Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 65


__ADS_3

Tekad Ayah demi kebaikan Arin


Adzan subuh berkumandang. Suara ayam jantan bersautan. Saatnya kita mulai mengejar harapan. Saatnya membuka pintu-pintu jalan rejeki. Semburat kuning keemasan mulai nampak di ufuk timur. Sungguh indah dan sedap dipandang mata.


Matahari mulai menampakkan dirinya. Menyambut pagi yang cerah. Memberi terang pada dunia. Dia tidak peduli di butuhkan atau tidak. Saatnya dia mengabdikan diri tanpa minta imbalan. memberi warna pada siang agar lebih terlihat jelas. Apa yang pantas atau tidak untuk dilakukan oleh manusia.


Arin sudah terbangun dari tadi. Tapi dia belum beranjak dari tempat tidur. Dia diam sejenak untuk menstabilkan kesadarannya agar jika bangun nanti dia tidak sempoyongan.


Setelah sejenak duduk di tepi tempat tidur. Setelah semuanya siap untuk melangkah, barulah Arin bangun. Melangkah pelan-pelan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Ternyata bunda sudah ada di dapur. Sudah siap dengan rutinitasnya yaitu memasak untuk sarapan mereka anggota sekeluarga.


"Selamat pagi bunda."


"Pagi sayang, Hati-hati ke kamar mandinya. Apa perlu bunda bantu?"


"Tidak bunda. Arin bisa kok. Lagian bukan kah harus di biasakan mandiri."


"Tapi kamu masih terlihat kesakitan begitu."


"Tidak apa-apa bunda. Cuma nyeri sedikit. Nanti lama-lama pasti sembuh juga."


Arin meneruskan langkah menuju kamar mandi. Keadaan nya sudah semakin membaik. Kesehatan mentalnya sudah semakin stabil. Sudah tidak berteriak-teriak lagi. Kalau luka fisik bisa sembuh dengan cepat dan juga obat yang mudah. tapi kalau luka batin dan pikiran akan butuh waktu yang lama dan penanganan khusus juga.


"Bunda, Arin sholat dulu, Baru Nanti Arin bantu bunda masak ya."


"Kamu istirahat saja nak, Bunda bisa sendiri."


"Tapi Arin sudah sembuh kok. Kan bisa membantu sambil duduk juga."


"Ok baiklah. Sekarang sholat dulu sono. Jangan lupa kamu bangunkan Rama. Nanti terlambat sholat. Kan hari ini sekolah juga dia."


"Iya bunda."


Arin berjalan menuju kamarnya. Dia segera melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Tidak lupa dia juga berdoa buat semuanya. Doa yang terbaik buat semua anggota keluarga dan juga teman-temannya. Doa agar selalu di berikan kesehatan lahir dan batin. Karena itu yang paling utama. Jika kita sehat kita bisa melakukan segala hal yang kita inginkan.


Setelah dirasa cukup lama berdoa dan membaca ayat suci Al-Quran, Arin menghentikan kegiatannya. Dia ingin ke dapur membantu bunda. Sebelum ke dapur Arin menuju kamar Rama untuk membangun dia. Tapi ternyata Rama sudah bangun.


"Udah bangun kamu Dik, baru mau kakak guyur pakai air. Hahaha.."


"Dihh .. kakakku sadis sekali sekarang ya."


"Ga sadis ga seru. Hahaha.. Kamu sudah rapi aja. Pagi bener sekolahnya . Ini kan baru setengah enam."


"Kakak lupa kebiasaan aku. Apa jangan-jangan kakak sudah amnesia."


"Eh iya. Kamu siapa ya. Kamu anak siapa. Nama kamu siapa?"


"Kakak... ga lucu deh." Rama cemberut karena dikerjain oleh Arin.


"Hahaha... Duh adikku cayang ngambek. Uluh-uluh.. " Arin mencolek pipi Rama. Dan Rama semakin cemberut. Sebenarnya Rama merasa bahagia karena kakaknya sudah kembali bisa bercanda seperti biasanya.


"Kakak... Rama marah nih."


"Kenapa marah? Ya sudah kalau begitu, mending kakak ke dapur aja bantu bunda." Arin berjalan meninggalkan Rama di kamarnya.

__ADS_1


"Kakak.. jangan pergi dulu. Sini dulu. Bantuin aku sebentar."


"Butuh bantuan apa, hm?"


"Kakak.. Kakak harus sehat ya. Kakak jangan sakit lagi. Aku tidak terima siapa pun yang menyakiti kakak. Akan aku lawan mereka."


"Iya Ram, terima kasih adikku cayang. Jadi hanya ini yang mau kamu omongin."


Rama mengangguk.


"Kakak boleh peluk ga. Aku kangen. Selama ditinggal kakak di rumah sakit aku kesepian."


"Duh kasian amat adikku ini. Sekarang kakak sudah pulang. Jangan khawatir kakak akan menjadi semakin kuat. Ok."


"Iya kak. Inget ya kalau ada apa-apa cerita sama aku. Aku akan jadi garda terdepan buat kakakku."


"Iya deh iya. kakak percaya. Ya udah kakak ke dapur dulu. Kamu mau sarapan atau tidak."


"Sarapan dong, tapi ditemani kakak ya."


"Duh manja sekali sih."


Rama tersenyum. Dia merasa sangat bahagia karena kakaknya telah kembali ke rumah. Benar yang dia ucapkan tadi. Rama berjanji akan melindungi kakaknya ini. Dia tidak mau melihat kakaknya terluka lagi. Tidak tega rasanya melihat Arin tergolek tak berdaya jadi pesakitan.


Arin menuju dapur, dia mau membantu bunda memasak. Tapi sesampai di dapur semua sudah selesai. Semua masakan sudah matang di masak bunda.


"Bunda, sudah matang semuanya. Arin telat dong. Bunda ga ada yang bantuin."


"Tidak apa-apa Arin. Kan cuma masak sedikit juga. Ayo kita siapkan di meja makan."


Arin dan bunda membawa masakan yang sudah matang ke meja makan. Walaupun cuma masakan sederhana namun sangat menggugah selera. Tumis kacang panjang campur tempe, goreng ikan kembung , sambal dan kerupuk. Sungguh sangat nikmat bila dinikmati bersama keluarga.


"Sepertinya baru satu minggu kita tidak makan bersama, rasanya seperti sudah berbulan-bulan." Ucap ayah. Beliau sudah duduk dari tadi di meja makan menunggu sarapan disiapkan. Bunda mengambilkan nasi serta sayur dan lauk nya buat ayah.


"Baru sepuluh hari Yah. Tapi bener terasa lama sekali. " Rama menimpali ucapan ayah. Dia anak paling kecil jadi mendapatkan urutan paling belakang untuk mengambil jatah makannya.


"Ayo dimakan. jangan sambil berbicara kalau makan." Bunda memperingatkan semua yang ada di meja makan. Karena di lihatnya Rama sudah mau membuka mulutnya untuk berbicara.


"Iya bunda."


Semua terdiam menikmati sarapan pagi ini. Ayah makan dengan lahap. Begini juga dengan Rama. Semua habis hampir bersamaan. Setelah semua selesai makan,Ayah membuka pembicaraan.


"Bun, duduk dulu. Nanti saja beres-beres nya."


"Iya yah, ada yang penting kah yang mau ayah bicarakan."


"Iya bun, munpung Rama belum berangkat dan Nia juga masih di rumah."


"Ada apaan si yah, Arin jadi deg-degan ini."


"Jangan tegang, ayah malah juga jadi bingung mau ngomongnya. Bunda , ayah mau kopi ya."


"Iya yah, bunda buatin dulu."

__ADS_1


Bunda menuju dapur mau membuat kan ayah kopi. Bunda sudah tau apa yang akan ayah bicarakan. Semalam mereka berdua sudah membahasnya lebih dahulu.


"Begini Rin, Ram dan Nia. Hari ini Keluarga Santoso mau kesini lagi. Sengaja ayah undang. Tidak apa-apa kan Rin?"


"Tidak Ayah. Buat Arin ini bukan masalah. Oh ya, menurut Ayah sebaiknya bagaimana?"


"Makanya ini akan ayah bicarakan dengan kalian."


"Baiklah, kita siap mendengarkan."


Ayah membicarakan apa yang dia bahas semalem sama bunda. Memang benar sejak selepas sholat isya ayah dan bunda tidak keluar kamar, ternyata mereka berdua sedang membicarakan apa yang sebaiknya mereka lakukan kepada Omed dan keluarga nya.


Walaupun Santoso adalah teman ayah, namun ayah juga harus tegas kepada orang yang telah jelas-jelas melukai putrinya. Seorang ayah pasti akan membela anaknya. Ditambah lagi kisah masa lalu diantara mereka. Bukan ayah merasa dendam tapi jalan itulah yang menurutnya pantas di tempuh.


"Bagaimana kalian setuju dengan pendapat Ayah?"


"Kalau memang menurut ayah itu yang terbaik, Arin setuju Yah." Jawab Arin mantab. Tapi benar memang ide ayah sangat bagus dan sesuai dengan keadaan.


"Rama juga setuju."


"Nia juga setuju Yah. Mungkin ini jalan yang terbaik. Kalau begitu Nia berangkat dulu ya Yah, bunda. Ayo Rama keburu siang."


"Baik kak."


Rama berangkat sekolah bareng Nia karena memang dia searah. Lumayan ngirit ongkos. Karena memang Rama belum punya kendaraan sendiri. Motor di rumah ada dua . Satu punya Nia dan satu lagi punya Arin. Ayah berangkat kerja selalu dijemput temannya. Jadi tidak perlu memakai kendaraan sendiri.


"Memang nya keluarga Omed mau datang jam berapa Yah?"


"Mungkin sebentar lagi. Mereka bilang siang ada acara Makanya janji bertemu pagi hari."


"Kalau begitu Arin mandi dulu ya Yah. Biar bisa ikut menemui mereka. Ada hal yang ingin Arin sampaikan juga kepada mereka."


"Iya nak. Bunda siapkan cemilan ya. Bagaimana pun juga mereka adalah tamu."


"Iya yah. Kalau begitu bunda ke dapur dulu. Masih ada singkong. Biar bunda bikin combro sama misro."


"Terserah bunda kalau itu."


Arin pergi mandi sedang bunda menuju dapur untuk membuat cemilan. Ayah ke ruang tamu. Dia akan menyambut tamu yang akan datang. Semua akan disampaikan sesuai rencana mereka.


Ayah memang harus tegas. Bagaimana pun ini adalah hal yang prinsip menurut ayah. Dia harus bisa mengambil sikap. Apalagi dia ingat apa yang diucapkan Mia kemarin. Semua luka lama terkuak kembali. Rasa sakit itu berdarah lagi. Padahal butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka itu. Malah sekarang terbuka kembali.


Mungkin bagi keluarga Santoso kisah lama itu tidak ada artinya. Namun bagi ayah, itu sesuatu yang sangat menyakiti nya. Prinsip dia telah di obrak abrik oleh sang sahabat sendiri.


Bukan ayah ingin membalas dendam tapi karena ini memang yang terbaik menurut ayah. Semoga ini yang terbaik juga buat keluarga Santoso.


Ayah menunggu keluarga Santoso di ruang tamu. Jamuan sedang dipersiapkan bunda. Arin juga sedang mempersiapkan diri. Semua sudah siap menyambut sang tamu datang di rumah mereka.


Apa kira-kira rencana ayah. Apa jalan yang akan ayah tempuh buat kebahagiaan sang putri tercinta. Apa Santoso bisa menerima keputusan Ayah. Kita tunggu saja.


Bersambung


Maaf episode kali ini sangat singkat.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin like dan komen Terima kasih ❤️❤️❤️❤️


__ADS_2