Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 30


__ADS_3

Bara Vs Fian


Sepulang kuliah Fian langsung ke rumah sakit .Kali ini Nando tidak ikut karena ada acara sendiri. Dengan penuh semangat Fian menuju kamar Arin. Sampai di sana dilihat ada bunda sedang duduk terkantuk-kantuk.


"Assalamu'alaikum ."


"Wa'alaikumsalam... Eh Fian. Sendirian saja, ga sama Nando."


"Iya bund, dia ada acara keluarga. Bunda mengantuk ya. Istirahat aja bund.Tidur saja tidak apa-apa, biar Fian yang nungguin Arin."


"Bunda mau keluar sebentar. Mau ke taman. Nitip Arin sebentar ya."


"Iya bunda, Tenang saja akan ku pertaruhkan jiwa ragaku buat Arin. hehehe.." Fian kasian melihat keadaan bunda yang pasti capek dan mengantuk.


"Bisa aja kamu, Makasih ya." Bunda keluar dari ruangan Arin. Bunda lelah, ingin menghirup udara segar di taman. Sekalian ingin memberi kesempatan pada Fian. Bunda tahu seberapa dekat mereka berdua. Sebagai seorang ibu ,dia mengamati setiap perilaku dan interaksi antara Arin dan Fian. Sebenarnya bunda tahu bagaimana perasaan Arin ke Fian ataupun sebaliknya. Perasaan Fian ke Arin. Namun dia tidak ingin turut campur. Biarlah mereka sendiri yang menyelesaikan semuanya.


Setelah bunda keluar, Fian mendekati ranjang. Dia pandangi wajah Arin. Dia melihat Arin juga tersenyum.Dia bahagia masih bisa melihat senyum Arin. Tapi juga sangat bersedih ,hingga saat ini kenapa Arin belum mau bangun juga.


"Arin, Ga kangen kah sama gue? Bangun yuk,kita berbincang lagi di pinggir sungai. Kita becanda seperti dulu. Ga pengen kah kita bermain lagi seperti dulu lagi." Fian memegang jemari tangan Arin .Jemari itu bergerak. Seperti membalas .Fian tersenyum. Arin selalu merespon semua interaksi mereka. Fian terus saja mengajak Arin berbicara. Arin hanya tersenyum terus.


"Arin, kapan kita bisa memetik bunga ilalang lagi. Gue merindukan saat-saat itu. Gue rindu tawamu. Gue rindu becanda denganmu. Lo ga ingat kah saat kita terpeleset dan tercebur ke selokan. Hehehe ..kita pulang dalam keadaan kotor . Tapi untungnya saat itu hujan turun. Sekalian kita main hujan- hehehe.. Gue sangat merindukan saat-saat kita bersama. Ada gue, ada lo, ada Nando. Kalau lo masih ingin tidur, tidurlah, tapi jangan lama-lama. Gue tahu lo nyaman dalam dunia mimpi lo itu. Tapi apakah lo tidak memikirkan perasaan bunda, memikirkan Ayah, Rama ,dan juga Nia. Terus perasaan gue juga. Apakah lo juga tega sama gue, lo bermimpi sendirian tanpa mengajak gue. Gue juga mau bermimpi sama lo. Kita bermimpi bersama,memetik bintang, menggapai awan, mengejar angan." Fian terdiam kembali. Suara dia sudah terdengar parau. Dia sedikit terbatuk menetralkan suaranya. Matanya sudah sedikit basah. Bukan dia cengeng, tapi memang sesak rasa dada Fian. Seandainya dia tidak malu ,dia pasti sudah menangis.Dia begitu sedih melihat keadaan Arin. Orang yang sangat di sayangi nya.


"Fian." Bara menepuk bahu Fian. Sebenarnya sudah sepuluh menit ada di dalam ruangan. Dia hanya mendengarkan perkataan Fian . Bara ikut larut dalam ucapan Fian. Ungkapan hati seorang teman. Atau kekasih pikir Bara.


"Eh.. Dokter Bara. Baru datang kah?"


" Saya disini sudah sepuluh menit yang lalu. Bagaimana ya, keliatannya perasaan kamu sangat dalam sama Arin. Ada kemajuan dengan respon yang ditunjukkan Arin."


"Jadi Dokter mendengar semua ucapan gue. Bagaimana ya Dokter. Kita bersama sejak kecil. Arin masih seperti yang kemarin. Setiap gue sentuh dia akan memberi respon. Namun baru Jemarinya yang bergerak."


"Hm jadi begitu ya .Itu sudah lumayan. Sering-seringlah mengajaknya berbicara. karena hanya orang yang terdekatnya saja yang akan dia respon."


"Benarkah itu. Semoga ini awal yang baik ya Dok. Terus kapan dia bangun. Sampai kapan kita menunggu. Masih adakah cara lain Dok."


"Kita masih berusaha mencari solusi yang terbaik. Semoga tidak lama lagi Arin bisa bangun."


"Iya dok. Gue pasti membantu apapun asal itu bisa membuat Arin bangun kembali."


"Fian,maaf boleh saya bertanya tentang suatu hal?"


"Silahkan Dok, kalau gue bisa dan tahu pasti gue jawab."


"Begini, Maaf sebelumnya. Maaf saya tadi mendengarkan apa yang kamu ungkapkan tadi. Ada hubungan apa antara kamu dan Arin. Karena saya lihat Arin sering memanggil namamu selama dalam tidurnya. Dan juga selalu merespon semua sentuhan mu. Dan tadi saya lihat perasaan kamu sangat dalam padanya."


"Gue dan Arin teman dari kecil. Dari orok ibaratnya. Kita sudah tau luar dalam. Dari TK kami satu kelas. Sebenarnya kami bertiga. Ada Nando juga. Kami sudah seperti lem dan perangko. Nempel terus. Disitu ada Arin. Disitu pula gue ada."


Fian menceritakan semua kedekatan nya sama Arin. Memang mereka ibarat tutup dan botolnya .Akan saling melengkapi. Ibarat juga lima jari. Satu terluka jari yang lain juga akan ikut merasakan.

__ADS_1


"Begitulah kedekatan kami Dok."


"Adakah hubungan khusus antara laki-laki dan wanita begitu." Bara ingin tau apakah Fian pacar Arin atau bukan. Dia sudah menyiapkan hatinya. Jika jawaban nanti memang iya . Sebenarnya dia sedikit takut ,apa yang dia pikirkan adalah suatu kebenaran. kalau ternyata benar Fian pacar Arin . Melihat Arin yang selalu merespon semua yang dilakukan Fian. Dan melihat apa yang dilakukan Fian ke Arin.


"Hubungan kami hanya sekedar sahabat. Sebenarnya ini salah gue Dok."


"Kenapa salah kamu, ada apa sebenarnya? Boleh saya tahu?"


"Sebenarnya... sebenarnya dulu Arin suka sama gue. Dan gue tahu. Cuma gue pura-pura tidak tahu."


"Memangnya kenapa Fian?"


"Pak Dokter pengen tahu ya. Mau mendengarkan cerita gue. Mungkin selama ini yang tau cerita gue cuma Nando walaupun gue ga pernah cerita padanya. Gue capek memendamnya sendiri."


"Kalau kamu mau menceritakannya, saya juga mau mendengarkannya. Bercerita lah siapa tahu bisa mengurangi beban mu. Saya siap mendengarkan."


"Begini Dok. Sedari kecil gue dan Arin selalu bersama. Mungkin naluriah juga sebagai lelaki gue selalu membantu kesusahan Arin. Arin itu anak yang mandiri tapi entah mengapa kalau sama gue dia jadi manja seperti anak kecil. Gue tahu Arin mulai suka sejak kelas dua SMP. Satu tahun sebelum kejadian itu terjadi. Bukan gue merasa kepedean. Tapi memang begitu adanya. Dari tingkahnya, dari sikapnya dari semua yang dia lakukan. Gue pun begitu. Gue juga suka dia, kita jadi seperti saling memiliki dan saling membutuhkan." Fian diam sebentar. Dan melanjutkan lagi ceritanya.


"Gue tidak pernah menanggapi sikapnya. Kita tetep hanya jadi teman. gue malah bersikap agak dingin ke dia. Bukan tanpa sebab. Karena gue tahu, abang gue juga suka sama dia. Dan Mama gue tidak sama dia. Gue cuma takut kalau gue tunjukkan sikap kalau gue suka, dia akan lebih berharap lagi. Jadi gue hanya memperlakukan dia sebagai teman." Fian berhenti lagi .Dia ambil nafas dalam-dalam.


"Kenapa begitu Fian. Kalau memang suka. Kenapa harus ditahan?"


"Karena gue mau fokus sekolah dulu. Kita masih kelas satu SMP. Masa kita mau pacaran Dok. Kan belum pantas."


"Iya juga ya hahaha...umur kalian masih terlalu dini untuk mengenal pacaran."


"Nah itu juga yang gue pikirin. Sayangnya sampai kami lulus SMA gue tak pernah berani untuk mengungkapkan perasaan gue Dok.Dan mungkin Arin lelah juga menunggu gue. Sudah semenjak bekerja dia mulai menjauh. Masih sering bertemu juga , berkumpul juga, namun sikapnya sudah mulai berubah agak dingin ke gue."


"Iya Dok, baru berasa sekarang diabaikan orang yang selalu memberikan perhatian ke kita. Mungkin yang gue rasakan sekarang sama yang dia rasakan dahulu. Gue kena karma gue sendiri. Sakit ternyata." Bara menepuk-nepuk bahu Fian.


"Tapi gue tetep perhatian ke dia kok . Gue selalu ada buat dia. Cuma dulu sikap gue agak dingin. Menyesal rasanya."


"Sabar Fian. Teruslah berusaha.Kalau memang jodoh pasti ada jalan buat kalian bersatu." Bara bisa berkata begitu. Padahal di hatinya bersorak.Bahwa ada kesempatan buat dia.


Tak disangka Arin menitikkan air mata. Pendengaran masih normal. Dia bisa mendengar semuanya. Bara melihat itu semuanya. Dia ambil selembar tissue, dia hapus air mata itu. Fian hanya memperhatikan keduanya.


"Maaf Dok, keliatannya dokter begitu perhatian pada Arin. Apa sebelumnya dokter pernah mengenal Arin?"


"Sekarang gantian saya yang bercerita ya. Kamu mau mendengarkan apa tidak."


"Tentu mau Dokter. Tidak ada salahnya kalau kita saling berbagi cerita. Mungkin juga bisa meringankan beban Pak Dokter."


Lima tahun lalu


Bara Pov


Waktu itu Gue dan Bram mau pergi ke bandara karena kita berdua akan menjalani pendidikan di luar negeri. Di saat gue dan Bram lewat di depan sebuah ruko ,gue merasa ada perasaan yang tidak nyaman. Kemudian kita berdua berhenti dan kita lihat ada dua orang pemuda sedang berbicara, kalau salah satu teman mereka sedang mengerjai teman gadis yang disukai nya. Kita berdua curiga. Setelah dua pemuda itu menjauh dari mulut gang ,kita berdua memasuki gang tersebut. Ternyata dibelakang ruko ada sebuah rumah tua yang tidak berpenghuni dan terlihat gelap. Kami tentu saja curiga, apa yang dimaksud kedua pemuda tersebut. Tiba-tiba kita samar-samar mendengar suara perempuan minta tolong, kita cari sumber suara. Dan suara itu semakin jelas dari arah dalam rumah itu. Bram mengintip dari jendela. Dia melihat seorang gadis dan seorang pemuda. Gue juga ikut mengintip. Benar gue melihat seorang gadis sedang menangis. Karena si gadis sedang mengalami pelecehan oleh seorang pemuda. Kita mendobrak pintu. Tapi pas kita masuk si pemuda sudah tidak terlihat. Yang ada tinggal seorang gadis yang menangis dengan pakaian yang berantakan. Tiba-tiba si gadis mencium bibir gue.sebentar kemudian dia pingsan. Tentu gue kaget. Bram hanya melihat gadis itu dengan bingung. Lalu kita membawa gadis itu ke rumah sakit.

__ADS_1


"Dokter, Dokter kok malah melamun. Dok."


"Eh iya..."


"Kenapa? kok malah dokter diam saja. Ada sesuatu kah?" Fian tidak mengerti melihat sang dokter Malah melamun.


"Begini Fian, saya bertemu Arin sudah tiga kali dan Arin selalu dalam keadaan tidak baik-baik. Yang pertama, lima tahun lalu saat dia yang sehabis dia dilecehkan, yang kedua tiga tahun lalu, dia pingsan di pelukan saya dalam keadaan luka lebam sekujur tubuh. Dan yang ketiga saat ini. Saya merasa turut prihatin dengan keadaan Arin. Jujur saya sangat bersimpati dengan semua yang dialami Arin." Bara menarik nafas dalam. Seperti ada beban sangat berat dalam pundaknya. Tapi memang sebagai seorang dokter dia merasa ikut bertanggung jawab atas apa yang di alami Arin.


"Ternyata begitu . Pantas Dokter seperti yang sangat perhatian kepada Arin. Tapi maaf ya Dok, gue mau tanya. Apa Dokter punya perasaan khusus pada Arin?"


Bara terdiam. Haruskah dia jujur mengatakan apa yang sebenarnya?


"Ini murni karena rasa tanggung jawab saya sebagai seorang dokter, Fian. Kamu tidak usah khawatir saya merebut Arin dari kamu." Yang keluar dari mulut Bara malah yang sebaliknya. Dia belum berani mengakui isi hatinya yang sebenarnya.


"Gue tidak pernah berpikir soal itu Dok, dalam pikiran gua hanya kesembuhan Arin dan kesehatan Arin. Masalah itu biar dia yang memilih. Semisal memang Dokter menyukainya gue tidak bisa melarang. Itu hak anda. Biarlah Allah yang menentukan jodoh Arin itu siapa. "


Mereka berdua saling pandang dan tersenyum.


"Kalian lagi berbincang apa si, serius banget., Dari tadi ada orang di depan pintu, tak ada satupun dari kalian yang tau" Bram berkata sambil jalan menuju sofa dan duduk di sana. Dia mendengar semua pembicaraan antara Fian dan Bara . Namun dia hanya diam. Hanya mendengarkan dengan seksama. "Sudah pakai acara pandang-pandangan segala. Kalian masih normal kan? Hahaha.." Sambung bara setelah duduk di sofa.


"Apaan si lo Bram. Kita lagi serius membicarakan masalah Arin."


"Iya Dokter Bara benar.Kita hanya membahas masalah Arin saja kok Dokter Bram." Fian ikut menjelaskan.


"Hm.. begitu ya..hahaha.. Kenapa kalian menjadi tegang begitu? Gue juga tau kali hahaha.. Gue hanya becanda."


Bram terkekeh melihat Fian dan Bara yang menjadi salah tingkah.


"Dari mana lo Bram? Tadi gue ke ruangan lo tapi lo ga ada." Bara mengalihkan pembicaraan.


"Gue menemui Dr Rizal. Gue konsultasi masalah Arin yang tak kuncung sadar."


"Kenapa lo ga ngajak gue. Gue kan juga pengen tau apa yang dibahas."


Fian hanya mendengarkan pembicaraan kedua dokter tersebut. Fian kembali fokus pada Arin. Dia kembali menggenggam tangan Arin. Dan Arin membalas menggengam tangan Fian. Fian diam saja. Dia tau Arin sedang menyalurkan rasa sedihnya


Sama seperti saat dulu. Jika bersedih Arin selalu mendatangi Fian dan akan meremas jemari Fian sampai kesakitan. Tapi saat ini Arin tidak bisa menggenggam dengan erat. Cuma menggenggam. Dan tiba-tiba Arin melepaskan genggamannya. Dan Arin terlihat sesak nafas. Fian terkejut.


"Arin... Arin.. lo kenapa? Arin.. kenapa? " Fian berteriak.


"Kenapa Arin ?"


Bram dan Bara langsung loncat dan menghampiri Arin. Mereka berdua langsung memencet saklar keadaan darurat. Semua tim medis yang menangani Arin datang. Cepat-cepat mereka mengambil tindakan.


"Maaf Fian, kamu keluar dulu. Kami harus mengambil tindakan pada Arin. Tunggu di luar dan jangan lupa berdoa." Bara memberi penjelasan kepada Fian yang dari tadi hanya kebingungan melihat para tim medis.


Apa yang terjadi dengan Arin.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan like dan komen❤️❤️❤️


__ADS_2