
Arin merapikan meja depan. Keluarga Santoso dan Mia sudah pulang. Setelah tadi sedikit bersitegang dengan keluarga Omed, Ayah kembali membetulkan kandang ayam dibelakang rumah. Hari ini memang sudah berniat libur kerja. Bunda sedang menyetrika pakaian.
Semua masalah tentang tuntutan pada Omed telah selesai. Tinggal menunggu niat baik keluarga Santoso dan Mia untuk meluruskan kejadian yang menimpa ayah dan menyebabkan mereka bersitegang tadi. Semoga segera ditemukan titik terangnya karena Arin merasa masalah ini ada hubungannya dengan keadaan keluarganya selama ini.
Selesai merapikan meja Arin masuk ke kamarnya. Dia melihat jam yang menempel di dinding kamarnya. Ternyata sudah lumayan siang. Sudah pukul sebelas. Tak terasa perbincangan itu cukup memakai waktu.Tidak hanya waktu tapi tenaga juga. Sebenarnya Arin tidak tega dengan Omed, namun karena melihat keluarganya yang egois dia memutuskan untuk tetap menghukum Omed.Arin tidak jadi menarik tuntutannya. Biar saja Omed dihukum sesuai kejahatan yang telah dia lakukan.
"Astaga.. kenapa lupa. Gue kan mau menelpon Fian."
Arin mengambil ponselnya yang dia taruh di meja. Dia buka aplikasi WhatsApp. Tak ada satu pesanpun. Dia juga lupa belum memberi kabar pada atasannya di tempat dia bekerja. Semoga dia tidak mendapatkan peringatan.
Pertama-tama Arin memberi kabar pada Ocha sahabatnya. Arin sudah menuliskan pesan dan mengirimkannya. Dia menunggu balasan tapi tak kunjung datang.
"Oh iya lupa.. Ini kan masih jam kerja. Mana bisa Ocha pegang Hp."
Kemudian Arin menulis pesan pada Fian.
Arin: Assalamu'alaikum, selamat siang Fian.
Send. Sudah terkirim. Arin menunggu sejenak. Dia melihat pesannya sudah di terima dan centang dua. Itu tandanya ponsel Fian dalam keadaan aktif. Tapi belum di baca juga. Dia tunggu sejenak. Lima menit. Sepuluh menit belum ada balasan.
Arin meletakkan ponselnya. Dia merasa mengantuk. Ternyata butuh tenaga untuk berbicara panjang seperti tadi. Dia sedikit lelah. Tentu saja karena memang kondisinya belum betul-betul pulih. Arin masih butuh waktu untuk istirahat.
Dia rebahkan badannya setelah tadi hanya duduk bersandar di dinding. Dia ingin istirahat. Rasa kantuk mulai menyerangnya. Mata sudah mulai terpejam. Semilir angin yang bertiup masuk melalui jendela menambah suasana tambah nyaman. Angin sejuk yang masuk seperti membuai Arin membawanya memasuki alam mimpinya. Dia sudah terlelap. Sudah tidak perduli dengan bunyi ponsel yang bergetar. Notif pesan WhatsApp yang masuk sudah tidak dia dengar. Arin benar-benar sudah pulas Pergi ke alam mimpi yang damai.
🌸🌸🌸
Fian yang dari kamar mandi melihat ponselnya yang terlihat menyala. Ada dua pesan yang masuk. Satu dari Nando dan satu lagi dari Arin. Dia buka dulu pesan dari Nando. Fian sedikit kecewa pada Nando yang mengabarkan kalau dia keceplosan memberitahukan keadaannya pada Arin. Tapi mau bagaimana lagi semua sudah terlanjur. Dia hanya takut kalau Arin jadi khawatir dan itu akan berpengaruh pada kesehatannya. Karena Arin belum sembuh benar.
Fian membuka pesan dari Arin. Hanya salam saja isinya. Alih-alih menjawab pesannya, Fian malah langsung menelpon Arin. Biar lebih gampang menjelaskannya pikir Fian. Namun sampai panggilan ke tiga tetap tidak ada yang mengangkat. Akhirnya Fian mematikan ponselnya dan meletakkannya kembali di atas meja.
Fian bangun dari tempat tidur. Dia merasa jenuh. Fian ingin berjalan-jalan sejenak di luar ruangan. Tapi Andra tidak ada. Andra sedang keluar sebentar karena ada urusan. Entah apa urusan itu, Andra tidak menjelaskannya.
Fian nekad berjalan sendirian. Dia tidak akan jauh dari kamarnya hanya ingin duduk di depan kamar. Ingin melihat pemandangan di luar.
Fian berjalan pelan. Dia kemudian duduk di kursi yang ada di depan ruangannya. Untung kursi itu tidak jauh dari kamarnya. Jadi dia tidak susah untuk berjalan jauh.
"Kakak.. "
Sedang asyik termenung, Tiba-tiba terdengar suara anak kecil di dekat Fian. Fian seperti tidak asing dengan suara itu. Fian menoleh.
"Tia..."
Ternyata yang memanggil tadi adalah suara Tia. Tia juga sedang berjalan- jalan karena jenuh di kamarnya. Dia duduk di kursi roda yang di dorong oleh Arga.
"Siapa Sayang." Tanya Arga penasaran. Dia heran Tia bisa mengenal banyak orang di rumah sakit ini.
"Papa.. Ini kakak Fian. Yang telah membantu aku. Yang telah menemani aku saat papa belum pulang."
Arga mengangguk kepada Fian.
"Terima kasih telah menemani putri saya."
"Tidak masalah. Saya suka dengan anak kecil apalagi sama Tia yang pintar."
Fian mencubit pipi Tia dengan gemas.
"Ikh kakak sakit tau..."
"Iya maaf.. hehehe.."
__ADS_1
"Kakak kenapa? Kakak sakit juga. Kok kakak seperti Tia. Tangannya di infus."
"Kakak hanya pusing. Tapi tidak tau ini pak dokter kenapa kakak di infus segala. Katanya biar cepat sehat, begitu kata pak Dokter."
Arga tersenyum melihat interaksi keduanya. Dia merasa senang Tia punya teman. Tapi Arga juga merasa sedih. Kenapa Tia selalu bisa menjadi kesayangan semua orang. sedangkan dia malah baru sekarang menyadari dan mulai menyayangi Tia.
"Hei Tia.. Kok disini."
Tiba-tiba terdengar suara Bara yang ternyata baru saja keluar dari ruangan di sebelah mereka berada.
"Pak dokter baik. Akhirnya Tia bisa ketemu."
"Iya Tia.. bagaimana keadaan Tia. Apakah Tia sudah merasa baikan."
Tia mengangguk. Dia memandang Arga. Tapi Arga tidak mengerti apa maksud Tia memandangnya begitu.
"Pak dokter baik.Tia mau ketemu kakak cantik. Tia kangen."
Arga baru sadar ternyata Tia memintanya untuk menanyakan kakak cantiknya itu.
"Iya dokter, Tia selalu menanyakan kakak cantiknya itu. Kata dokter Bram, Dokter Bara tau dimana rumah kakak cantiknya Tia."
Fian hanya menyimak percakapan mereka. Dia tidak mengerti yang mereka bahas itu siapa.
"Oh itu. Iya saya tau rumahnya. Kalau begitu Tia sehat dulu ya. Nanti baru Pak Dokter antar ke rumah kakak cantik." Bara mencolek pipi Tia.Dia gemas sekali melihat Tia. Senyum bocah itu selalu mengingatkan pada mamanya. Senyum Tia mirip sekali dengan Sherly. Bara menggelengkan kepalanya. Dia jadi bergidik. Kenapa malah teringat Sherly.
"Kenapa Dok..?" Arga memperhatikan tingkah Bara yang sedikit aneh.
"Tidak ada apa-apa." Jawab Bara. Dia menoleh ke arah Arga yang terlihat menatapnya.
"Pasti teringat mamanya Tia ya."
"Hm.. Bagaimana pun juga dia adalah teman saya juga." Jawab Bara diplomatis. Arga tersenyum.
"Tidak adakah kenangan khusus dengan Almarhumah mamanya Tia?"
Bara memandang Arga. Dia tidak mengerti apa maksud ucapan Arga.
"Saya dengan dia tidak punya perasaan apapun selain sebagai sahabat. Kalau tidak percaya tanya sama Bram ataupun Bima. Mereka berdua tau semuanya tentang perasaan saya."
Bara merasa terintimidasi. Padahal memang benar apa yang Bara ucapkan. Dan sebenarnya Arga mengetahui itu semua. Dia hanya menggoda Bara.
"Saya cuma bercanda..."
Arga Tersenyum. Bara sedikit merasa tidak nyaman. Bara melihat ke arah Fian yang sejak tadi terlihat menyimak pembicaraan mereka walaupun sedang bercanda dengan Tia. Bara beralih ke Tia.
"Tia.. Kakak Fian ini juga teman kakak cantik lho."
"Benarkah kakak.."
"Jadi yang Tia maksud dengan kakak cantik itu Arin , Fian." Bara menjelaskan kepada Fian yang memang terlihat penasaran.
"Oh.. kalau itu kakak kenal dekat dengan kakak Arin. Bahkan rumah kami juga dekat."
"Benarkah kakak. Papa .. akhirnya Tia bisa ketemu kakak cantik lagi."
Tia menarik celana Arga. Dan Arga mengangguk. Dia berharap Tia benar- benar bisa ketemu dengan kakak cantiknya.
"Iya sayang, Tia pasti sangat senang kan. Yang penting Tia harus sembuh dulu. Baru boleh bertemu dengan kakak cantik. Iya kan pak Dokter?"
__ADS_1
Arga berjongkok di depan kursi roda Tia. Sebenarnya keadaan Tia juga sudah membaik. Sudah mendingan daripada tiga hari yang lalu.
"Bener kata papa Tia.Tia harus sembuh dulu. Rajin minum obat dan makan yang banyak. Bagaimana, Tia setuju kan."
"Iya pak dokter."
"Kalau begitu saya permisi dulu. Waktu istirahat telah tiba. Saya lapar."
Bara tersenyum. Dia mengelus perutnya yang memang sudah berbunyi. Semua orang tertawa.
"Mari Arga, Fian dan Tia. Pak dokter pamit dulu. Ingat pesan saya ya."
"Baik pak dokter."
Mereka bertiga menjawab bersamaan. Bara pergi menuju ruangannya. Dia ada janji dengan Bram. Ada sesuatu yang harus dia bicarakan dengan Bram tentang kesehatan Tia. Karena memang ada kejanggalan dengan semua hasil lab Tia. Semoga itu adalah hal yang baik.
"Tia.. Kita kembali ke kamar yuk. Ini sudah saatnya Tia makan dan minum obat."
"Baik papa. Tia mau cepet sembuh. Biar bisa ketemu Kakak cantik."
"Pamit dulu sama kakak Fian, Tia."
"Kakak Fian.. Tia kembali ke kamar dulu ya. Kakak cepet sembuh ya."
"Iya Tia, Terima kasih. Tia juga cepet sembuh ya. Semoga kita bisa bertemu kembali."
"Dadah kakak Fian."
"Mari saya duluan Fian. Semoga cepat sembuh."
"Silahkan.. Terima kasih atas doanya."
Tia melambaikan tangan ke arah Fian. Begitu juga dengan Fian.
Fian tersenyum. Menyenangkan sekali bisa bertemu Tia lagi. Gadis kecil yang sangat manis dan ceria. Fian baru tau ternyata kakak cantik yang dari kemarin Tia sebut adalah Arin.
Arin memang pantas disukai banyak orang. Pembawaan yang luwes dan lugas. Apa adanya pasti sangat menarik. Gadis yang sederhana dan tentu dengan wajah yang manis.Tidak bosan untuk dipandang.
Fian menarik nafas panjang. Saingannya pasti akan bertambah. Belum lagi restu dari mama. Fian tidak tau harus bagaimana lagi menghadapi mamanya. Karena sang mama tetap dengan pendiriannya. Tidak menyetujui hubungannya dengan Arin , walaupun itu hanya sebatas sebagai teman.
Sedangkan Arin sendiri juga tidak mau punya hubungan dengan Fian tanpa restu mamanya. Fian pusing. Dua orang yang sangat di sayanginya punya keinginan yang sama-sama keras. Tidak dapat dipatahkan.
Fian hanya menunggu waktu. Semoga semua berpihak kepadanya. Kalau tidak dia hanya bisa mengambil keputusan untuk menyerah saja. Demi kebahagiaan orang yang dia sayangi.
Fian tidak ingin ada uang tersakiti bila dia nekad tetap berhubungan. Fian sedang menyelidiki latar belakang kebencian sang mama pada keluarga Arin. Namun sampai sekarang belum ada titik terang. Tapi dia tidak putus asa. Sampai semua benar-benar sudah tidak ada jalan lagi.
Fian merasa capek juga duduk terus. Dia bangun dan masuk ke dalam ruangannya. Dia merasa lapar. Dia juga harus bersiap karena sebentar lagi dia akan pulang. Infusnya tinggal sedikit lagi. Dan badannya memang juga sudah merasa baikkan.
Tapi Andra belum datang. Entah kemana dia pergi. Sudah dua jam Andra pergi meninggalkan Fian. Dan Fian merasa benar-benar sendiri sekarang.
Tapi Fian tetap tidak peduli. Dia tidak pernah memikirkan hal tersebut. Dia akan selalu optimis meraih apa yang dia inginkan.
"Gue harus tetap semangat. Apapun rencana mama dan papa. akan gue hadapi. Tenang aja Ma. Fian akan selalu mengikuti semua keinginan mama walaupun itu mengorbankan perasaan Fian."
Bukan Fian menyerah, justru siapa tahu dengan sikap Fian yang selalu berbakti dan menurut sama kedua orangtuanya,malah bisa menjadi jalan dan jembatan atas restu dari kedua orang tuanya.
Semangat Fian.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komen. Terima kasih ❤️❤️❤️❤️❤️