Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 105


__ADS_3

Waktu terus berjalan begitu cepat. Acara pernikahan sudah selesai satu Minggu yang lalu. Bara sudah kembali ke rutinitasnya semula sebagai seorang dokter. Dan selama itu juga dia belum bertemu Arin sama sekali.


Kalau berkirim pesan sering dia lakukan saat senggang. Bara sedang menunggu waktu yang tepat untuk berbicara empat mata dengan Arin. Seperti janjinya pada dirinya sendiri, bahwa Bara ingin menyatukan Arin dengan Fian.


Rencana Bara Sabtu ini akan menemui Fian. Namun dia belum membuat janji juga. Seminggu ini dia sangat sibuk. Banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Karena cuti yang dia ambil membuat banyak laporan yang belum dia kerjakan.


Bara masih di ruangannya. Padahal hari sudah mulai senja. Dia bertekad Jumat ini kerjaannya harus bisa dia selesaikan agar besok hari Sabtu dia bisa pulang tepat waktu.


Bara sudah tidak ingin mengulur waktu lagi. Secepatnya ingin menyelesaikan apa yang sudah dia rencanakan. Dia tidak boleh menunda waktu lagi. Secepatnya pasti akan lebih baik .


Waktu semakin malam. Bara melihat jam yang terpasang di dinding. Ternyata sudah pukul sembilan malam. Untung saja pekerjaannya sudah selesai.


"Sudah malam ternyata. Pantesan mata sudah lelah. Alhamdulillah semua laporan sudah selesai. Besok tinggal menghadap dr Rizal."


Bara mengemasi semua peralatan kerjanya dan memasukkan ke dalam tasnya. Kemudian melihat ponselnya. Dan membuka aplikasi WhatsApp. Dia mencari kontak Fian. Dan kemudian menuliskan pesan di sana.


"Assalamu'alaikum Fian. Saya ingin bertemu kamu. Kapan kamu punya waktu. Bagaimana kalau besok sore sekitar pukul tiga. Kita bertemu di depan rumah sakit tempat saya bekerja."


Dan Bara mengirimkan pesan tersebut. Dan ternyata langsung centang dua. Namun belum dibaca. Bara menunggu sebentar. Tapi belum juga ada balasan. Akhirnya Bara menutup ponselnya dan memasukkan ke dalam saku bajunya.


Dia sudah mengemasi semua peralatan. Meja kerja sudah rapi. Dan Bara bersiap untung pulang. Bara keluar pintu ruang kerjanya dengan langkah yang sudah terlihat lelah. Hari sudah semakin malam.Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan tiga puluh menit. Dia berjalan gontai. Sesampainya di tempat parkir, Bara melihat seseorang yang dia kenal. Bara mengamati dengan seksama.


"Eh, Bukan kah itu Fian ya. Ada apa dia kok di rumah sakit. Wah kebetulan sekali."


Bara mendekati Fian. Yang terlihat berdiri tidak jauh dari mobil Bara di parkir.


"Fian.."


Yang dipanggil menoleh. Dan kemudian melambaikan tangan dan berjalan mendekati Bara.


"Eh .. Dokter Bara. Baru pulang dinas ya. Shift siang kah?"


"Iya, saya lembur. Ada banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan. Kamu kenapa disini."


"Menengok teman yang sakit bang."


"Oh begitu, sendirian saja. Apa punya waktu? Saya ingin berbincang sebentar."


Fian melihat jam di pergelangan tangannya. Kemudian memandang Bara.


"Iya sendirian. Bisa bang . Ada apa memangnya. "


"Kalau begitu kita mencari tempat yang nyaman untuk untuk berbincang."


Mereka berdua melihat ke sekeliling. Suasana tempat parkir terlihat sudah sepi. Fian melihat bangku panjang di bawah pohon di ujung tempat parkir.


"Bagaimana kalau di sana aja. Ada bangku kosong."


Bara melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Fian.


"Baiklah terlihat sepi, cocok untuk kita berbincang."


Mereka berdua berjalan mendekati tempat tersebut. Kemudian duduk bersebelahan di bangku tersebut. Fian menatap Bara. Dia merasa heran saja tiba-tiba Bara mengajaknya berbincang berdua.

__ADS_1


"Abang mau bicara apa. Apakah ada yang penting."


"Fian, saya sudah mengirim pesan padamu untuk bertemu besok. Tapi tadi saya melihat kamu dan saya berpikir ini kebetulan atau memang waktu merestui saya untuk bertemu langsung dengan kamu."


Fian mengambil ponselnya dan kemudian menyalakannya . Dia melihat beberapa pesan WhatsApp masuk. Dan salah satunya memang dari Bara. Tadi ponselnya dia setel mode diam. Karena di ruangan rumah sakit takut mengganggu pasien yang lain.


"Eh iya. Maaf bang tadi aku silent."


"Keburu malam, sekarang saja ya saya bicara. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan."


"Hal penting apa? Apa ada yang terjadi? Ada apa sebenarnya."


Bara mengambil nafas panjang. Dia sudah mantab dengan apa yang akan dia lakukan. Dia hanya ingin orang yang dia sayangi bahagia. Tidak lebih. Dia hanya ingin mengupayakan yang terbaik.


"Bang..."


Bara tidak menjawab.


"Pak Dokter.." Fian menepuk tangan Bara pelan.


"Eh iya. Maaf... Fian boleh saya bertanya? Apa boleh saya tahu penyebab kamu menyerahkan Arin kepada saya?"


Fian terdiam. Pertanyaan yang sulit baginya. Karena sebenarnya dia tidak sepenuh hati menyerahkan Arin pada Bara. Hatinya terasa sakit melihat orang yang dia sayangi dekat dengan orang lain.


"Fian.. tidak bisakah kamu bicara jujur pada saya."


Fian masih diam . Dia tidak tahu bagaimana caranya untuk berterus terang. Dia tak ingin pula menjelekkan nama kedua orang tuanya.


"Bang.. maafkan saya. Kalau boleh jujur sebenarnya saya tidak rela melepaskan Arin."


"Saya tidak punya pilihan lain."


"Kata siapa?! Pasti ada jalan di setiap masalah. Kamu saja yang tidak berusaha untuk menemukan jalan itu."


Fian terdiam mendengar ucapan Bara. Memang benar adanya. Dia tidak pernah melakukan apapun selain hanya diam. Bahkan dia tidak pernah berkata empat mata dengan Arin untuk membahas masalah tersebut. Bahkan dia belum pernah mengungkapkan apa yang dia rasakan.


Semuanya hanya pemikiran Fian sepihak. Dia sama sekali tidak pernah membahas isi hatinya pada Arin. Fian hanya berpikir kalau Arin tahu perasaannya karena semua perhatian yang Fian berikan pada Arin.


"Fian, pernahkah kamu bilang pada Arin kalau kamu menyukainya."


Fian menggelengkan kepala.


"Kamu itu bodoh. Kamu menyayanginya tapi tidak kamu ungkapkan. Memangnya Arin cenayang. Bisa menebak isi hati dan pikiran orang."


Fian makin menunduk. Ternyata salah pemikirannya selama ini. Hati Fian tersentuh. Fian mengangkat kepalanya dan menatap Bara.


"Bang.. Tapi.."


"Tapi apa.. kamu terhalang restu kedua orang tuamu bukan?"


"Abang tahu tentang itu?"


"Maaf Fian. Tidak sengaja saya mendengar Mama kamu memaki Arin. Sepertinya mama kamu tidak menyukai Arin."

__ADS_1


Fian menunduk lagi. Dia merasa malu sampai-sampai makian sang mama di dengar orang lain.


"Maafkan mama saya bang."


"Kamu tidak perlu meminta maaf pada saya. Saya tidak ada sangkut pautnya. Minta maaflah pada Arin. Jangan lari begitu saja. Kamu laki-laki kan. Jangan jadi pengecut."


Bara bangun dari duduknya dan berjalan menjauhi Fian. Hatinya sudah terbakar dengan perasaan sakit dan juga cemburu. Dia tidak tega jika mengingat makian yang keluar dari mulut mamanya Fian. Setega itu memaki orang dengan tuduhan yang tidak jelas.


"Bang. Lalu saya harus bagaimana..?"


Fian mengejar langkah Bara. Dia masih ingin berbicara banyak dengan Bara. Selama ini Fian hanya memendamnya sendiri.


Bara berhenti. Namun sama sekali tidak menoleh dan Bara berkata.


"Pikirkanlah. Malam ini kamu harus bisa mengambil sikap. Kalau tidak kamu akan menyesal nanti. Camkan ucapan saya. Saya tunggu kabar baik selanjutnya."


Setelah berkata Bara meneruskan langkah. Sebenarnya dia merasa tidak rela jika sampai Arin kembali pada Fian. Namun sekali lagi dia berpikir semua demi kebahagiaan Arin.


Bara berjalan ke arah di mana mobilnya di parkir dan masuk ke dalamnya. Kemudian menyalakan mesinnya dan pergi dari tempat tersebut, meninggalkan Fian dalam kebimbangan.


Fian menatap kepergian Bara dengan penuh tanda tanya.Dia masih belum mengerti apa yang Bara maksudkan. Fian hanya mengangkat bahu. Kemudian dia menuju motornya dan menyalakan mesin lalu menjalankan menuju pulang.


Fian ingin segera pulang. Dan ingin berendem. Dia merasa tertohok dengan ucapan Bara. Memang benar dia selalu ada buat Arin. Namun semua perempuan pasti menginginkan pengakuan. Dan semua perempuan ingin mendengar ungkapan perasaan, dan bukan hanya menebak-nebak saja.


Fian menjalankan motornya dengan perlahan. Dia masih saja berfikir. Masih terngiang ucapan Bara tadi. Fian membenarkan ucapan Bara. Selama ini ternyata dia adalah seorang pengecut. Dia hanya berpikir kebaikan buat orang tuanya. Memang itu semua benar. Namun sama sekali dia tidak pernah bertanya apapun yang dirasakan Arin.


Fian berpikir semua demi kebaikan Arin juga. Namun Fian salah. Sama sekali dia tidak pernah bertanya apa mau Arin. Fian hanya mengikuti kata hatinya saja, tanpa sedikitpun minta pendapat orang lain.


Sesampainya di rumah. Fian Langsung masuk kamar dan berendam. Kepalanya terasa sangat pusing. Ucapan Bara masih terngiang-ngiang. Dia harus mendinginkan kepalanya. Sambil berendam Fian terus saja berfikir. Dia harus bertindak secepatnya. Sebelum semuanya terlambat.


Tak terasa satu jam Fian berendam. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Dia baru saja menyelesaikan mandinya.


Fian merebahkan tubuhnya. Fian telah mengambil keputusan. Setelah cukup lama berpikir tentunya. Pikirannya sudah terbuka. Dia sudah menemukan langkah apa yang harus dia ambil. Dan setelah sekian lama akhirnya dia bisa tidur juga.


Selama ini dia tidak pernah benar-benar tidur pulas. Pikirannya selalu tentang Arin dan Arin tanpa ada usaha untuk menemuinya. Seandainya dia bisa mengambil sikap, semuanya tidak akan berlarut-larut seperti ini. Semoga semua segera terkuak dan dan dapat berakhir sesuai dengan keinginan.


🌸🌸🌸


Bara melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hatinya sungguh merasa sakit. Sebenarnya dia tidak rela . Namun menurutnya inilah jalan yg terbaik. Bara hanya berpikir ini semua demi kebaikan Arin tentunya. Bara hanya ingin melakukan yang seharusnya. Walaupun Dia hanya berharap Arin adalah jodohnya. Namun dia tidak ingin egois. Dia hanya ingin yang terbaik untuk semuanya.


Jarak rumah sakit ke rumah ditempuhnya hanya lima belas menit. Padahal biasanya tiga puluh menit baru sampai. Dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dan untungnya suasana lalu lintas sudah tidak begitu padat.


Bara sampai di rumah sudah sangat malam. Dia langsung masuk kamar mandi untuk berendam. Hatinya terasa perih. Dia harus rela melepaskan Arin. Bara mengisi bathtub dengan air sampai penuh. Tidak lupa dia beri aromaterapi seperti biasanya. Dia ingin mendinginkan kepalanya. Dia merasa sangat capek hari ini. Pekerjaan yang menyita waktu dan juga pikiran. Di tambah lagi kejadian tadi. Namun Bara merasa lega juga. Karena telah melaksanakan apa yang dia niatkan. Bara berharap apa yang dia lakukan tidak sia-sia. Semoga Arin dan Fian benar-benar bisa bersatu.


Setelah mandi tubuh terasa segar. Pikiran pun terasa ringan. Di tambah lagi rasa ikhlas yang muncul dari dalam hati menambah ketenangan jiwa dan pikiran.


Karena merasa lelah dengan mudah Bara tertidur. Begitu dia meletakkan kepalanya, dia langsung terpejam dan tidur dengan pulas. Terdengar dari bunyi nafasnya yang teratur.


Kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah Bara bisa melihat kebersamaan Arin dengan Fian.Apakah dia bisa dengan mudah melepaskan Arin yang adalah cinta pertamanya.


Bagaimana kah hari-hari Bara selanjutnya...


Bersambung..

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya ❤️❤️❤️


__ADS_2