
Tidak salah memang kalau mama Bara menginginkan Bara untuk mempunyai teman spesial. Karena memang usia Bara tergolong sudah dewasa. Sekarang usia Bara sudah 27 tahun. Sedangkan Arkan, sang kakak berusia 30 tahun. Mereka terpaut tiga tahun.
Tapi Bara memang belum menemukan gadis yang tepat untuk menjadi pendamping nya. Bara termasuk laki-laki yang susah bergaul dengan lawan jenis. Ditambah lagi sejak usia kuliah hatinya sudah terpaut dengan seorang gadis.
Pandangan pertama yang membuatnya tidak bisa melupakan sang gadis. Serta ciuman pertamanya yang telah diambil sang gadis walaupun tanpa sadar.
Bara merasa sangat yakin akan menemukan gadis tersebut. Dan ternyata memang benar. Dia selalu dipertemukan dengan sang gadis walaupun sang gadis selalu dalam keadaan tidak baik-baik saja. Dan hal itu juga yang membuat Bara merasa yakin dia bisa mendapatkan hati sang gadis.
Namun di saat dia telah bertemu dan tahu keadaan sang gadis, Bara malah merasa pesimis. Bukan tanpa alasan. Tapi karena sang gadis Ternyata sudah memiliki pujaan hati.
Tak tahu ini salah siapa. Salah Bara yang kurang cepat atau memang semua adalah takdir. Namun bagi Bara, sebelum ada janur kuning melengkung dia akan terus berusaha untuk mendapatkan hati sang gadis.
"Malah melamun. Jawab pertanyaan mama, Nak."
"Apa yang harus Bara jawab Ma."
"Kamu benar sedang dekat dengan seorang gadis?"
Bara diam lagi. Dia sedang berpikir sebaiknya harus bersikap bagaimana dengan pertanyaan sang Mama.
"Kok diam. Kalau memang belum ya tidak apa-apa. Mama tidak akan memaksa. Mungkin memang belum saatnya kamu mendapatkan pacar. Tapi berusahalah untuk membuka diri dan hati kamu. Jangan terus terpaut masa lalu."
"Iya Ma."
Bara merasa lega dengan ucapan sang mama barusan. Mama memang sangat mengerti perasaan anaknya tersebut.
"Tapi Ingat. Jangan terlalu santai. Nanti setelah kakak kamu. Mama mau kamu segera menyusul."
"Iya ma."
Bara sangat gemas dengan sang mama. Selalu saja berputar-putar pada masalah pernikahan. Dia juga mau, tapi memang belum ketemu jodoh.
"Ya udah mama mau turun. Kamu makan dan jangan lupa minum obat. Biar cepat sembuh."
"Iya mama sayang. Bara juga mau segera sembuh. Biar Bara bisa mencari menantu buat mama."
Bara memeluk sang mama erat. Mama mencubit pipi Bara.
"Sudah gede masih manja."
Tiba-tiba dari pintu terdengar suara sang kakak.
"Iri bilang Bos." Jawab Bara sambil tertawa.
"Siapa yang iri."
Arkan mendekati mereka dan ikut memeluk keduanya.
"Dih.. sono. Jauh-jauh. Kenapa ikut-ikutan."
Bara mendorong tubuh Arkan agar menjauh dari dia dan sang mama.
"Dih sirik aja. Kan aku mau meluk mama."
"Kalian kalau bertemu pasti berantem deh. Eh Arkan mama mau nanya. Bagaimana persiapan acara lamaran kamu."
"Sudah siap sembilan puluh persen ma. Tinggal eksekusi." Jawab Arkan dengan mantab.
"Baguslah. Jarak lamaran sama nikah ga akan lama kan."
"Tidak Ma. Pokoknya mama tahu beres saja. Arkan ga mau mama ikut capek. Kita berdua sudah mempersiapkan semuanya. Satu bulan setelah lamaran kita akan menikah."
"Baguslah. Ya sudah mama mau istirahat dulu. Awasi adikmu agar makan dan minum obat."
"Dikira aku anak kecil."
"Hahahaha.."
Mama tertawa mendengar jawaban Bara. Mama mengusap kepala Bara dan Arkan bergantian lalu berlalu dari kamar Bara.
Sepeninggal mama,Arkan menatap Bara lekat.
"Gue tahu semua tentang gadis itu."
Bara tidak terkejut dengan ucapan sang kakak. Siapa lagi yang bercerita kepada sang kakak kalau bukan kedua sahabatnya.
"Siapa yang bilang, Bram atau Bima."
"Hahaha.. tahu saja lo. Mereka tak akan pernah bohong sama gue."
"Hem.." Bara hanya mendengus. Kedua sahabatnya itu memang akrab juga dengan sang kakak dan pasti sang kakak mengorek apa saja yang terjadi dengannya.
"Lo serius menyukai gadis itu?"
Bara mengangguk." Sangat Bang. Tidak mungkin gue menunggu selama ini untuk bertemu lagi dengan dia."
"Dia memang gadis yang hebat."
"Ya benar sekali. Karena itulah gue berharap bisa mendapatkan dia. Tapi Abang berjanji ya. Sebelum gue resmi jadian sama dia.Jangan sampai mama tahu."
__ADS_1
"Ok sip. Tapi dengan satu syarat."
"Pakai syarat segala. Jangan minta yang aneh-aneh. Gue miskin bang." Dengan wajah memelas Bara memandang Arkan.
"Hey.. gue ga minta harta lo. Gue lebih kaya dari lo. Gue hanya minta satu hal
Lo harus bahagia."
"Siap bosku."
Arkan meraih tubuh Bara dan memeluknya erat. Dia sangat menyayangi adik satu-satunya itu.
"Udah bang. Sakit ini. Jangan lebay deh."
"Hahahaha.. sekarang lo udah pinter berkata-kata ya. Dapat dari mana itu."
"Dari dulu gue juga udah pinter, cuma ga gue keluarin aja."
Arkan mengacak rambut Bara pelan. Dia masih saja ingin memperlakukan Bara sebagai adik kecilnya.
"Abang.. Gue udah gede. Bukan anak ingusan lagi."
"Iya.. Iya. Hahaha.."
Mereka berdua masih terus bercanda dan bercerita. Sampai sore hari tiba. Keadaan Bara sudah membaik. Demam sudah turun dan juga sakit kepalanya sudah hilang.
🌸🌸🌸
Hari senin telah tiba . Saatnya kembali ke kehidupan nyata. Sebagian orang menganggap hari Senin adalah hari yang sangat menjengkelkan. Lalu lintas yang tersendat menambah suasana hati semakin tambah tidak nyaman.
Pikiran dan hati sedang tidak kondusif. Terlalu banyak hal yang terjadi belakangan ini, membuat hati dan pikiran Fian tidak tenang. Kejadian demi kejadian yang mengoyak pertahanannya untuk tetap bersikap tenang. Namun mungkin karena memang usianya yang terbilang masih muda, membuat Fian sering kelepasan.
Emosi menjadi sering tidak stabil. Kesalahan sering di buatnya. Termasuk mengambil keputusan untuk melepaskan Arin pada Bara.
Seharusnya dia ungkapkan dulu isi hatinya pada Arin dan untuk hasilnya biarkan diserahkan pada Arin. Biarkan hati yang berbicara jika soal asmara. Agar tidak ada rasa sesal di dada.
Pagi ini Fian berangkat kerja dengan tidak bersemangat. Keberadaannya di Surabaya segera berakhir. Minggu ini adalah Minggu terakhir. Semua pekerjaannya sudah selesai. Namun orang yang digadang bisa mengungkapkan siapa dirinya Ternyata telah pergi meninggalkan dunia. Fian tidak tau tahu bertanya pada siapa lagi.
Sebenarnya ada dua orang yang bisa dia tanyain. Namun belum ada momen dan kata-kata yang pas untuk memulainya. Semoga benar Minggu depan orang tersebut datang ke Surabaya. Atau apa mungkin lebih baik Fian yang mendatangi orang tersebut.
Fian melajukan motornya dengan perlahan. Dia tidak sedang buru-buru. Pagi ini Fian ingin mencari sarapan dulu. Dari rumah dengan dia belum makan. Lagian memang tidak ada yang memasakkan untuk nya. Karena Fian memang tinggal sendirian.
Di depan alun-alun Fian berhenti. Di sana ada tukang bubur ayam langganannya. Terkenal sangat enak dan lezat. Dan tempat nya pun bersih serta strategis. Makanya menjadi tempat favorit Fian saat perutnya lapar.
Fian menghentikan motornya di depan gerobak tukang bubur. Dan memarkirkan nya di sana. Tempat itu terlihat ramai. Namun Fian tidak mengurungkan niat untuk mengisi perut di sana. Pasti masih ada tempat terselip untuk dirinya.
"Bang, pesen satu seperti biasa."
Asisten sang penjual sangat hapal pada Fian. Karena hampir tiap hari Fian makan di situ. Sampai tempat pun selalu di sediakan.
"Terima kasih Mas."
Fian berjalan menuju tempat favoritnya. Fian duduk di kursi yang memang tertinggal satu untuknya. Matanya memandang sekeliling. Siapa tahu ada cewek cantik. Eh Fian tidak segenit itu. Fian tidak pernah tebar pesona. Karena memang pesonanya tidak pernah ditebar. Walaupun begitu banyak gadis-gadis yang mengincarnya. Dia tidak pernah memandang para gadis yang mendekatinya. Hatinya masih terpaut hanya pada Arin. Belum ingin berganti.
Tanpa sengaja pandangan nya jatuh pada seorang gadis yang terlihat menunduk menikmati makanannya.
"Eh, bukannya itu Rania ya. Benarkah? Apa pantatnya sudah sembuh. Duduknya sudah terlihat biasa."
Pandangan mata Fian masih mengawasi gadis tersebut. Dia seperti mengenali. Namun entah benar atau tidak Namun Fian tidak ingin menyapa. Tiba-tiba pandangannya melihat sosok yang sangat dia kenal.
"Itu, pak Adam kan. Sama siapa dia. Seperti sedang serius berbincang."
Fian memicingkan mata. Dia mencoba melihat mimik orang yang sedang berbincang dengan teman nya tersebut. Fian ingin tahu karena orang tersebut terlihat mencurigakan.
"Eh.. dia melihat kesini."
Dengan buru-buru Fian menundukkan wajah dan terlihat menyibukkan diri. Namun matanya tetap melirik mengawasi orang tersebut. Fian pura-pura mengambil ponselnya yang dia kantongi. Namun tiba-tiba.
"Fian"
Tentu saja Fian terkejut. Dia melihat ke arah suara memanggil nya. Dengan terpaksa Fian tersenyum. Dan ternyata Adam yang menegurnya.
"Lhoo.. Bapak di sini juga."
"Iya, saya biasa sarapan di sini."
"Oh, begitu."
Fian tidak menyangka kalau Adam akan mendatangi nya. Kalau memang benar Adam sering makan di sini, kenapa dia tidak pernah bertemu dengan nya. Namun Fian tidak ingin mempertanyakan hal itu.
"Bapak sendirian saja."
"Tidak, Saya berdua."
Fian melihat ke kanan dan ke kiri. Ingin memastikan kalau memang Adam tidak sendiri. Namun Fian tidak menemukan siapa pun.
"Mana teman Bapak?"
"Ini di depan saya. Hahaha..saya tidak sendiri karena berdua dengan kamu."
__ADS_1
Fian hanya nyengir mendengar jawaban Adam. Bisa melucu juga pikir nya.
"Bapak sudah memesan."
"Sudah Fian. Itu pesanan saya datang." Dan benar, dua mangkok bubur ayam beserta minuman nya dan tak lupa lauk tambahan yang mereka pesan, telah datang.
"Silahkan di makan Fian."
"Silahkan Pak."
Mereka berdua menikmati makanan yang mereka pesan dalam diam. Tidak ada sedikitpun suara terdengar dari mulut mereka. Yang ada hanya suara sendok saat beradu dengan mangkok. Namun tiba-tiba Fian terkejut. Di sela-sela makannya Adam membuka suara. Mungkin karena dia terlalu menikmati makanannya atau mungkin karena Fian melamun.
"Fian, saya mau bertanya?"
"Silahkan Pak. Semoga saya bisa menjawab pertanyaan Bapak."
"Hahaha.. Kenapa jadi formal begini Fian."
"Eh... iya Pak."
Adam diam sejenak. Fian merasa sedikit penasaran dengan apa yang akan ditanyakan. Karena melihat keseriusan muka Adam.
"Begini Fian. Tapi maaf sebelumnya."
Fian memandang muka Adam dengan serius.
"Saya tahu alasan kamu menyetujui pekerjaan ini. Kamu sedang mengejar sesuatu kan? Kamu ingin tau apa yang terjadi dua puluh tahun yang lalu kan?"
Fian terdiam. Bagaimana Adam bisa tahu tujuan nya ini. Fian tetap diam dia ingin tahu kelanjutan ucapan Adam.
"Benarkan Fian."
Fian mengangguk. Adam menarik nafas panjang. Seperti ada beban berat yang sedang dipikulnya.
"Maafkan saya ikut campur urusan kamu. Sebaiknya kamu hentikan saja. Karena ini semua tidak baik buat kamu."
"Maksud Bapak tidak baik bagaimana?"
Fian terkejut dengan ucapan Adam. Muncul banyak pertanyaan di benaknya. Adam masih diam. Seperti nya dia sedang berpikir untuk menjawab pertanyaan Fian.
"Karena semuanya akan sangat menyakitkan buat kamu."
"Bapak Adam, tolong jangan bertele-tele. Semakin Bapak berucap demikian semakin saya ingin tahu. Memang itu tujuan Bapak kan?"
"Bukan begitu maksud saya Fian. Maafkan saya. Saya pun ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dua puluh tahun yang lalu. Kerena hal tersebut melibatkan orang-orang yang saya sayangi."
"Semakin kesini semakin membuat saya penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi. Dan saya yakin Bapak pasti tahu."
Adam terhenyak. Dia ingin menjelaskan sesuatu. Tapi dia bingung harus mulai darimana dan dia takut. Kalau penjelasannya membuat Fian terpukul.
"Sebenarnya saya... Saya paman kamu."
Fian terdiam. Dia memandang Adam dengan seksama tak ada kemiripan dengan sang papa. Fian masih belum percaya.
"Tidak ada kemiripan dengan Papa. Atau Bapak adiknya mama?"
"Saya adik kandung papa kamu. Saya tidak bohong. Sejak pertama kali bertemu kamu, saya selalu mencari informasi tentang keluarga kamu. Dan ternyata dugaan saya benar. Kamu adalah putra dari kakak saya."
Fian masih diam. Dia masih belum bisa percaya begitu saja.
"Kamu pasti tidak percaya. Baiklah. Minggu depan kita pulang ke Jakarta. Saya akan membuktikan semua ucapan saya didepan papa kamu."
"Baiklah. Makanan kita juga sudah habis. Mari kita berangkat ke kantor."
Fian bangkit terlebih dahulu berniat mau membayar makanan yang dia pesan dan makanan milik Adam. Tapi ternyata semua sudah di bayar Adam.
Adam mendekati Fian.
"Terima kasih Om, saya sudah di traktir."
"Maafkan saya. Sebenarnya belum saatnya saya membuka jati diri saya. Seharusnya semua di ungkapkan dulu. Saya juga sedang mencari bukti kejahatan dari seseorang."
"Maksud Om, kejahatan siapa?"
"Belum saatnya kamu tahu. Dan saya tahu tujuan kamu ke Surabaya ini juga untuk mencari dan mengetahui apa yang terjadi dua puluh tahun lalu."
Akhirnya mereka berjalan beriringan sambil masih berbincang. Banyak hal yang Fian tidak ketahui ternyata.
Fian masih meragukan pengakuan dari Adam. Dia masih harus mencari buktinya. Dan menurut Fian Adam sengaja mengacaukan konsentrasinya. Agar Fian tidak fokus mencari suster Ika. Bukan tanpa alasan kecurigaan Fian. Karena tanpa Adam sadari, Fian selalu melihat Adam di mana Fian berada. Adam seperti membuntuti ke mana Fian pergi.
Namun Fian tidak mau gegabah. Dia harus berhati-hati mengambil sikap agar Adam tidak curiga padanya.
Tugas Fian semakin berat sekarang. Dia harus bisa mengalihkan konsentrasi Adam agar tidak mengikutinya. Dan Fian harus bisa membuat Adam menjauh sejenak darinya agar dia bisa melacak suster Ika yang dia yakini belum meninggal.
Yang penting hari ini Fian menyelesaikan tugas kantor terlebih dahulu. Sehabis itu baru dia akan bergerak mencari suster Ika. Fian berharap bisa melarikan diri dari Adam sejenak.
Dan Fian sudah menemukan cara tersebut. Tinggal menunggu waktu yang pas untuk melancarkan aksinya. Kali ini Fian berharap tidak gagal lagi. Dia ingin segera menyelesaikan semua masalah keluarganya dan keluarga Arin.
Dan tentunya demi kebaikan dan kedamaian semua orang termasuk dengan kisah cintanya.Dan dia berharap bisa berakhir bahagia.
__ADS_1
Bersambung
Terima kasih buat semua ❤️❤️❤️