Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 85


__ADS_3

Malam itu suasana di meja makan sangat hening. Tak ada satu orangpun ingin membuka percakapan. Hanya suara sendok dan garpu yang terdengar saat beradu. Andra terlihat tidak nafsu makan. Dia hanya mengaduk-aduk makanannya. Sedangkan Fian terlihat sangat menikmati. Dia mengunyah perlahan makanannya, seperti diitung. Sedangkan papa makan seperti biasa. Mama juga demikian. Mama makan seperti biasa walaupun ada sedikit terlihat kesedihan di wajahnya.


"Abang kok makanannya cuma di aduk. Enak tau."


Fian melihat ke arah Andra yang terlihat muram. Andra diam saja. Dia masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi sebenarnya. Fian mau kemana sebenarnya. Tidak ada satu orangpun yang mau memberi penjelasan.


Tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk.


Tok... tok.. tok..


"Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumsalam.."


Jawab mereka berempat bersamaan. Fian bangun bersamaan dengan mama yang ingin membukakan pintu.


"Biar mama saja. Kamu teruskan makan kamu."


"Iya ma.."


Fian kembali duduk. Tapi dia masih melihat ke arah mama yang berjalan ke arah depan untuk membuka pinta. Fian dan semuanya pasti ingin tau siapa yang datang. Andra yang terlihat hanya mengaduk makanannya dari tadi. Dia masih saja melakukan itu.


"Fian kamu udah selesai belum. Jemputan kamu sudah datang."


Mama kembali saat Fian memasukan suapan terakhir. Setelah menelan makanan terakhirnya, Fian minum air putih yang ada di gelas samping piringnya


"Sudah ma.."


Fian bangkit dari duduknya. Dia berjalan ke arah ruang tamu.


"Pak Adam.. Bapak sendiri yang menjemput. Maaf merepotkan."


Yang di sapa langsung menoleh ke arah Fian.


"Tidak Nak Fian. Sekalian biar bisa kenalan sama orang tua kamu."


Fian mengangguk. Papa yang mendengar nama Adam terkejut. Dia kenal seseorang yang bernama Adam. Apakah orang yang sama dengan kenalannya.


Papa ikut bangkit menyusul Fian . Tentu saja ingin memastikan juga siapa Adam yang datang sebagai tamunya. Andra yang melihat semua orang pergi ikut menyusul ke ruang tamu, Dia juga ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat ini.


Sampai ruang depan, Papa menghentikan langkahnya. Papa menatap tak percaya pada orang yang duduk di depan Fian.


"Adam.."


Adam menoleh. Mencari sumber suara yang memanggil namanya. Suara yang tak asing di telinganya. Walaupun sudah dua puluh tahun tidak bertemu, namun suara itu sangatlah dikenalinya. Suara sahabatnya yang telah terpisah lama.


"Tejooo.."


Adam bangkit dari duduknya. Sedangkan Papa berjalan mendekati Adam. Mereka berdua bersalaman dan saling berpelukan.


"Maafkan saya Adam.. Maafkan saya."


Tejo terkejut. Dia tidak tau ada apa yang sebenarnya.


"Ada apa.. kenapa minta maaf?"


Adam terdiam. Lalu duduk kembali ke tempat semula. Demikian juga dengan papa . Papa mengambil tempat duduk di sebelah mama. Fian dan Andra hanya saling pandang.


"Jadi benar kamu anak Sutejo sahabat saya Fian."


"Bapak kenal dengan papa saya?" Tanya Fian antusias. Dia tentu saja tidak menyangka.


"Iya Fian. Adam ini sahabat papa sejak SMP. Kita sudah tidak bertemu selama dua puluh tahun. Terpisah karena papa pindah tugas."


"Dan akhirnya karena Fian kita bisa bertemu lagi jo. Hahaha.. masih ingat panggilan ini kan.."


"Tentu masih inget...."


Tiba-tiba papa termenung. Raut mukanya terlihat sedih.


"Seandainya..."


"Maafkan saya jo.. Ini salah saya..."


"Maksud kamu apa. Kamu salah apa sama saya.." Papa terlihat terkejut dengan ucapan Adam. Papa memandang Adam dengan tajam. Seolah ingin menerkam Adam.


"Maafkan saya. Tapi hari ini saya belum bisa memberi penjelasan. Aku harus membawa anakmu ke Surabaya. Kita berdua sudah terikat kontrak. "


"Adam.. kenapa tidak bisa. Jangan membuat saya penasaran.."


"Maafkan saya.... Belum waktunya semua terbuka sekarang. Penerbangan jam sepuluh. Tidak bisa ditunda lagi."


Adam bangkit dari duduknya.


"Ayo Fian kita berangkat..Kita tidak punya waktu lagi.."


Fian ikut bangkit dan segera menyeret kopernya ke luar. Papa masih terlihat tegang. Andra hanya diam menyimak. Begitu juga mama.


"Tunggu dulu Adam... Tidak bisakah kamu menjelaskan sekarang."


"Maaf Jo.. Tidak bisa. Ini semua sudah kesepakatan Hari dan juga Santoso.."

__ADS_1


"Jadi... kalian semua bersekongkol. Kalian gila.. kalian jahat."


Papa mengebrak meja. Papa terlihat marah sekali.


Adam berbalik. "Maafkan aku.. Tiga bulan lagi aku kembali. Akan aku jelaskan yang sebenarnya terjadi. Ayo Fian kita berangkat."


"Tapi Om.. Papa.."


Fian terlihat bimbang. Dia tidak ingin menduga ada cerita apa dibalik perdebatan Papa dan Adam.


"Om Adam.."


Adam berhenti mendengar namanya dipanggil seseorang.


"Ya.. kamu Andra kan."


"Om.. sebenarnya ada apa. Adik saya mau dibawa kemana?"


"Tenang saja. Kalian tidak usah khawatir. Aku butuh Fian selama tiga bulan saja. Setelah itu akan aku kembalikan beserta penjelasan tentang yang terjadi dua puluh tahun silam."


"Sebenarnya ada apa. Saya semakin tidak mengerti. Pa.. Ma.. Om. Tak adakah yang bisa memberi penjelasan."


Andra memandang mereka bergantian. Meminta penjelasan atas semua yang mereka ucapkan.


"Maafkan Om, Ndra. Belum saatnya semua terbuka. Tejo.. saya pinjam Fian selama tiga bulan. Tenang saja saya tidak akan melukai Ataupun membuat Fian menderita."


"Maksud Om Adam bagaimana. Katanya saya mau dikuliahkan di Surabaya."


"Benar Fian. Saya tidak bohong soal itu." Adam berjalan keluar rumah. Menuju mobilnya yang berada di halaman. Namun baru dua langkah terdengar suara Maria memanggil namanya.


"Adam..."


Mama yang dari tadi diam kini membuka suara. Dari tadi dia menyimak pembicaraan ini. Adam berhenti dan menoleh ke arah Mama.


"Ya.. kamu Maria kan."


"Iya.. Dari tadi saya cuma menyimak. Dan mengingat sesuatu. Jadi yang di rumah sakit.."


"Cukup Maria.. belum saatnya semua terbuka sekarang. Jika saatnya sudah tiba, semua akan terbuka."


Andra dan Fian semakin bingung. Ada rahasia apa di masa lalu mereka.


"Om.. ada apa sebenarnya. Tidak bisakah dijelaskan sekarang." Fian ikut menyela ucapan Adam. Dia merasa sangat penasaran.


"Sebentar lagi Fian. Kita ke Surabaya dulu. Maaf Tejo, Maria dan Andra Kami pergi dulu. Saya jamin keselamatan Fian. Ayo Fian. Nanti kita ketinggalan pesawat."


🌸🌸🌸


"Eh ..."


Jadi tadi semua hanya khayalannya saja. Ternyata Fian dan keluarganya sedang menikmati makan malam.


"Habiskan dulu makanannya. Yang jemput kamu belum datang ya."


"Ga tau juga ma. Mungkin sebentar lagi."


Fian terdiam lagi. Fian memikirkan lagi lamunannya barusan. Fian merasa bingung, kenapa tiba-tiba dia melamunkan hal yang aneh. Ada apa sebenarnya. Apa mungkin ini firasat. Bahwa yang sesungguhnya memang ada peristiwa yang melatarbelakangi.


"Itu seperti suara mobil berhenti. Fian buka pintu dulu ya Ma."


Fian beranjak dari duduknya. Dia segera menuju ke depan. Saat Fian membuka pintu terlihat seorang yang dikenalnya sudah berdiri di depan pintu.


"Bang Somad, sendirian kah."


"Iya mas Fian, Bapak sudah berangkat duluan. Bapak menunggu di Bandara."


"Masuk dulu Bang, Aku siap-siap sebentar."


Bang somad masuk ke dalam rumah. Bang Somad adalah supir Adam. Dia biasanya bertugas di toko. Fian sudah mengenal baik bang Somad.


"Ma, Pa, bang, Yang menjemput sudah ada di depan. Fian berangkat ya."


Mama dan Papa bangun dari duduknya. Mereka menuju ruang tamu untuk menemui orang yang menjemput Fian. Sedangkan Andra masih diam di meja makan.


"Bang.. "


"Ya.."


"Abang kenapa. Tidak mau ikut mengantar gue kah?"


Andra bangkit dari duduknya. Dia berjalan ke arah Fian .


"Sebenarnya lo mau kemana sih. Kenapa tidak bicara apapun sama gue. Lo menganggap gue apa?"


"Dih Abang lagi sensi ya. Gue hanya mau lanjut sekolah di kota lain bang. Dan juga ada tawaran pekerjaan yang menarik di sana."


"Lo ga jujur sama gue. Ada yang ditutup- tutupi kan?"


"Beneran bang. Gue tidak bohong." Fian memeluk Andra. Fian tahu kalau Abang ga mau kalau sampai dia pergi. Makanya Fian tidak memberitahukan semua pada Andra.


"Baiklah Fian. Lo baik-baik disana. Selalu jaga kesehatan. Jangan telat makan."

__ADS_1


"Iya bang, tentu. Pasti. Gue akan ingat itu semua. Gue pamit ya. Gue tidak lama kok. Jaga mama dan papa. Dan juga diri abang sendiri."


Fian dan Andra melakukan tos. Biasa salam anak muda selalu begitu. Mereka gengsi untuk berpelukan.


" Mama, Papa, Fian berangkat ya. Maafkan kalau Fian selalu merepotkan mama dan papa."


Fian mencium tangan kedua orang tuanya bergantian. Mama terlihat berkaca-kaca.


"Iya Fian. Hati-hati."


"Iya ma. Mama jaga kesehatan ya. Papa juga."


Fian mengangkat kopernya dan membawanya ke mobil. Dia kemudian masuk dan duduk di kursi depan bersama Somad. Fian melambaikan tangan pada keluarganya.


Terasa berat meninggalkan keluarganya. Selama ini Fian belum pernah hidup jauh dari keluarganya. Baru kali ini dia merasakan perpisahan yang terasa menyakitkan. Tapi ini sudah keputusannya. Ini sudah tekadnya untuk belajar hidup mandiri. Fian harus sanggup menjalaninya.


Sepeninggal Fian, Andra masih terdiam duduk di kursi teras. Dia memandangi mobil Fian sampai tidak terlihat. Dia akan hidup sendiri tanpa saudara yang selama ini selalu menemaninya dalam keadaan apapun.


Rumah pasti akan terasa sepi. Dulu saja berdua sepi, Apalagi sekarang,dia hanya sendirian. Pasti Andra akan merasa kesepian.


Akhirnya Andra masuk ke dalam rumah setelah beberapa saat duduk termenung di teras. Saat dia mau ke dapur untuk mengambil minum, dilihatnya mama sedang duduk melamun di ruang makan. Andra mendekati sang mama.


"Ma.."


"Eh.. Apa Andra."


Mama terlihat terkejut. Mama mengangkat wajahnya memandang ke arah Andra. Terlihat setetes air mata jatuh. Buru-buru mama menghapusnya. Andra mendekati mama dan duduk di kursi depan Mama.


"Benar Fian pergi karena ada pekerjaan di sana? Bukan karena untuk menghindar dari Arin?"


Mama terdiam mendengar pertanyaan Andra. Mama bingung mau menjawab apa. Tidak mungkin mama jujur menjelaskan perjanjiannya dengan Fian. Mama menarik nafas dalam.


"Benar Andra. Ternyata selama ini Fian kuliah sambil bekerja. Dan atasannya memberikan kesempatan beasiswa di Surabaya sekalian mengembangkan pekerjaannya di sana."


"Mama tidak bohong sama Andra kan?"


Mama terkejut mendengar pertanyaan Andra. Mama memandang Andra tajam. Andra tidak pernah seperti ini. Andra selalu lemah lembut.


"Maksud kamu apa? Kamu pikir mama tidak sedih dengan kepergian Fian. Fian juga anak mama. Selama ini mama memang terlalu keras padanya."


Mama berusaha menyembunyikan kesedihannya. Satu tetes air mata jatuh lagi di pipinya.


"Maafkan Andra, Ma. Andra tidak bermaksud begitu. Kepergian Fian yang tiba-tiba membuat Andra berpikir bahwa semua ini karena Mama tidak pernah merestui hubungan Fian dan Arin."


Mama tidak menjawab. Mama menarik nafas panjang. Mama tau kalau Andra pasti pernah mendengar ucapan mama saat mengumpat Arin.


"Andra, apa Mama salah jika tidak menyukai anak itu."


"Tidak Ma. Cuma Andra heran. Apa alasan Mama tidak menyukai Arin."


"Nanti kalau saatnya tiba Mama akan memberitahu. Saat ini Mama belum siap."


Mama berdiri dan berjalan ke arah kamarnya. Sepertinya Mama tidak ingin meneruskan percakapan ini.


"Ma.."


"Ada apa lagi?"


Mama menghentikan langkahnya. Namun tidak berbalik.


"Sampai kapan Mama menyembunyikan semua ini?"


Andra ikut bangun dan mendekati sang Mama.


"Sampai waktunya tiba."


Mama kembali melangkah dan membuka pintu. Sebelum masuk kamar mama berbalik dan berkata.


"Jangan pernah membahas ini lagi. Dengar kamu Andra."


Mama berbalik dan menutup pintu dengan keras. Setelah itu tidak terdengar suara apa-apa lagi.


"Sampai kapan akan seperti ini Ma. Andra tidak tau harus bagaimana."


Andra menyandarkan tubuhnya ke dinding. Perasaannya sangat tidak karuan. Kenapa misteri ini belum juga terungkap. Sampai kapan mamanya menyembunyikan semua ini. Sampai kapan mamanya hidup dalam kebencian yang tak berujung.


Akhirnya Andra melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Dia kembali ke kamarnya. Namun di depan pintu kamar Fian, Andra berhenti. Dia membuka pintu kamar dan masuk ke dalamnya.


Andra melihat ke sekeliling kamar. Baru beberapa menit dia ditinggalkan sang adik. Namun rasa rindu itu sudah datang menyeruak ke dalam hatinya. Hubungan darah dan persaudaraan tak akan bisa membohongi kenyataan yang ada.


Andra berbaring di tempat tidur Fian. Dia masih mencium aroma tubuh Fian. Seberat inikah perpisahan. Seberat inikah melepaskan sang saudara menuntut ilmu. Seandainya tidak ada kejadian yang melatarbelakangi hal ini, mungkin tidak akan terasa berat seperti ini. Bahkan Andra akan mendukung seratus persen buat cita-cita sang adik.


"Semoga lo kuat menjalani ini semua Fian. Semoga semua yang lo inginkan tercapai."


Akhirnya Andra tertidur di tempat tidur Fian, setelah lelah memikirkan semua yang terjadi hari ini.


Semoga esok hari semua menjadi baik-baik saja. Semoga esok hari bisa terjawab semua pertanyaan dihati nya. Semoga esok hari terpecahkan semua misteri kehidupan.


Suatu hal jika terlalu dipikirkan akan terasa semakin berat. Biarlah semua berjalan sebagaimana mestinya.Berlalu seperti apa adanya dan terjadi seperti yang seharusnya. Kita hanya harus bersiap untuk menghadapinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2