Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 109


__ADS_3

Fian masih berada di kamar mandi. Dia benar-benar tidak menyangka kalau ternyata permusuhan ini gara-gara harta. Dia berpikir ada kejadian yang fatal yang mengakibatkan sesuatu yang menyakitkan.


"Akhhhhhhh... "


Fian berteriak sangat kencang untuk melepaskan semua beban yang memenuhi pikirannya. Rasa sesak di dadanya terasa begitu menyakitkan. Rasa sakit yang menumpuk membuat dadanya terasa begitu sesak.


"Aaakhhhhhh.... "


Fian berteriak lagi. Dia sudah tidak memikirkan bagaimana keadaan dirinya. Tubuhnya sudah menggigil. Bibirnya sudah membiru. Kepalanya sudah berdenyut. Tapi dia masih duduk meringkuk di bawah kucuran air shower yang masih menyala deras. Dia tidak perduli tubuhnya hancur. Dia tidak memperdulikan apapun. Dia hanya ingin melampiaskan semua rasa sakitnya. Rasa yang sangat menyiksanya.


"Fian... Fian.. udah dong. Ayo keluar. Nanti kamu sakit."


Adam sang paman mencoba mengetuk pintu. Dia tentu saja takut Fian berbuat nekad. Adam tahu sekali apa yang Fian rasakan. Karena selama ini Adam selalu memantau Fian. Adam selalu tahu apa yang terjadi dengan Fian. Dan Adam yakin kalau Fian saat ini sangat terpukul dengan kenyataan yang baru saja terkuak.


"Fian.. Fian buka pintunya."


Andra ikut mengetuk pintu. Dia menempelkan telinganya di pintu. Andra hanya mendengar suara kucuran air. Namun samar-samar dia mendengar suara orang yang menggigil.


"Fian..Fian .. Lo tidak apa-apa kan. Buka pintunya Fian."


Andra berusaha mendobrak pintu. Ternyata pintunya tidak terkunci. Pintu langsung terbuka ketika tubuh Andra mendorong pintu tersebut.


"Fian.."


Andra melihat Fian duduk meringkuk kedinginan. Suara gemetar keluar dari mulutnya.


"Fian.. kenapa harus begini sih. Lo kebiasaan banget. Om... tolong bantu mengangkat tubuh Fian."


Andra membuka baju Fian yang basah dengan paksa. Kemudian melilitkan kimono handuknya. Adam membantu Andra. Keduanya kemudian mengangkat Fian dan meletakkannya di ranjang.


"Fian.. Nak.. kenapa begini. Maafkan mama Nak. Maafkan mama.. Ini semua salah mama."


Maria naik ke atas tempat tidur dan memeluk Fian erat. Maria meraba tubuh Fian.


"Dia demam. Tubuhnya panas sekali. Pa tolong ambil obat di bawah. Mama mau membuat teh panas buat Fian."


"Sudah mama di sini saja. Biar Andra yang membuat minum."


Andra menyerahkan baskom berisi air dan handuk kecil untuk mengompres pada Maria. Dia sudah tahu saat mengangkat tadi kalau tubuh Fian panas. Maka dari itu tanpa banyak bicara dia langsung mengambil baskom dan lap.


Andra turun ke bawah menyiapkan teh hangat dan juga obat penurun panas yang selalu tersedia di kotak obat. Kemudian kembali ke kamar Fian.


",Ini ma minum dan obatnya. Tapi kayaknya Fian belum makan. Andra cari bubur dulu ya."


"Biar om aja Ndra. Kamu temani mamamu saja. Ayo mas kita beli bubur buat Fian."


Adam sengaja mengajak Sutejo. Karena ada hal yang akan dia sampaikan pada Sutejo. Sambil mencari bubur tentunya mereka bisa sambil berbincang.


Sutejo menurut saja ketika tangannya ditarik oleh Adam. Dia pasrah saja.


"Mas.. kamu lihat keadaan anakmu? Dia sangat terpukul. Cepatlah datangi rumah Yanto dan meminta maaf. Restui Fian dan Arin."


"Iya.. Aku tahu. Tapi ini sudah malam. Besok saja kita ke rumah mereka."


Sutejo menjawab tidak semangat. Apa dia sanggup datang menemui Yanto, Setelah apa yang dia lakukan kemarin. Anak pungut yang tidak tahu terimakasih ini. Di tolong malah menghancurkan yang menolong.


"Mas harus bertanggung jawab dengan apa yang mas lakukan."


",Iya Adam. Berisik kamu. Aku tahu. Aku pasti menemui Yanto. Aku pasti minta maaf padanya. Kamu menginap di rumahku. Besok jam sembilan kita ke sana."


Untung warung bubur tidak jauh. Hanya butuh waktu sepuluh menit mereka berdua sudah mendapatkan lima porsi bubur. Ternyata mereka bukan beli buat Fian saja. Melainkan untuk semua anggota keluarga. Mereka merasa lapar setelah drama tadi.


Semua makan bubur dengan lahab. Lapar mungkin dan juga mereka butuh tenaga untuk persiapan besok pagi. Fian pun tidur lelap setelah makan dan minum obat.


🌸🌸🌸


Pagi yang cerah. Hari Minggu yang ceria. Namun tidak buat Bara. Semalam dia tidak bisa tidur nyenyak. Pikirannya hanya pada Arin. Ternyata tidak mudah melupakan orang yang pernah dekat begitu saja.


Iya pasti. Secara baru kemarin Bara memutuskan untuk meninggalkan Arin. Baru sehari mana bisa langsung lupa. Apalagi Arin adalah cinta pertamanya. Tentu sangat sulit untuk dengan mudah melupakan.


Bara duduk di tepi kolam renang. Hari ini dia hanya bermalas-malasan. Biasanya pagi hari dia selalu berolahraga. Namun hari ini rasa malas bergelayut di otaknya.


"Nak, sedang ada masalah kah?"


Bara terlonjak. Dia terkejut tiba-tiba terdengar suara sang Papa menegurnya.


"Tidak Pa."


"Itu kenapa diam saja. Biasanya sudah berolahraga." Sang papa berjalan mendekati Bara dan duduk di sampingnya.


"Lagi malas aja pa. Sekali-sekali boleh dong absen berolahraga."


Bara melempar sebuah kerikil ke dalam kolam renang. Ada riak air terbentuk di permukaan kolam.


"Boleh ... tidak ada yang melarang. Tapi tidak seperti biasanya. Terasa aneh tentu saja. Apa ada yang kamu pikirkan."


Bara tidak menjawab. Tidak mungkin dia berterus terang pada papanya tentang apa yang terjadi.


"Jangan khawatir pa. Tidak ada apa-apa kok. Hanya ingin istirahat saja."


"Hm baguslah kalau begitu. Tidak ada acara kan hari ini. Mau menemani papa ke rumah teman. Ada urusan sedikit yang harus papa selesaikan."


"Hari ini Bara tidak ada acara apapun. Baiklah nanti Bara temani. Jam berapa berangkat. Biar aku siap-siap."


"Jam sembilan papa membuat janjinya. Kamu bisa kan."


"Bisa pa."


"Kalau begitu kita sarapan dulu. Lalu bersiap. Sekarang sudah jam setengah delapan. Kamu sudah mandi belum."

__ADS_1


"Belum pa, Ya sudah Bara mandi dulu. Nanti Bara susul di meja makan."


Bara berlari meninggalkan sang papa menuju kamarnya. Dia segera mandi dan bersiap untuk pergi. Sebenarnya dia malas pergi kemanapun. Namun karena sang papa yang mengajak mau tidak mau dia harus mau. Dia tidak ingin mengecewakan orang tuanya. Toh hari ini dia memang tidak ada acara. Dan siapa tahu bisa sebagai cara pengalihan untuk melupakan apa yang sedang dia alami.


"Aku udah siap pa."


"Eh.. Sarapan dulu kamu. Papa siap-siap dulu."


"ok .."


Bara duduk di meja makan. Dia mengambil nasi dan lauk yang dimasak oleh mama. Mama menemani Bara, walaupun mama sudah selesai sarapan.


"Makan yang banyak. "


"Ini banyak ma.."


"Nak, bagaimana gadis yang kamu ceritakan kemarin."


Bara pura-pura tidak mendengar pertanyaan mama. Bara tidak menjawab. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia tidak bisa bohong. Bara tidak sanggup untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Nak.. Kok diam saja. Pertanyaan mama tidak di jawab."


Bara mengangkat wajahnya. Dia tersenyum sambil memandang sang mama.


"Kita tidak berjodoh Ma." Jawab Bara akhirnya. Bara melanjutkan makannya. Dia harus menghabiskan nasi yang telah dia ambil tadi. Move on butuh tenaga.


"Ayo kita berangkat."


Papa menghampiri Bara. Dia terlihat sudah rapi.


"Sebentar dong pa, anak kamu belum selesai makannya."


"Papa tunggu. Yakin mama tidak mau ikut."


"Memang boleh mama ikut."


"Tentu boleh. Sana siap-siap. Sambil menunggu anakmu selesai makan."


"Wah senangnya. Baiklah mama siap-siap."


Mama bergegas masuk kamar. Mama tentu merasa sangat senang. Jarang-jarang mereka pergi bersama-sama seperti ini. Masing-masing disibukkan dengan aktivitas yang selalu menghabiskan waktu. Tak lama kemudian mama sudah selesai berdandan.


"Taraaa.. Mama sudah siap."


"Wah mama cantik sekali." Bara tak berkedip memandang mama. Dia sangat mengagumi mamanya itu.


"Hm .."


Papa hanya melirik sekilas. Dia sudah sangat tahu kalau istrinya itu akan selalu terlihat cantik. Kemudian kembali melihat ke arah ponselnya. Ada notifikasi pesan masuk. Kemudian papa bangkit dari duduknya.


"Ayo kita berangkat. Teman papa sudah menunggu."


Meraka bertiga berjalan keluar. Mereka pergi dengan menaiki mobil papa. Kali ini Bara yang jadi sopir buat kedua orang tuanya. Papa memberi arahan ke mana mereka akan pergi. Bara terkejut ketika dia menyadari arah perjalanannya mengarah ke rumah Arin.


Bara melihat sekilas ke arah papa yang duduk di sampingnya.


"Udah Fokus saja menyetir."


Bara kembali fokus menyetir. Namun Otaknya terus berpikir. Apa benar mereka ke rumah Arin. Tapi untuk apa. Apa orang tuanya mengenal keluarga Arin.


"Rumah yang itu Bar. Berhenti di rumah yang ada pohon mawarnya."


Bara semakin terkejut. Ini benar-benar ke rumah Arin. Mama hanya diam saja. Karena dia memang tidak tahu tujuan mereka pergi. Bara membelokkan kendaraannya masuk ke halaman rumah Arin. Dia tentu saja merasa bingung.


"Memang rumah siapa pa. Mama tidak tahu main ikut saja ya."


"Nanti mama juga tahu. Hm.. pokoknya ini adalah kejutan. Kita sudah sampai. Ayo turun."


Papa membuka pintu mobil. Diikuti mama. Bara masih diam saja. Dia merasa sedikit ragu untuk turun.


"Ayo turun. Kenapa masih di dalam."


"Eh iya pa."


Akhirnya Bara turun. Dia tidak mau orang tuanya curiga. Bara berjalan mendekati orang tuanya.


Rumah Arin terlihat sepi. Pintu rumah masih tertutup rapat.


"Pa. sepi. Ada orangnya tidak si."


"Ada ma.. Mereka ada di rumah. Mungkin sedang aktivitas di dalam rumah. Ayo kita ketuk pintunya."


Papa mengetuk pintu rumah. Sedangkan Bara hanya berdiri di belakang. Dia masih tidak mengerti kenapa mereka ke sini. Perasaan Bara merasa tidak enak. Dia sedang ingin menghindar dari Arin. Orang tuanya malah mengajaknya berkunjung ke rumahnya.


"Assalamu'alaikum.."


Tak lama kemudian terdengar jawaban dari dalam. Terdengar suara langkah tergesa menuju depan.


"Wa' alaikumsalam.."


Bara tahu itu suara Arin. Dadanya semakin berdebar. Pintu terbuka. Dan terlihat sosok Arin dengan pakaian rumahnya. Terlihat sangat cantik dengan rambut basah. Seperti baru saja selesai mandi.


"Eh ada tamu. Maaf mau mencari siapa."


Arin merasa bingung. Pagi-pagi sudah ada tamu. Apalagi saat dia melihat Bara.


"Kamu pasti Arin kan. Memang cantik."


Arin semakin bingung. Dia memandang tidak mengerti pada tamunya.

__ADS_1


"Eh iya Om. Maaf om mau mencari siapa. Eh itu ada Apa Bara."


"Kalian sudah saling kenal. Syukurlah.Boleh kami masuk. Kamu ingin bertemu orang tua kamu."


Ucap Papa. Padahal sebenarnya dia sudah tahu semuanya.


"Ada Om.. Silahkan masuk . Saya panggilkan dulu Ayah dan bunda ya."


Akhirnya Arin mempersilahkan tamunya masuk rumah. Dadanya berdegup kencang. Dia tidak mengenal tamunya tersebut. Namun saat dia melihat Bara tadi, dia berpikir pasti mereka adalah orang tua Bara. Ada kemiripan wajah tentunya.


Arin masuk ke dalam untuk memanggil orang tuanya. Meraka sedang berkumpul di ruang makan tadi. Belum sempat Arin memanggil, dia melihat sang Ayah dan bunda sudah berjalan ke ruang tamu.


"Eh, ada tamu istimewa. Ada apa ini."


"Hahaha..Kejutan kan. Apa kabar Yanto, Ida."


"Alhamdulillah baik.."


Mereka saling berpelukan. Seperti lama tidak bertemu. Padahal dua Minggu yang lalu mereka sudah bertemu di acara pernikahan Arkhan.


"Duduk.. duduk. Tapi beginilah keadaan gubukku." Ayah mempersilahkan tamu mereka.


"Eh ini ada Nak Bara. "


"Iya Ayah.."


"Hahaha.. Kamu telah mengenal anak bungsu ku ternyata."


Hary memandang mereka bergantian sambil tertawa renyah. Sedangkan mama hanya mengangguk dan tersenyum.


" Iya bener. Kami telah mengenalnya. Dia dokter yang telah menolong putriku. Beberapa kali berkunjung kemari."


"Oh begitu. Lama kita tidak duduk begini ya. Dua puluh tahun kita tidak pernah lagi berkumpul dengan teman-teman kita."


Ayah terdiam. Dia tidak dapat berkata-kata kalau sudah menyangkut hal tersebut.


"Maafkan aku tidak bisa langsung membela kamu dulu. Saat itu perusahaanku juga terancam. Dan akhirnya benar-benar gulung tikar.Aky mulai dari nol lagi."


Ayah mengangkat wajahnya. Dia perhatikan semua perkataan tamunya.


"Tidak apa-apa. Aku mengerti. Aku juga mendengar hal itu. Alhamdulillah semua sudah membaik sekarang."


"Maaf sebelumnya apa boleh saya berbincang dengan Dokter Bara sebentar."


Tiba-tiba Arin menyela perbincangan mereka. Tentu saja mereka terkejut.


"Silahkan Nak." ucap Hary.


Bara dan Arin pergi meninggalkan ruang tamu. Meninggalkan kedua sahabat lama itu berbincang. Bernostalgia tentunya. Arin dan Bara duduk di balai bawah pohon jambu. Banyak pertanyaan di benak Arin. Maka dari itu dia mengajak Bara berbincang agak jauh. Dia tidak ingin menunggu lama.


Namun belum sempat mereka berbincang, terdengar suara mobil memasuki halaman. Arin sangat mengena mobil tersebut. Tentu saja dia terkejut. Karena tidak biasanya Meraka berkunjung ke rumahnya tersebut.


Bara ikut memandang ke arah mobil itu. Dia ingin tau juga siapa tamu yang datang.


"Ada apa ya. Tumben mereka kemari." Gumam Arin pelan Namun terdengar oleh Bara.


"Siapa mereka. Eh.. bukannya itu orang tua Fian ya."


"Iya Aa.. makanya aku heran tumben mereka kemari. Terus itu kenapa juga Aa datang bawa orang tua."


Bara menoleh ke arah Arin. Mendengar nada suara Arin yang terdengar tidak suka dengan kedatangan tamu-tamu tersebut.


"Aku juga tidak tahu kalau orang tuaku mau kemari. Kenapa kamu tidak suka."


"Bukan tidak suka AA.. cuma heran saja. Ada apa hari ini banyak tamu ya datang ke rumah."


Belum selesai Arin berbicara terdengar suara isak tangis dari dalam rumah. Bara memandang Arin. Begitupun Arin. Meraka saling pandang dan akhirnya berdiri. Mereka ingin tau apa yang terjadi di dalam.


"Maafkan aku mas. Maafkan aku yang tak tau diri ini."


Terdengar suara Sutejo yang memelas. Dia terlihat bersimpuh di kaki Ayah Arin.


"Sudahlah, aku sudah memaafkan kamu. Aku tidak butuh harta itu. Ambil saja semua buat kamu. Tapi jangan usik lagi keluargaku." Ucap Ayah tegas. Tentu saja ayah sangat kecewa dengan perbuatan Sutejo saat itu.


"Iya kak.. maafkan semua kesalahan kami. Kamu terlalu serakah." Tambah Maria ikut bersimpuh di hadapan Ayah.


"Sudah aku bilang aku sudah tidak perduli lagi masalah itu. Tapi ingat jangan sekalipun kamu usik keluargaku. Sudah cukup kalian memaki putriku."


"Iya mas, maafkan kami.. maafkan."


Sutejo dan Maria tertunduk malu. Mereka benar-benar telah menyesali perbuatannya.


"Akan aku kembalikan semua harta yang telah aku ambil pada Mas Yanto."


Semua orang hanya diam menyimak apa yang terjadi. Hary memang sengaja datang untuk itu. Dia diberitahu oleh Adam sebelumnya.


"Itu hak kamu Jo, Aku tidak akan mengambil sedikitpun harta itu. Aku sudah bahagia dengan keadaanku yang sekarang."


"Tidak mas, tidak tetap akan aku kembalikan semuanya pada yang berhak."


Arin dan Bara hanya berdiri di depan pintu. Mereka berdua tidak apa yang sebenarnya terjadi. Tapi mau minta penjelasan seperti tidak akan ada yang mau menjelaskan karena suasana di dalam masih tidak nyaman.


"Itu punya kamu Sutejo. Memang punya kamu."


Semua orang terkejut mendengar suara itu. Suara seorang kakek tua yang tiba-tiba saja terdengar begitu mengagetkan. Semua orang melihat ke arah pintu. Terlihat seorang kakek tua berdiri di depan pintu. Seseorang yang tiba-tiba jadi pusat perhatian semua orang.


Suara seseorang yang sangat berwibawa dan membuat semua orang yang ada di dalam seperti terhipnotis. Terdiam karena tidak menyangka dengan kedatangannya.


Siapakah orang tersebut. Kita tunggu episode selanjutnya..

__ADS_1


Bersambung


terima kasih atas dukungannya ❤️❤️❤️


__ADS_2