Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 96


__ADS_3

Seminggu terasa begitu lama buat Fian. Dia harus menunggu waktu yang terasa sangat lambat berjalan. Entah mungkin hanya perasaan Fian saja atau memang bumi sedang enggan berputar. Tapi mana mungkin bumi tidak berputar. Akan bagaimana penghuni di bumi ini.


Fian menjalani hari dengan penuh rasa tak nyaman. Terlalu banyak misteri hidupnya yang harus dia pecahkan. Dia terus saja mengawasi segala sikap dan tindakan Adam. Siapa tahu ada yang bisa dijadikan petunjuk.


Fian sangat mencurigai Adam. Selalu ada kebetulan yang tidak wajar dalam kejadian beberapa waktu belakangan ini. Entah mungkin atau hanya pikiran Fian saja. Tapi memang terlihat sikap Adam sangat aneh.


Termasuk siang ini di saat Fian akan pergi keluar untuk makan siang, Tiba-tiba Adam sudah ada di belakangnya. Padahal Fian sengaja pergi dengan sembunyi-sembunyi.


"Fian, mau makan siang di mana? Om ikut ya."


Sejak Adam mengaku sebagai adik Papa nya, Adam menyuruh Fian memanggilnya dengan sebutan Om. Fian tak merasa keberatan karena baginya tidak berpengaruh apapun bagi dirinya. Fian tetap masih merasa asing dengan Adam.


"Fian mau makan bakso aja Om. Mau ikut. Saya makan nya cuma di gerobak pinggir jalan."


Fian sebenarnya malas pergi bareng Adam. Dia selalu mencari berbagai alasan agar Adam tidak ikut. Namun Adam seperti pura-pura tidak tahu dengan sikap Fian. Entah apa yang direncanakan oleh Adam.


"Bagaimana Om, jadi mau ikut?"


"Tentu jadi. Om juga kepengen makan bakso. Om naik motor kamu aja ya. Males bawa mobil. Ga bisa cepet."


Tanpa ragu Adam menjawab pertanyaan Fian. Adam tidak merasa keberatan di mana pun Fian mengajaknya makan. Adam selalu bisa menyesuaikan diri dengan kondisi apapun.


Mereka berdua berangkat dengan mengendarai motor Fian. Biar cepat sampai karena perut sudah lapar. Itu alasan Adam. Tapi memang betul. Kalau naik mobil tidak bisa lincah di jalan raya.


Mereka berdua duduk di sebuah tenda bakso di pinggir jalan. Setelah memesan mereka mencari tempat duduk.


"Fian. Om tahu kamu tidak menyukai Om ada di sini."


Fian diam saja. Dia tidak ingin berkata apa pun. Biarlah Adam mau bicara apa Fian tak ingin menjawab.


"Maafkan Om. Semuanya salah Om. Om terlalu serakah."


"Apa maksud Om Adam?" Fian sedikit terkejut terkejut dengan pernyataan Adam yang tiba-tiba berkata demikian.


"Sebenarnya... sebenarnya.."


"Sebenarnya apa..?"


Fian sudah tidak sabar mendengar ucapan Adam. Seperti ada yang Adam sembunyikan.


"Sebenarnya Om lah penyebab kekacauan ini."


"Kekacauan yang mana? Banyak kekacauan yang terjadi selama ini."


Adam terdiam. Dia bingung harus bagaimana menceritakan semua yang terjadi selama ini. Tiba-tiba terdengar suara nada dering panggilan telepon.


"Maaf Fian, Om angkat telpon dulu."


Adam menjauh dari Fian. Selalu saja begitu. Jika ada panggilan telepon pasti Adam akan menjawabnya jauh dari Fian. Dan selalu dengan suara yang pelan. Seolah Fian tidak boleh mendengar apa yang mereka bicarakan di telepon. Tentu saja hal ini membuat Fian semakin merasa curiga dengan keberadaan Adam di dekatnya.


Fian sebenarnya tidak ingin tau apa yang dibicarakan Adam dengan si penelepon. Namun karena melihat sikap Adam belakangan ini dan pengakuan Adam, Fian jadi ingin tahu. Fian jadi ingin mendengar apa yang dibicarakan. Namun sepertinya mereka sengaja berbicara sangat pelan dan hati-hati.


Fian akhirnya hanya diam saja. Percuma juga dia menguping, tidak akan terdengar juga. Fian menikmati saja makanannya. Dia sudah pasrah. Pasti suatu saat nanti semua akan terbongkar dengan sendirinya.


"Fian, ayo kembali ke kantor. Kamu udah selesai kan makannya."


"Punya Om tidak dihabiskan. Itu masih ada. Mubazir lho Om."


Fian sengaja mengulur waktu. Sebenarnya dia malas balik ke kantor lagi.


"Om sudah kenyang. Kita harus segera kembali ke kantor. Pak Hary sudah tiba."


Mendengar nama orang yang ditunggunya datang, dengan Fian segera menyelesaikan makannya.


"Baiklah, Ayo Om."


Mereka berdua segera kembali ke kantor. Ada urusan yang harus mereka segera selesaikan. Agar segera bisa kembali ke Jakarta secepatnya. Fian sudah tidak sabar ingin mengetahui semuanya. Semua misteri dalam hidupnya.


🌸🌸🌸


Seminggu telah berlalu. Bara sudah sehat kembali. Dia sudah bekerja kembali seperti biasa. Untung dia hanya demam biasa dan sakit nya hanya sebentar juga . Kesehatan nya cepat membaik karena teringat tugasnya yang begitu banyak. Pasien rumah sakit menunggu penanganan nya.


Siang ini semua pasien sudah dia tangani. Jam istirahat sudah tiba. Waktunya dia mengisi perutnya lapar. Cacing-cacing demo karena sudah waktunya belum juga diberi jatah.

__ADS_1


Bara hanya makan di kantin rumah sakit. Malas keluar juga. Karena tidak ada temannya. Bram sedang menangani pasien. Jadi mereka tidak bisa makan siang bersama.


Bara sedang menunggu pesanannya datang. Tiba-tiba terdengar ponselnya berbunyi. Bara melihat ponselnya. Ternyata ada pesan WA masuk. Buru-buru Bara membukanya karena tertera sebuah nama orang yang sangat di rindukan. Ya pesan singkat itu dari Arin.


Arin : Assalamu'alaikum Aa. Aa apa kabar.


Bara membaca pesan itu dengan tersenyum. Dia merasa sangat senang tentunya. Arin punya inisiatif memulai percakapan. Mau menghubunginya terlebih dahulu. Buru-buru Bara membalas pesan tersebut.


Bara : Wa'alaikumsalam. Alhamdulillah baik Arin. Kamu sendiri bagaimana.


Bara menunggu sejenak. Chatnya sudah centang biru. Itu artinya pesannya sudah di baca. Namun belum di balas juga. Padahal status WA Arin masih online. Tak lama kemudian terlihat status Arin sedang mengetik.


Arin : Alhamdulillah aku juga baik Aa. Maaf apakah Aa punya waktu. Arin pengen ketemu. Ada sesuatu yang ingin Arin sampaikan.


Bara senang akhirnya Arin mengajaknya bertemu. Bara berpikir pasti Arin ingin membicarakan tentang jawaban ungkapan perasaannya kemarin. Walaupun sebenarnya dia merasa was-was juga akan jawaban yang akan diberikan Arin. Tapi Bara berpikir positif saja. Apapun jawabannya nanti itu adalah jalannya untuk mengambil langkah selanjutnya. Buru-buru Bara mengetikkan balasan.


Bara : Bisa pasti bisa. Kapan kita akan bertemunya.


Arin : Bagaimana kalau hari Sabtu depan. Kita bertemu di depan Apotik yang didepan sekolah itu saja.


Bara : Tidak. Tidak saya jemput saja ke rumah ya. Nanti baru kita bicara di luar.


Arin : Tidak perlu Aa. Kita bertemu di luar saja.


Bara : Okelah kalau begitu. Jam berapa kita bertemu. Sabtu saya ada dinas. Mungkin pulang dinas pukul tiga sore.


Arin : Pas banget itu. Arin juga pulang jam segitu. Jadi kita bertemu pukul empat saja ya.


Bara : Baiklah. Hari sabtu jam empat sore depan apotek. Begitu kan. Deal ya.


Arin : Siap Aa. Eh Aa sudah makan belum. Ini sudah siang.


Bara : Ini saya lagi di kantin lagi menunggu pesanan. Kamu jangan juga jangan lupa Makan.


Arin : Baru saja selesai makan. Selamat makan Aa. Sudah cukup sampai di sini dulu ya. Bel tanda istirahat berakhir sudah berbunyi. Saya harus lanjut nguli dulu. Assalamu'alaikum


Bara : Silahkan. Hati-hati dalam bekerja ya. Jaga keselamatan kerja. wa'alaikumsalam.


Bara tersenyum. Apa yang dia nantikan beberapa waktu ini akan terjawab segera. Dia berharap Arin menerima semua perasaannya. Bara berharap dia tidak bertepuk sebelah tangan.


"Pak dokter, ini pesanannya."


Bara sampai tidak tidak mendengar suara pelayan yang membawakan pesanannya. Dia sedang fokus memandang ponselnya.


"Pak Dokter.."


Pelayan tersebut berbicara sedikit keras. Barulah Bara mendengarnya.


"Eh iya.."


Bara terkejut mendengar pelayan itu berbicara sedikit keras sambil menepuk tangan Bara.


"Maaf.. maaf. Pesanan saya sudah siap ternyata. Terima kasih."


Bara menerima pesanannya. Dia merasa malu karena ketahuan melamun. Bara berharap pelayan tadi tidak melihat isi pesan tersebut. Untung pelayan tersebut segera meninggalkan tempat itu.


Bara segera menikmati makanannya. Perutnya seketika menjadi sangat lapar. Dia segera menghabiskan makanan yang dipesannya. Tidak butuh waktu lama makanan itu habis. Biasanya dia butuh waktu lama saat makan. Mungkin terlalu menikmati.


"Pak dokter.. Pak Dokter."


Bara terkejut seorang perawat datang menghampirinya dengan terburu-buru.


"Iya ada suster. apa ada yang penting."


Nafas suster tersebut terlihat memburu. Mungkin dia tadi sampai berlari mencari Bara.


"Ada.. ada. Pasien.. yang kritis."


"Pasien yang mana Kamar berapa.."


Bara langsung bangun dari duduknya. Dia ikut panik.


"Sebentar pak Dokter saya ambil nafas dulu."

__ADS_1


Sang suster malah ikut duduk di depan meja Bara. Dia terlihat sangat cemas dan nafasnya ngos-ngosan. Suster itu mengambil botol air mineral punya Bara yang ada di atas meja. Kemudian meminumnya sampai habis. Tentu saja Bara terkejut. Namun membiarkan saja mungkin sang suster bener-bener kehausan.


"Eh.. maaf pak Dokter minum habis."


Suster tersebut baru sadar setelah botol tersebut kosong.


"Iya tidak apa-apa. Cepat sampaikan ada apa. Jangan biarkan saya menunggu. Pasien mana yang kritis."


"Astaghfirullah al adzim. Eh iya pak dokter pasien kamar anggrek nomer lima. Tadi saya disuruh mencari Dokter Bara . Dokter Rizal membutuhkan bantuan dokter Bara."


"Kalau begitu ayo lekas kita ke sana."


Bara segera bangkit dan berjalan cepat menuju kamar yang di bilang sang suster. Sang suster mengikuti dari belakang. Dia ketinggalan langkah Bara yang begitu lebar. Suster sendiri malah merasa Bingung. Capeknya belum hilang sudah berlari lagi. Hari ini hari yang melelahkan buat sang suster.


Bara harus segera tiba di kamar tersebut. Kalau sampai dokter Rizal meminta bantuannya, itu berarti keadaan sangat darurat. Karena dokter Rizal adalah dokter terbaik di rumah sakit tersebut. Tidak mungkin meminta bantuan kalau tidak terdesak.


🌸🌸🌸


Sore itu Fian pulang kerja dalam mode yang sangat lelah. Apa yang dia perkirakan belum juga terjadi. Malah pekerjaannya bertambah. Ternyata terjadi kebocoran keuangan di perusahaan nya. Ini akan membuat dia tinggal lebih lama lagi di perusahaan.


Sebenarnya Fian sudah curiga. Namun Adam selalu bilang tidak mungkin terjadi karena yang memegang jabatan direktur keuangan adalah teman dekat Adam.


Hal itu terbongkar karena secara tidak sengaja pak Hari mendengar percakapan direktur keuangan dengan temannya di telepon. Pak Hary yang datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan membuat sang direktur kurang waspada. Terjadilah hal yang dia takutkan.


Fian pulang sudah larut malam. Begitu banyak pekerjaan yang harus dikerjakannya. Fian harus teliti memeriksa semua laporan yang ada. Agar tidak ada lagi kesalahan dalam penghitungan dana masuk dan keluar.


"Heh capeknya. Berendam enak ni."


Itu kebiasaan Fian saat merasa capek. Mandi dengan air hangat dan aromaterapi membuat tubuhnya rileks kembali. Fian masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa ponselnya. Dia ingin menghubungi Andra. Dia rindu pada kakak satu-satunya tersebut. Sudah hampir satu bulan dia tidak berhubungan. Karena memang dia sangat sibuk. Pulang sudah sangat lelah dan langsung istirahat.


Entah mengapa hari ini Fian sangat merindukan sang kakak.


"Sudah pukul sebelas. Abang sudah tidur belum ya."


Fian mencari nomor kontak Andra. Setelah menemukan dia langsung memencet keyboard panggil. Namun beberapa saat menunggu belum juga di jawab. Bahkan Fian sudah mengulangnya dua kali belum juga di Jawab.


"Apa sudah tidur ya. Mungkin iya. Ini sudah malam. Ya sudahlah besok pagi saja."


Fian meletakkan ponselnya. Dia kembali menikmati air hangat dan aromaterapi. Fian memejamkan mata. Saking capeknya atau mungkin karena tubuh mulai rileks, lama-lama Fian tertidur. Dia tidak sadar kalau masih berada di dalam bathtub. Sering kali ini terjadi. Fian sering ketiduran di dalam bathtub.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Ada nada panggilan masuk. Namun Fian sedang pulas tertidur. Dia tidak mendengar suara ponselnya tersebut. Berkali-kali ponselnya berbunyi. Namun karena Fian tidak menjawab akhirnya suara itu berhenti juga.


Fian tersadar ketika tidak sadar dia tenggelam. Dia tidak bisa bernafas makanya dia terbangun. Fian gelagapan. Banyak air masuk di hidung nya.


"Astaghfirullah al Adzim.. Astaghfirullah.."


Fian masih beruntung dia segera sadar dan bisa terbangun dari tidurnya saat tenggelam. Kalau tidak pasti sangat berbahaya buat hidupnya.


"Kebiasaan deh gue ketiduran. Sudah jam berapa ini."


Fian membilas tubuhnya. Dia menyelesaikan mandinya dan segera berganti pakaian. Hari sudah larut malam dia harus segera beristirahat. Besok dia masih punya tugas menyelesaikan sisa pekerjaannya. Untung tadi langsung bisa diatasi sehingga tinggal menyisakan sedikit saja hal yang harus dia kerjakan.


Fian merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Dia sudah mau memejamkan mata. Namun dia teringat sesuatu.


"Kayaknya tadi pas gue tertidur ponsel gue berbunyi deh. Coba gue lihat."


Fian meraih ponselnya lagi yang dia taruh di atas meja dekat ranjang.


"Benar ada panggilan tak terjawab sampai sepuluh kali dari Andra.Ada apa ya. Tidak pernah bang Andra begini."


Fian mencoba menelpon balik Andra. Namun tidak ada yang menjawab juga. Berkali-kali dia berusaha menghubungi Andra dan tidak ada yang menjawab juga.


"Tidak biasanya begini. Apa terjadi sesuatu di Jakarta ya."


Perasaan Fian menjadi tidak nyaman. Dia menjadi gelisah. Dia berjalan mondar-mandir mengelilingi kamarnya. kemudian duduk dan sesaat kemudian berjalan lagi. Dia berpikir keras. Dia tidak ingin terjadi apa-apa pada keluarganya di Jakarta. Namun dia tidak dapat mendapatkan informasi yang dia inginkan.


"Eh.. iya coba gue telpon Arin. Siapa tahu dia tahu."


Tanpa pikir panjang Fian memencet nomer Arin dalam panggilan. Dia tidak berpikir kalau hari telah larut malam. Fian tidak sadar kalau dia akan terhubung kembali dengan Arin.


Akankah telepon Fian di jawab oleh Arin. Belum tidur kah Arin selarut ini.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2