
Malam itu Arin tidur dengan gelisah. Berkali-kali dia berganti posisi. Terlentang sebentar. Kemudian miring ke kiri. Kembali lagi terlentang dan kemudian miring lagi. Seperti ada yang mengganggunya. Sepertinya Arin sedang bermimpi. Bisa jadi dia sedang bermimpi buruk.
Tiba-tiba Arin berteriak.
"Fian.. Fian.."
Setelah itu Arin tertidur lagi. Entah mimpi apa dia. Setelah berteriak tadi Arin bisa tidur dengan tenang. Tidak ada lagi ganti-ganti posisi. Sekarang posisi Arin sedang tidur miring ke kanan.
Namun tiba-tiba Arin berteriak lagi. Kali ini lebih keras.
"Fian.. Fian.. bukan Fian. Bukan Fian.. Jangan."
Dan Arin terbangun. Dia duduk sambil melihat ke sekeliling ruangan.
"Gue mimpi lagi. Mimpi itu datang lagi."
Arin masih duduk. Keringat membasahi keningnya. Arin meraup mukanya. Dia terlihat gelisah. Kemudian Arin bangun dan mengambil minum yang selalu dia sediakan dimeja kamar. Dia teguk semua air yang ada di dalam gelas tersebut hingga habis.
Arin berjalan keluar ke kamar mandi. Dia kemudian mengambil air wudhu. Arin melaksanakan sholat malam untuk menenangkan hatinya.
Setelah bangun dari mimpi tadi perasaannya menjadi tidak tenang. Merasa khawatir yang berlebihan. Padahal itu hanya mimpi. Arin takut terjadi apa-apa dengan Fian. Setelah sholat Arin masih duduk terpaku. Banyak doa yang dipanjatkan untuk keselamatan Fian dan ketenangan harinya.
Cukup lama Arin berdoa. Setelah sholat Arin tidak langsung tidur. Dia masih terjaga. Perasaannya sudah sedikit tenang.
Arin duduk di sisi ranjang. Dia mengambil ponselnya dan membukanya.Dia lihat ada pesan dari Fian. Dia buka dan baca. Dia pahami. Karena Arin merasa pesan Fian sangat menggangu hatinya. Arin tidak mengerti maksud pesan dari Fian . Dia baca berulang kali.
"Ini foto yang tadi.Lo terlihat sangat cantik. Seperti gula dalam kopi pahit. Sangat pas untuk menjadi pelengkap. Sangat indah seperti senja di sore kemarin. Teruslah tersenyum seperti ini. Jangan pernah bersedih untuk hal yang tidak perlu. Jadilah Arin yang selalu kuat. Dalam keadaaan apapun."
Arin termenung. Tapi bener kata Fian. Arin harus menjadi gadis yang kuat.
"Apa maksud Fian berkirim pesan seperti itu. Lalu mimpi gue tadi. Apa ada hubungannya ya."
Arin masih memikirkan semuanya. Dia tidak bisa tidur lagi. Arin melihat jam di ponselnya. Sudah hampir jam tiga pagi. Sebenarnya dia Harus tidur lagi. Kalau tidak nanti pasti mengantuk saat bekerja. Namun dia sudah berusaha untuk memejamkan mata. Tapi tidak berhasil tidur.
Akhirnya Arin bangun dan menuju ke dapur. Ternyata bunda sudah bangun. Hari ini ada pesanan kue yang akan diambil pukul sepuluh pagi. Makanya bunda sudah harus bangun sepagi ini.
"Arin, kok sudah bangun." Tanya bunda sambil membuat adonan kue bolu kukus gula merah.
"Biasanya Arin juga sudah bangun Bun."
Arin mendekati bunda. Ia membantu memasukan adonan ke dalam kukusan.
"Pesenan berapa macam kue hari ini."
" Seratus lima puluh tiga macam kue, Rin. Buat rapat katanya. Alhamdulillah ya Rin. Rejeki kita terus mengalir."
"Iya bunda, Dari rumah kita juga bisa menghasilkan uang."
Arin mendekati bunda. Arin memeluk bundanya dari samping. Sebenarnya dia ingin memeluk bunda dari tadi. Namun tidak ada alasan. Baru sekarang ada alasan untuk memeluk bunda. Hati Arin sedang tidak baik-baik saja. Dia butuh pelukan dari bunda. Namun jika tiba-tiba langsung memeluk, takut bunda curiga dan ikut cemas.
"Kamu kenapa. Tumben manja begini." Ucap bunda sambil tangannya terus bergerak memasukkan adonan ke dalam cetakan.
"Tidak ada apa-apa bun, Hanya ingin memeluk bunda."
Arin meletakkan kepalanya di pundak bunda. Dia ingin sekali bercerita namun takut menambah beban buat bunda.
"Ya udah kalau tidak mau cerita." Bunda membalas pelukan Arin. Bunda mengelus pundak Arin. Tentu saja hal ini membuat perasaan Arin sedikit membaik.
"Eh . aku angkat dulu kuenya. Udah bisa kan bund."
__ADS_1
Arin berjalan menuju kompor membawa nampan untuk mengangkat bolu kukus yang sudah matang dan memasukkan lagi adonan yang belum matang.
"Tumben sudah bangun kak."
Tiba-tiba Rama sudah ada di dapur.
"Rama.. ikh bikin kakak kaget aja."
Arin terkejut mendengar suara Rama yang tiba-tiba menegurnya. Arin menabok pundak Rama pelan.
"Kakak aja yang terlalu meresapi peran sebagai inem. Hahaha.."
"Diih.. tapi memang harus fokus. Ini panas Ram. Kalau terkena uapnya kan panas."
Mereka bertiga mengerjakan pesanan kur sambil berbincang hal-hal yang ringan. Hal bisa mengalihkan perasaan Arin yang tak karuan.
Tak terasa waktu cepat berlalu. Adzan subuh sudah berkumandang. Arin kembali ke kamar dan bersiap-siap untuk bekerja. Begitu juga Rama. Pembuatan kue diteruskan bunda sendiri. Hanya tinggal mengepak saja.
Rama dan Arin serta anggota keluarga lain harus keluar rumah semua. Keseharian mereka memang begitu. Sebagian keluar rumah untuk bekerja dan bersekolah. Hanya bunda yang berada di rumah.
🌸🌸🌸
Sore itu Arin sepulang bekerja langsung ke kampus. Dia harus menemui dosennya untuk meminta persetujuan judul skripsinya. Ini tahun terakhir kuliah Arin. Sekarang dia sedang menyusun skripsi. Dia harus sering menemui dosen untuk konsultasi masalah tema skripsinya. Arin ingin segera bisa menyelesaikan kuliahnya dan segera bisa mendapat gelar sarjana.
Dia harus lulus tahun ini. Itu sudah tekad Arin. Maka dari itu dia harus semangat. Menepis semua lelah yang dia rasakan. Mengesampingkan semua perasaan nya. Dia tidak mau keadaan nya saat ini malah mengganggu skripsinya. Mengganggu fokus nya pada pelajaran.
Sepulang kerja dia tidak pulang dulu. Langsung ke kampus. Tadi dosen memberi kabar bahwa dia hadir hari ini. Dan itu kesempatan Arin untuk bertemu. Untuk berdiskusi tentang skripsi nya.
Arin menjalankan motornya perlahan menuju kampus. Arin sampai kampus menjelang Maghrib. Dia langsung menuju mushola. Sambil menunggu adzan Maghrib berkumandang. Karena dia berjanji akan bertemu dosen sehabis maghrib. Tidak mungkin pulang dulu. Malah membuang waktu dengan percuma.
Sehabis sholat Maghrib dengan segera Arin menuju ruang dosen. Dia berjanji akan bertemu di sana. Arin mengetuk pintu ruangan sang dosen.
Tok.. tok..tok.
"Bang.."
"Arin.."
Mereka berdua terkejut. Saling memandang dan menunjukkan jari ke tubuh lawannya.
"Bang Bima kok disini..." Tanya Arin pada orang tersebut.
"Iya Rin.. Masuk ke dalam dulu.. " Bima mempersilahkan Arin untuk masuk ruangan.
"Arin mau bertemu dosen pembimbing. Arin mau setor judul dan paragraf awal skripsi Arin. Kok abang disini.." Arin semakin heran. Karena di ruangan dosen hanya ada Bima seorang. Dia sudah meneliti semua sudut ruangan dengan ekor matanya.
"Kamu mahasiswa di sini." Tanya Bima santai. Dia sudah tau kalau Arin kuliah di sini. Cuma dia pura-pura tidak tau. Menurutnya akan menjadi sebuah kejutan buat Arin.
"Iya bang. Pertanyaan Arin ga di jawab. Kenapa Abang di ruangan ini?"
Bima tertawa. Dia ingin mengerjai Arin. Pasti Arin akan kaget.
"Hahaha.. Kamu pasti heran ya, Saya ada di sini." Bima merasa senang melihat kebingungan Arin.
"Beneran ini Bang. Aku kan mau bertemu dosen pembimbing di ruangan ini."
"Siapa nama dosennya?"
"Bimantara Syahputra.. Jangan bilang Abang dosen itu ya. Kan nama Abang Bima juga.."
__ADS_1
Arin meletakkan telunjuknya di keningnya. Seolah sedang berpikir.
"Hahaha.. Kamu lucu banget sih Rin. Pantesan Bara suka." Bima tertawa semakin keras. Dia merasa lucu saja. Bisa menjadi dosen Arin.
Awalnya dia tidak ingin menerima tawaran sang papa untuk menggantikan dirinya. Papa akan pergi ke luar negeri untuk mengurus bisnisnya. Sang papa menugaskan Bima untuk menggantikan sebentar tugasnya. Kata papa hanya sebentar dan akan mendapatkan bonus bila mau menggantikan tugas sang papa. Makanya Bima menerima semua tawaran papa. Sebenarnya tidak digantikan juga tidak ada masalah. Namun kata papa, kasian ada mahasiswi yang butuh bimbingan untuk skripsi. Makanya sang papa memberi tawaran pada Bima.
"Bang Bima seorang dosen ya."
Arin semakin bingung. Dia hanya memandang Bima. Tidak percaya kalau dosen pembimbingnya adalah orang yang dia kenal.
"Iya Arin. Saya menggantikan papa. Papa ada perjalanan bisnis. Mau tidak mau saya harus menggantikan beliau di sini."
"Oh begitu. Lalu skripsi saya bagaimana dong."
"Bagaimana apanya. Saya yang akan menggantikan papa juga untuk menjadi dosen pembimbing kamu."
Arin masih saja tidak percaya. Dia merasa jengah. Apa bisa nantinya dia belajar di bawah pimpinan Bima yang notabene nya suka becanda.
"Kamu meragukan saya ya.Hm.."
"Bukan begitu bang. Eh pak Dosen."
Arin bingung harus memanggil apa. Dia jadi kikuk dan serba salah.
"Biasa aja Arin. Kamu masih boleh memanggil saya Abang kok. Tapi kalau pas di kelas jangan. Ok."
"Baik pak Dosen.."
"Hahaha.. Lucu ya kedengaran nya."
Bima malah tertawa. Arin semakin merasa kikuk. Dia hanya melihat ke bawah.
"Ya udah sekarang kita mulai saja. Mana coba saya lihat apa yang sudah kamu tulis."
Arin dan Bima mulai bicara serius. Melihat sikap Bima yang profesional, Arin menjadi nyaman. Bima bisa menempatkan diri sebagai apa di sini. Arin akhirnya bisa menyesuaikan diri juga. Dia dengan mudah mampu mengutarakan apa yang ada dibenaknya tentang skripsi yang akan dia tulis nanti.
Saking fokusnya berdiskusi dengan Bima, Bahkan Arin sampai melupakan janjinya pada Bara. Dia sama sekali tidak ingat bahwa sore ini dia ada janji bertemu Bara di depan rumah sakit. Dia tidak tau bahwa Bara sedang menunggunya di depan rumah sakit sesuai tempat mereka janji bertemu.
🌸🌸🌸
Senja sudah terlewati sejak tadi. Warna jingga diufuk barat telah hilang. Bahkan Adzan isya sudah berkumandang. Namun Bara masih saja duduk di depan rumah sakit. Masih menunggu Arin yang berjanji akan bertemu sepulang kerja. Namun sampai sekarang tidak ada kabar sama sekali.
"Kemana Arin ya. Kok tidak ada kabar. Apa dia lupa. Ini sudah hampir jam delapan. Apa gue tinggal pulang aja ya. Tapi kalau nanti dia datang bagaimana."
Bara berbicara sendiri. Berkali-kali dia melihat ke arah jalan. Siapa tahu Arin tiba-tiba muncul. Berkali-kali pula Bara melihat ke arah jam tangannya. Sudah cukup lama dia menunggu. Namun tetap tidak ada tanda-tanda Arin akan muncul. Dan tidak satupun pesan yang dia terima dari Arin.
"Apa Arin lupa. Apa janji ini tidak penting buatnya. Apa mungkin dia tidak pernah memandang sedikitpun padaku." Bara masih saja menunggu. Dia takut kalau Arin tiba-tiba datang dan dia tidak ada.
Bara melihat ponselnya. Status Arin di aplikasi WhatsApp online jam enam tadi. Sudah tiga jam yang lalu. Dan selama itu pula dia menunggu. Apakah Arin akan datang sesuai janjinya. Apakah Bara harus tetap menunggu. Apakah Arin lupa akan janjinya pada Bara.
Akhirnya Bara bangun dari duduknya. Dia merasa lapar. Dia menuju tenda bakso dan memesan satu porsi. Dia makan diluar tenda. Dia makan bakso di dalam mobilnya, agar dia bisa melihat kedatangan Arin.
Namun sampai bakso di mangkoknya habis pun Arin belum nampak. Bara mulai putus asa. Ini sudah terlalu malam dan juga sudah terlalu lama dia menunggu.
"Mungkin dia benar-benar tidak datang. Mungkin dia benar-benar melupakan janjinya. Ya sudahlah lebih baik pulang saja. Semoga dia dalam keadaan baik-baik saja."
Setelah membayar pesanannya Bara menjalankan mobilnya pulang ke rumah. Karena Bara merasa sudah tidak ada harapan lagi. Sudah terlalu malam. Tidak mungkin Arin akan datang.
Bara pulang dalam keadaan lesu. Tapi dia berharap di lain waktu dia masih bisa berjanji untuk bertemu Arin lagi.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan like dan komen Terima kasih ❤️❤️❤️