Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 79


__ADS_3

Arin sampai rumah pukul empat lebih tiga puluh. Dia merasa lelah sekali hari ini. Tadi dia harus berkeliling dulu untuk mencari Ocha dan Tia. Bodohnya bukan bertanya pada sekuriti malah berkeliling mencari sendiri. Tapi karena putus asa akhirnya dia bertanya juga pada sekuriti. Coba kalau dari pertama bertanya pasti tidak akan secapek ini.


Ternyata Tia sudah dijemput keluarganya.Tadi sekuriti bercerita kalau Tia adalah cucu dari pemilik perusahaan. Untung saja tidak terjadi hal buruk pada Tia. Untung tadi Arin membawa Tia ke ruang istirahat. Dan beruntung juga Ocha tidak kena omel sang pemilik perusahaan.


Arin bisa bernafas lega walaupun merasa sangat lelah. Seharusnya dia sudah bisa beristirahat dari tadi.


Sesampainya di rumah Arin langsung mandi dan merebahkan dirinya di tempat tidur. Dia ingin istirahat. Ingin tidur sejenak. Walaupun sebenarnya dia merasa lapar. Namun dia malas untuk makan.Saat ini Arin hanya ingin istirahat. Dan akhirnya Arin tertidur juga.


Adzan Maghrib sudah beberapa menit yang lalu berkumandang. Rumah Arin terlihat sepi. Rama dan Ayah pergi ke masjid. Sedangkan bunda sedang sholat di kamar. Nia juga berada di kamarnya. Rumah benar-benar terlihat sepi.


Arin terbangun. Dia merasa bingung. Tidak biasanya dia tidur menjelang senja. Ketika bangun kepala malah terasa pusing. Arin melihat ke arah jendela. Dia lupa menutupnya.


"Pantas saja terasa dingin. Ternyata jendela belum ditutup. Jam berapa sih." Arin bergumam sendiri. Dia melihat jam di dinding kamarnya. Ternyata sudah jam delapan belas empat puluh lima.


"Eh.. udah magrib ya. Gue belum sholat."


Arin segera bangun dan berlari ke kamar mandi. Dia tidak ingin ketinggalan sholat Maghrib tentunya. Arin menyambung sholat Maghrib sekalian sholat Isya. Karena begitu dia selesai berdoa, adzan isya berkumandang.


"Assalamu'alaikum.."


Ada tamu rupanya. Tidak ada terdengar orang menjawab salam. Arin buru-buru melipat mukenanya dan berlari ke depan.


"Wa', alaikumsalam.."


Arin membalas salam sambil membuka pintu.Dia terdiam. Dia terkejut ada tamu yang tidak dia sangka.


"Kok bengong.Tamunya ga disuruh masuk ini."


"Eh... eh maaf. Silahkan masuk. hehehe.."


Arin masih tidak percaya dengan tamu yang datang. Perasaannya berkata sudah tidak ada urusan lagi dengan tamu tersebut.


"Lho kenapa kok masih bengong. Tidak menyangka saya akan datang ya.Tidak di persilakan duduk."


"Arin bagaimana sih. Duduk dulu dokter Bara. Mungkin nyawa Arin belum ngumpul. Dia kan baru bangun."


Bunda tiba-tiba bunda sudah ada di ruang tamu.


"Makasih bunda..Saya duduk ya Arin."


Arin mengangguk. Dia berjalan masuk ke dalam. Dia masih merasa bingung sendiri dan tidak percaya kalau Bara akan mengunjunginya.


"Mau kemana kamu Nak."


"Arin mau bikin minum dulu."


"Biar Bunda saja Rin. Kamu temani dokter Bara saja."


"Tapi bund.."


"Sudah biar bunda saja.."


Bunda kembali masuk ke dalam. Bunda menuju dapur. Saat tadi Bara mengucap salam rupanya bunda mendengar. Dan sedikit terkejut mendengar suara pintu yang di buka oleh Arin. Maklum saja pintu rumah sederhana seperti rumah Arin pasti berbunyi ketika dibuka ataupun ditutup.


"Pak dokter ada keperluan apa datang ke sini."


Bara menatap Arin. Dia juga bingung mau apa. Tapi Bara tetap terlihat tenang.


"Hanya ingin berkunjung. Ingin tau keadaan kamu. Memangnya kalau tidak ada urusan tidak boleh datang ya.


"Eh ... bukan begitu. Tentu boleh ..." Jawab Arin sedikit gugup. Dia juga tidak tau mau berbincang tentang apa.


"Arin kok tamunya tidak diajak ngobrol.. Silahkan di minum pak dokter."


"Terima kasih bunda.. jangan repot-repot bunda. Eh iya lupa. Ini ada sedikit kue buat bunda."


Bara lupa menyerahkan kantong yang dia bawa. Tadi di jalan dia membeli martabak telur buat Arin. Saking gugupnya jadi lupa segalanya.


"Pak dokter.. ini malah yang repot-repot bawa tentengan segala. Terimakasih banyak pak dokter ya. Kalau begitu bunda masuk dulu."


"Silahkan bunda."


Bara mengangguk. Dia sedikit canggung. Baru pertama kali Bara berkunjung ke rumah wanita tanpa ada tujuan yang jelas seperti saat ini .


"Silahkan di minum Aa. "


"Makasih Rin.."


Bara meminum teh hangat yang disediakan bunda hanya seteguk. Sekedar untuk mengurangi rasa gugupnya.


"Aa.."


"Arin.."


"Eh .. "


Mereka berdua berkata secara berbarengan. Tapi akhirnya mereka tertawa bersama.


"Kamu duluan saja. Kamu mau ngomong apa."

__ADS_1


"Aa duluan aja deh. Tidak penting kok."


"Udah kamu duluan saja."


"Baiklah kalau begitu. Eh.. itu.. Tia Aa. Ingat tidak. Tadi aku bertemu dia di tempat aku kerja. Dia terlihat segar. Apa dia sudah sembuh."


"Oh iya Tia. Saya juga mau ngomong tentang Tia. Tia ternyata tidak terkena sakit leukemia. Kita salah diagnosa."


"Syukur Alhamdulillah. Kasian masih kecil kalau sampai sakit leukemia. Pantas saja tadi dia terlihat segar dan sangat ceria."


"Kamu sudah bertemu dia? Syukurlah dari kemarin Arga selalu menghubungi saya. Katanya Tia merengek minta bertemu dengan kamu Arin."


"Jadi Tia putri pak Arga ya Aa."


"Kamu kenal Arga."


"Kenal sih tidak. Cuma dia kan pemilik perusahaan di mana saya bekerja Aa."


Bara mengangguk seolah mengerti. Dia baru ingat. Benar kalau Arga adalah pemilik perusahaan di mana Arin bekerja. Ada perasaan was-was dalam hatinya. Bara berpikir jika Tia dekat dengan Arin secara otomatis Arga juga akan dekat dengan Arin juga. Bara merasa dia akan bertambah saingan. Bara menggelengkan kepalanya.


"Aa kenapa.. Ada apa.."


"Eh.." Bara terkejut. Dia jadi malu telah berpikir yang tidak-tidak.


"Tidak ada apa-apa Arin. Rama mana. Ayah juga tidak terlihat. Apakah ayah pergi."


Bara mengalihkan pembicaraannya. Dia jadi merasa tidak nyaman dengan pikiran yang tiba-tiba datang dalam otaknya.


"Ayah sama Rama sedang di masjid. Eh sudah malam kok belum pulang ya."


Arin melihat ke luar rumah. Ini hampir jam sembilan. Seharusnya Ayah dan Rama sudah pulang dari masjid.


"Memangnya ada acara apa di masjid kok sampai malam belum pulang."


"Tidak tau juga Aa.. Ayah tidak bilang. Dari maghrib tadi mereka berdua perginya. Mungkin juga memang ada acara yang aku tidak tahu."


Mereka berdua terlihat sudah tidak canggung lagi. Malahan sudah bisa tertawa. Bisa saling mengimbangi obrolan lawan. Bisa tertawa lepas seperti sudah akrab saja.


🌸🌸🌸


Fian seharian di rumah saja. Dia malas keluar rumah. Dia sedang mempersiapkan semua keperluan yang dia butuhkan. Dia sudah menulis semua barang yang harus dia bawa. Semua sudah selesai di masukkan koper.


Setelah selesai semua,Fian hanya dikamar. Fian masuk kamar setelah sarapan tadi berdua sang abang. Sebenarnya Fian hanya ingin bermalas- malasan. Tidak ingin melakukan hal apapun. Namun dia harus menyiapkan semua keperluan nya. Dan semuanya sudah terselesaikan dengan cepat.


Fian kembali merebahkan tubuhnya.


Tapi hanya sebentar Fian bisa diam. Dia memperhatikan seisi kamarnya.


Fian sedang berpikir. Suasana kamarnya terasa membosankan.


"Kayaknya ada yang harus gue rubah.."


Fian bangun dan memandang ke sekeliling kamar. Fian mengetukkan jarinya ke meja sambil terus berpikir. Dia ingin merubah suasana kamarnya.


Fian mulai mencopot semua poster yang ada di kamarnya. Poster besar Valentine Rosy pembalap favoritnya. Dia simpan ditempat yang aman. Tentu saja tidak ingin poster kesayangannya itu rusak. Poster dengan tanda tangan dari pemiliknya langsung.


Fian mulai menggeser meja dan lemari. Melihat dari sudut pandang jauh. Dia benar-benar ingin merubah kamarnya. Padahal hanya tinggal sebentar dia akan menempati kamarnya. Namun dia ingin meninggalkan kamarnya dalam suasana yang lain tentunya.


Fian selalu rajin merapikan kamarnya. Dia tidak mau asisten rumah tangganya membereskan kamarnya. Bahkan dia tidak mengijinkan kamarnya dimasukin orang lain ketika dia tidak ada di rumah. Area kamar adalah milik pribadinya. Jadi dia tidak ingin dijamah oleh siapapun.


"Ternyata lumayan berat juga lemari ini."


Dengan susah payah dia menggeser lemari yang berat. Keringat membasahi dahi dan lehernya. Fian malah terlihat semakin bersemangat. Merubah semua posisi barang-barang yang ada di kamarnya ternyata cukup menguras energi. Terlihat dari nafas Fian yang terdengar Seperti memburu.


Setelah semuanya selesai Fian, kembali memandang sekeliling. Apa ada yang tidak pas. Tapi semua sudah sesuai yang dia harapkan.


"Udah pas... suasana baru. Sudah bersih dan rapi. Mandi dulu deh gerah."


Fian berbicara sendiri. Semua telah selesai saatnya membersihkan tubuhnya. Hari sudah siang ternyata. Setelah mandi Fian berisitirahat kembali. Karena malam nanti dia berencana untuk mengunjungi Arin.


Akhirnya Fian tertidur juga.


🌸🌸🌸


Fian terbangun pukul lima. Dia terkejut karena mendengar suara Andra yang mengetuk pintu.


"Fian.. Fian.."


Tok... tok.. tok..


"Eh.. iya bang."


"Tidur ya. Bangun udah sore."


Fian menggerakkan tubuhnya. Badannya terasa pegal semua. Mungkin karena tadi menggeser lemari yang berat. Jadi berasanya sekarang.


"Fian..Buka pintu dulu."


"Eh iya bang.. gue kira udah pergi."

__ADS_1


Fian bangun dan menyeret kakinya menuju pintu. Dia merasa malas sekali. Masih ingin rebahan. Toh dia tidak punya acara apapun.


"Ada apa bang.."


"Lo belum makan siang kan. Makan dulu sono. Bahkan ini sudah sore. Jangan telat makan."


"Eh iya lupa gue bang. Hehehe.."


Andra masuk ke kamar Fian.


"Suasana baru nih. Eh apa itu. Koper lo di bawah. Lo mau kemana?"


Andra terkejut melihat koper Fian yang tertata rapi. Fian lupa tidak menyimpan kopernya di tempat yang tersembunyi.


"Apaan sih.. Itu tadi habis rapi-rapi lupa belum gue naikin lagi di atas lemari."


"Yakin. Ga bohong lo.."


Andra mendekati koper Fian. Tentu saja dia tidak percaya ucapan Fian begitu saja. Fian terlihat was-was melihat sikap Andra.


"Apa sih bang. Memangnya gue mau kemana."


Fian mendahului Andra dan pura-pura merapikan koper. Andra semakin curiga.


"Lo ga jujur sama gue. Lo mau kemana."


Andra mendorong Fian ke tempat tidur dan menggelitik tubuh Fian.


"Bang.. Ampun bang. Geli. Hahaha.. geli.. Udah bang geli. hahaha.."


"Ngomong ga Lo. Jujur lo mau kemana?"


Andra terus saja menggelitik tubuh Fian. Fian tertawa kegelian sampai mengeluarkan air mata.


"Ampun bang.. Hahaha.. Ampun Bang. Udah.. sakit bang.. Ampun..Hahaha."


Andra menghentikan tangan nya yang menggelitik Fian. Dia sudah melihat Fian yang kepayahan.


"Heh.. heh.. hah.. hah.."


Nafs Fian terdengar memburu. Dia benar-benar merasa capek Itulah kelemahan Fian. Dia tidak tahan kalau digelitik.


Fian melempar tubuhnya ke kasur. Dia tiduran sambil merentangkan tangannya. Mengatur nafasnya yang terlihat tidak teratur. Andra mengikuti tingkah Fian.


"Lo tidak menyembunyikan sesuatu kan Fian? Lo tidak mau cerita sama gue."


"Ga bang. Beneran kok. Tadi gue hanya merapikan kamar. Bosen dengan suasana yang lama. Hanya pengen suasana baru saja."


"Yakin ga ada yang lo sembunyikan.Ga ada yang lo tutup-tutupi."


Andra memandang Fian dengan seksama. Dia tahu tingkah dan sikap Fian tidak seperti biasanya. Ada suatu hal yang janggal dengan sikap Fian akhir-akhir ini.


"Tidak bang. Apa coba yang gue tutupin. Ga ada bang. Eh sudah gelap. Gue belum sholat ashar. Astaghfirullah.."


Fian bangun lalu berlari ke kamar mandi. Andra juga bangun dan mendekati koper milik Fian. Dia ingin membukanya. Namun ternyata di kunci. Akhirnya Andra menyerah.


Fian keluar dari kamar mandi.


"Gue sholat dulu bang."


"Ya sudah gue keluar dulu."


Andra berjalan keluar. Didepan pintu dia menoleh. Dia memandang Fian yang sedang menggelar sajadah.


"Gue tahu Fian. Ada sesuatu yang lo sembunyikan. Semoga itu hal yang baik."


Ucap Andra dalam hati. Lalu Andra berjalan keluar kamar dan menutup pintu kamar Fian. Dia kembali ke kamarnya. Dia mau mandi karena sebentar lagi senja.


Selesai sholat Fian masih duduk di atas sajadahnya. Dengan khusyuk dia memanjatkan begitu banyak doa. Sampai tak terasa terdengar suara adzan Maghrib berkumandang. Fian bangkit kembali. Sekalian melaksanakan sholat Maghrib. Sebenarnya dia mau mandi dulu. Namun karena adzan sudah berkumandang, lebih baik sholat dulu sekalian.


Malam ini Fian berniat mengunjungi rumah Arin sudah hampir dua mingguan dia tidak bertemu Arin. Paling cuma melihat dari jauh. Dia memang sengaja ingin berkunjung di malam minggu, biar seperti yang lain pikirnya. Dia sangat merindukan Arin. Sebenarnya dia sudah berjanji pada mama untuk tidak bertemu Arin. Namun malam ini beda. Mamanya malah menyetujui rencana Fian untuk mengunjungi Arin.


Fian mandi cukup lama. Sekitar tiga puluh menit dia mandi. Setelah selesai mandi, dia memilih pakaian terbaiknya. Dia sengaja ingin berkunjung setelah sholat isya. Sekitar pukul delapan. Waktu yang pas menurut nya.Biasanya pun dia berkunjung jam segitu. Biasanya dia berkunjung bersama teman-temannya. Dia berharap malam ini tak ada teman yang ikut main di rumah Arin seperti malam minggu biasanya. Kebiasaan mereka setiap malam minggu selalu berkumpul di rumah Arin. Setelah di rasa sudah cukup rapi dan wangi. Fian menyambar kunci motornya dan berjalan keluar kamar.


Di ruang tamu di lihatnya mama dan papanya sedang bercengkrama. Begitu mendengar suara langkah mereka menoleh ke arah Fian. Dan mereka terdiam serempak.


"Ma.. Pa.. Fian pergi dulu ya."


"Iya Fian. Ingat janji kamu." Ucap mama lirih. Papa hanya menganggukkan kepala.


Fian berjalan mantab menuju pintu keluar. Dengan langkah tegap dia menyakinkan diri untuk langkahnya. Tangan kanannya sambil memainkan kunci motor.


Dari kejauhan Andra menyaksikan semuanya. Dia mendengar apa yang diucapkan sang mama. Namun Andra tidak beranjak dari tempatnya berdiri.


"Semangat adikku. Apapun langkah yang lo ambil semoga lo bahagia."


Ucapnya dengan suara sedikit parau.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like dan komen Terima kasih atas semua dukungannya❤️❤️❤️❤️


__ADS_2