
Arin hilang
Arin makan dengan lahap. Bunda tersenyum melihat cara Arin makan, seperti orang yang kelaparan. Padahal tadi sehabis magrib Arin sudah makan jatah dari rumah sakit. Bunda senang nafsu makan Arin tidak berubah. Bunda yakin tidak lama lagi pasti Arin bisa kembali sehat. Dan besok bisa pulang dari rumah sakit.
"Alhamdulillah Nak, nafsu makan kamu sudah kembali. Bunda senang. Teruslah seperti ini biar besok kamu bisa pulang." Bunda mengelus kepala Arin dengan penuh rasa sayang. Arin memandang bunda. dan bertanya.
"Bunda tadi dari mana?"
"Bunda diajak makan sama Dokter Bram dan Nak Bima. Mereka bertiga sangat baik hati ya Rin. Bagaimana kita membalas kebaikan mereka. Padahal kita baru saja kenal dengan mereka."
Bunda menerawang. Bunda merasa dunia ini sangat beragam. Di sisi lain ada manusia yang kebaikannya berlebih padahal baru saja kenal. Disisi lain ada orang yang sangat jahat. padahal dia sudah lama mengenal kita. Padahal dia adalah orang terdekat kita. Tetapi dia tega menusuk kita Dunia memang penuh misteri. Semua yang terjadi kadang tidak bisa diterima akal manusia. Kita sebagai makhluk hanya bisa menjalani dan menikmatinya.
Arin hanya diam mendengar perkataan bunda. Dia sedang fokus dengan makanannya.Tapi Arin mendengar semua yang bunda ucapian. Bukan tidak ingin memperhatikan tapi memang dia tidak ingin menjawab. Saat ini Arin belum siap untuk berpikir yang terlalu berat. Arin hanya ingin tersenyum, hal itulah yang sedang dia pikirkan. Arin mengingat semua ucapan Bara, jika terus tersenyum dan bahagia dia akan segera keluar dari rumah sakit.
"Bunda, makanan nya sudah habis, Arin sudah kenyang. Ini enak sekali bun, apa mungkin karena gratis."
Bunda tertawa mendengar perkataan Arin.
"Memang Rin yang gratis itu enak. Tapi jangan jadi kebiasaan meminta gratisan. Kita tidak tau keadaan dan kondisi keuangan orang yang kita mintai. Bisa jadi kerena ingin membuat kita senang, dia memaksakan diri untuk memenuhi permintaan kita."
"Iya bunda. Tadi kan kita ditawari bukan minta." Arin jadi cemberut.
"Iya sayang, walaupun ditawari tapi kita juga harus melihat kondisi juga. jangan main iya-iya aja." Bunda tersenyum. Dia tau banget seperti apa pribadi Arin. Bukan hanya Arin, tapi juga Rama dan Nia. Ketiga anaknya dididik untuk selalu bisa menempatkan diri pada kondisi yang sewajarnya.
"Sini bunda rapikan bekas makannya. Kamu mau ke kamar mandi tidak."
"Bunda, Maafkan Arin masih merepotkan bunda. Mau peluk bunda."
Bunda tidak jadi merapikan bungkus bekas Arin makan. Bunda mendekati Arin dan memeluknya erat.
"Tidak merepotkan sayang, kamu kan sedang sakit. Nanti kalau kamu sudah sehat pasti bisa sendiri. Makanya kamu cepet sembuh. Bunda sayang sama kamu Nak."
Mata bunda berkaca-kaca. Begitu juga dengan Arin. Kali ini Arin sudah mulai bisa mengendalikan diri. Arin teringat terus kata Bara. Tersenyumlah dan cepat pulang.
"Bunda, Arin pengen pipis."
Bunda menghapus airmata nya dan melepaskan pelukannya.
"Ayo bunda bantu. Bunda yang bawa infusnya."
"Iya bunda, maaf ya."
"Maaf terus. Satu kali lagi, bunda kasih gelas cantik."
"Hahaha... bunda sekarang sudah pintar becanda."
"Kan bunda suka mendengarkan pas kamu ngobrol bareng temen-temen kamu. Hehe.. "
"Ikh bunda pasti suka kepo ya. Sudah bunda di sini saja. Arin bisa sendiri di dalam."
Bunda memberikan botol infus pada Arin. Arin menutup pintu. Bunda menjauh untuk merapikan tempat tidur dan bungkus bekas makan yang belum sempat dia rapikan tadi. Bunda melihat jam. Ternyata sudah tengah malam. Tidak terasa waktu cepat berlalu.
Bunda menunggu Arin selesai . pasti akan memanggil dan membuka pintu. Sudah sepuluh menit Arin belum keluar. Bunda berpikir Arin buang air besar. Kemudian bunda duduk bersandar di sofa. Mungkin karena terlalu capek bunda ketiduran. Bunda lupa kalau Arin masih di kamar mandi, belum keluar dari tadi.
__ADS_1
Sudah satu jam Arin belum keluar juga. Belum memanggil bunda untuk membantunya kembali ke tempat tidur. Bunda masih tertidur bersandar di sofa. Tidak ada yang tau apa yang terjadi dengan Arin di kamar mandi.
🌸🌸🌸
Bram dan Bima langsung pulang setelah dari kamar Arin tadi. Mereka berdua tidak menginap lagi. Sedangkan Bara menuju ruangannya . Dia ingin makan. Mau makan bareng Arin tapi malu sama bunda. Sesampainya di dalam ruangan Bara langsung membuka bungkusan makanan yang dibelikan Bram tadi. Dia menikmati makanan itu. Dia makan dengan lahap karena memang dia sangat lapar. Tadi di rumah belum sempat makan. Bagaimana mau makan. Baru saja masuk rumah sudah ada panggilan untuk ke rumah sakit. Bara hanya sempet mandi saja.Tapi tidak apa-apa demi Arin. Demi orang yang dia sayangi.Walaupun belum tentu Arin membalas perasaan Bara Tapi Bara sudah bahagia bisa selalu bersama Arin dalam keadaan apapun.
Selesai makan dan membuang bungkusnya Bara beristirahat. Lumayan untuk mengistirahatkan badannya sejenak. Bara duduk bersandar di kursi nya. Bara kekenyangan. Lama-kelamaan matanya tertutup, Bara tertidur karena memang lelah dan mengantuk.
Belum lama tertidur Bara sudah terjaga. Seperti ada suara orang meminta tolong. Bara terkejut. Ini rumah sakit pasti akan ada suara- suara tak kasat mata mengganggu. Tapi Bara seperti mengenali suara itu. Suara itu hanya sekali terdengar dan sekarang sudah hilang. Bara masih menajamkan telinganya. Tak terdengar suara itu lagi . Mungkin hanya halusinasi pikir Bara. Karena masih mengantuk, akhirnya Bara merebahkan tubuhnya lagi. Dia benar-benar lelah. Dan dia langsung terlelap. Tidurlah dengan nyenyak Bara.
🌸🌸🌸
Arin masuk kamar mandi dan menggantung botol infus pada tempat yang telah disediakan. Untung toilet rumah sakit pakai yang duduk. Jadi Arin tidak bersusah payah untuk jongkok. Arin duduk dengan tenang. Dia sedikit merasa nyeri di bagian perut yang terluka. Mungkin karena belum kering benar jadi masih berasa sakit. Arin meringis. Tapi dia memang harus lakukan karena dia kepengen buang air besar.
Arin duduk bersandar dengan santai. Entahlah mungkin karena mengantuk Arin tertidur di kamar mandi dengan posisi duduk di closed. Cukup lama Arin tertidur. Tiba-tiba seperti ada suara orang memanggil namanya. Arin tersadar.
"Di mana ini." Arin melihat ke sekeliling. Dia lupa kalau masih di kamar mandi. Arin kebingungan. Dia panik. Arin berteriak.
"Bunda.. bunda... bunda"
Tapi tidak ada jawaban. Arin semakin panik. Dia semakin kebingungan. Kepalanya terasa pusing. Dia teringat Bara.
"Pak Dokter.. Pak Dokter."
Tapi tak ada jawaban juga. Arin kembali melihat ke sekeliling. Dia semakin kebingungan.
"Ini dimana. Tadi bukannya gue sedang makan ya. Tapi ini di mana."
Arin terus mengingat-ingat apa yang terjadi. Sekali lagi dia melihat ke sekeliling. Dia menarik nafas panjang. Arin ingin kata Bara. Terngiang di telinganya. "Jangan panik, tariklah nafas panjang. Teruslah lakukan berulang kali. Jika panik dan merasa takut tariklah nafas panjang."
"Ternyata ini di kamar mandi. Hehehe.. bisa ketiduran."
Arin tertawa sendiri. Dia bangkit dari duduknya dan membenarkan celana dan bajunya. Arin berjalan pelan keluar dari kamar mandi. Satu tangan memegang botol infus, tangan yang lain buat pegangan tembok. Arin mencoba membuka pintu tapi susah. Pintunya macet. Arin memanggil bunda.
"Bunda..bunda.. Bunda."
Arin menunggu sebentar.Tapi tak kunjung ada jawaban. Arin bingung harus bagaimana. Ini sudah dini hari. Apa dia harus tidur di kamar mandi. Arin memanggil sekali lagi.
"Bunda.. bunda.. bunda"
Arin menunggu lagi. Masih saja belum ada jawaban. Akhirnya Arin kembali duduk di atas closed. Daripada capek berdiri.
"Mungkin bunda sudah tidur. Ya sudahlah malam ini gue tidur di kamar mandi. Seperti kena hukum bunda saja. Hehehe..."
Arin berkata pelan. Dia tertawa sendirian. Merasa lucu saja. Malam ini dia harus tidur di kamar mandi. "Mungkin ini hukuman buat gue karena beberapa hari ini gue cengeng. Ya sudah nikmati saja. Toh kamar mandinya bersih dan wangi."
Arin diam sejenak. Dia memperhatikan keadaan kamar mandi. " Ini pasti mahal biaya rumah sakitnya. Kamar mandinya saja mewah seperti ini. Siapa yang membayar. Haduuhh apa gue harus berhutang lagi sama pak Dokter. Bagaimana cara membayarnya. Boleh dicicil kali ya. Hihihi.. "
Arin berkata sendirian. Membayangkan biaya rumah sakit yang pasti mahal, dia merinding.
"Apa gue harus membayar dengan tubuh gue. Ga..ga.. gue pasti bisa mencari uang. Gue pasti bekerja keras untuk bisa mendapatkan uang untuk biaya rumah sakit."
Arin berbicara sendirian untuk mengusir sepi. Rasa kantuknya hilang seketika. Mungkin dia tadi tertidur cukup lama. Apa dia harus menunggu pagi. Baru bisa keluar.
__ADS_1
"Bunda, kenapa memilih kamarnya yang mahal sih, Bagaimana cara kita membayarnya. Apa Arin harus bekerja seumur hidup untuk membayar biaya rumah sakit ini. Apa hasil kerja Arin hanya untuk diberikan pada pihak rumah sakit. "
Arin jadi termenung. Dia menjadi bingung. Dari kemarin saat sadar dia belum menyadari kalau dia di rawat di kamar vvip. Beda dengan kamarnya dulu, tiga tahun yang lalu saat dia dirawat. Tapi semua sudah terlanjur. Arin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Uang tabungan dia hanya sedikit. Ditambah uang yang dari Bara. Arin menghitung semua total uangnya.
"Cukuplah buat DP. Buat jaminan dulu. Lagian ada pak dokter kan kenal nanti bisa bilang kalau kenal baik sama Dokter Bara Dan Dokter Bram begitu. Tapi memang bisa mereka jadi jaminan. Hehehe.. Akhh bunda. Arin bingung."
Pikiran Arin malah kacau. Kepalanya mulai berdenyut. Lukanya terasa sakit. Mungkin karena banyak berfikir jadi semua semakin terasa sakit.
"Ya sudahlah. sudah terlanjur. Pikir belakangan saja. Semoga ada keringanan dari pihak rumah sakit. Semoga ada malaikat yang baik hati mau menolong gue."
Arin diam lagi. Dia menerawang memandang ke atas langit-langit kamar mandi. Dia hanya bisa pasrah. Semua sudah terjadi. Dia menarik nafas panjang. Dadanya mulai terasa sesak. Dia ingat lagi kata Bara. Tidak boleh banyak berpikir. Dia menghela nafas panjang lagi.
Bagaimana tidak boleh berpikir kalau beban hidupnya begitu berat. Bagaimana tidak boleh berpikir kalau semua serba penuh keterbatasan. Dia yang hanya rakyat biasa, kenapa cobaan datang silih berganti.
"Arin kuat.. Arin kuat. Arin bisa. Semua pasti ada jalannya. Allah tidak akan memberi cobaan melebihi kekuatan makhluknya."
Arin diam lagi. Dia sedang menyemangati dirinya sendiri. Dia selalu ingat pesen Bara. Dan ternyata semua efektif. Arin tidak pingsan lagi. Walaupun dadanya masih terasa sesak bila mengingat semuanya tapi sekarang sudah lebih ringan. Sudah lebih baik dari kemarin.
Lama kelamaan Arin kecapekan juga. Dia akhirnya tertidur juga dalam posisi duduk di closed sandaran dinding.
🌸🌸🌸
Fajar sudah terlihat di ufuk timur. Sang bintang fajar bersinar begitu terang. Langit masih gelap. Suara ayam jantan bersahutan. Semburat jingga terlihat indah di langit sebelah timur. Pertanda sebentar lagi pagi segera tiba. Suara orang mengaji sudah terdengar. Adzan subuh akan segera berkumandang. Orang-orang mulai terbangun dari mimpinya. Dan memulai aktivitas masing-masing.
Tak terkecuali bunda. Bunda terbangun saat adzan subuh berkumandang. Bunda mengucek matanya. Nyawanya belum terkumpul. Dia masih memastikan ada di mana. Bunda melihat ke sekeliling. Dia ingat masih berada di rumah sakit. Bunda belum sadar jika Arin tidak ada di tempat tidurnya. Setelah sejenak melemaskan ototnya setelah tidur, Bunda bangun. Bunda melihat ke arah tempat tidur Arin. Dan melihat tempat tidur itu kosong. Bunda kaget. Bunda panik.
"Arin.. Arin.. Arin.. Di mana kamu Nak."
Bunda tidak Ingat apapun saking paniknya. Bunda berlari keluar tapi Arin tidak terlihat. Akhirnya bunda memencet tombol saklar memanggil dokter. Beberapa kali di pencet belum ada dokter ataupun petugas lainnya yang datang. Tak ada satupun yang datang. Mungkin semua sedang melaksanakan sholat subuh. Jadi tidak ada yang datang sama sekali. Bunda semakin panik. Bunda berlari keluar dia mencari di sepanjang koridor. Tapi tidak juga bisa menemukan Arin. Bunda kebingungan. Dia melihat ke segala arah. Tidak ada juga. Bunda lemas. Bunda jatuh terduduk di lantai koridor. Bunda kebingungan.
Dari kejauhan tampak Bara berjalan sendirian. Dia habis dari mushola untuk sholat subuh. Dilihatnya bunda duduk di lantai. Bara mendekati bunda.
"Bunda kenapa. Kok duduk di sini. Apa yang terjadi. Bunda kok menangis?"
Bara melihat kondisi bunda yang berantakan ikut panik.
"Arin.. Arin. Tidak ada di tempat tidurnya. Arin hilang." Jawab bunda dengan terbata-bata. Air mata nya sudah membasahi pipi. Bunda sudah berpikir macam-macam.
"Bunda.. Bunda. Dengar saya. Bunda jangan panik. Ayo saya bantu bangun dulu. jangan duduk di lantai."
Bunda bangun dari duduknya. Dia kemudian duduk di bangku yang ada. Bunda masih menangis . Dia sangat takut Arin hilang kemana.
"Pak dokter.. tadi pas bangun subuh, saya tidak melihat Arin di tempat tidur nya . Arin kemana ya. Arin hilang. Hiks..hiks.. hiks."
"Arin hilang, yang bener bunda. Kok bisa. Arin pergi kemana ya." Bara ikut panik tapi tidak dia tunjukkan ke Bunda.
Bunda mengangguk. Bunda sudah tidak bisa berkata-kata. Bunda sangat sedih. Bunda juga bingung. Kemana perginya Arin. Semalam bukannya Arin tidur, Kenapa pagi hari sudah tidak ada. Arin dimana kamu berada. Kamu pergi kemana.
Arin dimana ya.
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan like dan komen.
__ADS_1
Terima kasih❤️❤️❤️❤️❤️