Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 72


__ADS_3

Arin melangkah menuju ruang istirahat. Ocha sudah menunggu di sana. Ocha penasaran kenapa tadi Arin dipanggil ke ruang pengawas.


"Arin.. cepet sini."


Ocha menarik tangan Arin dengan keras.


"Ada apaan sih. Pelan-pelan. Sakit Ocha." Arin meringis. Genggaman tangan Ocha terasa sedikit panas.


"Eh maaf. Habis gue penasaran. Lo tadi kenapa di panggil Pak Teguh."


"Tidak ada apa-apa kok. Cuma ditanya sama atasan baru kenapa tidak masuk gitu."


"Eh, kamu tau ga yang tadi di ruang pengawas sama pak Teguh."


"Ga. Memangnya Kenapa?"


"Astaga Arin. Lo lemot banget sih. Dia itu anak pemilik perusahaan. Berita yang gue denger, dia mau menggantikan Pak Bagas di sini."


"Iya memang kenapa kalau dia menggantikan pak Bagas. Sudah sewajarnya kan. Anaknya meneruskan usaha orang tuanya."


"Arin... bener-bener lo ya. Dia ganteng banget Arin. Dan lo yang pertama kali bisa ngobrol sama dia."


"Memang kenapa kalau bisa ngobrol sama dia."


Och sudah sangat gemas dengan sikap Arin yang cuek begitu. Kalau orang lain sudah pasti heboh bisa bertatap muka langsung dengan anak pemilik perusahaan. Arin bukan tidak mengerti. Tapi dia memang tidak pernah memikirkan hal-hal seperti itu. Menurutnya tidak penting. Prinsip Arin dia akan bersikap baik kepada siapa saja, itu saja cukup bagi Arin.


"Lo tidak tertarik sama sekali dengan anak bos. Katanya dia duda Arin. Duren begitu. Duda keren.. " Ocha berkah sambil mengedipkan mata. Matanya tampak berbinar. Menunjukkan kalau dua sangat bersemangat sekali.


"Gue tidak peduli Ocha. Yang penting sekarang gue lapar gue mau makan. Lo bawa bekal ga. Atau mau ke kantin."


"Gue bawa bekal kok. Sama nyokap gue tadi di masakin. Ternyata memang benar ucapan lo tempo dulu. Masakan nyokap selalu nomer wahid."


Ocha mengacungkan jempolnya. Baru sekarang dia bisa merasakan masakan sang ibu. Dulu mamanya Ocha bekerja. Tapi sekarang sudah tidak lagi karena memang sudah memasuki masa pensiun. Dan sekarang mamanya Ocha punya waktu memasak untuk keluarganya. Tentu saja Ocha sangat bahagia bisa merasakan masakan mamanya.


"Ya udah kita makan disini aja. Lapar gue. Kemarin di rumah makan terus. BB gue jadi bertambah."


"Ga apa-apa malah tambah seksi begitu."


"Dih .. seksi apaan. Yang ada gue gembrot begini."


"Ga Arin. Yang penting lo sehat aja ya.Gue sedih pas lo sakit kemarin. Gue ga ada teman."


"Makan dulu laper. Jangan banyak omong dulu nanti tersedak."


Arin dan Ocha menghentikan obrolannya. Lama tidak berjumpa menjadikan banyak hal yang bisa diperbincangkan. Mereka menikmati bekal makan siang mereka dengan lahap. saling mencicipi masakan yang mereka bawa.


Setelah selesai makan tidak lupa mereka melaksanakan sholat dhuhur di mushola perusahaan yang terletak terpisah dengan gedung produksi. Di tengah jalan mereka melihat Arga baru saja keluar dari gedung utama yaitu tempat para pegawai kantor berada


"Arin. lihat itu. Pak Bos melihat ke arah sini."

__ADS_1


"Dih apaan sih lo. Mana ada dia melihat kemari. Dia hanya menoleh saja karena lo berisik."


Arin mempercepat langkahnya dia tidak lagi menggubris perkataan Ocha tentang sang anak pemilik perusahaan. Bagi Arin tidak ada pengaruhnya. Bahkan kalau bisa Arin akan menjauh sejauh mungkin dari orang-orang atas tersebut. Arin tidak mau terkena masalah nantinya. Arin hanya ingin hidup damai selayaknya saja. Tidak ingin yang muluk-muluk.


"Arin.. cepet amat sih jalannya. Tunggu gue dong. Seperti di kejar setan aja."


Arin hanya diam saja. Namun dia menghentikan langkahnya menunggu Ocha. Arin tidak menoleh sedikitpun. Pandangannya tetap lurus ke depan.


"Hm.. ada apa sih. Buru-buru amat."


"Waktu istirahat akan segera berakhir Ocha. Kita belum sholat. Mau lo diomel si Miss galak."


"Eh iya juga ya. Ya udah ayo. "


Sekarang malah Ocha yang mendahului Arin. Mereka berdua secepatnya menuju mushola. Melaksanakan sholat dhuhur dan secepatnya kembali bekerja. Karena waktu istirahat akan segera berakhir.


🌸🌸🌸


Hari telah sore. Matahari sudah mulai beranjak ke peraduan. Panasnya sudah tidak terasa lagi. Warna jingga menghiasi langit barat. Waktu sudah pukul empat sore. Saatnya para pekerja pulang ke rumah masing-masing. Waktu kerja telah habis. Para pejuang rupiah saatnya kembali ke keluarga masing-masing.


Begitu juga dengan Arin dan kawan-kawan. Mereka keluar dari gedung produksi dengan penuh semangat. Berjalan beriringan menuju tempat parkir. Diselingi canda dan juga tawa. Saling mengejek satu sama lain. Suasana sangatlah riuh dan ramai. Bagaimana tidak. Perusahaan dengan ribuan karyawan yang bekerja. Itu belum termasuk yang terkena shift. Karena ini perusahaan textile, maka mesin tenun tidak boleh berhenti. Mesin akan terus-menerus berjalan sepanjang waktu. Kecuali hari Minggu. Karena semua karyawan diliburkan.


Waktu bekerja dibagi tiga shift untuk bagian produksi. Shift pagi,shift siang dan shift malam. Untuk bagian kantor waktu bekerja sama seperti kantor yang lainnya yaitu mulai pukul delapan sampai empat sore. Arin, Ocha ada di bagian pembantu umum di bagian produksi. Tugasnya membantu bagian yang kekurangan pekerja dan mereka tidak dikenakan shift.


Sedangkan Wawan dan Joko di bagian kantor pengawas. Tugas mereka mengawasi para pekerja di bagian produksi. Jadi Ocha dan Arin bekerja di bawah pengawasan Wawan dan Joko.


Awal mereka kenal dulu saat pertama kali masuk, Arin selalu dikerjain oleh kepala regunya. Entah apa sebabnya sang kepala regu selalu bikin masalah sama Arin. Dan Arin diam saja.


Sekarang tidak ada orang yang berani secara terang-terangan mengerjai temannya. Karena semua sudah terpantau. Tidak ada lagi batasan senior dan junior. Semua karyawan punya hak dan kedudukan yang sama.


Arin dan Ocha telah sampai lebih dulu di tempat parkir. Mereka menuju motor masing-masing. Untung tempat parkir mereka berdua tidak berjauhan.


"Wawan sama Joko mana ya. Kok mereka belum kelihatan. Jadi ikut ga sih."


"Sabar Cha. Mungkin sebentar lagi mereka keluar. Itu mereka." Tunjuk Arin ketika melihat Wawan dan Joko berjalan beriringan. Mereka berdua menuju kendaraan mereka yang terparkir tidak jauh dengan tempat Arin dan Ocha parkir.


"Lama banget sih. Dari mana aja." Gerutu Ocha tidak sabar.


"Tadi di panggil pak Teguh. Besok akan ada tamu katanya. Kita berdua harus mempersiapkan semua acara." Jawab Wawan sambil menuntun motornya mendekati Ocha. Tempat parkir sudah sepi. Tinggal beberapa kendaraan saja.


"Mana gue harus menyiapkan konsumsi lagi. Sudah sore begini harus pesan dimana coba."


"Memang apa konsumsi nya. Nasi atau snack."


"Cuma snack aja sih. Lagian juga tidak banyak juga. Tiga macam masing- masing seratus buah."


"Boleh gue bantu ga. Bunda kan suka bikin kue tradisional. Bagaimana kalau lo pesen sama bunda gue." Usul Arin. Sebenarnya dia tidak percaya diri. Namun Arin berpikir siapa tau ini bisa jadi peluang bisnis buat keluarganya.


"Boleh juga itu. Tiga macam ya masing- masing seratus ya. Besok jam Tujuh bisa diambil ya."

__ADS_1


"Insya Allah bisa. Lo ambil atau gue yang bawa."


"Nanti gue ambil deh."


Joko merasa senang. Masalahnya sudah teratasi. Dia lega tugasnya sudah ada yang membantu.


"Ayo jadi ga. Keburu sore." Ocha memotong pembicaraan antara Joko dan Arin.


"Ayolah. Sekalian Nanti gue mau belanja buat pesenan Joko."


Mereka berempat naik kendaraan masing- masing. Mereka janjian mau makan bakso langganan Arin di depan rumah sakit. Sebelum itu Arin memberi kabar pada sang Bunda tentang orderan kue barusan. Agar bunda bersiap untuk mempersiapkan semua bahan untuk membuat kue.


Jarak antara pabrik dan warung bakso tidak begitu jauh. Hanya ditempuh dalam waktu lima belas menit. Lama tidak makan bersama-sama. Tentu sangat menyenangkan bisa mengulang lagi kebersamaan mereka ini.


Tak berapa lama mereka sampai di depan rumah sakit. Mereka berhenti di tenda bakso yang terlihat cukup ramai.


"Kalian masuk duluan. Gue mau nelpon bunda dulu sebentar. Mau memberi kabar yang tadi. Tolong pesen sekalian seperti biasa ya" Ucap Arin. dia masih duduk di atas motor. Bersiap mengeluarkan ponsel untuk menelpon bunda.


"Siap Rin."


Ocha, Joko dan Wawan berjalan duluan memasuki tenda. Wawan menuju abang tukang baksonya untuk memesan pesanan mereka. Sedangkan Ocha dan Joko mencari tempat duduk. Untung masih ada tempat duduk kosong. Dan pas untuk empat orang.


Sementara Arin masih di luar. Dia menelpon bunda. Dia harus mengabari bunda. Arin asyik menelpon dia tidak memperhatikan sekitar nya.Dia fokus berbicara dengan bunda.


Dari jauh terlihat dua orang berjalan. Mereka berdua juga asyik berbincang. Mereka juga tidak memperhatikan sekitarnya. Terlalu asyik berbincang sehingga tidak menyadari jika orang yang mereka perbincangkan ada di dekat mereka.


Arin menyudahi teleponnya. Dia memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. Dan berjalan menuju tenda bakso. Didepannya berjalan dua orang laki-laki yang terlihat berjalan tegap. Arin hanya memandang sekilas. Dia tidak memperhatikan sama sekali orang yang berjalan didepannya.


Arin masuk dan melihat sekeliling. Dia melihat ke sekeliling mencari Ocha dan teman-temannya duduk di mana. Ocha melihat Arin. Ocha berteriak memanggil Arin.Ocha melambaikan tangan ke arah Arin


"Arin... Sini."


Arin berjalan mendekati teman- temannya yang ternyata duduk di pojok. Pantesan tidak terlihat karena tertutup orang yang sedang memesan bakso juga.


Bukan Arin saja yang menengok. Namun ada dua orang lagi juga terkejut mendengar nama Arin di panggil dan mencari sumber suara itu. Dua orang itu melihat sekeliling namun tidak menemukan Arin. Mereka berdua kembali memesan bakso .


Setelah memesan mereka mencari tempat duduk dan untung masih ada tempat yang kosong. Mereka berdua mendekati tempat yang kosong tersebut.


"Permisi mbak.. boleh saya duduk di sebelah anda yang kosong."


orang yang ditegur menengok dan mereka terkejut.


"Arin..."


Mereka yang ada ditempat itu terkejut juga. Mereka saling pandang.


Siapa ya dua orang tersebut. Kenapa kenal dengan Arin.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like dan komen Terima kasih ❤️❤️❤️❤️


__ADS_2