
Bara belum bisa memejamkan mata. Dia masih kepikiran kata-kata Fian tadi siang. Apa maksud Fian yang sebenarnya. Bukan kali ini saja Fian berkata seperti itu. Dulu waktu di rumah sakit Fian juga pernah berkata begitu. Namun yang Bara lihat, Fian dan Arin selalu terlihat begitu mesra. Pandangan mata mereka memancarkan cinta dan kasih sayang. Bara selalu merasa iri melihat Arin yang selalu memandang Fian penuh cinta. Akan kah dia bisa masuk di kehidupan Arin. Mungkin kalau di kehidupan Arin bisa. Tapi kalau di hati Arin, Bara merasa itu sangat sulit.
"Bagaimana cara mendapatkan hatimu Arin. Semakin hari aku semakin sayang kamu. Rasa yang telah hadir dari dulu tak bisa aku buang begitu saja."
Memang benar, Bara selalu ingin mengingkari perasaannya pada Arin. Namun selalu gagal. Berkali-kali dia berusaha mendekati gadis lain. Namun selalu kandas bahkan sebelum hubungan di mulai. Baru kenalan saja dia sudah selalu mundur. Karena di hati Bara hanya ada Arin.
Kenangan masa lalu masih terlihat nyata di pelupuk matanya. Ciuman pertamanya yang telah dicuri Arin, masih membekas nyata di bibirnya. Bahkan rasanya baru kemarin. Padahal sudah Lima tahun yang lalu itu terjadi. Tapi rasanya masih terasa sangat manis.
Bara tersenyum miris. Apa dia terobsesi pada Arin. Apakah ini obsesi namanya? Tapi dia tidak bisa membohongi perasaannya. Dia benar-benar menginginkan Arin untuk menjadi miliknya.
Bara menarik nafas berat. Perasaan itu membuat dia sedikit tertekan. Dia merasa bukan cowok yang bisa dengan mudah akrab dengan lawan jenis. Dia selalu merasa tak berkutik di hadapan gadis yang disukainya.
Tiba-tiba terdengar lagu Jambrut yang berjudul pelangi di matamu.
"Tiga puluh menit kita disini tanpa suara dan aku resah harus menunggu lama kata darimu.
Mungkin butuh kursus merangkai kata untuk bicara dan aku benci harus jujur padamu tentang semua ini.
Jam dinding pun tertawa karena ku hanya diam dan membisu. ingin ku maki diriku sendiri yang tak berkutik di depanmu."
Bara tersenyum. Kenapa pas sekali dengan keadaan dirinya. Lagu yang dibawakan sangat apik oleh grup band yang hits di jamannya. Lagu yang benar-benar menggambarkan keadaan dirinya saat ini.
Bara ingin sekali memaki dirinya. Namun bagaimana, memang begitulah adanya.
"Aku harus berusaha. Masa iya seorang dokter yang terkenal tidak bisa mendapatkan Arin. Ayo Bara.. Ayo beranikan dirimu. Ayo kamu bisa."
Bara berbicara sendiri sambil mengepalkan tangannya penuh semangat. Dia berusaha memotivasi dirinya. Dia harus bisa membuat dirinya berani mengambil langkah. Toh Arin belum ada pemiliknya.
Bara mengambil ponselnya. Dia mencari kontak atas nama Arin. Dilihatnya status WhatsApp nya dan ternyata online. Bara beranikan diri untuk menyapa lebih dahulu.
Dan ternyata di balas oleh Arin
Bara merasa sangat senang. Karena Arin mau diajak berbincang lewat pesan singkat. Bahkan Bara memberanikan diri untuk mengajak ketemu. Bara tersenyum sendiri. Dia merasa lega sudah bisa memulai hal yang dia takuti selama ini. Ternyata Arin memang anak yang ramah seperti terlihat selama ini.
Bara meletakkan ponselnya dengan penuh rasa bahagia. Dia bersyukur bisa melewati hal-hal yang dia takuti selama ini. Ternyata semudah itu, pikirnya. Bara saja yang memang tidak berani mengambil sikap.
Baru saja Bara meletakkan ponselnya, sudah ada notifikasi pesan masuk lagi. Bara mengambil ponselnya lagi
Dia pikir ada pesan dari Arin lagi, namun ternyata bukan. Ada pesan dari nomer lain. Dia lihat ternyata pesan dari Fian. Bara membuka pesan itu Pesan yang lumayan panjang. Bara membaca pelan pesan tersebut.
"Assalamu'alaikum, Bang maaf Fian pamit. Fian harus pergi. Seperti kata Fian tadi, Fian menitipkan Arin kepada Abang. Bukan bermaksud menganggap Arin sebagai barang. Namun Fian sangat menyayangi Arin. Fian berharap Abang mau menjaga Arin. Kita sama-sama tau Arin gadis seperti apa. Saya yakin Abang yang pantas menjaga Arin. Jaga dia ya Pak Dokter Bara. Buat dia bahagia. Dan jangan biarkan airmata jatuh. Terimakasih Pak Dokter Bara. Saya yakin Pak Dokter pasti sanggup menjaganya karena saya tau Pak Dokter menyayanginya juga. Selamat tinggal Fian pamit untuk pergi jauh dari kehidupan Arin. Wassalamu'alaikum."
Bara mengulang lagi. Dia baca lagi pesan tersebut. Dia ingin pahami isi pesan tersebut.
"Jadi Fian benar-benar pergi. Pantesan tadi Arin chat seperti itu. Jadi memang Fian sudah memberi isyarat pada Arin."
Bara membalas pesan Fian.
"Wa'alaikumsalam. Baiklah Fian, ini yang kamu mau kan. Jangan salahkan saya jika nanti Arin berpaling sama saya. Saya pasti akan menjaga Arin sepenuh jiwa saya. Bahkan akan saya pertaruhkan nyawa saya."
Bara membaca ulang apa yang dia tulis barusan. Dan setelah merasa mantab, dia kirim pesan tersebut. Namun cuma centang satu. Dan status Fian sudah tidak online lagi.
Bara mematikan ponselnya. Dia sudah mulai merasa mengantuk. Dia merasa lelah hari ini. Seharian berada di luar rumah. Seharusnya hari libur dia gunakan untuk beristirahat. Namun tadi Tia merengek minta di beritahu rumah Arin.
__ADS_1
Ingat Tia, Bara jadi ingat Arga juga. Bara jadi berpikir sesuatu. Dia tadi melihat pandangan Arga yang melihat ke arah Arin penuh kekaguman. Sepertinya Arga juga tertarik pada Arin.
"Wah bertambah lagi saingan. Apalagi Tia sangat dekat sama Arin. Semoga tidak jadi penghalang buatku."
Bara membaringkan tubuhnya.Dia harus tidur sekarang. Besok dia harus kembali bekerja. Dia menarik selimutnya dan mulai memejamkan mata. Dia mulai terlelap. Bara sudah tidak ingat apa-apa lagi. Begitu mudahnya Bara tertidur. Mungkin karena lelah dan juga sudah sangat mengantuk. Lagian memang hari sudah malam juga. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Sudah saatnya beristirahat. Sudah saatnya mengistirahatkan tubuhnya, agar besok pagi kembali segar untuk memulai pekerjaan.
Selamat tidur pak Dokter Bara. Mimpi yang indah.
🌸🌸🌸
Fian sudah terbang menuju Surabaya. Di dalam pesawat dia hanya diam saja. Fian duduk jauh dari Adam. Sedangkan Adam duduk bersama Hari, temannya. Sebenarnya Hari akan menyusul Minggu depan. Namun karena ada perubahan jadwal rapat. Makanya dia berangkat sekarang.
Rencananya mereka berdua mau memperkenalkan Fian ke tempat teman mereka. Fian direkomendasikan di suatu perusahaan ekspor impor yang cukup besar.
Adam dan Hari melihat kinerja Fian selama ini yang penuh dengan dedikasi dan loyalitas yang tinggi. Walaupun Fian kerja hanya paruh waktu, namun melihat kesungguhan Fian dalam bekerja membuat kedua orang tersebut tertarik untuk membantu Fian. Mereka ingin agar Fian bisa lebih maju lagi. Agar Fian bisa lebih mengembangkan diri lagi.
Akhirnya jalan inilah yang mereka tempuh. Mereka berdua memberi beasiswa kepada Fian untuk kuliah di perguruan tinggi di Surabaya sekaligus bekerja di sebuah perusahaan besar.
Perjalanan Jakarta Surabaya hanya ditempuh dalam waktu satu jam tiga pukul menit. Pukul sebelas tiga puluh mereka sampai di kota Surabaya.
Dalam perjalanan Fian hanya diam merenung. Setelah sejauh ini masih ada rasa tidak rela untuk menyerahkan Arin pada Bara. Fian sangat menyayangi Arin. Walaupun dalam ucapan dan tulisan dia Sudah mengungkapkan semua. Namun hatinya sangat berat. Bagaimana tidak, sejak kecil mereka besar bersama. Sudah tau watak dan sifat masing-masing. Tapi setelah berpikir tentang perseteruan keluarga mereka, Fian memantapkan diri untuk mundur apalagi seminggu yang lalu dia tidak sengaja mendengar ucapan Adam dan Hari di ruang kerja. Waktu itu Fian akan menyerahkan hasil pekerjaannya belum sempat dia mengetuk pintu terdengar percakapan yang membuat dadanya berdenyut.
Flashback On
Fian tiba di kantor Adam pukul sepuluh pagi. Laporan keuangan yang Adam minta telah dia selesaikan tadi malam. Dan akan dia serahkan hari ini. Dan juga hari ini Fian akan membicarakan tentang beasiswa yang Adam tawarkan kepadanya. Fian tergiur untuk menerima beasiswa itu. Di depan pintu kantor Fian bertemu dengan Somad.
"Bang, Pak Adam ada ga?" Tanya Fian pada Somad yang sedang duduk di meja kerjanya.
Fian berjalan menuju ruangan Adam. Dia hendak mengetuk pintu,namun diurungkan niatnya ketika terdengar percakapan dua orang yang sangat di kenalnya. Percakapan antara Adam dan Hari.
"Dam, Wajah Fian mirip sekali dengan Sutejo kan, benar dia anaknya." Itu suara Hari yang berbicara. Fian semakin menajamkan telinganya. Namanya disebut dalam percakapan tersebut. Tentu saja membuatnya menjadi ingin tahu. Dia ingin tau apa kelanjutan percakapan tersebut.
"Benar Har, masih ingat Sutejo yang perwira itu kan. Dia anak keduanya."
Itu suara Adam. Fian semakin mendekatkan kepalanya ke pintu.
"Bukankah anak Sutejo yang kedua meninggal ya. Ingat tidak kejadian waktu itu. Bukannya istri kamu juga waktu itu juga akan melahirkan ."
"Oh ya waktu itu. Bukan begitu ceritanya. Tapi tidak tahu juga kebenaran nya." Jawab Adam lagi.
"Maksud kamu bagaimana. Coba jelaskan."
"Apa harus diceritakan. Cerita ini sudah lama terkubur."
"Aku masih penasaran, karena yang aku dengar Sutejo menjadi begitu membenci Yanto."
"Benarkah. Padahal kesalahan ada pada suster ika. Kamu memang tidak tahu cerita yang sebenarnya."
"Tahu, tapi tidak yakin juga, coba kamu cerita Dam."
"Baiklah.. Jadi begini"
Adam menceritakan semua kejadian waktu itu kepada Hari.
__ADS_1
"Tapi tidak tahu juga, semua kunci ada di tangan suster Ika."
"Kasian Sutejo dan Yanto. Mereka menjadi bermusuhan sampai sekarang. Dan waktu itu suster ika melarikan diri dibantu Santoso. "
"Jadi sebenarnya Fian anak siapa. Sutejo apa Yanto."
"Itulah yang menjadi pertanyaanku juga. Tapi melihat wajahnya ada kemiripan juga dengan Yanto. Entahlah yang benar yang mana."
"Apalagi saat itu ada kasus juga kan. Yanto juga dituduh menggelapkan uang perusahaan orang tua Sutejo."
"Persoalan yang sangat rumit. Sampai sekarang kedua keluarga itu masih saja berseteru. Apalagi yang aku dengar waktu itu Yanto juga dituduh memperkosa Maria. "
"Hah.. yang ini baru aku dengar. Masa iya. Aku tidak percaya. Aku kenal siapa Yanto mana mungkin dia berbuat seperti itu. Ini kunci semuanya ada di Suster Ika dan Santoso."
"Kasian Yanto kehidupannya sekarang hanya pas-pasan. Dia bekerja sebagai buruh serabutan. Karena keluarga Sutejo memboikot Yanto. Dia tidak bisa bekerja di perusahaan manapun. Padahal belum tentu semua itu dia yang melakukan."
"Makanya ayo kita ke Surabaya. Kita cari suster Ika. Dia kunci semua masalah ini."
Fian tercengang mendengar semuanya. Cerita yang begitu membuat sesak di dada. Jadi ini yang membuat mamanya sangat membenci keluarga Arin. Jadi ada kejadian besar pada saat itu. Jadi selama ini dia menyukai adik kembarnya sendiri. Fian tidak percaya.
"Tidak mungkin, ini tidak mungkin." Ucap Fian. Dia benar-benar tidak percaya dengan yang dia dengar. Tanggal lahir mereka juga berbeda.Tidak ada indikasi ke arah itu. Wajah mereka berbeda jauh. Cuma satu hal yang membuat mereka seperti saudara, bisa merasakan perasaan sakit yang sama. Fian benar-benar tidak percaya.
Percakapan kedua orang tersebut belum selesai. Fian masih ingin mendengarkannya. Namun dia sudah merasa tidak sanggup lagi mendengar kan semua. Dia harus menguatkan hatinya dulu. Buru-buru dia keluar. Padahal justru percakapan selanjutnya adalah jawaban dari semua pertanyaan Fian selama ini.
Fian melangkah cepat keluar dari ruangan tersebut. Somad heran melihat Fian yang pergi tergesa-gesa.
"Mas.. Mas Fian mau kemana.?"
Namun Fian terus berjalan. Dia sudah tidak ingin mendengarkan apa pun. Hatinya terasa sangat sakit.
Dia terus berjalan keluar menuju motornya. Dia pergi jauh dari tempat itu. Bahkan dia tidak masuk kuliah karena begitu shock mendengar semuanya.
Fian pergi keluar kota, Dia pergi ke tempat yang sepi. Dia merenungkan semuanya. Dia berpikir harus mengambil langkah. Dia tidak mau menyakiti banyak pihak.
Hari berikutnya Fian menemui Adam dan membicarakan tentang beasiswa tersebut. Dan mereka membuat kesepakatan. Bahwa Fian bisa mendapatkan beasiswa asal mau kuliah di Surabaya.
Hal ini malah keberuntungan buat Fian. Dia bisa mencari suster Ika. Dan akan mencari tahu semua kebenaran yang selama ini menjadi kunci kebencian keluarganya.
Dan saat dia meminta ijin kepada sang mama, mama langsung menyetujui keinginan Fian. Sang mama berpikir kalau Fian di Surabaya, Fian akan jauh dari Arin, dan dia tidak perlu lagi menahan semua perasaannya selama ini.
Dan benar akhirnya Fian berangkat juga ke Surabaya dengan membawa sejuta pertanyaan dan semangat untuk memecahkan misteri yang sebenarnya.
Flashback off
Fian sudah sampai di Surabaya. Dia akan tinggal di rumah yang disediakan Adam. Sebuah rumah minimalis. Yang cukup untuk ditempati sendiri. Sedangkan Adam dan Hari menginap di hotel yang dekat dengan bandara. Mereka berjanji bertemu besok pukul sepuluh pagi. Fian akan dijemput oleh supir dan semua urusan akan diselesaikan besok termasuk urusan administrasi kuliah Fian.
Malam ini Fian tidur dengan sedikit perasaan gelisah. Mungkin karena capek juga dia bisa tertidur lelap. Dia harus istirahat malam ini. Karena mulai besok petualangannya akan di mulai.
Akankah Fian menemukan semua misteri hidupnya. Akan kah Fian berhasil membuka misteri permusuhan kedua keluarga yang sangat disayanginya?
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan like dan komen Terimakasih ❤️❤️❤️
__ADS_1