
Kenangan masa lalu
Ruangan sudah sepi hanya tinggal Rama yang menunggu. Dia juga sudah terkantuk-kantuk. Karena sudah tidak tahan akhirnya Rama tertidur juga. Arin pun masih setia dengan dunia mimpinya. Dia belum mau bangun. Masih senang di dunia nyamannya. Masih dengan semua khayalannya. Banyak hal telah dia lalui. Banyak kejadian yang membuatnya enggan bangun. Mungkin karena dia tidak pernah mengungkapkan perasaannya, jadi dia merasa tertekan . Mungkin disini lah titik kejenuhan dia dalam hidupnya. Jangan menyalahkan Arin yang tidak mau bangun. Karena memang cobaan hidupnya yang terlalu berat untuk dia lalui. Orang hanya bisa berkomentar, mereka hanya bisa menghakimi, mereka tidak pernah mengalami sendiri. Bahkan banyak juga orang yang menghujat. Katanya terlalu dipikirkan. Karena mereka hanya melihat dari luar. Mereka tidak mengalami sendiri kejadian itu. Mereka tidak tau bagaimana perasaan yang mengalami. Sekali-sekali berpikir lah sebagai obyek yang menderita agar mereka tau rasanya.
πΈπΈπΈ
Bara sudah sampai di rumah. Fisik dan otaknya terasa letih. Dia langsung menuju kamar mandi . Berendam dengan air hangat adalah pilihan yang tepat untuk mengurangi rasa lelah . Ditambah dengan aromaterapi. Membuat rileks tubuh dan pikirannya. Memang beberapa hari ini pikirannya terfokus pada kasus kesehatan Arin. Padahal dia baru saja mulai bekerja. Tapi kasus yang dia tangani membuatnya harus ekstra berpikir. Sudah satu jam Bara berendam. Sudah cukup pikirnya. Dia keluar dari kamar mandi. Saat melihat ke arah tempat tidur ,dia terkejut melihat Mama sudah duduk di sana. Pasti ada sesuatu yang ingin mamanya sampaikan.
"Mama, kok di sini bikin kaget Bara aja. Kapan masuk. Tadi bukannya pintu Bara kunci ya. Ada apa Ma. Kangen ya sama aku. Maaf ya Ma , beberapa hari ini bara sibuk. Ada pasien yang harus Bara tangani. Bara ganti baju dulu." Bara berjalan menuju lemari dan mengambil baju ganti. Dan masuk lagi ke kamar mandi. Dia malu harus berganti baju di depan mama. Mama melihat ke sekeliling. Kamar Bara yang begitu rapi walaupun dia anak laki-laki. Bara sudah berganti baju lalu mendekati mama dan duduk di sampingnya.
"Iya ,Nak . Mama kangen . Baru mulai kerja udah sibuk banget . Sampai Mama dilupain."
"Bukan lupa Ma, Tapi memang ada pasien dengan penanganan khusus."
"Kamu kan baru saja pulang dari luar negeri . kenapa tidak mengambil cuti dulu sebentar? Mama kan kangen sayang."
" Nanti akan Bara luangkan waktu khusus buat Mama tercinta. ok" Bara mencium tangan Mamanya.
"Ya udah Mama keluar, kamu langsung tidur. Sudah malam. Jaga kesehatan ya ,Nak."
"Tentu Ma. Maaf ya Ma.Mama juga tidur. Mama juga jaga kesehatan ya."
"Pasti dong. Mama kan masih mau menimang cucu dari kamu."
"Iya Mama. Insya Allah bara akan memberi cucu yang Mama minta. Tapi Mama harus sabar ya. Kan tidak bisa instan."
"Hahaha..Iya Mama tau. Ya udah Mama kembali ke kamar. Langsung tidur ya . Udah malam."
"Siap Ma."
Mama sudah keluar. Bara menutup pintu dan menguncinya. Di ambilnya ponsel yang tadi dia taruh di atas meja. Bara merebahkan diri di kasur sambil memainkan ponselnya. "Apa ini sudah takdir, Gadis yang gue tolong ternyata Arin. Ciuman pertama gue dia yang telah mengambilnya." Bara meraba bibirnya. Dia tersenyum mengingat kejadian lima tahun lalu. Seorang gadis ABG tiba-tiba mencium bibirnya. Dia terkejut tapi dia tidak menghindar karena memang melihat kondisi sang gadis yang begitu menyedihkan. Di buka galeri ponselnya. Dia lihat- lihat foto-foto yang ada. Dia ingat lima tahun yang lalu dia pernah mengambil gambar gadis itu. Di carinya foto lima tahun lalu. Ternyata masih ada. Pantas dia merasa familiar waktu bertemu Arin pertama kali di rumah sakit. Pantas dia merasa ada yang lain saat Arin pingsan di pelukannya. Ternyata gadis yang sama. Tiga kali bertemu Arin. Dia selalu dalam kondisi menyedihkan. Mungkin ini jodoh, dia dikirim Tuhan untuk menolong gadis itu. Semoga kali ini dia berhasil juga menyelamatkan nyawa Arin seperti sebelum- sebelumnya. Bara menguap . Dia lelah. Dia sudah tidak dapat menahan rasa kantuknya.Akhirnya Bara tertidur dengan segala pikiran tentang Arin.
πΈπΈπΈ
Pagi hari yang cerah. Semua orang sudah melakukan rutinitas masing-masing. Pagi yang penuh harapan dan semangat untuk menyongsong hari yang indah. Tak terkecuali Fian. Semalem pulang dari rumah sakit, dia merenung. Dia menyadari selama ini dia merasa belum menjadi sahabat yang baik. Dia ingat kembali kejadian lima tahun lalu . Dimana Arin yang hancur yang merasa tidak punya harga diri. Arin yang dituduh menggoda Adit, padahal dia adalah korbannya. Dan semua karena Mamanya. Kenapa mamanya begitu tidak suka dengan Arin. Apa salah Arin sebenarnya. Apa ada sebab lain yang terjadi di masa lalu. Dari kecil Fian besar bersama Arin. Seingat dia, hanya kejadian itu yang ada hubungan antara mamanya dan Arin. Tapi kan di situ Arin adalah korbannya, Mengapa malah dia Yang disalahkan oleh mamanya. Juga kejadian tiga tahun lalu semua karena sang mama. Selama ini Arin selalu menjadi korban ketidakadilan dari mamanya. Dia merasa ikut bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada diri Arin termasuk kesembuhan Arin. Dia bertekad akan membantunya sampai Arin bener-bener sembuh. Fian jadi teringat kejadian lima tahun yang lalu. Bagaimana selama enam bulan Arin tidak berani keluar rumah. Selama itu dia hanya diam di dalam kamar. Tidak mau keluar kamar. Keluar kalau ke kamar mandi saja. Makan pun dia di dalam kamar. Tidak mau berinteraksi dengan siapapun. Tidak mau berkata apapun.Tapi untungnya dia masih mau makan. Sehingga tubuhnya tetap mendapatkan asupan, walaupun harus dengan dipaksa bunda. Dia ingat setiap hari secara diam-diam dia berkunjung ke rumah Arin. Melihat keadaan Arin melalui jendela kamar. Berdua Nando dia selalu memantau keadaan sahabatnya itu. Dia masih mengingat dengan jelas saat- saat itu.
Flashback On
Lima tahun lalu
Tok..tok...tok. Fian mengetuk jendela kamar Arin. Ada lubang kecil di bawah jendela . Fian dan Nando mengintip ke dalam. Dilihatnya Arin duduk meringkuk di lantai.
Tok...tok..tok.Fian mengetuk lagi. Walaupun siang hari jendela kamar Arin tetap tertutup. Arin tidak mau ada orang yang melihatnya. Arin tidak mau membuka jendela kalo ada orang.
"Arin...Arin...Arin.."
__ADS_1
Fian dan Nando memanggil Arin secara bergantian. Tidak ada jawaban. Tapi mereka tidak putus asa.
"Arin ...Arin... Arin. Buka dong jendelanya. Gue punya bunga ilalang. Ingat kan lo suka memetik di pinggir kali. Yuk kita ke sana lagi. Tapi tidak usah ding. Ini sudah gue petik khusus buat lo."
Fian tidak putus asa . Dia terus membujuk Arin. Setiap hari dia datang dengan segala macam barang-barang yang pernah mereka mainkan bersama. Hanya untuk mengingatkan kenangan indah mereka. Arin masih saja betah mengurung dirinya di dalam kamar. Para guru juga sudah membujuk Arin. Banyak yang bersimpati padanya. Namun dia masih belum mau keluar dari rumah. Jangankan keluar rumah, membuka jendela saja dia tidak mau. Kecuali pada malam hari. Dia akan membuka jendela lebar-lebar. Dia senang melihat bintang gemintang yang selalu bersinar. Dia senang memandang rembulan yang terlihat menggantung di langit. Hanya hal itu yang bisa menghiburnya selama ini. Bahkan Arin tidak pernah tidur semalaman karena kalo dia tidur, dia akan kembali teringat kejadian itu lagi. Dia akan mengigau dan berteriak histeris. Itu terjadi sampai empat bulan. Selama itu Arin hidup dengan dunia nya sendiri. Ayah dan bunda hanya bisa menatap Arin dengan pandangan sedih. Sudah semua hal dan usaha dilakukan untuk mengembalikan Arin yang dahulu . Tapi belum menunjukkan hasil sama sekali. Mereka semua hampir merasa putus asa. Untung ada Fian dan Nando yang selalu memberi semangat.Tak henti- hentinya mereka berdua membujuk dan menghibur Arin. Mereka berdua tidak pernah lelah sedikit pun.
Dan pada bulan ke lima Arin sudah mulai mau membuka diri, dia sudah mau membuka jendela. karena bujukan Fian dan Nando yang tak pernah menyerah. Sampai suatu hari saat Fian datang mengetuk jendela.
Tok..tok..tok. Tidak menunggu lama jendela langsung terbuka. Arin melongok kan kepala.
"Ada ada Fian. "
"Hai Arin. Sedang apa?" Fian menyapa Arin dengan lembut. Dia tersenyum senang melihat Arin membuka jendela.
"Gue mau bunga ilalang. Lo bawa ga." Arin menjawab dengan menunduk malu. Tapi ini sudah menunjukkan kemajuan.
"Tentu gue bawa khusus buat lo. Iya kan Ndo?" Fian menyerahkan setangkai bunga ilalang kepada Arin. Nando hanya tersenyum dan mengangguk.
"Terima kasih Fian dan juga Nando." Setelah menerima bunga dari Fian, Arin langsung menutup jendela. Dia masih merasa malu. Hal tersebut berlangsung sampai beberapa hari. Dan minggu berikutnya saat Fian datang lagi, jendela sudah tidak tertutup lagi. Jendela sudah terbuka lebar. Tidak usah mengetuk lagi.
"Arin..Arin.."
"Iya Fian." Tidak menunggu lama, kali ini Arin langsung menjawab dan sudah tidak menunduk lagi. Dia sudah berani menatap lawan bicaranya walaupun hanya sebentar.
"Terima kasih Fian." Arin menerima bunganya dengan senyuman dan sudah terlihat gembira.
"Mau ngobrol dengan kita di bawah pohon jambu?" Fian mencoba mengajak Arin keluar rumah. Arin menggeleng. "Ya sudah, tidak apa-apa. Kita ngobrol nya di sini aja ya." Fian dan Nando dengan sangat sabar meladeni semua kemauan Arin.
Dan itu berlangsung sebulan. Arin hanya mau mengobrol lewat jendela. Ayah dan bunda tentu merasa senang dengan kemajuan ini. Arin sudah mau membuka diri lagi. Walaupun hanya di lingkungan rumah saja.
Sebulan kemudian Arin sudah mau keluar kamar. Sudah mau makan bersama di ruang makan. Sudah mau berbincang dengan Rama dan Nia. Dia sudah berani meminta sesuatu yang dia inginkan. Dia sudah bisa tertawa walau masih kaku.
Kali ini Fian dan Nando datang dan sudah tidak lagi lewat jendela. Sudah masuk lewat pintu depan. Arin sudah mau menemui dan menemani mereka berbincang di teras rumah. Arin sudah banyak kemajuan . Semua berkat usaha orang- orang terdekatnya. Fian dan Nando yang tidak pernah menyerah membujuk dan menghibur Arin.
Pas pada bulan ke enam Arin sudah mau bersekolah.
"Fian, Nando bantu gue ya, gua ketinggalan banyak pelajaran."
"Tentu dong, nanti gue pinjemin semua buku gue ke lo dan pelajaran yang belum lo mengerti nanti gue bantu jelasin." Kata Fian dengan penuh semangat.
"Mang lo bisa?" Arin bertanya dengan pelan, Karena setau dia dulu Fian tidak begitu pintar.
"Hehehe.." Fian hanya tertawa."Hm..udah bisa mengejek ya."
"Bukan mengejek tapi memang lo dulu ga pinter."
__ADS_1
"Hahahaha...." Nando tertawa lebar. Dia tau pasti siapa Fian yang memang otaknya pas-pasan. Dulu Arinlah yang selalu membantu Fian.
"Kenapa tertawa lo. Sekarang gue beda ya. Nanti kita buktikan." Kata Fian menepuk dadanya dengan sombongnya.
"Hahahaha..." Arin ikut tertawa melihat tingkah Fian.
"Sombong ya sekarang." Nando tersenyum. Dia tahu belakangan ini memang Fian belajar mati- matian karena tidak ada lagi teman yang dimintai tolong semenjak Arin sakit. Fian dan Nando sangat bersyukur Arin sudah bisa tertawa lagi. Arin tidak mengulang semester karena memang Arin anak yang cerdas. Semua ketertinggalan pelajaran dibantu para guru dan teman-temannya. Arin bisa bangkit lagi saat itu. Bisa kembali lagi ceria. Namun tetap ada yang berbeda. Semenjak itu Arin jadi sering melamun jika sendirian. Fian yang selalu memperhatikan Arin tau betul kebiasaan Arin. Makanya Fian dan Nando selalu menemani Arin dimana pun dan kapan pun mereka bisa. Tetapi mereka tidak tau bahwa Arin pintar menyembunyikan perasaannya. Paling tidak dihadapan orang Arin terlihat biasa saja. Dan Fian tahu itu .
Flashback off
Fian mengambil nafas dalam. Kali ini dia bertekad harus bisa mengembalikan kesadaran Arin. Otaknya berpikir keras dengan cara apa dia akan membangunkan Arin.
"Woii, melamun aja bocah ,kenapa." Andra tiba-tiba sudah ada di kamarnya. "Lo ga kuliah?"
"Eh iya . Udah siang ya. Mandi dulu deh gue. " Fian bangun dari tidurnya.
"Bentar dulu gue mau nanya. Memangnya Arin sakit? Di rawat lagi?"
"Iya bang, Sudah empat hari. Di rumah sakit Sari Asih. "
" Sudah empat hari? Dan lo baru bilang sekarang? Tega banget lo. Arin kan juga temen gue. "
"Maaf, Gue lupa dan lo pulang malam terus. Kapan kita bertemu coba,? Lo tahu dari siapa?"
"Mama tadi bilang."
"Mama? Tahu dari siapa ya? Atau mungkin Tante Mia yang . Oh iya kemarin Tante Mia bilang menelpon Mama. Bagaimana reaksi Mama bang?"
"Tahu sendiri lah bagaimana sikap Mama pada Arin. Udah biarin aja. Mungkin belum saatnya Mama mendapat hidayah."
"Pea lo bang. Mama sendiri lo katain begitu. Harusnya doakan semoga Mama segera terbuka hatinya."
" Iya, Ga usah di suruh kalau itu. Kapan lo mau ke rumah sakit? Keadaan Arin bagaimana?"
"Nanti siang sepulang kuliah. Kenapa memangnya? Keadaan Arin masih belum bangun. Gue mandi dulu , Sono keluar." Fian mendorong tubuh Andra keluar kamar. Dia udah kesiangan. Terlalu larut mengenang masa lalu membuat Fian lupa waktu. Masa lalu yang begitu menyedihkan. Dia harus menyegarkan otaknya agar bisa berpikir jernih.
"Fian tunggu gue ya gue ikut." Andra berteriak dari luar. Fian diam saja.
"Kan bisa jalan sendiri."
Sudah tidak terdengar suara Andra. Fian menuju kamar mandi dan mandi dengan cepat karena waktu memang sudah siang. Dia harus bersiap melakukan aktivitas nya sebagai mahasiswa. Dia harus kuliah dan mengejar cita dan cintanya. Selamat berjuang Fian. Rivalmu bertambah. Jangan patah semangat.
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan like dan komen πππππ
__ADS_1