
Malam ini terasa begitu panjang buat Arin. Dia tidak bisa memejamkan mata sedikitpun. Ada banyak hal yang sedang dia pikirkan. Skripsinya yang belum selesai juga sedikit mengganggu pikirannya. Padahal sudah dua bulan dia kerjakan. Beruntungnya dosen pembimbingnya sangat baik. Dia benar- benar bisa membantu tugasnya tersebut.
Ya Bima benar-benar bisa menjadi pembimbing yang sangat berguna buat Arin. Dalam waktu dua bulan Arin sudah menyelesaikan beberapa bab. Ini juga karena Arin sangat bekerja keras. Dia tidak ingin menunda-nunda waktu. Tekadnya tahun ini dia Harus sudah menyandang gelar sarjana.
Arin teringat pernyataan Bara malam itu. Arin bukan tidak memikirkannya
Namun dia masih bingung mau menjawab apa. Dia tahu Bara menyukainya dari sikapnya yang penuh perhatian. Arin sebenarnya tidak keberatan tentang hal itu. Arin pura-pura tidak tahu. Namun setelah semua diungkapkan, semua menjadi berbeda. Ada rasa sungkan dalam setiap hal yang mau dikerjakan.
Ada sesuatu yang harus dia putuskan. Tidak mungkin kalau dia tidak perduli dengan perasaan Bara. Paling tidak Arin juga harus memberikan jawaban.
Dia juga tidak ingin memberi harapan palsu pada Bara. Tidak ingin Bara salah juga menilai dirinya.
Ada hal yang harus dia pastikan Terlebih dahulu. Tentang perasaannya ke Fian. Arin masih tidak tahu ke mana arah hubungannya ke Fian. Arin tahu Fian juga menyukainya. Bukan Arin mengada-ngada. Tapi itu kenyataannya. Dari semua sikap Fian selama ini dan juga kata-kata Fian. Nami jika Arin bertanya pada Fian jawaban selalu yang tidak meyakinkan.
"Kalau kita jodoh pasti kita akan bersatu."
Selalu itu yang Fian katakan.
Arin terlanjur berjanji pada Bara untuk menjawab pernyataannya. Walaupun sebenarnya dia sendiri belum yakin. Arin hanya pasrah pada spontanitas apa yang ada di pikiran nanti saat dia bertemu. Namun Arin akan melaksanakan sholat istikharah dulu, sebagai kekuatan untuk mengambil keputusan.
Bagi Arin urusan hati bukan hal main-main. Baginya untuk seumur hidup. Jadi dia harus memikirkannya matang-matang.
Arin merebahkan tubuhnya ke ranjang. Ini hari kamis.Tubuh dan pikiran nya merasa lelah. Biasanya dia suka bercerita kepada Fian kalau ada masalah. Tapi sekarang Fian entah kemana tak tahu tanpa kabar sama sekali. Arin tak tahu harus bercerita sama Siapa lagi.
Masih ada waktu dua hari untuk memikirkan jawaban apa yang akan diberikan pada Bara. Dia tidak ingin Bara menunggu lama. Arin ingin cepat menyelesaikan semuanya.
Arin tidur terlentang memandang langit-langit kamarnya. Banyak kilasan kejadian bermunculan di kepalanya. Kejadian-kejadian saat bersama Fian di masa kecil, berseliweran di otaknya. Begitu banyak kenangan indah bersama Fian. Belum lagi beberapa kenangan yang sangat ingin Arin lupakan.
Semua mengganggu pikirannya. Arin tidak tahu harus bagaimana sebenarnya. Entah mengapa dia punya keberanian mengajak Bara bertemu untuk memberi jawaban. Padahal dia sendiri tidak tahu jawaban apa yang akan dia berikan.
"Aa.. gue harus bagaimana. Kenapa Aa harus mengungkapkan perasaan Aa. Gue bingung Aa. Aa terlalu baik buat gue. Gue ga mau mengecewakan Aa."
Arin berbicara sendiri. Seolah Bara ada di depannya. Dia benar-benar merasa serba salah.
"Fiaannn... di mana lo? Lo ga kangen gue kah? Kenapa lo pergi begitu saja. Kenapa lo tak memberi sedikit pun kabar. Gue butuh lo Fian."
Arin meninju bantal dengan keras. Untung bantal empuk. Jadi dia tidak merasa kesakitan. Arin memandang jam dinding yang ditempel di dinding kamarnya. Ternyata sudah pukul dua belas. Sudah tengah malam. Tapi sedikit pun dia belum bisa memejamkan mata. Tiba-tiba terdengar ponselnya berbunyi. Ada nada panggilan terdengar.
"Siapa malam-malam begini telpon. di angkat ga ya. Tapi siapa tahu penting. Semoga bukan orang iseng."
Arin mengambil ponselnya. Tertera nomer yang tidak Arin kenal. Namun entah mengapa dia memencet tombol hijau. Jemarinya spontan memencetnya dan menjawab telepon tersebut.
"Halo .. Assalamu'alaikum.."
Namun tidak ada jawaban. Arin melihat ponselnya. Dia mengamati nomer tersebut. Tapi dia merasa yakin kalau dia mengenal pemilik nomer tersebut.
"Halooo.. siapa di sana. Tidak mau menjawab gue matiin ni.."
Masih saja belum ada jawaban. Arin sedikit jengkel tapi penasaran juga. Malam-malam begini menghubunginya.
"Apa orang iseng. Tapi perasaan gue kok gini amat ya. Hati gue kok jadi deg-degan ya."
Arin akhirnya memutuskan panggilan tersebut. Karena tidak ada jawaban dari si penelpon. Arin meletakkan ponselnya di atas bantal. Arin mencoba untuk tidur. Dia harus bisa tidur. Dia harus bekerja besok. Dia harus bisa istirahat malam ini. Agar tubuhnya kembali bugar besok pagi. Namun matanya masih susah diajak untuk tidur. Dia masih kepikiran siapa yang menelponnya tadi.
Arin kembali mengambil ponselnya. Dia melihat kembali nomer si penelepon. Arin berharap orang tersebut menghubunginya lagi. Arin masih memegangi ponselnya sampai rasa kantuk itu datang menyerang. Perasaan menjadi tenang setelah dia menjawab telepon tadi. Seperti ada sesuatu energi yang masuk ke tubuhnya. Akhirnya dia tertidur masih sambil menggenggam erat ponselnya. Bahkan tergenggam erat seolah tidak ingin di lepaskan. Seolah ponsel itu memberikan kekuatan yang sangat besar, yang berpengaruh dalam hidupnya.
🌸🌸🌸
Malam yang di kediaman Fian. Fian juga belum bisa tidur setelah mandi berendam tadi. Memang benar tubuhnya menjadi bugar setelah berendam dengan aromaterapi. Segala beban pikiran serasa berkurang walaupun sebenarnya tidak. Namun memang tubuh menjadi lebih ringan.
Fian memainkan ponselnya. Dia melihat ada panggilan dari Abangnya yaitu Andra. Ada tiga panggilan tak terjawab.
"Jadi tadi bang Andra menelpon gue. Malam begini. Eh iya tadi kan gue menelpon duluan. Bego gue bisa lupa. Coba deh gue telpon balik."
Fian mencoba menghubungi nomer Andra. Namun tidak ada yang menjawab juga. Beberapa kali dia mencoba, namun tidak ada jawaban juga.
Fian mencari nomor kontak lain. Tak sengaja berhenti di nomer kontak Arin. Dia pandangi nomer telepon itu.
"Sedang apa lo Rin, Sudah tidur apa belum. Semoga kamu bisa tidur nyenyak."
Namun tak sengaja Fian memencet nomor tersebut dalam mode panggil. Dan ternyata tersambung. Dan ternyata di jawab oleh yang punya nomor. Fian kebingungan. Terdengar suara di seberang.
__ADS_1
Dia terhenyak. Fian terkejut mendengar suara itu. Suara yang telah dua bulan ini dia rindukan. Suara yang sangat dia rindukan. Suara gadis yang sangat disayanginya.
Namun Fian tidak bisa berkata-kata. Lidahnya terasa kelu. Dia tidak sanggup menjawabnya. Fian hanya termangu dalam diam. Menikmati suara merdu dari si gadis. Terdengar suara yang sedang mengomel di seberang karena diabaikan. Fian tersenyum. Dia merasa bahagia bisa mendengar suara itu lagi. Sayangnya itu tidak berlangsung lama. Karena mungkin dia jengkel Fian tidak juga mengeluarkan suara.
Ini memang murni kesalahannya. Dia yang dengan sengaja meninggalkannya walaupun dengan tujuan yang sangat penting. Namun tetap dia bersalah.
Salahnya dia sama sekali tidak pernah menghubungi nya. Salahnya dia yang meninggalkan seorang gadis yang sangat disayanginya.
"Arin, gue rindu sama lo."
Ucap Fian pelan. Dia merasa sedih. Haruskah dia seegois ini. Haruskah dia mengorbankan perasaannya demi hal yang belum pasti. Harusnya Fian jujur pada Arin tentang kepergiannya. Harusnya Fian bilang terus terang tentang sesuatu yang dia dengar tentang dirinya dan Arin.
Pasti semuanya tidak akan seperti ini. Pasti saat ini dia masih bisa berbincang dengan Arin. Masih bisa berkomunikasi dengan Arin. Masih bisa mendengar suaranya yang merdu.
Fian memandang nomer kontak Arin. Ada rasa bahagia dan sedih sekaligus. Bahagia karena bisa mendengar suara Arin. Namun juga sedih karena itu malah membuatnya semakin merindukan Arin.
Fian menggenggam ponselnya dengan erat. Seolah tidak ingin dilepaskan. Seolah dia sedang menggenggam Arin Seolah dia bisa mendapatkan diri Arin.
Lama kelamaan matanya terpejam. Rasa kantuknya datang. Seolah suara itu memberi kekuatan pada dirinya untuk lebih semangat menjalani kehidupan selanjutnya.
Namun baru beberapa saat dia tertidur terdengar samar-samar suara orang mengetuk pintu.
Tok.. tok.. tok.
"Fian... Fian.. bangun. Kamu sudah tidur."
Fian mendengar semua itu seolah seperti mimpi. Dia malah semakin pulas. Padahal benar di depan rumahnya berdiri dua orang yang ingin mengunjunginya. Terdengar suara pintu di ketuk lagi. Kali ini lebih keras.
Tok... tok... tok..
"Fian bangun... Fian cepat bangun."
Fian terkejut. Dia tidak langsung bangkit dia dengarkan dulu secara seksama. Benar atau tidak ada yang sedang mengetuk pintu.
"Fian... fian.. Di rumah apa ga sih. Tidur nya pules kali Mas."
Terdengar suara orang bercakap-cakap. Fian seperti mengenali dua suara tersebut.
Fian akhirnya bangun. Dia berjalan ke depan. Memutar anak kunci. Belum juga pintu terbuka lebar sudah terdengar suara orang mengomel.
"Lama sekali kamu membuka pintunya. Cepat bersiap. Kita pulang ke Jakarta. Ada yang penting yang harus kita lakukan di Jakarta."
Fian terhenyak. Ingin dia marah mendengar suara itu. Seenaknya saja malam-malam menyuruhnya berkemas. Dia baru tidur sebentar juga.
"Ada apa Om. Tidak bisa kah ditunda besok pagi. Fian belum juga tidur."
"Tidak bisa. Harus sekarang. Cepat Fian. Tidak ada waktu lagi. Kita harus segera ke bandara. Pesawat berangkat jam lima pagi."
Fian merasa geram. Namun dia tidak bisa menolak.
"Apa yang terjadi Om. Tidak bisakah kalian jelaskan terlebih dahulu."
Adam dan Hary saling pandang. Namun mereka berdua menggelengkan kepala.
"Sudah ayo menurut saja. Ada yang darurat di Jakarta. Kita tidak punya waktu lagi. Kita harus seger berangkat." Hary ikut berbicara melihat Fian yang hanya diam saja.
"Cepat Fian. Tidak usah mempersulit keadaan. Kenapa kalau tidak usah banyak tanya. Menurut saja juga tidak akan rugi." Omel Adam.
Adam masuk ke dalam rumah dan mengambil koper Fian . Dia memasukan Semua barang-barang Fian ke dalam koper tersebut dengan cepat. Fian hanya melongo.
"Ada apa sebenarnya. Katakan Om. Om Adam .. Om Hary. Kalian tidak bisa seperti ini."
Adam melemparkan satu setel pakaian kepada Fian. "Ini pakai.. cepat Fian . Nanti kita ketinggalan pesawat."
"Katakan dulu ada apa Om."
"Tidak usah banyak protes. Jadi anak penurut kenapa sih."
Adam menarik Fian ke dalam mobil. Sebelum itu dia lempar tas ransel milik Fian kepada Fian. Sedang satu tangannya menyerahkan koper kepada Hary untuk membantu membawanya. Padahal Fian belum berganti pakaian. Adam mendorong tubuh Fian ke dalam mobil. Kemudian berbalik sebentar untuk mengunci pintu. Namun Fian kembali keluar karena ada barangnya yang belum dia bawa.
" Ok Om. Saya ikut Tapi sebentar Om ponsel aku masih tertinggal di atas tempat tidur. Dan ijinkan aku cuci muka dulu dan ke kamar mandi."
__ADS_1
"Baiklah.. tapi jangan coba-coba melarikan diri. Kalau tidak kamu tidak akan mendapatkan apa yang kamu inginkan."
Fian memandang garang kepada Adam. Entahlah rasanya dia ingin meninju Adam. Tapi dia coba menahan emosinya. Dia tidak tahu kenapa Adam memperlakukan dia seperti ini.
Sepeninggal Fian, Hary menepuk Adam pelan dan berbisik.
"Haruskah sekasar ini memperlakukannya. Apa tidak sebaiknya kita bilang apa adanya. Kita terus terang saja apa yang sebenarnya terjadi."
"Nanti saja di mobil. Sekarang kita tidak punya waktu. Aku susul dulu tu bocah. Nanti malah semakin memperlambat waktu."
Baru saja selesai berkata, Fian sudah muncul dengan pakaian yang Adam lempar tadi. Dia sudah terlihat rapi.
Adam tersenyum. Dia salut dengan sikap Fian yang tidak pernah merasa takut.
"Ayo cepat. Perjalanan kita ke bandara butuh waktu dua jam. Jangan sampai kita terlambat gara-gara kamu Fian."
Dengan bergegas Fian masuk ke dalam mobil. Dia duduk di depan bersama sopir. Sedangkan Adam dan Hary duduk di bangku belakang. Mobil berjalan dengan kecepatan sedang. Malam hari kota Surabaya terlihat masih saja ramai. Namun jalanan tetap lancar.
Fian duduk dengan beribu pertanyaan. Tapi dia tidak ingin bertanya. Dia juga tidak ingin menduga-duga. Walaupun sebenarnya perasaannya terasa tidak nyaman. Dia yakin ada yang terjadi di Jakarta. Dan dia yakin itu pasti sangat lah penting.
Fian tahu bagaimana Adam dan Hary. Walaupun dia mengenal mereka baru tiga tahunan ini. Adam adalah orang yang selalu tanggap dan cepat bertindak kalau ada masalah. Adam selalu ingin cepat menyelesaikan masalah tersebut.
Berbeda dengan Hary. Pembawaannya yang tenang dan berwibawa. Selalu bertindak penuh perhitungan. Dan selalu tetap terlihat begitu santai walaupun keadaan darurat sekalipun.
Mengingat itu Fian terhenyak. Dia mengingat karakter seseorang yang mirip sekali dengan Hary. Fian memandang Hary dan Adam dari kaca spion. Mereka berdua terlihat memejamkan mata. Dan inilah saatnya dia bisa melihat dan mengamati kedua orang tersebut.
"Eh..."
"Ada apa mas."
Supir mendengar ucapan Fian yang seperti orang terkejut. Fian menoleh ke arah supir tersebut.
"Mas , boleh bertanya?"
"Silahkan mas, kalau saya bisa saya akan jawab."
Fian berkata sedikit berbisik. Dia waspada, takut Jika dua orang yang duduk di belakang mendengar perkataan nya.
"Mas sudah lama mengenal mereka berdua?"
Sang sopir mengangguk. Pandangannya lurus ke depan memandang jalanan.
"Kalau boleh tahu, Bapak Hary punya anak berapa."
"Dua Mas. Cowok semua. Mereka gagah-gagah. Yang kecil mirip sekali dengan pak Hary."
Fian terdiam mendengar jawaban sang sopir.
"Kenapa mas."
"Tidak ada apa,mas. Terima kasih atas jawabannya."
Fian masih mengamati wajah Hary dari kaca spion. Dia tengah mengingat-ingat wajah seseorang yang mirip dengan Hary. Dia sepertinya mengenal seseorang yang wajahnya mirip dengan Hary.
"Bara.. ya Bara."
"Mas Fian kenal dengan Mas Bara."
Fian menoleh pada sang supir. Dia terkejut mendengar ucapan sang supir.
"Bara siapa Mas." Tanya Fian ingin memastikan sesuatu.
"Bara adalah putra Pak Hary yang kedua. Dia seorang dokter di rumah sakit besar di Jakarta."
Fian terdiam. Ternyata benar dugaannya. Bara adalah anak dari Hary. Dunia ini memang selebar daun Kelor atau selebar Hp Android. Kemana pun kita melangkah akan bertemu dengan orang-orang yang berhubungan dengan kita.
Entah ini kesengajaan atau memang sudah takdir. Fian hanya bisa pasrah. Semua sudah di gariskan. Dia hanya menunggu waktu.
Entah apa juga yang terjadi di Jakarta. Fian hanya berharap bukan tentang keluarganya yang mengalami musibah. Karena dari kemarin dia sangat merindukan Papa mama dan juga Abangnya. Fian berharap mereka baik-baik saja. Fian hanya ingin berpikir positif dan selalu berdoa. Semoga orang-orang yang dia sayangi selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.
Bersambung
__ADS_1
Mohon dukungannya. Novel pertama saya yang masih jauh dari kata bagus. Mohon kritik dan saran. Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️