sedangkan Fian melangkah ke luar ruangan sambil memberi kode pada Adam untuk mengikutinya.


Adam pun mengikuti Fian keluar ruangan. Andra hanya memandang sekilas dua orang yang melangkah keluar tersebut. Kemudian dia kembali fokus mengusap lengan sang mama.


Setelah sampai di luar Fian mengajak Adam untuk duduk di kursi tunggu.


"Om.. ada apa sebenarnya."


"Maksud kamu apa?" Adam menoleh ke arah Fian.


"Tidak usah ditutupi. Fian melihat muka papa yang gelisah saat melihat Om."


"Masa.. Mungkin karena papa kamu baru sadar."


"Om.." Fian sudah emosi . Kalau bukan orang tua dia pasti sudah memukul Adam. Dia sudah tidak sabar ingin segera membuka tabir ini.


"Fian.. Mau kamu apa?" Adam bertanya masih dengan nada yang biasa. Sebenarnya dia juga ingin membuka semuanya. Namun masih menunggu saat yang tepat.


"Ada rahasia apa antara Om dan Papa."


"Rahasia apa yang ingin kamu tahu."


Adam berkata bernada mengejek Fian. Fian semakin emosi. Fian benar-benar sudah tidak sabar.


"Om.. bicaralah jujur. Demi kebaikan semua."


Adam diam. Dia sejujurnya ingin sekali. Tapi dia masih menunggu waktu. Dia masih menunggu sang kakak sehat terlebih dahulu. Dia ga mau sang kakak bertambah parah.


"Sebentar lagi Fian.. tunggu sebentar lagi. Om pasti bongkar semua."


Ucap Adam dalam hati. Dia juga sudah tidak tahan menyimpan rahasia ini. Dia juga tidak tega melihat dua keluarga yang tidak bersalah berseteru. Apalagi mereka adalah orang yang berhubungan darah dengan kita.


Adam berjanji setelah Sutejo dan Maria keluar dari rumah sakit dia akan menemui orang yang bersangkutan dan menyatukan mereka kembali. Semoga waktu itu segera tiba.

__ADS_1


Bersambung


Terima kasih buat semua ❤️❤️❤️❤️


__ADS_2