Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 89


__ADS_3

Arin melihat jam yang terpasang di dinding ruangan tersebut. Dia terkejut.


"Ternyata sudah malam."


Bima ikut melihat ke arah jam juga. Sudah jam sembilan. Ternyata cukup lama juga mereka berdiskusi. Terlalu serius sehingga tak terasa waktu begitu cepat berjalan.


"Eh... Astaghfirullah..." Tiba-tiba Arin Arin terpekik Dia teringat sesuatu. Dia teringat kalau punya janji bertemu dengan Bara.


"Kenapa Arin.. Ada masalah kah?" Bima terkejut mendengar ucapan Arin barusan. Dia memandang Arin dengan seksama. Berharap bukan hal buruk yang membuat Arin berkata demikian.


"Aa.. Pak dosen. "


"Aa siapa.. "


"Aa.. Aa Bara. Saya punya janji dengan dia."


Bima tersenyum mendengar jawaban Arin.Dia mulai paham sekarang.


"Oh... sekarang sudah memanggil Aa. Cie.. cie.. cie." Bima menggoda Arin.


"Kenapa pak dosen. Memang tidak boleh ya memanggil dengan panggilan Aa."


"Bukan Tidak boleh. Sudah ada kemajuan ternyata. Hahaha..."


Arin menoleh ke arah Bima. Dia tidak mengerti maksud ucapan Bima.


"Maksudnya bagaimana?" Arin semakin kebingungan. Dia tidak mengerti maksud ucapan Bima.


"Tidak apa-apa Arin. Bagaimana tadi. Ada apa dengan Pak dokter satu itu." Bima tentu penasaran mendengar apa yang diucapkan Arin tadi. Sudah seberapa jauh hubungan Bara dan Arin yang sebenarnya. Bima merasa dia ketinggalan cerita tentang kedua orang tersebut.


"Eh .. itu.. itu." Arin menjadi gugup. Dia bingung mau menjawab apa.


"Bilang saja.. Kalau tidak keberatan sih. Kalau di rasa tidak bisa diucapkan, Ya tidak usah."


"Eh.. hehehe. Tidak ada apa-apa kok. Cuma kemarin Aa Bara mengajak saya bertemu sore ini sepulang kerja. Tapi saya lupa kalau saya sudah membuat janji dengan dosen pembimbing. Dan saya juga lupa untuk memberitahu sama Aa."


Arin berkata sambil menunduk. Tentu saja Arin sangat merasa tidak enak telah mengingkari janji walaupun itu tidak sengaja.


"Dan kenapa Aa tidak menghubungi saya ya, Pak dosen."


Arin mengambil ponselnya dan melihat siapa tahu ada panggilan ataupun pesan yang masuk. Namun tidak ada satupun pesan dari Bara. Hanya ada pesan dari Rama, sang Adik.


"Ck.. memang si Bara. Mana berani dia menanyakan itu."


"Kenapa harus takut.. Eh pasti Aa menunggu lama ya. Saya harus bagaimana ini."


Arin sedikit panik. Dia merasa bersalah dan juga tidak enak. Apalagi kalau sampai Bara menunggunya.


"Coba kamu hubungi saja dia. Beri penjelasan. Agar tidak ada salah paham."


" Eh.. Iya juga. Ok deh Pak Dosen. Boleh kan saya menghubungi nya sekarang?"


"Tentu boleh silahkan.."


Bima menyibukkan diri. Walaupun sebenarnya dia sangat ingin tau apa yang akan dibicarakannya mereka berdua. Matanya memang terlihat fokus pada buku, namun telinganya dia buka lebar-lebar. Dia ingin mendengar percakapan Bara kalau sama Arin. Apakah kaku seperti kemarin ataukah tidak.


Arin mencoba menghubungi Bara. Dia menelpon nomer kontak Bara. Namun tidak dijawab. Arin mengulangi lagi. Siapa tau tadi Bara sedang tidak dekat dengan ponselnya. Namun sama saja. Tidak dijawab.


Arin berjalan mondar-mandir. Dia mengulang lagi menelpon nomer ponsel Bara. Namun tidak dijawab juga.


"Kenapa tidak dijawab ya. Apa Aa marah ya..."


Arin kembali ke tempat duduk yang tadi


Bima menoleh.


"Sudah menelponnya?"


Arin hanya menggeleng dengan muka lesu.


"Tidak dijawab.. apa Aa marah ya Pak dosen?" Arin menggoyangkan tangan Bima berulangkali.


"Pak dosen.. Tolong Arin dong. Beneran Arin lupa. Arin tidak sengaja untuk tidak datang.."


Bima tersenyum. Dia paham dengan sikap Arin. Dia memang selalu memikirkan perasaan orang lain. Tapi dia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri.


"Iya.. Saya tahu. Tenang saja nanti saya bantu. Ya sudah ini sudah malam kamu pulang saja. Nanti sampai rumah dihubungi lagi."

__ADS_1


Bima berkata sambil melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir jam sepuluh malam. Sudah saatnya Arin pulang. Memang setiap hari Arin kuliah selesai pada jam sepuluh malam.


"Sudah malam Rin, sebaiknya kamu pulang. Nanti materi bisa kita bicarakan lagi besok."


"Eh iya . sudah malam juga."


Arin memasukan semua buku dan peralatan tulis nya ke dalam tasnya. Dia bangkit dari duduknya.


"Saya pamit dulu pak dosen. Permisi. Eh iya, besok kita bisa bertemu lagi kan?"


Bima ikut bangkit dan berjalan mendekati Arin.


"Tentu saja saya bisa, nanti kamu hubungi saja saya. Sudah punya nomer telpon saya kan?"


"Belum pak dosen."


"Eh.. Iya kah. Oklah kalau begitu. Sini Ponsel kamu."


Arin menyerahkan ponselnya pada Bima. Dan Bima menerimanya. Kemudian Bima menuliskan beberapa digit nomer ke dalam ponsel Arin. Dan terdengarlah bunyi nada dering. Ternyata itu bunyi ponsel Bima. Setelah itu Bima mengembalikan ponselnya pada Arin.


"Ok sudah. Besok jam berapa kita bertemu. Kamu beritahu saya saja."


"Terimakasih pak dosen. Saya pulang dulu. Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati Arin.."


"Iya pak. Terimakasih."


Arin berjalan keluar ruangan. Dia masih merasa bersalah pada Bara. Arin berjalan sambil melamun. Dia masih saja memikirkan kenapa dirinya bisa melupakan janjinya pada Bara. Biasanya dia selalu ingat jika berjanji pada seseorang.


"Arin..."


Ada suara orang memanggil nama Arin. Namun sepertinya Arin tidak mendengar.


"Arin.. Tunggu."


Arin terkejut. Bahunya ditepuk dari belakang. Arin menoleh.


"Eh.. Pak dosen. Ada apa? Apa ada barang saya yang tertinggal."


" Tidak. Saya hanya ingin bertanya. Kamu pulang sama siapa? Dan naik apa?"


"Oh.. Baiklah. Eh tapi apa tidak apa-apa pulang sendirian."


"Tidak apa-apa Pak. Saya sudah biasa pulang kuliah jam segini. Bapak tidak perlu khawatir."


Bima terdiam. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.Dia merasa bingung sendiri kenapa tadi punya pikiran untuk mengantarkan Arin pulang.


Arin melihat Bima terdiam dan seperti orang yang sedang melamun, Arin merasa ada sesuatu yang sedang dipikirkan Bima.


"Pak.. Pak dosen. Ada apa?"


"Eh.. tidak apa-apa. Ya sudah pulanglah sudah malam juga. Hati-hati bawa motornya.Ok." Bima terkejut mendengar pertanyaan Arin. Pikirannya tentu sedang memikirkan hal yang lain.


"Siap pak."


Arin memberi hormat pada Bima. Kemudian dia kembali berjalan meneruskan langkahnya menuju tempat parkir. Dia tersenyum melihat tingkah sang dosen.


"Ada-ada saja. Kenapa selalu ada begitu banyak kebetulan yang terjadi. Hehehe.."


Arin terkikik sendiri. Untung tidak ada orang yang melihatnya. Bisa dikira Arin orang tidak waras. Tertawa sendiri di tempat sepi.


Arin merasa heran juga, tidak biasanya kampus sepi seperti hari ini. Biasanya di jam-jam seperti ini banyak mahasiswa pulang kuliah. Arin melihat ke kanan dan ke kiri. Di ujung sana ada terlihat beberapa orang mahasiswa yang sedang berbincang. Arin merasa tenang karena masih ada orang di tempat tersebut.


Arin pulang dengan perasaan tidak nyaman. Ada kesalahan yang dia perbuat hari ini. Seharusnya dia tidak melupakan janjinya pada Bara.


Arin melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Dia ingin cepat sampai di rumah dan menghubungi Bara.Dia harus minta maaf. Dia tidak pernah seperti ini. Dia selalu berusaha menepati janji pada siapapun. Namun mengapa kali ini dia bisa lupa.


Lima belas menit perjalanan dia tempuh. Akhirnya Arin sampai di rumah. Setelah memarkirkan motornya, Dia segera masuk kamar. Tapi sebelum itu Arin membersihkan badannya dulu. Agar terasa segar dan nyaman saat beristirahat.


Arin merebahkan dirinya di tempat tidur. Badannya terasa lelah. Hari ini kerjaan sangat banyak. Ditambah lagi harus ke kampus Tapi itu semua adalah resiko yang harus dia tanggung. Dia sudah mengambil keputusan bekerja sambil kuliah. Jadi dia harus bisa menjalani dengan segenap jiwa.


Tak lama Arin tertidur. Dia lupa kalau dia harus menghubungi Bara. Mungkin dia benar-benar merasa sangat lelah.


🌸🌸🌸


Bara sedang di kamar mandi saat ponselnya berbunyi. Ada notifikasi bunyi panggilan telepon. Namun dia sedang tidak pakai baju. Dia sedang mandi. Tak mungkin dia berlari keluar dalam keadaan seperti ini. Dia biarkan saja. Bara berpikir kalau memang penting pasti menghubungi lagi.

__ADS_1


Dan benar tidak lama kemudian nada panggilan terdengar lagi. Namun dia benar-benar tidak bisa keluar kamar mandi.


"Siapa ya yang menelepon. Lagi nanggung juga."


Bara bergumam sendiri. Lalu dia segera menyelesaikan hajatnya. Bara membelitkan handuk di tubuhnya dan berjalan keluar. Bara mengambil ponselnya. Dan melihat siapa yang telah menghubungi nya. Dan Bara melihat nama Arin di sana.


"Ada apa ya Arin menelpon."


Bara meletakkan lagi ponselnya. Karena dia belum memakai baju. Bara mengambil baju di lemari dan memakainya. Setelah Bara merebahkan dirinya di tempat tidur. Bara mengambil ponselnya dan menyalakan nya. Dia melihat riwayat panggilannya. Ada dua panggilan tak terjawab dari Arin. Dia melihat jam panggilan tersebut. Ternyata jam sembilan lebih.


Bara melihat jam di ponselnya. Sekarang sudah jam sepuluh. Dia sedang menimbang-nimbang. Apakah akan menghubungi Arin balik atau tidak.


"Sudah malam. Status online satu jam yang lalu. Mungkin dia sudah tidur. Besok sajalah menghubungi nya."


Ucap Bara pelan. Karena hari telah malam Bara meletakkan ponselnya di atas meja. Dia merasa lelah. Hari ini banyak pasien nya. Tadi dia tidak sempat beristirahat.


Bara memandang langit-langit kamar. Di sana tergambar wajah Arin. Dia berjanji bertemu Arin hari ini dan ternyata Arin tidak datang. Tentu saja ada rasa kecewa. Namun dia tepis mungkin Arin ada halangan. Namun kenapa tidak memberi kabar? Seharusnya memberitahu kalau tidak bisa hadir.


"Eh.. apa aku juga salah ya. Kenapa tadi tidak bertanya pada Arin. Seharusnya tadi aku menghubungkan Arin bisa datang apa tidak. Bodoh.. bodoh.."


Bara memukul-mukul kepala nya sendiri. Tiba-tiba terdengar bunyi notif pesan masuk. Bara meraih ponselnya nya lagi dan menyalakannya. Dia melihat pesan WhatsApp masuk dan ternyata dari Bima. Bara membaca pesan tersebut.


Bima : Cie... cie.. cie


Bara bingung dengan isi pesan dari Bima. "Apa maksudnya coba. Tidak jelas sekali." Ucap Bara. Kemudian dia menulis balasan pesan untuk Bima.


Bara : Ada apa? Apa maksudnya nya dengan pesanmu itu.


Bara memencet keyboard sent dan terkirim. Dia lalu menunggu balasan dari Bima. Karena Bara merasa heran dengan kalimat tersebut.


Tak lama kemudian ada pesan masuk lagi. Mungkin itu balasan dari Bima.


Bima : Hahaha.. Sudah kemajuan ya sekarang. Sudah berjanji ketemuan ternyata.


Bara semakin bingung membaca pesan Bima barusan. Kemudian dia membalas pesan tersebut.


Bara : Gue bingung dengan pesan lo . Coba lo jelaskan maksudnya. Saya berjanji bertemu siapa.


Bima : Hahaha.. Bukankah lo berjanji bertemu Arin, kan? Hayo ngaku saja. Ga usah ditutupi.


Bara : Eh.. kok lo tau.


Bima : Apa sih ga gue tau. Hahaha..


Bara : Dari mana lo tau.


Bima :Ada deh pokoknya. Hahaha..


Bara : Arin yang bilang ya.Lo ketemu Arin di mana?


Bima : Hahaha.. Iya. Arin ga bisa datang karena bersama gue. Hahaha.


Bima tertegun. Apa maksud semua ini. Kenapa Arin tidak menemuinya malah bertemu dengan Bima. Bara merasa perasaannya sedikit nyeri. Dia berpikir kalau Arin dan Bima punya hubungan.


Bima :Hey.. kok ga dijawab. Cemburu ya. Hahaha.


Bara : Siapa yang cemburu.


Bima : Cemburu tuh pasti.. iya kan. Hahaha..


Bara : Bima.. Kenapa Arin bisa bersama lo.


Bima : Kasih tau ga ya..


Bara : Terserah lo deh.


Bima: weh ngambek. Hahaha...Jangan khawatir broh. Gue tidak akan merebut Arin dari lo. Ternyata Arin mahasiswa gue. Gue juga baru tau tadi. Dia diskusi masalah skripsinya sama gue. Pulang kerja langsung ke kampus. Sampai lupa ga memberi tau lo. Jangan marah ya.


Bara : Oh begitu. Syukurlah kalau dia baik-baik saja.


Bima : Ya udah gitu aja. Tidur sono. Lo besok dinas pagi kan. Jangan terbayang- Bayang Arin terus.


Bara : Hm..Ya udah gue mau tidur.


Bara mematikan ponselnya. Kemudian meletakkan di atas meja. Dia merasa lega sekarang. Ternyata Arin memang punya alasan tidak datang menemui dia. Bukan sengaja ingin tidak bertemu. Bara berusaha memejamkan matanya. Dia bisa istirahat dengan tenang sekarang. Lambat laun matanya terpejam dan tidurlah dia.


Bara tidur dengan nyenyak tentunya. Karena sekarang sudah menemukan jawaban atas ketidakhadiran Arin. Bara hanya takut terjadi sesuatu pada Arin. Besok lagi bisa direncanakan pertemuan selanjutnya. Karena ini baru awal. Karena pendekatan baru di mulai. Masih ada banyak jalan untuk bisa merebut perhatian Arin.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan like dan komen Terima kasih❤️❤️❤️


__ADS_2